Harmoni Beragama melalui Pendidikan: Peran Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Generasi Moderat Rizky Habib Nurhakim1. Putri Handayani Lubis2. Rizki Susanto3 IAIN Pontianak rizkyhabibn@gmail. IAIN Pontianak lubis4890@gmail. IAIN Pontianak, rizkisusanto@iainptk. Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengetahui nilai moderasi dan implementasi nilai moderasi dalam Pendidikan agama Islam di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan. Artikel ini menggunakan desain penelitian kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian tentang peran Pendidikan Agama Islam dalam membentuk Generasi Moderat menunjukkan bahwa: . penanaman nilai moderasi beragama, khususnya toleransi sudah diterapkan secara maksimal melalui pengajaran oleh Guru PAI. Pengajaran nilai-nilai toleransi dilakukan dengan metode ceramah dan praktik serta dengan berbagai kegiatan yang didukung oleh komunitas yang ada di sekitar sekolah. Guru PAI juga mengajarkan nilai-nilai toleransi dengan memanfaatkan situasi nyata dan kasus-kasus yang ada di sekolah serta di luar Pengajaran yang dilakukan guru PAI sangat diterima baik oleh peserta didik. Peserta didik juga dapat mempraktikkan nilai-nilai toleransi di sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan . faktor pendukung dalam menanamkan nilai-nilai toleransi yaitu sekolah itu sendiri. Sekolah memiliki fasilitas, lingkungan dan tenaga pengajar yang kondusif dalam menanamkan nilainilai toleransi. Sekolah juga menjalin kerjasama dengan kementerian agama Kabupaten Bengkayang, penyuluh agama. Selain itu, peserta didik juga termasuk faktor yang mendukung dalam menanamkan nilai toleransi. Peserta didik telah merespon baik dalam pengajaran nilai-nilai toleransi yang diberikan oleh sekolah dan guru PAI. Faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai toleransi yaitu kepada peserta didik itu sendiri. Tingkat pemahaman yang berbeda-beda, ego dan karakteristik yang berbeda dari peserta didik dapat menjadi faktor penghambat dalam menanamkan nilai-nilai toleransi. Kata kunci: Moderasi Beragama. Toleransi. Pendidikan Agama Islam. Cinta tanah Air Abstract This paper aims to describe and find out the value of moderation and the implementation of moderation values in Islamic religious education at SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan. This article uses descriptive qualitative research design. The data collection methods used in this research are interviews, observations, and documentation studies. The data were analyzed using descriptive The results of research on the role of Islamic Religious Education in forming a Moderate Generation show that: . the cultivation of religious moderation values, especially tolerance, has been maximally implemented through teaching by Islamic Religious Education Teachers. The teaching of tolerance values is done by lecture and practice methods as well as by various activities supported by the community around the school. PAI teachers also teach the values of tolerance by utilizing real situations and cases that exist at school and outside of school. The teaching done by PAI teachers is very well received by students. Learners can also practice the values of tolerance at school, family environment and community environment. the supporting factor in instilling the values of tolerance is the school itself. The school has facilities, environment and teaching staff that are conducive in instilling tolerance values. The school also cooperates with the Bengkayang Regency Ministry of Religious Affairs, religious instructors. In addition, students are also a supporting factor in instilling the value of tolerance. Students have responded well to the teaching of tolerance values provided by the school and PAI teachers. The inhibiting factor in instilling the values of tolerance is the students themselves. Different levels of understanding, ego and different characteristics of students can be an inhibiting factor in instilling the values of tolerance. Keywords: Religious Moderation. Tolerance. Islamic Religious Education. Love for the Country. PENDAHULUAN