Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Analisis Kesulitan Pengguna dalam Menemukan Sublema pada KBBI Akibat Perubahan Sistem Pengurutan Sania Dwi Aura1. Putri Ardini2. Nanda Aulia Chairani3. Sintya Stefani Sihaloho4. Shalsa Harisa Ashura5. Desi Anggriani Saragi6. Putri Damayanti Siahaan7. Lili Tansliova8 1,2,3,4,5,6,7,8 Universitas Negeri Medan. Indonesia saniaaura0@gmail. com , putriardini2018@gmail. com , nandaachkmjn@gmail. sihalohosintya0@gmail. com , salsaharrisa@gmail. com , desianggrianisaragi@gmail. siahaaputridamayanti@gmail. com , lilitans@unimed. Abstrak Perubahan sistem pengurutan sublema dalam KBBI yang tidak lagi mengikuti alfabet, tetapi paradigma pembentukan kata, membuat sebagian pengguna mengalami kesulitan saat menavigasi entri kamus. Ketidaksesuaian antara sistem baru dan kebiasaan pencarian alfabetis menyebabkan sublema sering sulit ditemukan, terutama ketika turunan kata terpisah dari lema dasar atau ketika homonim mengaburkan pengelompokan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk kesulitan tersebut serta faktor penyebab hambatan navigasi dalam KBBI. Metode yang digunakan ialah kualitatif deskriptif dengan teknik simak catat terhadap seluruh lema dan sublema, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan leksikografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan pengguna terutama berasal dari inkonsistensi urutan sublema, pemisahan turunan oleh lema lain, dan ketidakselarasan struktur kamus dengan pola pencarian alfabetis. Kata Kunci: KBBI. Sublema. Sistem Pengurutan PENDAHULUAN Kamus merupakan salah satu alat rujukan yang paling penting dalam kegiatan kebahasaan, terutama dalam memahami makna kata dan variasi bentuknya. KBBI sebagai kamus standar bahasa Indonesia terus mengalami pembaruan demi menyesuaikan perkembangan bahasa. Namun, perubahan yang dilakukan tidak selalu mempermudah pengguna dalam mengakses informasi, khususnya pada bagian pengorganisasian lema dan Salah satu perubahan signifikan adalah sistem pengurutan sublema yang tidak lagi alfabetis, tetapi mengikuti paradigma pembentukan kata. Perubahan ini menjadi titik perhatian karena dapat menimbulkan kebingungan bagi pengguna umum. Sublema merupakan bentuk turunan atau frasa khusus yang ditempatkan di bawah lema utama. Dalam kamus modern, keteraturan posisi sublema menjadi kunci aksesibilitas Ketika struktur penyusunan berubah, pola pencarian pengguna juga ikut Menurut Rahardi . , pengguna kamus modern cenderung mengandalkan pola pencarian alfabetis dan keserasian visual untuk menemukan makna kata. Oleh karena itu, perubahan sistem pengurutan dalam KBBI berpotensi menimbulkan hambatan kognitif bagi sebagian pengguna. Salah satu masalah utama dalam KBBI edisi mutakhir adalah inkonsistensi urutan sublema yang tidak lagi disusun menurut alfabet. Sistem baru mengelompokkan sublema berdasarkan keterkaitan morfologis, yang sebenarnya memiliki nilai linguistik, tetapi tidak selalu selaras dengan pola pencarian pengguna. Ketidaksesuaian antara logika penyusun dan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 ekspektasi pengguna ini dapat memunculkan kesulitan dalam menemukan makna kata Hal tersebut selaras dengan pernyataan Putrayasa . yang menegaskan bahwa aksesibilitas kamus sangat dipengaruhi oleh kejelasan hierarki dan penempatan lema. Dengan demikian, persoalan ini perlu dianalisis secara lebih mendalam. Kesulitan pengguna dalam menemukan sublema menjadi isu yang penting karena kamus bukan hanya produk linguistik, tetapi juga alat edukasi yang digunakan oleh pelajar, mahasiswa, guru, hingga peneliti. Ketika struktur kamus tidak mudah digunakan, maka efektivitas pembelajaran bahasa dapat terganggu. Hal ini sejalan dengan pendapat Wijana . yang menyatakan bahwa kamus harus mengutamakan kemudahan navigasi demi mendukung literasi bahasa. Kesulitan dalam menemukan sublema menunjukkan adanya celah antara desain kamus dan kebutuhan pengguna. Oleh sebab itu, masalah tersebut layak menjadi fokus penelitian. Penggunaan paradigma pembentukan kata sebagai dasar pengurutan sublema sebenarnya memiliki kelebihan dari sisi linguistik struktural. Namun, penerapannya tanpa penjelasan eksplisit dalam kamus dapat menyebabkan pengguna