Aspiration of Health Journal e-ISSN 2985-8267 Vol. 01 No. Juni 2023: 212-220 DOI : https://doi. org/10. 55681/aohj. Website : https://ejournal. id/index. php/aohj PENGARUH TEKNIK CLAPPING DAN RELAKSASI NAPAS DALAM TERHADAP SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN PPOK DI IGD RSUD dr. SOEMARNO SOSROATMODJO TANJUNG SELOR Ramli1*. Ismansyah2. Frana Andrianur3 1,2,3 Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur *Corresponding Author: ramliamdkep05@gmail. Article Info Abstract Article History: Received: 20 March 2023 Accepted: 22 April 2023 Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) (WHO, 2. , merupakan penyakit paru yang ditandai dengan obstruksi kronis aliran udara di paru yang mengganggu pernapasan normal dan menjadi salah satu penyebab Merokok dikatakan sebagai faktor risiko utama terjadinya PPOK. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki jumlah perokok aktif yang tinggi. Keluhan yang sering muncul pada pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) adalah sesak napas, produksi sputum meningkat dan keterbatasan aktivitas. Tindakan yang bisa dilakukan untuk penderita PPOK adalah dengan cara farmakologi dan non farmakologi. Penerapan pada pasien PPOK secara non farmakologi antara lain adalah terapi oksigen, latihan napas dalam, latihan batuk efektif, serta fisioterapi dada (Clappin. Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah pre experiment dengan one group pretest and posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita PPOK yang berkunjung ke IGD RSUD Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor metode sampling non probability dengan teknik accidental sampling sebanyak 50 orang. Distribusi frekuensi saturasi oksigen pada responden sebelum teknik clapping dari 50 responden diperoleh hasil nilai tendensi sentral sebelum . yaitu mean sebesar 91,34%. median 92%. minimum 86%. maksimum 96% dan standar deviasi 2,752%. dan saturasi oksigen sesudah . yaitu mean sebesar 95,52%. median 96%. minimum 91%. maksimum 99% dan standar deviasi 1,982%. Diperoleh hasil uji normalitas saturasi oksigen sebelum dengan nilaip sebesar 0,098. sesudah nilai-p sebesar 0,064. Faktor risiko PPOK meliputi merokok, jenis pekerjaan, polusi udara, infeksi, usia, dan jenis kelamin. Pemeriksaan fisik melalui inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi penting dalam fisioterapi dada. Auskultasi penting untuk mengevaluasi suara pernafasan dan menentukan posisi yang tepat pada pasien dengan PPOK. Ada pengaruh teknik clapping terhadap saturasi oksigen pada pasien PPOK di IGD RSUD dr. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor. Keywords: teknik clapping, saturasi oksigen, pasien PPOK This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Aspiration of Health Journal. Vol. 01 No. Juni 2023: 212-220 e-ISSN 2985-8267 PENDAHULUAN Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) atau yang juga disebut dengan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) (WHO, 2. , merupakan penyakit paru yang ditandai dengan obstruksi kronis aliran udara di paru yang mengganggu pernapasan normal dan menjadi salah satu penyebab kematian. Menurut Global Chronic Obsturctive Lung Disease (GOLD). PPOK adalah penyakit paru yang ditandai dengan gejala pernapasan persisten dan keterbatasan aliran udara akibat saluran napas tersumbat dan atau kelainan alveolar yang disebabkan partikel atau gas berbahaya (GOLD, 2. PPOK menyerang 65 juta orang di dunia dalam tingkat keparahan sedang sampai Lebih dari 3 juta orang meninggal dan menjadi penyebab kematian kelima di dunia (WHO, 2. Angka tersebut diproyeksikan meningkat lebih dari 30% dalam 10 tahun kedepan kecuali, jika ada tindakan segera untuk mengurangi faktor risiko yang mempengaruhi penyakit tersebut. PPOK juga merupakan kematian utama di Amerika, namun banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa PPOK adalah masalah kesehatan nasional utama (NIH, 2. Trend ini juga terjadi di Indonesia. PPOK merupakan satu dari empat penyakit tidak menular utama yang 60% menyebabkan kematian (Kementerian Kesehatan RI, 2. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 didapatkan prevalensi penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) di Indonesia sebanyak 3,7%, tertinggi di Propinsi Lampung . ,4%) dan lebih sering terjadi pada jenis kelamin laki-laki (Kementerian Kesehatan RI, 2. Pada tahun 2013, prevalensi PPOK di Kalimantan Timur mencapai 2,8% dari angka nasional (Kementerian Kesehatan RI, 2. Hasil studi pendahuluan di IGD RSUD. Soemarno Sosroatmodjo didapatkan jumlah pasien PPOK di bulan Juni tahun 2022 sebanyak 35. Merokok dikatakan sebagai faktor risiko utama terjadinya PPOK. Terkait dengan hal itu. