JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Agama Sebagai Konstruksi Sosial dan Wahyu Ilahi: Analisis Komparatif Perspektif Barat dan Islam Ash Shifa Annur1. Miftahul Jannah2 Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh Email: 241003034@student. ar-raniry. ABSTRACT Religion has been extensively examined within Western sociological traditions, predominantly interpreting it as a socio-historical construct. In contrast. Islamic thought conceptualizes religion . d-d. as divinely revealed, governing all human dimensions. Despite abundant literature, comparative studies examining these paradigms through epistemological frameworks remain limited. This study addresses this gap through comparative-critical analysis of Western and Islamic perspectives on religion. Using qualitative library research with thematic analysis, this article examines classical Western thinkers (Comte. Durkheim. Marx. Freud. Webe. alongside Islamic scholars and Qur'anic interpretations. Findings reveal fundamental epistemological divergence: Western perspectives view religion as socio-historical construct subject to change, while Islam positions religion as fixed divine revelation whose development occurs at interpretive, not substantive, levels. Western evolutionary frameworks cannot fully apply to Islamic religious dynamics without epistemological recalibration. This study contributes to comparative religious studies by clarifying conceptual boundaries between sociological and theological approaches, with implications for interfaith dialogue and contemporary Islamic scholarship. Keywords: Religion. Epistemology. Comparative Analysis. Western Perspective. Islamic Perspective. Divine Revelation. Social Construction Abstrak Kajian agama dalam tradisi akademik Barat menempatkannya sebagai fenomena sosialpsikologis yang lahir dari sejarah dan rasionalitas manusia. Sebaliknya. Islam memandang agama . d-d. sebagai wahyu ilahi yang menyeluruh. Meskipun literatur agama melimpah, studi komparatif kritis melalui lensa epistemologis masih terbatas. Penelitian ini menganalisis divergensi epistemologis perspektif Barat dan Islam terhadap agama dengan metode library research kualitatif dan analisis tematik. Mengkaji pemikir klasik Barat (Comte. Durkheim. Marx. Freud. Webe. dan sarjana Islam serta Al-Qur'an, hasil penelitian menunjukkan: perspektif Barat memandang agama sebagai konstruksi sosial dinamis, sedangkan Islam memposisikan agama sebagai wahyu ilahi tetap dengan perkembangan pada level penafsiran. Framework evolusioner Barat tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada dinamika agama Islam tanpa rekalibrasi epistemologis. Penelitian memberikan kontribusi teoretis bagi studi perbandingan agama dengan mengklarifikasi batas konseptual antara pendekatan sosiologis dan teologis, serta implikasi untuk dialog antaragama dan wacana keislaman kontemporer. Kata kunci: Agama. Epistemologi. Studi Komparatif. Perspektif Barat. Perspektif Islam. Wahyu Ilahi. Konstruksi Sosial *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Agama merupakan elemen fundamental dalam kehidupan manusia sebagai pedoman moral, spiritual, dan sosial. Sejumlah kajian menunjukkan agama berperan penting dalam membentuk perilaku, nilai, dan orientasi hidup individu maupun masyarakat (Octaviana & Ramadhani, 2021. Andika, 2. Dalam kajian akademik, agama dipahami tidak hanya sebagai sistem kepercayaan normatif, tetapi juga sebagai fenomena psikologis dan sosial (Yuhaniah, 2. Cara memahami agama tidak bersifat universal. Pemaknaan agama berkembang berbeda antara Barat dan Islam, dipengaruhi oleh latar belakang historis, budaya, dan kerangka epistemologisAimerujuk pada sumber pengetahuan dan cara mengakses Dalam perspektif Barat, agama dipahami melalui proses sekularisasi Pencerahan (Enlightenmen. , menempatkan rasio sebagai sumber utama pengetahuan. Pemikir seperti Comte. Durkheim. Marx, dan Freud memposisikan agama sebagai