JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Ipas Siswa Kelas V SD Negeri Borongkaramasa Kab. Gowa Hapsah1*. Nurlina1. Agustan Syamsuddin1 Program Pascasarjana. Universitas Muhammadiyah Makassar. Indonesia *Corresponding author email: hapsah. kebo10@gmail. Article Info Article history: Received June 05, 2025 Approved August 08, 2025 Keywords: Differentiated learning, guided inquiry learning model, problem solving skills and Science Learning Outcomes ABSTRACT This study aims to determine the effect of differentiated learning through guided inquiry model on problem-solving ability and science learning outcomes of fifth grade students of SD Negeri Borongkaramasa in Gowa Regency. This study is a quantitative study with a quasi-experimental design with a nonequivalent control group design. The population in this study were all fifth grade students of SD Gugus 5. Pallangga District. Gowa Regency in the 2024/2025 academic year. The research sample was fifth grade students of SDN Borongkaramasa with a random sampling technique. The data collection technique in this study was the test and documentation technique. This study was conducted by providing a pretest as an initial result before being given treatment and at the end of the meeting a posttest was given as a result of the Furthermore, the data obtained were analyzed using the SPSS v. application by looking for the results of the normality test, homogeneity test and Independent Sample t-Test to test the hypothesis. Research results . There is an influence of differentiated learning through guided inquiry model on the problem solving ability of science subjects of class V of Borongkaramasa Elementary School in Pallangga District. Gowa Regency. There is an influence of differentiated learning through guided inquiry model on the learning outcomes of science subjects of class V of Borongkaramasa Elementary School in Pallangga District. Gowa Regency. It can be concluded that there is an influence of differentiated learning through guided inquiry model on the problem solving ability and learning outcomes of science subjects of class V of Borongkaramasa Elementary School in Gowa Regency. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian quasi eksperimental design dengan bentuk desain nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus 5 Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa tahun pelajaran 2024/2025. Sampel penelitian adalah siswa kelas V SDN Borongkaramasa dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu teknik tes dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan pretest sebagai hasil awal sebelum diberikan perlakuan dan diakhir pertemuan diberikan posttest sebagai hasil dari Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1445 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . pemberian perlakuan. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan aplikasi SPSS v. 28 dengan mencari hasil dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji Independent Sample t-Test untuk menguji hipotesis. Hasil penelitian . Terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Terdapat pengaruh pembelajaran pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. CopyrightA2025,The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Hapsah. Nurlina. , & Syamsuddin. Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah dan Hasil Belajar Ipas Siswa Kelas V SD Negeri Borongkaramasa Kab. Gowa. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 1445Ae1459. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan pilar utama bagi kemajuan sebuah bangsa. Pendidikan menjadi unsur dasar dalam peningkatan sumber daya manusia . ahyu Kusuma et al. , 2. Sumber daya manusia tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan menalar dan pola pemikiran individu dari pengalaman sendiri. Senada dengan undang-undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 tahun 2003 menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Anggraini, et al. , 2. Menurut Jojor dan Sihotang . yang menjelaskan bahwa kurikulum merdeka memfokuskan pentingnya keselarasan pembelajaran dengan asesmen, terutama asesmen formatif, sebagai suatu siklus belajar. Jika sebuah kurikulum dijadikan patokan dalam pelaksanaan pendidikan, maka pelaksana pendidikan dari tingkat dasar hingga tingkat pendidikan tinggi akan memiliki sebuah acuan yang menjadikan pelaksanaan pendidikan menjadi lebih terarah. Adapun kedudukan kurikulum dalam pendidikan adalah sebagai konstruk yang dibangun untuk mentransfer apa yang sudah terjadi di masa lalu kepada generasi berikutnya