Vol. No. Desember 2024, pp 453-460 https://doi. org/10. 36590/jagri. http://salnesia. id/index. php/jagri jagri@salnesia. id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia . ARTIKEL PENGABDIAN Edukasi dan Pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak dari Bahan Lokal bagi Ibu Balita dan Ibu Hamil Education and Training about about Infant and Child Feeding from Local Materials for Mothers Under Five and Pregnant Women 1,2,3 Novi Aryanti1*. Diesna Sari2. Ummu Kalsum3 Program Studi Gizi. Universitas Sulawesi Barat. Majene. Indonesia Abstract Stunting is one of the nutritional problems whose prevalence is quite high in West Sulawesi Province, where West Sulawesi is the second most stunted in Indonesia. Stunting is a growth and development disorder experienced by children due to chronic nutritional deficiencies. There are many factors that can cause stunting in children, one of which is improper feeding Good maternal knowledge and skills in feeding practices can support the growth and development and improvement of nutrition in children. This community service activity was carried out in Karama Village. Tinambung District. Polewali Mandar Regency. West Sulawesi Province. This Community Service aims to improve the knowledge and skills of pregnant women and mothers under five in child feeding practices. Increasing maternal knowledge is carried out through education about PMBA and improving maternal skills is carried out through training activities for making MPASI, mainly the introduction of the right food texture according to the age of the child. The method used consists of the preparation, implementation, and evaluation stages of the activity. The results obtained were an increase in maternal knowledge about feeding infants and children and an improvement in maternal skills on how to make MPASI using local ingredients. Keywords: education, training, pmba Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia . Address: Jl. Dr. Ratulangi No. Baju Bodoa. Maros Baru. Kab. Maros. Provinsi Sulawesi Selatan. Indonesia Submitted 30 Oktober 2024 Accepted 26 Desember 2024 Published 31 Desember 2024 Email: info@salnesia. id, jagri@salnesia. Phone: Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. No. Desember 2024 Abstrak Stunting merupakan salah satu masalah gizi yang prevalensinya cukup tinggi di Provinsi Sulawesi Barat, dimana Sulawesi Barat adalah peringkat kedua kejadian stunting di Indonesia. Stunting merupakan suatu gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat defisiensi nutrisi yang kronik. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stunting pada anak, salah satunya adalah praktik pemberian makan yang tidak tepat. Pengetahuan serta keterampilan ibu yang baik dalam praktik pemberian makan dapat mendukung tumbuh kembang serta perbaikan gizi pada anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Karama. Kecamatan Tinambung. Kabupaten Polewali Mandar. Provinsi Sulawesi Barat. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan ibu hamil dan ibu balita dalam praktik pemberian makan anak. Peningkatan pengetahuan ibu dilaksanakan melalui edukasi mengenai PMBA dan peningkatan keterampilan ibu dilakukan melalui kegiatan pelatihan pembuatan MPASI, utamanya adalah pengenalan tekstur makanan yang tepat sesuai usia anak. Metode yang digunakan terdiri dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Hasil yang didapat terjadi peningkatan pengetahuan ibu tentang pemberian makan pada bayi dan anak dan peningkatan keterampilan ibu bagaimana pembuatan MPASI menggunakan bahan lokal. Kata Kunci: edukasi, pelatihan, pmba *Penulis Korespondensi: Novi Aryanti, email: novi. aryanti@unsulbar. This is an open access article under the CCAeBY license PENDAHULUAN Masalah gizi pada balita masih menjadi masalah utama dalam tatanan Permasalahan gizi pada balita diantaranya stunting, wasting dan overweight (WHO, 2. Stunting masih menjadi masalah gizi utama di negara berkembang seperti Indonesia. Stunting atau kekurangan gizi kronis adalah masalah gizi akibat kekurangan asupan gizi dari makanan yang berlangsung cukup lama (Andriani et , 2. Balita pendek . dilihat dari panjang badan atau tinggi badan yang kurang dari -2 SD menurut referensi global WHO untuk anak-anak dibandingkan dengan anak lain seusianya (WHO, 2. Di Indonesia, stunting meningkat tajam mulai usia 6 bulan ketika ASI saja tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan energi, protein, vitamin dan mineral. Akibatnya 31% balita mengalami stunting dan 39% menderita anemia. Pemberian MPASI yang tepat, disertai dengan pengasuhan dan pencegahan penyakit yang memadai, dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mencapai potensi maksimalnya, dan mencegah stunting serta kekurangan vitamin dan mineral. Pengenalan MPASI juga merupakan kesempatan penting untuk membiasakan pola hidup makan sehat yang akan bertahan seumur hidup dan memastikan anak-anak tidak mengalami kegemukan dan terkena penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi di kemudian hari. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menghapus segala pemasalahan gizi di tahun 2030 (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan . dan telah memiliki Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG) tahun 2015-2019, gerakan pencegahan stunting nasional yang diluncurkan pada tahun 2017 dan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi tahun 2020-2024 yang saat ini sedang dikembangkan. Aryanti1 et al. Vol. No. Desember 2024 Mendukung pemberian MPASI yang tepat merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya-upaya tersebut (UNICEF, 2. Walaupun Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) merupakan komponen penting dari RAN-PG, upaya-upaya yang ada kebanyakan berfokus pada dukungan pemberian ASI sementara perhatian pada upaya peningkatan praktik pemberian MPASI masih kurang. Aksi-aksi untuk meningkatkan pemberian ASI dan MPASI sangat penting untuk mencegah stunting dan untuk memastikan semua anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (UNICEF, 2. Lebih dari 40% bayi di Indonesia terlalu dini diperkenalkan pada MPASI yaitu sebelum usia 6 bulan, sementara 40% anak usia 6 bulan hingga 2 tahun tidak diberi makanan yang beragam dan 28% tidak mendapat frekuensi makan yang cukup. Anakanak ini mendapatkan asupan makanan yang kurang berkualitas atau kurang bergizi. Sekitar 14% anak tidak mengkonsumsi vitamin A dan 29% tidak mengkonsumsi makanan kaya zat besi setiap harinya (Kemenkes, 2. Pemberian makanan secara responsif, yang berarti secara aktif mendorong anak untuk makan, juga tidak dipraktikkan secara konsisten di Indonesia. Anak-anak dari keluarga termiskin tidak mendapat MPASI yang paling tidak memadai (Blaney et al. , 2. Pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 prevalensi angka stunting balita sebanyak 24,4%. Meski angka stunting ini sudah turun ke 21,6% pada SSGI 2022 namun masih perlu kerja keras dari berbagai sektor untuk mencapai target penurunan angka stunting 14% Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2024. Provinsi Sulawesi Barat (Sulba. merupakan provinsi dengan angka stunting tertinggi kedua di Indonesia. Hasil Riskesdas dan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan prevalensi stunting di Sulbar tergolong cukup tinggi (>30 %) (SSGI, 2. Jumlah penduduk di Kecamatan Tinambung pada tahun 2021 tercatat sebanyak 034 (BPS Polman, 2. Sedangkan Desa Karama merupakan desa yang paling banyak penduduknya dibandingkan dengan 6 desa lainnya dan 1 kelurahan. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas gizi di Puskesmas Tinambung, didapatkan beberapa desa dengan kejadian kasus gizi yang cukup tinggi, salah satunya adalah Desa Karama. Data yang diperoleh dari pihak Tenaga Gizi Puskesmas Tinambung didapatkan informasi jumlah kejadian masalah gizi yang terdapat pada Desa Karama pada bulan Januari 2024 sebanyak 206 kasus gizi dari jumlah sasaran bayi dan balita di desa tersebut sebanyak 518 anak, yang terdiri dari 82 kasus stunting, 29 kasus wasting, dan 95 underweight. Data tersebut menunjukkan masih tingginya masalah gizi utamanya stunting yang terjadi di Desa Karama. Dalam rangka melakukan pencegahan terhadap kondisi stunting di Kecamatan Tinambung, khususnya di Desa Karama. Maka perlu peran semua pihak, termasuk melibatkan masyarakat dalam hal pengentasan kasus stunting. Berdasarkan hal tersebut dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat guna melakukan pencegahan terhadap kondisi stunting di Desa Karama dengan cara memberikan pelatihan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Harapannya melalui kegiatan pengabdian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu bayi dan balita dalam memberikan makanan yang tepat sebagai upaya mencegah terjadinya stunting. METODE Pada tahap persiapan, kegiatan pertama yang dilakukan adalah bertemu langsung dengan Kepala Desa Karama untuk mengurus perizinan pelaksanaan kegiatan pengabdian Masyarakat, serta memberikan penjelasan secara rinci mengenai teknis pelaksanaan kegiatan tersebut. Setelah perizinan telah diperoleh dari Kepala Desa, langkah selanjutnya adalah bertemu dengan konselor PMBA yang juga merupakan Tenaga Gizi di Puskesmas Tinambung, untuk menyampaikan teknis kegiatan serta memohon kesediaannya untuk menghubungi Kader Posyandu dimana Kader Posyandu