Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2895-2901 Pengambilan Keputusan Petani dalam Program Peremajaan (Replantin. Kelapa Sawit di Kabupaten Sanggau Smallholder Decision-Making in the Oil Palm Replanting Program in Sanggau District Nanda Altina*. Novira Kusrini. Anita Suharyani Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Tanjungpura Jl. Prof. Hadari Nawawi. Pontianak 78124 *Email: c1021201029@student. (Diterima 21-04-2025. Disetujui 04-07-2. ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan kelapa sawit. Metode penelitian adalah metode campuran sekuensial/bertahap . equential mixedmethod. terutama strategi eksplanatori sekuensial karena berfokus kepada data kuantitatif dan data kualitatif menjadi data pendukung. Penentuan tempat penelitian dilakukan secara sengaja . urposive Daerah yang dipilih adalah Kecamatan Parindu dengan pertimbangan lokasi penelitian Kecamatan Parindu sebagai sentra terbesar kelapa sawit di Kabupaten Sanggau. Berdasarkan hasil penelitian bahwa faktor-faktor pengambilan keputusan petani dalam melakukan peremajaan mencakup pengalaman (X. , luas lahan (X. , modal (X. , berpengaruh sebesar terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . Faktor-faktor tersebut memiliki dampak signifikan terhadap pengambilan keputusan petani. Kata kunci: Pengambilan keputusan, peremajaan . ABSTRACT The purpose of this study is to determine the factors that influence farmers' decision making in the oil palm replanting program. The research method is sequential mixed methods, especially the sequential explanatory strategy because it focuses on quantitative data and qualitative data as supporting data. The determination of the research site was done purposively . urposive method. The selected area is Parindu Sub-district with consideration of the research location of Parindu Sub-district as the largest center of oil palm in Sanggau District. Based on the results of the study, the decision-making factors of farmers in replanting include experience (X. , land size (X. , capital (X. , which have a significant effect on farmers' decision-making in the replanting program. These factors have a significant impact on farmers' decision making. Keywords: Decision making, rejuvenation PENDAHULUAN Komoditas kelapa sawit mempunyai peran yang sangat penting dalam penyerapan4tenaga kerja, arus masuk investasi, peningkatan kesejahteraan masyarakat,pembangunan daerah, serta menjadi sumber pendapatan andalan pemerintah daerah maupun pusat (Rahayu et al. , 2. Walaupun kelapa sawit bukan berasal dari Indonesia, tetapi perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah memiliki luas816,830juta hektar (BPS, 2. Sawit merupakan salah-satu jenis tanaman perkebunan yang menghasilkan minyak makanan, minyak industri dan bahan bakar nabati . sehingga dengan0bergulirnya waktu di beberapa daerah kelapa sawit ternyataAysudah memasukiAyambang ekonomis dan harus melakukan peremajaan kelapa sawit atau replanting. (Kurniasih et al. , 2. Dalam upaya untuk menjaga peran kelapa sawit secara berkesinambungan,=pemerintah telah menetapkan kebijakan tentang penghimpunan dana perkebunan kelapa sawit sebagaimana diamanatkan pada pasal 93 Undang-Undang No. 39 Tahun020149 tentang Perkebunan. Sebagai langkah implementasi telah ditetapkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 24 Tahun 2015 tentang Penghimpunan Dana Perkebunan dan Peraturan Presiden3(Perpre. No. 61 Tahun 2015 jo Perpres No. 24>Tahun 2016Aotentang 9PenghimpunanAodanAoPenggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Peraturan perundangan1tersebut menjadi landasan penetapan dan teknis pengembangan perkebunan kelapa sawit0secara terencana dan tepat sasaran. Kebijakan ini menyediakan landasan pengaturan skala prioritas0pembangunan perkebunanAokelapa sawit milikAopekebun sesuai dengan kebutuhan. Pengambilan Keputusan Petani dalam Program Peremajaan (Replantin. Kelapa Sawit di Kabupaten Sanggau Nanda Altina. Novira Kusrini. Anita Suharyani Dana perkebunan kelapa sawit yang selanjutnya disebut dana adalah sejumlah uang yang dihimpun oleh badan pengelola danaAoperkebunan kelapa sawit. 