ISSN: x-x Volume X. Nomor X. Bulan 20XX DOI XX-XX Dampak Toxic Parents terhadap Kesehatan Mental Remaja Akhir Elza Sri Aprilia. Aulia Zanetti Alfreda. Azizatul Jannah. Maratus Solikhah . Hengki Hendra Pradana. Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Indonesia 2,3,4,5 Universitas Nahdlatul Ulama Blitar. Indonesia Email: elzasriaprilia@gmail. com, 2zanettiaulia@gmail. com, 3azizatulj1@gmail. sholikahm35@gmail. com, 5hengkihendra@unublitar. Abstract This study aims to determine the impact of toxic parents on the mental health of late This study uses descriptive qualitative research methods using observational data collection techniques, interviews and documentation studies. Subjects in this study were selected using a purposive sampling technique. Subjects are late adolescents who experience toxic parents aged 19-20 years with a total of 3 people. The results of the study show that there are several impacts experienced by children who experience toxic parents, including: . Having feelings of fear . Feeling lonely . Often acting inconsistently. against social rules, against dominant figures, and outgoing aggressive impulses. Self-defense is strong so that it closes . Difficulty in expressing emotions. Not having clear personal goals. Feeling unable to build closeness with others. Difficulty adapting to the social environment. Difficulty showing empathy and compassion. Being too obedient or being very rebellious towards . Having dependence on others. Blame parents when there are problems in life. Experiencing anxiety. Keyword : Toxic Parents. Mental Health. Late Adolescence. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan toxic parents terhadap kesehatan mental remaja akhir. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif menggunaan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan studi Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Subjek merupakan remaja akhir yang mengalami toxic parents yang berusia 19-20 tahun sejumlah 3 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa dampak yang dialami anak yang mengalami toxic parents, diantaranya: . Memiliki perasaan takut . Merasa kesepian . Sering bersikap tidak konsisten. menentang aturan sosial, melawan figur dominan, dan dorongan agresif keluar. Pertahanan diri yang kuat sehingga menutup diri. Kesulitan dalam mengekspresikan emosi. Tidak memiliki tujuan pribadi yang jelas. Merasa tidak mampu untuk membangun kedekatan dengan orang lain. Kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Sulit menunjukkan empati dan kasih sayang. Terlalu patuh atau menjadi sangat memberontak kepada orang lain. Memiliki ketergantungan kepada orang lain. Menyalahkan orang tua ketika terjadi masalah dalam . Mengalami kecemasan. Kata Kunci : Toxic Paretnts. Kesehatan Mental. Remaja Akhir. Pendahuluan Menurut Burgess dkk . keluarga merupakan sekumpulan individu yang saling terikat satu sama lain dalam hubungan pernikahan atau memiliki hubungan darah yang terdiri dari beberapa anggota antara lain ayah, ibu dan anak yang memiliki kebiasaan yang dipegang untuk menjalani kehidupan . alam Fauzi, 2. Pada hakikatnya setiap keluarga memiliki ciri khas parenting masing-masing dalam menanamkan pendidikan kepada anak. Gaya parenting orang tua memiliki pengaruh yang sangat penting dalam Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi membentuk karakter anak dikarenakan parenting dilakukan mulai anak usia dini hingga beranjak dewasa (Rianti & Dahlan, 2. Menurut Shocib . pola asuh adalah orang tua yang mampu menunjukkan sebuah kedaulatan yang dapat diterima oleh seorang anak, yang bisa memberikan motivasi, bimbingan, dan bantuan untuk membentuk seorang anak yang berkarakter sehingga keadaanya diapresiasi oleh anak . alam Handayani dkk. , 2. Menurut Tridhonanto . menyebutkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pola asuh yaitu . usia orang tua, artinya jika orang tua berada pada rentang usia yang masih belia atau cukup tua akan berpengaruh terhadap tugas-tugas parenting sehingga kurang maksimal dalam pengasuhan baik dalam berbagai aspek baik fisik maupun psikososialnya. keterlibatan orang tua, yaitu salah satu faktor yang penting dalam membangun hubungan dengan anak yaitu adanya partisipasi kedua orang tua dalam pengasuhan baik ayah maupun ibu. pendidikan orang tua, yaitu orang tua yang memiliki latar pendidikan yang baik sangat berpengaruh pada kesiapannya dalam mengasuh anak. pengalaman sebelumnya terkait dengan parenting, yaitu orang tua yang memiliki berbagai pengalaman dalam parenting memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap pengasuhan anak . alam Chairunnisa, 2. Peran keluarga menjadi salah satu upaya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan anak di dalam keluarga (Rona dkk. , 2. Menurut Aziz dkk. , . dengan adanya dukungan keluarga dan lingkungan keluarga yang sehat merupakan impian bagi setiap keluarga, namun berdasarkan penelitian yang ada fenomena permasalahan keluarga juga dapat menimbulkan adanya gangguan kesehatan mental anak . alam Ersami, 2. Kesehatan mental merupakan sebuah kedewasaan individu pada aspek emosional maupun sosial dalam beradaptasi dengan dirinya dan lingkungan sekitarnya, serta kesanggupannya bertanggung jawab atas kehidupannya dan menyelesaikan segala Individu yang memiliki kesehatan mental yang baik cenderung menjalani kehidupan yang sejahtera (Fuad, 2. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Prihatini . mencatat, hampir satu miliar orang di seluruh dunia mengalami beberapa bentuk gangguan kesehatan mental. tahun 2019, sebanyak 970 juta orang di seluruh dunia dilaporkan hidup dengan gangguan mental. Beberapa gangguan mental yang dialami seseorang antara lain gangguan kecemasan, bipolar, depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), schizophrenia, toxic parenting hingga gangguan makan . alam Putri, 2. Masalah kesehatan mental dapat dialami siapapun, termasuk remaja akhir. Remaja akhir merupakan anak yang berada pada rentang usia tujuh belas hingga dua puluh dua tahun yang sedang berkembang dan mayoritas berada di kelas akhir dan siap memasuki dunia kerja, pada masa ini biasanya orang tua mempercayai anaknya telah memasuki masa dewasa. Pada usia ini merupakan masa di mana terjadinya banyak perubahan fisik dan perubahan psikologis. Dalam masa remaja ini, apabila seseorang telah Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi mencapai tahap perkembangan yang optimal maka ia akan menjadi remaja yang mampu menghadapi setiap permasalahan yang menghampirinya (Suryana dkk. , 2. Menurut Ayun . setiap orang tua memiliki pola pengasuhan yg berbeda-beda, yaitu mulai dari pola pengasuhan otoriter, demokratis hingga permisif. Ada pula orang tua yang mengasuh anak mereka dengan sikap yang cenderung cuek atau melalaikan. Bahkan adapula orang tua yang memperlakukan anak mereka dengan kasar dan tidak berperasaan, baik secara verbal maupun fisik. Pola pengasuhan tersebut tentu dapat memberikan dampak negatif terhadap fisik maupun psikologis anak, pola pengasuhan tersebut dapat menjadi racun untuk anak yang biasa disebut sebagai toxic parenting . alam Jalal dkk, 2. Toxic parents itu sendiri adalah orangtua yang tidak menghormati dan memperlakukan anaknya dengan layak sebagaimana mestinya. Biasanya orang tua yang seperti ini memperlakukan anak dengan keras bahkan menyebabkan keadaan psikologis atau kesehatan mentalnya terganggu. Toxic parents juga enggan bermusyawarah, bertanggung jawab, maupun meminta maaf pada anaknya (Saskara & Ulio, 2. Toxic parents merupakan orang tua yang memiliki pola pengasuhan negatif yang dilakukan secara konsisten dan dominan dalam kehidupan anak, meliputi pelecehan, kekerasan, dan penghinaan yang dapat menimbulkan rasa trauma serta kerusakan mental pada anak (Berliana dkk, 2. Menurut Forwads dan Buck . menjelaskan ciri- ciri dari toxic parents meliputi: . Sering melibatkan anak dalam urusan orang tua sehingga membuat anak merasa bersalah atas hal yang dia inginkan karena takut membuat orang tuanya merasa sedih atau marah atas keinginannya. Memberikan punishment yang ekstrim pada anak dengan tujuan mendisiplinkan anak. Memberikan tekanan pada emosional dan psikis . Membujuk anak dengan uang agar mau mengikuti keinginan orang tua daripada memenuhi keinginan diri sendiri, sehingga perkembangan anak terhambat dan cenderung kesulitan dalam memahami dirinya sendiri . alam Jalal dkk, 2. Dunham dan Dermer mengatakan bahwa toxic parents meliputi 3 aspek yaitu AuPageant parents, dismissive parents, and contemptuous parents who are insultingAy yang berarti jenis toxic parents terdiri dari orang tua yang membentuk anak sesuai dengan keinginannya, orang tua yang sering meremehkan anak dan orang tua yang menghina anak . alam Pratiwi dkk. , 2. Menurut Rifani dkk. mengemukakan faktor yang mempengaruhi perilaku toxic parents dapat disebabkan oleh pengaruh yang didapatkan dari lingkungan sekitar yang menghasilkan pola asuh yang kurang baik ataupun bisa juga disebabkan oleh polah asuh yang didapatkan dari orang tuanya di masa lalu kemudian diterapkan pola asuh yang sama kepada anak . alam Chairunnisa, 2. Toxic parents dapat berpengaruh pada mental anak-anak yang dapat menimbulkan guncangan jiwa karena pola pengasuhan orang tua yang kurang tepat dan perilaku toxic parents (Hindu dkk. , 2. Anak dalam hal apapun akan mengikuti aturan toxic parents Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi yang diterapkan oleh orang tua. Atau di sisi lain juga, anak lebih memilih untuk menurut aturan orang tua namun akan berbekas pada pembentukan karakter anak. Menurut Pedro-carroll. Nakhnikian, & Montes . mengatakan toxic parents dapat berdampak negatif pada mental anak, karakter anak, psikologis anak sehingga dapat mengalami gangguan mental, fisik atau stres berkepanjangan . alam Ulfadhilah, 2. Berdasarkan beberapa pendapat diatas, sejalan dengan hasil wawancara singkat yang penulis lakukan terhadap salah satu subjek