kesulitan mengantisipasi pola penyusunan. Akses informasi menjadi lebih lambat karena pengguna harus membaca sublema satu-persatu tanpa bantuan urutan alfabetis. Menurut Lestari . , sistem rujukan yang tidak sesuai ekspektasi pengguna dapat menambah beban kognitif dan memperpanjang waktu pencarian. Dengan demikian, perubahan ini menimbulkan implikasi langsung terhadap efisiensi penggunaan kamus. Fenomena kesulitan pengguna ini terlihat ketika beberapa sublema ditempatkan di bawah lema utama secara tidak berurutan menurut abjad, sehingga pengguna sering melewatkan sublema yang dicari. Ketidakteraturan visual dan struktural ini menjadi faktor penting yang mempengaruhi pengalaman membaca kamus. Sejalan dengan pendapat Maryani . , ketepatan struktur internal kamus menentukan sejauh mana pengguna dapat menavigasi konten secara efektif. Jika struktur tersebut menyimpang dari pola pencarian yang lazim, maka pengguna akan kesulitan menemukan informasi. Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi terhadap sistem pengurutan sublema. Berdasarkan pemaparan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan yang dialami pengguna dalam menemukan sublema pada KBBI akibat perubahan sistem pengurutan. Analisis difokuskan pada inkonsistensi dan hambatan navigasi yang muncul dari pengorganisasian sublema. Penelitian ini juga berupaya menggambarkan dampak perubahan tersebut terhadap pengguna, baik dari segi kejelasan informasi maupun kemudahan akses. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan bagi pengembangan kamus yang lebih ramah pengguna. Kajian ini menjadi penting sebagai upaya peningkatan kualitas KBBI sebagai rujukan resmi bahasa Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, sebagaimana dikemukakan oleh Bogdan dan Taylor . alam Waruwu, 2. bahwa penelitian kualitatif menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari objek yang diamati. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan menjelaskan kesulitan pengguna dalam menemukan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 sublema pada seluruh abjad KBBI, sehingga data lebih tepat dijelaskan melalui uraian kata. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, dengan sumber data berupa lema dan sublema KBBI yang dianalisis secara menyeluruh. Pengumpulan data dilakukan dengan metode simak teknik catat, yaitu menyimak setiap entri dalam KBBI dan mencatat fenomena yang dianggap bermasalah, seperti sublema yang tidak berada di bawah lema dasar, urutan tidak alfabetis, pemisahan turunan oleh lema lain, serta munculnya homonim yang mengganggu pengelompokan. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif dengan pendekatan leksikografi, yaitu menelaah cara KBBI menyusun lemaAesublema, konsistensi paradigma pembentukan kata, dan dampaknya terhadap kemudahan pengguna dalam menemukan HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Lema dan Sublema Dalam Kamus Definisi Lema dan Sublema Lema merupakan istilah teknis dalam leksikografi yang digunakan sebagai pedoman bagi pengguna kamus untuk mencari suatu kata. Pada umumnya dalam kamus lema akan ditulis dengan cetak tebal. Sebagian leksikografer berpendapat bahwa lema dalam kamus umum berupa kata leksikal. Dalam KBBI . 8: . lema diartikan sebagai . kata atau frasa masukan dalam kamus di luar definisi atau penjelasan lain yang diberikan dalam entri. butir masukan. Satuan bahasa pengisi lema adalah kata, misalnya, kata merumahkan, perumahan, rumahan,berumah, berumahkan, memperumahkan, serumah, dan menyerumahkan berasal dari bentuk dasar rumah. Bentuk rumah tersebut disebut sebagai kata dasar. Dalam leksikografi istilah yang tepat untuk menyatakannya adalah leksem, bukan kata. Hal tersebut disebabkan oleh satuan leksikal adalah leksem bukan kata (Chaer. Dalam kamus, sublema berada di bawah lema pokok dan merupakan bagian penjelas atas lema pokok. Sublema ini dapat berupa kata gabung sebagai bentukan baru yang dibentuk dari unsur lema pokok. Selanjutnya, makrostruktur ini menjadi struktur inti sebuah kamus. Mikrostruktur mencakup lema, sublema, pelafalan, kelas kata, label penggunaan, definisi/ padanan, contoh pemakaian, penerjemahan contoh, dan ilustrasi. Dalam penyusunan lema atau sublema