JURNAL PENGABDIAN WIDYA DHARMA Volume 04 No. 01 Januari 2025 E ISSN 2962-3758 PELATIHAN KONSEP TRI NGA KI HAJAR DEWANTARA BAGI GURU DI SDNU PEMANAHAN Azizatul Alif Syafriza1. Putri Zudhah Ferryka2 Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta E-mail: azizatul_alif@unu-jogja. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Widya Dharma Klaten E-mail: zudhah_putri@yahoo. Article Info ARTICLE HISTORY Received: 31/07/2024 Reviewed: 07/08/2024 Revised: 08/09/2024 Accepted: 08/01/2025 DOI: . 54840/widharma. Abstract The purpose of writing this article is to provide training to teachers, especially at SDNU Sleman, regarding the concept of Tri Nga Ki Hajar Dewantara. The concept of "Ngerti. Ngrasa. Nglakoni" as a comprehensive learning, includes cognitive, affective, and psychomotor aspects. The learning process is not only about understanding and feeling, but also about implementing these values in daily actions and The application of the Tri Nga concept will create an active and enjoyable learning atmosphere. Active learning means that students are actively involved in class. Students have the ability and are accustomed to being involved and expressing their opinions. Enjoyable learning means that students feel happy during the learning process and can enjoy every learning process carried out so that the material learned can be more embedded in students' memories. It is hoped that after this socialization is carried out, teachers can create more enjoyable learning, so that learning becomes meaningful. Keywords : Tri Nga. Ki Hajar Dewantara. Ngerti. Ngrasa. Nglakoni PENDAHULUAN Ki Hajar Dewantara mengenalkan konsep "Ngerti. Ngrasa. Nglakoni" sebagai dasar pendekatan pendidikan yang holistik. Konsep ini menekankan pengembangan tidak hanya pada aspek intelektual . , tetapi juga pada dimensi emosional . dan tindakan atau implementasi dalam kehidupan sehari-hari . (Tarigan dkk. , 2. AuNgertiAy didefinisikan sebagai pemahaman dan pengetahuan intelektual. Pendidikan tidak hanya berfokus pada akumulasi informasi, tetapi juga pada pemahaman mendalam terhadap berbagai aspek kehidupan, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai budaya. AuNgrasaAy menyoroti dimensi emosional dan kepekaan terhadap perasaan sendiri dan orang lain. Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat kecerdasan emosional. Siswa harus dilibatkan secara emosional dalam pembelajaran, dan pendidikan seharusnya membantu mereka mengembangkan empati, kepedulian, dan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Sementara AuNglakoniAy menekankan pentingnya tindakan nyata atau implementasi dari pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh. Siswa diajak untuk mengaplikasikan pengetahuan dan nilai-nilai yang telah dipahami dalam kehidupan sehari-hari. Azizatul Alif Syafriza. Putri Zudhah Ferryka/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 Artinya, pendidikan tidak hanya tentang mengerti dan AongrasaAo, tetapi juga tentang mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam tindakan dan perilaku sehari-hari. Konsep yang dikenal dengan AuTri NgaAy masih lestari dan digunakan hingga saat ini dalam proses pendidikan dimasa sekarang ini. Konsep "Ngerti. Ngrasa. Nglakoni" mencerminkan pandangan holistik Ki Hajar Dewantara terhadap pendidikan yang melibatkan seluruh aspek kehidupan siswa, tidak hanya aspek akademis (Zulfiati, 2. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berempati, berkepribadian kuat, dan mampu menerapkan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari mereka. Konsep "Ngerti. Ngrasa. Nglakoni" diterapkan dalam pembelajaran bersama siswa di kelas. Berkembangnya kurikulum merdeka, menuntut konsep ini tidak hanya diterapkan di kelas. Guru sebagai pribadi yang memfasilitasi belajar siswa di kelas juga perlu menerapkan konsep ini dalam upaya meningkatkan pemahaman guru dalam mengaplikasi kurikulum merdeka dan juga mempersiapkan pembelajaran yang lebih baik (Daga, 2. Kondisi yang dihadapi guru di sekolah adalah guru sudah mengetahui konsep "Ngerti. Ngrasa. Nglakoni" namun belum sepenuhnya mengaplikasikan dalam proses pembelajaran. Dikarenakan berbagai faktor penyebab, diantaranya terbatasnya waktu guru dalam persiapan, pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan