Raqib: Jurnal Studi Islam Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 ISSN: x-x | E-ISSN: x-x PEMIKIRAN DAN PENDIDIKAN SUFISTIK DALAM KITAB ADAB SULUK ALMURID KARYA AL-HABIB ABDULLAH IBN 'ALAWI AL-HADDAD (Sufistic Thought and Education in the Book of Adab Suluk Al-Murid by Al-Habib Abdullah ibn 'alawi Al-Hadda. Fikri Maulana Universitas PTIQ Jakarta email: fikrimaulana@ptiq. Umar Agil Husaini Universitas PTIQ Jakarta email: umar. husaini@gmail. Abstract Humans not only have a physical dimension, but also a spiritual dimension which in Islam is seen as a very important and determining dimension. So, in the modern era which prioritizes the external dimension and distances itself from the spiritual dimension, it is necessary for human efforts to continue to explore their inner self about themselves and all their possibilities. Like two sides of a coin, the outer dimension and the spiritual dimension cannot be separated, they are interrelated with one another. This article aims to explain Sufistic thought and education which seeks to provide Islamic treasures in the midst of the modern era which is completely individualist and materialist. This research is a literature research study, because the data collected focuses on Sufistic thought and education contained in the book Adab Suluk Al-Murid by Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad. The data analysis used in this research uses a descriptive qualitative approach and analyzes it using a thematic approach. This article concludes that a human being needs to go through the stages in Adab Suluk Al-Murid by Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad, there are 17 stages. However, in this article only 9 stages are presented, including: . Strong awareness, . Correct repentance, . Cleanse the heart, and . Refrain from committing sins. Keywords: Thought. Education. Sufisme Abstrak Manusia tidak hanya memiliki dimensi lahiriyah, tetapi juga memiliki dimensi bathiniyah yang dalam agama Islam dipandang sebagai dimensi yang sangat penting dan menentukan. Maka, di zaman modern yang mengedepankan dimensi lahiriyah dan menjauhi dimensi bathiniyah perlu adanya usaha manusia untuk terus menggali ke dalam bathinnya tentang dirinya dan segala Bagaikan dua sisi dalam mata uang logam, dimensi lahiriyah dan dimensi bathiniyah tidak dapat dipisahkan, keduanya saling berkaitan satu dan lainnya. Artikel ini bertujuan menjelaskan pemikiran dan pendidikan sufistik yang berusaha memberikan khazanah keislaman di tengah zaman modern yang serba individualis dan materialis. Penelitian ini merupakan studi penelitian literatur, karena data yang dikumpulkan berfokus pada pemikiran dan pendidikan sufistik yang ada dalam dalam kitab Adab Suluk Al-Murid Karya Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan menganalisisnya menggunakan pendekatan tematik. Artikel ini menyimpulkan bahwa seorang murid perlu melalui tahapan-tahapan yang dalam Adab Suluk Al-Murid Karya Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad ini terdapat 17 tahapan. Namun, dalam artikel ini disampaikan hanya 4 tahapan, diantaranya: . Kesadaran yang kuat, . Taubat dengan benar, . Membersihkan hati, dan . Menahan diri dari perbuatan dosa Kata kunci: Pemikiran. Pendidikan. Tasawuf PENDAHULUAN Islam adalah agama yang sempurna, dalam agama ini beribadah tidak hanya aspek lahiriyah saja, tetapi aspek batiniah dalam beribadah dipandang sebagai aspek yang sangat penting dan menentukan. Maka. Islam adalah agama yang mengajarkan ibadah harus secara lahir dan batin. Bagaikan dua sisi dalam mata uang logam, aspek lahiriah dan aspek batiniah tidak bisa dipisahkan, keduanya saling berkaitan satu dan lainnya, yang dalam dunia pesantren dikenal dengan istilah ilmu fiqih dan ilmu tasawuf, ilmu fiqih membahas hal-hal lahiriah dan ilmu tasawuf membahas hal-hal