Proper:Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 1 . 2023 eISSN 2988-506X Pengaruh Variasi Kemasan dan Lama Fermentasi terhadap Karakteristik Mutu Tempe Sorgum (Sorghum bicolor L. Moenc. Effect of Variation in Packaging and Fermentation Duration on Quality Characteristics of Tempeh base Sorghum (Sorghum bicolor L. Moenc. Nur Faidah Munir1*. Sri Udayana Tartar 1. Nurul Ashari1 Program Studi Agroindustri Jurusan Teknologi Pertanian. Politani Pangkep. Pangkep 90761 *Corresponden Author Email: nurfaidah_munir@polipangkep. ABSTRAK Sorgum merupakan tanaman pangan jenis serealia yang memiliki nilai protein lebih tinggi dibandingkan dengan seralia lainnya, sehingga dapat dijadikan bahan alternatife pengganti kedelai sebagai bahan baku pembuatan Beberapa cara pengolahan sorgum berhasil meningkatkan kadar protein, salah satunya adalah fermentasi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis kemasan dan lama fermentasi terhadap karakteristik mutu tempe sorgum serta menganalisis mutu tempe sorgum dengan variasi kemasan dan lama fermentasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor, faktor pertama yaitu lama fermentasi terdiri dari 3 taraf yaitu 1, 2, 3 hari serta factor jenis kemasan terdiri dari kemasan daun pisang dan plastik. Hasil penelitian menunjukkan lama fermentasi terbaik adalah 3 hari dengan nilai kadar protein 10. 12%, sedangkan jenis kemasan yang terbaik adalah jenis kemasan daun pisang. Mutu tempe sorgum pada fermentasi 3 hari dengan jenis kemasan daun pisang memiliki kadar air 69. 40%, kadar abu 1. 40%, kadar protein 10. 35%, dan kadar lemak 1. Hasil uji organoleptik menunjukkan karakteristik tempe yang disukai adalah yang difermentasi selama 3 hari menggunakan kemasan daun pisang dengan tekstur 3. 39, rasa 3. 55, aroma 3. 71, dan Keyword : Sorgum. Tempe,Kemasan. Fermentasi ABSTRACT Sorghum is a cereal-type food plant that has a higher protein value compared to other cereals, so it can be used as an alternative material to replace soybeans as raw material for making tempeh. Several ways of processing sorghum have succeeded in increasing protein levels, one of which is tempeh fermentation. This study aims to determine the type of packaging and the length of fermentation on the quality characteristics of sorghum tempeh and analyze the quality of sorghum tempeh with variations in packaging and fermentation duration. This research used a 2-factor Completely Randomized Design (CRD), the first factor was the length of fermentation consisting of 3 levels, namely 1, 2, 3 days and the packaging type factor consisted of banana leaf and plastic The results showed that the best fermentation duration was 3 days with a protein content value of 12%, while the best type of packaging was banana leaf packaging. The quality of tempeh sorghum in 3 days fermentation with banana leaf packaging type has 69. 40% moisture content, 1. 40% ash content, 10. 35% protein content, and 1. 50% fat content. Organoleptic test results showed that the preferred tempeh characteristics were those fermented for 3 days using banana leaf packaging with texture 3. 39, taste 3. 55, aroma 3. 