untuk dilestarikan, diteruskan, atau dikembangkan, jawaban untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial yang berkenaan dengan pendidikan dan untuk membangun kehidupan masa depan dimana masa lalu, masa sekarang, dan berbagai rencana pengembangan serta pembangunan bangsa dijadikan dasar untuk mengembangkan kehidupan masa depan, serta sebagai pedoman penyelenggaran kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Susilowati, 2. Siswa memiliki tingkat perkembangan kognitif yang berbeda. Adanya perbedaan dari perkembangan positif dikarenakan setiap anak memiliki unsur biologis dan genetik yang berbeda dengan individu lainnya, serta faktor lingkungan pun turut andil dalam memberikan kontribusi pada perkembangan kognitif anak (Rahmat, 2. Guru perlu memahami karakteristik siswa yang berbeda-beda. Perbedaan gaya belajar, minat, dan bakat menuntut pendekatan pembelajaran yang fleksibel (Fathoni. Muzamil, et al. , 2. Pendidik berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dengan menggunakan berbagai metode pembelajaran yang sesuai (Fathoni. Wahyuni, et al. , 2. Prinsip-prinsip pembelajaran yang efektif ini juga berlaku dalam pembelajaran IPAS. Meskipun pelajaran IPAS merupakan mata pelajaran yang wajib, pembelajarannya seringkali masih bersifat konvensional dan kurang memperhatikan perbedaan individu siswa. Selain itu, terdapat penyebab rendahnya kualitas Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1446 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . pendidikan antara lain adalah kegiatan pembelajaran yang kurang responsif terhadap keragaman individu dan lingkungan tempat peserta didik berada (Widiyani et al. , 2. Setiap siswa memiliki karakteristik yang unik, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti latar belakang keluarga, lingkungan sosial, pengalaman hidup, gaya belajar, serta potensi dan bakat individu (Sutalhis, 2. Perbedaan ini mencakup aspek-aspek kognitif, emosional, sosia, dan fisik, yang semuanya berkontribusi pada cara mereka memahami materi pelajaran, berinteraksi dengan guru dan teman sebaya, serta merespons terhadap metode pengajaran yang Misalnya, ada siswa yang lebih cepat memahami konsep melalui pembelajaran visual, sementara yang lain mungkin lebih efektif dengan pendekatan auditori atau kinestetik. Selain itu, perbedaan dalam tingkat motivasi, kepercayaan diri, dan kemampuan beradaptasi juga memengaruhi kebutuhan belajar mereka (Anggraeni et al. , 2. Penerapan pembelajaran yang sama untuk semua siswa tidak akan efektif, hal tersebut mengabaikan perbedaan individualitas siswa, seperti gaya belajar yang berbeda-beda, tingkat pemahaman yang beragam, dan minat yang berbeda (Fathoni & Syaifuddin, 2. Pembelajaran berdiferensiasi mengakui bahwa setiap siswa unik, dengan kecepatan belajar dan gaya belajar yang berbeda, sehingga memerlukan perlakuan yang berbeda pula dalam pembelajaran. Gaya belajar menjadi salah satu karakteristik siswa yang perlu diakomodasi dalam penerapan kurikulum merdeka (Cahya et al. , 2. Pembelajaran berdiferensiasi melibatkan tiga aspek utama, yaitu konten, proses, dan produk (Wahyudi et al. , 2. Pada aspek konten, guru menyediakan materi yang bervariasi sesuai dengan tingkat kesiapan siswa. Pada aspek proses, guru menyesuaikan cara menyampaikan materi, misalnya dengan memberikan tugas yang berbeda atau memberikan pilihan aktivitas sesuai dengan gaya belajar siswa. Sedangkan pada aspek produk, siswa diberikan kebebasan dalam menunjukkan pemahaman mereka melalui berbagai bentuk penilaian, baik itu tulisan, presentasi, proyek, atau metode lainnya yang sesuai dengan potensi peserta didik. Dalam kurikulum merdeka, konsep ini mendukung terciptanya lingkungan pembelajaran yang inklusif dan personal. setiap siswa dipandang sebagai individu dengan potensi yang berbeda-beda, dan pembelajaran berdiferensiasi bertujuan untuk mengoptimalkan potensi tersebut melalui pendekatan yang disesuaikan (Ngaisah et al. , 2. Perkembangan setiap individu yang berbeda, membuat guru harus menyadari bahwa tiap anak didiknya memiliki perbedaan juga sehingga kemampuan yang diharapkan pada setiap anak tentunya juga harus berbeda, sehingga Pendidikan yang diberikan bisa dibuat dengan cara bersifat perseorangan (Rahmat, 2018:). Perbedaan tingkat perkembangan setiap siswa, menjadikan guru harus memahami bahwa setiap peserta didik tidak bisa disamakan Guru perlu untuk memahami peserta didik bagaimana tipe gaya belajarnya, apa yang membuatnya nyaman ketika belajar sehingga bisa merancang pembelajaran yang disesuaikan dengan hasil identifikasi siswa serta