DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Determinan Waktu Tunggu Pelayanan Instalasi Farmasi Pada Pasien Rawat Jalan Dengan Menggunakan Rekam Medis Elektronik di RUMKIT TK II Udayana Denpasar Bali Waiting Time for Pharmaceutical Installation Services on Outpatients Using Electronic Medical Records at RUMKIT TK II Udayana Denpasar Bali 1Ambarwati Wardoyo Sejati 2Silvia Intan Wardani 3Ni Putu Ayu Wulan Noviyanti 1,2,3Jurusan Administrasi Kesehatan STIKES Kesdam IX Udayana alamat Jl. Taman Kanak Ae Kanak Kartika. Dauh Puri. Denpasar Barat. Kota Denpasar E-mail : ambarwatiwardoyosejati@gmail. Abstract The waiting time for pharmaceutical services is an important indicator in assessing the quality of health services, including at Tk II Udayana Hospital. Denpasar Bali. Although the implementation of Electronic Medical Records (RME) has been implemented to improve efficiency, outpatients still often face quite long wait times. This study aims to analyze factors such as prescription type, destination poly, gender, and visit time that affect the waiting time of pharmaceutical services at the hospital's Pharmacy Installation. This study uses an observational analytical approach with a cross-sectional design, involving 205 outpatient data taken by Simple Random Sampling in June 2024. The collected data was then analyzed using the Chi-Square test to determine the relationship between independent and dependent variables. The results of the analysis showed that the type of prescription had a significant relationship with the waiting time for pharmaceutical services . =0. Patients who received a concocted prescription experienced a longer wait time than patients who received a non-concocted However, other variables such as gender . =0. , visit time . =0. , and destination poly . =0. did not show a significant relationship with waiting time. From the results of the study, the type of prescription proved to be the most influential factor on the waiting time for pharmaceutical services at Tk II Udayana Hospital. Therefore, efforts are needed to optimize the RME system and improve resource management, especially in handling concocted prescriptions, to reduce waiting times and increase patient satisfaction. Keywords: Waiting Time. Prescription Type. Pharmacy Services. Electronic Medical Records. Outpatients. Abstrak Waktu tunggu pelayanan farmasi adalah indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan, termasuk di Rumah Sakit Tk II Udayana. Denpasar Bali. Meskipun penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) telah diterapkan untuk meningkatkan efisiensi, pasien rawat jalan masih sering menghadapi waktu tunggu yang cukup lama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor seperti jenis resep, poli tujuan, jenis kelamin, dan waktu kunjungan yang mempengaruhi waktu tunggu pelayanan farmasi di Instalasi Farmasi rumah sakit tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan observasional analitik dengan desain cross-sectional, melibatkan 205 data pasien rawat jalan yang diambil secara Simple Random Sampling pada bulan Juni 2024. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis resep memiliki hubungan yang signifikan dengan waktu tunggu pelayanan farmasi . =0,. Pasien yang menerima resep racikan mengalami waktu tunggu lebih lama dibandingkan pasien yang menerima resep non-racikan. Namun, variabel lain seperti jenis kelamin . =0,. , waktu kunjungan . =0,. , dan poli tujuan . =0,. tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap waktu tunggu. Dari hasil Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. penelitian, jenis resep terbukti menjadi faktor paling berpengaruh terhadap waktu tunggu pelayanan farmasi di Rumah Sakit Tk II Udayana. Oleh karena itu, diperlukan upaya optimalisasi sistem RME serta peningkatan manajemen sumber daya, terutama dalam penanganan resep racikan, untuk mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan kepuasan Kata kunci: Waktu Tunggu. Jenis Resep. Pelayanan Farmasi. Rekam Medis Elektronik. Pasien Rawat Jalan Pendahuluan Rumah sakit yang selanjutnya akan disebut Rumkit dalam tulisan ini ialah lembaga yang mengusahakan pemberian jasa layanan pada sektor kesehatan tunggal secara lengkap dan optimal dengan mempersiapkan pelayanan gawat darurat, rawat jalan serta rawat inap (Darianti et al. Optimalisasi manajemen pelayanan kesehatan amat diperlukan Rumkit sebagai penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Penyempurnaan serta perbaikan manajemen rekam medis perlu dilaksanakan guna memajukan pelayanan kesehatan. Sebuah usaha