Hal: HUBUNGAN PAPARAN MEDIA SOSIAL DENGAN RISIKO BODY DYSMORPHIC DISORDER PADA REMAJA PUTRI DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA JAKARTA THE CORRELATION BETWEEN SOCIAL MEDIA EXPOSURE AND BODY DYSMORPHIC DISORDER AMONG FEMALE ADOLESCENTS AT A JUNIOR HIGH SCHOOL IN JAKARTA Fitri Sartika Sutarsono1*. Tri Setyaningsih1. Dian Fitria1 STIKES RS Husada. Kota Jakarta Pusat . *E-mail: fsartikasutarsono@gmail. ABSTRAK Remaja merupakan kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial, namun juga rentan terhadap dampak negatif dari paparan konten visual yang menampilkan standar kecantikan tidak realistis. Salah satu dampak psikologis yang dapat timbul adalah Body Dysmorphic Disorder (BDD), yaitu gangguan mental yang ditandai dengan ketidakpuasan berlebihan terhadap penampilan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan media sosial dengan risiko BDD pada remaja putri kelas 9 di salah satu SMP Negeri Jakarta. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan cross-sectional, melibatkan 110 siswi yang dipilih melalui purposive Instrumen penelitian berupa kuesioner intensitas penggunaan media sosial dan gejala BDD, dengan analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara paparan media sosial dan risiko BDD (A = 0,200 dan p = 0,. Mayoritas responden berada pada kategori sedang baik dalam tingkat paparan media sosial maupun risiko BDD, dengan gejala dominan berupa pemeriksaan diri kompulsif. Disimpulkan bahwa semakin tinggi paparan media sosial, semakin tinggi pula risiko remaja mengalami BDD. Oleh karena itu, diperlukan intervensi preventif seperti literasi media, edukasi kesehatan mental, serta dukungan psikososial di sekolah untuk menurunkan risiko gangguan citra tubuh. Kata Kunci: Paparan media sosial, body dysmorphic disorder, remaja putri, citra tubuh. ABSTRACT Adolescents are the most active users of social media and are particularly vulnerable to its negative effects, especially from visual content that promotes unrealistic beauty One psychological impact that may result is Body Dysmorphic Disorder (BDD), a mental disorder characterized by excessive dissatisfaction with physical appearance. This study aimed to examine the relationship between social media exposure and the risk of BDD among ninth-grade female students at a public junior high school in Jakarta. quantitative correlational method with a cross-sectional design was applied, involving 110 female students selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires measuring social media usage intensity and BDD symptoms, and analyzed with the Spearman Rank correlation test. The results indicated a significant relationship between social media exposure and BDD risk (A = 0. 200 and p = 0. Most respondents were in the moderate category for both social media exposure and BDD risk, with compulsive self-checking emerging as the dominant symptom. It can be concluded that higher social media exposure increases the likelihood of BDD among adolescents. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 ISSN. Therefore, preventive interventions such as media literacy, mental health education, and psychosocial support in schools are needed to reduce the risk of body image disorders. Keywords: Social media exposure, body dysmorphic disorder, adolescent girls, body Pendahuluan Menurut laporan Hootsuite and We Are Social. , jumlah pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai lebih dari 167 juta orang, dengan remaja sebagai kelompok pengguna paling aktif. Kondisi ini menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan mental, terutama terkait citra Media sosial kerap menampilkan standar kecantikan tidak realistis, seperti kulit putih, tubuh langsing, dan wajah simetris, yang dapat memicu perbandingan sosial dan menurunkan kepercayaan diri remaja perempuan dalam fase pencarian