yang tergolong remaja akhir mengalami toxic parents, berikut lampiran kutipan wawancara : AuGimana yaa mba, saya merasa jika orang tua saya memang sedikit toxic meskipun sebenarnya tujuannya baik tapi saya merasa terlalu diatur apalagi ketika ingin melakukan sesuatu harus seperti sekolah saya masih diantar jemput padahal saya itu laki-laki, pergaulan saya masih diatur orang tua, dan gak boleh makan makanan sembarangan kalau bukan orang tua tidak memperbolehkanAy (Subjek A, 19 t. Sedangkan salah satu subjek mengatakan bahwa AuIyaa mba, orang tua aku mungkin bisa disebut toxic karena apapun yang ingin aku lakukan masih dikendalikan orang tua ketika aku menolak ataupun tidak setuju biasanya orang tuaku marah dan menyalahkanku, kadang juga aku disbanding-bandingkan dengan teman yang lain dan suka cerita ke teman-teman tentang keburukan akuAy. (Subjek B, 20 t. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengetahui dampak toxic parents terhadap kesehatan mental remaja akhir, karena penulis melihat fenomena di lapangan bahwa ada individu remaja akhir yang mendapatkan perlakuan AutoxicAy dari orang tua. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif yang digunakan untuk mengetahui atau mendeskripsikan kenyataan dari peristiwa yang diteliti sehingga mudah dalam memperoleh data yang objektif (Adhimah, 2. Menurut Sugiyono . , metode penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang digunakan untuk meneliti objek alamiah dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, serta teknik pengumpulan data yang dilakukan secara gabungan dan hasil dari penelitian kualitatif lebih menekankan makna . alam Prasanti, 2. Subjek dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono . purposive sampling merupakan metode yang digunakan untuk menentukan kriteria subjek yang akan diambil menjadi sampel penelitian serta peneliti harus akurat dan memastikan bahwa responden yang menjadi narasumber penelitian dapat menyediakan informasi yang diinginkan sesuai dengan tema penelitian . alam Nyoman dkk. , 2. Kriteria yang ditentukan oleh peneliti sebagai subjek penelitian adalah mereka yang terlibat pada kegiatan yang diteliti, mengetahui dan memahami informasi terkait Berdasarakan hal tersebut, subjek dalam penelitian ini dipilih dengan kriteria, sebagai berikut: Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Subjek berada di masa remaja akhir dengan usia 18-21 tahun. Subjek memiliki pengalaman toxic parents. Data Subjek Inisial Usia Jenis Kelamin Pendidikan Terakhir Agama Aktifitas yang dijalani Tabel I. Data subjek Subjek A Subjek B 19 Tahun 19 Tahun Laki-laki Perempuan SMA SMA Islam Islam Belajar Bekerja Subjek C 20 Tahun Perempuan SMA Islam Bekerja Data significant others Inisial Usia Jenis Kelamin Keterangan Agama Pekerjaan Tabel II. Data significant others Subjek A Subjek B 45 Tahun 52 Tahun Perempuan Perempuan Orang tua Orang tua Islam Islam IRT IRT Subjek C 48 Tahun Perempuan Orang tua Islam Pedagang Pada penelitian ini, terdapat 3 subjek dengan 3 significant others sebagai penguat pernyataan subjek. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini dalam bentuk pengamatan. Wawancara dilakukan untuk menggali dan melengkapi data agar dapat diperoleh data yang akurat dan sumber data yang tepat. Wawancara dilakukan dengan mengajukan 14 butir pertanyaan untuk setiap subjek dan significant others. Pertanyaan tersebut diambil dari teori mengenai dampak toxic parenting yang dikemukakakn oleh Oktariani . No. Tabel i. Pedoman wawancara subjek Dampak Toxic Parents Bentuk Pertanyaan Pertanyaan mengenai pengaruh perasaan takut kepada orang tua dalam menjalani kehidupan Memiliki perasaan takut sehari-hari. Rasa kesepian & tidak ada yang memahami Pertanyaan menggambarkan perasaan kesepian yang subjek alami sebagai akibat dari hubungan dengan orangtua yang toxic. Kesulitan membangun prinsip & tidak konsisten Pertanyaan konsistenan subjek mempengaruhi kesejahteraan emosional dan psikologisnya. Menentang aturan sosial & dorongan agresif Pernyataan mengenai situasi di mana menentang aturan sosial atau melawan norma yang ada karena pengaruh orangtua. Menutup diri Pertaanyaan mengenai momen atau situasi tertentu di mana subjek merasa perlu untuk menutup diri. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Sulit mengekspresikan emosi Pertanyaan mengenai cara subjek dalam meluapkan atau menunjukkan emosi yang Tidak memiliki tujuan Pertanyaan mengenai tujuan yang ingin dicapai Kesulitan bersosialisasi Pertanyaan mengenai cara subjek bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Kesulitan beradaptasi Pertanyaan mengenai gambaran interaksi subjek dengan orang lain. Kesulitan berempati Pertanyaan mengenai kemampuan subjek dalam merespon situasi yang dialami orang lain. Terlalu patuh Pertanyaan mengenai perilaku subjek ketika mendapatkan perintah dari orang tua. Ketergantungan kepada orang lain Pertanyaan mengenai situasi atau perasaan tertentu yang memicu ketergantungan subjek kepada orang lain. Menyalahkan orang tua Pertanyaan mengenai gambaran situasi khusus yang memicu perilaku menyalahkan orang lain Kecemasasan Pernyataan mengenai gambaran kecemasan subjek terhadap toxic parents yang dialami. Pada penelitian ini, peneliti memakai teknik analisis domain. Menurut Sugiyono . analisis domain merupakan upaya yang dilakukan peneliti untuk mendapatkan gambaran umum tentang permasalahan atau objek yang akan diteliti. Hal ini dilakukan dengan pemberian pertanyaan umum dan khusus yang ditujukan kepada subjek penelitian agar peneliti dapat memperoleh gambaran secara umum terkait penelitian namun data yang diperoleh belum begitu mendalam . alam Salam, 2. Hasil dan Pembahasan Peneliti melakukan sebuah orientasi lapangan sesuai dengan tema penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya untuk melakukan penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2023 dengan cara melakukan observasi dan wawancara secara mendalam kepada 3 remaja akhir yang mengalami toxic parents sehingga mendapat gambaran secara umum mengenai dampak toxic parents terhadap kesehatan mental remaja akhir. Menurut Berliana, dkk . toxic parents merupakan orang tua yang memiliki negative parenting yang cenderung berkuasa dalam kehidupan anak yang berupa pelecehan, kekerasan, dan penghinaan yang dilakukan secara konsisten sehingga dapat menimbulkan rasa trauma yang kemudian dapat merusak mental anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dampak toxic parents terhadap kesehatan mental menurut Oktariani . pada remaja akhir yang ada di Blitar. Dampak-dampak tersebut antara lain: Memiliki perasaan takut, kecemasan yang tinggi, dan rasa tidak aman terhadap Hal tersebut sesuai dengan yang dialami subjek A berupa kecemasan yang tinggi dengan hasil nilai belajarnya yang kurang memuaskan. AuSaya sering ketakutan mbak. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi kalau semisal nanti nilai saya gak bagus, nanti bisa-bisa dimarahin sama ibukAy. Pernyataan tersebut diperkuat dengan pendapat dari orang tua subjek "Iyaa mbak, kami orang tua pasti ingin terbaik untuk anak-anak makanya itu saya selalu ngingetin biar belajar yang rajin biar nilainya juga apik". Sementara untuk subjek B merasakan kecemasan terhadap lingkungannya dan hal itu membuat subjek menutup diri. AuIya mbak aku merasa cemas kalau ketemu banyak orang gitu gak tau kenapa kaya ada perasaan takut dinilai jelek oleh orang-orangAy. Diperkuat dengan pernyataan dari orang tua subjek yaitu AuKalau takut gak kayanya mbak, tapi anaknya biasanya jarang ngumpul, kalau ketemu banyak orang biasanya menghindar gituAy. Sedangkan subjek C merasa cemas ketika dibanding-bandingkan dengan orang sekitar oleh orang tuanya berupa sindiran verbal. AuIya cemaslah rasane, bayangin aja mbak orang tua ku itu selalu banding-bandingin aku sama saudaraku yang udah sukses, sampek aku sabar-sabarin hidup dilingkungan keluarga yang kaya gituAy. Didukung pernyataan dari orang tua subjek "Kalau bisa kaya saudara-saudaranya mbak bahkan kalau bibisa lebih sukses lagi, biar nanti hidupnya juga enak". Jadi dapat disimpulkan bahwa ketiga subjek mengalami ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak aman dari lingkungannya. Semua tampak dari subjek A cemas terhadap nilai, subjek B cemas terhadap lingkungan dan lebih munutup diri dan subjek C cemas akan dibandingkan kembali dengan orang sekitar. Merasa kesepian dan merasa tidak ada yang bisa memahaminya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan subjek A yaitu mendapat tekanan dari orang tuanya berupa kekerasan verbal dari ibu yang sering membentak dan dari ayahnya dengan adanya pembatasan dan pemilihan suatu kegiatan seperti sekolahan dan pergaulannya berikut katanya subjek AuSebenernya aku kan pengen ikut kegiatan ekstrakulikuler kan mbak, tapi sama ayahku gak dibolehin malah sama ibuk aku dibentak suruh nurut aja sama ayah, makanya aku merasa orang tua ku tidak bisa memahamiku dan kadang gara-gara itu aku merasa kesepian dan gak punya temen banyakAy. Adapun pendapat dari orang tua subjek yaitu AuKalau kesepian apa tidak nya kurang tahu yaa mbak, tapi memang anaknya jarang mau bergaul sama orang-orang. Kalau dilarang sih tidak, cuma disuruh hati-hati aja milih teman biar tidak salah pergaulan, gitu mbakAy. Sementara subjek B merasa kesepian ketika dilingkungannya karena orang tuanya memaksakan egonya tanpa memikirkan perasaan anaknya. AuIya bener sekali mbak aku merasa hidupku tuh sepi banget, ya aku muak aja karena orang disekitarku tuh gak bisa mahamin keadaankuAy. Adapun pendapat orang tua subjek AuSebenarnya tidak gimanagimana mbak, tapi kami sebagai orang tua hanya menuntun anak-anak agar tidak salah pergaulanAy. Sedangkan subjek C merasa tidak memiliki teman dekat dan perasaan dipendam sendiri. AuAku gak punya temen deket mbak, ya rasanya percuma aja paling kalau Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi diceritain masalah hidup paling cuma disuruh sabar ajaAy. Adapun