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki jumlah perokok aktif yang tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Indonesia sebagai negara terbesar ketiga di dunia sebagai pengguna rokok (WHO, 2. Presentase merokok pada penduduk umur Ou 15 tahun pada tahun 2021 di Kalimantan Timur sebesar 23,37% (Badan Pusat Statistik, 2. Keluhan yang sering muncul pada pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) adalah sesak napas, produksi sputum meningkat dan keterbatasan aktivitas (Khotimah. Akibat dari sputum yang berlebih tersebut dapat menyebabkan sputum tertimbun dan akibatnya bersihan jalan napas tidak efektif dan akhirnya respon utama adalah sesak Sesak napas yang berlangsung lama dan tidak segera ditangani akan mengakibatkan munculnya sianosis . , kelelahan dan merasa lemas. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, hal selanjutnya yang akan terjadi perlekatan jalan napas dan menyebabkan obstruksi . jalan napas (Nugroho, 2. Akibat lain dari sputum yang tertimbun berlebih adalah meningkatkan resiko infeksi, dikarenakan sputum berlebih tersebut dapat menjadi tempat hidupnya pathogen yang dapat berbahaya. Selain itu komplikasi yang seing timbul seiring dengan produksi mukus yang berlebih akan menyebabkan hipoksemia hingga kolaps paru yang akan berujung dengan pneumothorak, komplikasi lain akibat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah kor pulmonal yang bisa menyebabkan kematian (Black & Hawks, 2. Aspiration of Health Journal. Vol. 01 No. Juni 2023: 212-220 e-ISSN 2985-8267 Tindakan yang bisa dilakukan untuk penderita PPOK adalah dengan cara farmakologi dan non farmakologi. Penerapan secara farmakologi adalah pemberian antibiotik, bronkodilator dan ekspektoran, sedangkan untuk penerapan pada pasien PPOK secara non farmakologi antara lain adalah terapi oksigen, latihan napas dalam, latihan batuk efektif, serta fisioterapi dada. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Selma Ark dan Kvan yNevik . , menujukkan bahwa postural draniase dan latihan napas dalam yang dilakukan selama dua kali sehari, pagi dan sore selama 7 hari terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik . <0,. pada pemeriksaan saturasi oksigen pasien dengan PPOK (Ark & yNevik, 2. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Ni Made Dwi Yunica Aditha Angga Pratama dan Putu Wahyu Sri Juniantari Sandy . , menujukkan bahwa teknik relaksasi napas dalam berpengaruh dalam peningkatan saturasi oksigen pada pasien PPOK (Yunica Astriani et al. , 2. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian. AuPengaruh Teknik Clapping terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien PPOK di IGD RSD. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung SelorAy, karena penerapan teknik clapping merupakan salah satu tindakan intervensi keperawatan yang efektif dibandingkan dengan terapi farmakologis yang memiliki efek samping lebih besar terhadap respon. METODE PENELITIAN Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah pre experiment dengan one group pretest and posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita PPOK yang berkunjung ke IGD RSUD dr. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor metode sampling non probability dengan teknik accidental sampling sebanyak 50 orang. HASIL Tabel 1 Karateristik Responden Berdasarkan Umur. Jenis Kelamin. Pendidikan. Pekerjaan, dan Agama Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa dari 50 responden, pasien paling banyak berumur 61-70 tahun sebanyak 19 orang . %), pasien memiliki jenis kelamin paling banyak Aspiration of Health Journal. Vol. 01 No. Juni 2023: 212-220 e-ISSN 2985-8267 perempuan sebanyak 30 orang . %), pasien memiliki pendidikan SMA sebanyak 17 orang . %), pasien bekerja paling banyak sebagai IRT sebanyak 23 orang . %), pasien paling banyak memeluk agama islam sebanyak 39 orang . %). Tabel 2 Karateristik Responden Berdasarkan Status Pekerjaan. Suku, dan Riwayat Merokok Pasien paling banyak berstatus kawin sebanyak 35 orang . %), pasien bersuku jawa sebanyak 27 orang . %) dan pasien paling banyak tidak memiliki riwayat merokok sebanyak 35 orang . %). Tabel 3 Skor Saturasi Oksigen Sebelum dan Sesudah Diberikan Teknik Clapping Pasien Penderita PPOK di IGD RSUD dr. Soemarno Sosroatmodjo Tahun 2022 Berdasarkan tabel di atas skor saturasi oksigen pada responden sebelum teknik clapping dari 50 responden diperoleh hasil nilai tendensi sentral sebelum . yaitu mean sebesar 91,34%. median 92%. modus 90 & 92%. standar deviasi 2,752%. 