kata dasar menduduki lema utama setelah itu kata berimbuhan atau derivasi dari kata dasar tersebut dijadikan sebagai sublema dan/atau lema Fungsi Lema Dan Sublema Lema (Entri Poko. berfungsi sebagai kata dasar atau bentuk dasar yang menjadi titik akses utama bagi pengguna, diurutkan secara alfabetis . akrostruktur kamu. , dan berperan sebagai pusat semantik yang menyediakan definisi, informasi kelas kata, serta konteks makna fundamental suatu kata. Peran sentral lema adalah mengorganisasi seluruh keluarga kata turunan di bawahnya, memberikan fondasi morfologis dan etimologis. Sublema (Subentr. berfungsi sebagai perpanjangan informasional dari lema, mencakup semua bentuk berimbuhan . , kata ulang, dan gabungan kata Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 . rasa/idio. yang secara sinkronis atau diakronis masih terkait dengan lema induk (Kridalaksana, 2. Fungsi kunci sublema adalah merinci perubahan makna, fungsi gramatikal, dan pemakaian kontekstual yang terjadi akibat penambahan afiks atau kombinasi kata, sambil secara efisien menghemat ruang cetak dan mempercepat pemahaman dengan mengelompokkan kosakata turunan secara logis berdasarkan paradigma pembentukan kata, sehingga pengguna dapat melihat bagaimana satu kata dasar dapat melahirkan berbagai konsep berbeda (Dewi, 2. Oleh karena itu, hubungan lemasublema ini merupakan representasi dari sistem morfologi suatu bahasa dalam format yang mudah diakses, membedakan makna kata dasar dari makna kata turunan. Sistem Pengurutan Sublema Dalam KBBI Sistem Alfabetis Sistem abjad merupakan penyimpanan arsip dengan menggunakan metode penyusunan secara abjad atau alfabetis . enyusun anam dalam urutan nama-nama mulai dari A sampai Z). Pengertian sistem abjad adalah penyimpanan warkat-warkat menurut abjad dari nama-nama orang atau organisasi utama yang terdapat dalam tiap-tiap warkat itu. Sistem abjad adalah suatu sistem untuk menyusun nama-nama orang. Baik perihal dari surat maupun instansi pengirim dapat disusun menurut abjad, yaitu menyusun subyek itu dalam urutan A sampai Z. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem abjad adalah sistem penyimpanan yang dilakukan berdasarkan nama-nama orang atau nama organisasi utama yang ada pada arsip lalu disusun berdasarkan abjad, alfabetis dari A sampai Z (Rachmi, 2. Sistem Paradigma Sistem paradigma pembentukan kata adalah cabang ilmu bahasa . yang mempelajari struktur kata, termasuk cara pembentukannya melalui proses seperti afiksas . enambahanimbuhan, reduplikasi . , . enggabungan kat. Paradigma merujuk pada susunan pola kata yang bisa dibentuk dari satu kata dasar, sedangkan "sistem" menunjukkan bahwa proses-proses ini merupakan bagian dari sistem yang terpadu dalam suatu bahasa. Setiap bentuk dasar, terutama dalam bahasa berfleksi dan aglutinasi, untuk dapat digunakan di dalam kalimat atau tuturan tertentu harus dibentuk terlebih dahulu menjadi kata gramatikal, baik secara afiksasi, reduplikasi aupun komposisi. Umpamanya untuk konstruksi AuNenek A komik itu di kamarAy hanya bentuk kata berprefiks me- yang dapat digunakan menjadi predikat dalam kalimat tersebut. Sebaiknya, untuk kalimat berkonstruksi AuKomik itu A. Nenek di kamarAoAo hanya kata berprefiks di- yang dapat digunakan. Pembentukan kata ini mempunyai dua sifat. Pertama adalah pembentukan kata secara inflektif, dan kedua pembentukan secara derivatif. Pembentukan kata secra inflektif adalah pembentukan kata yang mana identitas kata yang dihasilkan baik klas maupun leksikalnya tidak sama dengan bentuk dasarnya. Sebaliknya, proses pembentukan kata secara derivatif adalah proses pembentukan kata di mana identitas bentuk yang dihasilkan tidak sama dengan identitas bentuk dasarnya (Sugiyono, 2. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Dampak Perubahan Sistem Pengurutan Terhadap Aksebilitas Keuntungan Aksesibilitas Peningkatan Efisiensi untuk Penggunaan Khusus: Jika kamus ditujukan untuk tujuan tertentu . isalnya, kamus frekuensi kata untuk penulis atau pelajar bahas. , pengurutan berdasarkan kriteria tersebut . ukan abja. dapat mempermudah pengguna menemukan kata yang paling relevan dengan kebutuhan mereka. Memfasilitasi Analisis Data: Pengurutan yang berbeda, seperti berdasarkan frekuensi atau kategori tematik, dapat membantu peneliti atau pengguna tingkat lanjut dalam menganalisis pola bahasa atau struktur leksikal tertentu yang sulit dilakukan dengan pengurutan abjad tradisional. Kerugian Aksesibilitas Pengguna kamus, secara universal, dilatih untuk mencari kata berdasarkan urutan Perubahan sistem pengurutan secara drastis akan membingungkan sebagian besar pengguna dan membuat kamus menjadi tidak efisien. Pengguna juga harus mempelajari dan beradaptasi dengan metode pengurutan yang baru, yang membutuhkan waktu dan upaya tambahan, alih-alih langsung dapat mengakses informasi yang mereka butuhkan. Selain itu, sistem pengurutan non-abjad sering kali membutuhkan algoritma pencarian yang lebih kompleks . eperti sequential search untuk data yang tidak terstruktur dengan bai. yang, untuk kamus cetak, secara signifikan memperlambat proses pencarian manual. Dalam kamus digital, ini mungkin juga memerlukan antarmuka pengguna yang lebih kompleks. Pengurutan abjad tetap menjadi standar emas untuk aksesibilitas kamus tujuan umum karena familiar dan intuitif bagi mayoritas pengguna. Perubahan sistem pengurutan, meskipun mungkin bermanfaat untuk aplikasi khusus, umumnya akan mengorbankan aksesibilitas dan efisiensi bagi pengguna biasa, kecuali jika diimplementasikan dalam format digital dengan alat pencarian yang kuat untuk mengimbanginya (Putri, & Handayani,2. Daftar Masalah Inkonsistensi Sublema Lema utama = kata dasar Sublema = bentuk turunan . er-, meng-, ter-, per-, ke-, pe-, dl. Masalah = tidak mengikuti paradigma pembentukan kata / tidak berurutan Huruf A Lema/ Sublema Masalah Alasan abad - berabad Turunan tidak berurutan Hubungan abadi - mengabadi Turunan tidak konsisten Tidak pembentukan kata acak - mengacak abstrak-mengabstrakkan Tidak ditemukan turunan Turunan tidak konsisten acar - mengacar Diletakkan berdekatan Membuat padahal tidak terkait mengira satu keluarga Hubungan kata dasar terputus Tidak pembentukan kata Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Huruf B Lema/ Sublema babak . & babak . Masalah Homograf/Homonim diletakkan berdekatan Lema dasar yang Baca Turunan terpisah pergantian halaman. Turunan . ditempatkan setelah subentri. Alasan Entri dengan lema yang sama . , namun kelas kata . dan makna yang berbeda, diletakkan berurutan, yang dapat membingungkan pengguna Entri lema babar . , babar . , babar . enjadi banya. , dan babar, kebabaran . edapatan sedang melakukan kejahata. dipisahkan secara struktural dalam urutan abjad lema dasar. Kata turunan membacai dan dipisahkan oleh pergantian halaman, memutus alur derivasi kata kerja. Turunan berbadan diletakkan setelah lema badan dan sub-entri panjang seperti badan hukum dan badan legislatif, tidak langsung mengikuti lema dasar. Huruf C Lema/ Sublema Cabai Alasan Sub-entri Sub-entri yang panjang seperti . diom/peribahasa dan peribahasa dan jenis cabai . awa, jenis-jenis caba. merah, memisahkan lema dasar dari sementara turunan kata kerjanya tidak ada atau tidak ditemukan langsung di bawah entri utama. Cabik Turunan kerja Turunan mencabik-cabik diletakkan . encabik, mencabik-cabi. setelah cabik . dan tidak konsisten berurutan. mencabik, mengganggu urutan morfologis turunan kata kerja. Turunan tidak ditemukan Lema cabul . hanya diikuti oleh atau tidak konsisten. , turunan kata kerja . tidak dicantumkan di tempat yang seharusnya . etelah lema dasa. Cabul Masalah Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Cadar Huruf D Lema/ Sublema dabih - pendabihan dada - berdada-dadaan dadak, mendadak dadap dan dadap dadung dan dadung Terpecah menjadi dua entri cacah . /n - menusu. dan cacah . homograf yang berbeda luka makna dan turunan. berurutan, namun turunan dari entri pertama . dan entri kedua . tidak konsisten. Turunan tidak ditemukan. Lema cadar . hanya diikuti oleh hanya sub-entri. , sementara turunan mencadar atau mencadarkan tidak Masalah Alasan Turunan nomina diletakkan Kata terlalu jauh dari lema dasar. endabihan ) dipisahkan oleh turunan kata kerja . endabih ) dan idiom ( menampung darah ), sehingga tidak berurutan secara Sub-entri yang panjang Daftar sub-entri . eperti lapang ki, memutus alur ke turunan lega ki, dada manuk ) diletakkan di