0Badan pengelola dana perkebunan kelapa sawit yang1selanjutnya disebut BPDPKS adalah5badan yang dibentuk oleh Pemerintah untukmenghimpun, mengelola, menyimpan dan menyalurkan dana . perkebunan kelapa sawit (Ditjenbun, 2. Kabupaten Sanggau telah melakukan program peremajaan atau replanting. Kecamatan Parindu merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sanggau yang telah menjalankan program peremajaan kelapa sawit oleh BPDPKS Kabupaten Sanggau (BPDPKS 2. Kecamatan Parindu merupakan sentra terbesar kelapa sawit di Kabupaten Sanggau yang telah melakukan peremajaan dengan luas 7161 ha. Aojkstwgl,628wysmhskahauxn xgataks Berdasarkan uraian diatas penelitian ini diharapkan dapat memberikan2informasi bagi petani dalam program peremajaan . demi meningkatkan produksi tanaman kelapa sawit dan menyadarkan petani akan pentingnya melakukan peremajaan. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah metode campuran sekuensial/bertahap . equential mixedmethod. terutama strategi eksplanatori sekuensial karena berfokus kepada data kuantitatif dan data kualitatif menjadi data pendukung. Penentuan tempat penelitian dilakukan secara sengaja . urposive method. Daerah yang dipilih adalah Kecamatan Parindu dengan pertimbangan lokasi penelitian Kecamatan Parindu sebagai sentra terbesar kelapa sawit di Kabupaten Sanggau. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang akan diuji untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang memengaruhi pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . di kabupaten sanggau. Data yang diambil sebanyak 100 responden. Jenis data dalam penlotian ini adalah data primer. Data primer diperoleh melalui wawancara dan kuisioner langsung ke responden. Data sekumder diproleh melalui BPS, penelitian terdahulu, buku . aktu 10 tahun terkait pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . di kabupaten sanggau. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor-faktor yang Memengaruhi Pengambilan Keputusan Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap pengambilan keputusan adalah umur, pendidikan, pelatihan, pengalaman usahatani, jumlah anggota keluarga, luas lahan, umur tanaman, jumlah tanaman, modal, jumlah tenaga kerja, produksi kelapa sawit, dan pendapatan. Uji Kecocokan Model Hosmer and Lemeshow Test untuk melihat kecocokan atau FIT nya model. Hipotesis: H0 : Model FIT . value > 0,. H1 : Model tidak FIT Step Tabel 1. Uji Kecocokan Model Hosmer and Lemeshow Test Chi-square Sig. Berdasarkan tabel tersebut uji kesesuaian model menggunakan uji Hosmer dan Lemeshow untuk menentukan apakah model yang digunakan telah sesuai atau tidak. Hasil uji Hosmer dan Lemeshow menunjukkan nilai sig. = 0,092 > = 0,05 maka H0 diterima (Model FIT), artinya model regresi binary logistik layak dipakai untuk analisis selanjutnya karena tidak ada perbedaan yang nyata antara klasifikasi yang diprediksi . redicted probabilitie. dengan klasifikasi yang diamati . bserved probabilitie. Sehingga variabel umur, pendidikan, pengalaman usahatani, jumlah anggota keluarga, luas lahan, umur tanaman, jumlah tanaman, modal, jumlah tenaga kerja, produksi, dan pendapatan berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan petani dalam melakukan peremajaan (Wulandari et al. , 2. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2895-2901 Ketepatan KlasifikasiAoAoAoAoAoAoAopijgp7 Berikut adalah hasil ketepatan klasifikasi dari hasil observasi dan prediksi dari pengambilan keputusan petani dalam melakukan peremajan . Diamati Status Pengambilan Keputusan Presentase Total Tabel 2. Ketepatan Klasifikasi Prediksi Pengambilan Keputusan Iya Tidak Iya Tidak Persentase Benar Berdasarkan Classification table, diketahui jumlah responden yang mengambilan keputusan dalam melakukan peremajaan . sebanyak 41 responden 11 diantaranya tidak mengambil keputusan dalam melakukan peremajaan . kelapa sawit dengan tingkat kebenaran prediksi sebesar 78,8. Diketahui jumlah responden yang tidak mengambil keputusan dalam melakukan peremajaan . kelapa sawit sebanyak 41 responden, 7 diantaranya akan mengambil keputusan dalam melakukan peremajaan . kelapa sawit dengan tingkat kebenaran diprediksi sebesar 85,4, sehingga presentase ketepatan dapat diprediksi dengan benar sebesar 82,0%. Uji Determinasi udsosuskiflz. Step Tabel 3. Uji Determinasi Model Summary -2 log kemungkinan Cox & Snell R Persegi Nagelkerke R Square Dari hasil pengujian diperoleh nilai koefisien determinasi (R. 443 atau 44,3%, artinya sebesar 44,3 variabel bebas memengaruhi pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit sebagai faktor penentu yakni, pengalaman (X. , luas lahan (X. , modal (X. berpengaruh sebesar 