yang bisa dijalankan yakni melalui implementasi rekam medis secara elektronik (Maryati, 2. Terdapat sejumlah kelemahan dari rekam medis kertas . di antaranya. tergolong kedalam sistem pemberian layanan yang tidak aman terhadap menghimpun dan melacak data klien yang berhamburan, belum ditemukan manfaat dari rekam medis, serta kurang efisien untuk diterapkan pada lingkup keseharian kerja (Nurfitria et al. , 2. Rekam medis ialah dokumen yang termuat didalamnya tindakan medis, diagnosa, laboratorium, identitas individu klien atau pasien yang dituliskan, baik secara elektronik ataupun (Maryati. Manajemen database beserta komputer akan dibutuhkan dikerjakan secara elektronik. Rekam medis tidak hanya didefinisikan sebagai aktivitas administrasi, namun wajib diperhatikan sebagai sebuah sistem penanganan atau pengendalian yang dilaksanakan bermula keseluruhan tindakan medis yang pasien terima, kemudian pengarsipan dokumen hingga pengeluaran dokumen dari area dokumentasi bilamana dibutuhkan untuk keperluannya pribadi maupun kepentingan lain (Farid et al. , 2. Pada Permenkes No. Tahun pelaksanaan pelaporan serta pencatatan oleh Rumkit di Indonesia dilaksanakan karenanya diharuskan bagi semua Rumkit untuk menyusun laporan pada kurun waktu yang telah ditetapkan pada regulasi terkait. Berdasarkan survei pendahuluan pada hari Senin tanggal 13 November 2023 di Rumkit Tingkat II Udayana,diketahui dari 10 orang responden dari pasien Rawat Jalan yang diamati, menunjukkan bahwa 6 . %) responden menilai merasa sudah puas dengan waktu tunggu pelayanan untuk Pasien Rawat Jalan karena dirasa sudah sesuai standar yakni O 60 menit. Sedangkan 4 . %) responden menilai dan merasa kurang puas dengan waktu tunggu untuk Pasien Rawat Jalan karena dirasa sudah sesuai standar yakni > 60 menit. Oleh sebab itu Penulis menemukan jika hasil kurang efektif didapatkan pada pelayanan yang menerapkan pencatatan dokumen rekam medis secara manual. Hal tersebut dikarenakan rekam medis yang dituliskan manual memerlukan durasi cukup lama sekitar 30 menit bahkan kadang lebih , penyimpanan dokumen rekam medis yang berisikan banyak kertas yang memuat riwayat serta data kesehatan pasien akan memerlukan durasi yang lama untuk dikomputerisasikan mampu mempermudah Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. proses pengolahan dan penelusuran data menjadi akurat, cepat, serta beban kerja menjadi lebih ringan. Dokter ketika membutuhkan dokumen kertas rekam medis untuk melihat data serta status kesehatan pasien karena keseluruhan informasi mulai dari diagnosa hingga resep obat telah terhimpun pada database serta terhubung langsung dengan kasir dan Rekam medis tersebut juga bisa memudahkan pasien dengan tidak perlu menyerahkan resep obat ke apotek, karena pelayanan obat. Selain itu, informasi harga obat serta biaya pengobatan juga telah didapatkan pihak kasir, sehingga pasien non BPJS bisa membayarnya secara langsung. Suatu proses perubahan media berkas rekam medis dari yang awalnya berwujud kertas menjadi dokumen berbasis digital dengan ekstensi file JPG atau PDF dikenal sebagai digitalisasi rekam medis. Alat scanner dimanfaatkan untuk memproses perubahan dokumen atau proses scanning (Handiwidjojo, 2. Mutu diartikan sebagai pemberian layanan di sektor kesehatan secara optimal dengan memanfaatkan pengetahuan atau ilmu aktual kepada para pasien, sehingga mampu meningkatkan probability outcome sesuai dengan harapan (Pedoman Pelayanan Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, 2. Oleh karenanya, kualitas pelayanan Rumkit dapat ditingkatkan Keselarasan standar yang sudah ditentukan dengan prosedur penyelenggaraannya, serta membuat pasien merasa berkenan ialah wujud pelayanan yang harus dikasihkan Rumkitkepada seluruh pasien. Pelayanan adalah kunci utama untuk mencapai keberhasilan dalam bisnis jasa khususnya jasa rumah sakit. Apabila terjadi persaingan pada masing-masing aktivitas dengan jasa yang serupa di lingkup masyarakat, maka bisa sangat ditentukan oleh pelayanan. Rumah Sakit, pelayanan kefarmasian menjadi bidang dalam sistem pelayanan kesehatan yang tidak dapat dipisahkan Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. fungsinya sebab mengarah pada penyediaan bahan medis habis pakai, sediaan farmasi, pelayanan pasien, alat kesehatan, serta pelayanan pada fasilitas farmasi klinik yang terjangkau serta berkualitas untuk seluruh kalangan masyarakat. Pada lembaga kesehatan, sistem persediaan ialah sistem yang berperan amat krusial dalam menunjang manajemen jasa serta barang. Memperlancar aktivitas operasional menjadi peran terkrusial