pernyataan orang tua subjek "Anake trahe rodok menengan mbak, ora ruh keluyuran lek ndak penting mergo kat cilik diwarai ngunu yoan dadi kebiasaan palingAy. Dari pernyataan diatas, dapat diketahui bahwa ketiga subjek merasa kesepian karena tidak memiliki teman dekat dan merasa tidak ada orang yang dapat memahaminya. Subjek A sering mendapatkan kekerasan verbal, subjek B tuntutan orang tua dan subjek C memendam perasaan. Sering bersikap tidak konsisten, kesulitan membangun prinsip, dan nilai hidup. Sesuai dengan yang dialami subjek A yaitu subjek memiliki tujuan dan cita-cita yang sangat ingin dia gapai yaitu atlit tetapi orang tuanya tidak menyetujui apa yang dia inginkan. AuSebenarnya aku pengen banget main futsal biar nanti bisa ikut lomba, tapi sama orang tuaku gak boleh ikutAy. Adapun pernyataan orang tua subjek "Bukan tidak mau mendukung mbak, tapi resikonya terlalu tinggi takut nanti kenapa-napa, saya ndak mau itu terjadi". Sementara subjek B sering bersikap tidak konsisten dimana subjek kadang menuruti kemauannya kadang menuruti perkataan ibunya. AuIya aku gak konsisten, kadang ikutin omongan ibukku kadang enggakAy. Diperjelas pernyataan dari orang tua subjek AuBingung mbak, anaknya kadang nurut ketika dibilangin kadang juga membantah, padahal enak nurut aja sama orang tua, pasti kita juga ingin terbaik untuk anak-anak tapi kadang mereka juga tidak mengerti apa yang kami pikirkanAy. Sedangkan subjek C sulit dalam membangun prinsipnya karena subjek ditekankan untuk membangun nama baik orang tuanya. AuApapun yang saya lakukan ya harus laporan dulu mbak sama orang tua, soalnya orang tua saya itu sensitif. Mereka itu takut kalau tindakan yang saya lakukan mencoreng nama baik merekaAy. Adapun pernyataan orang tua subjek "Takut ae mbak, cah wedok dewe, polah sak polah harus hati-hati, gampang dadi omongan tangga". Dari pernyataan diatas, semua subjek sering bersikap tidak konsisten, kesulitan membangun prinsip dan nilai hidup. Terlihat dari subjek A memiliki tujuan tetapi tidak disetujui orang tuanya, subjek B bimbang terkadang menurut orang tua kadang ikut kemauannya sendiri dan subjek C tuntutan membawa nama baik orang tua. Ingin menentang aturan sosial, melawan figur dominan, dan dorongan agresif Sesuai yang dialami subjek A yaitu merasa gampang emosi AuKetika aku harus melakukan sesuatu yang gak aku inginkan sebenernya aku tuh emosi banget, pengen marah tapi aku juga gak bisa mbantah keinginan orang tuakuAy. Diperjelas dengan pernyataan orang tua subjek "Alhamdulillah, anaknya nurut mbak kalau diomongin sama orang tua entah saya atau bapaknya pasti dilakukan meskipun biasanya terlihat pengen sekali tapi kalau tidak kami izinkan tidak dilakukan". Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Sementara subjek B mempunyai dorongan untuk mempertahankan keinginannya. AuYa kalau aku gak suka ya gak akan aku lakuin keinginannya, walaupun ibukku nanti marah tapi juga ada rasa takut untuk melangkah kedepannyaAy. Diperjelas dengan pendapat orang tua subjek AuYaa gitu mbak, kadang nurut kadang juga ndakAy. Berbeda dengan subjek C akan selalu melakukan apa yang sudah menjadi aturan orang tuanya. AuEnggak mbak, aku akan tetap nurutin aturan yang sudah ditetapkan orang tuaku meskipun sebenarnya terkekangAy. Diperjelas dengan pendapat orang tua subjek "Biasane manut, ra tau nesu nganti bengok-bengok mbak, paling mek meneng neng kamar ndak gelem manganAy. Dapat disimpulkan bahwa kedua subjek yaitu subjek A dan subjek B memiliki dorongan untuk membantah figur dominan dari orang tuanya, berupa gampang merasa emosi dan tetep mempertahankan keinginannya. Sedangkan subjek C menjadi anak yang nurut aturan orang tuanya. Pertahanan diri yang kuat sehingga menutup diri. Subjek A termasuk anak yang pendiam. AuAku gak menutup diri mbak, memang aku yang semenjak kecil pergaulanku dibatasi makanya aku gak punya temen banyakAy. Diperjelas oleh pernyataan orang tua subjek "Kalau pergaulannya memang dibatasi sejak kecil soale takut salah pergaulan mbak, alhamdulillah anaknya gak tau macam-macamAy. Sedangkan subjek B merupakan tipe introvert. AuAku sebenarnya mudah berteman mba, tapi ya tergantung orangnya mbak kalau ceplas ceplos aku ya gak bisa deket biasanya dekatnya sama itu-itu aja karena merasa udah sakfrekuensiAy. Didukung oleh pernyataan dari orang tua subjek AuAnaknya memang jarang keluar kecuali kerja, biasanya kalau dirumah yaa paling dikamar hp anAy. Sedangkan subjek C sering menyendiri dan tidak ingin orang lain mengetahui masalahnya. AuYaa setiap orang kan punya privasi dan masalahnya sendiri-sendiri kan mbak, jadi ya untuk apa menceritakan masalah kita kepada orang lainAy. Diperjelas pernyataan dari orang tua subjek "Kurang tahu mbak, tapi memang jarang mau cerita sama ibuk e, paling dipendem ae koyok eAy. Jadi, masing-masing subjek memiliki pertahanan yang kuat sehingga menutup diri. Subjek A tidak merasa menutup diri tetapi karena pergaulannya dibatasi, subjek B termasuk selektif, dan subjek C merupakan anak yang tertutup. Kesulitan dalam mengekspresikan emosi, respon emosi, yang terkadang juga tidak sesuai dengan stimulus apa yang diberikan. Sesuai dengan yang dialami subjek A sulit untuk mengungkapkan emosinya. AuMau mbantah ya gak bisa mbak bisanya cuma mendem jadi ya dijalani aja hidup ini mbak, sesuai alurnya gitu aja mbakAy. Adapun pernyataan dari orang tua subjek "Biasanya kalau marah anaknya diem aja sih mbak gak berani membantah bapak ibuk e kalau senang juga biasa aja, susah ditebak mbakAy. Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi Sedangkan subjek B bisa mengekspresikan emosinya. AuKalau aku beda pendapat sama ibuk tak bilangi mbak kalau aku ndak seneng walaupun tidak didengarkan kalau dah ndak kuat ya nangisAy. Didukung pernyataan dari orang tua subjek "Biasanya anaknya kalau ndak seneng atau ndak mau ibuk e dibantah mbak kadang sampe diem-dieman". Adapun Subjek C AuAku biasane takut sama malu sih mbak lek marah atau nangis depan orang tua, biasanya diem kalau sudah masuk kamar baru nangis sambal ngomel-ngomel dalam hatiAy. Penjelasan dari orang tua subjek "Biasane kalau marah mek meneng og mbak ra tau nyauri seng piye-piyeAy. Jadi, subjek A dan C cenderung merasa kesulitan dalam mengekspresikan emosinya kepada orang tua dan kebanyakan dipendam sendiri. Sedagkan subjek B masih bisa mengekspresikan emosinya. Tidak memiliki tujuan pribadi yang jelas, dan hanya memikirkan kebahagiaan orang tuanya saja. Sesuai yang dialami subjek A bahwa ia hanya ingin orang tuanya bahagia. AuUntuk tujuan kedepanya masih bingung mbak pokok aku akan berusaha untuk nurutin semua kemauan orang tuaku mbak, karna ya mungkin ini yang terbaik menurut merekaAy. Adapun pernyataan orang tua subjek AuTujuan kedepan untuk anaknya sendiri sudah dipersiapkanlah mbak, tinggal anaknya aja nanti mau apa ndak tapi harapannya semoga anaknya nurut, demi kebaikan anak e kami juga mau lihat anak-anak bisa suksesAy. Namun berbeda dengan subjek B dia akan memikirkan kebahagian dirinya juga. AuKalau aku sih kedepannya ingin membuktikan saja kemampuanku sama mereka mbak, jadi gak selamane harus nurut yaa kan aku yang jalanin hidup kan mbak, jadi ya kalau itu gak baik buat aku ya gak akan mau aku melakukannyaAy. Orang tua subjek mengatakan "Kalau tujuan kedepannya pasti ada dia mbak, meskipun anaknya agak susah dibilangi tapi dia ada tujuan sendiri". Sedangkan subjek C mementingkan kebahagiaan orang tuanya. AuAda tujuan pun percuma mbak, tetap harus minta persetujuan orang tua dulu jadi gapapa aku korbankan mbak hidupku kalau memang itu yang membuat mereka bahagiaAy. Adapun pendapat orang tua subjek "Pastine setiap bocah enek tujuane mbak, wong tuo ki pastine ngarepke bocah iso sukses". Menurut pernyataan diatas, subjek A dan subjek C masih bingung dengan tujuan hidupnya dan lebih mengutamakan hanya ingin membahagiakan kedua orang tua Berbeda dengan subjek B yang memiliki tujuan sendiri yang tidak bergantung pada keamauan orang tuanya. Merasa tidak mampu untuk membangun kedekatan dengan orang lain. Sesuai yang dialami subjek A yaitu ruang lingkup pergaulannya yang terbatas. AuAku gak mau aja terlalu deket sama orang mbak, sewajarnya aja lah karena sudah terbiasaAy. Orang tua subjek mengatakan "Yaitu tadi mbak, pergaulannya memang tidak Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi dibebaskan, temannya paling beberapa yang sering ke rumah jadi memang dilihat dulu kalau mau dekat sama anak-anak lainnya". Sementara subjek B lebih selektif dalam berteman mengatakan AuAku bisa deket sama orang tapi ya itu cuma pilih-pilih aja kalok mau berteman, aku tidak gampang percaya sih mbak sama orang lainAy. Adapun pernyataan dari orang tua subjek "Ada og mbak temannya, ada dua orang yang sering main kesini emang sudah temenan dari kecil". Sedangkan subjek C sulit untuk membangun kedekatan dengan orang lain dan lebih memilih untuk mandiri dalam menghadapi masalahnya karena takut percaya. AuKalau aku memang agak sulit dekat sama orang lain mbak apalagi orang baru biasanya cuma diem, aku lebih suka sendiri sih mbak. Pendapat orang tua subjek yaitu "Yoo sak wajar e ae mbak, opo maneh karo cah lanang musti dibatesi mending bareng-bareng karo bapak ibuk e nang omah". Dari penjelasan diatas, subjek A dan C cenderung sulit membangun kedekatan dengan orang lain karena terbiasa dibatasi dan lebih suka sendiri. Sedangkan subjek B masih bisa berhubungan dekat dengan orang lain namun selektif. Kesulitan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Subjek A sulit beradaptasi karena tipe yang cuek. AuIyaa sih mbak, biasanya aku kadang bigung mulai pembicaraan sama orang, malah garingAy. Orang tua subjek mengatakan "Anaknya lebih suka dirumah sih mbak, kan itu tadi memang kami batasi biar tidak salah pergaulan apalagi sekarang anak laki-laki banyak yang nakalAy. Sementara subjek B lama dalam beradaptasi. AuIya mbak aku sulit dan cukup lama kalau beradaptasi di lingkungan baru, ya karena aku harus mengamati