Kemajemukan di Indonesia memberikan kekuatan sosial dan agama yang dapat berkolaborasi. Di sisi lain, hal ini dapat menimbulkan konflik jika tidak dikelola dengan baik. Konflik dan kekerasan masih sering terjadi di Indonesia, terutama yang menyangkut rumah ibadah dan perselisihan internal agama, seperti konflik internal umat Islam, yang terus mempengaruhi hubungan antar umat beragama di Indonesia (Hasan 2. Perlu adanya peningkatan kesadaran akan eksistensi agama di masyarakat untuk menghindari konflik agama (Ardi 2. Peningkatan kesadaran kolektif akan memungkinkan terwujudnya sikap dan sudut pandang yang saling toleran yang memandang keberagaman sebagai sekutu yang harus dihargai, bukan sebagai musuh yang harus diperangi (Menchik 2. Pendidikan menjadi salah satu dari banyak cara moderasi beragama menyebar. Seperti yang dinyatakan oleh Nisa . bahwa pendidikan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam mencapai tujuan moderat pemerintah Indonesia. Pendidikan merupakan tempat di mana kepribadian dan proses pendewasaan seorang siswa dibentuk. Untuk mencegah pemikiran beragama yang radikal dan menutup diri dari agama lain, penguatan moderasi ini harus diberikan kepada siswa sejak Sebagai guru, tentunya menjadi tanggung jawabnya untuk menyediakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa untuk menumbuhkan kepribadian dan pendewasaan tersebut. Guru menanamkan cita-cita moderasi beragama di lingkungan pendidikan merupakan salah satu langkah dalam mendorong peningkatan kesadaran toleran (Ainna 2. Hal ini karena pendidikan merupakan sarana untuk menyemai benih-benih toleransi, membangun harmoni kehidupan, dan mencegah intoleransi di tengah realitas keragaman budaya. Intoleransi harus diberantas dari dunia pendidikan karena ekstremisme dan kekerasan telah menyusup ke lingkungan sekolah dengan berbagai cara (Dalilah. Zeed Hamdy & Ibrahim Nur 2. , terutama melalui tema pendidikan Islam (Suyanto. Sirry & Sugihartati, 2. Merespon permasalahan intoleransi, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama mencetuskan ide dan kebijakan Aumoderasi beragamaAy sebagai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024. Moderasi beragama menurut Kementerian Agama berarti Acara pandang, sikap, dan perilaku mengambil posisi di tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragamaA (Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama 2. Melalui moderasi beragama diharapkan sikap dan perilaku intoleran dapat diminimalisir dan dapat tercipta masyarakat yang harmonis dan saling Pendidikan agama Islam diakui mempunyai kedudukan penting di dalam pembentukkan sikap moderat dalam beragama. Selain karena mayoritas umat beragama di Indonesia adalah Islam, hal tersebut juga dikarenakan tujuan pendidikan agama Islam yaitu untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pengetahuan, penghayatan, pengalaman serta pengamalan peserta didik mengenai agama Islam,sehingga diharapkan dapat menjadi manusia yang terus berkembang dalam hal keimanan dan ketaqwaannya terhadap Allah serta memiliki jiwa toleran yang tinggi dan berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itulah guru PAI sangat penting memiliki kompetensi kepemimpinan . dalam pembentukkan dan penguatan nilai moderasi beragama bagi peserta didik. Keberagaman yang ada di sekolah umum tentu menjadi tantangan lebih bagi guru PAI. Hal inilah yang menuntut guru PAI agar dapat memberikan pengetahuan dan membentuk sikap moderat dalam keragaman dengan penuh kearifan (Naqiyah, 2. SMAN 1 Sungai Raya Kepulauan merupakan salah satu sekolah yang peserta didiknya memiliki keberagaman beragama (Islam. Kristen. Katolik, dan Budh. Meskipun mayoritasnya beragama Islam dan menjadikannya sebagai salah satu lembaga pendidikan yang turut andil membantu meminimalisir peningkatan kasus intoleran atau radikalisme di Indonesia melalui penguatan nilai moderasi beragama di lingkungan sekolah. SMAN 1 Sungai Raya Kepulauan mempunyai misi yaitu Memiliki kepekaan, kepedulian, serta hubungan yang harmonis antar warga Yang mana misi tersebut berkaitan dengan salah satu indikator moderasi