44,3% sedangkan sisanya sebesar 55,7 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini (Dwi Hastuti, 2. Jsra. Uji wald Umur Pendidikan Pengalaman Tanggungan Keluarga Luas Lahan Umur Tanaman Jumlah Tanaman Modal Tenaga Kerja Produksi Pendapatan Constant Tabel 4. Uji Wald Variables in the Equation Wald df Sig. Exp(B) Pengaruh umur terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawitAo9 jsudko896372 Berdasarkan tabel di atas, variabel umur menunjukkan tingkat signifikan 0,299 > 0,050, yang berarti bahwa umur tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit. Umur bukanlah faktor utama dalam pengambilan keputusan terkait peremajaan kelapa sawit karena semua petani baik tua maupun muda memiliki Pengambilan Keputusan Petani dalam Program Peremajaan (Replantin. Kelapa Sawit di Kabupaten Sanggau Nanda Altina. Novira Kusrini. Anita Suharyani kedudukan yang sama dalam program ini. Petani muda dengan pendidikan modern sering kali memiliki wawasan setara atau lebih baik dibandingkan petani yang lebih tua. Selain itu, kemajuan teknologi dan akses informasi yang luas memungkinkan petani dari berbagai usia memperoleh pengetahuan yang sesuai sehingga umur tidak lagi menjadi faktor signifikan dalam keputusan peremajaan kelapa sawit. Hal ini sejalan dengan penelitian (Arman & Achmad, 2. bahwa umur petani tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani. Pengaruh pendidikan terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel diatas, variabel pendidikan menunjukkan tingkat signifikan 0,087 > 0,05 yang artinya variabel pendidikan petani tidak berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit. Petani mengandalkan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional dalam pengambilan keputusan termasuk dalam program peremajaan kelapa Keputusan mereka lebih dipengaruhi oleh musyawarah dalam kelompok tani dari pada tingkat pendidikan formal individu. Selain itu, informasi tentang program peremajaan disampaikan secara sederhana dan mudah dipahami sehingga tingkat pendidikan tidak menjadi faktor pembatas dalam memahami dan mengikuti program tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian (Ambarwati1 et al, 2. bahwa pendidikan petani tidak berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani dalam tumbang serempak dibandingkan dengan tidak melakukan Pengaruh pengalaman terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawitAo5 Berdasarkan tabel diatas, variabel pengalaman usahatani kelapa sawit (X. menunjukkan tingkat signifikan 0,040 < 0,050 berarti bahwa pengalaman berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam progam peremajaan . kelapa sawit. Nilai Exp (B) pada variabel pengalaman usahatani kelapa sawit (X. 223 menunjukkan bahwa semakin lama pengalaman usahatani kelapa sawit maka peluang petani yang akan melakukan peremajaan . Pengalaman bertani membantu petani dalam membandingkan teknologi baru dengan praktik yang sudah mereka jalankan. Petani berpengalaman cenderung kritis terhadap inovasi yang tidak sesuai dengan pengetahuan mereka dan lebih mampu menilai kebutuhan peremajaan berdasarkan pemahaman mendalam tentang tanaman, tanah, dan tantangan seperti hama serta penyakit. Selain itu, pengalaman memungkinkan mereka mengelola fluktuasi harga, biaya operasional, dan risiko peremajaan dengan lebih baik sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang lebih matang dan sesuai dengan kondisi lapangan. Hal ini sejalan dengan penelitian (Iman & Achmad, 2. bahwa pengalaman petani berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani. Pengaruh jumlah tanggungan keluarga terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel diatas, variabel jumlah tanggungan keluarga menunjukkan tingkat signifikan 0,599 > 0,05 yang artinya variabel jumlah tanggungan keluarga petani tidak berpengaruh signifikan terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit. Petani lebih fokus pada manfaat ekonomi seperti peningkatan produktivitas dan dukungan finansial dari pada jumlah tanggungan keluarga dalam mengambil keputusan peremajaan. Keputusan mereka lebih dipengaruhi oleh ketersediaan dukungan serta dorongan dari kelompok tani atau komunitas sehingga faktor individu seperti jumlah tanggungan keluarga menjadi tidak sesuai. Hal ini sejalan dengan penelitian (Harahap et al. , 2. jumlah tanggungan keluarga tidak memengaruhi terhadap pengambilan keputusan petani