target materi yang harus dicapai, perbedaan kemampuan dan karakteristik siswanya, guru juga belum memahami konsep AuTri NgaAy untuk dapat secara sederhana diterapkan dalam merdeka belajar. Kondisi inilah yang mendukung dilakukannya kegiatan pengabdian pelatihan konsep AuTri NgaAy Ki Hajar Dewantara bagi guru di SDNU Pemanahan. TINJAUAN PUSTAKA Ki Hajar Dewantara memiliki akar yang kuat dalam pendidikan di Indonesia sehingga dapat menghasilkan konsep pendidikan untuk memajukan bangsa Indonesia. Dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran pada konsep "Ngerti. Ngrasa. Nglakoni" pada guru di SDNU Pemanahan, dapat mengaplikasikan sepenuhnya dalam proses pembelajaran. Pelatihan dalam konsep "Ngerti. Ngrasa. Nglakoni" sangat penting bagi guru untuk memahami dan dapat menerapkan ketiga tahapan tersebut agar proses pembelajaran efektif dan efisien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru di SDNU Pemanahan dalam mengimplementasikan konsep "Ngerti. Ngrasa. Nglakoni" pada saat proses pembelajaran. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Wibowo & Nilawati, 2. menerapkan konsep AuTri NgaAy dapat berfokus pada pembelajaran budi pekerti yang berbasis pada budaya bangsa yang dikembangkan dan dicontohkan oleh guru. Konsep AuTri NgaAy. AungertiAy . AungrosoAy . AunglakoniAy . dapat mengembangkan pendidikan yang berlandaskan budaya bangsa, seperti nilai-nilai kemanusiaan, semangat kemerdekaan, menghormati orang tua, sopan santun, etika, semangat kebangsaan, dan semangat perjuangan, sehingga pendidikan berkembang secara utuh dan menyeluruh, yang dapat membentuk karakter siswa. Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Finaryanti dkk. , 2. mendukung adanya konsep AuTri NgaAy karena dengan adanya konsep AungertiAy . AungrosoAy . AunglakoniAy . guru dapat memiliki tanggung jawab dan menciptakan proses pembelajaran yang lebih inovatif untuk peserta didik. Pembelajaran yang inovatif mendorong siswa untuk belajar sesuai dengan perkembangan zamannya. Sehingga siswa mampu meningkatkan pemahaman diri terhadap perkembangan teknologi di sekitarnya. Menurut (Puspitasari dkk. , 2. mendukung adanya konsep AuTri NgaAy. Karena adanya konsep ini guru memiliki peran penting dalam proses pembelajaran, guru menjadi teladan, dan guru harus mengenali karakteristik siswa dengan menyiapkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa. AuNgertiAy berarti mengerti. AungrosoAy berarti merasakan. AunglakoniAy berarti Azizatul Alif Syafriza. Putri Zudhah Ferryka/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 melakukan jadi guru tidak hanya mengerti dan merasakan saja, tetapi guru juga melakukan teladan yang baik. Guru menjadi sosok contoh perilaku yang harus dilakukan oleh siswa. Menurut (Nafisah dkk. , 2. dengan adanya konsep AuTri NgaAy guru dapat memberikan kegiatan yang mendorong kreativitas siswa. Tahap AungertiAy . guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis memahami materi yang diberikan guru pada saat proses pembelajaran. Tahap AungrosoAy . pada tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapatnya. AungelakoniAy . guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan seperti membuat mind map, keterampilan desain dan mempresentasikannya di depan kelas. Guru memiliki peran penting pada konsep AuTri NgaAy supaya dapat memfasilitasi siswa dengan baik sesuai dengan karakteristik Menurut (Nurgiyantoro, 2. yang dapat dicapai dalam menerapkan konsep AuTri NgaAy AungertiAy . AungrosoAy . AunglakoniAy . dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan ramah anak sehingga dapat menciptakan karya dan prestasi akademik maupun non-akademik. Guru dapat memiliki kepribadian yang baik, tata krama, dan memiliki inovasi untuk mempunyai keunggulan dibandingkan sekolah lainnya. Menurut (Sulfiyanti & Wibawa, 2. dengan adanya konsep AuTri NgaAy pada saat proses pembelajaran dapat membantu guru untuk meningkatkan praktik mengajar dan lebih memiliki ide yang lebih baik untuk memperluas pengetahuan di masa depan. Pembelajaran yang dilakukan akan lebih sesuai dengan karakteristik siswa karena guru memiliki ide-ide pembelajaran yang menarik sesuai dengan karakteristik siswanya. Menurut (Isnaini dkk. , 2. dengan menerapkan konsep AuTri NgaAy guru mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Dalam konsep AuTri NgaAy guru tidak hanya menjadi pendidik akademik saja, namun guru juga menjadi pendidik budi pekerti, moral, dan budaya. Guru menjadi panutan bagi siswa untuk mengembangkan siswa yang berkarakter bagi Indonesia. Karakter yang dibentuk tidak hanya diajarkan secara konseptual saja namun dicontohkan secara langsung dalam kehidupan sehariharinya. Menurut (Markus dkk. , 2. dengan adanya konsep AuTri NgaAy dapat memudahkan guru dalam melakukan penilaian secara menyeluruh, seperti aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik pada siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Konsep AuTri NgaAy memberikan kesempatan bagi guru untuk menilai secara utuh dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotornya. Permasalahan yang dihadapi oleh mitra (SDNU Pemanaha. yaitu terbatasnya waktu guru dalam persiapan, pelaksanaan pembelajaran disesuaikan dengan target materi yang harus dicapai, perbedaan kemampuan dan karakteristik siswanya, guru juga belum memahami konsep AuTri NgaAy untuk dapat secara sederhana diterapkan dalam merdeka belajar. Kondisi ini dapat menghambat proses pembelajaran berlangsung, sehingga dilaksanakannya kegiatan pengabdian dengan tema pelatihan konsep AuTri NgaAy Ki Hajar Dewantara bagi guru di SDNU Pemanahan. Azizatul Alif Syafriza. Putri Zudhah Ferryka/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 METODE PENELITIAN Kegiatan pengabdian dilakukan dalam beberapa tahapan seperti pada bagan berikut. Tahap 1: Pengorganisasian A Menyiapkan susunan acara A Menyiapkan sarana dan Tahap 2: Persiapan A Menyusun A Menyusun Instrumen Pelatihan Tahap 3: Pelaksanaan A Melaksanakan Tahap 4: Evaluasi Gambar 1. Tahapan Pelaksanaan Konsep AuTri NgaAy Pelaksanaan kegiatan pengabdian pelaksanaan konsep AuTri NgaAy bagi guru di SDNU Pemanahan diselenggarakan secara luring pada Senin, 4 Februari 2024. Peserta pelatihan ini ada guru-guru di SDNU Pemanahan berjumlah 20 orang. Pelaksanaan kegiatan ini terbagi menjadi 4 tahapan, yaitu. Tahap pertama, pengorganisasian. Tim melakukan koordinasi dengan pihak SDNU Pemanahan selaku kolaborator terkait waktu pelaksanaan, durasi, bentuk pelatihan yang Tahap kedua, persiapan. Tim melakukan persiapan dengan menyusun materi dan instrumen yang akan digunakan dalam kegiatan. Rapat internal dilakukan untuk menyiapkan materi dan tahapan yang dilakukan dalam penyampaian materi. Tahap ketiga, pelaksanaan. Pelaksanaan dilakukan dengan memberi materi dan melakukan diskusi baik di akhir materi maupun saat pemberian materi. Tahap keempat, evaluasi. Tim melakukan koordinasi dengan perwakilan SDNU Pemanahan untuk penyebaran angket dan evaluasi pelaksanaan kegiatan pelatihan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap pertama, pengorganisasian. Tim berkoordinasi langsung dengan kepala sekolah Bapak Maftuh Luthfi Nur Fauzi. Pd. terkait waktu pelaksanaan. Disepakati pelaksanaan kegiatan dilakukan pada Senin, 4 Februari 2024 dengan menyesuaikan beberapa agenda dari pihak sekolah. Durasi yang dipakati adalah singkat, padat, namun bermakna. Dengan mempertimbangkan ketiga hal tersebut maka pelatihan diberikan dengan durasi 2 jam setelah kegiatan belajar mengajar Bentuk pelatihan yang diberikan langsung secara teknis penerapan konsep AuTri NgaAy dengan mengedepankan diskusi interaktif dengan guru-guru selama proses pelatihan dilakukan. Azizatul Alif Syafriza. Putri Zudhah Ferryka/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 Tahap kedua, persiapan. Materi dan instrumen disusun dengan mempertimbangkan efektivitas waktu dan kedalaman pemahaman peserta. Gambar 2. Contoh Materi yang Disusun Tahap ketiga, pelaksanaan. Pemberian materi dilakukan bersamaan dengan sesi diskusi yang Sehingga ketika proses penyampaian materi lalu peserta memiliki pertanyaan diperkenan untuk bertanya dan langsung dilakukan diskusi untuk menindaklanjuti pertanyaan yang muncul. (Nafisah dkk. , 2. dengan adanya konsep AuTri NgaAy guru dapat memberikan kegiatan yang mendorong kreativitas siswa. AuNgertiAy . guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir kritis memahami materi yang diberikan guru pada saat proses pembelajaran. Kemampuan berpikir kritis siswa perlu dilatih dan dibiasakan. Guru perlu memberikan