Evi Royani, dkk PENGARUH BALANCE EXERCISE TERHADAP TINGKAT KESEIMBANGAN LANSIA DENGAN RESIKO JATUH TAHUN 2024 Evi Royani1. Fera SiskaA. Zakinah Arlina3 Program Studi Di Keperawatan STIKES Mitra Adiguna Palembang. Komplek Kenten Permai Blok J No 9-12 Bukit Sangkal Palembang 30114 Email : eviroyani73@gmail. Abstrak Lansia memiliki risiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan postural akibat penurunan fungsi otot yang meningkatkan risiko jatuh. Salah satu metode efektif untuk meningkatkan keseimbangan tubuh adalah balance exercise. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh balance exercise terhadap tingkat keseimbangan lansia dengan risiko jatuh di Panti Sosial Lanjut Usia (PSLU) Harapan Kita Palembang tahun 2024. Penelitian ini dilakukan di Panti Sosial Harapan Kita Palembang, menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi-experimental pendekatan one-group pre test-post test. Sampel terdiri dari 20 lansia yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling yaitu lansia yang mengalami gangguan keseimbangan. Pengukuran keseimbangan dilakukan menggunakan Berg Balance Scale sebelum dan setelah intervensi balance exercise. Analisis data menggunakan uji statistik parametrik paired t-test. Rata-rata tingkat keseimbangan sebelum intervensi adalah 40,30 . isiko jatuh sedan. dan setelah intervensi meningkat menjadi 46,55 . isiko jatuh renda. Hasil uji statistik menunjukkan p = 0,000 . < 0,. , yang berarti terdapat pengaruh signifikan balance exercise terhadap peningkatan keseimbangan pada lansia. Hasil penelitian menunjukan Balance exercise efektif meningkatkan keseimbangan tubuh dan menurunkan risiko jatuh pada lansia. Saran untuk petugas Kesehatan untuk mengajarkan Balance Exercise secara continue pada lansia yg mengalami gangguan keseimbangan. Kata Kunci : Lansia. Risiko Jatuh. Balance Exercise. Keseimbangan Abstract Elderly individuals are at high risk of postural balance disturbances due to decreased muscle function, which increases the risk of falls. One effective method to improve body balance is balance exercise. Objective: To determine the effect of balance exercise on the balance levels of elderly individuals with fall risk at the Harapan Kita Social Welfare Elderly Home in Palembang in 2024. This study used a quantitative approach with a quasi-experimental design and a one- group pretest-posttest approach. sample of 20 elderly participants was selected using purposive sampling. Balance was measured using the Berg Balance Scale before and after the balance exercise intervention. Data analysis was performed using parametric statistical analysis with paired t-test. The average balance level before the intervention 30 . oderate fall ris. , and after the intervention, it increased to 46. ow fall ris. The statistical test results showed a p-value of 0. < 0. , indicating a significant effect of balance exercise on improving balance in the elderly. Balance exercise is effective in improving body balance and reducing fall risk in elderly individuals. Future research should extend the duration of the intervention and explore other methods that can support balance improvement in the elderly. Keywords : Elderly. Fall Risk. Balance Exercise. Balance Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Evi Royani, dkk PENDAHULUAN Penuaan adalah proses di mana jaringan secara perlahan kehilangan kemampuannya untuk memperbaiki diri, mengganti sel, dan mempertahankan fungsi normal, sehingga menjadi lebih rentan terhadap infeksi dan kesulitan memperbaiki kerusakan. Proses penuaan ini berlangsung terus-menerus secara alami sejak lahir dan dialami oleh semua makhluk hidup (Royani, 2. