Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 10 Nomor 3 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Konstruksi Nilai Edukatif Dalam Ritual Nyapuh Leger Berdasarkan Landasan Pendidikan Hindu Ni Putu Gatriyani*. I Wayan Jatiyasa STKIP Agama Hindu Amlapura. Indonesia *putuanik1986@gmail. Abstract Nyapuh Leger is a sacred ritual in Balinese Hindu tradition that serves not only as a purification ceremony but also as a medium for transmitting educational values grounded in local wisdom. However, modernization has gradually diminished younger generationsAo understanding of the ritual's philosophical meaning and educational This study aims to analyze the construction of educational values embedded in the Nyapuh Leger ritual from the perspective of the foundations of Hindu education. This study employed a qualitative research design with a descriptive approach. Research participants were selected using purposive sampling and included sulinggih (Hindu priest. , dalang . raditional puppeteer. , religious leaders, academics, organizing committee members, and ritual participants. The study utilized both primary data obtained from informants and secondary data derived from documents, photographs, scholarly publications, and other relevant literature. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, documentation, and literature review. Data analysis followed an interactive model consisting of data reduction, data display, verification, and conclusion drawing, while data trustworthiness was ensured through source and technique triangulation. The findings reveal that the Nyapuh Leger ritual embodies educational values encompassing spiritual, ethical and moral, social, cultural, and religious character dimensions. These values are internalized through selfpurification practices, the implementation of Tri Kaya Parisudha teachings, the tradition of ngayah . oluntary communal servic. , the preservation of the Wayang Nyapuh Leger performance tradition, and the integration of the Hindu teachings of tattwa, susila, and Consequently, the ritual functions as a form of non-formal education that strengthens spiritual awareness, religious character, cultural identity, and the development of Hindu education based on local wisdom in the contemporary era. Keywords: Nyapuh Leger Ritual. Educational Values. Hindu Education. Hindu Ritual. Local Wisdom Abstrak Ritual Nyapuh Leger merupakan tradisi sakral masyarakat Hindu Bali yang berfungsi sebagai sarana penyucian sekaligus media pewarisan nilai-nilai pendidikan berbasis kearifan lokal. Namun, modernisasi menyebabkan pemahaman generasi muda terhadap makna filosofis dan nilai edukatif ritual ini semakin menurun. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi nilai edukatif dalam ritual Nyapuh Leger berdasarkan perspektif landasan pendidikan Hindu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ditentukan secara purposive, meliputi sulinggih, dalang, tokoh agama, akademisi, panitia pelaksana, dan peserta ritual. Data penelitian terdiri atas data primer yang diperoleh dari informan serta data sekunder yang bersumber dari dokumen, foto kegiatan, jurnal ilmiah, dan literatur yang relevan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan dengan uji keabsahan menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger mengandung nilai edukatif berupa nilai spiritual, etika dan moral, sosial, budaya, serta pendidikan karakter religius. Nilai-nilai tersebut diinternalisasikan melalui proses penyucian diri, penerapan ajaran Tri Kaya Parisudha, tradisi ngayah, pelestarian Wayang Nyapuh Leger, serta integrasi ajaran tattwa, susila, dan acara, sehingga ritual ini berperan sebagai media pendidikan nonformal yang memperkuat kesadaran spiritual, karakter religius, identitas budaya, dan penguatan pendidikan Hindu berbasis kearifan lokal di era modern. Kata Kunci: Nyapuh Leger. Nilai Edukatif. Pendidikan Hindu. Ritual Hindu. Kearifan Lokal Pendahuluan Pendidikan Hindu pada hakikatnya tidak hanya berorientasi pada pengembangan aspek intelektual, tetapi juga menekankan pembentukan karakter, spiritualitas, dan kesadaran religius peserta didik. Dalam tradisi Hindu Bali, proses pendidikan tidak selalu berlangsung melalui lembaga formal, melainkan juga diwariskan melalui aktivitas sosialkeagamaan dan ritual adat yang hidup di tengah masyarakat. Ritual keagamaan menjadi media transformasi nilai, norma, dan ajaran Hindu yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari pendidikan berbasis budaya lokal. Salah satu ritual yang masih lestari dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali adalah ritual Nyapuh Leger, yang dalam beberapa literatur juga dikenal sebagai Sapuh Leger, yaitu ritual penyucian bagi individu yang lahir pada Wuku Wayang berdasarkan sistem penanggalan Bali. Ritual ini dipercaya memiliki makna spiritual sebagai proses penyucian diri sekaligus perlindungan secara sekala dan niskala bagi manusia (Wicaksana & Wicaksandita, 2. Dalam praktiknya, ritual Nyapuh Leger tidak hanya mengandung aspek teologis dan religius, tetapi juga memuat nilai-nilai edukatif yang berkaitan dengan pembentukan etika, kesadaran spiritual, solidaritas sosial, dan pelestarian budaya Hindu Bali. Ritual keagamaan Hindu pada dasarnya merupakan media internalisasi nilai yang mampu memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan sebagaimana konsep Tri Hita Karana (Pramada et al. , 2. Nilai-nilai pendidikan dalam tradisi Hindu Bali juga tampak dalam berbagai ritual lokal yang mengandung ajaran moral, kebersamaan, dan harmonisasi kehidupan masyarakat (Suwendra, 2. Dengan demikian, ritual Nyapuh Leger dapat dipahami sebagai media pendidikan nonformal yang berfungsi menanamkan kesadaran religius dan karakter spiritual masyarakat Hindu. Namun, perkembangan modernisasi dan globalisasi membawa perubahan terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat, khususnya generasi muda Hindu Bali. Ritual keagamaan tradisional sering kali dipandang hanya sebagai warisan budaya yang bersifat seremonial tanpa dipahami makna filosofis, religius, dan nilai edukatif yang terkandung di dalamnya. Fenomena ini menyebabkan menurunnya pemahaman generasi muda terhadap hakikat ritual sebagai sarana pendidikan spiritual dan moral. Padahal, integrasi nilai budaya lokal dalam pendidikan sangat penting untuk membangun identitas budaya dan karakter generasi muda di tengah arus modernisasi global (Astawa & Jendra, 2. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya revitalisasi pemahaman terhadap ritual Hindu Bali sebagai sumber pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Dalam perspektif pendidikan Hindu, proses pendidikan tidak hanya berfungsi mentransmisikan pengetahuan keagamaan, tetapi juga membentuk manusia yang https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH memiliki keseimbangan intelektual, moral, spiritual, dan sosial berdasarkan nilai-nilai Pendidikan Hindu bertumpu pada landasan filosofis, religius, dan aksiologis yang saling berkaitan. Landasan filosofis berkaitan dengan pemahaman tattwa sebagai dasar kebenaran dan pandangan hidup Hindu yang mencakup konsep Tri Hita Karana. Karma Phala, serta keseimbangan antara bhuana alit dan bhuana agung. Landasan religius berkaitan dengan implementasi ajaran agama melalui praktik bhakti, susila, dan acara yang menghubungkan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sementara itu, landasan aksiologis berkaitan dengan nilai dan tujuan pendidikan Hindu yang diarahkan pada pembentukan karakter, pengendalian diri, kesadaran spiritual, dan perilaku yang berlandaskan dharma. Ketiga landasan tersebut menjadi kerangka konseptual yang penting untuk memahami nilai edukatif yang terkandung dalam berbagai ritual Hindu Bali, termasuk ritual Nyapuh Leger. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji ritual Nyapuh Leger dan tradisi ruwatan Hindu Bali dari berbagai perspektif. Penelitian Wicaksana & Wicaksandita . menyoroti fungsi dan makna Wayang Sapuh Leger sebagai sarana ruwatan dalam masyarakat Hindu Bali. Muada . menjelaskan bahwa tradisi ruwatan dalam ritual Nyapuh Leger berfungsi sebagai media penyucian diri dan perlindungan spiritual yang berlandaskan nilai filosofis pewayangan Bali. Sementara itu. Dhana et al. menunjukkan bahwa berbagai tradisi lokal Hindu Bali mengandung nilai pendidikan agama yang berkontribusi terhadap pembentukan karakter religius dan kesadaran sosial masyarakat. Penelitian-penelitian tersebut memberikan kontribusi penting dalam memahami fungsi ritual dan nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam tradisi Hindu Bali. Meskipun demikian, penelitian terdahulu masih lebih banyak berfokus pada fungsi ritual, makna simbolik ruwatan, dan nilai pendidikan agama secara umum. Kajian yang secara khusus mengonstruksi nilai edukatif ritual Nyapuh Leger berdasarkan landasan pendidikan Hindu masih relatif terbatas. Dengan kata lain, belum banyak penelitian yang mengkaji bagaimana nilai-nilai edukatif dalam ritual Nyapuh Leger dapat dipahami melalui landasan filosofis, religius, dan aksiologis pendidikan Hindu secara terpadu. Kesenjangan penelitian tersebut menunjukkan perlunya kajian yang tidak hanya mendeskripsikan fungsi ritual atau makna simboliknya, tetapi juga menganalisis proses internalisasi nilai pendidikan Hindu yang terkandung di dalam ritual Kebaruan . penelitian ini terletak pada upaya mengonstruksi nilai edukatif ritual Nyapuh Leger melalui perspektif landasan pendidikan Hindu. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang lebih menekankan aspek fungsi ritual, ruwatan, atau simbolisme budaya, penelitian ini berfokus pada identifikasi dan analisis nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam ritual Nyapuh Leger berdasarkan landasan filosofis, religius, dan aksiologis pendidikan Hindu. Melalui perspektif tersebut, ritual Nyapuh Leger dipahami tidak hanya sebagai praktik keagamaan dan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan yang mentransformasikan nilai spiritual, moral, sosial, dan budaya kepada masyarakat Hindu Bali. Kegiatan ritual Nyapuh Leger yang diselenggarakan oleh Yadnya Prawerti Parisada bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Agama Hindu Amlapura menunjukkan adanya sinergi antara lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan dalam pelestarian budaya lokal sebagai sumber pendidikan Hindu. Kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan sebagai ritual penyucian semata, tetapi juga sebagai media edukasi spiritual kepada masyarakat, khususnya generasi muda Hindu Bali. Melalui kegiatan tersebut, ritual keagamaan diposisikan sebagai media pembelajaran kontekstual yang mampu menanamkan nilai religius, memperkuat identitas budaya, serta meningkatkan kesadaran spiritual masyarakat. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi nilai edukatif dalam ritual Nyapuh Leger berdasarkan landasan pendidikan Hindu. Fokus penelitian diarahkan pada identifikasi dan analisis nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam ritual Nyapuh Leger melalui perspektif landasan filosofis, religius, dan aksiologis pendidikan Hindu serta relevansinya dalam memperkuat pendidikan Hindu berbasis kearifan lokal di era modern. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan kajian pendidikan Hindu berbasis budaya lokal sekaligus menjadi referensi dalam upaya pelestarian tradisi keagamaan Hindu Bali sebagai sumber pendidikan yang kontekstual dan berkelanjutan. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif untuk mengkaji konstruksi nilai edukatif dalam ritual Nyapuh Leger berdasarkan landasan pendidikan Hindu. Penelitian dilaksanakan pada kegiatan ritual Nyapuh Leger yang diselenggarakan oleh Yadnya Prawerti Parisada bekerja sama dengan STKIP Agama Hindu Amlapura di Kabupaten Karangasem. Bali, pada Maret 2026. Sumber data terdiri atas data primer yang diperoleh dari informan dan data sekunder yang berasal dari dokumen kegiatan, foto, arsip, buku, penelitian ilmiah, serta literatur yang Informan ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dengan melibatkan 16 orang yang terdiri atas sulinggih, pemangku, jero dalang, pragina topeng, dosen. Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura, pengurus Yayasan Yadnya Prawerti Parisada, mahasiswa, dan tokoh masyarakat yang dipilih berdasarkan keterlibatan, pengalaman, serta pemahamannya terhadap ritual Nyapuh Leger. Instrumen penelitian meliputi pedoman observasi, pedoman wawancara, dokumentasi, dan catatan lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam semi-terstruktur, dokumentasi, dan studi pustaka. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif Miles. Huberman, dan Saldana yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi, dan penarikan kesimpulan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai konstruksi nilai edukatif dalam ritual Nyapuh Leger serta relevansinya terhadap penguatan landasan filosofis, religius, dan aksiologis pendidikan Hindu. Hasil dan Pembahasan Hakikat Ritual Nyapuh Leger Dalam Tradisi Hindu Bali Dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali, ritual keagamaan memiliki kedudukan penting sebagai sarana menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama, dan alam semesta. Tradisi ritual tidak hanya berfungsi sebagai aktivitas religius, tetapi juga menjadi media internalisasi nilai spiritual, sosial, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Bali (Pramada et al. , 2. Salah satu ritual yang masih lestari hingga saat ini adalah Nyapuh Leger, yaitu tradisi sakral masyarakat Hindu Bali yang dilaksanakan sebagai bentuk penyucian spiritual bagi individu yang lahir pada wuku wayang dalam sistem Pawukon Bali. Ritual ini diyakini memiliki fungsi religius untuk menetralisasi pengaruh negatif serta menciptakan keseimbangan hidup. Dalam tradisi Hindu Bali. Nyapuh Leger tidak hanya dimaknai sebagai upacara keagamaan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai spiritual, etika, dan budaya yang berkaitan dengan konsep Tri Hita Karana. Ritual Sapuh Leger memiliki fungsi ruwatan dan penguatan spiritual dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH a. Pengertian Nyapuh Leger Ritual Nyapuh Leger merupakan salah satu ritual penyucian . yang sakral dalam tradisi masyarakat Hindu Bali. Secara etimologis, kata sapuh berarti menyapu atau membersihkan, sedangkan leger dimaknai sebagai leteh atau kekotoran yang bersifat Dengan demikian. Nyapuh Leger dipahami sebagai proses penyucian diri manusia dari berbagai pengaruh negatif yang diyakini dapat mengganggu keseimbangan kehidupan spiritual, khususnya bagi individu yang lahir pada Wuku Wayang dalam sistem Pawukon Bali. Pelaksanaan ritual ini umumnya disertai pementasan Wayang Sapuh Leger yang memiliki fungsi ritual sekaligus edukatif. Wicaksana & Wicaksandita . menjelaskan bahwa Wayang Sapuh Leger merupakan bagian integral dari upacara ruwatan yang bertujuan menetralisasi kekuatan negatif serta memohon perlindungan spiritual bagi individu yang lahir pada Wuku Wayang. Kepercayaan tersebut memiliki keterkaitan dengan narasi yang terdapat dalam Lontar Kala Tattwa yang mengisahkan hubungan simbolis antara Sang Hyang Kumara dan Bhatara Kala. Dalam lontar tersebut dijelaskan bahwa individu yang lahir pada Wuku Wayang memerlukan proses penyucian tertentu sebagai bentuk harmonisasi dengan kekuatan Selain itu. Dharma Pewayangan menjelaskan bahwa wayang tidak hanya berfungsi sebagai media pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana penyampaian ajaran dharma kepada masyarakat. Oleh karena itu. Wayang Sapuh Leger dapat dipahami sebagai media pendidikan religius yang mentransformasikan nilai-nilai spiritual, moral, dan budaya melalui simbol-simbol pewayangan. Dalam perspektif pendidikan Hindu, ritual Nyapuh Leger tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai proses pembelajaran spiritual yang mengajarkan pentingnya penyucian diri, pengendalian perilaku, dan kesadaran akan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Dengan demikian, ritual Nyapuh Leger tidak hanya dipahami sebagai aktivitas seremonial, melainkan sebagai bentuk transformasi spiritual yang menegaskan pentingnya kesucian diri, keseimbangan batin, dan pengamalan nilai-nilai dharma dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. Sejarah dan Latar Belakang Ritual Nyapuh Leger Secara historis, ritual Nyapuh Leger berkembang dari tradisi pewayangan sakral Bali yang memiliki keterkaitan erat dengan Lontar Kala Tattwa dan Dharma Pewayangan. Dalam perkembangan masyarakat Bali kuno, wayang tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai media ritual yang memiliki fungsi religius, pedagogis, dan spiritual. Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun oleh para dalang yang memiliki otoritas dalam pelaksanaan ritual ruwatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ida Sulinggih Swabawa selaku pemuput upacara, dijelaskan bahwa istilah Sapuh Leger mengandung makna penyucian diri dari berbagai pengaruh negatif yang dapat mengganggu keseimbangan kehidupan manusia. Makna tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger dipahami masyarakat sebagai sarana pembersihan spiritual yang bertujuan membangun keharmonisan hidup secara sekala dan niskala (Wawancara, 8 Maret 2. Sementara itu. Ida Dalang Adi Putra menjelaskan bahwa keberadaan ritual Nyapuh Leger berkaitan dengan kisah Sang Hyang Kumara dan Bhatara Kala sebagaimana termuat dalam Lontar Kala Tattwa. Dalam tradisi tersebut, individu yang lahir pada Wuku Wayang diyakini perlu menjalani proses penyucian sebagai bentuk perlindungan spiritual. Pertunjukan Wayang Sapuh Leger dipandang memiliki fungsi ritual dalam menetralisasi pengaruh negatif melalui penggunaan mantra-mantra suci dan simbolsimbol pewayangan yang mengandung nilai religius (Wawancara, 8 Maret 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Seramasara & Susanto . yang menyatakan bahwa Wayang Sapuh Leger merupakan bagian dari seni ritual yang diwariskan secara turun-temurun dan berfungsi memperkuat ketahanan mental, spiritual, dan budaya masyarakat Hindu Bali. Dengan demikian, sejarah ritual Nyapuh Leger menunjukkan adanya integrasi antara aspek seni, agama, budaya, dan pendidikan dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. Kedudukan Nyapuh Leger Dalam Manusa Yadnya Dalam sistem Panca Yadnya, ritual Nyapuh Leger termasuk ke dalam kategori Manusa Yadnya, yaitu kelompok yadnya yang ditujukan untuk pembinaan, penyucian, dan kesejahteraan manusia sejak masa kelahiran hingga akhir kehidupannya. Dalam perspektif Hindu Bali. Manusa Yadnya bertujuan membentuk manusia yang suci secara lahir dan batin melalui berbagai tahapan ritual kehidupan. Kedudukan Nyapuh Leger dalam Manusa Yadnya tidak hanya berkaitan dengan fungsi penyucian spiritual, tetapi juga memiliki fungsi pendidikan yang penting. Ritual ini menjadi sarana pembinaan kesadaran religius, penguatan karakter, dan pengembangan tanggung jawab moral manusia Hindu. Melalui ritual tersebut, individu diajarkan pentingnya menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagaimana ajaran Tri Kaya Parisudha. Mulyati . menjelaskan bahwa upacara Bayuh Oton Sapuh Leger memiliki fungsi biopsikososiospiritual karena memberikan pengaruh terhadap aspek religius, psikologis, sosial, dan budaya masyarakat. Dalam konteks pendidikan Hindu, fungsi tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga menjadi media pembentukan identitas dan karakter individu. Hakikat ritual Nyapuh Leger juga mencerminkan pandangan filosofis masyarakat Hindu Bali mengenai keseimbangan hidup. Sarana upacara, mantra, tirta penglukatan, serta pertunjukan wayang tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap ritual, tetapi juga memiliki makna edukatif. Tirta melambangkan penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan, mantra mengajarkan konsentrasi serta bhakti, sedangkan pertunjukan wayang menjadi media penyampaian nilai-nilai dharma kepada Masyarakat. Berdasarkan hasil wawancara dengan Mantra dari Yadnya Prawerti Parisada, ritual Nyapuh Leger dipandang sebagai sarana pendidikan rohani yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan hidup secara sekala dan niskala. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki fungsi sebagai media internalisasi nilai agama Hindu melalui pengalaman langsung yang dialami peserta ritual (Wawancara 8 Maret 2. Pandangan serupa disampaikan oleh Apriani, dosen STKIP Agama Hindu Amlapura, yang menegaskan bahwa ritual Nyapuh Leger mengandung nilai tattwa, susila, dan acara secara terpadu sehingga relevan sebagai media pendidikan karakter dan spiritual berbasis budaya lokal. Hal ini menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki kedudukan penting dalam proses pendidikan Hindu karena mampu mengintegrasikan aspek teologis, etis, sosial, budaya, dan pedagogis dalam satu praktik kehidupan Masyarakat (Wawancara, 8 Maret 2. Dengan demikian, ritual Nyapuh Leger tidak hanya dipahami sebagai ritual penyucian semata, tetapi juga sebagai media pendidikan nonformal yang berfungsi membentuk kesadaran spiritual, karakter religius, dan identitas budaya masyarakat Hindu Bali. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Gambar 1. Pertunjukan Wayang Sapuh Leger (Sumber: Gatriyani, 2. Makna Filosofis Ritual Dalam Masyarakat Hindu Bali Ritual keagamaan dalam masyarakat Hindu Bali merupakan bagian penting dari kehidupan spiritual yang berfungsi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan sesama dan alam semesta. Dalam perspektif Hindu, ritual tidak hanya dipahami sebagai aktivitas seremonial, tetapi juga sebagai media transformasi spiritual yang mengandung nilai-nilai filsafat, etika, dan pendidikan. Melalui ritual keagamaan, umat Hindu diajarkan untuk mengembangkan kesadaran religius, pengendalian diri, serta tanggung jawab moral dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ritual memiliki peran penting dalam proses internalisasi nilai-nilai dharma yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Hindu Bali. Dalam konteks ritual Nyapuh Leger, makna filosofis utamanya terletak pada konsep penyucian diri . Ritual ini dilaksanakan sebagai upaya membersihkan diri dari pengaruh negatif . yang diyakini dapat mengganggu keseimbangan lahir dan batin, khususnya bagi individu yang lahir pada Wuku Wayang. Berdasarkan tradisi yang bersumber dari Lontar Kala Tattwa, ritual ini tidak semata-mata dimaknai sebagai usaha menghindari pengaruh Bhatara Kala, tetapi juga sebagai sarana membangun kesadaran spiritual dan pengendalian diri. Dalam perspektif pendidikan Hindu, proses penyucian tersebut mengajarkan bahwa manusia perlu senantiasa melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas diri agar mampu menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai dharma. Sejalan dengan itu. Suarta et al. , . menyatakan bahwa ritual penyucian dalam tradisi Hindu Bali mengandung nilai pendidikan spiritual yang bertujuan membentuk keseimbangan antara aspek jasmani dan rohani melalui internalisasi nilai-nilai religius. Makna filosofis ritual Nyapuh Leger juga berkaitan dengan konsep keseimbangan antara bhuana alit . dan bhuana agung . Dalam ajaran Hindu Bali, manusia dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari alam semesta sehingga keseimbangan hidup hanya dapat tercapai apabila terdapat keselarasan antara kehidupan individu dengan tatanan kosmis. Oleh karena itu, pelaksanaan ritual Nyapuh Leger tidak hanya berorientasi pada penyucian individu, tetapi juga menjadi simbol upaya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan lingkungan spiritual dan sosialnya. Nilai-nilai filosofis tersebut tercermin dalam berbagai simbol ritual yang digunakan selama pelaksanaan Nyapuh Leger. Tirta penglukatan melambangkan proses penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha. Dalam perspektif pendidikan Hindu, tirta mengandung pesan moral tentang pentingnya menjaga kemurnian perilaku sebagai dasar pembentukan karakter yang baik. Melalui simbol tirta, umat Hindu diajarkan bahwa https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kesucian tidak hanya diwujudkan melalui ritual, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari yang mencerminkan nilai-nilai kebajikan. Selain tirta, pertunjukan Wayang Sapuh Leger memiliki makna filosofis dan edukatif yang sangat penting. Wayang tidak hanya berfungsi sebagai sarana ritual, tetapi juga sebagai media pendidikan yang menyampaikan ajaran moral dan spiritual kepada masyarakat. Tokoh-tokoh pewayangan, alur cerita, serta simbol-simbol yang ditampilkan mengandung pesan mengenai pentingnya menjalankan dharma, mengendalikan diri, dan memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Dengan demikian, wayang berfungsi sebagai media pembelajaran kontekstual yang membantu masyarakat memahami ajaran Hindu melalui pendekatan budaya yang mudah diterima dan diwariskan secara turun-temurun. Makna pendidikan juga tampak pada penggunaan mantra dan banten dalam ritual Nyapuh Leger. Mantra yang dilantunkan selama prosesi ritual berfungsi membangun konsentrasi, ketenangan batin, dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sementara itu, banten mengandung nilai yadnya yang mengajarkan ketulusan, pengorbanan suci, rasa syukur, serta tanggung jawab spiritual. Adapun proses ruwatan yang menjadi inti dari ritual Nyapuh Leger mengandung pesan pendidikan mengenai pentingnya introspeksi diri dan pengendalian sifat-sifat negatif yang dapat menghambat perkembangan moral maupun spiritual manusia. Berdasarkan hasil wawancara dengan Suardana dari Yadnya Prawerti Parisada, makna utama ritual Nyapuh Leger terletak pada upaya penyucian diri lahir dan batin yang bertujuan membangun keseimbangan pikiran, perkataan, dan perbuatan sesuai ajaran dharma (Wawancara, 8 Maret 2. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger tidak hanya berfungsi sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai sarana pembinaan kesadaran moral dan spiritual masyarakat Hindu Bali. Pandangan tersebut diperkuat oleh Badra selaku Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura yang menyatakan bahwa ritual Nyapuh Leger mengandung nilai tattwa, susila, dan spiritualitas yang sangat relevan dalam pendidikan Hindu modern. Menurutnya, ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan karakter dan penguatan kesadaran religius generasi muda Hindu (Wawancara, 8 Maret 2. Dengan demikian, makna filosofis ritual Nyapuh Leger tidak hanya terletak pada fungsi penyucian spiritual, tetapi juga pada proses pendidikan yang berlangsung melalui simbol, tindakan ritual, dan pengalaman religius yang dialami peserta. Ritual ini menjadi media internalisasi nilai-nilai pendidikan Hindu yang meliputi kesadaran spiritual, pengendalian diri, tanggung jawab moral, bhakti, dan harmonisasi kehidupan berdasarkan ajaran dharma. Oleh karena itu. Nyapuh Leger memiliki relevansi yang kuat sebagai bentuk pendidikan Hindu berbasis kearifan lokal yang berkontribusi dalam pembentukan karakter religius dan pelestarian identitas budaya masyarakat Hindu Bali. Konstruksi Nilai Edukatif Dalam Ritual Nyapuh Leger Ritual Nyapuh Leger dalam tradisi Hindu Bali tidak hanya dipahami sebagai pelaksanaan upacara keagamaan yang bersifat sakral, tetapi juga mengandung berbagai nilai edukatif yang berperan penting dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai tersebut terinternalisasi melalui simbol, prosesi, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan ritual Nyapuh Leger. Dalam perspektif pendidikan Hindu, ritual keagamaan memiliki fungsi edukatif sebagai media internalisasi nilai-nilai dharma yang membentuk kesadaran moral, spiritual, serta pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan melalui implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha (Budayasa & Dharmawan, 2023. Sukrini, 2. Selain itu, ritual Nyapuh Leger juga mengandung dimensi sosial dan budaya yang memperkuat identitas masyarakat Hindu Bali melalui pelestarian kearifan lokal, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pendidikan karakter, dan penguatan nilai-nilai religius dalam kehidupan bermasyarakat (Suprastayasa, 2. Oleh karena itu, konstruksi nilai edukatif dalam ritual Nyapuh Leger dapat dianalisis melalui beberapa aspek utama, yaitu: . nilai spiritual, . nilai etika dan moral, . nilai sosial, . nilai budaya dan pelestarian tradisi, serta . pendidikan karakter religius. Kelima aspek tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki kontribusi penting dalam membentuk kepribadian, kesadaran religius, dan harmoni kehidupan masyarakat Hindu Bali. Nilai Spiritual Ritual Nyapuh Leger dalam tradisi Hindu Bali mengandung nilai spiritual yang sangat mendalam karena berkaitan dengan proses penyucian diri lahir dan batin sebagai upaya mencapai keharmonisan hidup. Nilai spiritual tersebut tercermin dalam keyakinan masyarakat Hindu Bali bahwa