dalam sistem persediaan. Jenis persediaan farmasi yang sangat esensial dan sudah pasti diperlukan pihak Rumkit ialah persediaan obat-obatan. Perbekalan kesehatan serta sumber daya obat yakni susunan yang mengelompokkan sejumlah usaha untuk menanggung mutu, pemerataan, serta ketersediaan perbekalan kesehatan dan obat dengan saling menggapai derajat paling tertinggi dari Berdasar pada Kepmenkes RI No. 189/Menkes/SK/i/2006 Kebijakan Obat Nasional, menerangkan terkait definisi obat yakni sebuah elemen pada pelayanan kesehatan yang perannya tidak dapat tergantikan. Obat juga dimaknai sebagai benda yang keberadaannya amat diperlukan masyarakat ketika sedang sakit (Satibi, 2. Anggaran obat menjadi konsekuensi besar yang ditimbulkan dari peran krusial obat pada pelayanan Anggaran obat untuk alat kesehatan serta obat yang diurus Instalasi Farmasi Rumkit menyentuh persentase 50%-60% dari total anggaran secara Oleh karenanya, sangat esensial untuk dilaksanakan manajemen obat pada seluruh Rumkit dalam kondisi seperti tersebut. Waktu yang dihabiskan pasien untuk menerima pelayanan rawat inap dan rawat jalan antara mendaftar dan masuk ke ruang pemeriksaan dokter disebut dengan masa tunggu. Salah satu faktor yang dapat menimbulkan ketidakpuasan pasien adalah lamanya waktu pasien harus Lamanya waktu tunggu pasien merupakan indikator pengelolaan unsur pelayanan Rumkit yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan pasien. Penilaian pasien terhadap jarak antara waktu tunggu Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. dan waktu pemeriksaan terbagi dalam tiga kategori: lama . ebih dari 90 meni. , sedang . ntara 30 dan 60 meni. , dan cepat . urang dari 30 meni. Pasien kategori panjang datang, mendaftar di loket,mengantri dan menunggu panggilan ke poliklinik umum pemeriksaan oleh dokter, perawat atau 4 Kementerian Kesehatan (Kemenke. di Indonesia menetapkan waktu tunggu berdasarkan persyaratan layanan minimum. Terkait waktu tunggu, seluruh Rumkit wajib mematuhi standar pelayanan minimal. Dalam pelayanan rawat jalan diperlukan standar pelayanan minimal enam puluh (Kemenkes No. 129/Menkes/SK/II/2. Waktu tunggu Instalasi Farmasi merupakan parameter krusial dalam menyediakan obat kepada pasien dengan efisien dan aman. Hal ini mencakup waktu yang diperlukan mulai dari pasien mengirimkan resep hingga mendapatkan obat yang telah diproses. Faktor-faktor seperti tingkat keramaian, kompleksitas resep, ketersediaan obat, dan prosedur administratif dapat memengaruhi waktu tunggu ini. Sebagai contoh. Instalasi Farmasi di Rumkit seringkali dihadapkan pada tantangan waktu tunggu yang lebih ketat perawatan yang cepat kepada pasien yang Dalam kasus ini, sistem manajemen waktu yang efektif dan kerjasama yang solid antara tenaga farmasi dan petugas kesehatan lainnya sangat Demikian pula, di apotek komunitas, waktu tunggu dapat bervariasi tergantung pada berbagai faktor seperti jumlah resep yang perlu diproses, ketersediaan obat, dan layanan tambahan yang diminta oleh pelanggan. Upaya untuk mengoptimalkan proses pelayanan dan meminimalkan waktu tunggu adalah tujuan yang terus dikejar oleh Instalasi Farmasi berkualitas dan memenuhi kebutuhan pasien dengan lebih baik. Resep dokter merupakan instruksi tertulis dari dokter kepada apoteker untuk memberikan obat kepada pasien. Resep ini berisi informasi Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. tentang jenis obat, dosis, frekuensi penggunaan, dan instruksi penggunaan Tujuannya adalah untuk mengobati atau mengelola kondisi kesehatan pasien dengan tepat. Resep dokter harus ditulis dengan jelas dan akurat untuk menghindari kesalahan dalam pemberian obat. Sebagai bagian penting dari proses pengobatan, resep dokter memegang peranan krusial dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan pasien. Oleh karena itu, kehati-hatian dan keakuratan penulisan resep dokter sangatlah penting. Resep elektronik merupakan solusi modern memungkinkan dokter untuk mengirimkan resep obat secara digital ke apotek. Dengan menggunakan teknologi ini, kesalahan penulisan dan interpretasi resep dapat diminimalkan, meningkatkan keamanan Pasien juga dapat mengambil obat dengan lebih cepat karena resep elektronik terintegrasi langsung dengan sistem apotek. Selain itu, data pasien dapat tercatat secara akurat dalam rekam medis elektronik, memfasilitasi koordinasi perawatan dan pemantauan kondisi kesehatan secara Ini adalah langkah penting menuju pelayanan kesehatan yang lebih efisien dan berkualitas, (Ursula Pennell. Tujuan awal dari sistem peresepan elektronik adalah untuk mengurangi pengembangan kesederhanaan membaca resep serta meminimalisir informasi yang tidak lengkap pada resep. Kini sejumlah sistem peresepan secara elektronik telah disempurnakan oleh adanya pendukung keputusan pengobatan, layanan kesehatan yang terbantu dengan suatu sistem mampu meminimalisir atau mencegah terjadinya kesalahan pemberian obat serta tindakan pengobatan yang bisa merugikan pihak pasien maupun Rumkit (Joseph Canney. Terciptanya catatan resep elektronik yang mengambil alih resep manual, diharapkan kesalahan pembacaan resep dapat dicegah, pemasukan data menjadi lebih cepat, dan tidak terjadi kesalahan pada saat penggunaan dan pemberian obat. Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Metode Penelitian ini merupakan penelitian observational analitik dengan rancangan penelitian menggunakan pendekatan cross penelitian yang umum digunakan dalam ilmu kedokteran, epidemiologi, dan bidang ilmu sosial lainnya. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu rekam medis Sedangkan variabel dependen yaitu waktu tunggu pelayanan instalasi Hipotesis penelitian yang sudah disusun peneliti untuk penelitian ini antara H1 : Terdapat kunjungan dengan waktu tunggu layanan farmasi pada pasien rawat jalan dengan menggunakan rekam medis elektornik H2 : Terdapat hubungan poli yang dikunjungi pasien rawat jalan dengan waktu tunggu layanan farmasi dengan menggunakan rekam medis elektornik H3 : Terdapat hubungan jenis resep . acik/non-raci. dengan waktu tunggu layanan farmasi pada Penelitian ini akan diselenggarakan pada Rumkit Tingkat II Udayana, khususnya pada instalasi farmasi. Rumkit Tingkat II Udayana terletak di Jl. Sudirman No. Dauh Puri. Kec. Denpasar Barat. Kota Denpasar. Bali. Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada tanggal 1 hingga 30 Juni 2024 atau 30 hari. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien Rawat Jalan di Bulan Juni 2024 di Rumkit Tk II Udayana. Sedangkan untuk waktu tunggu, peneliti menggunakan data Rekam Medis Elektronik nyata mulai tanggal 1 sampai dengan 30 Juni 2024 dengan menggunakan bantuan tenaga seorang operator komputer apotik Rumkit Tk. II Udayana. Sampel pada penelitian ini adalah data pasien rawat jalan di rumkit Tk II Udayana pada RME di Instalasi Farmasi Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Rumkit TK. II Udayana. Penelitian ini Rumus Slovin menentukan jumlah sampelnya. Jenis data yang digunakan adalah Data sekunder dari RM elektronik yang ada di layanan farmasi di Rumkit Tk. II Udayana. Data yang diperoleh dari RM elektronik yang berkaitan dengan variabel bebas pada penelitian ini adalah hari kunjungan, poli . acik/non-raci. Data untuk variabel tergantung yang diperoleh dari Rekam Medis Elektronik adalah jam masuk, jam selesai, dan respon time yang akan digunakan untuk menghitung waktu tunggu pelayanan farmasi pada pasien rawat jalan. Instrumen pengumpul data adalah alat atau metode yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dalam sebuah Instrumen ini dapat berupa kuesioner, wawancara, observasi, atau pengumpulan data elektronik. Fungsi utamanya adalah untuk mendapatkan data yang relevan dan valid sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan. Dalam konteks penggunaan data sekunder dari Data Rekam Medis Elektronik , instrumen menyediakan akses terhadap informasi medis yang terdokumentasi dalam format yang dapat digunakan untuk analisis penelitian lebih lanjut. Namun, peneliti juga dihadapkan pada sejumlah tantangan, termasuk privasi data, kualitas data, dan kesulitan teknis. Dengan memahami tantangan ini dan menerapkan metodologi yang tepat, peneliti dapat memanfaatkan potensi penuh dari instrumen pengumpul RME meningkatkan pelayanan Instalasi Farmasi untuk Rawat jalan. Sebelum dilaksanakan analisa, sebuah data harus menjalani sebuah pemrosesan guna merubah data menjadi suatu informasi (Hidayat, 2. Terdapat sejumlah langkah yang wajib dilaksanakan pada proses pengolahan data, diantaranya editing, coding, data entry, dan cleaning. Analisis data yang digunakan, yaitu analisis univariat. Analisis ini digunakan Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. untuk menampilkan hasil berupa frekuensi ataupun persentase dalam betuk tabel atau Dalam menganalisis data dengan . hi-squar. Analisis univariat juga dapat membantu dalam menarik kesimpulan awal tentang karakteristik sampel yang diteliti, serta dapat menjadi langkah awal dalam menjalankan analisis statistik yang lebih Sedangkan hasil analisis chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel bebas dan variabel tergantung (NA = nilai, df = derajat