71, and overall Keyword : Sorgum. Tempeh. Packaging. Fermentation PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara penghasil dan pengkosnsumsi tempe terbesar di dunia yang bahan baku utamanya adalah kedelai, maka tak heran kalua Indonesia menjadi salah satu importir kedelai terbesar dunia pula. Menurut Ellent . , produksi tempe dihitung dari konsumsi bahan baku kedelai sampai akhir tahun 2020 mencapai 2,5 juta ton hingga 2,9 juta ton. Pada tahun 2021, asosiasi sempat mengestimasi produksi tempe mencapai 3 juta ton dengan bahan baku kedelai. Indonesia adalah Menurutdata kementrian pertanian, rata-rata produksi kedelai 594,6 ribu ton pada 2022 dan data Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Karakteristik Mutu Tempe Sorgum, 68 - 75 kementerian Pertanian menyebutkan sekitar 86,4 persen kebutuhankedelai di dalam negeri berasal dari Hingga 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor kedelai sebesar 2,48 juta ton dengan nilai 1 miliar dollarAS. Tempe yang dipasarkan yaitu berbahan dasar kedelai yang merupakan bahan baku tempe saat ini harganya melambung tinggi, sehingga tempe mahal seperti barang impor. Saat ini Indonesia masih tergantung impor kedelai dari beberapa Negara. Impor dilakukan karena lahan untuk produksi kedelai terbatas sehinggastok tidak bisa memenuhi permintaan yang ada. Oleh karena itu, untukmengurangi konsumsi terhadap kedelai perlu adanya modifikasi bahan baku dalam pembuatan Salah satu alternatif bahan baku dalam pembuatan tempe adalah biji sorgum, biji sorgum memiliki harga yang murah, selain itu pemanfaatan biji sorgum untuk pangan masih sangat jarang sehingga masyarakatIndonesia kurang mengetahui mengenai sorgum serta mudah didapatkan karena biji sorgum dapat tumbuh di daerah yang beriklim kering atau musim hujannya pendek serta tanah yang kurang Biji sorgum mempunyai kualitas nutrisi sebanding dengan jagung dan beras, serta kandungan proteinnya lebih tinggi. Namun kandungan lemaknya lebihrendah, oleh sebab itu, sorgum dimanfaatkan sebagai penyangga panganpenduduk di lebih 30 negara. Selain sebagai bahan pangan, biji sorgum jugadigunakan menjadi bahan baku industri pangan seperti gula, monosodiumglutamate, asam amino, minuman, dan hijauannya digunakan sebagai pakanternak. Bahkan saat ini sorgum juga digunakan sebagai bahan baku energi, terutama sorgum manis (Dara, 2. Biji sorgum yang sudah disosoh dapat digunakan untuk bahan diversifikasipangan melalui substitusi beras atau menjadi bahan pangan cara Sorgum telah dijadikan sebagai salah satu komoditas pendukung diversifikasi pangan nasional. Hasil penelitian Balai Penelitian Tumbuhan Serealia menunjukkan sorgum dapat mensubtitusi beras sampai 30% dengan cita rasa yang dapatditerima konsumen. Kandungan protein dalam biji sorgum cukup tinggi dibandingkan dengan serealia lainnya, yaitu berkisar 10-15%. Berdasarkan penelitian yang di lakukan (Maulia, et al. , 2. , kadar protein tempe dari biji sorgum teringgi yaitu 10,34% dengan waktu fermentasi 48 jam. Data dari Badan Pusat Statistik 2019-2020, jumlah produksi sorgum sekitar 4000- 6000 ton per tahun. Berdasarkan data yang diperoleh dari Direktorat budidaya Serealia 2019, produksi tanaman sorgum di Indonesia pada lima tahun terakhir meningkat dari 6. 114 ton menjadi 7. 695 ton (BPS, 2. Sementara itu Selain faktor bahan baku, maka untuk menghasilkan tempe yang bermutu harus diperhatikan jenis kemasannya. Alfanesa et al. , . menyatakan bahwa pengemasan bahan pangan sangat berperan penting dalam pengendaliandari kontaminasi mikroorganisme terhadap produk bahan Pangan yangtercemar oleh mikroorganisme dan disimpan dalam kondisi yang dapatmembahayakan konsumen. Cita rasa tempe juga ditentukan dari jenis bahan baku dan jenis pembungkus yang di pakai, masyarakat selama ini mengenal tiga jenispembungkus tempe yang di jual Penggunaan bahan kemasan harus sesuai dengan sifat bahan yangdikemas. Ada tiga jenis kemasan yang