mengelompokkan siswa dalam tingkat yang Sekolah Dasar pada Gugus 5 Kec. Pallangga Kab. Gowa telah menerapkan kurikulum merdeka sejak tahun 2022 yang memberikan fleksibilitas lebih bagi siswa dan guru dalam proses Berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti di SD Negeri Borongkaramasa Kec. Pallangga Kab. Gowa mengenai pembelajaran diferensiasi pada mata pelajaran IPAS, masih terdapat beberapa masalah pada berbagai aspek. Kondisi awal sebelum menerapkan pendekatan pembelajaran berdiferensiasi yaitu guru mengajar tanpa melihat keadaan dan kondisi siswa dimana guru menyamakan keadaan dan kondisi siswa secara merata. Hal ini dibuktikan dengan kurangnya pemahaman guru tentang pembelajaran diferensiasi yaitu dengan aspek konten, proses, dan produk. Hasil capaian pembelajaran dari tujuan pembelajaran siswa masih rendah dilihat dari beberapa siswa belum tuntas pada CP dari hasil asesmen guru. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran IPAS menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap siswa dapat mengembangkan potensi mereka secara optimal. Pembelajaran diferensiasi ini diharapkan dapat mengatasi tantangan dalam memenuhi kebutuhan individu siswa dalam pemecahan masalah. Salah satu model pembelajaran yang menekankan pada keterampilan proses sains, kemampuan berpikir, dan menekankan pada penyelidikan secara ilmiah adalah model Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1447 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . pembelajaran inkuiri terbimbing . uided inquir. (Nasution, 2. Maka dengan pembelajaran diferensiasi menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing akan membantu siswa dalam memenuhi kebutuhan belajar dan membantu siswa dalam proses pemecahan masalah. Armanda. Agustan & Irwan. menjelaskan bahwa hasil belajar dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa setelah melakukan proses pembelajaran yang telah diukur menggunakan alat tes. Setelah siswa mempelajari setiap tujuan pembelajaran yang ingin di capai, maka dengan menggunakan tes yang sesuai dengan CP dan TP, hasil belajar siswa dapat di ukur apakah tercapai atau masih memerlukan penuntasan. Kemdikbud menyampaikan secara resmi hasil PISA 2022 yang diselenggarakan oleh OECD. Pada tanggal 06 Desember 2023 OECD telah merilis hasil peringkat PISA tahun 2022 pada Negara yang telah ikut berpartisipasi pada tes. Indonesia berada pada peringkat 56 dari 70 negara yang ikut serta. Skor kemampuan rata-rata siswa Indonesia pada kemampuan sains dengan skor 383 dari skor rata-rata dunia 384 dan bahkan menurun dari tahun 2018 yaitu dengan Walaupun penurunan ini juga terjadi dengan negara lain dalam survei PISA 2022. Namun bukan merupakan suatu capaian positif walaupun disebabkan oleh pandemi covid-19. Salah satu permasalahan yang ditemukan dalam pembelajaran IPAS adalah masih rendahnya kemampuan pemecahan masalah dari peserta didik (Bialangi et al. , 2. Maka dari itu kemampuan pemecahan masalah siswa di bidang IPAS perlu menjadi perhatian khusus saat ini. Kemampuan pemecahan masalah di mana kemampuan peserta didik dalam menentukan apa yang harus dikerjakan pada suatu kondisi tertentu dengan menggunakan informasi yang ada (Oktaviani, 2. Artinya, kemampuan tersebut merujuk pada peserta didik dalam menentukan penyelesaian atau solusi dari suatu masalah. Kemampuan pemecahan masalah penting untuk dilatihkan kepada peserta didik pada jenjang sekolah dasar karena peserta didik akan mengetahui bagaimana proses dalam memecahkan suatu masalah, tidak hanya langsung menemukan jawaban dari masalah itu. Proses dalam usaha pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa agar hasil belajar siswa dapat meningkat sesuai dengan usaha yang dilakukannya. Hasil belajar siswa merupakan prestasi yang dicapai siswa secara akademis melalui ujian dan tugas, keaktifan bertanya dan menjawab pertanyaan yang mendukung perolehan hasil belajar tersebut. (Dakhi, 2. Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: . Apakah terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS Siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa?. Apakah terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa?. Apakah terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa? Tujuan penelitian ini yaitu: . Untuk menganalisis pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Untuk menganalisis pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V SD di Kab. Gowa. Untuk menganalisis pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian quasi eksperimental design dengan bentuk desain nonequivalent control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Gugus 5 Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa tahun pelajaran 2024/2025. Sampel penelitian adalah siswa kelas V SDN Borongkaramasa dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu teknik tes dan dokumentasi. Penelitian ini dilakukan dengan memberikan pretest sebagai hasil awal sebelum diberikan perlakuan dan diakhir pertemuan diberikan posttest sebagai hasil dari Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1448 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . pemberian perlakuan. Selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan aplikasi SPSS v. 28 dengan mencari hasil dari uji normalitas, uji homogenitas dan uji Independent Sample tTest untuk menguji hipotesis. HASIL Deskripsi Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Inkuiri Terbimbing Pada Kemampuan Pemecahan Masalah IPAS Siswa Kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa 1 Hasil Analisis Deskripsi Pada Kelas Eksperimen Berikut ini hasil analisis statistik deskriptif yang diperoleh pada kelas eksperimen berdasarkan skor pretest dan posttest hasil pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Adapun hasil analisis statistik deskriptif disajikan pada Tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1 Statistik Deskriptif PreTest dan PostTest Kemampuan Pemecahan Masalah IPAS Siswa Kelas Eksperimen Pretest Posttest Statistik Deskriptif Jumlah Peserta Didik Nilai Maksimal Nilai Minimal Nilai rata-rata Varian Standar deviasi Skewness Kurtosis 63,33 76,19 253,333 224,762 15,916 14,992 -0,326 -0,746 -0,539 -0,953 (Output data diolah SPSS) Berdasarkan hasil analisis pada nilai skor pretest dan posttest kemampuan pemecahan masalah IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Pada tampilan output data SPSS kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing. Dari jumlah sampel penelitian sebanyak 21 siswa, menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah IPAS antara pretest dan posttest mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 63,33 . ategori kuran. menjadi 76,19 . ategori cuku. Nilai standar deviasi yang diperoleh pretest dan posttest masing-masing lebih kecil dari nilai ratarata pretest dan posttest, hal ini menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan sudah mampu menggambarkan kondisi data atau data tidak beragam. Nilai skewness dan kurtosis yang diperoleh masing-masing pada pretest dan posttest berada pada rentang nilai -2 sampai 2, hal ini menunjukkan bahwa nilai rasio skewness dan kurtosis berdistribusi normal. Berikut ini data distribusi frekuensi disajikan dalam Tabel 2 pre test dan post test kemampuan pemecahan masalah IPAS kelas eksperimen siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa: Tabel 2 Distribusi Frekuensi Pre-Test dan Post-Test Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas Eksperimen Frequency Interval Kategori Pretest Postest Pretest Postest Sangatbaik 93Ae100 Baik 84Ae92 Cukup 75Ae83 <75 Kurang Total Hasil analisis data distribusi frekuensi pretest dan posttest kemampuan pemecahan masalah IPAS siswa menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Dari 21 siswa yang menjadi sampel penelitian, data Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1449 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . menunjukkan pada pretest dan posttest tidak ada siswa yang berada pada kategori sangat baik, pada kategori baik pretest sebanyak 1 siswa dan posttest sebanyak 8 siswa, pada kategori cukup pretest sebanyak 5 siswa dan posttest sebanyak 6 siswa dan pada kategori kurang pretest sebanyak 15 siswa dan posttest sebanyak 7 siswa. 2 Hasil Analisis Deskriptif Pada Kelas Kontrol Berikut ini hasil analisis statistik deskriptif yang diperoleh pada kelas kontrol berdasarkan skor pretest dan posttest hasil pembelajaran dengan manggunakan pembelajaran langsung terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Adapun hasil analisis statistik deskriptif disajikan pada Tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3 Statistik Deskriptif Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemecahan Masalah IPAS Siswa Kelas Kontrol Pretest Posttest Statistik Deskriptif Jumlah Peserta Didik Nilai Maksimal Nilai Minimal Nilai rata-rata 65,35 67,25 Varian 21,292 84,408 Standar deviasi 4,614 9,187 Skewness -0,335 -0,452 Kurtosis -0,780 -1,103 Berdasarkan hasil analisis pada nilai skor pretest dan posttest kemampuan pemecahan masalah IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Pada tampilan output data SPSS kelas kontrol dengan menggunakan pembelajaran