beragama yaitu toleransi. Sekolah ini juga memiliki program kerja yang mencakup kegiatan pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan pembinaan berwawasan pancasila dalam berbangsa dan bernegara terhadap peserta didiknya. Kegiatan tersebut termasuk kedalam indikator moderasi Pendidikan agama Islam di SMAN 1 Sungai Raya Kepulauan dituntut untuk selalu menanamkan nilai moderasi beragama seperti toleransi antar umat beragama agar tercipta lingkungan sekolah yang baik. Nilai-nilai itu tentu didapatkan dengan menumbuhkan sikap moderat dalam beragama. Untuk menguatkan nilai moderasi beragama di intrakurikuler yaitu dengan memberikan materi pembelajaran PAI yang berkenaan tentang toleransi sebagai alat pemersatu bangsa dan materi tentang bersatu dalam keberagaman di dalam kelas. Adapun pada ekstrakurikulernya yaitu dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang melibatkan seluruh peserta didik dalam kegiatan pembinaan ketaqwaan Tuhan Yang Maha Esa yang termasuk dalam program pembinaan OSIS seperti kegiatan imtaq berupa literasi qurAan, perayaan hari besar agama Islam, dan lainlain. Kemudian dalam kegiatan pembinaan berwawasan pancasila dalam berbangsa dan bernegara seperti melakukan upacara bendera rutin dihari senin dan hari besar nasional, dan kegiatan lainnya yang dapat menumbuhkan dan meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme peserta didik. METODE Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk memperoleh informasi mengenai bentuk penguatan nilai moderasi beragama bagi peserta didik melalui pendidikan agama Islam. Lokasi penelitian adalah SMAN 1 Sungai Raya Kepulauan karena memiliki siswa dengan latar belakang agama yang beragam. Sekolah ini juga memiliki program kerja yang mencakup kegiatan pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan pembinaan berwawasan pancasila dalam berbangsa dan bernegara terhadap peserta didiknya. Kegiatan tersebut termasuk kedalam indikator moderasi beragama. Sumber data penelitian terdiri dari primer dan sekunder. Sumber data primer diperoleh melalui wawancara kepada informan yaitu kepala sekolah, guru pendidikan agama Islam, dan beberapa peserta didik. Penentuan informan tersebut menggunakan teknik purposive sampling dan bersifat snowball Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel melalui pertimbangan tertentu dengan memilih narasumber yang benar-benar mengetahui kondisi internal dan eksternal terkait penguatan nilai moderasi beragama di SMAN 1 Sungai Raya Kepulauan. Snowball sampling adalah teknik pengambilan data berantai dari rujukan narasumber kunci . ey informa. yang ukurannya semakin besar hingga peneliti memiliki cukup data untuk dianalisis. Sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada peneliti, misalnya melalui orang lain atau bentuk dokumen (Sugiyono, 2. Peneliti mendapatkan data melalui media dan keterangan lain yang berhubungan dengan penguatan nilai moderasi beragama melalui pendidikan agama Islam di SMAN 1 Sungai Raya Kepulauan , seperti data observasi, program atau bentuk kegiatan yang didukung dengan studi pustaka yang berhubungan dengan teori terkait moderasi beragama. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan tinjauan dokumen. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data, lalu penarikan kesimpulan (Miles et al. , 2. Triangulasi data digunakan untuk memastikan keabsahan data melalui pengecekan data yang sudah didapat melalui beberapa sumber . riangulasi sumber dat. Selain itu juga dilakukan mengecek data melalui teknik yang berbeda kepada sumber yang sama . riangulasi tekni. (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penanaman Nilai Moderasi Beragama Khususnya Nilai Toleransi Di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan dari Guru Pendidikan Agama Islam Pengajaran Nilai Toleransi oleh Guru Pendidikan Agama Islam Guru berfungsi sebagai motivator dengan mendorong dan mendorong siswa untuk menjadi aktif dan kreatif. Mereka dapat membuat siswa berinteraksi dengan lingkungan atau pengalaman baru melalui pelajaran mereka. Guru PAI secara konsisten mengajarkan nilai kepada siswa