konstruksi sosial yang historis dan dinamis, bukan sebagai wahyu ilahi yang absolut (Berger & Luckmann, 1966. Stark & Finke, 2. Sebaliknya. Islam memandang agama . l-d. sebagai sistem kehidupan yang bersumber dari wahyu Allah dan disampaikan melalui para nabi. Agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan . ablum minallA. dan antarmanusia . ablum minannA. Sumber kebenaran agama bersifat transenden, sementara akal berfungsi untuk memahami dan mengimplementasikan wahyu dalam konteks kehidupan yang berubah (Rahman, 1979. Nasr, 1. Pandangan epistemologis Islam tercermin dalam Al-Qur'an. QS. Al-Baqarah . 256 menegaskan "Tidak ada paksaan dalam agama. sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. " QS. Ali 'Imran . : 19 menyatakan "Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. " QS. Al-'Alaq . : 1-5 menekankan pengetahuan: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. " QS. Al-Isra . : 36 mengintegrasikan akal: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan. sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati akan diminta pertanggungan " Hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan "agama adalah nasihat" (Sahih Muslim. No. , menegaskan agama sebagai pedoman moral dan sosial (Al-Ghazali. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Perbedaan mendasar menunjukkan divergensi epistemologis dalam pemahaman Jika Barat menekankan rasionalitas empiris sebagai dasar pengetahuan. Islam menempatkan wahyu sebagai sumber utama yang terintegrasi dengan akal. Penelitian komparatif yang menganalisis divergensi ini masih terbatas di jurnal terakreditasi, khususnya dalam wacana akademik keislaman Indonesia. Sebagian literatur bersifat deskriptif atau menggunakan framework Barat tanpa rekalibrasi epistemologis, berpotensi mengabaikan dimensi normatif dan transendental tradisi Islam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep agama dalam perspektif Barat melalui tokoh-tokoh klasik. menganalisis konsep agama dalam perspektif Islam dari. mengidentifikasi divergensi epistemologis antara kedua perspektif. dan menunjukkan implikasi teoretis bagi studi perbandingan agama. METODE Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. dan analisis tematik. Sumber data berupa literatur akademik ditelusuri melalui Google Scholar. DOAJ. JSTOR. ProQuest Islamic Journal Collection, dan jurnal nasional terakreditasi. Penelitian ini memanfaatkan karya klasik pemikir Barat (Comte. Durkheim. Marx. Freud. Webe. , literatur keislaman kontemporer tentang agama . d-d. sebagai sistem dari wahyu ilahi, serta sumber primer Al-Qur'an dan Hadis. Penelitian mengumpulkan dan mengelompokkan sumber berdasarkan perspektif Barat dan Islam serta topik yang berkaitan dengan konsep, sumber, fungsi, dan perkembangan agama. Analisis dilakukan melalui tiga tahap utama. Pertama, pengkodean tema dengan mengidentifikasi tema-tema utama terkait . sumber dan asal agama, . ontologi agama, . fungsi agama dalam kehidupan manusia, dan . arah perkembangan agama. Kedua, analisis komparatif dengan membandingkan tema-tema antara perspektif Barat dan Islam, mengidentifikasi persamaan, perbedaan, dan divergensi epistemologis yang mendasari masing-masing pandangan. Ketiga, sintesis dan interpretasi hasil untuk menarik kesimpulan tentang divergensi epistemologis dan implikasi teoretisnya bagi studi perbandingan agama (Braun & Clarke, 2. Batasan kajian ini mencakup fokus pada ranah konseptual dan teoretis mengenai pemahaman agama dalam perspektif Barat dan Islam tanpa membahas praktik keberagamaan empiris atau studi lapangan. Kajian ini juga tidak membahas tradisi JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. keagamaan lain seperti Hindu. Buddha, atau Kristen secara mendalam, tetapi membatasi cakupan pada dua perspektif utama untuk memastikan analisis yang sistematis dan Implikasi praktis hanya dibahas secara teoretis, sementara implementasi empiris di lapangan disarankan