langsung. Dari jumlah sampel penelitian sebanyak 20 siswa, menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah IPAS antara pretest dan posttest tidak mengalami peningkatan signifikan yaitu dari 65,35 . ategori kuran. menjadi 67,25 . ategori kuran. Nilai standar deviasi yang diperoleh pretest dan posttest masing-masing lebih kecil dari nilai rata-rata pretest dan posttest, hal ini menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan sudah mampu menggambarkan kondisi data atau data tidak Nilai skewness dan kurtosis yang diperoleh masing-masing pada pretest dan posttest berada pada rentang nilai -2 sampai 2, hal inimenunjukkan bahwa nilai rasio skewness dan kurtosis berdistribusi normal. Berikut ini hasil analisis data distribusi frekuensi disajikan dalam Tabel 4 Pre Test dan Post Test Kemampuan Pemecahan Masalah IPAS pada kelas kontrol siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa: Tabel 4 Distribusi Frekuensi Pre-Test dan Post-Test Kemampuan Pemecahan Masalah IPAS Siswa Kelas Kontrol Frequency Interval Kategori Pretest Postest Pretest Postest Sangatbaik 93Ae100 Baik 84Ae92 Cukup 75Ae83 <75 Kurang Total Hasil analisis data distribusi frekuensi pretest dan posttest pada nilai kemampuan pemecahan masalah IPAS siswa menggunakan pembelajaran lansgung di kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kabupaten Gowa. Dari 20 siswa yang menjadi sampel penelitian, data menunjukkan pada pretest dan posttest tidak ada siswa yang berada pada kategori sangat baik, pada kategori baik juga tidak ada siswa pada pretest dan posttest, pada kategori cukup pretest sebanyak 2 siswa dan posttest sebanyak 5 siswa dan pada kategori kurang pretest sebanyak 20 siswa dan posttest sebanyak 15 siswa. Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1450 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Deskripsi Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Inkuiri Terbimbing Pada Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa 1 Hasil Analisis Deskripsi Pada Kelas Eksperimen Berikut ini di kemukakan hasil analisis statistik deskriptif yang diperoleh pada kelas eksperimen berdasarkan skor pretest dan posttest hasil pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap Hasil Belajar IPAS Siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Adapun hasil analisis statistik deskriptif disajikan pada Tabel 5 sebagai berikut: Tabel 5 Statistik Deskriptif Pre Test dan Post Test Hasil Belajar IPAS Siswa Kelas Eksperimen Statistik Deskriptif Pretest Posttest Jumlah Peserta Didik Nilai Maksimal Nilai Minimal Nilai rata-rata Varian Standar deviasi Skewness Kurtosis 61,43 162,857 12,726 -0,772 0,403 78,10 136,190 11,670 -0,845 0,116 (Output data diolah SPSS) Berdasarkan hasil analisis pada nilai skor pretest dan posttest pada hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Pada tampilan output data SPSS kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing. Dari jumlah sampel penelitian sebanyak 21 siswa, menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah IPAS antara pretest dan posttest mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 61,43 . ategori kuran. menjadi 78,10 . ategori cuku. Nilai standar deviasi yang diperoleh pretest dan posttest masing-masing lebih kecil dari nilai rata-rata pretest dan posttest, hal ini menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan sudah mampu menggambarkan kondisi data atau data tidak beragam. Nilai skewness dan kurtosis yang diperoleh masing-masing pada pretest dan posttest berada pada rentang nilai -2 sampai 2, hal ini menunjukkan bahwa nilai rasio skewness dan kurtosis berdistribusi normal. Berikut ini data distribusi frekuensi disajikan dalam Tabel 6 pre test dan post test hasil belajar IPAS kelas eksperimen siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa: Tabel 6 Distribusi Frekuensi Pre-Test dan Post-Test Hasil Belajar Pada Kelas Eksperimen Interval Kategori 93Ae100 84Ae92 75Ae83 <75 Sangatbaik Baik Cukup Kurang Total Frequency Pretest Postest Pretest Postest Hasil analisis data distribusi frekuensi pretest dan posttest hasil belajar IPAS siswa menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Dari 21 siswa yang menjadi sampel penelitian, data menunjukkan pada pretest dan posttest tidak ada siswa yang berada pada kategori sangat baik, pada kategori baik pretest tidak ada siswa dan posttest sebanyak 7 siswa, pada kategori cukup pretest sebanyak 2 siswa dan posttest sebanyak 7 siswa dan pada kategori kurang pretest sebanyak 19 siswa dan posttest sebanyak 7 siswa. 