batiniah. Pemikiran sufistik adalah pemikiran yang meninggalkan kecondongan terhadap dunia, dengan menekankan sikap zuhud terhadap dunia. Karena menurut pemikiran ini, dunia itu seperti perhiasan yang dapat membuat manusia terlena dari tujuaannya yaitu Allah swt. Maka dari itu manusia harus hati-hati agar tidak terlena oleh perhiasan yang sepertinya abadi padahal hanyalah sementara. Dalam kehidupan tasawuf, seorang harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, jangan hanya mementingkan kehidupan dunia. Seorang yang berpikiran sufistik harus sadar bahwa dunia adalah ladang bagi manusia untuk mempersiapkan bekal akhirat. Untuk itu, dunia harus dijadikan sarana atau media untuk meraih akhirat, jangan sebaliknya, dunia dijadikan penghalang untuk meraih akhirat. METODE Penelitian ini merupakan studi literatur. Penulis menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini merupakan jenis penelitian dokumen. Hal ini dikarenakan data yang diteliti merupakan nasihat-nasihat tentang pemikiran dan pendidikan sufistik dalam Kitab Adab Suluk Al-Murid karya Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad. Penelitian ini digunakan untuk mengetahui corak pemikiran sufistik dan Data utama dalam penelitian ini diperoleh dari. kitab Adab Suluk Al-Murid karya Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad. Buku Penuntun Langkah Pengelana Spiritual Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad karya Baeti Rohman, dan buku-buku yang berkaitan dengan diskusi penelitian digunakan sebagai data sekunder. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan menganalisisnya menggunakan pendekatan tematik. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Tokoh Tasawuf dan Tarekat Kata AosufiAo berarti suci, yaitu suci lahir dan batin. Dengan kata lain pemikiran sufistik yaitu pemikiran yang bernuansa suci. Seorang AosufiAo besar. Sirri al-Siqti mengatakan, seorang AosufiAo adalah orang yang hatinya tidak tercemari oleh selain Yang Maha Suci, dan hidupnya diarahkan demi menggapai ridha dan qudrat Ilahi. Sedangkan tarekat berarti garis sesuatu . l-Khat fi al-SyaiA. , jalan . l-Shira. Tarekat juga berarti jalan atau metode tertentu untuk mencapai tingkatan-tingkatan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Melalui metode ini seorang penganut ajaran tarekat dapat mencapai peleburan diri dengan yang nyata . ana fi al-Ha. Dengan demikian tarekat berarti melakukan olah batin, dengan latihan-latihan spiritual . dan perjuangan yang sungguh-sungguh . di bidang olah 2 Maka dari itu, tasawuf dan tarekat memiliki kesamaan dalam hal tujuan, yaitu Allah Swt. Said Aqil Siradj. Tasawuf dan Revitalisasi Masyarakat. Malang: Pelita, 2000. JaAofar Shodiq. Pertemuan Antara Tarekat Dan NU . Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 2 Secara historis, istilah AosufiAo dikenal pada abad pertama dan kedua hijriyah. 3 Pada abad itu pemikiran sufistik menitikberatkan kepada ibadah di masjid dan memusatkan pikiran untuk akhirat. Diantara tokohnya pada abad itu yaitu Hasan al-Basri . ) dan Rabiah al-Adawiyah. 4 Pada abad selanjutnya, abad ke-3 Hijriah dan abad ke-4 Hijriah, pemikiran ini sudah mempunyai corak yang berbeda dari abad sebelumnya, yakni sudah bernuansa kefanaan . yang menjurus persatuan hamba dengan khaliq, orang sudah ramai membahas tentang lenyap dalam kecintaan . ana fi' al-Mahbu. , menyaksikan Tuhan . , bertemu dengan-Nya . dan menjadi satu dengan-Nya. diantara tokoh AosufiAo pada abad 3 dan 4 Hijriah ini adalah Abu Yazid al Busthomi, kemudian diikuti oleh generasi baru yakni Abu al-Muqlis al-Husein bin Mansur bin Muhammad al-Badawi atau al-Hallaj. Selanjutnya, pemikiran sufistik berkembang menjadi dua bagian, yaitu pemikiran sufistik AosunniAo dan pemikiran sufistik AofalsafiAo. Pemikiran sufistik yang bernuansa filsafat ini tidak