untuk penelitian selanjutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Dasar Agama Agama adalah fenomena universal dalam peradaban manusia yang membentuk sistem nilai, pola pikir, dan tatanan sosial. Secara konseptual, agama bukan hanya sistem kepercayaan terhadap kekuatan transenden, tetapi juga merupakan kerangka normatif yang mengarahkan perilaku individu dan kolektif. Agama menjadi objek kajian multidisipliner yang melibatkan pendekatan filosofis, sosiologis, psikologis, dan teologis (Octaviana & Ramadhani, 2021. Geertz, 1. Dalam kajian akademik, agama didefinisikan secara beragam sesuai dengan kerangka epistemologis yang digunakan. Secara umum, agama dipahami sebagai sistem kepercayaan dan praktik yang berkaitan dengan hal-hal sakral dan memberikan makna, keteraturan, serta orientasi hidup bagi manusia (Andika, 2. Dari perspektif psikologi agama, agama adalah bagian dari kesadaran manusia yang tercermin dalam sikap, perilaku, dan pengalaman religius individu, memengaruhi pengambilan keputusan, pembentukan identitas, dan respons terhadap realitas kehidupan (Yuhaniah, 2. Namun, pemahaman agama tidak bersifat tunggal dan statis. Perbedaan latar belakang historis, budaya, dan epistemologis melahirkan perbedaan mendasar dalam cara agama Dalam tradisi Barat modern, agama dipahami sebagai fenomena yang lahir dari pengalaman manusia dan berkembang seiring dengan perubahan sosial. Dalam tradisi Islam, agama . d-d. dipahami sebagai sistem kehidupan yang bersumber dari wahyu ilahi dengan otoritas normatif yang transenden dan substansi yang tidak berubah (Syahri et al. , 2024. Al-Attas, 1. Perbedaan ini menunjukkan bahwa konsep agama tidak dapat dilepaskan dari sumber pengetahuan yang memahaminya. Jika agama dipahami sebagai produk dari rasionalitas dan pengalaman empiris, maka agama akan diposisikan sebagai konstruksi sosial yang dinamis. Jika dipahami sebagai wahyu, maka perkembangan agama bukan merupakan perubahan substansi ajaran, melainkan dinamika pemahaman manusia terhadap nilai-nilai ilahiah yang tetap. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Pandangan Barat tentang Agama . Pergeseran Pendekatan Barat Dalam tradisi Barat modern, agama mengalami pergeseran makna yang Dari pemahaman sebagai sistem kepercayaan yang berbasis wahyu di era medieval, berkembang menjadi objek kajian ilmiah yang dapat dianalisis secara rasional dan empiris. Pergeseran ini tidak terlepas dari pengaruh Pencerahan (Enlightenmen. yang menempatkan rasio sebagai sumber utama pengetahuan dan kebenaran (Tylor. Berger, 1. Pendekatan ilmiah terhadap agama berkembang melalui sosiologi, psikologi, dan sejarah agama, yang secara umum memandang agama sebagai produk dari aktivitas manusiaAibaik sosial, psikologis, atau hasil dari evolusi intelektual. Perkembangan konsep agama dalam perspektif Barat tidak diarahkan pada kebenaran teologis yang absolut, melainkan pada fungsi sosial, asal-usul psikologis, dan peranannya dalam kehidupan sosial yang dinamis (Durkheim, 1912/2. Pemikir-Pemikir Barat tentang Agama Auguste Comte . : Comte memandang agama sebagai bagian integral dari evolusi intelektual manusia melalui "The Law of Three Stages" (Comte, 1830/1. Pemikiran manusia berkembang melalui tiga tahap: . tahap teologisAimanusia menjelaskan fenomena alam melalui kekuatan-kekuatan supranatural. tahap metafisikAimanusia mencari sebab-sebab abstrak. tahap positif . Ai manusia mengandalkan observasi empiris dan hukum-hukum alam. Agama diposisikan pada tahap awal yang secara alami akan ditinggalkan ketika masyarakat mencapai tahap Implikasinya, agama adalah fenomena sementara yang akan digantikan oleh ilmu Namun, kritik terhadap pandangan Comte menunjukkan bahwa premis evolusioner ini tidak sepenuhnya terbukti. agama tetap berkembang bahkan di era modern yang sangat ilmiah (Stark & Finke, 2000. Watt, 1. yOmile Durkheim . : Durkheim menempatkan agama sebagai institusi sosial yang membangun dan mempertahankan