2 Hasil Analisis Deskriptif Pada Kelas Kontrol Berikut ini hasil analisis statistik deskriptif yang diperoleh pada kelas kontrol berdasarkan skor pretest dan posttest hasil pembelajaran dengan manggunakan pembelajaran langsung terhadap Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1451 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Adapun hasil analisis statistik deskriptif disajikan pada Tabel 7 sebagai berikut. Tabel 7 Statistik Deskriptif Pre Test dan Post Test Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol Statistik Deskriptif Pretest Posttest Jumlah Peserta Didik Nilai Maksimal Nilai Minimal Nilai rata-rata Varian Standar deviasi Skewness Kurtosis 60,95 149,524 12,228 -2,181 0,512 63,20 157,011 12,530 -1,132 0,512 Berdasarkan hasil analisis dari nilai skor pretest dan posttest pada hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Pada tampilan output data SPSS kelas kontrol dengan menggunakan pembelajaran langsung. Dari jumlah sampel penelitian sebanyak 20 siswa, menunjukkan bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPAS antara pretest dan posttest tidak mengalami peningkatan signifikan yaitu dari 60,95 . ategori kuran. menjadi 63,20 . ategori Nilai standar deviasi yang diperoleh pretest dan posttest masing-masing lebih kecil dari nilai rata-rata pretest dan posttest, hal ini menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan sudah mampu menggambarkan kondisi data atau data tidak beragam. Nilai skewness dan kurtosis yang diperoleh masing-masing pada pretest dan posttest berada pada rentang nilai -2 sampai 2, hal ini menunjukkan bahwa nilai rasio skewness dan kurtosis berdistribusi normal. Berikut ini hasil analisis data distribusi frekuensi disajikan dalam Tabel 8 Pre Test dan Post Test hasil belajar IPAS pada kelas kontrol siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa: Tabel 8 Distribusi Frekuensi Pre-Test dan Post-Test Hasil Belajar Pada Kelas Kontrol Interval Kategori 93Ae100 84Ae92 75Ae83 <75 Sangatbaik Baik Cukup Kurang Total Frequency Pretest Postest Pretest Postest Hasil analisis data distribusi frekuensi pretest dan posttest pada nilai hasil belajar IPAS siswa menggunakan pembelajaran langsung di kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kabupaten Gowa. Dari 20 siswa yang menjadi sampel penelitian, data menunjukkan pada pretest dan posttest tidak ada siswa yang berada pada kategori sangat baik dan pada kategori baik, pada kategori cukup pretest tidak ada siswa dan posttest sebanyak 2 siswa dan pada kategori kurang pretest sebanyak 20 siswa dan posttest sebanyak 18 siswa. Hasil Analisis Data 1 Uji Normalitas Tests of Normality serta Histogram Normal P-Plot diperoleh nilai Kolmogorov Smirnov. Adapun output varian kemampuan pemecahan masalah IPAS pada kelas eksperimen pretest dan posttest sebesar 0,200 dan 0,200, pada kelas kontrol pretest dan posttest sebesar 0,200 dan 0,102. Sedangkan pada output varian hasil belajar IPAS siswa kelas eksperimen pretest dan posttest sebesar 0,105 dan 0,105, pada kelas kontrol pretest dan posttest sebesar 0,200 dan 0,057. Berdasarkan data hasil uji normalitas menunjukkan bahwa seluruh nilai pada variabel untuk kelas kontrol dan kelas eksperimen . retest dan posttes. yaitu signifikansi (Sig. ) > 0,05 atau Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1452 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . lebih besar dari 0,05, artinya bahwa keseluruhan nilai pada variabel berdistribusi secara normal, dengan demikian uji hipotesis dapat dilakukan. 2 Uji Homogenitas Hasil analisis menunjukkan bahwa Output data 0. 120 > 0. 05 dengan artian bahwa hasil data tersebut dinyatakan homogen atau varians dari kedua kelompok tersebut adalah homogeny . Hal ini menunjukkan bahwa data pada pembelajaran berdiferensiasi terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa Kab. Gowa homogen. 3 Uji Hipotesis Berdasarkan hasil analisis data output SPSS 28 pada pengaruh pembelajaran berdiferensiasi terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa dengan hipotesis penelitian: Hipotesis 1 Terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa H0 : 1 = 2 H1 : 1 > 2 Hasil analisis data uji hipotesis pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa dapat dilihat pada Tabel 4. 11 diperoleh nilai sig. 0,000. Ternyata nilai sig. 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau dengan kata lain nilai 0,05 > 0,000. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya koefisien analisis data signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Hipotesis 2 Terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. H0 : 3 = 4 H1 : 3 > 4 Hasil analisis data uji hipotesis pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Dapat dilihat pada Tabel 4. 