salak dalam memilih saluran pemasaran dan juga penelitian dari (Novianti et al. , 2. bahwa jumlah tanggungan keluarga tidak memiliki pengaruh yang signifikan dengan pengambilan keputusan petani untuk memilih menggunakan benih padi bersertifikat. Pengaruh luas lahan kelapa sawit terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel diatas, variabel luas lahan menunjukkan tingkat signifikan 0,000 < 0,050 berarti bahwa luas lahan kelapa sawit berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam progam peremajaan . kelapa sawit. Nilai Exp (B) pada variabel luas lahan kelapa sawit (X. sebesar 5,045 menunjukkan bahwa semakin luas lahan kelapa sawit maka peluang petani yang akan melakukan peremajaan . meningkat 5,045 kali. Luas lahan memengaruhi keputusan peremajaan karena semakin luas lahan, semakin besar biaya dan tenaga kerja yang dibutuhkan. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2895-2901 Banyak petani kesulitan mencari pendanaan karena tidak menyiapkan dana khusus untuk Sementara itu, petani dengan lahan kecil sering ragu melakukan peremajaan karena khawatir kehilangan sumber pendapatan utama selama proses peremajaan . Hal ini sejalan dengan penelitian (Iman & Achmad, 2. bahwa luas lahan petani berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dan juga penelitian dari (Nadia Yuli Ambarwati, 2. variabel luas lahan kelapa sawit petani berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani dalam melakukan peremajaan tumbang serempak dibandingkan dengan tidak melakukan peremajaan. Pengaruh umur tanaman terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel di atas, variabel umur tanaman dengan tingkat signifikansi 0,209 > 0,050, menunjukkan bahwa umur tanaman tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit. Umur tanaman kelapa sawit tidak berpengaruh terhadap keputusan peremajaan karena petani lebih mempertimbangkan produktivitas, ketersediaan dana, serta akses subsidi. Keterbatasan finansial, kurangnya pengetahuan teknis, dan fokus pada pendapatan jangka pendek membuat petani menunda peremajaan selama tanaman masih produktif. Selain itu, investasi besar dan perubahan pola kerja yang diperlukan dalam peremajaan membuat petani lebih mengutamakan stabilitas ekonomi dan sosial saat ini. Pengaruh jumlah tanaman terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel di atas, variabel umur tanaman dengan tingkat signifikansi 0,378 > 0,050, menunjukkan bahwa jumlah tanaman tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit. Jumlah tanaman kelapa sawit tidak memengaruhi keputusan peremajaan karena petani lebih mempertimbangkan produktivitas per pohon, kualitas lahan, dan efisiensi peremajaan. Program peremajaan juga didasarkan pada luas lahan atau tingkat produktivitas bukan jumlah tanaman sehingga faktor ini bukan pertimbangan utama bagi Pengaruh modal terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel diatas, variabel modal peremajaan . menunjukkan tingkat signifikan 0,021 < 0,050 berarti bahwa modal berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam progam peremajaan . kelapa sawit. Nilai Exp (B) pada variabel modal peremajaan . (X. 138 menunjukkan bahwa semakin banyak modal peremajaan . (X. maka peluang petani yang akan melakukan peremajaan . 138 kali. Modal menjadi kendala utama bagi petani dalam peremajaan kelapa sawit karena mayoritas petani tidak mampu melakukannya dengan dana sendiri. Bantuan pemerintah diperlukan untuk mencukupi kekurangan modal dan mencegah petani bergantung sepenuhnya pada tabungan yang terbatas. Diperlukan program peremajaan di setiap desa/kelurahan yang sesuai dengan pertimbangan agronomis serta sosialisasi dari pemerintah untuk meningkatkan partisipasi petani dan mencegah pembukaan lahan baru. Peran KUD sangat penting sebagai jembatan dalam program peremajaan, termasuk dalam pemberdayaan petani, penyediaan sarana prasarana, serta akses transportasi dan Oleh karena itu, diperlukan kebijakan dan dukungan dari pemerintah untuk mendukung Hal ini sejalan dengan penelitian (Lesmana et al. , 2. bahwa modal berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani. Pengaruh tenaga kerja terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel diatas, variabel tenaga kerja menunjukkan tingkat signifikan 0,622 < 0,050 berarti bahwa tenaga kerja tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam progam peremajaan . kelapa sawit. Petani