identitas diri (Amrizon dkk. , 2022. Atiqah , 2. Salah satu dampak psikologis yang mungkin muncul adalah Body Dysmorphic Disorder (BDD), yakni gangguan mental berlebihan terhadap kekurangan fisik yang sebenarnya tidak signifikan (American Psychiatric Association, 2. Individu BDD penampilannya buruk, sehingga mengalami gangguan fungsi sosial, emosional, dan Studi Enander dkk. menunjukkan bahwa gejala BDD dapat muncul sejak masa remaja, dengan pengaruh kombinasi faktor hereditas, bullying, dan paparan media sosial. Meskipun media sosial memiliki fungsi positif sebagai sarana ekspresi diri dan interaksi sosial, penggunaan berlebihan dan tidak bijak dapat memperburuk ketidakpuasan tubuh. Ideal estetika yang dibentuk melalui filter digital, influencer, dan tren viral berpotensi meningkatkan risiko BDD, terutama pada remaja perempuan yang sensitif terhadap tekanan Namun, penelitian lokal yang secara spesifik menelaah hubungan antara paparan media sosial dan risiko BDD pada remaja sekolah, khususnya di tingkat SMP, masih sangat terbatas. Padahal, masa remaja merupakan fase kritis pembentukan citra tubuh dan kepercayaan diri, sementara Jakarta sebagai kota padat dengan penetrasi digital tinggi menghadirkan tantangan besar dalam mengelola tekanan sosial dari Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara tingkat paparan media sosial dan risiko BDD pada siswi kelas 9 di salah satu SMP Negeri Jakarta. Hasil penelitian diharapkan dapat memperkaya pemahaman ilmiah tentang pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental remaja serta menjadi dasar bagi intervensi edukatif dan preventif yang relevan di lingkungan pendidikan Metodologi Penelitian Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui hubungan antara paparan media sosial dan risiko Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada remaja Penelitian dilaksanakan di salah satu SMP Negeri Jakarta pada bulan Mei 2025. Populasi penelitiannya adalah seluruh siswi kelas 9 sebanyak 153 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling, sehingga diperoleh 110 responden yang memenuhi kriteria Instrumen penelitian terdiri dari dua kuesioner, yaitu kuesioner intensitas paparan media sosial dan Body Dysmorphic Disorder Symptom Scale (BDDSS-. Kuesioner intensitas paparan media sosial dikembangkan oleh Rambey . dan telah diuji reliabilitas dengan nilai CronbachAos alpha 0,892, menunjukkan konsistensi internal yang sangat baik. Sementara itu. BDDSS-54 yang diadaptasi ke Bahasa Indonesia oleh Artika . memiliki reliabilitas tinggi dengan nilai Hal: 49-56 Hubungan Paparan Media Sosial dengan Risiko Body Dysmorphic Disorder pada Remaja Putri di Sekolah Menengah Pertama Jakarta CronbachAos alpha 0,899 serta validitas konstruk yang baik, sehingga layak digunakan untuk mengukur gejala BDD pada remaja. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner daring menggunakan Google Form. Analisis data mencakup analisis univariat untuk mendeskripsikan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk menguji hubungan antara paparan media sosial dan risiko BDD dengan taraf signifikansi p < 0,05. Pengolahan data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS versi 27. Hasil Penelitian Analisa Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik responden berdasarkan usia, durasi penggunaan media sosial dalam satu kali akses, riwayat bullying, dan Indeks Massa Tubuh (IMT) di Sekolah Menengah Pertama Jakarta. Karakteristik Frekuensi . : . 30,0% 42,7% 27,3% 23,6% 37,3% 39,1% 17,3% 57,3% 15,5% 10,0% 33,6% 66,4% Usia 14 tahun 15 tahun 16 tahun Durasi Penggunaan Media Sosial dalam Satu Kali Akses <2 jam/hari (Renda. 2-3 jam/hari (Sedan. >3 jam/hari (Tingg. Riwayat Bullying < 18,5 (Kuru. 18,5Ae24,5 (Norma. 