kebebasan, p < 0,. Hasil dan Pembahasan Karakteristik Responden Rumkit Tk. Udayana Rumkit Tk. II Udayana merupakan Instalasi Kesehatan Militer dan Rumkit rujukan tertinggi di wilayah Kodam IX/Udayana meliputi Bali. NTB dan NTT yang mempunyai tugas memberikan dukungan dan pelayanan kesehatan kepada warga TNI-AD. PNS memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien integrasi ( pasien rujukan dari personel TNI-AU. TNI AL. PNS dan Keluarganya ) serta memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum. Pengumpulan Rumkit Tk. II Udayana dilakukan dengan data rekam medis pada 1 - 30 Juni 2024, diperoleh total 9000 data pasien yang terekam pada ERM, setelah dilakukan cleaning terhadap data tersebut diperoleh 6023 data respon yang memenuhi kriteria inklusi penelitian ini. Dari 6023 data respon ERM, dipilih 205 data yang menjadi reponden penelitian dan dipilih dengan menggunakan simple random sampling diperoleh data sebagai berikut : Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Gambar 1. Distribusi Frekuensi Responden Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Berdasarkan Jenis Berdasarkan Gambar 1, kita mengetahui bahwa jumlah pasien laki-laki di Rumkit Tk. II Udayana lebih banyak dibandingkan dengan Dari responden, 113 orang atau 55,1% adalah laki-laki, sedangkan 92 orang atau 44,9% adalah perempuan. Data ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien di rumah sakit ini adalah laki-laki, demografis yang penting untuk analisis lebih lanjut dalam perawatan kesehatan dan pengelolaan rumah . Karakteristik Responden Berdasarkan Waktu Kunjungan Gambar 2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan waktu Gambar 2 menunjukkan distribusi frekuensi responden berdasarkan waktu kunjungan di Rumah Sakit Tingkat II Udayana. Data kunjungan terbagi dalam lima hari kerja dengan persentase sebagai berikut: Senin 8%. Selasa 18. Rabu 20. Kamis 15. 6%, dan Jumat 15. Dari tabel tersebut, terlihat bahwa hari Senin kunjungan tertinggi, mencapai hampir sepertiga dari total kunjungan, yaitu Hal ini mungkin disebabkan oleh peningkatan kebutuhan layanan kesehatan setelah akhir pekan. Selasa menunjukkan penurunan signifikan Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. dengan hanya 18. 5% dari total cenderung menghindari hari ini setelah lonjakan pada hari Senin. Rabu mengalami peningkatan kunjungan 5%, mungkin karena pasien yang tidak bisa berkunjung pada hari Senin dan Selasa memilih hari ini. Kunjungan pada hari Kamis dan Jumat sama-sama mencapai 15. yang merupakan persentase terendah Ini menunjukkan kecenderungan pasien menjelang akhir minggu, baik karena persiapan akhir pekan atau karena jadwal yang lebih padat. Karakteristik Responden Berdasarkan Poli yang Dikunjungi di Rumkit Tk. II Udayana Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. manajemen rumah sakit untuk mengalokasikan sumber daya dan tenaga medis secara optimal guna memenuhi kebutuhan pasien di berbagai poli. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Resep yang di kirim oleh Poli Rawat jalan di Rumkit Tk. II Udayana Gambar 4 Distribusi Frekuensi Responden waktu tunggu pelayanan Instalasi farmasi berdasarkan jenis resep yang di kirim oleh Poli Rawat jalan yang di kunjungi di Rumkit Tk. Udayana. Gambar 3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Poli yang dikunjungi di Rumkit Tk. II Udayana Gambar 3 menunjukkan distribusi frekuensi responden berdasarkan poli yang dikunjungi di Rumah Sakit Tingkat Udayana. Data menunjukkan persentase kunjungan untuk berbagai poli sebagai berikut: Poli Anak 3. Poli Bedah Umum 9%. Poli Bedah Plastik 1. Poli Interna 22. Poli Kandungan 0. Poli Orthopedi 4. Poli Psikiatri 0%. Poli Onkologi 3. Poli Saraf 5%. Poli THT 4. Poli Mata 8. Hemodialisa 3. 4%, dan Poli Kulit & Kelamin Distribusi memberikan gambaran penting bagi Berdasarkan tabel 5. 4 ternyata Distribusi berdasarkan jenis resep yang dikirim oleh Poli Rawat Jalan di Rumkit Tk. Udayana menunjukkan perbandingan waktu tunggu antara resep racikan sejumlah 100 resep dan non-racikan sejumlah 105 resep, nyaris seimbang. Meskipun terdapat perbedaan jenis resep tersebut, waktu tunggu tetap stabil, menunjukkan efisiensi dalam pelayanan apotek rumah sakit. Analisis Data Hasil penelitian mengenai waktu tunggu pelayanan instalasi farmasi pada pasien rawat jalan dengan menggunakan rekam medis elektronik dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 1 Distribusi Frekuensi Pasien Variabel Frekuensi Persentase (%) Jenis Kelamin Laki - Laki Perempuan Waktu Kunjungan Senin Selasa Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. Rabu