sepenuhnya bisa dikatakan tasawuf, karena memakai istilah filsafat, sementara pemikiran sufistik yang bernuansa AosunniAo memakai istilah intusi . atau rasa. Adapun metode pencapaian tujuan tasawuf serupa dengan tasawuf sebelumnya baik mengenai maqamat, ahwal, riyadah, mujahadah, dzikir, dan mematikan kekuatan syahwat maupun yang lainnya. Tokoh-tokohnya ialah Ibnu Arabi. Suhrawardi al-maqtul. Ibnu Sabi'in. Ibnu Faridh dan Ar-Rumi. Pada masa ini pemikiran sufistik mengalami keemasan dan semakin meluas melalui tarekat-tarekat. Selanjutnya muncul antithesis yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah terhadap para AosufiAo sebelumnya. Beliau mengajak untuk kembali kepada sumber ajaran Islam, yakni Al-QurAoan dan Sunnah. Beliau menyampaikan kritik terhadap ajaran ittihad, hulul dan wahdat al-wujud, belaiu lebih meyakini ajaran Islam, tanpa mengikuti aliran tarekat tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan sosial sebagaimana manusia pada umumnya. Pada era baru sekarang ini muncul juga pendapat yang dinamakan AosufiAo modern, yang digagas oleh Haji Abduk Malik Karim atau Buya Hamka. Adapun Istilah tarekat diambil dari bahasa Arab yaitu thariqah yang berarti jalan atau metode. Dalam terminologi sufistik, tarekat adalah jalan atau metode khusus untuk mencapai tujuan 6 Selain itu tarekat juga berarti organisasi yang tumbuh seputar metode AosufiAo yang khas. Pada masa permulaan, setiap guru AosufiAo atau mursyid dikelilingi oleh lingkaran murid mereka dan beberapa murid ini kelak menjadi guru atau mursyid pula. Boleh dikatakan bahwa tarekat itu mensistematiskan ajaran dan metode-metode Seorang mursyid atau guru yang sama-sama mengajarkan metode yang serupa, dzikir yang senada, dan muraqabah yang selaras. Seorang pengikut tarekat dapat memperoleh kemajuan melalui sederet amalan-amalan berdasarkan tingkat yang dilalui oleh semua pengikut tarekat yang serupa. Dari pengikut biasa . menjadi murid selanjutnya pembantu Syaikh . dan akhirnya menjadi guru yang mandiri . Pada awalnya, tarekat itu merupakan bentuk praktik ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu. Misalnya. Nabi Muhammad Saw mengajarkan wirid atau dzikir yang perlu diamalkan oleh Ali ibn Abi Thalib r. a atau Nabi Muhammad Saw memerintahkan kepada sahabat A untuk banyak mengulang-ulang kalimat tahlil dan Abu Taftazani. Madkhal Ilaa Al- Tashawuf Al-Islam. Diterjemahkan Oleh Ahmad Rofi Ustmani. Sufi dari Zaman ke Zaman. Bandung: Pustaaka, 1989. Amin Syukur. Menggugat Tasawuf: Sufisme Dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999. Pembinaan Kelembagaan Agama Islam. Ensiklopedia Islam Di Indonesia. Jakarta: Anda Utami, 1992. Ajid Thohir. Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik Antikolonialisme Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah Di Pulau Jawa. Bandung: Pustaka Hidayah, 2002. Sri Mulyati and dkk. Mengenal Dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah Di Indonesia. Jakarta: Kencana. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 3 tahmid. Pada sahabat B. Nabi Muhammad Saw memerintahkan untuk banyak membaca ayat tertentu dari surah dalam Al-QurAoan. Ajaran-ajaran khusus Nabi Muhammad Saw itu disampaikan sesuai dengan kebutuhan penerimanya, terutama berkaitan dengan faktor psikologis. Pada abad pertama Hijriyah mulai ada perbincangan tentang teologi, dilanjutkan mulai ada formulasi syariah. Abad kedua Hijriyah mulai muncul tasawuf. Tasawuf terus berkembang dan meluas dan mulai terkena pengaruh luar. Salah satu pengaruh luar adalah filsafat, baik filsafat Yunani. India, maupun Persia. Kemudian muncul sesudah abad ke-2 Hijriyah golongan AosufiAo yang mengamalkan amalan-amalan dengan tujuan kesucian jiwa untuk taqarrub kepada Allah Swt. Para AosufiAo kemudian membedakan pengertian-pengertian syariat, thariqah, haqiqah, dan maAorifat. Menurut