kata kerja. antara lema dasar . ada ) dan kata . erdada-dadaan. Lema dasar tidak mandiri Lema utama adalah dadak, tetapi dan terjadi inkonsistensi entri diisi oleh kata turunan kelas kata. Selain itu, mendadak diberi kelas kata verba . padahal definisinya bersifat adjektiva ("tiba-tiba. tidak disangka-sangka" Lema homograf/homonim Dua lema dadap yang berbeda diletakkan terpisah tanpa makna . erisai dan pohon ) diletakkan sebagai entri terpisah . uperscript seperti Adadap. Adada. , yang dapat menimbulkan kebingungan. Lema homograf/homonim Dua lema dadung yang berbeda diletakkan berdekatan tanpa makna . erdendang dan tali besar ) diletakkan berdekatan tanpa penanda . Huruf E Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Lema/ Sublema Ecek-mengecek-ecekecek Masalah Alasan Tidak urut. sublema tidak Urutan alfabet lebih kuat daripada langsung mengikuti lema hierarki morfologis Edit-mengeditpengeditan-editoreditorial Ekskavasimengekskavasi Ekspor-eksporirmengeskporpengeskpor Turunan bercampur dengan Ditata berdasarkan alfabet, bukan lema serumpun lainnya proses morfologis kata AueditAy Huruf F Lema/ Sublema Falsafah-berfalsafah Fana-kefanaan Farmakologifarmakokinetikafarmakodinamik Bentuk ditempatkan dekat lema Sublema bercampur dengan bentuk Turunan berimbuhan mengsering berada jauh dari lema dasar Pola morfologis dari bahasa asing tidak diurutkan seperti bahasa Indonesia Masalah Turunan berimbuhan tidak Sublema berada jauh dari lema dasar Alasan Awalan kedikelompokkan di tempat alfabet masing-masing, bukan mengikuti kata dasar falsafah Awalan Auke-Ay berada jauh secara alfabetis, sehingga dipindah ke bagian kata berawalan K Istilah ilmiah saling terkait KBBI diatur berdasarkan alfabet tetapi tidak berdekatan. murni, bukan hubungan bidang Huruf G Lema/ Sublema Galak-menggalakkankegalakan Masalah Alasan Turunan menggalakkan Prefiks meng- menyebabkan lema tidak berada dekat galak, berpindah jauh dalam pengurutan sehingga pengguna harus alfabet. mencari ke bagian M. Galung-menggalungkan Pengguna mungkin tidak menyadari bahwa turunan menggalungkan ada karena jaraknya jauh dari lema Turunan kegamangan jauh dari lema gamang. Gamang-kegamangan Perbedaan menyebabkan lema pindah ke bagian M, bukan ditempatkan sebagai sublema. Huruf awal Auke-Ay menempatkan kata tersebut di bagian alfabet K, tidak berurutan dengan G. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Gamet-gametogenesisgametofit-gametangium Huruf H Lema/ Sublema Haba-menghabakankehaba-habaan Keluarga istilah ilmu biologi KBBI menganggapnya lema dikelompokkan, berbeda, bukan turunan, sehingga padahal secara ilmiah saling hanya mengikuti aturan alfabet. Masalah Alasan Sublema tidak langsung Bentuk turunan terpisah karena mengikuti lema dasar urutan alfabet lebih menentukan daripada keterkaitan morfologis haid Ae menghaidkan Ae Turunan tidak berurutan kehaid-an halal Ae menghalalkan Ae Sublema tidak kehalalan Ae penghalalan ditemukan Kata dasar dan turunannya disisipi lema lain yang tidak terkait makna langsung Bentuk ke- dan pe- tidak berada di bawah lema dasar halal Huruf I Lema/ Sublema Masalah Alasan ikat Ae mengikat Ae diikat Penggunaan "ikat" sebagai Penggunaan langsung tanpa kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam Ae ikatan . ontoh: "Saya ikat tali") percakapan sehari-hari. ikuit Ae mengikuti Ae Penggunaan "ikut" sebagai Penggunaan langsung tanpa diikuti Ae keikutsertakan kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam . ontoh: "Saya ikut lombaAy percakapan sehari-hari. isi Ae mengisi Ae diisi Ae Penggunaan "isi" sebagai Penggunaan langsung tanpa kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam . ontoh: "Saya isi formulir") percakapan sehari-hari. impor Ae mengimpor Ae Penggunaan "impor" diimpor Ae imporan sebagai kata kerja tanpa . "Indonesia impor beras") ingat Ae mengingat Ae Penggunaan "ingat" sebagai kata kerja tanpa imbuhan diingat Ae ingatan . ontoh: "Saya ingat dia") Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam konteks bisnis atau ekonomi. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Huruf J Lema/ Sublema Masalah Alasan jaga Ae menjaga Ae dijaga Penggunaan "jaga" sebagai Penggunaan langsung tanpa Ae penjaga kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam . ontoh: "Saya jaga rumah") percakapan sehari-hari. jalan Ae menjalani dijalani Ae perjalanan Ae Penggunaan "jual" sebagai Penggunaan langsung tanpa kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam . ontoh: "Saya jual buku") percakapan sehari-hari. jahit Ae menjahit Ae dijahit Penggunaan "jahit" sebagai Penggunaan langsung tanpa Ae jahitan kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam . ontoh: "Saya jahit baju") percakapan sehari-hari. jamu Ae menjamu dijamu jamuan Ae Penggunaan "jamu" sebagai Penggunaan langsung tanpa kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam . ontoh: "Saya jamu tamu") percakapan sehari-hari. Huruf K Lema/ Sublema Masalah Alasan kasih Ae mengasihi Ae Penggunaan "kasih" sebagai Penggunaan langsung tanpa dikasih Ae kasihan kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam . ontoh: "Saya kasih uang") percakapan sehari-hari. kerja Ae mengerjakan Ae Penggunaan "kerja" sebagai kata kerja tanpa imbuhan dikerjakan Ae pekerjaan . ontoh: "Saya kerja di kuasai Ae menguasai Ae Penggunaan "kuasai" dikuasai Ae penguasaan sebagai kata kerja tanpa imbuhan . ontoh: "Saya kuasai bahasa") ketik Ae mengetik Ae Penggunaan "ketik" sebagai kata kerja tanpa imbuhan diketik Ae ketikan . ontoh: "Saya ketik surat")) Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Huruf L Lema/ Sublema Masalah Alasan latih Ae melatih Ae dilatih Penggunaan "latih" sebagai Penggunaan langsung tanpa Ae latihan kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam . ontoh: "Saya latih otot") percakapan sehari-hari lihat Ae melihat Ae dilihat Penggunaan "lihat" sebagai kata kerja tanpa imbuhan Ae penglihatan . ontoh: "Saya lihat film") lawan Ae melawan Ae Penggunaan "lawan" sebagai kata kerja tanpa dilawan Ae perlawanan imbuhan . ontoh: "Saya lawan musuh") lukis Ae melukis Ae dilukis Penggunaan "lukis" sebagai Ae lukisan kata kerja tanpa imbuhan . "Saya lipat Ae melipat Ae dilipat Penggunaan "lipat" sebagai kata kerja tanpa imbuhan Ae lipatan . ontoh: "Saya lipat baju") Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Huruf M Lema/ Sublema Masalah main Ae memainkan Ae Tidak ada bentuk pasif yang permainan Ae pemain . imainkan kurang umu. Masuk Ae memasuki Ae Penggunaan "masuk" Ae sebagai kata kerja tanpa imbuhan . ontoh: "Saya masuk rumah") mulai Ae memulai Ae Penggunaan "mulai" sebagai kata kerja tanpa dimulai Ae permulaan imbuhan . ontoh: "acara mulai pukul 8") minum Ae meminum Ae Tidak ada bentuk kata sifat diminum Ae minuman yang umum . ontoh: "air daripada "air diminum") Alasan Bentuk pasif lebih sering digantikan dengan konstruksi kalimat lain Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Kata benda "minuman" lebih sering digunakan untuk merujuk pada sesuatu yang bisa diminum. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Huruf N Lema/ Sublema Masalah Nilai Ae menilai Ae Bentuk kata sifat yang penilaian Ae dinilai kurang umum . "barang bernilai" lebih umum daripada "barang naik Ae menaiki Ae dinaiki Penggunaan "naik" sebagai Ae kenaikan kata kerja tanpa imbuhan . ontoh: "Saya naik motor") nama Ae menamai Ae Penggunaan "nama" sebagai kata kerja tanpa imbuhan dinamai Ae bernama . ontoh: "Saya nama dia Budi" kurang lazi. nonton Ae menonton Ae Penggunaan "nonton" ditonton Ae ontonan sebagai kata kerja tanpa imbuhan . ontoh: "Saya nonton film") Alasan Penggunaan "bernilai" lebih sering untuk menekankan kualitas atau harga suatu barang. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Lebih "menamai" kalimat lain. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Huruf O Lema/ Sublema Masalah olah Ae mengolah Ae Penggunaan "olah" sebagai diolah Ae olahan kata kerja tanpa imbuhan . ontoh: "Saya olah data" kurang lazi. obrol Ae mengobrol Ae Penggunaan "obrol" sebagai kata kerja tanpa imbuhan diobrolkan Ae obrolan . ontoh: "Kami santai" kurang lazi. Alasan Lebih "mengolah" atau konstruksi kalimat lain. Lebih "mengobrol" atau konstruksi kalimat lain. operasi Ae mengoperasi Ae Penggunaan "operasi" Lebih sebagai kata kerja tanpa "mengoperasi" atau konstruksi dioperasi Ae operasian imbuhan . ontoh: "Dokter kalimat lain. operasi pasien" kurang Huruf P Lema/ Sublema Masalah Alasan pakai Ae memakai Ae Penggunaan "pakai" sebagai Penggunaan langsung tanpa kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam dipakai Ae pemakaian . ontoh: "Saya pakai baju") percakapan sehari-hari. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pilih Ae memilih Ae dipilih Penggunaan "pilih" sebagai Penggunaan langsung tanpa kata kerja tanpa imbuhan imbuhan lebih umum dalam Ae pilihan . ontoh: "Saya pilih dia") percakapan sehari-hari pukul Ae memukul Ae Penggunaan "pukul" Penggunaan langsung tanpa dipukul Ae pukulan sebagai kata kerja tanpa imbuhan lebih umum dalam imbuhan . ontoh: "Saya percakapan sehari-hari. pukul bola") pegang Ae memegang Ae Penggunaan "pegang" sebagai kata kerja tanpa dipegang Ae pegangan imbuhan . ontoh: "Saya pegang tanganmu") potong Ae memotong Ae Penggunaan "potong" dipotong Ae potongan sebagai kata kerja tanpa imbuhan . ontoh: "Saya potong kue") Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Penggunaan langsung tanpa imbuhan lebih umum dalam percakapan sehari-hari. Huruf Q Lema/ Sublema qasar Ae mengqasar Quran Ae qurani Ae qiraah Masalah Alasan Sublema mengqasar tidak Sistem paradigma membuat muncul tepat di bawah lema sublema tidak diurutkan alfabetis Turunan tidak Bentuk bersama sehingga hubungan morfologis lema dasar. tidak terlihat. Huruf R Lema/ Sublema Masalah raba Ae meraba Ae Turunan panjang tetapi tidak disusun berurutan. meraba-raba Ae rabaan terpecah oleh lema lain yang mirip. ragu Ae ragu-ragu Ae Sublema tidak mengikuti meragukan Ae keraguan urutan alfabetis. posisi tidak rakit Ae merakit . Dua Ae merakit . berbeda arti digabung tanpa pemisahan yang jelas. Alasan Pengguna sulit mengidentifikasi keluarga kata karena sublema Pengguna terbiasa dengan pola alfabetis sehingga perubahan membuat pencarian lebih sulit. Etimologi berbeda menyebabkan ambiguitas dan pengguna sulit memahami kelompok kata. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Huruf S Lema/ Sublema Masalah sabak . Ae sabak . Ae Empat AusabakAy sabak . Ae sabak . dengan makna berbeda tanpa pemisahan sublema yang jelas. sabet Ae tersabet sabetan Ae penyabet Ae Keluarga terputus oleh lema lain yang fonetisnya mirip tetapi bukan turunan . sadap Ae menyadap Ae Turunan muncul berurutan sadapan Ae penyadap Ae sebentar, tetapi kemudian terpecah oleh lema lain kehilangan kesinambungan. Hurus T Lema/ Sublema Masalah taat Ae menaati Ae Sublema tidak berurutan ketaatan Ae taat asas Ae dan terpecah oleh banyak entri lain . aat asas Ie ketaatasasan jauh dari lema tabah Ae menabahkan Ae Turunan langsung ditempatkan tepat setelah lema dasar. banyak entri Autabak, tabal, tabanAAy. Ae bersitabik Ae Dua makna/tabik berbeda menabik Ae tabik . abik salam dan tabik sehingga sublema tidak jelas tabuh Ae menabuh Ae Sublema tersebar jauh, penabuh Ae tabuhan Ae dipisahkan tabuhan . yang bukan satu keluarga. tabur Ae bertabur Ae Banyak sublema tetapi tidak menabur Ae penabur Ae dikelompokkan berdekatan. taburan Ae tertabur urutan lompatan besar . ertahap Ie taburan Ie tertabur tidak hierarki. Alasan Banyaknya menyebabkan pengguna sulit membedakan mana turunan, mana lema baru. urutan tidak Pengguna yang mencari keluarga kata sabet harus menggulir jauh karena sublema tersebar dan tidak berkelompok secara alfabetis. Sistem urutan berbasis paradigma tidak sepenuhnya konsisten. beberapa sublema berkelompok, tetapi makna lain menyebabkan penyisipan lema berbeda. Alasan Paradigma pembentukan kata berdasarkan kategori makna dan bentuk sehingga urutannya tidak terlihat sebagai satu keluarga kata. Banyak lema awal Autaba-Ay yang bukan turunan menyebabkan keluarga kata tabah terpotong dan tidak mudah ditemukan. Adanya dua homonim . membuat pembaca bingung apakah sublema terkait makna pertama atau kedua. Adanya lema homonim Autabuhan = lebahAy membuat urutan turunan tabuh terpecah dan membingungkan pengguna. Sistem paradigma tidak memakai alfabetis, sehingga bentuk verba, nomina, dan adjektiva tidak Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Huruf U Lema/ Sublema uak Ae menguak Masalah Turunan tidak langsung mengikuti lema dasar ucap Ae berucap Ae Terpisah oleh entri mengucapkan Ae ucapan lain umpama Ae umpan Ae Diletakkan padahal tidak terkait