11 diperoleh nilai sig. 0,001. Ternyata nilai sig. 0,001 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau dengan kata lain nilai 0,05 > 0,001. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya koefisien analisis data signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Hipotesis 3 Terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. H0 : 1. 3 = 2. H1 : 1. 3 O 2. Hasil pengujian Manova diketahui nilai Sig. yang diuji dengan prosedur PillarAos test WilkaAos Lambda. Hotellings Trace dan RoyAos Largest Root seluruhnya menunjukan signifikan 0,000, berdasarkan kaidah di mana jika nilai Sig > 0,05 maka H1 diterima, artinya ada perbedaan nilai rata-rata yang lebih tinggi pada kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa yang di ajar dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran langsung. Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1453 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Hasil Uji N-Gain, maka dapat diketahui bahwa rata-rata N-Gain kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing memperoleh rata-rata 60,73 yang termasuk dalam tafsiran efektivitas N-Gain yaitu cukup efektif. Sedangkan rata-rata N-Gain kelas kontrol dengan pembelajaran langsung adalah 33,86 yang termasuk dalam tafsiran efektivitas N-Gain yakni tidak efektif. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS pada materi Organ Sistem Pernapasan Manusia di kelas V dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing lebif efektif dari pada pembelajaran IPAS pada materi Organ Sistem Pernapasan Manusia di kelas V dengan menggunakan pembelajaran langsung. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, maka pada bagian ini akan diuraikan pembahasan hasil penelitian tentang pengaruh penerapan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS Siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa Berdasarkan hasil analisis data kemampuan pemecahan masalah IPAS Siswa kelas V dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing, menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah IPAS antara pretest dan posttest mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 63,33 . ategori kuran. menjadi 76,19 . ategori cuku. Nilai standar deviasi yang diperoleh pretest dan posttest masingmasing lebih kecil dari nilai rata-rata pretest dan posttest, hal ini menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan sudah mampu menggambarkan kondisi data atau data tidak beragam. Hasil analisis data uji hipotesis pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa dapat dilihat pada Tabel 4. 11 diperoleh nilai 0,000. Ternyata nilai sig. 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau dengan kata lain nilai 0,05 > 0,000. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya koefisien analisis data Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Berdasarkan hasil analisis data hasil belajar IPAS Siswa kelas V dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing, menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah IPAS antara pretest dan posttest mengalami peningkatan yang signifikan yaitu dari 61,43 . ategori kuran. menjadi 78,10 . ategori cuku. Nilai standar deviasi yang diperoleh pretest dan posttest masing-masing lebih kecil dari nilai rata-rata pretest dan posttest, hal ini menunjukkan bahwa nilai yang dihasilkan sudah mampu menggambarkan kondisi data atau data tidak beragam. Hasil analisis data uji hipotesis pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Dapat dilihat pada Tabel 4. 11 diperoleh nilai sig. 0,001. Ternyata nilai sig. 0,001 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau dengan kata lain nilai 0,05 > 0,001. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya koefisien analisis data signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1454 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Hasil penelitian dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Hasil penelitian ini sejalan menurut pendapat Firmansyah, . yang mengatakan bahwa belajar yaitu suatu proses untuk memahami suatu konsep atau materi sebelumnya, karena pada pembelajaran memerlukan tahapan-tahapan dari hal-hal yang lebih mudah menuju hal-hal yang lebih sulit, hal ini untuk mempermudah peserta didik dalam memahami suatu konsep atau materi. Hasil belajar yang diperoleh siswa setelah belajar melalui tes hasil belajar, berkenaan dengan penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh suatu mata pelajaran