25Ae29,9 (Overweigh. > 30 (Obesita. Indeks Massa Tubuh (IMT) Tidak Pernah Pernah Sumber: Data Primer, 2025 Hasil mayoritas responden berusia 15Ae16 tahun . %), yang termasuk dalam kategori remaja pertengahan. Pada fase ini, remaja lebih rentan terhadap pengaruh sosial, termasuk standar kecantikan yang ditampilkan di media sosial. Sebagian besar responden menggunakan media sosial lebih dari 3 jam per hari . ,1%), yang menunjukkan tingginya intensitas paparan terhadap konten digital. Selain itu, 66,4% responden memiliki pengalaman bullying, terutama terkait penampilan fisik. Dari segi status gizi, lebih dari separuh responden memiliki IMT normal . ,3%), namun terdapat pula yang tergolong kurus . ,3%), overweight . ,5%), dan obesitas . %). Temuan ini menegaskan bahwa faktor lingkungan sosial maupun kondisi kerentanan psikologis remaja. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 ISSN. Analisa Bivariat Tabel 2. Hasil Uji Korelasi Hubungan Paparan Media Sosial dengan Risiko Body Dysmorphic Disorder pada Remaja Putri di Sekolah Menengah Pertama Jakarta. Correlations Paparan Media Body Dysmorphic Sosial Disorder Spearman's Paparan Correlation Media Sosial Coefficient Sig. -taile. Body Correlation Dysmorphic Coefficient Disorder Sig. -taile. Sumber: Data Primer, 2025 Uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara paparan media sosial dan risiko Body Dysmorphic Disorder (BDD) (A = 0,200. p = 0,. Meskipun korelasinya lemah, temuan ini relevan secara klinis karena menunjukkan bahwa semakin tinggi paparan media sosial, semakin besar kecenderungan remaja mengalami gejala BDD. Berdasarkan skor kuesioner, paparan media sosial dikategorikan menjadi ringan, sedang, dan berat. Mayoritas responden berada pada kategori sedang . ,4%), sedangkan kategori berat mencapai 22,7% dan kategori ringan 10,0%. Risiko BDD yang diukur dengan instrumen BDDSS-54 juga menunjukkan pola serupa: sebagian besar responden berada pada kategori sedang . ,2%), diikuti kategori ringan . ,2%) dan berat . ,8%). Kategori ini menunjukkan bahwa sebagian besar remaja belum menunjukkan gejala ekstrem, namun sudah berada pada kondisi psikologis yang rentan terhadap gangguan citra tubuh. Pembahasan Pada penelitian ini didapatkan bahwa mayoritas responden dalam penelitian ini berusia 15Ae16 tahun . %). Fase ini merupakan periode krusial dalam pembentukan identitas diri, peningkatan sensitivitas terhadap penilaian sosial, serta perhatian yang lebih besar pada penampilan fisik (Rusuli, 2022. Salsabila , 2. Pada masa ini, remaja lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan, termasuk media sosial yang intens menghadirkan standar kecantikan tidak Data dari Radio Republik Indonesia . menunjukkan bahwa 48% pengguna internet di Indonesia adalah remaja di bawah usia 18 tahun, sehingga kelompok ini sangat rentan terhadap pengaruh media sosial dalam membentuk persepsi tubuh. Durasi penggunaan media sosial juga menjadi aspek penting. Sebagian besar responden mengakses media sosial lebih dari 3 jam per hari . ,1%), sementara 37,3% berada pada kisaran 2Ae3 jam. Durasi tinggi ini menunjukkan intensitas paparan yang besar terhadap konten visual yang kerap menampilkan idealisasi tubuh seperti wajah simetris, kulit cerah, dan tubuh Jenis konten yang paling sering diakses adalah hiburan . %), kuliner . %), dan fashion . %), yang sarat dengan citra tubuh ideal. Paparan berulang terhadap konten semacam ini dapat ketidakpuasan tubuh, yang menjadi pencetus utama Body Dysmorphic Disorder (BDD) (Manuja dkk. , 2024. Chassiakos , 2. Namun penggunaan media sosial tidak dapat dijadikan indikator tunggal dalam menilai kerentanan terhadap BDD. Putri dkk. menekankan pentingnya melihat jenis konten yang dikonsumsi, karena tidak Hal: 49-56 Hubungan Paparan Media Sosial dengan Risiko Body Dysmorphic Disorder pada Remaja Putri di Sekolah Menengah Pertama Jakarta berdampak negatif. Sekitar 50% remaja menggunakan gadget untuk keperluan produktif seperti mengerjakan tugas