Kamis JumAoat Poli Tujuan Poli Anak Poli Bedah Umum Poli Bedah Plastik Poli Interna Poli Kandungan Poli Orthopedi Poli Psikiatri Poli Onkologi Poli Saraf Poli THT Poli Mata Hemodialisa Poli Kulit dan Kelamin Jenis Resep Racikan Non Ae Racikan Sumber: Data Primer Hasil tabel diatas mengidentifikasi beberapa pola penting terkait karakteristik pasien dan pelayanan di rumah sakit. Mayoritas pasien yang tercatat berjenis kelamin laki-laki, dengan jumlah mencapai 113 orang . ,1%). Hari kunjungan yang paling padat adalah Senin, di mana sebanyak 61 pasien . ,8%) mengakses layanan kesehatan pada hari tersebut. Poli tujuan yang paling sering dikunjungi adalah poli interna serta poli kulit dan kelamin, masing-masing dengan jumlah kunjungan sebanyak 46 pasien . ,4%). Selain itu, jenis resep yang paling umum diberikan kepada pasien adalah resep non-racikan, yang tercatat sebanyak 105 resep . ,2%). Tabel 2 Tabulasi Silang Waktu Tunggu dengan jenis Kelamin. Waktu Kunjungan . Poli Tujuan dan Jenis Resep Instalasi Farmasi untuk rawat jalan Rumkit Tk. II Udayana Frekuensi Cepat Lambat Total n (%) n(%) Value Waktu Tunggu dengan Jenis Kelamin Laki - Laki 0,099 Frekuensi Cepat Lambat Total n (%) n(%) . ,4%) . ,6%) . ,0%) Perempuan . ,6%) . ,4%) . ,0%) Waktu Tunggu dengan Waktu Kunjungan Senin ,8%) . ,2%) . ,0%) Selasa ,7%) ,3%) . ,0%) Rabu ,5%) ,5%) . ,0%) Kamis . ,5%) . ,5%) . ,0%) JumAoat ,5%) ,5%) 32,0%) Waktu Tunggu dengan Poli Tujuan Poli Anak ,6%) ,4%) ,0%) Poli Bedah Umum . ,2%) . ,8%) . ,0%) Poli Bedah Plastik ,1%) ,9%) ,0%) Poli Interna ,3%) ,7%) . ,0%) Poli Kandungan . ,7%) . ,3%) . ,0%) Poli Orthopedi . ,3%) . ,7%) . ,05%) Poli Psikiatri . ,8%) . ,2%) . ,05%) Poli Onkologi . ,6%) . ,0%) Poli Saraf ,1%) ,9%) . ,0%) Poli THT ,3%) ,7%) ,0%) Poli Mata ,6%) . ,4%) . ,0%) Hemodialisa ,1%) ,1%) ,0%) Waktu Tunggu dengan Jenis Resep Racikan . 8%) . Non Ae Racikan . 2%) . Value 0,006 0,018 0,000 Hasil penelitian ini mengungkap bahwa waktu tunggu pelayanan dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk jenis kelamin, hari kunjungan, poli tujuan, dan jenis resep. Pasien laki- laki lebih banyak mengalami waktu tunggu cepat, mencapai 79,4% . Hari Senin menjadi waktu Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. kunjungan dengan waktu tunggu cepat tertinggi, yaitu 42,8% . Poli kulit dan kelamin menunjukkan persentase waktu tunggu cepat terbanyak, sebesar 32,3% . Sementara itu, jenis resep obat racikan memiliki waktu tunggu cepat tertinggi dengan 70,2% . Temuan ini penting untuk mengoptimalkan efisiensi pelayanan rumah sakit. Pembahasan . Hubungan Jenis Kelamin dengan waktu tunggu layanan farmasi pada pasien rawat jalan Berdasarkan tabel 5. 6 diatas, kita mengetahui bahwa responden pasien di Rumkit Tk. II Udayana yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak yaitu 113 orang atau 55,1% dan sedangkan responden pasien di Rumkit Tk. Udayana perempuan lebih sedikit yaitu 92 orang dengan persentase 44,9 %. Hasil mengalami waktu tunggu cepat di Instalasi Farmasi Rawat Jalan di Rumah Sakit Tk. II Udayana lebih tinggi pada pasien laki-laki. Dari total pasien yang dianalisis, sebanyak 74 pasien laki-laki, atau 79,4%, mengalami waktu tunggu yang cepat. Temuan ini mengindikasikan bahwa pasien laki-laki cenderung menerima pelayanan farmasi dengan waktu tunggu yang lebih singkat dibandingkan dengan pasien perempuan. Waktu tunggu cepat dalam konteks ini merujuk pada periode waktu dari saat pasien menyerahkan resep di Instalasi Farmasi hingga mereka menerima obat. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien laki - laki mendapatkan pelayanan dengan waktu tunggu yang lebih cepat dibandingkan dengan pasien perempuan di fasilitas yang sama. Namun, nilai P dalam analisis ini adalah 0,099, yang lebih besar dari ambang batas signifikansi umum 0,05. Ini menunjukkan bahwa perbedaan dalam Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. waktu tunggu antara pasien laki-laki dan perempuan tidak signifikan secara Dengan kata lain, meskipun laki-laki mengalami waktu tunggu cepat lebih tinggi, perbedaan ini tidak dapat dipastikan sebagai perbedaan nyata yang konsisten dan mungkin terjadi akibat variabilitas data atau faktor kebetulan. Ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi waktu tunggu yang berbeda antara jenis kelamin. Misalnya, perbedaan dalam pola kunjungan, volume resep, atau prosedur internal di Instalasi Farmasi bisa mempengaruhi waktu tunggu. Meskipun data ini menunjukkan adanya kecenderungan, bahwa perbedaan ini mungkin tidak cukup signifikan untuk diartikan sebagai . Hubungan hari kunjungan dengan waktu tunggu layanan farmasi pada Berdasarkan menunjukkan bahwa persentase pasien yang mengunjungi rumah sakit pada hari Senin mencapai 29. 