mencari sasaran peserta yang terdiri dari 3 dusun yang ada di Desa Karama yaitu Dusun Lambe. Karama, dan Manjopai. Pada tahap ini pula segala bentuk persiapan untuk pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat mulai dilaksanakan, mulai dari pembuatan media edukasi berupa leaflet, persiapan alat dan bahan untuk demonstrasi pembuatan MPASI, serta penyediaan alat pendukung lain seperti kuesioner pengetahuan, spanduk, dan sound Tahapan persiapan ini sangat penting dan menjadi perhatian tim pengabdian sebab dapat mempengaruhi jalannya pelaksanaan kegiatan pengabdian Masyarakat. Kegiatan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 14 September 2024, dimulai pada 30 WITA dan berakhir pada pukul 13. 00 WITA, bertempat di Aula Desa Karama. Kecamatan Tinambung. Kabupaten Polewali Mandar. Kegiatan ini dihadiri oleh Bidan Desa dan Kader Posyandu. Sementara itu peserta kegiatan yang hadir adalah ibu-ibu balita dan ibu hamil yang berasal dari 3 dusun yang ada di Desa Karama dengan jumlah 30 peserta. Kegiatan ini dilaksanakan selama 1 hari karena ibu-ibu yang hadir telah diberikan edukasi seputar PMBA oleh Petugas Puskesmas setempat pada setiap kunjungan di Sehingga pada kegiatan ini diberikan penyuluhan tentang Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA) sebagai upaya pencegahan terjadinya stunting selama 60 menit dan diskusi selama 60 menit. Sebelum edukasi diberikan pre-test untuk menilai pengetahuan ibu tentang PMBA dan setelah edukasi diberikan lagi post-test untuk menilai keberhasilan edukasi. Selanjutnya dilakukan pelatihan pembuatan MPASI dengan tujuan agar ibu-ibu lebih terampil dalam pembuatan MPASI. Disamping itu, ibu-ibu dibekali dengan berbagai resep MPASI agar dapat dipraktikkan di rumah secara mandiri. Kegiatan pelatihan pembuatan MPASI dilakukan demonstrasi kepada semua peserta yaitu makanan lokal makanan utama usia 9-11 bulan dengan menu nasi tim ikan tuna telur Selanjutnya peserta dibagi menjadi 3 kelompok, dimana setiap kelompok diberikan 1 resep makanan selingan untuk usia 24-59 bulan dengan menu roti goreng ragout ayam, bola-bola kentang isi rabuk ikan, perkedel ikan tuna. Pelatihan ini dilaksanakan selama 120 menit dengan bahan lokal yang terdiri atas nasi, ikan tuna segar, telur, ayam, dan beberapa sayuran seperti wortel, kentang, buncis, dan tomat. Pada pelatihan ini, peserta secara langsung mempraktikkan cara pembuatan menu MPASI dengan diberikan resep dan cara pembuatan sehingga mereka secara langsung dapat mempraktikkan secara mandiri. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan dimulai dengan pembagian kuisioner pre-test kepada peserta dan dilanjutkan dengan pemberian edukasi mengenai Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) yang dibawakan oleh Mahasiswa Magang dari Prodi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Sulawesi Barat. Materi yang dibawakan berisi pengertian PMBA, standar emas makanan bayi dan anak. Inisiasi Menyusui Dini (IMD), manfaat asi bagi anak dan ibu. MPASI dan cara pemberian MPASI. Edukasi ini berjalan selama kurang lebih 60 menit. Setelah itu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan pembagian kuisioner post-test kepada peserta. Aryanti1 et al. Vol. No. Desember 2024 Gambar 1. Pemberian edukasi Evaluasi diberikan kepada peserta di akhir kegiatan dengan membagikan kuesioner pre-test sebelum edukasi dimulai, dan kemudian post-test setelah edukasi Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana peningkatan pengetahuan peserta terkait pemberian makan pada bayi dan anak (PMBA) sebelum dan setelah edukasi. Adapun hasil yang diperoleh ditampilkan pada Grafik 1 berikut: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 PRE TEST POST TEST Grafik 1. Gambaran peningkatan pengetahuan ibu tentang PMBA sebelum dan setelah edukasi Hasil pre-post test menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah dilakukan pemberian edukasi PMBA. Grafik diatas menunjukkan bahwa terdapat 21 orang peserta dengan jumlah jawaban benar meningkat setelah diberikan edukasi, dan 1 orang peserta dengan jumlah jawaban benar menurun sedangkan 8 orang peserta tidak mengalami peningkatan maupun penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian edukasi ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu balita dan ibu hamil tentang praktik PMBA. Untuk mempercepat penurunan perlu dilakukan kegiatan peningkatan pengetahuan ibu. Namun, faktanya ibu balita dan Kader Posyandu masih kurang memahami tentang makanan bergizi, pengolahan makanan, dan pemberian makanan bayi dan balita tidak sesuai rekomendasi (Sumarto dan Trisnawati, 2. Pengetahuan ibu yang baik sangat diperlukan dalam proses pertumbuhan