sekolah, sementara sisanya lebih fokus pada konten hiburan. Oleh karena itu, edukasi literasi media menjadi pendekatan preventif penting dalam mengarahkan remaja agar lebih kritis terhadap apa yang mereka konsumsi secara daring. Kurz dkk. menemukan bahwa program literasi media yang diterapkan di sekolah terbukti efektif dalam menurunkan ketidakpuasan tubuh dan menumbuhkan kesadaran akan manipulasi visual yang lazim di media Selain itu, status gizi responden juga Mayoritas memiliki indeks massa tubuh (IMT) normal . ,3%), namun ada pula yang kurus . ,3%), overweight . ,5%), dan obesitas . %). Menariknya, ketidakpuasan tubuh tidak selalu sejalan dengan kondisi fisik objektif. Bahkan remaja dengan IMT normal tetap bisa merasa tidak puas akibat membandingkan diri dengan standar ideal (Pamirma & Satwika, 2. Pada kelompok overweight dan obesitas, risiko stigma sosial lebih besar sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kecemasan, depresi, dan gejala BDD (Gunawan dkk. , 2022. Nabila & Setyaningsih, 2. Penelitian ini juga menemukan bahwa 66,4% responden memiliki riwayat bullying, terutama berupa body shaming. Bentuk pelecehan verbal terkait berat badan, kulit, atau bentuk tubuh terbukti memicu gangguan citra tubuh (Avelina & Baba, 2025. Ningsih dkk. , 2. Akibatnya, remaja lebih peka terhadap penilaian sosial dan dapat terdorong melakukan perilaku ekstrem, seperti diet ketat, penggunaan filter digital kompulsif, hingga keinginan menjalani prosedur kosmetik (Prince dkk. , 2. Dalam konteks Jakarta sebagai kota besar dengan penetrasi digital tinggi, tekanan ini semakin diperkuat oleh algoritma media sosial yang menampilkan citra tubuh ideal secara berulang (Adriani dkk. , 2. Secara statistik, penelitian ini membuktikan adanya hubungan signifikan antara paparan media sosial dan risiko BDD dengan koefisien korelasi Spearman A = 0,200 dan p = 0,036. Meskipun korelasi lemah, hasil ini penting secara klinis karena mayoritas responden berada pada kategori sedang, baik dalam tingkat paparan media sosial . ,4%) maupun risiko BDD . ,2%). Hal ini menunjukkan bahwa meski belum parah, remaja berada dalam kondisi psikologis yang rentan. Tinjauan terhadap dimensi gejala BDD menunjukkan bahwa perilaku kompulsif berupa pemeriksaan diri adalah yang paling dominan. Berdasarkan skor BDDSS-54, cenderung melakukan perilaku seperti bercermin berulang kali, mengecek bagian tubuh tertentu, serta membandingkan diri secara konstan dengan orang lain. Hal ini menunjukkan adanya preokupasi terhadap kekurangan fisik yang sebenarnya tidak signifikan, sebagaimana dijelaskan oleh American Psychiatric Association . yang menjadi ciri utama BDD. Selain perilaku kompulsif, sebagian responden juga menunjukkan gejala penghindaran sosial. Mereka merasa cemas atau malu tampil di depan umum, terutama ketika penampilan dianggap tidak sesuai dengan standar kecantikan yang dibentuk media sosial. Kondisi ini memperkuat temuan bahwa BDD tidak hanya berdampak pada aspek kognitif dan afektif, tetapi juga memengaruhi fungsi sosial serta interaksi sehari-hari. Paparan konten visual yang menampilkan standar kecantikan ideal memiliki pengaruh besar terhadap persepsi tubuh remaja. Responden menunjukkan tingkat atensi tinggi terhadap konten seperti unggahan selebritas, tutorial kecantikan, video transformasi penampilan, hingga foto hasil edit digital. Konten tersebut membentuk ekspektasi diri mengenai tubuh dan wajah AuidealAy. Ketika ekspektasi tidak terpenuhi, remaja mengalami frustrasi, rasa malu, serta ketidakpuasan terhadap diri Penelitian Angelin & Ikhssani . Gunawan dkk. , serta Atiqah . mendukung temuan ini, bahwa paparan media sosial secara berulang berperan besar dalam menumbuhkan kecemasan terhadap penampilan dan menurunkan harga diri remaja perempuan. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 Penelitian ini juga memiliki keunikan dari sisi sasaran populasi. Sebagian besar penelitian terdahulu lebih banyak dilakukan pada mahasiswa atau dewasa muda, sedangkan penelitian ini menargetkan siswi SMP kelas 9. Fakta bahwa gejala BDD sudah muncul pada kelompok usia remaja awal menunjukkan urgensi deteksi dini dan intervensi, khususnya di lingkungan sekolah. Implikasi praktis dari penelitian ini sangat penting. Sekolah diharapkan menyediakan program literasi media, pelatihan regulasi emosi, dan layanan konseling psikologis untuk membantu remaja membentuk citra tubuh yang sehat. Sementara itu, orang tua perlu aktif penggunaan media sosial secara sehat, serta menanamkan nilai penerimaan diri sejak Namun, penelitian ini memiliki Pertama, data dikumpulkan melalui kuesioner self-report sehingga berpotensi menimbulkan bias subjektivitas. Kedua, penelitian hanya dilakukan di satu SMP Negeri Jakarta sehingga hasilnya belum tentu dapat digeneralisasi ke populasi remaja di wilayah lain. Selain itu, faktor lain seperti harga diri, jenis konten spesifik, dan keterlibatan emosional dalam menggunakan media sosial belum dianalisis, sehingga masih ada ruang untuk penelitian lanjutan. Penelitian ini membuka peluang bagi pengembangan intervensi preventif dan promotif di sekolah. Temuan yang diperoleh dapat menjadi dasar kuat untuk implementasi program berbasis sekolah, seperti literasi media, pelatihan regulasi emosi, serta layanan konseling psikologis. Intervensi semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai pencegahan, tetapi juga sebagai pendekatan rehabilitatif untuk membantu remaja membentuk citra tubuh yang sehat dan realistis. Untuk disarankan agar ruang lingkup variabel diperluas, misalnya dengan memasukkan faktor harga diri, jenis konten yang dikonsumsi, serta tingkat keterlibatan emosional dalam penggunaan media sosial. Pendekatan ini diharapkan mampu ISSN. memberikan pemahaman lebih mendalam BDD memperluas strategi intervensi yang relevan dengan kebutuhan psikososial remaja di era digital saat ini. Kesimpulan Penelitian ini membuktikan adanya hubungan signifikan antara paparan media sosial dan risiko Body Dysmorphic Disorder (BDD) pada remaja putri kelas 9 di salah satu SMP Negeri Jakarta. Meskipun korelasi tergolong lemah, hasil ini bermakna secara statistik dan penting secara klinis karena masa remaja merupakan fase krusial pembentukan identitas diri. Sebagian besar responden berada pada kategori sedang untuk paparan media sosial maupun risiko BDD, dengan gejala dominan berupa pemeriksaan diri Saran Berdasarkan temuan hasil penelitian, mengintegrasikan program literasi media ke dalam kurikulum serta menyediakan layanan konseling psikologis yang mudah diakses siswa. Upaya ini penting untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan regulasi emosi, serta ketahanan mental remaja dalam menghadapi pengaruh media sosial yang sering menampilkan standar kecantikan tidak realistis. Di sisi lain, orang tua bersama guru berperan sebagai pendamping aktif yang senantiasa mengawasi dan mengarahkan penggunaan media sosial oleh remaja. Dukungan dalam bentuk komunikasi terbuka, penanaman nilai penerimaan diri, dan bimbingan agar lebih kritis terhadap konten digital menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya ketidakpuasan tubuh yang berlebihan. Sementara itu, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas cakupan populasi dengan melibatkan sekolah dari berbagai wilayah serta mempertimbangkan variabel tambahan seperti harga diri, jenis konten yang dikonsumsi, dan tingkat keterlibatan Hal: 49-56 Hubungan Paparan Media Sosial dengan Risiko Body Dysmorphic Disorder pada Remaja Putri di Sekolah Menengah Pertama Jakarta Pendekatan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor risiko Body Dysmorphic Disorder pada remaja, pengembangan intervensi preventif yang lebih efektif. Daftar Pustaka