mereka, yang memberikan toleransi yang kuat. Guru PAI juga mengajarkan nilai tata krama dan penghormatan kepada orang-orang dari berbagai suku, agama, dan budaya (Pahrudin et al. , 2. Toleransi, empati, dan simpati sangat penting bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup semua agama, dan memperkenalkan kembali agama-agama tersebut ke dalam sistem pendidikan merupakan langkah penting dalam menjamin kelangsungan hidup agama-agama tersebut. Pendidikan agama bertanggung jawab untuk meningkatkan pemahaman di berbagai kelompok budaya dan agama. Untuk menumbuhkan lingkungan beragama dalam masyarakat, sangat penting untuk mempromosikan dan mempraktikkan toleransi beragama (Baidhawi 2. Berdasarkan hasil wawancara dan teori yang telah dijelaskan, toleransi memiliki peranan penting dalam ajaran agama islam, terutama menurut pandangan banyak guru PAI. Nilai toleransi mengacu pada sikap saling menghormati, menghargai, dan mengakui perbedaan Ae perbedaan antara individu atau kelompok, baik dalam keyakinan agama, budaya, maupun pandangan politik. Guru PAI memiliki peran penting dalam mentransmisikan nilai Ae nilai toleransi kepada peserta didik melalui pengajaran, diskusi dan contoh nyata. Berikut ini adalah nilai-nilai toleransi dalam Pendidikan Agama Islam (Rasmini et al. Belajar dari perbedaan. Toleransi harus dibangun melalui proses yang panjang, bukan secara bawaan. Membangun kepercayaan satu sama lain. Modal sosial yang paling berharga adalah saling percaya karena membantu mencegah bias, yang merupakan masalah utama dalam masyarakat kontemporer. Memelihara keakraban. PAI memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan pemahaman di antara berbagai kelompok agama dan budaya. Menjunjung tinggi sikap menghargai. Prinsip utama dari Agama-Agama dunia adalah penghormatan kepada orang yang lebih tua. Guru PAI di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan dalam mengajarkan nilai-nilai toleransi merajuk dan berdasarkan sumber dari Al-QurAan Surah Al-Kafirun ayat 1-6 yang artinya: AuKatakanlah (Muhamma. , "Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. dan kamu tidak pernah . menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamakuAy (Q. Al-Kafirun: 1-. Di dalam tafsir surah Al-KAfirn di kitab Tafsr al-MibAu. Muhammad Quraish Shihab menggunakan kata "kompromi" enam kali. Diksi "toleransi" dalam kata "kompromi" mencakup dua hal, yaitu bahwa tidak ada kompromi . itik tem. dalam hal peribadatan. Oleh karena itu, dalam konteks hubungannya dengan ibadah . , tidak ada dan tidak dapat dikompromikan . berdasarkan tema yang kedua, yaitu hubungan antar pemeluk agama. Ketika seseorang beragama, mereka kemudian menghormati keyakinan mereka. Diizinkan untuk mendakwah atau mengajak orang lain untuk memeluk atau mengenali islam, tetapi jika tanggapan orang tersebut tetap pada keyakinannya dan tidak berubah, maka kita selaku pemeluk agama islam tidak bertanggung jawab untuk membuatnya menjadi pemeluk agama islam juga. Seorang muslim harus menghormati orang yang tetap berpegang pada agamanya (Munandar 2. Menurut penafsiran Muhammad Quraish Shihab, sikap menghormati dan menghargai orang lain dalam keyakinan agamanya sejalan dengan prinsip-prinsip akhlak mulia, yang merupakan bagian penting dari ajaran agama ini. Hal ini mendorong orang-orang Muslim untuk menerapkan nilai-nilai toleransi, saling pengertian, dan kerjasama dengan setiap orang tanpa mempertimbangkan agama mereka. Metode Pengajaran Nilai-Nilai Toleransi Pengajaran nilai-nilai toleransi yang dilaksanakan oleh guru PAI di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan yaitu dengan metode ceramah dan praktik. Peserta didik diharapkan mampu dan mengerti apa itu arti toleransi secara luas melalui metode ceramah yang diberikan. Metode praktik diharapkan mampu mempraktekkan . indakan mora. dalam berbagai konteks, tidak hanya mengetahuinya saja. Dalam pendidikan Islam, pendidik agama harus memahami berbagai pendekatan pengajaran. Ini karena siswa yang berbeda dan situasi belajar yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama. Menjadi guru pendidikan