sering digunakan untuk membantu dalamproses fermentasi dan dapat mencegah kerusakan tempe kedelai yaitu kemasanplastik, daun pisang dan daun jati. kemasan tempe pada awalnya berupadedaunan, seperti daun pisang, daun jati, dan daun waru. Tetapi sejalan denganmeningkatnya konsumsi dan produksi tempe diperlukan kemasan yang lebihbanyak serta mudah didapatkan dan efesian, yaitu kemasan menggunkan plastik. Kemasan plastik yang biasanya digunakan merupakan jenis polietilen (PE) (Umami, 2. Kemasan plastik memiliki kelebihan yaitu kuat, ringan. Namun memiliki molekul kecil yang terkandung dalam plastik yang dapat melakukan migrasi kedalam bahan makanan yang dikemas. Tempe yang dibungkus menggunakan plastik memiliki tingkat permeabilitas terhadap udara, panas, dan uap Munir et al. air lebih rendah apabila dibandingkan dengan daun. Sehingga perlu dilubangi untuk keluar masuknya Daun pisang memiliki kelebihan pembungkus alami yang tidak mengandung bahan kimia, mudah ditemukan mudah dilipat dan memberi aromasedap namun, mudah sobek dan kurang bersih. Pembungkus tempe menggunakan daun merupakan cara tradisional paling banyak dilakukan oleh pembuat tempe. Tempe yang dibungkus menggunakan daun pisang memberikan kondisir tetap hangat, lembab tapi tidak terjadi kondensasi uap air yang dihasilkan selama pertumbuhan, sehingga pembentukan miselia jamur akan lebih baik (Sifira et el. , 2. Beberapa penelitian terdahulu telah mencoba alternatif pengganti kedelai dalam pembuatan tempe, misalnya beberapa telah melakukan pembuatan tempe dengan memanfaatkan kacang hijau, kacang kecipir, bahkan ada yang memanfaatkan ampas tahu dan ampas kelapa sebagai bahan baku pembuatan tempe, seperti penelitian yang dilakuan oleh Murtini . , dengan perlakuan variasi lama fermentasi terhadap tempe sorgum denganmeganalisis mutu tempe selama fermentasi. Proses preparasi dan lamafermentasi menghasilkan penurunan kandungan anti gizi tanin dan asamfitat, serta meningkatkan daya cerna in vitro sorgum. Fermentasi selama74 jam berhasil menurunkan kandungan tanin sebesar 0,23 mg/g dari 0,51. Fermentasi selama 72 jam juga meningkatkan daya cerna protein sorgumsecara in vitro sebesar 18%. Untuk mengembangkan berbagai inovasi baru perlu diuji beberapa jenis tanaman lain termasuk sorgum, sebagai bahan baku pengganti kacang kedelai dalam pembuatan Untuk itu Karakteristik Mutu Tempe Sorgum (Sorghum Bicolor (L. ) Moenc. Dengan Variasi Kemasan dan Lama Fermentasi dicobakan dalam penelitian ini. METODE Waktu dan tempat Penelitian dan pengujian di lakukan pada bulan Mei sampai Juni 2023 bertempat di Laboratorium Biokimia dan Workshop Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan di Mandalle kabupaten Pangkajene Kepulauan. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Biji Sorgum, air, cairan biang, ragi tempe, tepung tapioka, kertas saring, dan eter . , bahan kimia K2SO4. CuSO4. H3BO3. NaOH. H2SO4. HCl. Akuades. Indicator BCG-MR. Es Batu. Batu didih. Peralatan yang digunakan adalah timbangan, oven, cawan petri, desikator. Neraca analitik, cawan uji, cawan, tanur, spatula, tang penjepit, labu destruksi, pemanas Kjeldahl, destilasi Erlenmeyer, buret, soxhlet, dan botol timbangan Metode Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental yang dilakukan di Laboratorium. Jenis rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) gabungan 2 faktor, faktor pertama yaitu lama fermentasi terdiri dari 3 taraf yaitu 1, 2, 3 hari serta fackor jenis kemasan terdiri dari kemasan daun pisang dan plastic sehingga perlakuan