urus Ae mengurus Ae Turunan tidak berkelompok usut Ae mengusut Ae utama Ae mengutamakan Ae Ae utang Ae berutang Alasan Hubungan Rangkaian kata terputus Membuat mengira satu keluarga Tidak Tidak ditempatkan Hubungan kata dasar terputus Turunan tercerai Seharusnya dikelompokkan Tidak berada dekat lema Sulit dicari ujar Ae berujar Ae ujaran Tidak tersusun berturut Hubungan turunan tidak jelas ulang Ae mengulang Ae Tidak konsisten Tidak mengikuti pola morfologis Huruf V Lema/ Sublema Masalah valid Ae validasi Ae Tidak berurutan memvalidasi Ae validitas vla . okelat, vanil. Format sublema tidak vulkan Ae vulkanik Ae Terpisah oleh entri lain vulkanis Ae vulkanisasi Ae volum Ae volume Ae Tidak runtut volumeter Ae volumetri Ae Ae Tidak mengikuti turunan vokabuler Ae vokalia Ae vokal Ae vokal depan Ae Sublema tidak konsisten vokal tengah Ae vokal Alasan Hubungan morfologis terputus Membingungkan pengguna Tidak terlihat Abjad lebih Sulit melihat hubungan Urutan tidak hierarkis Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Huruf W Lema/ Sublema Ae Ae Ae wujud Ae berwujud Ae mewujud Ae mewujudkan Ae perwujudan wau Ae wawa Masalah Dipisah Alasan jenis Tidak pembentukan kata Terpecah oleh lema Sangat sulit diikuti Berdekatan tapi Tidak berurutan bukan Menyesatkan Turunan seharusnya langsung di bawah lema warta Ae wartawan Ae Tidak disusun sebagai satu Sulit dicari Ae keluarga warna Ae berwarna Ae Banyak sisipan tidak terkait Pola keluarga kata tidak terlihat pewarna Ae pewarnaan Ae wudu Ae berwudu Huruf X Lema/ Sublema Xeroftalmiaxeroftalmik Xeromorf- xeromorfik Masalah Tidak berurutan Sublema Tidak berdekatan Alasan Hubungan morfologis terputus tidak Tidak sesuai pola morfologis Membuat pengguna kesulitan menemukan keterkaitan Hubungan istilah tidak jelas Xilografxilografi- Tidak tersusun bertahap Xilem- xilena- xilosis Turunan tercampur dengan Sebaiknya dikelompokkan agar istilah lain mudah dicari Huruf Y Lema/ Sublema Masalah Yakinmeyakini- Tidak tersusun berurutan Yahudi- Yahudiah Tidak berdekatans Yaya- yayasan Yatimpiatu Alasan Sublema terpisah dan tidak mengikuti morfologis Hubungan morfologis tidak langsung terlihat Tidak terkait morfologis Menimbulkan kesan satu keluarga tetapi berdekatan padahal tidak yatim Format sublema tidak Pengelompokkan tidak mengikuti pola lema-turunan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 6 Nomor 6 Tahun 2025 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Yudisialyuridis- Tidak berdekatan dan tidak yurisdiksi- yuris Sublema tidak lengkap/ Yute- yuteni-yutena tidak disusun Kelompok kata hokum terpisah sehingga sulit dicari Membingungkan mencari kata turunan Huruf Z Lema/ Sublema Masalah Zabah- menyembelih/ Turunan tidak berdekatan Alasan Akna terkait tetapi tidak disusun dalam satu kelompok Zakat- berzakat Zakiah- zakirah Turunan dipisahkan oleh banyak entri lain Dua lema terkait konsep kesucian/ ingatan tetapi tidak digabung Zaman- bahari, batu. Sublema terlalu banyak Belanda, ekonomi, dll. Zat- berbagai turunan Urutan . at aktif, zat cair, zat sistematis aditif, zat warna, zat Zebra- zebu Menyulitkan pencarian rangkaian makna dan bentuk turunan Hubungan tidak jelas dan terpisah Sebagian menggunakan tanda hubung Au-Au, sebagian tidak. tidak seragam tidak Tidak mengikuti urutan kategori . isik, kimia, biolog. atau alfabetis Diletakan berdekatan Bisa membuat pengguna mengira padahal tidak berhubungan keduanya satu keluarga KESIMPULAN Perubahan pada metode pengurutan sublema dalam KBBI yang kini tidak lagi berdasarkan pada urutan huruf, tetapi pada paradigma pembuatan kata, menyebabkan banyak pengguna kesulitan saat mencari kata-kata turunan. Ketidakpaduan dalam penempatan sublema, pemisahan turunan oleh lema lainnya, serta percampuran dengan homonim membuat hubungan morfologis antar kata menjadi kabur. Akibatnya, pencarian menjadi lebih lambat dan membingungkan, terutama bagi mereka yang terbiasa dengan sistem pengurutan berdasarkan huruf. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KBBI perlu meningkatkan konsistensi dalam pengurutan lema dan sublema serta menyediakan struktur yang lebih mudah untuk dijelajahi agar KBBI tetap efisien dan user-friendly bagi semua pengguna. DAFTAR PUSTAKA