agama Islam adalah mungkin (Budiyanto dan Kurniawan 2. Menurut Rasmini et al. beberapa metode atau pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengajaran nilai-nilai toleransi antara lain: Metode Qishah atau Cerita Metode . dapat mempengaruhi pembelajaran dengan cara positif dan efektif bagi orang Contoh lain termasuk kisah-kisah para nabi seperti Nuh. Lut, dan Nabi Muhammad SAW dan juga kisah-kisah para nabi lainnya. Metode Uswah atau Keteladanan metode "Uswah" mengacu pada pendekatan pengajaran yang menekankan pentingnya mengambil Nabi Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam semua aspek kehidupan (Arifin dan Rusdina 2019: . Metode pembiasaan Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa ketika seseorang terpapar berulang kali terhadap suatu stimulus atau situasi tertentu, perilaku yang diinginkan dapat menjadi lebih menetap dan Tantangan Yang DiHadapi dalam Pembelajaran Nilai-Nilai Toleransi Pembelajaran nilai-nilai toleransi di sekolah menghadapi beberapa masalah yang harus diatasi agar pesan dan arti toleransi dapat disampaikan dengan baik kepada siswa. Beberapa masalah ini termasuk: Polarisasi dan Sentimen Negatif Hambatan utama dalam belajar toleransi adalah polarisasi sosial dan perasaan negatif terhadap kelompok atau individu yang berbeda. Siswa mungkin tidak dapat menerima dan menghargai perbedaan dengan pikiran terbuka karena hambatan ini. Ketidakpahaman terhadap Agama dan Budaya Lain Seringkali, stereotip dan prasangka berasal dari ketidaktahuan atau bahkan ketidaktahuan tentang agama, budaya, dan kepercayaan lain. Hal ini membuat sulit bagi siswa untuk belajar dan menerima perbedaan dengan benar. Kurangnya Sumber Belajar yang Dapat Dipercaya Sangat sulit untuk menemukan sumber pendidikan yang akurat dan dapat diandalkan yang mengajarkan toleransi dengan benar. Pembelajaran dapat terhambat jika tidak ada bahan pelajaran yang tepat. Pengaruh Lingkungan Sosial dan Keluarga Siswa sering terpengaruh oleh lingkungan sosial dan keluarga mereka. Jika lingkungan ini tidak mendukung atau bahkan menentang nilai-nilai toleransi, maka pesan-pesan positif di sekolah mungkin sulit untuk diinternalisasi. Kurikulum Terbatas Beberapa kurikulum mungkin tidak memberikan ruang yang cukup untuk memahami nilai-nilai toleransi secara mendalam. Hal ini dapat mengakibatkan pembelajaran yang dangkal atau hanya sebatas informasi dasar. Kurangnya Keterlibatan Aktif dalam Kegiatan Toleransi Pembelajaran toleransi tidak hanya sebatas teori, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif dalam kegiatan-kegiatan praktis yang mengajarkan bagaimana merangkul perbedaan dan membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, pendidikan toleransi harus menjadi bagian integral dari pendidikan formal. Sekolah harus menciptakan lingkungan yang mendukung nilai-nilai toleransi, memastikan kurikulum yang inklusif, melibatkan orang tua dan komunitas dalam proses Beberapa tantangan ini sangat berhubungan dengan pendapat guru PAI berdasarkan hasil wawancara di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan. Respon Peserta Didik dan Keberhasilan Dalam Pengajaran Nilai Ae Nilai Toleransi Di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan, peserta didik sangat merespon baik pengajaran dan penanaman nilai-nilai toleransi dari guru PAI. Adanya respon baik dari peserta didik dapat memberikan dampak positif bagi sekolah itu sendiri. Mereka memiliki sikap terbuka terhadap keberagaman dan mampu menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Peserta didik yang bertoleransi memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang inklusif, damai, dan harmonis. Mereka membawa harapan untuk masa depan yang lebih baik dengan kemampuan mereka dalam merangkul perbedaan dan membangun hubungan yang positif dengan semua orang. Mereka yang belajar toleransi akan berkolaborasi dan membantu satu sama lain. Peserta didik saling mengingatkan satu sama lain agar tidak menyakiti temannya. Guru memberikan contoh yang baik kepada siswanya, dan siswa dapat menghargai temannya dengan agama masing-masing dengan tidak membully atau