yang lazimnya ditunjukkan dengan nilai test atau angka yang diberikan guru. Menurut Armanda, . menjelaskan bahwa hasil belajar dapat dilihat dari nilai yang diperoleh siswa setelah melakukan proses pembelajaran yang diukur menggunakan alat tes. Maka dapat diartikan bahwa hasil belajar merupakan perolehan siswa setelah melalui kegiatan pembelajaran di kelas yang di ukur dengan tes. Pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Berdasarkan hasil analisis data pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. Hasil pengujian Manova diketahui nilai Sig. yang diuji dengan prosedur PillarAos test WilkaAos Lambda. Hotellings Trace dan RoyAos Largest Root seluruhnya menunjukan signifikan 0,000, berdasarkan kaidah di mana jika nilai Sig > 0,05 maka H1 diterima, artinya ada perbedaan nilai rata-rata yang lebih tinggi pada kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa yang di ajar dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing dibandingkan dengan menggunakan pembelajaran Hasil Uji N-Gain diketahui bahwa rata-rata N-Gain kelas eksperimen dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing memperoleh rata-rata 60,73 yang termasuk dalam tafsiran efektivitas N-Gain yaitu cukup efektif. Sedangkan rata-rata N-Gain kelas kontrol dengan pembelajaran langsung adalah 33,86 yang termasuk dalam tafsiran efektivitas N-Gain yakni tidak efektif. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS pada materi Organ Sistem Pernapasan Manusia di kelas V dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing lebif efektif dari pada pembelajaran IPAS pada materi Organ Sistem Pernapasan Manusia di kelas V dengan menggunakan pembelajaran langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing lebif efektif dari pada pembelajaran IPAS pada materi Organ Sistem Pernapasan Manusia di kelas V dengan menggunakan pembelajaran langsung. Hal ini didukung menurut pendapat oleh Jufri . bahwa belajar menurut Bloom mengklasifikasikan ke dalam tiga ranah yaitu. hasil belajar ranah kognitif, meliputi penguasaan konsep, ide, pengetahuan faktual, dan berkenaan dengan keterampilanketerampilan intelektual. Hasil belajar ranah afektif, berkaitan dengan sikap dan nilai-nilai, perasaan dan emosi, karakter, falsafah pribadi, konsep diri, tingkat penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu, dan kesalahan mental yang melekat dan membentuk kepribadian seseorang. Hasil belajar yang dikemukakan di atas tidaklah berdiri sendirisendiri, tetapi selalu berhubungan satu sama lain, bahkan ada dalam kebersamaan. Apabila siswa mengalami perubahasan tingkah laku kognisi dan keterampilannya, maka dalam kadar tertentu akan mengalami pula perubahan pada sikap dan perilakunya. Dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perwujudan kemampuan akibat perubahan perilaku yang dilakukan oleh usaha pendidik setelah belajar IPAS dengan kemampuan menyangkut domain kognitif, afektif, dan psikomotor. Hal serupa dijelaskan oleh Nurlina. , & Bahri. bahwa setiap anak telah mempunyai pengalaman dan Pengaruh Pembelajaran Berdiferensiasi Melalui Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing A - 1455 Hapsah et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Proses belajar akan berjalan dengan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi . secara AuklopAy dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki oleh KESIMPULAN Dapat disimpulkan bahwa . Hasil analisis data diperoleh nilai sig. 0,000. Ternyata nilai 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau dengan kata lain nilai 0,05 > 0,000. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya koefisien analisis data signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Hasil analisis data diperoleh nilai sig. 0,001. Ternyata nilai sig. 0,001 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau dengan kata lain nilai 0,05 > 0,001. Maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya koefisien analisis data signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar IPAS kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kec. Pallangga Kab. Gowa. Hasil analisis data uji manova menunjukan nilai signifikan dan hasil uji N-Gain ratarata kelas eksperimen diperoleh nilai dalam tafsiran cukup efektif. Sedangkan rata-rata N-Gain kelas kontrol diperoleh nilai dalam tafsiran efektivitas tidak efektif. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapatpengaruh pembelajaran berdiferensiasi melalui model inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar IPAS siswa kelas V SD Negeri Borongkaramasa di Kab. Gowa. DAFTAR PUSTAKA