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan pada tahun 2025 jumlah lansia di seluruh dunia akan mencapai 1,2 miliar orang dan akan meningkat menjadi 2 miliar orang pada WHO juga memprediksi bahwa 75% dari populasi lansia global pada tahun 2025 akan berada di negara- negara berkembang, dengan setengahnya tinggal di Asia (Friska. Usraeli, & Idayanti, 2. Di Indonesia, jumlah penduduk lansia terus mengalami peningkatan, dari 18 juta orang . ,56%) pada tahun 2010 menjadi 25,9 juta orang . ,7%) pada tahun 2019. Angka ini diproyeksikan akan terus naik hingga mencapai 48,2 juta orang . ,77%) pada tahun 2035 (Kemenkes, 2. ( Liyanti. H, et al,2. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik pada tahun 2020, persentase penduduk lansia di Indonesia meningkat menjadi 9,78%, naik dari 7,59% pada tahun Hal ini menunjukkan bahwa pada tahun 2020. Indonesia sedang berada dalam masa transisi menuju era ageing population, yaitu ketika persentase penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai lebih dari 10% (Badan Pusat Statistik, 2. (Fitri. N, et al, 2. Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, jumlah lansia berusia 60-64 tahun tercatat sebanyak 491 orang, sedangkan lansia berusia 65-69 tahun berjumlah 169. 798 orang. Lansia berusia 70-75 tahun mencapai 002 orang, dan mereka yang berusia di atas 75 tahun sebanyak 110. 533 orang. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Palembang tahun 2021, jumlah lansia berusia 60-64 tahun sebanyak 63. 460 orang, lansia berusia 70-74 tahun sebanyak 25. orang, dan mereka yang berusia di atas 75 tahun tercatat sebanyak 25. 272 orang (Siska, 2. ( Nurjannah, et al, 2. Dalam proses penuaan, sering muncul masalah berupa penurunan fungsi jaringan tubuh, yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari (Saraswati et al, 2. Risiko jatuh adalah kondisi di mana keseimbangan tubuhnya saat berdiri. Pada lansia, risiko ini menjadi salah satu sindrom geriatri yang paling sering dijumpai (Rudi & Setyanto, 2. Akibat dari jatuh dapat meliputi berbagai dampak fisik, seperti terbatasnya kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, gangguan pada sistem pernapasan dan muskuloseletal, cedera fisik, patah tulang panggul, lengan, kaki, serta leher, cedera seperti memar, lecet, terkilir, hingga hematoma subdural. Selain itu, risiko jatuh dapat menyebabkan rawat inap, peningkatan biaya pengobatan, (Azzahra (Apriyandira. M, 2. Penyebab risiko jatuh pada lansia terbagi menjadi dua faktor, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik mencakup gangguan pada sistem saraf pusat, demensia, gangguan sensorik, masalah muskuloskeletal, serta gangguan dalam pola berjalan. Sementara itu, faktor ekstrinsik meliputi lingkungan yang tidak aman, aktivitas fisik, dan penggunaan obatobatan. Sebanyak 20-30% lansia yang Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Evi Royani, dkk mengalami jatuh dengan derajat kecacatan tinggi berisiko kehilangan kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari (ADL), penurunan kualitas hidup, dan bahkan menghadapi risiko kematian (Purnamasari Murti, (Nurjannah, et al, 2. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2020, sekitar 28-35% insiden jatuh terjadi pada pasien berusia 65 tahun, dan risikonya meningkat menjadi 32-42% seiring bertambahnya usia di atas 70 tahun. Sekitar 30-50% orang yang tinggal di lembaga perawatan jangka panjang mengalami jatuh setiap tahun, dengan 40% di antaranya sering jatuh (Efroliza & Nengrum, 2. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, jumlah penduduk Indonesia mencapai 273,88 juta jiwa pada tahun 2022, dengan 10,48% di antaranya adalah lansia. Indonesia, prevalensi cedera akibat jatuh pada penduduk berusia di atas 55 tahun mencapai 49,4%, sementara pada usia di atas 65 tahun mencapai 67,1%. Insiden jatuh tahunan di kalangan lansia yang tinggal di komunitas meningkat dari 25% pada usia 70 tahun menjadi 35% setelah usia 75 tahun (Malahati, 2. (Nurjannah, et al, 2. Salah satu upaya pencegahan risiko jatuh pada lansia adalah melalui latihan fisik memulihkan fungsi otot. Berbagai jenis latihan fisik dapat dilakukan, seperti ankle strategy exercise, balance exercise, core stability, dan berjalan tandem. Untuk melatih keseimbangan statis maupun dinamis pada lansia, latihan stretching dan strengthening sangat dianjurkan. Oleh karena itu, balance exercise menjadi pilihan yang efektif untuk meningkatkan keseimbangan pada lansia (Saraswati. R et al, 2. Balance exercise adalah salah satu jenis latihan fisik yang berfokus pada Latihan ini bertujuan meningkatkan kekuatan otot ekstremitas bawah dan menjaga keseimbangan tubuh atau sistem vestibular. Manfaatnya meliputi menjaga kesehatan sendi, memperkuat otot, memperbaiki postur tubuh, serta membantu mempertahankan pusat gravitasi pada bidang tumpuan, terutama saat berdiri tegak (Saraswati. R et al, 2. Berdasarkan latar belakang di atas, terlihat bahwa lansia memiliki resiko tinggi untuk mengalami jatuh. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh keseimbangan pada lansia yang berisiko jatuh di panti sosial lanjut usia (PSLU) harapan kita palembang. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian pra eksperimen (Pre Exsperimental design. dengan pendekatan One Group Pretest Postest. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan dari tanggal 01 sampai dengan 21 November 2024 di Panti Sosial Lanjut Usia Harapan Kita Palembang. Target/Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah lansia yang menderita penyakit asam urat, berjumlah 20 Prosedur Pada tahapan awal menentukan sampel dengan cara melakukan pengukuran tingkat keseimbangan dan resiko jatuh melalui tahap observasi dan selanjutnya para lansia Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 diberikan latihan terapi Balance Exercise sebanyak 3 kali dalam seminggu. Pada tahap akhir dilakukan pengukuran kembali tingkat keseimbanagan dan resiko jatuh pada sampel penelitian. Evi Royani, dkk HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Analisis Univariat Tabel 4. Data. Instrumen. Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dilakukan secara manual, menggunakan lembar check list melalui metode wawancara dan Teknik Analisis Data Analisis Univariat Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka didapatkan banyak lansia yang ada di Panti Sosial Harapan Kita mengalami gangguan keseimbangan. Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian yaitu tingkat keseimbangan pada lansia sebelum intervensi dan tingkat keseimbangan pada lansia setelah intervensi yang dianalisis dengan menggunakan tabel distribusi Analisis Bivariat Pada penelitian ini, analisis bivariat melakukan uji normalitas data primier menggunakan uji shapiro wilk dengan ketentuan jika p value Ou 0,05 berarti data terdistribusi normal dan jika jika p value < 0,05 berarti data tidak terdistribusi normal. Selanjutnya untuk uji pengaruh menggunakan uji statistik berpasangan (Paired Samples t-tes. dengan tingkat kemaknaan alpha 0,05 bila data terdistribusi normal dan uji wilcoxon bila data tidak terdistribusi normal dengan ketentuan jika p value < 0,05 berarti ada perbedaan dan jika jika p value Ou 0,05 berarti tidak ada perbedaan (Dahlan, 2. Distribusi Frekuensi Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin di Panti Sosial Lanjut Usia (PLSU) Harapan Kita