lebih mengandalkan tenaga kerja sendiri dalam peremajaan kelapa sawit untuk menghemat biaya dan mengurangi ketergantungan pada pekerja Keuntungan utama dari pendekatan ini adalah penghematan pengeluaran, kendali penuh terhadap proses peremajaan, serta fleksibilitas waktu kerja yang memungkinkan penyesuaian dengan kondisi cuaca dan musim tanam. Dengan efisiensi ini, petani dapat memastikan peremajaan berjalan optimal yang pada akhirnya berdampak positif pada produktivitas dan hasil panen di masa depan. Ini berbeda halnya dengan hasil penelitian yang menyebutkan, (Ambarwati1 et al, 2. bahwa variabel Pengambilan Keputusan Petani dalam Program Peremajaan (Replantin. Kelapa Sawit di Kabupaten Sanggau Nanda Altina. Novira Kusrini. Anita Suharyani tenaga kerja dalam keluarga berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani dalam melakukan peremajaan underplanting dibandingkan dengan tidak melakukan peremajaan. Pengaruh produksi terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel di atas, variabel produksi dengan tingkat signifikansi 0,715 > 0,050, menunjukkan bahwa produksi tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit. Keputusan petani dalam usaha pertanian tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat produksi tetapi juga oleh risiko panen seperti cuaca, hama, dan kesulitan pemanenan akibat tinggi pohon. Jika risiko gagal panen terlalu tinggi petani cenderung mempertimbangkan peremajaan. Namun, selama hasil masih menguntungkan dan harga pasar tinggi mereka lebih memilih mempertahankan tanaman yang ada demi pendapatan jangka pendek dibandingkan peremajaan yang membutuhkan waktu lama untuk kembali produktif. Ini berbeda halnya dengan hasil penelitian yang menyebutkan, (Saleh & Sumiratin, 2. produksi berpengaruh secara signifikan terhadap faktor yang memengaruhi keputusan petani. Pengaruh pendapatan terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . kelapa sawit Berdasarkan tabel diatas, variabel pendapatan menunjukkan tingkat signifikan 0,977 < 0,050 berarti bahwa pengalaman petani berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani dalam progam peremajaan . kelapa sawit. Kelapa sawit bukan merupakan sumber pendapatan utama bagi banyak petani, karena sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan lain yang lebih menjadi prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan utama ini bisa berupa sektor pertanian lain seperti padi, hortikultura, atau peternakan, maupun pekerjaan di luar sektor pertanian, seperti buruh, pedagang, atau pegawai. Karena kelapa sawit hanya dianggap sebagai usaha sampingan atau investasi jangka panjang, banyak petani tidak merasa terburu-buru untuk melakukan peremajaan meskipun produktivitas tanaman mulai menurun. Mereka lebih mengutamakan kestabilan penghasilan dari pekerjaan utama mereka dibandingkan mengalokasikan dana dan tenaga untuk mengganti tanaman sawit yang sudah tua. Hal ini sejalan dengan penelitian, (Iman & Achmad, 2. bahwa variabel pendapatan tidak berpengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan petani bermitra dengan PG. KESIMPULAN Peremajaan kelapa sawit merupakan langkah penting dalam pengembangan perkebunan dengan mengganti tanaman yang sudah tua atau tidak produktif dengan tanaman baru yang lebih unggul. Peremajaan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi hasil pertanian khususnya pada kelapa sawit yang memiliki umur ekonomis sekitar 25 tahun. Pada usia tersebut, produksi kelapa sawit cenderung menurun secara signifikan sehingga perlu dilakukan peremajaan untuk memperbaiki produktivitas. Sebanyak 100 responden yang mewakili petani didaerah kabupaten Sanggau khususnya Kecamatan Parindu yang diamati pada analisis yang dilakukan menggunakan regresi logistik biner diketahui bahwa dari variabel prediktor yang dianalisis hanya variabel pengalaman (X. , luas lahan (X. , modal (X. , berpengaruh sebesar 44,3 % berpengaruh terhadap pengambilan keputusan petani dalam program peremajaan . di kabupaten Sanggau, sedangkan sisanya sebesar 55,7 persen dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian ini. Pemerintah dan lembaga keuangan perlu menyediakan skema pembiayaan yang lebih fleksibel bagi petani, seperti kredit dengan bunga rendah, dana hibah, atau subsidi peremajaan agar petani tidak terbebani secara finansial selama masa tunggu sebelum tanaman baru mulai berproduksi. DAFTAR PUSTAKA