yang diuji ada 6 perlakuan masing-masing Kemasan daun pisang dengan lama fermentasi 1 hari. Kemasan plastik dengan lama fermentasi 1 hari. Kemasan daun pisang dengan lama fermentasi 2 hari. Kemasan plastik dengan lama fermentasi 2 hari. Kemasan daun pisang dengan lama fermentasi 3 hari dan Kemasan plastik dengan lama fermentasi 3 hari. Parameter pengamatan dalam pengujian adalah uji kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak. Prosedur Analisis Analisis kadar air dilakukan dengan mrnggunakan metode oven (AOAC No. 10, 2. prinsipnya dengan menguapkan melekul air (H2O) bebas yang ada dalam sampel. Sampel ditimbang sampai di dapat bobot konstan dengan asumsi semua air yang terkandung dalam sampel sudah diuapkan. Banyaknya air yang diuapkan merupakan selisih bobot sebelum dan sesudah pengeringan. Prosedur Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Karakteristik Mutu Tempe Sorgum, 68 - 75 analisis kadar air sebagai berikut. Cawan yang digunakan di oven terlebih dahulu selama 30 menit dan pada suhu 100-105o C. Cawan didinginkan dalam dedikator untuk menghilangkan uap air dan ditimbang (A). sampel ditimbang sebanyak 2 gram dalam cawan yang sudah dikeringkan (B) dan dihancurkan, kemudian dioven pada suhu 100-105oC selama 6 jam. Sampel didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang (C). Tahap ini diulangkan hingga mencapai bobot yang konstan (O0,0005 . penentuan kadar air dapat dihitung dengan rumus . S : berat cawan kosong dinyatakan dalam g B : berat cawan sampel awal dinyatakan dalam g C : berat cawan sampel kering dinyatakan dalam g Analisis kadar abu dilakukan menggunakan metode oven (AOAC No. 49, 2. Prinsipnya adalah pembakaran bahan-bahan organic yang diuraikan menjadi air dan karbondioksida tetapi zat anorganik tidak terbakar. Zat anorganik ini disebut abu. Kadar Abu dihitung dengan persamaan . Keterangan : A : berat cawan kosong dinyatakan dalam g B : berat cawan sampel awal dinyatakan dalam g C : berat cawan sampel kering dinyatakan dalam g Analisis kadar protein dilakukan dengan metode kjeldahl (AOAC No. 48, 2. dengan persamaan . Keterangan : VA : ml HCL untuk titrasi sampel VB : ml HCL untuk titrasi blangko N : normalitas HCL standar yang digunakan 14,007 : berat atom nitrogen 6,25 factor konversi protein dari ikan W : berat sampel dalam gram. Kadar protein dinyatakan dalam satuan g/100 g sampel lemak hasil ekstraksi (%) Analisis kadar lemak dilakukan dengan metode soxhlet. Sampel yang digunakan adalah sampel yang sudah melalui proses kadar air . ampel kerin. Penghalusan sampel di lakukan menggunkan Penghalusan sampel bertujuan untuk memperluas permukaan sampel agar pelarut mudah berpenetrasi kedalam sampel. Kemudian sampel ditimbang dan dimasukkan kedalam selongsong yang dibungkus dari kertas saring menjadi bentuk selongsong dengan penyumbat kapas di kedua ujung selongsong tersebut. Kadar lemak dihirung dengan persamaan . Keterangan : W1= Bobot sampel W2 = bobot labu lemak kosong g W3 = bobot labu lemak lemak hasil ekstraksi g Munir et al. HASIL DAN PEMBAHASAN Kadar Air Hasil rata-rata lama fermentasi tempe sorgum menunjukkan nilai tertinggi pada kadar air tempe sorgum di peroleh denganperlakuan waktu fermentasi pada hari ke-3 dengan rata-rata 69. 67% dengan kemasan daun pisang. sedangkan uji kada air terendah diperoleh dengan waktu fementasi 1 hari dengan rata-rata 63. 