mereka syariah itu untuk memperbaiki amalan-amalan lahir, thariqah untuk memperbaiki amalanamalan batin atau hati, haqiqat untuk mengamalkan segala rahasia yang gaib, sedangkan makrifat adalah tujuan akhir yaitu mengenal hakikat Allah Swt baik zat, sifat maupun perbuatan-Nya. Orang yang telah sampai ke tingkat maAorifat dinamakan wali. Kemampuan luar biasa yang dimilikinya disebut karamat atau supranatural, sehingga dapat terjadi pada dirinya hal-hal yang luar biasa yang tidak terjangkau oleh akal, baik di masa hidup maupun sudah meninggal. Syaikh Abdul Qadir Jaelani . -561/10781. menurut pandangan AosufiAo adalah wali tertinggi disebut quthub al-auliya . ali Pada abad ke-5 Hijriyah atau 13 Masehi barulah muncul tarekat sebagai kelanjutan kegiatan kaum AosufiAo sebelumnya. Hal ini ditandai dengan setiap silsilah tarekat selalu dihubungkan dengan pendiri atau tokoh-tokoh AosufiAo yang lahir pada abad Setiap tarekat mempunyai syaikh, kaifiyah zikir dan upacara ritual masing-masing. Biasanya syaikh atau mursyid mengajar murid-muridnya di asrama latihan rohani yang dinamakan suluk atau ribath. Pada perkembangannya, kata tarekat mengalami pergeseran makna. Jika pada awalnya tarekat berarti jalan yang ditempuh oleh seorang AosufiAo dalam mendekatkan diri kepada Allah maka pada tahap selanjutnya istilah tarekat digunakan untuk menunjuk pada suatu metode psikologi yang dilakukan oleh guru tasawuf . kepada muridnya untuk mengenal Tuhan secara mendalam. Dari sinilah terbentuk suatu tarekat, dalam pengertian jalan menuju tuhan di bawah bimbingan seorang guru. Setelah suatu tarekat memiliki anggota yang cukup banyak maka tarekat tersebut kemudian dilembagakan dan menjadi sebuah organisasi tarekat. Pada tahap ini, tarekat dimaknai sebagai organisasi sejumlah orang yang berusaha mengikuti kehidupan tasawuf. Dengan demikian, di dunia Islam dikenal beberapa tarekat besar, seperti Tarekat Qadiriyah. Naqsabandiyah. Syathariyah. Sammaniyah. Khalwatiyah. Tijaniyah. Idrisiyah, dan Rifaiyah. Dilihat dari ajaran ortodoks Islam, ada tarekat yang dipandang sah . uAotabara. dan ada pula tarekat yang dianggap tidak sah . hair muAotabara. Penjelasan dari keduanya yaitu suatu tarekat dianggap sah . uAotabara. jika memiliki mata rantai . yang mutawatir sehingga amalan dalam tarekat tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara syariAoat. Sebaliknya, jika suatu tarekat tidak memiliki mata rantai . yang mutawatir sehingga ajaran tarekat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syariAoat maka dapat dianggap tidak memiliki dasar keabsahan dan oleh karenanya disebut tarekat yang tidak sah . hair al-muAotabara. Ahmad Najib Burhani. Tarekat tanpa Tarekat. Jakarta: Serambi, 2002. Mulyati and dkk. Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia. Mulyati and dkk. Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di Indonesia. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 4 Aktivitas dan Produktivitas Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Alawi bin Muhammad bin Ali Al-Tarimi Al-Haddad Al-Husaini Al-Yamani. Beliau dilahirkan di Subir sebuah perkampungan pinggiran kota Tarim di Wadi Hadhramaut, selatan negeri Yaman pada hari Ahad tanggal 5 bulan Safar tahun 1044 hijriah bertepatan 30 Juli tahun 1634 Masehi. 11 Al-Habib telah diasuh dan dididik di Kota Tarim. Ketika beliau berusia umur empat tahun. Al-Habib terkena penyakit cacar yang mengakibatkan kehilangan penglihatan. Walaupun demikian. Allah menggantinya dengan mata hati . ahaya ilmu dan pengetahuan serta keyakinan dan kewalia. Sebab itulah. Al-Habib berusaha dengan penuh dedikasi dan kegigihan tinggi untuk menuntut ilmu dari sejumlah besar para ulama di Yaman. 