dulu bagaimana mereka menyambutku di sirkel tersebutAy. Orang tua subjek mengatakan "Kalau kesulitan kayanya sih gak mbak, soalnya anaknya bisa ngobrol sama siapa aja tapi memang teman yang sering kerumah Cuma ada beberapa". Sedangkan subjek C sulit beradaptasi. AuSebenarnya aku gampang diterima dilingkungan baru, tapi akunya aja yang gak mau untuk mulai membuka diri untuk bareng-bareng sama merekaAy. Orang tua subjek mengatakan "Anak e menengan mbak, tapi jik tau omong-omongan karo tonggo lek karo wong anyar yo rodok menengan mergo bingung ngomongi opo mbak". Dari pernyataan diatas, ketiga subjek merasa kesulitan dalam beradaptasi di lingkungannya karena merasa bingung, hati-hati, dan menutup diri. Subjek A sulit beradaptasi karena tipe yang cuek, subjek B lama beradaptasi karena hati-hati dalam bergaul dan subjek C sulit beradaptasi karena menutup diri. Sulit berempati dan memberikan kasih sayang. Berdasarkan yang dialami subjek A kesulitan untuk berempati kepada orang lain. AuAku kadang bingung aja mbak cara berempati sama orang tapi sebenarnya ngerti Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi perasaannya Cuma bingung cara nunjukinnyaAy. Pernyataan orang tua subjek mengatakan "Anaknya itu memang kalau dilihat sedikit cuek tapi aslinya penyayang mbak cuma ndak tau cara nunjukinnya aja mungkin". Sementara pada subjek B sulit untuk memberikan kasih sayangnya subjek merasa kalau diberikan kasih sayang pun mereka gak akan berubah juga. AuSaya perhatian itu sama orang yang dekat aja mbak kalau gak kenal kenapa harus saya perhatikan belum tentu meraka memperhatikan sayaAy. Penjelasan orang tua subjek mengatakan "Anaknya memang sedikit keras mbak, tapi sebenanya anaknya perhatian". Sedangkan subjek C mudah memberikan kasih sayangnya pada orang tuanya dan berusaha menerima keadaan. AuAku selalu sayang sama orang tuaku mbak, meskipun agak keras saat mendidikkuAy. Pernyataan orang tua subjek AuLek di delok anak e rodok cuek yo mbak tapi biasane maleh paling peka, penyayang barang". Berdasarkan pernyataan diatas, ketiga subjek bisa berempati namun kesulitan dalam menunjukkan kasih sayang kepada orang lain. Terlalu patuh atau menjadi sangat memberontak kepada orang lain. Subjek A menjadi anak yang penurut. AuSemua yang dikatakan orang tuaku pasti tak lakuin mbakAy. Orang tua subjek mengatakan "Alhamdulillah mbak, anaknya nurut sama omongan orang tuaAy. Sementara subjek B mulai berani memberontak ketika dia mendapatkan larangan dari orang tuanya, "Kalau dulu aku manut banget mbak, apapun yang dibilang orang tua pasti aku manut. Tapi sekarang kadang ngebantah mbak, walaupun mereka nglarang tetep tak lakuin selama masih benarAy. Orang tua subjek mengatakan "Bocahe biyen manutan mbak, rodok gede iki rodok angel dikandani". Sedangkan subjek C hanya bisa menuruti tanpa bisa membantah. AuYa kalau aku membantah keinginan orang tua ya bisa dikeluarin dari KK mbakAy. Pendapat orang tua subjek yaitu "Bener mbak, anaknya manutan tur ngati-ngati". Berdasarkan pernyataan diatas, subjek merasakan terlalu patuh atau menjadi sangat sangat memberontak kepada orang lain. Subjek A anak yang sangat penurut, subjek B anak yang memberontak ketika tidak setuju dengan pendapatnya dan subjek C anak yang pasrah, penurut dan tidak memberontak. Memiliki ketergantungan kepada orang lain. Subjek A tergantung sama orang tua. AuAku memang bergantung banget sama orang tua mbak, apa apa aja yang ngurusin merekaAy. Orang tua subjek "Kami sudah menyiapkan semuanya mbak untuk masa depannya biar terjamin biar nantinya nggak susah". Sedangkan subjek B dan C menyatakan tidak memiliki ketergantungan kepada orang lain, hal itu karena mereka merasa yakin dengan kemampuan yang mereka miliki. Orang Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi tua subjek mengatakan "Lek tergantung ora sebenere mbak soale wes iso kerjo dewe ndak ngrepoti wong tuo tapi yo jenenge wong tuo mbak musti nganggep anak e cah cilik ae ". Berdasarkan pernyataan diatas, memiliki ketergantungan kepada orang lain hanya dirasakan oleh subjek A karena terbiasa dibantu orang tua, sementara subjek B dan C tidak merasakan hal tersebut karena mereka yakin dengan kemampuan yang dimilikinya meskipun diatur oleh orang tua. Selalu menyalahkan orang tua ketika terjadi masalah dalam hidup. Subjek A menyalahkan apa yang terjadi kepada orang tuanya. AuIya aku nyalahin orang tuaku, karena mereka hanya mentingin egonya tanpa mikirin perasaan anaknyaAy. Pendapat lain mengatakan "Ndak tau mbak, tapi semoga tidak dan anaknya bisa mengertiAy. Sedangkan subjek B dan C mereka tidak menyalahkan orang tua ketika terjadi suatu permasalahan dalam hidupnya. Hal itu karna mereka yakin apa yang orang tua mereka lakukan itu uintuk kebaikan mereka. Adapun pernyataan dari orang tua subjek "Nggak pernah mendengar nyalahne wong tuo mbak". Berdasarkan pernyataan diatas, selalu menyalahkan orang tua ketika terjadi masalah dalam hidup hanya dirasakan oleh subjek A karena urusan apapun