Sabtian Sarwoko, dkk DETERMINAN KEJADIAN DIARE PADA ANAK BALITA DI KELURAHAN SEKARJAYA UPTD PUSKESMAS SEKARJAYA KABUPATEN OKU Sabtian Sarwoko S1 Yulis Marita2 Eka Joni Yansyah3 1,2,3 Program Studi S. 1 Kesehatan Masyarakat STIKES Al-MaAoarif Baturaja Jl. Dr. Hatta No. 687-B. Sukaraya. Kec. Baturaja Timur. Kabupaten Ogan Komering Ulu Email: sabtian. sarwoko@yahoo. id1, yulismarita88@gmail. com2, joniyansyah. eka@gmail. ABSTRAK Salah satu penyebab meningkatnya insiden penyakit dan kematian anak bawah lima tahun adalah Penyakit diare. Sebagian besar diare disebabkan oleh terkontaminasinya air minum dan makanan yang dikonsumsi. Penelitian ini menggunakan Cross Sectional, dengan populasinya adalah anak balita di Kelurahan Sekarjaya yaitu 152 balita dan didapat kan jumlah sampel sebanyak 110 sampel. Analisa univariat menunjukan dari 110 responden sebanyak 41 . 3%) balita yang pengetahuan ibu kurang, dan pengetahuan ibu baik sebanyak 69 . 7%). Mutu air yang tidak memenuhi standar kualitas fisik air ada 33 . 0%) dan mutu fisik air memenuhi standar kualitas fisik air sebanyak 77 . 0 %). Kdebiasaan mencuci tangan kurang baik sebanyak 37 . 6%) dan kebiasaan mencuci tangan baik sebanyak 73 . 4%). Dari Analisa Bivariat menunjukkan hasil terdapat hubungan pengetahuan ibu, kualitas fisik air, cuci tangan dengan kejadian diare pada balita dengan nilai p 0,004, 0,001 dan 0,000. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ada keterkaitan pengetahuan ibu, kualitas fisik air dan cuci tangan dengan kejadian diare pada Saran untuk petugas kesehatan lebih aktif mengedukasi masyarakat tentang pencegahan penyakit diare, dan kualitas air yang memenuhi standar untuk dionsumsi dan cara mencuci tangan yang benar Kata kunci: Diare, pengetahuan, standar kualitas fisik air, mencuci tangan ABSTRACT One of the causes of increasing incidence of disease and death in children under five is Most diarrhea is caused by contaminated drinking water and food consumed. This study used Cross Sectional, with the population being toddlers in Sekarjaya Village, namely 152 toddlers and a sample size of 110 samples was obtained. Univariate analysis showed that out of 110 respondents, 41 . 3%) toddlers had poor maternal knowledge, and 69 . 7%) had good maternal knowledge. The water quality that did not meet the physical water quality standards was 33 . 0%) and the physical water quality met the physical water quality standards was 77 . 0%). Poor hand washing habits were 37 . 6%) and good hand washing habits were 73 . 4%). From the Bivariate Analysis, the results showed that there was a relationship between maternal knowledge, physical quality of water, hand washing with the incidence of diarrhea in toddlers with p values of 0. 001 and 0. The conclusion of this study is that there is a relationship between maternal knowledge, physical quality of water and hand washing with the incidence of diarrhea in toddlers. Suggestions for health workers to be more active in educating the public about preventing diarrheal diseases, and water quality that meets standards for consumption and how to wash hands properly. Keywords: Diarrhea, knowledge, physical quality standards of water, washing hands Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sabtian Sarwoko, dkk PENDAHULUAN Penyakit menular adalah isu kesehatan. masyarakat yang kerap muncul di negaranegara berkembang seperti Indonesia. Penyakit menular telah menjadi masalah global akibat menyebabkan tingginya angka cedera dan fatalitas dalam jangka waktu yang relatif Pendek. Penyakit menular termasuk dalam segitiga. Epidemiologi mencakup host, agen, dan lingkungan. Diare merupakan salah Satu penyakit menular. Diare adalah salah satu faktor peningkatan angka rasa sakit dan kehilangan anak di seluruh dunia. Penyebab diare Kematian anak balita mencapai sekitar 000 setiap tahun, mayoritas disebabkan oleh terkontaminasinya sumber air minuman dan makanan (Achmadi, 2. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, diare merupakan kondisi buang air besar dengan tekstur lunak hingga cair lebih dari tiga kali dalam sehari. Diare akut terjadi dalam 3-7 hari. Diare merupakan indikasi terjadinya infeksi pada sistem pencernaan yang disebabkan oleh organisme seperti bakteri, virus, dan parasit. Infeksi dapat menyebar terkontaminasi, atau dari orang ke orang akibat sanitasi yang buruk (Zikof dan Indriani , 2. Menurut data Word Health Organization (WHO) 2017 diare ada pada urutan kelima dalam sepuluh penyebab kematian di negara Di Nigeria diare pada balita memberikan kontribusi mencapai 21% dari total kematian. Diare mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan besar pada negara-negara berkembang di Afrika (WHO, 2. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018, kasus diare berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan mencapai 6,8% dengan kelompok usia terbanyak pada usia 14 tahun yaitu 11,5% dan pada bayi sebesar 9%. Prevalensi kejadian diare pada anak balita di Sumatera Selatan mencatat 10,1% (Kemenkes RI, 2. Data Prevalensi diare pada anak balita di Sumatera Selatan pada tahun 2019, proporsi kasus mencapai 46,5% dari total kasus. pada anak kecil. Tahun 2020 mencapai 31,5%. Tahun 2021 sekitar 35%(Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, 2. Berdasarkan informasi yang ada, peneliti memiliki ketertarikan untuk menyelidiki mengenai Determinan Kejadian Diare Pada Balita Di Kelurahan Sekarjaya Puskesmas Sekarjaya Kabupaten Ogan Komering Ulu tahun 2022. METODE PENELITIAN Desain Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional, dimana variabel independen dan dependen diteliti secara bersamaan. Waktu danTempat Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai bulan Juli 2022 di wilayah Kerja UPTD Puskesmas Sekar Jaya Kabuapaten Ogan Komering Ulu. Subjek Penelitian Populasi yang digunakan adalah balita usia 1 sampai 5 tahun yang ada di Kelurahan Sekarjaya yaitu 152 balita. Yang menjadi sampel penelitian ini yaitu 110 anak balita, dengan Teknik simple random sampling. Prosedur Prosedur penelitian dilakukan dengan empat Tahap pertama, yaitu perizinan dari institusi dari tempat penelitian. Tahap kedua, yaitu pengisian informed consent yang menyatakan bahwa responden setuju untuk mengikuti proses penelitian. Tahap ketiga, melakukan pengumpulan data mengisi lembar observasi responden yang dipandu dengan kuesioner penelitian. Tahap keempat, melakukan pengolahan data dan analisa data. Data. Instrumen. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh langsung melalui wawancara dengan responden yang berhubungan dengan variabel penelitian dan selanjutnya akan Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner. Teknik Analisa Data Analisa data terdiri dari dua tahap. Tahap Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sabtian Sarwoko, dkk pertama yaitu analisis univariat digunakan untuk engetahui distribusi frekuensi dari setiap variabel yang diteliti. Tahap kedua yaitu analisis bivariat ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Analisa data menggunakan uji ststistik ChiSquare dengan derajat kemaknaan 5% . mencuci tangan kurang baik dan kebiasaan mencuci tangan baik sebanyak 73 . ,4%) Analisis Bivariat Tabel 2 Analisis Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen Variabel HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Tabel 1 Distribusi frekuensi variabel yang diteliti Pengetahuan ibu Kurang baik Baik Variabel Frekuensi Persentase (%) Kejadian Diare 1 Diare 2 Tidak Diare Pengetahuan Ibu 1 Kurang 2 Baik Kualitas Fisik Air 1 Tidak 2 Memenuhi Standar Kebiasaan Mencuci Tangan 1 Kurang Baik. 2 Baik. Berdasarkan Tabel 1 dari 110 responden menunjukkan bahwa sebanyak 25 . balita berstatus Diare dan 85 . ,3%) balita yang tidak diare. Berdasarkan Tabel 1 dari 110 responden menunjukkan bahwa sebanyak 41 . 