solidaritas sosial. Dalam karya monumentalnya "The Elementary Forms of the Religious Life" (Durkheim, 1912/2. Durkheim mendefinisikan agama sebagai "unified system of beliefs and practices relative to sacred things. which unite into one single moral community called a Church" . Agama bukan tentang kepercayaan kepada dewa atau makhluk supranatural, melainkan tentang hal-hal sakral . yang membedakan diri dari hal-hal profan . JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Fungsi utama agama adalah menciptakan ikatan solidaritas sosial yang mempersatukan individu-individu dalam komunitas moral yang kuat. Perkembangan agama berkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat untuk menjaga kohesi sosial dalam perubahan yang cepat. Kontribusi Durkheim menunjukkan bahwa agama memiliki fungsi sosial yang nyata dan Namun, reduksi agama semata-mata menjadi fungsi sosial dapat mengabaikan dimensi normatif dan transendental yang menjadi inti dari pengalaman keberagamaan (McCutcheon, 2. Karl Marx . : Marx memandang agama melalui lensa materialisme historis, di mana agama adalah bagian dari superstruktur yang mencerminkan kondisi ekonomi dan relasi-relasi produksi. Ungkapan terkenalnya: agama adalah "opium of the people"Aisuatu ideologi yang meredam penderitaan kelas yang tertindas dan mempertahankan status quo kapitalisme (Marx & Engels, 1844/1. Agama tidak lahir dari kebutuhan spiritual yang autentik, tetapi dari ketidakseimbangan ekonomi dan eksploitasi kelas. Perkembangan agama mengikuti dinamika struktur ekonomi dan konflik kelas. ketika kapitalisme akhirnya runtuh dan digantikan oleh komunisme, agama juga akan menghilang. Kritik terhadap pendekatan Marx menunjukkan bahwa determinisme ekonomis ini terlalu reduksionis. Agama bukan sekadar alat ideologi. agama memiliki dimensi spiritual dan psikologis yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui kondisi ekonomi. Fakta bahwa agama tetap berkembang bahkan di masyarakat yang mencapai kemakmuran ekonomi menunjukkan bahwa motif agama melampaui sekadar "coping mechanism" terhadap penderitaan ekonomi (Stark & Finke, 2000. Nasr. Sigmund Freud . : Freud mendekati agama dari perspektif psikologi Dalam karyanya "The Future of an Illusion" (Freud, 1927/1. Freud memandang agama sebagai ilusi kolektif yang muncul dari kebutuhan psikologis manusia akan rasa aman, perlindungan, dan penyelesaian konflik intrapsikis. Agama merupakan bentuk proyeksi dari figur ayah yang idealAidalam psikologi Freudian manusia menciptakan konsep Tuhan sebagai representasi dari superego mereka yang ideal. Agama berkembang sebagai mekanisme pertahanan psikologis . efense mechanis. untuk mengatasi kecemasan eksistensial dan ketidakpastian hidup. Seiring dengan perkembangan rasionalitas dan kematangan psikologis manusia. Freud memprediksi bahwa ketergantungan pada agama akan menurun. Namun, kritik terhadap pandangan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. Freud menunjukkan bahwa reduksi agama menjadi proyeksi psikologis semata mengabaikan kemungkinan bahwa agama memiliki dimensi ontologis yang nyata. Prediksi Freud bahwa agama menurun dengan kematangan psikologis juga tidak terbukti. banyak individu yang secara psikologis matang tetap religius dan menemukan harmoni antara agama dan rasionalitas (Watt, 1988. James, 1902/1. Max Weber . : Weber menawarkan pendekatan interpretatif yang menekankan peran agama sebagai sumber motivasi tindakan sosial. Dalam "The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism" (Weber, 1905/2. Weber menunjukkan bahwa nilai-nilai keagamaan dapat mendorong perubahan sosial dan ekonomi. Etika ProtestanAipenekanan pada kerja keras, kesederhanaan, dan akumulasi modal sebagai tanda grasi ilahiAimenciptakan "spirit of capitalism" modern. Weber tidak memandang agama sebagai sekadar refleksi dari struktur sosial, melainkan sebagai kekuatan yang mampu membentuk realitas sosial. Kontribusi Weber sangat penting karena