18% dengan kemasan plastik. Dari sampelyang sudah di uji apabila dibandingkan dengan SNI 01-3144:2015 dengan kadarair maksimal 65% maka memenuhi SNI 01-3144:2015 tempe. Ratarata kadar air Tempe Sorgum dengan kemasan berbeda dan lama fermentasi ditunjukka pada Gambar 1. Gambar 1. Kadar Air Tempe Sorgum dengan beberapa Jenis Kemasan dan lama Fermentasi Kadar air merupakan karakteristik yang dapat mempengaruhi kenampakan, tekstur, dan cita rasa pada bahan pangan. Kandungan air adalah salah satu yang sangat penting dalam bahan pangan, pengujian kadar air harus diterapkan untuk mengoptimalkan sebuah pengolahan untuk menentukan kesegaran serta daya tahan pada bada sebuah produk tersebut (Amarudin, 2. Berdasarkan gambar 1 hasil pengaruh jenis kemasan dan lama fermentasi terhadap kadar air tempe sorgum hanya fermentasi 1 hari dengan plastic yang memauhi kriteria sementara yang lainnya tidak sesuai SNI 01-3144:2015, karena kadar air tempe sorgum yang cukup tinggi diatas 65%. Hal ini diduga dipengaruhi proses perebusan yang lama sebanyak dua kali sehingga kadar air tempe sorgum juga meningkat serta jenis kemasan daun pisang merupakan kemasansemibasah yang memiliki kandungan air dan kelembaban yang tinggidibandingkan kemasan plastik maka semakin lama fermentasi kadar air jugasemakin meningkat. Menurut Umami, . tempe yang dibungkus menggunkan daun pisang memberikan kondisi tetap hangat, lembab maka terjadi peningkatankadar air. Selain itu, proses perendaman juga berpengaruh terhadap peningkatan kadar air karena terjadi penyerapan air sehingga kadar air meningkat (Yulia et al. , 2. Menurut Ellent et al, . faktor jenis kemasan dapat mempengaruhikadar air karena tempe memerlukan sirkulasi udara yang cukup untukpertumbuhan kapang, sehingga proses fermentasi dapat maksimal. Kadar Abu Kadar abu atau kandungan mineral adalah sisa yang tertinggal jika ada sesuatu sampel yang dibakar di dalam tungku pengabuan yang diberikan, kadar abu atau kandungan mineral sisa-sisanya akan menjadi tegang. Kadar abu saat ini menggambarkan betapa banyaknya mineral yang tidak terbakar dapat berubah menjadi zat yang dapat menjadi guap. Kadar abu yang menyebutkan bahwa tidak ada garam mineral dalam produk pangan apapun. Kotoran mineral dibutuhkan dalam jumlah yang agak banyak dalam proses pengerjaan tubulus (Astawan, 2. Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Karakteristik Mutu Tempe Sorgum, 68 - 75 Gambar 2. Kadar Abu Tempe Sorgum dengan beberapa Jenis Kemasan dan lama Fermentasi Hasil rata-rata perlakuan lama fermentasi dan jenis kemasan terhadap tempe sorgum menunjukkan bahwa hasil analisa rata-rata kadar abu tertinggi pada produk tempe sorgum diperoleh pada kemasan plastik dengan lama fermentasi 3 hari . 47 %). Kadar abu yang di hasilkan produk tempe sorgum semakin meningkat apabila semakin lama prosesfermentasi yang dilakukan dan kemasan plastik lebih tinggi di bandingkandengan kemasan daun pisang. Berdasarkan hasil SNI 01-3144:2015 bahwakadar abu untuk tempe kedelai adalah maksimal 1,5% sehingga dapat dikatakan bahwa semua sampel memenuhi standar SNI 01-3144:2015 untuk kesamaan dengan kualitas tempe kedelai. Kadar Protein Hasil pengujian kadar protein tempe sorgumm (Gambar . Menunjukkan bahwa hasil rata-rata kadar protein terbaik pada lama fermentasi 3 hari dan jenis kemasan daun pisang . 35%). Kadar protein terendah 7. 