Palembang Tahun 2024 NO Jenis Kelamin Jumlah Persentase Laki-laki Perempuan Total Sumber: Hasil Penelitian tahun 2024 Bersumber pada data tabel di atas dapat dilihat frekuensi responden memiliki jumlah 20 responden dari jenis kelamin laki-laki memiliki jumlah 10 dan kenis kelamin perempuan memiliki jumlah 10 yang dimana keduanya memiliki persetase Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur di Panti Sosial Harapan Kita Palembang Tahun 2024 Usia Jumlah Persentase Jumlah Sumber: Hasil Penelitian tahun 2024 Bersumber pada data tabel di atas dapat dilihat frekuensi responden memiliki jumlah 20 responden dari usia 50-60 tahun memiliki jumlah 4 orang dengan persentase 20%, usia 61-70 memiliki jumlah 9 orang dengan persentase 45%, usia 71-80 memiliki jumlah 6 orang dengan persentase Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Evi Royani, dkk 30%, dan usia 90 memiliki jumlah 1 orang dengan persentase 5%. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Data Responden Tingkat Keseimbangan Lansia dengan Risiko Jatuh Sebelum Dilakukan Latihan Balance Exercise Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Rata-Rata Frekuensi Tingkat Keseimbangan Lansia dengan resiko jatuh Sebelum dan Setelah Dilakukan Latihan Balance Exercise di Panti Sosial Lanjut Usia Harapan Kita Palembang Tahun 2024 Variabel Resiko Jatuh Persentase Resiko Jatuh Tinggi Balance Exersice Resiko Jatuh Sedang Resiko Jatuh Rendah Jumlah Dari 20 responden yang belum melakukan latihan keseimbangan, 60% . termasuk dalam kategori risiko jatuh sedang, 40% . termasuk dalam kategori risiko jatuh rendah, dan tidak ada satu pun dari responden yang termasuk dalam kategori risiko jatuh tinggi. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Data Responden Tingkat Keseimbangan Lansia dengan Risiko Jatuh Sesudah Dilakukan Latihan Balance Exercise Resiko Jatuh Persentase Resiko Jatuh Tinggi Balance Exersice Resiko Jatuh Sedang Resiko Jatuh Rendah Jumlah Dari 20 responden yang mengikuti program latihan keseimbangan, 95% . tergolong dalam kategori risiko jatuh rendah, 5% . tergolong dalam kategori risiko jatuh sedang, dan tidak ada yang tergolong dalam kategori risiko jatuh Resiko Jatuh Pada Lansia Sebelum Dilakukan Latihan Resiko Jatuh Pada Lansia Sesudah Dilakukan Latihan Balance Exersice Mean Max Valu Berdasarkan tabel 4. 6 dapat rata-rata Tingkat Keseimbangan Lansia dengan Resiko Jatuh sebelum dilakukan Latihan Balance Exercise Adalah 40. 30 dan rata-rata Tingkat Keseimbangan Lansia dengan Resiko Jatuh setelah dilakukan Latihan Balance Exercise Adalah Berdasarkan hasil analisis uji t berpasangan (Paired T- Tes. , ditemukan bahwa latihan keseimbangan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat keseimbangan pada lansia. Hasil uji menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara skor tingkat keseimbangan sebelum dan setelah latihan, dengan nilai p-value yang lebih kecil dari 0,05 . = 0,. Oleh karena itu, keseimbangan efektif dalam meningkatkan tingkat keseimbangan pada lansia, yang dapat membantu mengurangi risiko jatuh dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Evi Royani, dkk Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian dan didapatkan distribusi frekuensi Tingkat Keseimbangan Lansia dengan Resiko Jatuh sebelum dilakukan Balance Exercise, 60% . termasuk dalam kategori risiko jatuh sedang, 40% . termasuk dalam kategori risiko jatuh rendah, dan tidak ada satu pun dari responden yang termasuk dalam kategori risiko jatuh tinggi. Sedangkan Tingkat Keseimbangan dengan Resiko Jatuh Setelah dilakukan Balance Exercise, sebagian besar responden Terkategori Resiko Jatuh Rendah yaitu sebanyak 95% . , 