memberikan ruang bagi dimensi normatif agama tanpa sepenuhnya menolak rasionalitas sebagai kerangka analisis. Perbandingan Konseptual dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Perbandingan Pemikiran Tokoh Pendekatan Comte EvolusionerPositivistik Durkheim SosiologisFungsional Marx MaterialisHistoris Freud Psikologis Weber SosiologisInterpretatif Konsep Agama Tahap awal Perekat Ideologi kelas Arah Kritik Perkembangan Tergeser oleh Premis tetap berkembang Bertahan sesuai Reduksionis. kebutuhan sosial abaikan Berubah seiring Determinisme struktur ekonomi ekonomis. dimensi spiritual Ilusi kolektif Berkurang seiring Reduksionis. Motivasi Dapat mendorong Framework perubahan sosial rasionalitas instrumental tetap Berdasarkan sintesis tersebut, pemikiran Barat modern secara umum memandang agama sebagai fenomena yang bersumber dari aktivitas manusiaAibaik sosial, psikologis, maupun historis. Perbedaan antarokoh terletak pada aspek penyebab dan fungsi agama. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. bukan pada sumber transendentalnya. Pandangan ini memberikan kontribusi besar terhadap kajian ilmiah agama, namun sekaligus menunjukkan keterbatasan ketika agama direduksi semata-mata sebagai konstruksi manusia, mengabaikan kemungkinan dimensi transendental agama. Pandangan Islam tentang Agama . Konsep Ad-Dn sebagai Landasan Epistemologis Dalam perspektif Islam, agama dipahami melalui konsep ad-dn, yang tidak hanya bermakna sistem kepercayaan spiritual, tetapi juga mencakup tatanan normatif yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Berbeda dengan tradisi Barat yang memahami agama sebagai fenomena sosial atau psikologis. Islam menempatkan agama sebagai sistem kebenaran yang bersumber langsung dari wahyu Allah SWT (Al-Attas. Pembahasan agama dalam Islam harus dimulai dari sumber epistemologisnya, yaitu Al-Qur'an dan Hadis, bukan dari pengalaman manusia semata. Al-Qur'an menegaskan bahwa agama merupakan ketetapan ilahi. QS. Ali 'Imran . : 19 menyatakan: "Sesungguhnya agama . ang diterim. di sisi Allah ialah Islam. Ayat ini menunjukkan bahwa konsep agama dalam Islam bersifat normatif dan transenden, bukan hasil dari konstruksi sosial. QS. Al-Ma'idah . : 3 menegaskan "Hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. " Ayat ini menunjukkan bahwa agama tidak mengalami perkembangan secara manusiawi, tetapi disempurnakan oleh Allah melalui wahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, perkembangan agama dalam Islam bukan merupakan perubahan substansi ajaran, melainkan dinamika pemahaman manusia terhadap wahyu. Epistemologi Wahyu dan Posisi Akal Epistemologi Islam menempatkan wahyu sebagai sumber utama pengetahuan, sementara akal berfungsi sebagai instrumen untuk memahami, menafsirkan, dan mengimplementasikan wahyu dalam konteks kehidupan yang terus berubah (Nasr, 1. Relasi antara wahyu dan akal bersifat integratif, bukan dikotomis. Akal tidak berdiri independen dari wahyu seperti halnya rasionalitas dalam tradisi Barat modern, tetapi bekerja dalam kerangka nilai-nilai ilahiah (Rahman, 1. Hal ini membedakan secara mendasar pandangan Islam dari epistemologi Barat yang cenderung menempatkan rasionalitas dan empirisme sebagai sumber pengetahuan tertinggi. Dalam Islam, wahyu JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. berfungsi sebagai tolok ukur kebenaran, sementara akal berperan untuk memahami realitas empiris tanpa melepaskan diri dari prinsip-prinsip normatif agama. Perbedaan epistemologis ini menjelaskan mengapa Islam tidak mengenal konsep sekularisasi agama sebagaimana terjadi dalam peradaban Barat. Konsep Kesempurnaan Agama dan Dinamika Pemaknaan Islam memandang agama sebagai sistem yang telah sempurna secara prinsip. Kesempurnaan agama tidak berarti stagnasi pemikiran, melainkan penegasan bahwa nilai-nilai dasar agama bersifat tetap, sementara penerapannya bersifat dinamis. Nabi Muhammad SAW menyatakan: "Agama adalah nasihat kepada