06% yaitu pada kemasan plastic fermentasi 1 hari. Semakin lama waktu fermentasi kadar protein semakin meningkat. Hal ini disebabkan oleh karena adanya proses fermentasidapat meningkatkan kandungan gizi pada sebuah makanan karena adanyakomponen kompleks protein diubah oleh mikroorganisme menjadi asam amino. Mikroorganisme yang berperan memecahkan protein menjadi asam amino yaitu Rhizopus oligosporus. Gambar 3. Kadar Protein Tempe Sorgum dengan beberapa Jenis Kemasan dan lama Fermentasi Munir et al. Kadar potein semakin meningkat seiring dengan lama fermentasi dan jenis kemasan daun pisang memilik kadar protein yang tinggi dibandingkan dengan kemasan plastik. Berdasarkan SNI 013144:2015 bahwa Kadar Protein untuk tempe manimal 16% sehingga dapat dikatakan bahwa tempe sorgum belum memenuhi standar SNI 01-3144:2015 sesuai kadar protein tempe kedelai. tempe, namun mendekati kandungan protein biji sorgum sosoh mentah yaitu 10,4%. Adapun Penurunan dan peningkatan kandungan protein selama preparasi dan fermentasi disebabkan oleh adanya perubahan komposisi kadar air. Hal inimungkin berkontribusi dalam peningkatan kadar protein adalah penambahan biomassa dari sel-sel mikroba seperti fungi dan ragi (Murtini, 2. Kadar Lemak Hasil rata-rata lama fermentasi dan jenis kemasan pada tempe sorgum menunjukkan bahwa hasil analisa rata-rata kadar lemak tertinggi pada produk tempe sorgum diperoleh dari sampel 2. 21% dengan lama fermentasi selama 1 hari dan jenis kemasan daun. Kadar lemak terendah diperoleh padasampel A2B3 dengan lama fermentasi selama 3 hari dengan kemasan plastik dengan nilai rata-rata 1. semakin lama fermentasi kadar lemak pada tempe sorgum semakin menurun, dan jenis kemasan daun pisang menghasilkan nilaikadar abu yang tinggi di bandingkan dengan kemasan plastik. Berdasarkan hasil SNI 3144:2015 bahwa kadar lemak pada tempe adalah minimal 7% sehinggadapat dikatakan bahwa kandungan kadar lemak pada tempe sorgum tidak memenuhi standar SNI 01-3144:2015. Namun kandungan lemak pada biji sosoh mentah sorgum sebanyak 3,4%. Gambar 4. Kadar Lemak Tempe Sorgum dengan beberapa Jenis Kemasan dan lama Fermentasi Lemak dan minyak terdapat pada hampir semua jenis bahan pangan dan masing-masing mempunyai jumlah kandungan yang berbeda-beda. Analisis kadar lemak suatu bahan pangan sangat penting dilakukan agar kebutuhan kalori suatu bahan makanan bisa diperhitungkan dengan baik. Berdasarkan hasil yang didapatkan presentase pada Gambar 4 dapat dilihat bahwa terjadi penurunan kadar lemak dari hari pertama fermentasi sebesar 2. 21% hingga fermentasi hari ketiga sebesar 1. Penurunan kandungan lemak selama fermentasi diduga di pengaruhi oleh adanya pemanfaatan lemak oleh mikroba. Selama fermentasi tempe, penurunan lemak terjadi selama tahap awal fermentasi dan diasumsikan bahwa penurunan tersebut disebabkan adanya oksidasi dan penggunaan asam lemak oleh kapangsebagai sumber energy (Murtini, 2. Hasil analisis pelakuan lama fermentasi dan jenis kemasan tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar lemak tempe sorgum. Ini dibuktikan dengan nilai Pengaruh Jenis Kemasan terhadap Karakteristik Mutu Tempe Sorgum, 68 - 75 taraf sifgnifikanyaitu p = . 278>0,05 sehingga lama fermentasi dan jenis kemasan berpengatuh tidak nyata terhadap kadar lemak yang di miliki oleh tempe sorgum. KESIMPULAN Jenis kemasan yang terbaik untuk tempe berbais sorgum adalah jenis kemasan daun pisang dan lama fermentasi yaitu 3 hari dengan nilai kadar protein 10. 12% 2. Mutu tempe sorgum terhadap lama fermentasi 3 hari dengan jenis kemasan daun pisang dengan kadar air 69. 40%, kadar abu 1. 40%, kadar 35%, kadar lemak 1. Uji organoleptik menunjukkan kriteria tempe sorgum terbaik yang diperoleh adalah yang bertekstur 3. 39, rasa 3. 55, aroma 3. 71, dan overall 3. 58 dengan lama fermentasi selama 3 hari menggunakan kemasan daun pisang. DAFTAR PUSTAKA