3%) Pengetahuan ibu kurang dan pengetahuan ibu baik sebanyak 69 . ,7%). Berdasarkan Tabel 1 dari 110 responden menunjukkan bahwa sebanyak 33 . 0%) responden dengan Kualitas fisik air tidak memenuhi standar sebanyak dan kualitas fisik air memenuhi standar 77 . %). Berdasarkan Tabel 1 dari 110 responden menunjukkan bahwa sebanyak 37 . 6%) responden dengan Kebiasaan Kejadian Diare Jumlah Nilai A Diare Tidak Diare 0% 61. 0% 100. 0% 87. 0% 100. Kualitas fisik Air Tidak Memenuhi 15 Memenuhi Standar Kebiasaan mencuci Kurang Baik Baik 5% 100. 0% 100. 1% 100. 0% 100. Berdasarkan Tabel 2. Dari 110 Responden terdapat 16 . ,0%) Ibu dengan pengetahuan kurang baik dan balita menderita diare lebih besar dibandingkan ibu dengan pengetahuan baik dan balita menderita diare sebesar 9 . %). Hasil analisis Bivariat menggunakan chi-square menunjukkan nilai p 0,004 yang berarti ada hubungan bermakna antara pengetahuan ibu dengan kejadian diare pada balita. Berdasarkan Tabel 2. Dari 110 Responden dengan kualitas fisik air tidak memenuhi standar dan balita terkena diare sebanyak 15 . ,5%) lebih besar dibandingkan dengan responden dengan kualitas fisik air memenuhi standar dan balita terkena diare sebanyak 10 . ,0%). Hasil analisis Bivariat menggunakan chi-square menunjukkan nilai p 0,001 yang Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sabtian Sarwoko, dkk berarti ada hubungan bermakna antara kualitas fisik air dengan kejadian diare pada Berdasarkan Tabel 2. Dari 110 Responden dengan kebiasaan cuci tangan kurang dan balita terkena diare sebanyak 17 . ,9%) lebih besar dibandingkan dengan responden dengan kebiasaan cuci tangan baik dan balita terkena diare sebanyak 8 . ,0%). Hasil analisis Bivariat menggunakan chisquare menunjukkan nilai p 0,000 yang berarti ada hubungan bermakna antara kebiasaan cuci tangan dengan kejadian diare pada balita. PEMBAHASAN Hubungan Pengetahuan ibu dengan kejadian diare Hasil analisa univariat dari 110 responden sebanyak 41 . 3%) balita yang pengetahuan ibu kurang dan sebanyak 69 . 7%) pengetahuan ibu baik. Hasil bivariat yaitu nilai p 0,000, yang artinya ada keterkaitan variabel pengetahuan dengan kejadian diare pada anak balita. Penelitian serupa dilakukan oleh (Hastuty & Utami, 2. Tentang Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Kelurahan Bangkinang Kota Wilayah Kerja Puskesmas Bangkinang Kota. Didapatkan hasil ada hubungan Pengetahuan dengan diare balita dengan nilai p 0,003. Pengetahuan dan kognitif merupakan hal dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan dapat mengungkap perubahan persepsi dan kebiasaan seseorang. Pengetahuan juga membentuk kepercayaan seseorang serta sikap Individu berpengetahuan mengungguli orang lain yang tidak memilikinya. Pengetahuan individu dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk: Pendidikan, keyakinan, fasilitas, dan status sosial. Menurut penelitian yang dilakukan oleh WHO dan para pendidik kesehatan, kesadaran masyarakat meningkat, tetapi praktik masyarakat masih Artinya, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan tidak sejalan dengan pertumbuhan atau peningkatan hasil kesehatan. Akibatnya, memiliki pengetahuan kesehatan tidak berarti Anda akan sehat jika tidak melakukan aktivitas dan kebiasaan sehat (Notoatmodjo, 2. Pengetahuan ibu dapat dikaitkan dengan sejumlah faktor, baik yang resmi, seperti pendidikan yang diajarkan di sekolah, maupun yang informal, seperti fakta bahwa ibu terlibat aktif dalam PKK, posyandu, dan inisiatif kesehatan masyarakat. Salah satu faktor terpenting dalam menentukan tindakan seseorang adalah tingkat pengetahuan mereka, yang dapat diukur dengan menjalani hidup yang sehat dan seimbang. Masalah kurangnya pengetahuan keluarga tentang diare pada anak