Allah, kepada Rasul-Nya, kepada para pemimpin kaum Muslim, dan kepada seluruh umat Islam" (Sahih Muslim. No. Al-Ghazali, 2. Hadis ini menunjukkan bahwa agama merupakan sistem yang dinamis dalam penerapannya namun tetap pada prinsip-prinsip fundamental. Sepanjang sejarah peradaban Islam, dinamika pemaknaan agama tercermin dalam keragaman pendekatan keilmuan: fikih, teologi . lm al-kala. , filsafat, dan tasawuf. Keragaman ini tidak menunjukkan fragmentasi konsep agama, melainkan fleksibilitas metodologis dalam memahami wahyu (Hallaq, 2. Tokoh-tokoh pemikir Islam seperti Al-Ghazali. Ibn Rushd, dan Ibn Khaldun tidak dipahami sebagai pembentuk agama baru, melainkan sebagai representasi dari upaya intelektual dalam merespons tantangan zamannya sambil tetap pada prinsip-prinsip wahyu (Al-Ghazali, 2011. Khaldun, 1377/1. Dalam fikih, pengembangan metode qiyas . dan maslahah . epentingan umu. menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip wahyu diaplikasikan dalam konteks sosial-historis yang berbeda tanpa mengubah substansi ajaran. Berbeda dengan tradisi Barat yang memandang agama sebagai hasil evolusi pemikiran manusia. Islam memandang dinamika pemiknaan agama sebagai respons epistemologis terhadap perubahan sosial, dengan agama tetap menjadi pusat orientasi nilai, bukan objek yang terpinggirkan oleh rasionalitas modern. Perbandingan Epistemologis Islam dan Barat Perbedaan mendasar antara Islam dan Barat terletak pada sumber dan arah perkembangan agama. Barat memandang agama berkembang dari mitos menuju rasionalitas ilmiah (Comte, 1830/1. , sedangkan Islam memandang agama sebagai wahyu yang tetap secara prinsip, namun dinamis dalam pemahaman. Agama dalam Islam berfungsi sebagai sumber makna, moralitas, dan orientasi hidup yang tidak dapat JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. direduksi menjadi konstruksi sosial atau psikologis semata. Perkembangan agama dalam Islam tidak dapat dianalisis dengan kerangka evolusioner Barat. Sebaliknya. Islam menawarkan model perkembangan agama yang berbasis pada integrasi wahyu dan akal, yang memungkinkan agama tetap relevan tanpa kehilangan otoritas normatifnya. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan pandangan Barat dan Islam tentang agama terletak pada divergensi epistemologis yang mendasari cara agama dipahami dan Perspektif Barat memposisikan agama sebagai fenomena sosialpsikologis-historis yang lahir dari pengalaman manusia dan berkembang seiring dengan perubahan struktur masyarakat, dengan implikasi terjadinya reduksi peran agama dalam kehidupan publik modern. Sebaliknya, perspektif Islam memahami agama . d-d. sebagai sistem kehidupan yang bersumber dari wahyu ilahi, bersifat normatif dan transenden, serta tetap relevan melalui dinamika penafsiran dan kontekstualisasi nilainilai wahyu melalui integrasi antara wahyu dan akal. Sintesis komparatif ini menegaskan bahwa kerangka analisis evolusioner Barat tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada dinamika agama Islam tanpa rekalibrasi epistemologis yang fundamental. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada upaya memposisikan agama sebagai konsep epistemologis yang memiliki sumber, otoritas, dan arah perkembangan berbeda dalam masing-masing peradaban. Perbedaan paradigmatik ini memiliki implikasi penting bagi studi perbandingan agama, dialog antaragama yang lebih konstruktif dan saling menghormati, serta wacana akademik keislaman kontemporer yang menghargai dimensi transendental agama tanpa mengabaikan realitas sosial. Dengan pendekatan integratif yang mampu menjembatani dimensi wahyu dan realitas sosial, penelitian ini memperkaya kajian perbandingan agama dan membuka peluang untuk penelitian lanjutan yang mengkaji implikasi epistemologis agama dalam konteks praktik keberagamaan, pluralisme, dan isu-isu global di era modernitas. *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 2. Juli-Desember 2025 https://jigm. REFERENCES