12 Cinta beliau terhadap ilmu dan para ulama berbuah kemampuan beliau menguasai ajaran para ahli tahqiq . rang yang mengenali Allah dengan Aoainul yaqin serta haqqul yaqi. Pada permulaan perjalanan hidupnya, beliau sering keliling negerinya untuk bertemu para solihin, menziarahi makam para ulama dan wali-wali. Beliau senantiasa berbicara dengan orang lain menurut kadar akal mereka dan senantiasa memberi hak yang sesuai dengan tingkat kedudukan masing-masing. Sehingga apabila dikunjungi pembesar, beliau memberi haknya sebagai pembesar. kiranya didatangi orang lemah, dilayani dengan penuh mulia dan dijaga hatinya. Apalagi kepada fakir miskin. Beliau amat mencintai para penuntut ilmu dan mereka yang cinta alam akhirat. Beliau memiliki semangat yang tinggi dan tekad yang kuat dalam hal keagamaan. Beliau adalah seorang yang memiliki hati yang suci, senantiasa sabar terhadap sikap buruk dari yang selainnya serta tidak pernah merasa marah. Kalaupun beliau memarahi, bukan karena sebab pribadi tetapi sebab amalan mungkarnya yang telah membuat Al-Imam benar-benar 13 Segala urusan hidupnya berlandaskan Sunnah, kehidupannya penuh dengan keilmuan ditambah pula dengan sifat wara. Apabila beliau memberi upah dan sewa sentiasa dengan jumlah yang lebih dari asal tanpa diminta. Kesenangannya adalah membina dan meramaikan masjid. Beliau amat memeliharai amalan solat Ar-Rawaatib. Doa-doa serta wirid-wiridnya yang maAotsur dari amalan Nabi Muhammadl Saw termasuk mendirikan shalat Dhuha sebanyak lapan rakaat dan shalat Isyraq sebanyak empat rakaat sebelumnya, shalat Awwaabin sebanyak dua puluh rakaat selepas sunat maghrib. Di waktu subuh pada hari Jumat, beliau berjamaah shalat Fajar di masjid kemudian berdiam diri di masjid sampai datang waktu shalat JumAoat demi mendapat keutamaan berawal-awalan. Beliau juga terbiasa tidur sedikit, sekadar merehatkan diri saja. Juga termasuk kebiasaan beliau adalah melambatkan shalat witir sehingga hampir fajar, ini disebabkan beliau tidur sedikit . selepas shalat qiyamullail. Kemudian berwudhu untuk shalat witir sebelum Beliau senantiasa memperbanyak berzikir seperti la ilaha illallah sehingga seakan tidak pernah berhenti. Adapun Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah seorang ulama yang bisa dikatakan produktif dalam menghasilkan karya-karya tulis, keadaannya yang buta sejak kecil tidak menjadikan penghalang bagi beliau untuk menghasilkan karya-karya tulis. Di antara karyanya ialah: Kitab Risalah Al-MuaAoawanah wa Al-Muzhaharah wa Al-MuAoazarah li AlRaghibina min Al-MuAominina fi Suluki Thariq Al-Akhirah Kitab Al-NashaAoih Al-Diniyyah wa Al-Washaya Al-Imaniyyah Kitab Al-DaAowah Al-Tammah Husin Nabil as-Saqqaf. Langkah Praktis Mendekat Kepada Allah. Tangerang: Penerbit Putra Bumi. Umar Ibrahim. Thariqah Alawiyyah. Bandung: Mizan, 2001. Yunus Ali Al-Muhdor. Mengenal Lebih Dekat Al-Habib Abdullah Bin Alawy Al-Haddad. Surbaya: Cahaya Ilmu, 2012. As-Saqqaf. Langkah Praktis Mendekat Kepada Allah. Tangerang: Penerbit Putra Bumi, 2011. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 5 Kitab Al-Majmu . umpulan beberapa catata. Kitab Al-Fushul Al-AoIlmiyyah wa Al-Ushul Al-Hikamiyyah Kitab Risalah Al-Mudzakarah min Al-Muhibbin min Ahl Al-Khair wa Al-Din Kitab Ittihaf Al-Sayil bi Jawab Al-Masayil Kitab Sabil Al-Idzdzikar bima Yamurru bi Al-Insan wa Yanqadhi lahu min AlAAomar Kitab An-Nafayis Al-AoUlwiyyah fi Al-Masayil Al-Shufiyyah Kitab Risalah Adab Suluk Al-Murid Kitab Al-Fatawa Kitab Al-Durru Al-Manzhum li Dzawi Al-AoUqul wa Al-Fuhum Kitab Al-Hikam Kitab Tatsbit Al-Fuad, dua jilid. Pemikiran dan Pendidikan Sufistik dalam Kitab Adab Suluk Al-Murid Kitab Adab Suluk Al-Murid ini mengulas tentang pegangan para pengikut tarekat AosufiAo yang ada pada masanya. Latar belakang lahirnya kitab ini adalah karena beliau waktu itu yang masih berusia 27 tahun diminta oleh seorang tokoh dari Kota Syibam untuk menulis. Kitab ini merupakan salah satu bukti ketokohannya dalam dunia