disebabkan oleh tidak lengkapnya/kesalahan pada informasi yang di terima, yang mengakibatkan kegagalan dalam menjalankan praktik hidup sehat (Rahmaniu et al. , 2022 Dalam pengetahuan ibu kurang 37. Asumsi peneliti bahwa keterbatasan pemahaman ibu mengenai faktor-faktor penyebab diare pada anak pada saat wawancara dengan responden ada beberapa ibu yang tidak membiasakan praktik kebersihan diri dalam kehidupan sehari hari seperti tidak membiasaa kan ibu dan balita cuci tangan sebelum makan dan setelah BAB hal ini lah yang dapat menyebabkan balita terkena diare. Dalam penelitian ini juga ditemukan ibu balita yang pengetahuan baik tetapi balitanya mengalami diare yang disebabkan oleh faktor lain pemberian susu formula yang melebihi dari 2 jam masih diberikan kepada balita sehingga memicu kejadian diare. Diharapkan kepada petugas kesehatan dapat mengoptimalkan penyuluhan melalui kegiatan posyandu dengan memberikan leaflet atau dapat menggunakan media vidio untuk meningkatkan pengetahuan orang tua balita mengenai diare pada balita. Hubungan kualitas fisik air dengan kejadian diare pada balita Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sabtian Sarwoko, dkk Dari hasil analisa univariat dari 110 responden sebanyak 33 . 0%) kualitas fisik air tidak sesuai standar. Dan kualitas fisik air sesuai standar yaitu sebanyak 77 . 0%). Hasil bivariat nilai p 0,001. Hal ini berarti ada hubungan kualitas fisik air dengan kejadian diare pada balita Hasil ini sejalan dengan penelitian (Hamijah, 2021. ) tentang Hubungan Sanitasi Lingkungan Terhadap Kejadian Diare Pada Balita, dan menunjukkan bahwa terdapat hubungan pada kualitas fisik air dengan kejadian diare pada balita dengan nilai p 0,000 Air bersih merupakan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan kualitasnya harus layak untuk dikonsumsi. Air adalah kebutuhan manusia untuk menjaga taraf hidup yang sehat. Akses terhadap air harus mudah dijangkau dan berkelanjutan karena sangat krusial bagi semua orang (Yazika, 2. Air minum yang sesuai standar harus bersih, tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak Indikator kualitas air yang sehat setidaknya dari indikator fisik. Kualitas air selain memenuhi standar fisik air bersih dan suhunya lebih rendah daripada suhu air di Dalam rutinitas harian, terdapat cara untuk meminimalkan kualitas air yang tidak sehat (Hamdani et al. , 2. Di penelitian ini diperoleh kualitas fisik air yang tidak sesuai dengan standar sebanyak Asumsi peneliti hal ini disebebkan oleh beberapa sumur responden belum di cincin yang membuat air menjadi keruh dan ada juga sumur responden yang sudah di cincin tetapi air sumurnya juga keruh dan bau karat hal ini disebebkan karena kondsi rumah responden yang dekat dengan siring dan pada saat musim hujan rumah responden terkena banjir sehingga air banjir masuk ke dalam sumut tersebut hal ini lah yang meneybabkan air sumur menjadi keruh, saat wawancara mereka menjelaskan sebagian responden tetap mengkonsumsi air tesebut dengan cara di tampung beberapa hari menurut mereka setelah di tampung air nya akan jernih. Diharapkan agar petugas kesehatan dapat memberikan edukasi kepada Masyarakat secara rutin tentang air bersih yang memenuhi standar, dan kondisi sumur dan air yang sesuai standar kesehatan dan agar masyarakat membuat penyaringan sederhana untuk air sumur yang keruh untuk mencegah kejadian diare pada Keterkaitan antara kebiasaan mencuci tangan dengan insidensi diare pada anak bawah lima tahun Dari Hasil analisa univariat dari 110 responden sebanyak 37 . ,6%) kebiasaan cuci tangan kurang baik, dan responden dengan kebiasaan cuci tangan baik yaitu sebanyak 73 . ,4%). Hasil bivariat yaitu nilai p 0,000, yang artinya ada hubungan signifikan kebiasaan cuci tangan dengan kejadian Diare pada balita. Dilihat dari kerentanan terjadinya transmisi penyakit melalui tangan yang