anak. Pengetahuan ibu berkaitan dengan pendidikan dimana ibu terdidik mampu menerima dan menyerap informasi tentang kecukupan gizi anak (Yanti et al. , 2. Pendidikan ibu memiliki peran penting bagi kesehatan anak, ibu yang berpendidikan rendah akan berisiko 1,6 kali anaknya mengalami stunting (Budiastutik dan Nugraheni, 2. Gambar 2. Pelatihan pembuatan MP-ASI Penelitian Putri et al. yang menemukan adanya perbedaan antara pengetahuan ibu balita sebelum dan sesudah edukasi PMBA. Program edukasi PMBA yang diberikan mampu meningkatkan pengetahuan gizi ibu balita dari 41,2% menjadi 82,4% sesudah program. Begitu juga dengan penelitian Susilowardani dan Budiono . , yang mengelompokkan responden kedalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil dari penelitian tersebut menunjukan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan dan praktik MPASI antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Oleh karena itu, edukasi gizi perlu diberikan kepada ibu untuk meningkatkan pengetahuan terutama tentang praktik MPASI. Dikarenakan, pemberian edukasi tersebut dapat dijadikan sebagai upaya pencegahan stunting (Nita et al. , 2. Pengetahuan ibu tentang gizi dipengaruhi oleh pendidikan ibu, semakin tinggi pendidikan ibu semakin memudahkan ibu dalam memahami informasi yang diberikan. Namun pendidikan ibu yang rendah tidak menjamin bahwa pengetahuan ibu kurang tentang gizi dan makanan. Rasa ingin tahu yang besar dapat memotivasi ibu untuk mencari informasi yang tepat untuk digunakan sebagai pedoman pemberian MPASI (Rahmah et al. , 2. Kegiatan selanjutnya adalah demonstrasi pembuatan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Demonstrasi ini pada dasarnya bertujuan untuk lebih mengenalkan tekstur makanan yang tepat sesuai usia anak kepada para ibu, agar penyerapan zat gizi dari makanan yang dikonsumsi oleh anak menjadi lebih maksimal. Demonstrasi ini dibawakan oleh Dosen Program Studi Gizi serta 5 orang Mahasiswa yang membantu dalam proses persiapan serta pengolahan bahan. Bahan pangan yang digunakan dalam proses pembuatan MPASI pada demonstrasi tersebut adalah bahan pangan lokal dengan nilai gizi tinggi yang banyak tersedia di wilayah setempat sehingga ibu lebih mudah menemukan bahan-bahan tersebut. Kegiatan pelatihan ini berjalan selama kurang lebih 120 menit. Perbaikan praktik MPASI merupakan salah satu luaran yang diperlukan dalam rangka perbaikan status gizi, dan penurunan stunting, pada anak di bawah dua tahun . Perbaikan praktik MPASI diharapkan dapat memperbaiki asupan gizi baduta untuk memenuhi kecukupan kebutuhan energi dan zat gizi lainnya. Asupan gizi yang cukup dan berkualitas bersama dengan perbaikan status kesehatan baduta, akan mendukung tercapainya target penurunan stunting pada baduta. Perbaikan praktik Aryanti1 et al. Vol. No. Desember 2024 MPASI umumnya dapat dilakukan melalui 4 upaya pendekatan, yaitu: . Peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu tentang MPASI yang baik, . Peningkatan ketersediaan dan akses makanan padat gizi, . Penguatan dukungan regulasi MPASI, dan . Pengembangan sistem pemantauan dan evaluasi praktik MPASI (Kemenkes. Gambar 3. Hasil pembuatan MP ASI Dalam pemberian MPASI, orang tua harus paham. Dikarenakan, pemberian MPASI ada banyak yang harus diperhatikan seperti waktu memulainya, tekstur makanannya, serta porsi sesuai usia anak dan memberikan MPASI responsive. Sebelum memberikannya pada anak, ibu harus memahami. Untuk kasus kurang tepat memberikan MPASI diakibatkan kurangnya pengetahuan. Berdasarkan penelitian Wahyuhandani dan Mahmudiono . ditemukan bahwa memberikan MPASI dini dikarenakan pendidikan ibu kurang, dimana berdampak tidak baik kepada anak. Ibu yang memiliki pengetahuan baik melakukan MPASI sesuai waktu (Ajani dan Ruhana. KESIMPULAN Pelaksanaan pengabdian masyarakat dengan memberikan edukasi dan pelatihan terkait pemberian makan pada bayi dan anak berjalan dengan lancar dan sesuai dengan Terlihat peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Peningkatan pengetahuan ibu balita juga terlihat melalui hasil pre-posttest yang dilakukan sebelum dan setelah edukasi demikian juga dengan praktik pembuatan makanan utama dan makanan selingan diikuti dengan baik oleh peserta. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis artikel pengabdian masyarakat mengucapkan terima kasih kepada LPPM Universitas Sulawesi Barat yang telah mendanai kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Puskesmas Tinambung dan Desa Karama yang telah membantu mengumpulkan ibu-ibu serta semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat, sehingga dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. DAFTAR PUSTAKA