tarekat. Setelah hal tersebut Al-Haddad makin terlihat sebagai tokoh yang lebih matang, baik dikalangan awam maupun dikalangan elit masyarakatnya. Di dalam kitab ini dijelaskan dasar-dasar sebagai seorang murid . engelana spiritua. yang baik, dan langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mengarungi dunia Di dalamnya pula beliau menerangkan sikap yang harus dimiliki oleh seorang murid dalam menempuh al-sayr al-bathini, sikap terhadap guru atau mursyid, baik mursyid tahkim maupun tabarruk, dan khususnya sikap terhadap mursyid tahkim, yang menurut tradisi tarekat, seorang murid harus menjadi seperti mayat di tangan pemandinya atau anak kecil bersama ibunya. Namun dalam kitab ini, beliau tidak sependapat dengan sikap yang pasif seorang murid terhadap mursyidnya. Bahkan menurut beliau hal yang lazim bagi seorang murid adalah aktif bertanya kepada calon mursyidnya yang dilakukan dengan etika yang baik. Jadi, sikap kritis terkadang juga sangat dibutuhkan bagi seorang murid. Sepertinya beliau dalam tulisannya ini ingin mengoreksi pendapat yang berkembang dikalangan masyarakat yang melihat mursyid tarekat adalah dipercayai sebagai manusia suci dan tak mungkin melakukan kesalahan. Sejak kitabnya Adab Suluk Al-Murid dibaca oleh masyarakat umum, maka makin terlihat sosok ketokohan Al-Haddad dalam perihal masalah-masalah sufistik. Maka seiring dengan hal tersebut semakin marak majelis, pertemuan-pertemuan ilmiah ataupun korespondensi para ulama pada masanya dengan Al-Haddad yang menanyakan tentang masalah sufistik. Adapun tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh seorang murid . engelana spiritua. terhadap mursyidnya diantaranya: Memiliki kesadaran yang kuat Habib Abdullah Al Haddad menjelaskan langkah awal bagi seorang murid dalam mencari ilmu adalah kesungguhan dan kesadaran yang kuat dalam mencari ilmu agar memperoleh ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Agar ilmu yang didapatkan bermanfaat, maka seseorang harus memiliki kesungguhan dan Umar Ibrahim. Thariqah Alawiyyah. Bandung: Mizan, 2001. Baeti Rohman. Penuntun Langkah Pengelana Spiritual. Terjemah Kitab Adab Suluk Al-Murid. Jakarta: Tarbiyah Press, 2019. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 6 kesadaran yang kuat dalam menuntut ilmu. Jangan sampai memiliki tujuan untuk pamer pada orang lain. Niat yang seperti ini dapat mengakibatkan kemalangan. Sebab tidak mendapatkan ridha dari Allah Swt. Sebagaimana tercantum dalam kitab Adab Suluk Al-Murid yaitu: aIA#A aOAUAeaReAa AP A aOAOa aI A# aEAMaI eA# a aOaeoaaoa aOaauaoaAD AaUao aaO aeoa a aeaa aUeeaA4a AOaeanA AI ). OaE A () A a eIA#ea AaOaa eaeaaUanA. aealaka A a aieha auaa aOAga a AOA AaoA Aeaa aO a ca Uaean aeaI aca ae a aua aOeaaUaa aOoAPYAeUaa aUa A a AaeaArAae aA A eaaea Aeaae aOA aI aUeea aUea oA# A aOauaucU aa aeiAoaa acaAUaI aa aaiA#e()a aUaa aai aOAzaOaa ae aaiA. A aeaaEaaiA a AaOa aE ). aA A aOaUea AUAeaanA aOA Aasa aOae aaoaO acaeOaI aAUAaOa a eaeA A aaUaaE aOA Artinya: Ketahuilah, bahwa langkah pertama . adalah kesadaran penuh . aits qawwi. yang tertanam di dalam hati seorang hamba sehingga menggetarkan, menggerakan dan mendorongnya untuk bangkit beribadah kepada Allah dan negeri akhirat, dan . ebaliknya i. dapat memalingkan . dari dunia dan segala hal yang manusia disibukan dengannya, baik keramaian, gedung-gedung, bersenang-senang dengan hawa nafsu dan keterbuaian dengan segala perhiasannya. Kesadaran ini merupakan bagian dari tentara Allah yang tidak tampak. Ia termasuk hembusan anugrah pemeliharaan dan petanda hidayah Allah. Seringkali ia dibukakan kepada seorang hamba saat datang perasaan takut, keadaan senang, kerinduan, memandang kepada ahli ibadah atau merenungi perkataan mereka. Terkadang . esadaran in. terjadi tanpa . Taubat dengan benar Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad memberikan