pertanyaan-pertanyaan pemantik untuk membiasakan siswa berpikir kritis. Ketika membaca materi siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritisnya untuk dapat lebih memahami materi yang dipelajari. AuNgrosoAy . pada tahap ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapatnya. Guru membuka kesempatan siswa untuk menyampaikan pendapatnya dan berani berbicara di depan teman-temanya dalam kegiatan Guru tidak langsung menyalahkan ketika pendapat yang disampaikan siswa kurang Koreksi dilakukan tanpa menjatuhkan mental siswa. Tapi memberi peluang siswa untuk terus mencoba berpendapat meski terkadang melakukan kesalahan. AuNgelakoniAy . guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan seperti membuat mind map, keterampilan desain dan mempresentasikannya di depan kelas. Keterampilan menuliskan dan menyampaikan ide-ide yang dimiliki siswa perlu diapresiasi dan tindak lanjuti. Agar menumbuhkan rasa percaya diri siswa dan semangat untuk terus belajar. Guru memiliki peran penting pada konsep AuTri NgaAy supaya dapat memfasilitasi siswa dengan baik sesuai dengan karakteristik siswa. Azizatul Alif Syafriza. Putri Zudhah Ferryka/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 Gambar 3. Proses Penyampaian Materi Tahap keempat, evaluasi. Setelah dilakukan pelatihan dan penyebaran angket diperoleh data bahwa pemahaman guru terkait konsep AuTri NgaAy semakin meningkat. Guru juga mampu menyiapkan pembelajaran yang mengakomodir pemahaman terkait konsep AuTri NgaAy. Dimana pembelajaran lebih memperhatikan karakter dan kemampuan siswa dalam belajar. Isnaini, dkk . dengan menerapkan konsep AuTri NgaAy guru mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan generasi yang berkarakter, berbudaya, dan bermoral. Dalam pembelajaran yang dilakukan guru tidak hanya mentransfer pengetahuan saja. Namun juga menanamkan nilai-nilai karakter dan budaya. Sehingga siswa dapat menerapkannya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Misal menanamkan karakter disiplin maka guru mengimplementasikan disiplin dalam pembelajaran dan mencontohkannya dalam keseharian di sekolah. Sehingga siswa tidak hanya belajar konsep disiplin namun dapat menerapkannya dan terbiasa melakukannya. (Markus dkk. , 2. dengan adanya konsep AuTri NgaAy dapat memudahkan guru dalam melakukan penilaian secara menyeluruh. Penilaian yang dilakukan guru tidak hanya terbatas pada kemampuan kognitif saja. Namun juga sikap dan keterampilannya. Karakter yang dipelajari siswa tidak hanya dihafal saja namun diaplikasikan dalam kegiatan di kelas dan di kehidupannya. Keterampilan siswa juga terus dikembangkan. Siswa dilatih untuk misalnya memiliki kemampuan berkomunikasi tidak hanya secara tulis saja namun juga secara lisan. Anak dibiasakan untuk berani berpendapat dan menghargai pendapat orang lain. Sehingga setelah menerapkan konsep AuTri NgaAy guru dapat lebih mengembangkan kemampuan siswa, menciptakan lingkungan belajar yang melibatkan siswa secara aktif. Dengan demikian pembelajaran yang dilakukan menjadi menyenangkan dan bermakna. KESIMPULAN DAN SARAN Konsep AuTri NgaAy tidak hanya memberikan kesempatan merdeka mengajar bagi guru namun juga memberikan kesempatan merdeka belajar bagi siswa. siswa dapat belajar dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan yang disukai. Siswa tidak merasa tertekan dan terpaksa dalam Karena selama proses pembelajaran yang dilakukan melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajarannya. Lingkungan belajar yang menyenangkan akan meningkatkan rasa ingin tahu dan antusiasme siswa dalam belajar. Guru juga semakin semangat menyiapkan pembelajaran-pembelajaran yang mampu mendorong rasa ingin tahu siswa. Sehingga mengajar menjadi kegiatan yang menyenangkan dan selalu ditunggu oleh siswanya. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, diperoleh masukan dari respons untuk tim pengabdian di SDNU Pemanahan juga bisa memberikan pelatihan untuk pengembangan media berbasis Azizatul Alif Syafriza. Putri Zudhah Ferryka/WIDHARMA Vol 04 No 01 Tahun 2025 Sehingga pembelajaran dengan konsep AuTri NgaAy akan semakin menarik dengan adanya media berbasis teknologi. Pembelajaran dengan media berbasis teknologi memberikan pengalaman belajar siswa yang sesuai dengan perkembangan teknologi. DAFTAR PUSTAKA