dapat masuk kedalam tubuh secara oral salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan cara cuci tangan dengan menggunakan sabun sebelum atau sesudah beraktivitas hal tersebut dilakukan salah satunya untuk memutus mata rantai diare (Radhika et al. , 2. Hasil ini Sejalan penelitian (Setyobudi et , 2. Analisis Perilaku Ibu Tentang Cuci Tangan Dengan Kejadian Diare Pada Balita, dan menunjukkan adanya hubungan signifikan anatara perilaku cuci tangan dengan kejadian Diare pada balita dengan nilai p 0,000 Pada penelitian ini diketahui 37 . ,6%) responden memiliki kebiasaan mencuci tangan kurang baik. Orangtua sebagai contoh yang ditiru dan menjadi panutan untuk anak sehingga melalui orangtua . eluarga terdeka. tindakan tersebut muncul. Cuci tangan dengan benar juga dipengaruhi oleh air yang digunakan untuk mencuci tangan. Tangan adalah bagian dari tubuh yang mudah terkena kotoran dan tertempel kuman penyakit. Ketika menggenggam sesuatu, menyentuh, membersihkan organvital setelah atau sebelum buang air besar atau buang air kecil dan bersalaman, kegiatan demikian dapat menimbulkan bibit penyakit melekat pada kulit tangan dan masuk secara oral lewat mulut karena kurang bersihnya dalam mencuci tangan dengan kuman penyakit yang masih menempel pada tangan. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sabtian Sarwoko, dkk Perhatian khusus sejak dini kepada balita dengan cara praktis untuk memutus salah satu DAFTAR PUSTAKA rantai penyebaran diare dengan Cuci tangan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. pakai sabun. Cara yang benar adalahdiperlukan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. adanya sabun dan air mengalir. Air mengalir Hamdani Nur. Rahmadani. Hermawan. tidak harus dari kran, air tersebut dapat juga dari Masyarakat, . Pancasakti. Tinggi. sebuah wadah seperti ember, gayung botol. Amanah. , & Penulis. The kaleng, gentong, jerigen. Tangan yang basah Indonesian Journal of Health Promotion. disabuni, digosok-gosok kemudian menelunghttps://doi. org/10. 31934/mppki. kupkan tangan secarabergantianbagian telapak Hamijah. Hubungan Sanitasi Lingkungan maupun punggungnya, kemudian gerakan Terhadap Kejadian Diare Pada Balita. Journal of mengatup dan mengunci untuk membersihkan Cahaya Mandalika, 2. sela jari dan kuku minimal 20 detik, kemudian Hastuty. , & Utami. Hubungan dilakukan pembersihan ibu jari dan gosok ujung Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Kelurahan Bangkinang Kota Wilayah jari, kemudian dibilas dengan air mengalir dan Kerja Puskesmas Bangkinang Kota Tahun 2017. mengeringkannya menggunakan kain, tisu Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar bersih atau kibas-kibaskan di udara (RISKESDAS) Badan Penelitian dan (Kementerian Kesehatan RI, 2. Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Oleh karena itu, diharapkan masyarakat RI. dapat memberi perhatian kebersihan tangan Kementerian Kesehatan RI. Panduan Cuci Tangan dengan cara mencuci tangan memakai sabun Pakai Sabun. sesudah melakukan aktivitas, setelah BAB, dan Radhika. Kesehatan. , & Perilaku. Semampir, sebelum makan. Meningkatkan perilaku hidup Kota Surabaya. Medical Technology and Public Health bersih dan sehat (PHBS), dimulai dari cara Journal (MTPH Journal, 4. mencuci tangan yang benar setelah ataupun Rahmaniu. Dangnga. Abdul. Program. Kesehatan. Fakultas. Kesehatan. , & Parepare, sebelum beraktivitas dengan meenggunakan . Mei 2022 pISSN 2614-5073 (Vol. Issue sabun dan air mengalir KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan yang di dapatkan di penelitian ini sebagai berikut: Adanya hubungan antara pengetahuan ibu, kualitas fisik air bersih dan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian Diare pada balita di Kelurahan Sekarjaya wilayah kerja Puskesmas Sekar Jaya Kab OKU dengan masing-masing nilai p 0,004, 0,001 dan 0,000 Saran