anjuran untuk bertaubat dan menghiasi diri dengan amal yang baik agar seorang murid dalam perjalanannya mencari ilmu diberikan kemudahan dan ilmu yang bermanfaat. Taubat dari pengertian etimologis memiliki akar kata taaba yang artinya kembali. Kemudian Isa mendifinisikan bahwa taubat merupakan mengembalikan diri dari segala sesuatu yang tercela dalam pandangan syariat kepada sesuatu yang terpuji dalam pandangan 18 Kemudian tingkatan taubat seorang sufi berbeda dengan kalangan awam, dimana taubat kalangan terakhir semata bertaubat dari maksiat sedangkan taubat seorang salik adalah mencakup juga taubat dari segala sesuatu yang menyibukkan hatinya dari Allah Swt. Sebagaimana tercantum dalam kitab Adab Suluk Al-Murid yaitu: a As aeeaAo( aca U a a aEaanA AU a e a AOaEA ()AaOA e a aeaA# AAi aea aOeI aaIAYAE AeaoaUaaE ae a aO a AL Aec aaiA A aeaa oA aueaI aoa ae aauaUiAA A aAiOA AI A A eaUA ea aEeaeaE a eaeA A aa eI ). aua aOA4aA)a auaa E ). Aeasaa Uaean eaeaaea acAR) a AU aaOa Baeti Rohman. Penuntun Langkah Pengelana Spiritual. Terjemah Kitab Adab Suluk Al-Murid. Jakarta: Tarbiyah Press, 2019. Zaenal Muttaqin. AuAl-Hikam Mutiara Pemikiran Sufistik Ibnu AthaAoillah as-Sakandari. Ay Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin 2, no. 1 (Juni 2. : 50-73, https://doi. org/10. 15408/ushuluna. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 7 a aUaI aAi aea aaOA Aec aai aeaC A Aai oA a AsaA AaeaE aUea aIA# Aai aUeaIA e a A e ac aE Oa c an aOA a ArAa ayoaC Uaeaoa aeauA aU AAi aa aOaa aAYAs aa A ae AaOae a aUeAUAa aUeaA Aa eaa aA-AA Aa a aUea aea eaa aec aaiA# aIA# aea ). OA# AA Artinya: Tindakan pertama yang mesti dimulai oleh seorang pengelana spiritual dalam perjalanan menuju Allah adalah memperbaiki taubat kepada-Nya dari segala dosa. Jika ada suatu kezaliman kepada salah seorang manusia, hendaknya dia menunaikan kewajiban itu kepada pemilik haknya jika itu Jika tidak memungkinkan, mintalah kerelaan dari mereka, karena sesungguhnya kekuasaan yang masih terikat dengan hak-hak orang lain tidak akan mampu berjalan menuju yang Maha Haq. Syarat benar dalam bertaubat adalah tulus dalam penyesalan terhadap dosa, disertai kesungguhan tekad berhenti dari mengulanginya seumur hidup. Siapa yang bertaubat dari suatu perbuatan dosa. Namun masih terus berbuat atau ada keinginan kembali ke perbuatannya maka tidak dihitung sebagai taubat. Membersihkan hati Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad mengatakan dalam beberapa pasal mengenai Membersihkan hati harus dilakukan oleh seorang murid. Sebab membersihkan hati adalah suatu upaya pengkondisian spiritual agar jiwa merasa tenang, tentram dan senang berdekatan dengan Allah. Sedangkan menurut Imam Ghozali bahwa Membersihkan hati adalah upaya penyucian diri seorang hamba agar terhindar dari sifat tercela. Adapun dalam buku tasawuf disebutkan bahwa Membersihkan hati esensinya cenderung pada pembicaraan soal jiwa yang dalam istilah menurut Imam Ghozali disebut dengan al-qalb, ar-ruh, an-nafs, dan al-aql. 20 Sebagaimana tercantum dalam kitab Adab Suluk Al-Murid yaitu: AeeaRAI aeaea aa aOa aOA a aI U aaea ). I eao a a aeiA#AUa aa aOAMAa aeaea a4a aIA# A aOaaoeAUAaiA a AOUaEa A AaiAMa c aeUa U a a a A aO aeUAUAaeoa ). eaaeaAlaAnaa eI aA aE aea eaPYA aAiO aeaaUaa aa A Aa aOeaaea a aeao aai aeaea AreAa a aA ea a a aA L L L A O Oo Oa Oa aa aeaaO aOAUAeaPYAa a ac ca aa U aea E a AYA A AOA A aOaa AUas aa U aeaiAR) A aOaauAUA)aAs a eaeAeA acAUA aeUaoaoU Ua e ac aeaeAUa aeeA# AaUa aae aa eOU aae aeaioUaAyCa AaeuaDA aOAUAa aaeiaa aa Ua e acAYAa aae aa aauAYauA AaeuaD A aae a a aeiaa aa A. Artinya: Wajib bagi sang pengelana spiritual bersungguh-sungguh menjaga hatinya dari bisikan setan, penyakit dan fikiran kotor. Hendaklah dia berdiri tegak di gerbang hatinya sambil memasang hijab dalam upaya penjagaan mencegah hal tersebut masuki hati. Karena, jika hal tersebut memasuki hati maka dapat merusaknya, dan setelah itu akan sulit mengeluarkannya dari hati. Hendaknya sang pengelana spiritual secara maksimal mensucikan hati karena ia sebagai tempat memandang Tuhannya untuk mengalihkan dari syahwat dunia, dari rasa Baeti Rohman. Penuntun Langkah Pengelana Spiritual. Terjemah Kitab Adab Suluk Al-Murid. Jakarta: Tarbiyah Press, 2019. Sholihin. Tasawuf Tematik. Bandung: CV Pustaka Setia, 2003. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 8 dendam, dengki, atau menipu orang lain sesama muslim atau berburuk sangka kepada seseorang dari mereka. Hendaknya sang pengelana spiritual sesantia menasihati, menyayangi, berlemah lembut dan memperkuat kebaikan kepada Sang pengelana spiritual mencintai mereka sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri dalam kebaikan, dan tidak menyenangi sesuatu yang buruk pada mereka sebagaimana dia juga tidak menyenangi keburukan bagi dirinya. Menahan diri dari perbuatan dosa Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad menjelaskan bahwa seorang murid harus mempunyai sikap menahan diri dari perbuatan dosa yang kategorinya fiAoli . maupun yang qauli . Sikap menahan diri dari perbuatan dosa apabila dilakukan akan memberikan dampak positif bagi dirinya dan orang Begitu juga sebaliknya apabila sikap sikap menahan diri dari perbuatan dosa tidak dilakukan maka dapat memberikan dampak negatif bagi dirinya dan orang Sebagaimana tercantum dalam kitab Adab Suluk Al-Murid yaitu: AA A aOa aeUaa a AUAasiA#A aEaA AUa a eaa AyOeyOAaO a au c aaE aAUAaIAyNaR)aI U a ). I eao a au ee a aUa U aaUaaI aOA#AaOA AeaRaea aeiaUa a A#AUa aaUaAyOeyOa. Artinya: Wajib bagi sang pengelana spiritual bersungguh-sungguh menjaga anggota tubuhnya menjauhi perbuatan dosa dansegala kejahatan lain. Dia tidak menggerakan satupun dari anggota tubuhnya melainkan hanya dalam perbuatan taat dan tidak beraktifitas dengannya melainkan pada sesuatu yang bisa membawa kemanfaatannya untuk akhirat. KESIMPULAN Dari deskripsi yang dipaparkan pada pembahasan, dapat dikemukakan beberapa poin penting sebagai kesimpulan, yaitu: Term tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam pada abad pertama dan kedua hijriyah. Pada fase pertama perkembangan tasawuf, terdapat individuindividu yang lebih memusatkan dirinya pada ibadah sebagai perkembangan lanjut dari kesalehan asketis atau para zahid yang mengelompok di serambi masjid Madinah. Tasawuf pada abad i dan IV hijriyah sudah bercorak kefanaan . yang menjurus ke persatuan hamba dengan khaliq, orang sudah ramai membahas tentang lenyap dalam kecintaan . ana fi' al-Mahbu. , menyaksikan Tuhan . , bertemu dengan-Nya . dan menjadi satu denganNya. Istilah tarekat diambil dari bahasa Arab thariqah yang berarti jalan atau metode. Sedangkan pengertian tarekat secara istilah adalah suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, dengan mengamalkan ilmu Tauhid. Fikih dan Tasawuf. Tarekat bisa juga berarti sebuah pengorganisasian dari tasawuf. Unsur-unsur terpenting dalam tarekat ada 5 yaitu: Pertama. Mursyid . Baeti Rohman. Penuntun Langkah Pengelana Spiritual. Terjemah Kitab Adab Suluk Al-Murid. Jakarta: Tarbiyah Press, 2019. Baeti Rohman. Penuntun Langkah Pengelana Spiritual. Terjemah Kitab Adab Suluk Al-Murid. Jakarta: Tarbiyah Press, 2019. Raqib: Jurnal Studi Islam | Volume 01 Nomor 01 Juni 2024 | 9 Kedua. Baiat . anji seti. Ketiga. Silsilah . ubungan antar gur. Keempat. Murid . engelana spiritua. , dan Kelima. Ajaran. Seorang murid perlu melalui tahapan-tahapan yang dalam Adab Suluk Al-Murid Karya Al-Habib Abdullah Ibn 'Alawi Al-Haddad ini terdapat 17 tahapan. Namun, dalam artikel ini disampaikan hanya 4 tahapan, diantaranya: . Kesadaran yang kuat, . Taubat dengan benar, . Membersihkan hati, dan . Menahan diri dari perbuatan dosa. DAFTAR PUSTAKA