5% . tergolong dalam kategori risiko jatuh sedang, dan tidak ada yang tergolong dalam kategori risiko jatuh Berdasarkan hasil uji t berpasangan (Paired T-Tes. , ditemukan bahwa latihan keseimbangan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat keseimbangan pada lansia. Hasil uji menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara skor tingkat keseimbangan sebelum dan setelah latihan, dengan nilai p-value yang lebih kecil dari 0,05 . = 0,. Maka dapat dinyatakan ada pengaruh yang signifikan terhadap pemberian Latihan Balance Exercise terhadap Tingkat Keseimbangan Lansia dengan Resiko Jatuh di Panti Sosial Lanjut Usia Harapan Kita Palembang tahun Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nindawi et al . yang berjudul Pengaruh Balance Exercise Terhadap Keseimbangan Postural Lansia Di Desa Lamper Pamekasan. Hasil penelitian menunjukkan Didapatkan hasil Pre-Post Balance Exercise a=0. 001 <0. artinya ada pengaruh Balance Exercise terhadap tingkat keseimbangan postural lansia Di Desa Lamper Pamekasan. Menurut berbagai penelitian, latihan keseimbangan terbukti efektif dalam mengurangi risiko jatuh pada lansia. Berdasarkan analisis dari 23 literatur yang ditinjau oleh Angelina dan Sherly . , latihan keseimbangan yang dilakukan secara rutin 2Ae3 kali per minggu dengan durasi 15Ae45 menit mampu meningkatkan keseimbangan tubuh dan menurunkan risiko jatuh. Latihan ini juga membantu memperbaiki kontrol postural, yang berperan penting dalam mencegah jatuh. Mujiadi et al. menyatakan bahwa latihan keseimbangan yang dilakukan secara berkala pada lansia dapat khususnya dalam mengoptimalkan fungsi tubuh yang mengalami penurunan. Latihan ini dirancang untuk meningkatkan kekuatan otot pada ekstremitas bawah serta memperbaiki fungsi sistem vestibular yang bertanggung jawab atas keseimbangan Penelitian serupa oleh Nindawi et al. juga menunjukkan bahwa latihan memberikan manfaat serupa dalam meningkatkan kekuatan otot dan menjaga keseimbangan tubuh lansia. Penelitian oleh Ayatullah et al. menunjukkan bahwa latihan keseimbangan tidak hanya mengurangi risiko jatuh tetapi juga berkontribusi pada peningkatan keseimbangan postural lansia. Balance exercise membantu memperkuat otot ekstremitas bawah (Glenn, 2. dan menurunkan kemungkinan jatuh melalui pengembangan respons otomatis tubuh terhadap perubahan posisi (Nyman, 2. Selain itu. Nugraha et al. menjelaskan bahwa balance exercise membantu tubuh merespons perubahan posisi dengan cepat, melalui mekanisme pengolahan informasi sensorik yang melibatkan sistem saraf dan otot. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Evi Royani, dkk Menurut Avelar et al. , latihan kontraksi otot dan memperbaiki serat otot lansia yang berujung pada keseimbangan postural. Pendapat ini didukung oleh Zuliawati et al. yang menambahkan bahwa latihan yang konsisten dapat memberikan dampak signifikan pada stabilitas tubuh dan massa otot lansia. Selain itu. Astuti et al. menekankan pentingnya program rutin di tingkat komunitas, seperti posbindu, untuk Latihan Latihan ini tidak hanya bermanfaat dalam meningkatkan stabilitas tubuh dan kekuatan otot hingga hipertrofi tetapi juga membantu meminimalkan risiko KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil penelitian ini maka didapatkan sebagian besar responden mengalami Resiko jatuh sedang dan kategori risiko jatuh rendah. Setelah dilakukan Latihan Balance Exercise, sebagian besar responden mengalami perubahan dari resiko jatuh. Maka dapat disimpulkan bahwa latihan keseimbangan efektif dalam meningkatkan tingkat keseimbangan pada lansia, yang dapat membantu mengurangi risiko jatuh dan meningkatkan kualitas hidup mereka. DAFTAR PUSTAKA