JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Pendidikan dan Kebudayaan Sebagai Pilar Penguatan Identitas Lokal di Lingkungan SMA Fahra Putri Ardhita1*. Mulyasaroh1. Lukman Nulhakim1 Teknologi Pendidikan. Pascasarjana Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Serang. Indonesia *Corresponding author email: mulyasaroh3@gmail. Article Info Article history: Received August 05, 2025 Approved August 20, 2025 Keywords: Education. Culture. Local Identity. Globalization. Local Wisdom ABSTRACT Education and culture play a central role in shaping the local identity of the younger generation, particularly at the secondary education level. In the context of globalization, which brings shifts in cultural values, schools must serve as strategic spaces to reintroduce local wisdom as part of strengthening studentsAo self-identity. According to research by Sari . , 75% of students involved in local culture-based learning programs reported an increased understanding of their regionAos traditions and In addition, extracurricular activities that incorporate local arts and culture also contribute to identity reinforcement. This study aims to critically analyze the role of education and culture in strengthening local identity within the environment of upper secondary education. The method used is a literature review by examining various academic sources such as journals, books, policy documents, and previous relevant The analysis shows that integrating local cultural values into the curriculum and learning process can enhance cultural awareness, strengthen studentsAo connection to their social environment, and promote context-based character development. Culturally based education has been shown to contribute to the sustainability of local culture amid the pressures of global homogenization. Therefore, synergy among educational institutions, local communities, and policymakers is essential in mainstreaming local culture as the foundation of learning. The implications of this study provide a conceptual basis for developing educational strategies that are responsive to the social and cultural contexts of each region. ABSTRAK Pendidikan dan kebudayaan memiliki peran sentral dalam membentuk identitas lokal generasi muda, terutama pada jenjang pendidikan menengah. Dalam konteks globalisasi yang menimbulkan pergeseran nilai-nilai budaya, sekolah perlu menjadi ruang strategis untuk menanamkan kembali nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari penguatan jati diri peserta didik. Menurut penelitian oleh Sari . , 75% siswa yang terlibat dalam program pembelajaran berbasis budaya lokal melaporkan peningkatan pengetahuan tentang tradisi dan sejarah daerah mereka. Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler yang mengangkat seni dan budaya lokal juga berkontribusi pada penguatan identitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis peran pendidikan dan kebudayaan dalam memperkuat identitas lokal di lingkungan sekolah menengah atas. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah, seperti jurnal, buku, dokumen kebijakan, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengintegrasian nilai-nilai budaya lokal dalam kurikulum dan pembelajaran mampu meningkatkan kesadaran budaya, memperkuat keterikatan siswa dengan lingkungan sosialnya, serta mendorong pembentukan karakter yang kontekstual. Pendidikan berbasis kebudayaan terbukti Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pilar Penguatan Identitas Lokal di Lingkungan SMA A - 2035 Ardhita, et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal di tengah tekanan homogenisasi global. Oleh karena itu, sinergi antara institusi pendidikan, komunitas lokal, dan pemangku kebijakan sangat diperlukan dalam mengarusutamakan budaya lokal sebagai fondasi pembelajaran. Implikasi kajian ini memberikan dasar konseptual bagi pengembangan strategi pendidikan yang responsif terhadap konteks sosial dan budaya daerah Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Ardhita. Mulyasaroh. , & Nulhakim. Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pilar Penguatan Identitas Lokal Lingkungan SMA. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2035Ae2041. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Pendidikan dan kebudayaan merupakan dua aspek yang saling terkait dan berperan penting dalam pembentukan identitas lokal di lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA). Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keragaman budaya dan tradisi, penguatan identitas lokal melalui pendidikan menjadi semakin relevan. Identitas lokal tidak hanya mencakup bahasa, adat istiadat, dan seni, tetapi juga nilai-nilai yang membentuk karakter dan perilaku individu dalam masyarakat. Menurut Purwanto . , pendidikan yang berbasis pada kebudayaan lokal dapat menjadi alat untuk mempertahankan keberagaman budaya Indonesia di tengah arus globalisasi yang semakin kuat. Salah satu tantangan utama dalam pendidikan di Indonesia adalah bagaimana mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam kurikulum yang seringkali terfokus pada standar Data dari Badan Pusat Statistik . menunjukkan bahwa hanya sekitar 30% sekolah di Indonesia yang mengimplementasikan pembelajaran berbasis budaya lokal dalam Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam penerapan pendidikan yang mencerminkan identitas lokal. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi bagaimana pendidikan dan kebudayaan dapat saling mendukung dalam memperkuat identitas lokal siswa di SMA. Di tingkat SMA, siswa berada pada fase perkembangan yang krusial, di mana mereka mulai membentuk pandangan dan identitas diri. Penelitian oleh Sari . menyoroti bahwa siswa yang terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler yang berbasis budaya lokal menunjukkan rasa bangga dan keterikatan yang lebih besar terhadap komunitas mereka. Kegiatan seperti seni tradisional, tari daerah, dan festival budaya tidak hanya memperkenalkan siswa pada warisan budaya mereka, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kerjasama, toleransi, dan rasa hormat terhadap perbedaan. Dengan demikian, pendidikan yang mengintegrasikan kebudayaan lokal dapat berkontribusi pada pembentukan identitas yang kuat di kalangan siswa. Lebih jauh lagi, penguatan identitas lokal melalui pendidikan juga berpotensi meningkatkan rasa percaya diri siswa. Menurut penelitian oleh Rahmawati . , siswa yang belajar tentang sejarah dan budaya daerah mereka cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka merasa memiliki akar dan identitas yang jelas, yang merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang sehat. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan yang berfokus pada kebudayaan lokal bukan hanya bermanfaat bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks ini, kolaborasi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penguatan identitas lokal. Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pilar Penguatan Identitas Lokal di Lingkungan SMA A - 2036 Ardhita, et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Program-program pendidikan yang melibatkan masyarakat lokal, seperti pelatihan seni dan budaya, dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan nilai-nilai lokal kepada siswa. Dengan demikian, pendidikan dan kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai alat transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai pilar penguatan identitas lokal yang berkelanjutan di lingkungan SMA. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur . ibrary Pendekatan ini dipilih untuk mengeksplorasi secara mendalam peran pendidikan dan kebudayaan dalam penguatan identitas lokal di lingkungan pendidikan menengah atas tanpa melakukan pengumpulan data lapangan secara langsung. Studi literatur dianggap relevan untuk memperoleh pemahaman teoritis dan konseptual melalui penelusuran sumber-sumber pustaka yang valid dan kredibel. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari literatur yang bersifat primer dan sekunder, seperti artikel jurnal ilmiah nasional dan internasional, buku akademik, laporan penelitian terdahulu, serta dokumen kebijakan pendidikan yang diterbitkan dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun terakhir. Pemilihan literatur dilakukan secara purposive, yaitu berdasarkan kesesuaian dan relevansi terhadap topik kajian, terutama yang membahas tentang pendidikan berbasis budaya lokal, identitas budaya, serta integrasi nilai budaya dalam kurikulum sekolah Prosedur analisis data dilakukan melalui tahapan identifikasi, kategorisasi, dan sintesis Pertama, peneliti mengidentifikasi literatur yang relevan dengan topik kajian. Kedua, dilakukan kategorisasi terhadap temuan-temuan utama dari masing-masing literatur berdasarkan fokus seperti peran pendidikan, peran kebudayaan, serta strategi integrasi budaya lokal dalam Ketiga, dilakukan sintesis tematik untuk menghubungkan antar temuan secara konseptual sehingga diperoleh pemahaman komprehensif mengenai kontribusi pendidikan dan kebudayaan terhadap penguatan identitas lokal peserta didik. Keabsahan data dijaga melalui strategi triangulasi sumber dan penelaahan kritis terhadap kualitas serta kredibilitas referensi yang digunakan. Dengan demikian, hasil kajian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi teoritis yang bermakna bagi pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan berbasis kearifan lokal, khususnya di tingkat pendidikan menengah. HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan dan Kebudayaan: Konsep dan Relevansi Sejalan dengan pandangan Banks . tentang pentingnya pendidikan multikultural. Selain itu. Gay . menekankan bahwa pendekatan pengajaran yang responsif budaya dapat memperkuat identitas siswa. Pendidikan dan kebudayaan merupakan dua elemen yang saling berkaitan dan memiliki peranan penting dalam penguatan identitas lokal, khususnya di lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA). Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai alat untuk menanamkan nilai-nilai budaya dan identitas lokal kepada generasi muda. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan harus mencakup pengembangan karakter dan budaya bangsa, yang pada gilirannya berkontribusi pada pembentukan identitas lokal (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pilar Penguatan Identitas Lokal di Lingkungan SMA A - 2037 Ardhita, et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Dalam konteks pendidikan di SMA, pentingnya integrasi pendidikan kebudayaan lokal dalam kurikulum menjadi semakin relevan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021, sekitar 70% siswa SMA di Indonesia menganggap bahwa pengetahuan tentang budaya lokal sangat penting untuk membentuk identitas mereka. Hal ini menunjukkan bahwa ada kesadaran di kalangan siswa akan pentingnya memahami dan melestarikan budaya lokal sebagai bagian dari identitas mereka. Lebih lanjut, penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Rahman . menunjukkan bahwa integrasi pendidikan kebudayaan lokal dalam kurikulum dapat meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran sejarah dan budaya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan lokal cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang tidak terlibat. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan dan kebudayaan dapat saling mendukung dalam memperkuat identitas lokal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan dan kebudayaan memiliki relevansi yang sangat besar dalam penguatan identitas lokal di kalangan siswa SMA. Melalui integrasi nilai-nilai budaya dalam pendidikan, siswa dapat lebih memahami dan menghargai warisan budaya mereka, yang pada akhirnya akan membentuk identitas lokal yang kuat dan positif. Peran Sekolah dalam Memfasilitasi Pendidikan Kebudayaan Lokal Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam memfasilitasi pendidikan kebudayaan lokal. Dalam konteks ini, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai pusat pengembangan kebudayaan yang dapat memperkuat identitas lokal siswa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Muslim dan Sari . , sekolah yang aktif mengintegrasikan kebudayaan lokal dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran berbasis budaya. Salah satu contoh konkret adalah program "Mengenal Budaya Lokal" yang diterapkan di SMA Negeri 2 Bandung. Program ini melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan, seperti kunjungan ke situs budaya, workshop seni tradisional, dan pertunjukan budaya. Hasil dari program ini menunjukkan bahwa siswa menjadi lebih sadar akan pentingnya melestarikan budaya lokal dan merasa bangga dengan identitas mereka. Data dari survei internal sekolah menunjukkan bahwa 85% siswa merasa lebih terhubung dengan budaya lokal setelah mengikuti program ini. Di samping itu, peran guru juga sangat penting dalam memfasilitasi pendidikan kebudayaan Guru yang memahami dan mengapresiasi kebudayaan lokal dapat menyampaikan materi dengan cara yang menarik dan relevan bagi siswa. Penelitian oleh Widiastuti . menunjukkan bahwa guru yang aktif melibatkan siswa dalam diskusi tentang kebudayaan lokal dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan partisipasi siswa dalam kelas dan minat mereka untuk belajar lebih lanjut tentang budaya mereka. Selain itu, kolaborasi antara sekolah dan masyarakat juga dapat memperkuat pendidikan kebudayaan lokal. Sekolah dapat menjalin kerja sama dengan komunitas lokal, seniman, dan budayawan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kaya. Misalnya, di SMA Negeri 3 Surakarta, sekolah bekerja sama dengan komunitas seni lokal untuk mengadakan festival budaya tahunan yang melibatkan siswa dan masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan siswa pada kebudayaan lokal, tetapi juga memperkuat hubungan antara sekolah dan Masyarakat. Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pilar Penguatan Identitas Lokal di Lingkungan SMA A - 2038 Ardhita, et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Dengan demikian, peran sekolah dalam memfasilitasi pendidikan kebudayaan lokal sangatlah penting. Melalui program-program yang terstruktur dan kolaboratif, sekolah dapat membantu siswa untuk memahami dan menghargai kebudayaan lokal mereka, yang pada gilirannya akan memperkuat identitas lokal di kalangan generasi muda. Tantangan dalam Implementasi Pendidikan Kebudayaan Lokal Dalam konteks globalisasi pendidikan. Marginson . menjelaskan bahwa homogenisasi budaya merupakan tantangan besar bagi pelestarian identitas lokal. Menurut Smith . , dekolonisasi metode pendidikan penting untuk memastikan bahwa pengetahuan lokal tetap Meskipun pendidikan kebudayaan lokal memiliki banyak manfaat, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam implementasinya di lingkungan SMA. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya pemahaman dan dukungan dari pihak sekolah dan Menurut penelitian oleh Santoso . , banyak sekolah yang masih menganggap pendidikan kebudayaan sebagai hal yang kurang penting dibandingkan dengan mata pelajaran akademik lainnya. Hal ini menyebabkan minimnya alokasi waktu dan sumber daya untuk pengajaran kebudayaan lokal. Selain itu, kurikulum yang kaku dan tidak fleksibel juga menjadi hambatan dalam mengintegrasikan pendidikan kebudayaan lokal. Banyak sekolah terikat pada kurikulum nasional yang tidak memberikan ruang cukup untuk memasukkan materi tentang kebudayaan lokal. Hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Pendidikan . menunjukkan bahwa 60% guru merasa terhambat dalam mengajarkan kebudayaan lokal karena adanya keterbatasan dalam kurikulum yang ada. Tantangan lainnya adalah kurangnya pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru dalam bidang kebudayaan lokal. Banyak guru yang tidak memiliki latar belakang atau pengetahuan yang cukup tentang kebudayaan lokal, sehingga mereka kesulitan dalam mengajarkan materi tersebut. Penelitian oleh Utami dan Hidayah . menunjukkan bahwa guru yang mendapatkan pelatihan khusus tentang kebudayaan lokal lebih mampu mengajar dengan baik dan menarik minat siswa. Selain itu, adanya persepsi negatif di kalangan siswa tentang kebudayaan lokal juga menjadi Banyak siswa yang lebih tertarik pada budaya pop global dan menganggap budaya lokal sebagai sesuatu yang kuno atau tidak relevan. Sebuah studi oleh Rahman . menunjukkan bahwa sekitar 50% siswa SMA lebih menyukai konten budaya asing dibandingkan dengan budaya lokal mereka sendiri. Hal ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih kreatif dan inovatif dalam mengajarkan kebudayaan lokal agar lebih menarik bagi siswa. Dengan demikian, tantangan dalam implementasi pendidikan kebudayaan lokal di SMA sangatlah kompleks. Dibutuhkan upaya kolaboratif antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk mengatasi hambatan-hambatan ini dan menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung penguatan identitas lokal. Strategi Penguatan Identitas Lokal Melalui Pendidikan Kebudayaan UNESCO . menegaskan perlunya kebijakan pendidikan yang berorientasi pada keragaman budaya untuk menjaga identitas lokal. Banks dan Banks . juga menambahkan bahwa pendidikan multikultural memberikan kerangka untuk membangun harmoni sosial. Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pilar Penguatan Identitas Lokal di Lingkungan SMA A - 2039 Ardhita, et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Laporan UNESCO . menyoroti bahwa pembangunan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari pelestarian budaya lokal. Untuk mengatasi tantangan dalam pendidikan kebudayaan lokal, diperlukan strategi yang efektif untuk memperkuat identitas lokal di kalangan siswa SMA. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah pengembangan kurikulum yang lebih fleksibel dan berbasis pada konteks lokal. Kurikulum yang mengakomodasi kebudayaan lokal dapat memberikan ruang bagi siswa untuk belajar tentang warisan budaya mereka dengan cara yang lebih relevan dan menarik. Menurut penelitian oleh Sari dan Rahman . , kurikulum berbasis konteks lokal dapat meningkatkan minat siswa terhadap pelajaran dan memperkuat rasa identitas mereka. Selain itu, penggunaan teknologi dalam pendidikan kebudayaan lokal juga dapat menjadi strategi yang efektif. Dengan memanfaatkan media sosial dan platform digital, sekolah dapat memperkenalkan kebudayaan lokal kepada siswa dengan cara yang lebih interaktif dan menarik. Pentingnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pendidikan kebudayaan lokal juga tidak bisa diabaikan. Sekolah dapat mengadakan program yang melibatkan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan kebudayaan, seperti festival budaya atau pameran seni. Penelitian oleh Widiastuti . menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan kebudayaan dapat meningkatkan dukungan dan motivasi siswa untuk belajar tentang budaya lokal mereka. Selain itu, pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru dalam bidang kebudayaan lokal harus menjadi prioritas. Sekolah dan pemerintah perlu menyediakan pelatihan yang memadai bagi guru agar mereka dapat mengajarkan kebudayaan lokal dengan baik. Penelitian oleh Utami dan Hidayah . menunjukkan bahwa guru yang terlatih dapat memberikan pengajaran yang lebih menarik dan efektif dalam bidang kebudayaan lokal. Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, diharapkan pendidikan kebudayaan lokal dapat lebih efektif dalam memperkuat identitas lokal di kalangan siswa SMA. Melalui pendekatan yang inovatif dan kolaboratif, siswa dapat lebih memahami dan menghargai kebudayaan lokal mereka, yang pada akhirnya akan membentuk identitas lokal yang kuat dan KESIMPULAN Pendidikan dan kebudayaan memiliki peranan yang sangat penting dalam penguatan identitas lokal di kalangan siswa SMA. Melalui integrasi pendidikan kebudayaan lokal dalam kurikulum dan kegiatan sekolah, siswa dapat lebih memahami dan menghargai warisan budaya Meskipun terdapat berbagai tantangan dalam implementasinya, strategi yang tepat dapat membantu mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Rekomendasi untuk penguatan identitas lokal melalui pendidikan kebudayaan antara lain adalah pengembangan kurikulum yang lebih fleksibel, penggunaan teknologi dalam pengajaran, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam kegiatan kebudayaan. Selain itu, pelatihan bagi guru juga menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pengajaran kebudayaan lokal. Dengan upaya kolaboratif dari semua pihak, diharapkan pendidikan kebudayaan lokal dapat menjadi pilar yang kuat dalam memperkuat identitas lokal di kalangan generasi muda, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu yang bangga akan budaya dan identitas mereka. Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pilar Penguatan Identitas Lokal di Lingkungan SMA A - 2040 Ardhita, et al / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . DAFTAR PUSTAKA