mendiskriminasi siswa minoritas (Rasmini et al. Keberhasilan pengajaran nilainilai toleransi dapat terlihat dari sikap guru dan siswa ketika berada di lingkungan sekolah sebagai berikut (Yunus 2. Semua siswa yang beragama islam mampu bekerja sama tanpa membedakan agama, baik bekerjasama dengan sesama muslim maupun bekerjasama dengan yang berbeda dengan yang . Siswa memiliki keimanan . yang tinggi dapat dilihat dengan siswa mengamalkan ilmu pengetahuan tentang ibadah agama islam. Siswa dan guru mampu bertoleransi, siswa memberikan kesempatan kepada teman yang berbeda agama untuk beribadah sesuai agamanya masing-masing. Siswa dan guru memiliki karakter demokrasi, memberikan hak kepada pemeluk agama lain seperti ketika bulan puasa. Terciptanya kerukunan dan solidaritas yang baik antar siswa, antar siswa dengan guru. Siswa menguasai beragam keterampilan, tanpa memandang perbedaan. Keberhasilan pengajaran nilai-nilai toleransi dapat tercermin dalam sikap guru dan siswa di lingkungan sekolah. Keberhasilan pengajaran nilai-nilai toleransi adalah proses yang berkelanjutan dan kompleks. Ini memerlukan keterlibatan aktif dari semua anggota komunitas sekolah dan upaya bersama untuk menciptakan lingkungan yang inklusif, menghormati, dan toleran. Faktor Pendukung dan Penghambat Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moderasi Beragama Khususnya Toleransi Di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan Melalui Pendidikan Agama Islam Faktor Pendukung dalam Pengajaran Nilai-Nilai Toleransi Siswa . eserta didi. dan guru di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan menjadi faktor utama yang mendukung terciptanya nilai-nilai toleransi dari pembelajaran PAI. Sekolah juga menjadi faktor pendukung dilaksanakannya pengajaran nilai-nilai toleransi. Di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan merupakan sekolah yang kondusif dalam pengajaran nilai-nilai toleransi, karena sekolah ini juga memiliki siswa dan guru yang berbeda agama, suku dan budaya yang berbeda. Hal ini dapat memberikan pengajaran dan praktik langsung dalam pengajaran nilai-nilai toleransi. Komunitas yang ada di sekitar sekolah seperti penyuluh agama, pihak KUA dan dari kementerian agama bekerja sama sebagai lembaga yang mendukung pengajaran nilai-nilai toleransi. Menurut Fikar dan Saefudin . 2: 90-. faktor yang dapat mendukung dalam penanaman nilai-nilai toleransi yaitu: Guru Guru mungkin mampu menanamkan nilai moderasi Islam, terutama toleransi, jika mereka memiliki gelar sarjana PAI atau bahkan alumni pesantren. Murid Islam di kalangan siswa terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, lihat dari sudut pandang Penurunan sifat dari induk ke keturunannya melalui gen disebut hereditas. Penurunan sifat berupa tingkah laku tidak termasuk dalam hereditas, tetapi lebih pada penurunan bentuk atau struktur tubuh. karena ada kemiripan atau kesamaan antara induk dan keturunannya (Meilinda 2017: . Kedua, umur bayi. Kepala sekolah memberi tahu peneliti bahwa usia siswa mempengaruhi penerapan nilai moderasi Islam. Jika siswa berusia sama tetapi berpikir dewasa, siswa tersebut dapat membantu guru menerapkan nilai moderasi. Sekolah dan Masyarakat Sekolah memiliki banyak faktor pendukung dalam masyarakat, terutama orang-orang di sekitarnya. Namun, faktor pendukung yang berbeda dimiliki oleh setiap sekolah, yang dipengaruhi oleh lokasi geografis sekolah. Semua faktor ini saling terkait dan saling memperkuat untuk menciptakan budaya toleransi yang sehat. Hal ini menjadikan faktor ini dapat mendukung dalam membentuk nilai-nilai toleransi bagi peserta didik di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan. Dengan dukungan dari berbagai sumber, nilainilai toleransi dapat lebih mudah terbentuk dan dipraktikkan oleh peserta didik. Faktor Penghambat dalam Pengajaran Nilai-Nilai Toleransi Proses pengajaran nilai-nilai toleransi di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan secara umum tidak dapat faktor yang menjadi penghambat. Hanya saja ada beberapa kendala dalam pengajaran nilai-nilai toleransi di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan yaitu dari pola pikir peserta didik tersebut. Selain itu, tingkat pemahaman peserta didik juga dapat menjadi kendala dalam pengajaran nilai-nilai toleransi di sekolah. Daya tangkap setiap anak berbeda-beda, yang merupakan kendala dalam pengajaran nilai-nilai toleransi, menghalangi pembentukan nilai-nilai toleransi pada siswa. Siswa tidak memahami peraturan Meskipun guru dan kepala sekolah telah memberi contoh, beberapa siswa masih belum sadar untuk melaksanakannya, dan beberapa siswa tidak memahami sikap toleransi, yang mencakup masalah dalam bersosialisasi dengan teman sebaya, menerima pendapat teman, dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru (Zaenuri dan Fatonah 2. Selain faktor dari siswa sendiri, faktor yang dapat menghambat nilai toleransi yaitu (Pitaloka et al. Ketidakpahaman Guru PAI. Kurangnya pemahaman atau pelatihan guru tentang nilai-nilai toleransi dapat menghambat kemampuan mereka untuk efektif mengajarkannya kepada peserta . Ketidakseimbangan Materi Ajar. Materi ajar yang hanya mengajarkan sudut pandang satu kelompok atau pandangan sempit dapat menyebabkan kurangnya penghargaan terhadap . Kurangnya Interaksi. Sekolah yang kurang memiliki interaksi tidak memberi peserta didik kesempatan untuk berinteraksi dan belajar dari perbedaan . Lingkungan Sekolah. Lingkungan sekolah yang tidak kondusif seperti konflik antara siswa atau kurangnya keamanan, dapat menghambat pembelajaran dan pembentukan nilai-nilai toleransi. Kurangnya kegiatan toleransi Di Sekolah. Kurangnya kegiatan atau program yang mendukung nilai-nilai toleransi dapat menghambat pengalaman praktis siswa dalam menerapkannya. Faktor-faktor yang telah dijelaskan dapat membuat sulit bagi individu dan kelompok secara keseluruhan untuk menghargai dan merangkul perbedaan. Mengidentifikasi dan mengatasi faktor-faktor ini memerlukan kolaborasi antara guru, siswa, orang tua, dan staf sekolah. Dengan menghadapi faktor-faktor ini secara aktif, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung perkembangan nilai-nilai toleransi dikalangan siswa. KESIMPULAN Penanaman nilai moderasi beragama, khususnya toleransi di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan sudah diterapkan secara maksimal melalui pengajaran oleh Guru PAI. Pengajaran toleransi diajarkan melalui ceramah dan praktik, serta melalui berbagai acara yang didukung oleh masyarakat atau lembaga di sekitar sekolah. Guru PAI memberikan contoh nilai-nilai toleransi merajuk pada surah Al-QurAan dan Selain itu, guru PAI juga mengajarkan nilai-nilai toleransi dengan memanfaatkan situasi nyata dan kasus-kasus yang ada di sekolah serta di luar sekolah. Pengajaran yang dilakukan guru PAI dalam menanamkan nilai-nilai toleransi di sekolah sangat diterima baik oleh peserta didik. Peserta didik juga dapat mempraktikkan nilai-nilai toleransi di sekolah, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Hal ini telah membuat peserta didik dapat menghormati sesama dan berbeda agama, suku, dan Peserta didik juga dapat saling tolong menolong, tidak membuat konflik internal, sopan santun, saling menerima pendapat dan telah menciptakan lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga yang Faktor pendukung dalam menanamkan nilai-nilai toleransi di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan yaitu sekolah itu sendiri. Sekolah memiliki fasilitas, lingkungan dan tenaga pengajar yang kondusif dalam menanamkan nilai-nilai toleransi. Sekolah juga menjalin kerjasama dengan kementerian agama Kabupaten Bengkayang, penyuluh agama dan KUA terdekat. Selain itu, peserta didik juga termasuk faktor yang mendukung dalam menanamkan nilai Peserta didik di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan telah merespon baik dalam pengajaran nilainilai toleransi yang diberikan oleh sekolah dan guru PAI. Faktor penghambat dalam penanaman nilai-nilai toleransi di SMAN 01 Sungai Raya Kepulauan yaitu kepada peserta didik itu sendiri. Tingkat pemahaman yang berbeda-beda, ego dan karakteristik yang berbeda dari peserta didik dapat menjadi faktor penghambat dalam menanamkan nilai-nilai toleransi. REFERENSI