86% dan maksimum 96% serta saturasi oksigen sesudah . yaitu mean sebesar 95,52%. median 96%. modus 90 & 92%. standar deviasi 1,982%. minimum 91% dan maksimum 99%. Analisa Bivariat Tabel 4 Uji Normalitas Data Berdasarkan tabel di atas hasil uji normalitas saturasi oksigen sebelum dengan nilai-p sebesar 0,098. sesudah nilai-p sebesar 0,064, dimana nilai-p> . yang berarti bahwa Aspiration of Health Journal. Vol. 01 No. Juni 2023: 212-220 e-ISSN 2985-8267 data berdistribusi normal. Dari hasil tersebut, maka peneliti menetapkan analisa bivariat menggunakan uji yaitu uji Paired T-Test. Tabel 5 Perbedaan Saturasi Oksigen Sebelum dan Sesudah Diberikan Teknik Clapping Berdasarkan hasil analisis pada tabel di atas terdapat perbedaan rata-rata saturasi oksigen sebelum dan sesudah pemberian intervensi sebesar -4,180 yang berarti bahwa ada peningkatan saturasi oksigen sesudah diberikan intervensi. Hasil uji statistik didapatkan nilai-p=0,000 . <0,. yang berarti ada pengaruh teknik clapping terhadap saturasi oksigen pada pasien PPOK di IGD RSUD dr. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor. PEMBAHASAN Saturasi Oksigen Sebelum Dan Sesudah Diberikan Teknik Clapping Diperoleh skor saturasi oksigen pada responden sebelum teknik clapping dari 50 responden diperoleh hasil nilai tendensi sentral sebelum . yaitu mean sebesar 91,34%. median 92%. modus 90% & 92%. standar deviasi 2,752%. minimum 86% dan maksimum 96%. Diperoleh skor saturasi oksigen sesudah . yaitu mean sebesar 95,52%. median 96%. modus 90% & 92%. standar deviasi 1,982%. minimum 91% dan maksimum Hasil ini sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa saturasi oksigen adalah persentasi oksigen yang yang mampu diikat oleh hemoglobin menggunakan simbol SpO2. Saturasi oksigen dalam tubuh dapat diukur melalui pembuluh darah perifer (SpO. dan saturasi oksigen yang terdapat dalam pembuluh darah arteri (SaO. yang diukur menggunakan tekhnik analisa gas darah. Saturasi oksigen dapat diperiksa melalui dua metode yaitu invasif dan non invafsif. Untuk metode invasif menggunakan pemeriksaan analisa gas darah sedangkan non invasif menggunakan alat yang biasanya di tempelkan pada ujung jari yang disebut oksimetri nad (Suritno, 2. Keluhan yang sering muncul pada pasien penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) adalah sesak napas, produksi sputum meningkat dan keterbatasan aktivitas (Khotimah. Akibat dari sputum yang berlebih tersebut dapat menyebabkan sputum tertimbun dan akibatnya bersihan jalan napas tidak efektif dan akhirnya respon utama adalah sesak Sesak napas yang berlangsung lama dan tidak segera ditangani akan mengakibatkan munculnya sianosis . , kelelahan dan merasa lemas. Jika hal tersebut tidak segera diatasi, hal selanjutnya yang akan terjadi perlekatan jalan napas dan menyebabkan obstruksi . jalan napas (Nugroho, 2. Akibat lain dari sputum yang tertimbun berlebih adalah meningkatkan resiko infeksi, dikarenakan sputum berlebih tersebut dapat menjadi tempat hidupnya pathogen yang dapat berbahaya. Selain itu komplikasi yang seing timbul seiring dengan produksi mukus yang berlebih akan menyebabkan hipoksemia hingga kolaps paru yang akan berujung dengan pneumothorak. Aspiration of Health Journal. Vol. 01 No. Juni 2023: 212-220 e-ISSN 2985-8267 komplikasi lain akibat penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) adalah kor pulmonal yang bisa menyebabkan kematian (Black & Hawks, 2. Peneliti berasumsi bahwa faktor risiko pada pasien PPOK diantaranya adalah merokok, jenis pekerjaan, polusi udara, infeksi, usia, dan jenis kelamin. Kemudian, perlu juga melakukan pemeriksaan fisik yang terdiri dari inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Dalam hal ini, auskultasi memegang peranan penting dalam pelaksanaan fisioterapi dada karena auskultasi dilakukan untuk mengkaji dan mengevaluasi suara pernafasan pada bagian dada anterior dan paru bagian segmen lobus paru kanan dan kiri apakah terdapat suara tambahan atau tidak, juga mengindikasikan lokasi adanya sekret dalam paru-paru untuk menentukan pengaturan posisi yang tepat pada pasien yang akan diberikan tindakan. Perbedaan Saturasi Oksigen Sebelum Dan Sesudah Diberikan Teknik Clapping Diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden menyatakan kepatuhan minum obat tinggi sebanyak 15 orang . ,5%) dan kepatuhan minum obat sedang sebanyak 9 orang . ,5%). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Nuratiqa . yang menunjukkan kepatuhan minum obat reponden yang rendah adalah sebanyak 30 . ,7%) responden, sedangkan kepatuhan minum obat tinggi adalah sebanyak 42 . ,3%) Hasil penelitian ini sejalan Diperoleh perbedaan rata-rata saturasi oksigen sebelum dan sesudah pemberian intervensi sebesar -4,180 yang berarti bahwa ada peningkatan saturasi oksigen sesudah diberikan intervensi. Hasil uji statistik didapatkan nilai-p=0,000 . <0,. yang berarti ada pengaruh teknik clapping terhadap saturasi oksigen pada pasien PPOK di IGD RSUD dr. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor. Hasil ini sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa tindakan yang bisa dilakukan untuk penderita PPOK adalah dengan cara farmakologi dan non farmakologi. Penerapan secara farmakologi adalah pemberian antibiotik, bronkodilator dan ekspektoran, sedangkan untuk penerapan pada pasien PPOK secara non farmakologi antara lain adalah terapi oksigen, latihan napas dalam, latihan batuk efektif, serta fisioterapi dada. Ada tiga rangkaian tindakan dalam pelaksanaan fisioterapi dada yaitu postural drainage, perkusi dada, dan vibrasi. Saat melakukan postural drainage pasien diposisikan berbagai posisi berdasarkan anatomi trakeobronkus. Hal ini dilakukan selama waktu tertentu sehingga pengaruh gaya gravitasi akan membantu aliran sekret. Pada teknik ini, lobus atau segmen yang akan disalir diposisikan sedemikian rupa sehingga terletak pada bronkus utama, kemudian sekret akan mengalir ke bronkus dan trakea untuk kemudian dibatukkan keluar (Afiyah, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Selma Ark dan Kvan yNevik . , menujukkan bahwa postural draniase dan latihan napas dalam yang dilakukan selama dua kali sehari, pagi dan sore selama 7 hari terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik . <0,. pada pemeriksaan saturasi oksigen pasien dengan PPOK (Ark & yNevik, 2. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh (Pratama dan Sandy, 2. menujukkan bahwa teknik relaksasi napas dalam berpengaruh dalam peningkatan saturasi oksigen pada pasien PPOK (Yunica Astriani et al. , 2. Aspiration of Health Journal. Vol. 01 No. Juni 2023: 212-220 e-ISSN 2985-8267 Faktor-faktor yang dapat memengaruhi bacaan saturasi oksigen menurut (Efendy, et 2. adalah kadar hemoglobin yang berfungsi untuk mengangkut oksigen dari paruparu ke seluruh tubuh. Jika kadar Hb rendah maka oksigen yang terikat juga akan rendah sehingga dapat menurunkan nilai saturasi oksigen. Faktor sirkulasi perifer berupa bacaan saturasi oksigen pada oksimetri tidak akurat jika bagian yang dikenai sensor terdapat gangguan sirkulasi. Aktifitas pasien dimana jika pasien menggigil atau terdapat gerakan yang berlebih pada area sensor dapat menyebkan bacaan hasil yang tidak akurat. Kemungkinan adanya gangguan perfusi yang disebabkan hipotensi, hipovelemia, dan Pasien dengan hipotermi mungkin mengalami vasokontriksi dan hal ini akan mengkompromi aliran darah pada jari-jari pasien. Kondisi arteoskelrosis pada pembuluh darah dapat disebabkan oleh kolesterol dan lemak yang berlebih sehingga transfer oksigen dari jantung ke jaringan dapat terganggu. Selain itu komponen yang dapat mempengaruhi bacaan saturasi oksigen adalah plasma darah. Plasma darah adalah komponen darah yag berbentuk cairan yang salah satu fungsinya adalah mengangkut oksigen. Kemapuan oksigen untuk larut dalam plasma darah adalah 0,003 per 1 ml plasma. Semakin banyak volume plasma akan semakin banyak oksigen yang terlarut di dalammya. KESIMPULAN Distribusi frekuensi saturasi oksigen pada responden sebelum teknik clapping dari 50 responden diperoleh hasil nilai tendensi sentral sebelum . yaitu mean sebesar 91,34%. median 92%. minimum 86%. maksimum 96% dan standar deviasi 2,752%. saturasi oksigen sesudah . yaitu mean sebesar 95,52%. median 96%. maksimum 99% dan standar deviasi 1,982%. Diperoleh hasil uji normalitas saturasi oksigen sebelum dengan nilai-p sebesar 0,098. sesudah nilai-p sebesar 0,064. DAFTAR PUSTAKA