diatur orang tua, maka ketika ada kesalahan subjek A menyalahkan orang tuanya. Sementara subjek B dan C tidak menyalahkan orang tuanya karena bagi mereka yang orang tua lakukan itu untuk kebaikan mereka. Level terberatnya mengalami kecemasan, gangguan fisik dan depresi. Subjek A beberapa kali merasakan kecemasan atas apa yang sudah dia alami AuAku itu kadang-kadang kepikiran mbak, aku takut kalau hal-hal kaya gini itu bakal terjadi seterusnyaAy. Orang tua subjek mengatakan "Biasanya anaknya cemas kalo nilainya turun mbak". Begitupun dengan subjek B cemas dengan reaksi orang tua tentang hal yang sudah subjek lakukan AuAku sering banget ngerasa khawatir sama reaksi orang tuaku kalau aku habis ngelakuin sesuatu tindakan gitu mbak. Takutnya apa yang aku lakukan itu buat mereka marah. Jadi aku sering panik terus overthingking sendiriAy. Orang tua subjek mengatakan "Kalau gangguan fisik kayanya gak ada mbak tapi kalau cemas mungkin Sementara subjek C mengalami kecemasan karena takut hal itu akan terjadi selamaya kepadanya AuAku takut banget mbak kalau harus merasakan seperti ini terus selamanyaAy. Orang tua subjek memaparkan "Lek nganti depresi koyok e ora mbak". Berdasarkan pernyataan diatas, subjek mengalami kecemasan. Dimana subjek A beberapa kali cemas dengan peristiwa yang dialami akan terjadi seterusnya, subjek B Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi cemas atau overthinking terhadap reaksi orang tuanya terhadap apa yang telah dilakukannya dan subjek C merasa cemas dan takut bahwa apa yang dirasakan akan terjadi selamanya. Simpulan Dari pembahasan diatas, ada beberapa dampak yang dialami anak yang mengalami toxic parents, diantaranya: . Memiliki perasaan takut, subjek A cemas terhadap nilai, subjek B cemas terhadap lingkungan dan lebih munutup diri dan subjek C cemas akan dibandingkan kembali dengan orang sekitar. Merasa kesepian dan merasa tidak ada yang bisa memahaminya. Subjek A sering mendapatkan kekerasan verbal, subjek B tuntutan orang tua dan subjek C memendam perasaan. Sering bersikap tidak konsisten, subjek A memiliki tujuan tetapi tidak disetujui orang tuanya, subjek B bimbang terkadang menurut orang tua kadang ikut kemauannya sendiri dan subjek C tuntutan membawa nama baik orang tua. menentang aturan sosial, melawan figur dominan, dan dorongan agresif keluar. Subjek A memiliki dorongan untuk membantah figur dominan dari orang tuanya namun dipendam, subjek B melawan figure dominan orang tuanya dan mempertahankan keinginannya. Sedangkan subjek C menjadi anak yang penurut melalui aturan orang tuanya. Pertahanan diri yang kuat sehingga menutup Subjek A anak yang pendiam, subjek B tipe introvert dan subjek C sering . Kesulitan dalam mengekspresikan emosi. Subjek A dan C sulit mengungkapkan emosinya dan kebiasaan dipendam, sedangkan subjek B bisa menunjukkan emosi yang dialaminya. Tidak memiliki tujuan pribadi yang jelas, subjek A dan subjek C masih bingung dengan tujuan hidupnya dan lebih mengutamakan hanya ingin membahagiakan kedua orang tua mereka. Berbeda dengan subjek B yang memiliki tujuan dan masih memikirkan kebahagiaannya sendiri tidak hanya menuruti keinginan orang tua. Merasa tidak mampu untuk membangun kedekatan dengan orang lain, subjek A dan C cenderung sulit membangun kedekatan dengan orang lain karena terbiasa dibatasi dan lebih nyaman sendiri sedangkan subjek B masih bisa berhubungan dekat dengan orang lain namun selektif. Kesulitan beradaptasi dengan lingkungan Subjek A sulit beradaptasi karena tipe yang cuek, subjek B lama beradaptasi karena selektif dan subjek C sulit beradaptasi karena menutup diri. Sulit menunjukkan empati dan kasih sayang, ketiga subjek memiliki empati dan kasih yang cukup bagus hanya saja bingung menunjukkannya. Subjek A sangat penurut meskipun bertentangan dengan hatinya, subjek B anak yang memberontak ketika larangan orang tua tidak sejalan dengan pemikirannya dan subjek C anak yang pasrah, penurut dan tidak memberontak. Memiliki ketergantungan kepada orang lain, subjek A karena terbiasa dibantu orang tua, sementara subjek B dan C tidak merasakan hal tersebut karena mereka yakin dengan kemampuan yang dimilikinya. Selalu menyalahkan orang tua ketika terjadi masalah dalam hidup, subjek A karena urusan apapun diatur orang tua, maka ketika ada kesalahan subjek A menyalahkan orang Sementara subjek B dan C tidak menyalahkan orang tuanya karena bagi mereka yang orang tua lakukan itu untuk kebaikan mereka. Level terberatnya mengalami kecemasan, subjek A beberapa kali cemas dengan peristiwa yang dialami akan terjadi seterusnya, subjek B cemas atau overthinking terhadap reaksi orang tuanya terhadap apa yang telah dilakukannya dan subjek C merasa cemas dan takut bahwa apa yang Psikologi Islam Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar Psycho Aksara Jurnal Psikologi dirasakan akan terjadi selamanya. Meskipun tidak semua dampak ada pada setiap subjek tetapi beberapa dari empat belas dampak tersebut dialami subjek. Referensi