8%, sedangkan pada hari Rabu mencapai 20. Jumlah kunjungan yang lebih tinggi pada hari-hari tersebut dibandingkan dengan hari lainnya mengindikasikan pola kunjungan yang cukup signifikan. Hasil mengalami waktu tunggu cepat di Instalasi Farmasi Rawat Jalan di Rumah Sakit Tk. II Udayana lebih tinggi pada waktu kunjungan hari Senin. Dari total pasien yang terlibat dalam studi ini, sebanyak 41 pasien, atau 42,8%, mengalami waktu tunggu yang cepat ketika mereka mengunjungi fasilitas kesehatan pada hari Senin. Temuan ini mengindikasikan bahwa waktu tunggu untuk pelayanan farmasi cenderung lebih singkat pada hari Senin dibandingkan Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. hari-hari Waktu penelitian ini mengacu pada durasi waktu dari saat pasien mengajukan resep di Instalasi Farmasi hingga mereka Penelitian mengungkapkan bahwa hari Senin, yang mungkin memiliki volume pasien yang lebih rendah atau alur kerja yang lebih farmasi untuk diproses lebih cepat. Nilai P dalam analisis ini adalah 0,006, yang lebih kecil dari ambang batas signifikansi umum 0,05. Ini menunjukkan bahwa perbedaan waktu tunggu antara hari Senin dan hari-hari lainnya adalah signifikan secara statistik. Dengan kata lain, kemungkinan besar perbedaan waktu tunggu ini tidak hanya disebabkan mencerminkan perbedaan yang nyata dalam efisiensi pelayanan berdasarkan hari kunjungan. Ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi pada waktu tunggu yang lebih cepat pada hari Senin. Salah satunya bisa jadi adalah volume pasien yang lebih rendah pada hari Senin, mengingat banyak pasien mungkin menunda kunjungan mereka hingga setelah akhir pekan. Selain itu, staf medis dan farmasi mungkin lebih siap setelah akhir pekan, atau terdapat penyesuaian dalam alur kerja yang meningkatkan efisiensi pelayanan pada hari Senin. Temuan ini memberikan wawasan penting bagi manajemen Instalasi Farmasi dalam merencanakan dan Pengetahuan ini bisa digunakan untuk mengoptimalkan jadwal kerja dan meningkatkan efisiensi pelayanan di hari-hari pengalaman pasien yang lebih baik di seluruh minggu. Hubungan poli yang dikunjungi pasien rawat jalan dengan waktu tunggu layanan farmasi dengan Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. Berdasarkan tabel 5. 6 diatas. Hasil persentase pasien yang mengalami waktu tunggu cepat untuk pelayanan di Instalasi Farmasi lebih tinggi pada poli kulit dan kelamin. Dari total jumlah pasien yang terlibat dalam studi ini, sebanyak 39 pasien, atau 32,3%, mengalami waktu tunggu yang cepat ketika mereka dirujuk dari poli kulit dan Temuan ini mengindikasikan bahwa pasien dari poli kulit dan kelamin cenderung menerima pelayanan farmasi lebih cepat dibandingkan dengan pasien dari poli lainnya di fasilitas kesehatan yang sama. Waktu tunggu cepat dalam konteks ini merujuk pada durasi waktu dari saat pasien menerima resep dari dokter di poli hingga mereka mendapatkan obat dari Instalasi Farmasi. Efisiensi waktu ini sangat penting dalam meningkatkan pengalaman pasien dan memastikan bahwa mereka dapat segera memulai pengobatan yang diperlukan. Nilai P dalam analisis ini adalah 0,018, yang lebih kecil dari ambang batas signifikansi umum yaitu 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan waktu tunggu pelayanan farmasi antara poli kulit dan kelamin dengan poli lainnya adalah signifikan secara statistik. Dengan kata lain, hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan dalam waktu tunggu tidak mungkin terjadi karena kebetulan dan mencerminkan perbedaan yang nyata. Beberapa menjelaskan mengapa pasien dari poli kulit dan kelamin mendapatkan waktu tunggu yang lebih cepat di Instalasi Farmasi. Salah satunya bisa jadi adalah volume resep yang lebih sedikit dibandingkan dengan poli lain, sehingga memungkinkan proses pemrosesan resep Selain kemungkinan adanya prosedur atau alur kerja yang lebih efisien di poli kulit dan kelamin juga bisa berkontribusi pada Terdapat hubungan antara poli yang dikunjungi oleh pasien rawat jalan Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. dan waktu tunggu layanan farmasi yang dicatat menggunakan rekam medis elektronik di Rumkit Tk. II Udayana. Penggunaan sistem rekam medis elektronik mempermudah pelacakan dan pengelolaan data resep pasien, yang pada Meskipun jumlah pasien dan variasi jenis resep dapat berbeda-beda tergantung poli yang dikunjungi, waktu tunggu layanan farmasi tetap stabil dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem rekam medis elektronik berkontribusi pada kestabilan dan kualitas layanan farmasi, memastikan kepuasan pasien dan efektivitas proses pelayanan. Hubungan . acik/non-raci. tunggu layanan farmasi pada pasien rawat jalan dengan menggunakan Rekam Medis Elektronik Berdasarkan diketahui bahwa dari 205 responden pasien Rumkit Tk. II Udayana, dengan waktu tunggu cepat sesuai standar sebanyak 144 responden atau 70. 