individu yang lahir pada Wuku Wayang memerlukan proses ruwatan atau penyucian agar terbebas dari pengaruh negatif dan memperoleh keseimbangan hidup. Ritual Nyapuh Leger menjadi sarana religius untuk meningkatkan kesadaran spiritual serta memperkuat keyakinan terhadap kekuatan dharma dalam kehidupan manusia (Wicaksana & Wicaksandita, 2. Nilai spiritual dalam ritual Nyapuh Leger tidak hanya tampak sebagai ajaran normatif, tetapi dikonstruksi melalui seluruh rangkaian prosesi ritual yang melibatkan simbol-simbol keagamaan, aktor ritual, dan pengalaman religius peserta. Konstruksi nilai spiritual tersebut terlihat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan ritual yang dipimpin oleh sulinggih, pemangku, dan dalang sebagai figur religius yang memiliki otoritas spiritual dalam masyarakat Hindu Bali. Kehadiran para tokoh ritual tersebut tidak hanya berfungsi memimpin jalannya upacara, tetapi juga menjadi media transmisi nilai-nilai keagamaan kepada peserta melalui doa, mantra, arahan spiritual, dan simbol-simbol ritual yang digunakan selama prosesi berlangsung. Nilai spiritual dalam ritual Nyapuh Leger juga tampak melalui penggunaan sarana upacara seperti tirta, banten, api suci, wayang, dan mantra yang memiliki makna simbolik Dalam perspektif Hindu Bali, simbol-simbol ritual tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap upacara, tetapi juga menjadi media spiritual yang menghubungkan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta kekuatan kosmis alam semesta. Tirta penglukatan yang dipercikkan kepada peserta ritual melambangkan proses penyucian pikiran, perkataan, dan perbuatan sesuai ajaran Tri Kaya Parisudha. Sementara itu, mantra-mantra yang dilantunkan selama prosesi ritual berfungsi membangun suasana sakral yang mendorong peserta untuk melakukan refleksi diri, meningkatkan konsentrasi spiritual, dan memperkuat bhakti kepada Tuhan. Penelitian Donder et al. , . menjelaskan bahwa praktik ritual Hindu Bali mengandung dimensi sekala dan niskala yang membentuk kesadaran spiritual masyarakat melalui pengalaman religius yang bersifat kolektif maupun personal. Selain itu, pertunjukan Wayang Nyapuh Leger menjadi bagian penting dalam konstruksi nilai spiritual. Wayang tidak hanya berfungsi sebagai media ritual penyucian, tetapi juga sebagai sarana penyampaian ajaran spiritual yang bersumber dari kisah-kisah pewayangan dan nilai-nilai dharma. Melalui simbol, tokoh, dan alur cerita yang dipentaskan, peserta ritual diajak memahami pentingnya pengendalian diri, kesadaran spiritual, dan upaya mengatasi sifat-sifat negatif dalam diri manusia. Dengan demikian, pengalaman menyaksikan pertunjukan wayang menjadi bagian dari proses internalisasi nilai spiritual yang berlangsung selama ritual. Pelaksanaan ritual Nyapuh Leger juga mengajarkan umat untuk menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagai implementasi ajaran Tri Kaya Parisudha. Proses ritual yang melibatkan persembahyangan, doa, penglukatan, dan persembahan yadnya menjadi sarana refleksi spiritual yang mampu menumbuhkan ketenangan batin https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dan kesadaran moral individu. Dwita . menjelaskan bahwa ritual Hindu Bali memiliki fungsi spiritual dan psikologis karena mampu menciptakan keseimbangan emosional, mengurangi tekanan mental, serta memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan alam semesta. Berdasarkan hasil observasi selama pelaksanaan ritual, peserta menunjukkan sikap khusyuk ketika mengikuti persembahyangan bersama, menerima tirta penglukatan, dan mengikuti seluruh rangkaian prosesi ritual. Pengalaman religius tersebut menunjukkan bahwa nilai spiritual tidak hanya diajarkan secara konseptual, tetapi dibangun melalui keterlibatan langsung peserta dalam ritual. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan Adi Putra selaku dalang menyatakan bahwa Nyapuh Leger bukan hanya ritual pembersihan secara simbolis, tetapi merupakan proses spiritual untuk menata batin dan menghilangkan pengaruh negatif dalam diri manusia. Melalui ritual ini umat diajarkan untuk menjaga keharmonisan hidup dengan Tuhan, sesama, dan alam (Wawancara, 9 Maret 2. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa makna spiritual ritual Nyapuh Leger tidak hanya terletak pada proses penyucian secara simbolik, tetapi juga pada pembentukan kesadaran religius yang diwujudkan melalui perubahan sikap dan perilaku peserta setelah mengikuti ritual. Dalam konteks ini, ritual berfungsi sebagai sarana pendidikan spiritual yang membantu individu memahami pentingnya pengendalian diri dan kehidupan yang berlandaskan dharma. Hal senada juga diungkapkan oleh Erlia selaku Dosen Pendidikan Agama Hindu STKIP Agama Hindu Amlapura yang menjelaskan bahwa nilai spiritual ritual Nyapuh Leger sangat relevan dalam pendidikan Hindu modern karena mengajarkan spiritualitas Hindu secara nyata melalui pengalaman langsung. Mahasiswa maupun generasi muda dapat belajar tentang bhakti, kesucian diri, dan pengendalian pikiran melalui keterlibatan dalam ritual tersebut (Wawancara, 8 Maret 2. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki fungsi edukatif yang kuat karena memungkinkan peserta memperoleh pengalaman belajar spiritual secara langsung . xperiential learnin. Keterlibatan aktif dalam ritual memberikan ruang bagi generasi muda untuk memahami nilai-nilai bhakti, kesucian diri, dan pengendalian pikiran secara kontekstual, bukan hanya melalui pembelajaran teoretis. Di sisi lain, nilai spiritual ritual Nyapuh Leger juga berfungsi sebagai media pendidikan religius bagi generasi muda, termasuk mahasiswa di lingkungan STKIP Agama Hindu Amlapura. Keterlibatan keluarga, sulinggih, pemangku, dalang, dosen, mahasiswa, dan masyarakat dalam pelaksanaan ritual menciptakan ruang pembelajaran spiritual yang memungkinkan terjadinya pewarisan nilai-nilai keagamaan secara berkelanjutan. Widana . menegaskan bahwa spiritualitas ritual yajya tetap menjadi fondasi utama identitas masyarakat Hindu Bali di tengah tantangan modernisasi dan perubahan Dengan demikian, nilai spiritual dalam ritual Nyapuh Leger dikonstruksi melalui simbol-simbol ritual, prosesi penyucian, peran aktor ritual, serta pengalaman religius yang dialami peserta. Melalui proses tersebut, ritual Nyapuh Leger tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyucian spiritual, tetapi juga sebagai media pendidikan Hindu yang berperan dalam membentuk sraddha, bhakti, kesadaran religius, pengendalian diri, dan karakter spiritual masyarakat Hindu Bali. Nilai Etika dan Moral Ritual Nyapuh Leger dalam masyarakat Hindu Bali tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga mengandung nilai etika dan moral yang berfungsi sebagai pedoman perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif Hindu, etika berkaitan dengan ajaran susila yang menekankan pentingnya pengendalian diri, kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagai landasan membangun kehidupan yang harmonis. Pelaksanaan ritual Nyapuh Leger menjadi media pendidikan moral karena di dalamnya terdapat proses pembelajaran mengenai disiplin, tanggung jawab, penghormatan kepada https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sesama, serta kepatuhan terhadap norma agama dan adat. Melalui keterlibatan dalam ritual, individu diajarkan untuk memahami bahwa kehidupan manusia harus dijalankan berdasarkan prinsip dharma sebagai landasan kebenaran dan kebajikan (Reddy, 2. Nilai etika dan moral dalam ritual Nyapuh Leger tidak hanya diajarkan secara konseptual, tetapi dikonstruksi melalui berbagai tahapan prosesi ritual yang menuntut peserta untuk mematuhi aturan, tata tertib, dan etika keagamaan. Sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan ritual, peserta diwajibkan mengenakan pakaian adat yang sesuai, menjaga kesopanan dalam bertutur kata, mengikuti arahan pemimpin upacara, serta menunjukkan sikap hormat kepada sulinggih, pemangku, dalang, dan seluruh pihak yang terlibat dalam Praktik tersebut menjadi sarana pembelajaran etis yang membiasakan individu untuk bersikap disiplin, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain dalam kehidupan sosial maupun keagamaan. Nilai etika tersebut juga tercermin dalam penggunaan simbolsimbol ritual yang mengandung pesan moral. Tirta penglukatan tidak hanya dimaknai sebagai sarana penyucian spiritual, tetapi juga sebagai simbol pembersihan pikiran, perkataan, dan perbuatan sesuai ajaran Tri Kaya Parisudha. Melalui simbol tersebut, peserta ritual diajak untuk melakukan refleksi diri terhadap perilaku yang telah dilakukan sekaligus membangun komitmen untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, proses penyucian dalam ritual tidak hanya berorientasi pada aspek religius, tetapi juga menjadi sarana pendidikan moral yang mengajarkan pentingnya pengendalian diri dan perbaikan perilaku. Selain itu, konsep ruwatan yang menjadi inti ritual Nyapuh Leger mengandung nilai moral yang berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Ruwatan mengajarkan bahwa manusia perlu menyadari berbagai sifat negatif yang dapat mengganggu keharmonisan hidup, seperti kemarahan, keserakahan, egoisme, dan perilaku yang bertentangan dengan dharma. Oleh karena itu, ritual Nyapuh Leger menjadi media pembelajaran yang mendorong individu untuk melakukan introspeksi diri dan mengembangkan karakter yang lebih baik. Penelitian Donder & Wisarja . menjelaskan bahwa ritual Hindu Bali memiliki fungsi etis karena mampu membangun kesadaran moral masyarakat melalui simbol-simbol religius dan aktivitas spiritual yang dilakukan secara kolektif. Konstruksi nilai etika dan moral juga terlihat melalui keterlibatan aktor-aktor ritual seperti sulinggih, pemangku, dan dalang yang tidak hanya berfungsi memimpin jalannya upacara, tetapi juga menjadi teladan dalam penerapan nilai-nilai susila Hindu. Nasihat, doa, serta arahan yang diberikan selama prosesi ritual menjadi bagian dari proses pendidikan moral yang berlangsung secara langsung. Dalam konteks ini, peserta tidak hanya menerima pengetahuan mengenai etika Hindu, tetapi juga menyaksikan praktik nilai-nilai tersebut melalui perilaku para tokoh agama yang dihormati masyarakat. Apriani selaku dosen STKIP Agama Hindu Amlapura menyatakan bahwa dalam Nyapuh Leger umat diajarkan untuk menjaga perilaku dan mengendalikan Ritual ini mengingatkan manusia agar selalu berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik sesuai ajaran Tri Kaya Parisudha (Wawancara, 9 Maret 2. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa nilai etika dan moral dalam ritual Nyapuh Leger dibangun melalui proses internalisasi ajaran Tri Kaya Parisudha yang diwujudkan dalam pengalaman ritual peserta. Nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai ajaran normatif, tetapi dipraktikkan secara langsung melalui sikap dan perilaku selama pelaksanaan upacara. Hal senada juga diungkapkan oleh Juniada selaku pemangku yang terlibat dalam kegiatan Nyapuh Leger, menyatakan bahwa ritual Nyapuh Leger bukan hanya tradisi budaya, tetapi sarana pendidikan moral. Generasi muda belajar disiplin, menghormati sesama, bertanggung jawab, dan memahami pentingnya etika dalam https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kehidupan sosial maupun spiritual (Wawancara, 8 Maret 2. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman mengikuti ritual menjadi sarana pembelajaran moral yang efektif, terutama bagi generasi muda. Melalui keterlibatan langsung dalam ritual, peserta belajar tentang pentingnya disiplin, tanggung jawab, penghormatan kepada sesama, serta kemampuan mengendalikan diri dalam berbagai situasi kehidupan. Dengan demikian, nilai etika dan moral dalam ritual Nyapuh Leger dikonstruksi melalui simbolsimbol penyucian, tata tertib ritual, peran tokoh agama, serta pengalaman langsung peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian upacara. Proses tersebut menjadikan ritual Nyapuh Leger sebagai media pendidikan Hindu yang berperan dalam menanamkan nilai susila, pengendalian diri, tanggung jawab, kedisiplinan, dan kesadaran moral yang berlandaskan ajaran dharma. Nilai Sosial Ritual Nyapu Ritual Nyapuh Leger dalam masyarakat Hindu Bali mengandung nilai sosial yang sangat penting dalam membangun keharmonisan, solidaritas, dan kohesi sosial masyarakat. Pelaksanaan ritual tidak dilakukan secara individual, melainkan melibatkan berbagai unsur masyarakat, seperti sulinggih, pemangku, dalang, serati banten, dosen, mahasiswa, yayasan, tokoh masyarakat, serta peserta ritual dalam suatu ikatan sosial yang bersifat kolektif. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger tidak hanya menjadi aktivitas keagamaan, tetapi juga menjadi ruang interaksi sosial yang memperkuat hubungan antarmasyarakat dan menumbuhkan rasa kebersamaan dalam kehidupan sosial Hindu Bali. Nilai sosial dalam ritual Nyapuh Leger dikonstruksi melalui partisipasi kolektif masyarakat dalam seluruh rangkaian kegiatan ritual, mulai dari tahap perencanaan, persiapan sarana upacara, pelaksanaan ritual, hingga kegiatan pasca-upacara. Proses tersebut menciptakan interaksi sosial yang intensif antaranggota masyarakat sehingga membangun rasa saling memiliki, saling membantu, dan tanggung jawab bersama terhadap keberlangsungan tradisi keagamaan. Dalam konteks ini, ritual menjadi media pembelajaran sosial yang memungkinkan masyarakat mengalami secara langsung nilainilai kebersamaan dan solidaritas melalui keterlibatan aktif dalam setiap tahapan Konstruksi nilai sosial tampak secara nyata melalui tradisi ngayah yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ritual Nyapuh Leger. Ngayah merupakan bentuk pengabdian sukarela yang dilakukan dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan material. Berdasarkan hasil observasi, dosen, mahasiswa, pemangku, serati banten, pengurus Yadnya Prawerti Parisada, serta masyarakat terlibat secara bersama-sama dalam mempersiapkan sarana upacara, menata tempat pelaksanaan, membersihkan lingkungan, menyusun banten, hingga membantu kelancaran prosesi ritual. Aktivitas tersebut tidak hanya bertujuan mendukung pelaksanaan upacara, tetapi juga menjadi sarana pendidikan sosial yang menanamkan nilai gotong royong, kepedulian, kerja sama, dan tanggung jawab sosial. Nilai sosial juga dikonstruksi melalui interaksi antargenerasi yang terjadi selama pelaksanaan ritual. Keterlibatan mahasiswa dan generasi muda dalam kegiatan ritual memberikan kesempatan untuk belajar langsung dari sulinggih, pemangku, dalang, serati banten, dan tokoh masyarakat mengenai tata cara ritual, nilai-nilai keagamaan, serta etika sosial yang berkembang dalam masyarakat Hindu Bali. Proses tersebut menciptakan ruang transfer pengetahuan dan pengalaman yang memperkuat kesinambungan sosial dan budaya. Sudarsana & Dewi . menjelaskan bahwa ritual keagamaan Hindu Bali memiliki peran penting dalam menjaga kohesi sosial karena menjadi ruang komunikasi budaya dan pembentukan identitas kolektif berbasis nilai religius dan adat istiadat lokal. Nilai sosial ritual Nyapuh Leger juga terlihat melalui sikap toleransi dan kebersamaan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH yang berkembang selama pelaksanaan upacara. Masyarakat dari berbagai latar belakang sosial, usia, profesi, dan tingkat pendidikan dapat terlibat secara harmonis tanpa memandang status sosial maupun ekonomi. Semua pihak menjalankan perannya masingmasing sesuai kemampuan dan tanggung jawab yang dimiliki. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger mengandung nilai persaudaraan, kesetaraan, dan solidaritas yang memperkuat harmoni sosial masyarakat Hindu Bali. Donder & Saputra . menyatakan bahwa ritual keagamaan Hindu Bali memiliki fungsi sosial dalam menciptakan harmoni masyarakat melalui penguatan nilai gotong royong, kebersamaan, dan interaksi sosial yang berlandaskan ajaran dharma. Di sisi lain, ritual Nyapuh Leger juga menjadi media pendidikan sosial bagi generasi muda Hindu Bali. Keterlibatan mahasiswa STKIP Agama Hindu Amlapura dalam berbagai aktivitas ritual memberikan pengalaman langsung mengenai pentingnya kerja sama, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kehidupan sosial masyarakat. Melalui pengalaman tersebut, generasi muda tidak hanya memahami nilai sosial secara teoretis, tetapi juga menghayatinya melalui praktik nyata dalam kehidupan Widana . menjelaskan bahwa keterlibatan generasi muda dalam ritual Hindu Bali berkontribusi terhadap pembentukan karakter sosial dan kesadaran budaya yang memperkuat identitas religius masyarakat Hindu Bali di era modern. Gambar 2. Peserta Ritual Nyapuh Leger (Sumber: Gatriyani, 2. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan Mantra dari Yadnya Prawerti Parisada yang menyatakan bahwa pelaksanaan Nyapuh Leger selalu melibatkan masyarakat secara bersama-sama. Dari proses persiapan sampai upacara selesai, mahasiswa dan dosen STKIP Agama Hindu Amlapura belajar tentang gotong royong, rasa saling membantu, dan kebersamaan dalam kehidupan sosial (Wawancara, 9 Maret Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa nilai sosial dalam ritual Nyapuh Leger dibangun melalui pengalaman partisipatif yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Melalui keterlibatan tersebut, peserta memperoleh pengalaman sosial secara langsung mengenai pentingnya solidaritas, kerja sama, dan tanggung jawab kolektif dalam kehidupan bermasyarakat. Hal senada juga diungkapkan oleh Badra selaku Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura yang menyatakan bahwa melalui ritual Nyapuh Leger, generasi muda belajar menghargai kerja sama, menghormati orang lain, dan memahami pentingnya hidup bermasyarakat. Nilai sosial seperti ini sangat penting untuk menghadapi tantangan individualisme di era modern (Wawancara, 8 Maret 2. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki fungsi edukatif yang signifikan dalam membentuk karakter sosial generasi muda. Pengalaman berinteraksi, bekerja sama, dan terlibat dalam kegiatan ritual menjadi sarana pembelajaran sosial yang efektif untuk menumbuhkan sikap empati, toleransi, dan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, nilai sosial dalam ritual Nyapuh Leger dikonstruksi melalui praktik ngayah, partisipasi kolektif, interaksi antargenerasi, serta pengalaman sosial yang dialami peserta selama pelaksanaan ritual. Proses tersebut menjadikan ritual Nyapuh Leger sebagai media pendidikan Hindu yang berperan dalam membentuk solidaritas sosial, memperkuat kohesi masyarakat, dan menanamkan karakter sosial yang berlandaskan nilai kebersamaan, gotong royong, dan harmoni kehidupan masyarakat Hindu Bali. Nilai Budaya Dan Pelestarian Tradisi Ritual Nyapuh Leger merupakan salah satu warisan budaya religius masyarakat Hindu Bali yang memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi lokal di tengah perkembangan zaman. Dalam masyarakat Bali, ritual keagamaan tidak hanya dipahami sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang menyatukan unsur agama, seni, adat, dan kehidupan sosial masyarakat. Pelaksanaan ritual Nyapuh Leger memperlihatkan tatanan masyarakat Hindu Bali mempertahankan nilai-nilai budaya leluhur melalui tata upacara, penggunaan simbol-simbol sakral, seni pertunjukan wayang, serta sistem gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun. Menurut penelitian Wirawan & Paramita . ritual Hindu Bali memiliki fungsi budaya yang sangat kuat karena menjadi media transmisi nilai tradisional dan penguatan identitas masyarakat lokal di tengah dinamika globalisasi budaya. Nilai budaya dalam ritual Nyapuh Leger tampak melalui keberadaan Wayang Sapuh Leger yang menjadi bagian utama dalam prosesi ruwatan. Wayang tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan tradisional, tetapi juga memiliki nilai filosofis dan edukatif yang mengandung ajaran moral, spiritual, dan kosmologi Hindu Bali. Cerita pewayangan yang ditampilkan dalam ritual menjadi media pendidikan budaya bagi masyarakat untuk memahami nilai dharma, keseimbangan hidup, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Penelitian Astiti & Yasa . menjelaskan bahwa seni pewayangan dalam ritual Hindu Bali merupakan bentuk ekspresi budaya yang berfungsi mempertahankan warisan tradisional sekaligus memperkuat kesadaran budaya generasi muda Hindu Bali. Selain itu, ritual Nyapuh Leger memiliki fungsi penting dalam menjaga kesinambungan budaya lokal melalui proses pewarisan tradisi secara kolektif dalam lingkungan keluarga dan masyarakat adat. Pelibatan generasi muda dalam setiap tahapan ritual menjadi sarana pembelajaran budaya yang berlangsung secara langsung dan berkesinambungan. Anak-anak dan remaja diperkenalkan pada tata cara upacara, makna simbolik sarana ritual, bahasa ritual, dan nilai-nilai adat yang hidup dalam masyarakat Bali. Penelitian Pradnyana & Dewi . menegaskan bahwa partisipasi generasi muda dalam ritual keagamaan Hindu Bali mampu memperkuat literasi budaya serta meningkatkan kesadaran identitas lokal di tengah pengaruh budaya modern dan media digital. Di era modernisasi, keberadaan ritual Nyapuh Leger juga menjadi benteng budaya masyarakat Hindu Bali dalam menghadapi homogenisasi budaya global. Perubahan pola hidup masyarakat modern sering kali menyebabkan berkurangnya minat generasi muda terhadap tradisi lokal. Oleh karena itu, ritual keagamaan berbasis budaya lokal memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi nilai-nilai tradisional masyarakat Bali. Penelitian Nugraha & Santika . menunjukkan bahwa pelestarian ritual adat dan budaya Hindu Bali mampu memperkuat ketahanan budaya masyarakat karena ritual menjadi ruang sosial yang mempertahankan memori kolektif, identitas religius, dan solidaritas budaya masyarakat Bali. Nilai budaya dan pelestarian tradisi dalam ritual Nyapuh Leger juga terlihat dari keterlibatan berbagai unsur seperti akademisi, pemangku, dalang, tokoh adat, seniman, dan keluarga dalam menjaga keberlangsungan ritual. Kolaborasi sosial tersebut https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH menciptakan ruang budaya yang memperkuat hubungan antargenerasi dan memperkaya pengalaman budaya masyarakat. Penelitian Sari & Wibawa . menjelaskan bahwa ritual Hindu Bali memiliki fungsi kultural sebagai media rekonstruksi identitas masyarakat melalui pelestarian simbol, seni, bahasa, dan praktik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam konteks tersebut, ritual Nyapuh Leger tidak hanya mempertahankan tradisi masa lalu, tetapi juga menjadi bentuk adaptasi budaya yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali modern. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu Dosen STKIP Agama Hindu Amlapura, bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki makna budaya yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Hindu Bali. Apriani menyatakan. Nyapuh Leger mengajarkan masyarakat untuk tetap menjaga budaya leluhur melalui ritual, seni, dan adat istiadat Bali. Tradisi ini menjadi cara masyarakat Hindu Bali mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan zaman (Wawancara, 9 Maret 2. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger menjadi sarana pewarisan budaya yang memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai-nilai tradisional Hindu Bali. Hal serupa juga diungkapkan oleh mahasiswa prodi Pendidikan Bahas Bali, pendidikan Hindu perlu berperan aktif dalam pelestarian budaya Pradita menyatakan. Tradisi Hindu Bali seperti Nyapuh Leger harus dipahami bukan sekadar upacara, tetapi sebagai sumber pembelajaran budaya dan identitas Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mendokumentasikan, mengkaji, dan melestarikan tradisi tersebut secara akademik (Wawancara, 8 Maret 2. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki relevansi penting dalam penguatan pendidikan budaya dan pelestarian tradisi Hindu Bali secara Dengan demikian, ritual Nyapuh Leger mengandung nilai budaya yang sangat penting dalam menjaga eksistensi tradisi Hindu Bali di era modern. Ritual ini menjadi media pelestarian warisan budaya, pendidikan identitas lokal, dan penguatan solidaritas budaya Hindu Bali melalui integrasi nilai spiritual, seni, adat, dan kehidupan sosial masyarakat secara harmonis. Pendidikan Karakter Religius Ritual Nyapuh Leger merupakan salah satu warisan budaya religius masyarakat Hindu Bali yang memiliki peranan penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi lokal di tengah perkembangan zaman. Dalam masyarakat Bali, ritual keagamaan tidak hanya dipahami sebagai kewajiban spiritual, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang mengintegrasikan unsur agama, seni, adat istiadat, dan kehidupan sosial masyarakat. Pelaksanaan ritual Nyapuh Leger memperlihatkan bagaimana masyarakat Hindu Bali mempertahankan dan mewariskan nilai-nilai budaya leluhur melalui tata upacara, penggunaan simbol-simbol sakral, seni pertunjukan wayang, bahasa ritual, serta sistem sosial yang diwariskan secara turun-temurun. Wirawan & Paramita . menjelaskan bahwa ritual Hindu Bali memiliki fungsi budaya yang kuat karena menjadi media transmisi nilai tradisional sekaligus penguatan identitas budaya masyarakat di tengah dinamika globalisasi. Nilai budaya dalam ritual Nyapuh Leger dikonstruksi melalui berbagai unsur budaya yang terlibat dalam pelaksanaan ritual. Salah satu unsur yang paling menonjol adalah keberadaan Wayang Sapuh Leger sebagai media utama dalam prosesi ruwatan. Wayang tidak hanya berfungsi sebagai sarana ritual, tetapi juga sebagai media pewarisan pengetahuan budaya dan religius. Melalui tokoh-tokoh pewayangan, alur cerita, dialog, mantra, dan simbol-simbol yang ditampilkan, masyarakat memperoleh pemahaman mengenai konsep dharma, karma phala, keseimbangan hidup, serta hubungan manusia dengan kekuatan kosmis. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Dengan demikian, pertunjukan wayang menjadi ruang edukatif yang menghubungkan nilai budaya dengan ajaran Hindu secara kontekstual. Peran jero dalang dalam ritual Nyapuh Leger juga menunjukkan proses konstruksi nilai budaya yang penting. Dalang tidak hanya bertindak sebagai pelaku seni pertunjukan, tetapi juga sebagai pewaris pengetahuan tradisional yang memahami lontar Dharma Pewayangan dan Kala Tattwa. Melalui pementasan wayang, dalang mentransmisikan nilai-nilai budaya, sejarah tradisi, dan ajaran moral kepada masyarakat. Dengan demikian, dalang berperan sebagai agen pendidikan budaya yang menjaga kesinambungan tradisi pewayangan sakral dalam masyarakat Hindu Bali. Selain melalui wayang, nilai budaya juga dikonstruksi melalui penggunaan berbagai sarana ritual seperti banten, mantra, bahasa ritual, busana adat, serta tata pelaksanaan upacara yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap unsur tersebut mengandung makna budaya yang mencerminkan identitas masyarakat Hindu Bali. Proses pembuatan banten, misalnya, tidak hanya berfungsi sebagai persiapan upacara, tetapi juga menjadi media transfer pengetahuan budaya dari generasi yang lebih tua kepada generasi Dalam proses tersebut, peserta belajar mengenai simbol-simbol upacara, nilai estetika, filosofi yadnya, dan tata cara pelaksanaan ritual sesuai tradisi Bali. Nilai budaya ritual Nyapuh Leger juga dibangun melalui keterlibatan berbagai aktor sosial yang memiliki peran berbeda namun saling melengkapi. Sulinggih, pemangku, dalang, serati banten, tokoh masyarakat, keluarga peserta, akademisi, dosen, mahasiswa, serta lembaga pendidikan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan ritual. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas adat, tetapi juga melibatkan institusi pendidikan dan generasi muda sebagai pewaris budaya di masa depan. Proses pewarisan budaya tampak secara nyata melalui partisipasi generasi muda dalam seluruh rangkaian ritual. Mahasiswa STKIP Agama Hindu Amlapura yang terlibat dalam kegiatan ritual tidak hanya berfungsi sebagai peserta, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar budaya secara langsung. Mereka berinteraksi dengan sulinggih, pemangku, dalang, dan masyarakat sehingga memperoleh pemahaman mengenai tata nilai budaya Hindu Bali yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran formal di kelas. Pradnyana & Dewi . menjelaskan bahwa partisipasi generasi muda dalam ritual keagamaan Hindu Bali berkontribusi terhadap peningkatan literasi budaya dan penguatan identitas lokal di tengah pengaruh budaya global. Dalam konteks modernisasi, ritual Nyapuh Leger juga berfungsi sebagai ruang konservasi budaya yang mempertahankan memori kolektif masyarakat Hindu Bali. Ketika berbagai tradisi lokal menghadapi tantangan perubahan sosial dan budaya global, ritual ini tetap menjadi sarana untuk memperkenalkan, mempraktikkan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya leluhur. Nugraha & Santika . menyatakan bahwa pelestarian ritual adat dan budaya Hindu Bali mampu memperkuat ketahanan budaya masyarakat karena ritual menjadi ruang sosial yang menjaga identitas religius, solidaritas budaya, dan kesinambungan tradisi lokal. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan Apriani selaku dosen menyatakan bahwa Nyapuh Leger mengajarkan masyarakat untuk tetap menjaga budaya leluhur melalui ritual, seni, dan adat istiadat Bali. Tradisi ini menjadi cara masyarakat Hindu Bali mempertahankan identitas budaya di tengah perubahan zaman (Wawancara, 9 Maret 2. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger tidak hanya berfungsi sebagai praktik keagamaan, tetapi juga sebagai mekanisme pewarisan budaya yang memperkuat hubungan masyarakat dengan tradisi dan identitas Hindu Bali. Hal serupa diungkapkan oleh Pradita selaku mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Bali menyatakan bahwa tradisi Hindu Bali seperti Nyapuh Leger harus dipahami bukan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH sekadar upacara, tetapi sebagai sumber pembelajaran budaya dan identitas masyarakat. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mendokumentasikan, mengkaji, dan melestarikan tradisi tersebut secara akademik (Wawancara, 8 Maret 2. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki relevansi penting sebagai media pendidikan budaya yang menghubungkan tradisi lokal dengan dunia akademik. Keterlibatan perguruan tinggi dalam pelaksanaan ritual menjadi bentuk konkret upaya pelestarian budaya melalui dokumentasi, penelitian, dan penguatan literasi budaya bagi generasi muda. Dengan demikian, nilai budaya dalam ritual Nyapuh Leger tidak hanya tampak pada keberadaan simbol, seni, dan tradisi yang menyertainya, tetapi dikonstruksi melalui proses pewarisan pengetahuan budaya, keterlibatan aktor-aktor budaya, partisipasi generasi muda, serta pengalaman kolektif masyarakat dalam melaksanakan ritual. Proses tersebut menjadikan Nyapuh Leger sebagai media pendidikan budaya yang berperan dalam menjaga keberlanjutan tradisi, memperkuat identitas Hindu Bali, dan membangun ketahanan budaya masyarakat di tengah perubahan sosial dan globalisasi. Kolaborasi Yadnya Prawerti Parisada dan STKIP Agama Hindu Amlapura dalam Penguatan Pendidikan Hindu Kolaborasi antara Yadnya Prawerti Parisada dan STKIP Agama Hindu Amlapura merupakan bentuk sinergi antara lembaga keagamaan dan institusi pendidikan tinggi Hindu dalam memperkuat pendidikan berbasis spiritualitas, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Bali. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang semakin memengaruhi pola pikir generasi muda, pendidikan Hindu menghadapi tantangan dalam mempertahankan nilai religius, identitas budaya, dan karakter spiritual masyarakat Hindu Bali. Oleh karena itu, kerja sama antara lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan menjadi sangat penting untuk membangun sistem pendidikan Hindu yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga penguatan moral, spiritual, dan budaya masyarakat. Menurut penelitian Suryana & Pranata . pendidikan berbasis budaya lokal memiliki peran strategis dalam menjaga identitas religius masyarakat Hindu di tengah perubahan sosial modern karena mampu mengintegrasikan nilai spiritual dengan realitas kehidupan kontemporer. Sinergi lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan dalam konteks ritual Nyapuh Leger ini merupakan kegiatan edukatif, pelatihan ritual keagamaan, diskusi akademik, penelitian dan pengabdian masyarakat berbasis nilai-nilai Hindu Bali. Kegiatan tersebut menjadi media pembelajaran kontekstual yang memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai praktik tattwa, susila, dan acara dalam Agamaa Hindu di Bali. Penelitian Haryanto & Subagia . menjelaskan bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan komunitas keagamaan mampu meningkatkan efektivitas pendidikan karakter melalui pendekatan partisipatif dan berbasis pengalaman budaya lokal. Dalam konteks tersebut, keterlibatan mahasiswa dalam ritual Nyapuh Leger memperlihatkan bahwa pendidikan Hindu tidak hanya berlangsung secara teoretis di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi sosial dan praktik budaya masyarakat. Selain itu, kolaborasi Yadnya Prawerti Parisada dan STKIP Agama Hindu Amlapura memiliki kontribusi penting dalam pelestarian tradisi berbasis akademik. Ritual dan tradisi Hindu Bali tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikaji secara ilmiah melalui penelitian, publikasi akademik, dokumentasi budaya, dan kegiatan pengabdian masyarakat. Pendekatan akademik terhadap tradisi lokal memungkinkan generasi muda memahami makna filosofis dan nilai edukatif ritual Hindu Bali secara lebih rasional dan sistematis. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Penelitian Arimbawa & Lestari . menegaskan bahwa integrasi budaya lokal dalam pendidikan tinggi berbasis Hindu mampu memperkuat literasi budaya dan kesadaran identitas religius mahasiswa di tengah pengaruh budaya global. Oleh sebab itu, ritual Nyapuh Leger menjadi media experiential learning yang menghubungkan teori akademik dengan praktik budaya dan spiritual masyarakat Hindu Bali. Kolaborasi kedua lembaga tersebut juga mencerminkan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pada aspek pendidikan, mahasiswa memperoleh pemahaman kontekstual mengenai nilai spiritual dan budaya Hindu melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan ritual masyarakat. Dalam bidang penelitian, dosen dan mahasiswa melakukan kajian ilmiah mengenai tradisi Hindu Bali sebagai bentuk pengembangan ilmu pengetahuan berbasis budaya lokal. Sementara itu, pada bidang pengabdian masyarakat, perguruan tinggi berperan aktif dalam memberikan edukasi spiritual dan pelestarian budaya Hindu kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan keagamaan. Penelitian Mahardika & Putri . menunjukkan bahwa implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan kesadaran sosial, spiritual, dan budaya mahasiswa sekaligus memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat dan lembaga keagamaan. Gambar 3. Bentuk Kolaborasi Yadnya Prawerti Parisada dan STKIP Agama Hindu Amlapura (Sumber: Gatriyani, 2. Di sisi lain, kolaborasi tersebut berkontribusi besar terhadap penguatan pendidikan spiritual. Ritual Nyapuh Leger dan berbagai kegiatan religius yang dilakukan bersama menjadi sarana internalisasi nilai-nilai spiritual, moral, dan sosial. Pendidikan spiritual yang berbasis budaya lokal menjadi penting di tengah meningkatnya krisis moral, individualisme, dan melemahnya kesadaran religius generasi muda akibat pengaruh modernisasi. Penelitian Kumar & Singh . menjelaskan bahwa ritual keagamaan dalam tradisi Hindu memiliki fungsi pedagogis dan spiritual karena mampu membentuk keseimbangan emosional, pengendalian diri, dan kesadaran moral masyarakat melalui pengalaman religius kolektif. Dengan demikian, kerja sama antara lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan tidak hanya memperkuat aspek akademik pendidikan Hindu, tetapi juga membangun fondasi spiritual masyarakat yang harmonis dan berkarakter. Berdasarkan hasil wawancara terkait kerja sama dengan STKIP Agama Hindu Amlapura bertujuan menjaga keberlanjutan pendidikan Hindu yang berbasis budaya dan spiritualitas lokal. Badra menyatakan bahwa kolaborasi ini penting agar generasi muda Hindu tetap memahami akar budaya dan spiritualitasnya. Ritual Hindu seperti Nyapuh Leger mengandung nilai pendidikan moral, sosial, dan spiritual yang perlu diwariskan melalui pendekatan akademik maupun praktik langsung di masyarakat (Wawancara, 9 Maret 2. Pernyataan tersebut menunjukkan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH bahwa sinergi antara lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan nilai-nilai Hindu Bali di tengah tantangan Hal senada juga disampaikan oleh Sekretaris Yayasan Parisada Amlapura yang menegaskan bahwa pendidikan tinggi Hindu harus mampu membangun keseimbangan antara pengembangan akademik dan pelestarian budaya spiritual Arnawa selaku Sekretaris Yayasan menyatakan bahwa perguruan tinggi Hindu memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak lulusan akademis, tetapi juga membentuk generasi yang memahami budaya, spiritualitas, dan nilai kemasyarakatan Hindu Bali. Kolaborasi dengan lembaga keagamaan menjadi bagian penting dalam implementasi pendidikan Hindu yang kontekstual dan berbasis kearifan lokal (Wawancara, 8 Maret 2. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kolaborasi kedua lembaga menjadi model penguatan pendidikan Hindu yang integratif, humanis, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. Dengan demikian, kolaborasi antara Yadnya Prawerti Parisada dan STKIP Agama Hindu Amlapura memiliki relevansi yang sangat penting dalam penguatan pendidikan Hindu di era modern. Sinergi antara lembaga pendidikan dan lembaga keagamaan tidak hanya mendukung pelestarian tradisi Hindu Bali secara akademik, tetapi juga memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi serta membangun pendidikan spiritual masyarakat berbasis nilai budaya, religius, dan karakter Hindu Bali. Relevansi Ritual Nyapuh Leger Terhadap Penguatan Landasan Pendidikan Hindu di Era Modern Perkembangan modernisasi dan globalisasi telah membawa perubahan yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat Hindu Bali, khususnya dalam pola pikir, orientasi nilai, dan praktik keberagamaan generasi muda. Kemajuan teknologi informasi, budaya digital, dan meningkatnya kecenderungan individualisme berimplikasi pada berkurangnya keterikatan sebagian generasi muda terhadap tradisi keagamaan dan kearifan lokal. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pendidikan Hindu yang tidak hanya bertugas mentransformasikan pengetahuan keagamaan secara kognitif, tetapi juga membentuk karakter, kesadaran spiritual, dan identitas budaya peserta didik. Dalam konteks ini, ritual Nyapuh Leger memiliki relevansi yang kuat sebagai sumber pendidikan Hindu berbasis budaya lokal karena mengandung landasan filosofis, religius, dan aksiologis yang dapat diinternalisasikan dalam proses pendidikan Hindu Pendidikan Hindu sendiri dibangun atas kesatuan tattwa, susila, dan acara sebagai kerangka dasar pembentukan manusia yang beriman, berkarakter, dan berbudaya. Relevansi Terhadap Landasan Filosofis Pendidikan Hindu Secara filosofis, ritual Nyapuh Leger merepresentasikan pandangan hidup Hindu mengenai hakikat manusia, alam semesta, dan hubungan keduanya dalam tatanan kosmis. Landasan filosofis pendidikan Hindu bertumpu pada ajaran tattwa yang menekankan pencarian kebenaran, pemahaman hakikat kehidupan, serta kesadaran akan keberadaan hubungan antara bhuana alit . dan bhuana agung . Dalam ritual Nyapuh Leger, konsep tersebut tampak melalui keyakinan bahwa manusia harus senantiasa menjaga keseimbangan lahir dan batin agar tercipta keharmonisan hidup secara sekala dan niskala. Prosesi penyucian yang dilakukan bukan semata-mata dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh negatif secara simbolik, tetapi mengandung pesan filosofis bahwa manusia perlu melakukan pengendalian diri, refleksi batin, dan penyelarasan diri dengan hukum dharma. Melalui proses tersebut, peserta ritual diajak memahami bahwa kehidupan tidak hanya diukur dari aspek material, tetapi juga dari kualitas spiritual dan moral yang dimiliki. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pandangan tersebut diperkuat oleh Badra selaku Ketua STKIP Agama Hindu Amlapura yang menyatakan bahwa ritual Nyapuh Leger mengandung nilai tattwa yang sangat mendalam karena mengajarkan manusia untuk memahami hakikat kesucian diri, hubungan dengan alam semesta, serta pentingnya menjaga keseimbangan hidup sesuai ajaran Hindu (Wawancara, 8 Maret 2. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki relevansi filosofis sebagai media pembelajaran kontekstual yang membantu generasi muda memahami nilai-nilai tattwa secara nyata melalui pengalaman religius yang hidup di tengah masyarakat. Dengan demikian, ritual ini berkontribusi dalam memperkuat landasan filosofis pendidikan Hindu yang menekankan kesadaran spiritual, keseimbangan kosmis, dan pencarian makna hidup berdasarkan dharma. Relevansi Terhadap Landasan Religius Pendidikan Hindu Landasan religius pendidikan Hindu berkaitan dengan penguatan sraddha dan bhakti sebagai dasar pembentukan manusia Hindu yang religius. Pendidikan Hindu tidak hanya bertujuan mengembangkan pengetahuan keagamaan, tetapi juga membangun kesadaran spiritual yang diwujudkan melalui praktik yadnya, bhakti, dan penghayatan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dal hal ini ritual Nyapuh Leger memiliki relevansi yang kuat dengan landasan religius tersebut karena seluruh rangkaian prosesi ritual mengarahkan peserta pada pengalaman keberagamaan yang nyata. Pelaksanaan doa bersama, persembahan banten, penggunaan tirta penglukatan, pembacaan mantra, serta prosesi ruwatan menjadi sarana pendidikan religius yang membangun kesadaran akan keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai sumber Selain itu, ritual ini mengajarkan pentingnya yadnya sebagai bentuk pengorbanan suci yang dilakukan dengan tulus dan ikhlas. Melalui keterlibatan dalam ritual, peserta tidak hanya memahami konsep keagamaan secara teoretis, tetapi juga mengalami secara langsung praktik bhakti dan pelayanan spiritual dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali. Menurut Mantra selaku Ketua Yayasan Yadnya Prawerti Parisada menyatakan bahwa di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, generasi muda Hindu sangat membutuhkan pendidikan spiritual yang berbasis budaya Nyapuh Leger mengajarkan nilai kesucian diri, bhakti kepada Tuhan, dan pengendalian pikiran yang sangat penting dalam kehidupan saat ini (Wawancara, 10 Maret 2. Hal serupa disampaikan oleh Ida Sulinggih Swabawa yang menjelaskan bahwa pelaksanaan Nyapuh Leger bukan hanya bertujuan melakukan penyucian secara ritual, tetapi juga membangun kesadaran umat untuk semakin dekat dengan Tuhan melalui pelaksanaan yadnya dan penghayatan ajaran dharma. Temuan tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki relevansi religius yang kuat karena mampu memperkuat dimensi sraddha dan bhakti peserta didik melalui pengalaman spiritual yang konkret. Oleh karena itu, ritual ini dapat dipandang sebagai bentuk pendidikan keagamaan nonformal yang mendukung penguatan landasan religius pendidikan Hindu. Relevansi Terhadap Landasan Aksiologis Pendidikan Hindu Landasan aksiologis pendidikan Hindu berkaitan dengan nilai guna atau manfaat pendidikan dalam membentuk perilaku, karakter, dan kualitas hidup manusia. Dalam perspektif pendidikan Hindu, pengetahuan tidak hanya untuk diketahui, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang mencerminkan nilai dharma, etika, dan tanggung jawab sosial. Ritual Nyapuh Leger memiliki nilai aksiologis yang tinggi karena mengandung berbagai nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengendalian diri, tanggung jawab moral, disiplin spiritual, gotong royong, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap budaya dan tradisi leluhur. Nilai-nilai tersebut tidak diajarkan melalui ceramah atau teori semata, melainkan dikonstruksi melalui keterlibatan langsung peserta dalam seluruh rangkaian ritual. Kegiatan persiapan upacara, pembuatan https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH banten, pelaksanaan ngayah, keterlibatan dalang, sulinggih, pemangku, mahasiswa, dosen, dan masyarakat menunjukkan bahwa ritual ini menjadi ruang belajar sosial yang mempertemukan nilai religius, moral, dan budaya dalam satu pengalaman kolektif. Apriani selaku dosen STKIP Agama Hindu Amlapura menyatakan bahwa dalam perspektif pendidikan Hindu. Nyapuh Leger mengandung nilai tattwa, susila, dan acara secara utuh. Mahasiswa belajar bukan hanya memahami teori, tetapi mengalami langsung nilai-nilai religius, etika, dan budaya yang hidup dalam Masyarakat (Wawancara, 8 Maret Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki manfaat praktis sebagai media pembentukan karakter yang kontekstual. Melalui keterlibatan langsung dalam ritual, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang mampu menumbuhkan kesadaran moral, identitas budaya, dan tanggung jawab sosial secara Implikasi Bagi Pendidikan Hindu di Era Modern Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger memiliki potensi yang signifikan sebagai sumber pembelajaran kontekstual dalam pendidikan Hindu berbasis kearifan lokal. Keterlibatan mahasiswa STKIP Agama Hindu Amlapura dalam rangkaian ritual memperlihatkan bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran formal di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung dalam kehidupan religius dan budaya masyarakat. Melalui partisipasi dalam ritual, peserta didik memperoleh kesempatan untuk memahami nilai tattwa, susila, dan acara secara terpadu melalui praktik nyata yang hidup dalam masyarakat Hindu Bali. Selain itu, ritual Nyapuh Leger dapat menjadi media penguatan pendidikan karakter, pendidikan budaya, dan pendidikan identitas Hindu bagi generasi muda. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, gotong royong, bhakti, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap tradisi diwariskan melalui pengalaman partisipatif yang memungkinkan terjadinya internalisasi nilai secara lebih mendalam dibandingkan pembelajaran yang bersifat teoretis. Temuan ini sejalan dengan pernyataan Mantra selaku Ketua Yayasan Yadnya Prawerti Parisada yang menegaskan bahwa generasi muda Hindu memerlukan pendidikan spiritual berbasis budaya lokal agar mampu menghadapi tantangan modernisasi tanpa kehilangan identitas religius dan budayanya. Pandangan tersebut diperkuat oleh Badra yang menyatakan bahwa pendidikan Hindu perlu memberikan pengalaman langsung melalui keterlibatan dalam ritual dan tradisi keagamaan sehingga nilai-nilai Hindu dapat terinternalisasi secara utuh dalam kehidupan peserta didik (Wawancara, 8 Maret 2. Gambar 4. Dosen dan Mahasiswa STKIP Agama Hindu Amlapura Dalam Praktik Pembuatan Upakara Nyapuh Leger (Sumber: Gatriyani, 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Pada akhirnya, ritual Nyapuh Leger tidak hanya relevan sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga berkontribusi sebagai sumber belajar yang memperkuat landasan filosofis, religius, dan aksiologis pendidikan Hindu. Ritual ini menjadi model pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan spiritualitas, karakter, budaya, dan pengalaman religius dalam satu kesatuan yang utuh sehingga dapat mendukung penguatan identitas dan kualitas generasi muda Hindu di era modern. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa ritual Nyapuh Leger tidak hanya berfungsi sebagai ritual penyucian, tetapi juga sebagai media pendidikan Hindu yang mengonstruksi nilai spiritual, etika dan moral, sosial, serta budaya melalui praktik ritual yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai tersebut berkesesuaian dengan landasan filosofis, religius, dan aksiologis pendidikan Hindu sehingga membentuk kesadaran spiritual, karakter religius, tanggung jawab sosial, dan identitas budaya peserta ritual. Oleh karena itu, ritual Nyapuh Leger memiliki relevansi penting sebagai sumber pendidikan Hindu berbasis kearifan lokal yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan karakter, pembelajaran kontekstual, dan pelestarian budaya Hindu Bali di era Daftar Pustaka