2 % dan responden yang lambat sesuai standar sebanyak 61 dengan persentase 29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pasien yang mengalami waktu tunggu cepat untuk pelayanan di Instalasi Farmasi Rawat Jalan di Rumah Sakit Tk. II Udayana lebih tinggi pada jenis resep obat racikan. Dari total pasien yang dianalisis, sebanyak 85 pasien, atau 70,2%, mengalami waktu tunggu yang cepat ketika resep yang diajukan adalah resep obat racikan. Temuan ini menandakan bahwa resep obat racikan dibandingkan dengan jenis resep lainnya. Waktu tunggu cepat dalam konteks ini mengacu pada periode waktu dari saat pasien menyerahkan resep di Instalasi Farmasi Penelitian menunjukkan bahwa resep obat racikan, yang memerlukan formulasi khusus mendapatkan layanan yang lebih cepat Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. dibandingkan dengan resep obat jadi yang sudah tersedia dalam bentuk siap Penting untuk dicatat bahwa nilai P dalam analisis ini adalah 0,000. Nilai P yang sangat kecil ini menunjukkan bahwa perbedaan waktu tunggu antara resep obat racikan dan resep lainnya adalah signifikan secara statistik. Ini berarti bahwa perbedaan dalam waktu tunggu tidak hanya terjadi karena kebetulan dan menunjukkan bahwa terdapat faktor-faktor yang secara pelayanan resep racikan. Beberapa faktor yang mungkin berkontribusi pada waktu tunggu cepat untuk resep obat racikan termasuk adanya prosedur atau alur kerja khusus yang diterapkan di Instalasi Farmasi. Misalnya, mungkin ada prioritas atau sistem manajemen yang dirancang untuk mempercepat pemrosesan resep racikan, atau mungkin ada efisiensi dalam proses pembuatan obat yang mempengaruhi waktu tunggu. Temuan ini memberikan informasi berharga bagi manajemen Instalasi Farmasi, menyoroti keberhasilan dalam mengelola waktu tunggu untuk resep obat racikan. Mengidentifikasi praktik pelayanan di area lain dan memperbaiki pengalaman pasien secara keseluruhan. Implementasi strategi yang terbukti efektif dalam pemrosesan resep racikan dapat diadaptasi untuk mengoptimalkan waktu tunggu untuk jenis resep lainnya di Instalasi Farmasi. Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan penelitian Waktu Tunggu pelayanan Instalasi Farmasi terhadap pasien Rawat Jalan di Rumkit Tk. II Udayana sebanyak 205 responden dari Data Sekunder Rekam Medis Elektronik, dapat diambil Copyright A2024 Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan p-ISSN 2615-1863 e-ISSN 2622-7614 DOI: https://doi. org/10. 31983/jrmik. kesimpulan dari skripsi ini adalah sebagai Jenis kelamin tidak mempengaruhi perbedaan waktu tunggu antara pria dan wanita tidak signifikan secara statistik. Hari kunjungan mempengaruhi waktu tunggu poli yang ramai sehingga memiliki waktu tunggu stabil berkat penggunaan Rekam Medis Elektronik. Poli yang dikunjungi mempengaruhi waktu tunggu poli dengan banyak pasien. Poli Penyakit Dalam, mendapatkan waktu tunggu stabil berkat Rekam Medis Elektronik. Jenis resep mempengaruhi waktu tunggu resep elektronik mengurangi waktu tunggu dibandingkan resep manual karena proses yang lebih cepat dan Saran Petugas Instalasi Farmasi Rumkit Tk. Udayana Untuk kemampuan dalam menangani obat racik dan non-racik guna mempercepat waktu tunggu layanan farmasi sesuai dengan standar mutu. Bagi Rumah Sakit Untuk meningkatkan keterampilan petugas melalui pelatihan yang relevan, agar persiapan obat lebih efisien dan waktu tunggu pasien rawat jalan dapat Bagi Mahasiswa Stikes KESDAM IX/Udayana. Dapat pembelajaran maupun ide penelitian penjaminan mutu Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan melakukan pengamatan langsung serta penelitian jangka panjang untuk menilai dampak waktu tunggu pelayanan farmasi terhadap kepuasan pasien. Kedepannya, penelitian lebih lanjut pengembangan teknologi baru, teknik Jurnal Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Volume 7 No 2 (Oktober 2. pemahaman yang lebih baik tentang berinteraksi dalam mempengaruhi waktu tunggu. Dengan pendekatan berbasis data dan penelitian yang mendalam, diharapkan pelayanan farmasi untuk pasien rawat jalan dapat ditingkatkan secara signifikan, dan hasil kesehatan yang lebih Daftar Pustaka