Article Intervensi Masyarakat Suku Laut oleh Tokoh Agama di Kepuluan Riau Indonesian Journal of Religion and Society, 2022. Vol. , 50-57 A The Journal, 2022 DOI : 10. 36256/ijrs. org/index. php/IJRS Journal Article History Received : May 20th, 2022 Revised : June 25th, 2022 Accepted : June 27th, 2022 Marisa Elsera Sosiologi. Universitas Maritim Raja Ali Haji marisaelsera@umrah. Nanik Rahmawati Sosiologi. Universitas Maritim Raja Ali Haji nanikrahmawati@umrah. Annisa Valentina Sosiologi. Universitas Maritim Raja Ali Haji Nisavalen26@umrah. ABSTRAK Suku Laut merupakan salah satu masyarakat adat yang masih terpencil di Kepulauan Riau. Pola hidup yang masing sangat sederhana dari segala aspek menjadikan Suku Laut jauh dari taraf Guna meningkatkan taraf hidup mereka, bermunculan tokoh-tokoh adat dan agama yang mendampingi masyarakat yang tergolong tertutup. Peran dan fungsi tokoh masyarakat ini terlihat dalam pembinaan Suku laut tersebut. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data yang diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan pedoman wawancara dan observasi serta dokumentasi. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun teknik analisa data, yaitu reduksi data dari hasil wawancara terhadap masyarakat suku laut lalu penyajian data yang disajikan dalam bentuk uraian naratif, serta verifikasi atau penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menemukan bahwa tokoh agama cukup berhasil melakukan intervensi sosial dalam bentuk menyebarkan ajaran agama kepada masyarakat Suku Laut, berperan sebagai motivator, tokoh agama melakukan pembinaan dan konsultasi, tokoh agama membantu pemberdayaan masyarakat Suku Laut. Sebagai pelaku perubahan . hange agen. , pemuka agama melakukan pendampingan dan sosialisasi dalam aspek kerohanian, sosial, adminduk, ekonomi dan kesehatan. Sebagai sasaran perubahan . arget of chang. , masyarakat Suku laut membuka diri dengan pendampingan yang dilakukan oleh pemuka agama ini. Keywords: Tokoh Agama. Suku Laut. Pendampingan. Terisolir ABSTRACT The Sea Tribe is one of the indigenous peoples who are still isolated in the Riau Archipelago. The lifestyle, which is very simple in all aspects, makes the Sea Tribe far from the level of In order to improve their standard of living, traditional and religious leaders have emerged who accompany people who are classified as closed. The roles and functions of these community leaders are seen in the development of the sea tribe. Qualitative research method with a descriptive approach. Data obtained through structured interviews with interview and observation guidelines and documentation. The selection of informants using Corresponding Author Name : Marisa Elsera Email : marisaelsera@umrah. Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 51 purposive sampling technique. The data analysis technique is data reduction from the results of interviews with marine tribal communities then presenting the data presented in the form of narrative descriptions, as well as verification or drawing conclusions. The results of the study found that religious leaders were quite successful in carrying out social interventions in the form of spreading religious teachings to the Sea Tribe community, acting as motivators, religious leaders providing guidance and consultation, religious leaders helping empower the Sea Tribe community. As change agents, religious leaders provide assistance and socialization in spiritual, social, administrative, economic and health As a target of change, the sea tribes opened themselves to the assistance provided by these religious leaders. Keywords: Religious leaders. Sea Tribe. Accompaniment. Isolated Pendahuluan Masyarakat Suku Laut di Kepulauan Riau biasa disebut sebagai Orang Laut/Suku Asli/ Suku Akit/Suku Duano. Mereka secara sosial dan budaya bersifat lokal, relatif kecil, tertutup, tertinggal, homogen, terpencar dan berpindah-pindah ataupun menetap. Kehidupannya masih berpegang teguh pada adat istiadat (Elsera, 2. tempat tinggal yang terisolasi, kehidupannya tergantung pada sumber daya alam dengan menggunakan teknologi sederhana serta terbatasnya akses pelayanan sosial dasar (Hasan, 2. Mereka masih hidup dalam masa transisi dari kehidupan yang nomaden memasuki kehidupan modern. Kendati saat ini sudah menetap dan dirumahkan di darat, namun bukan berarti taraf kesejahteraan hidupnya sudah baik seperti halnya kebanyakan masyarakat tempatan disana. Pendapatan ekonomi yang yang rendah membuat mereka belum ampu memenuhi kebutuhan hidup selayaknya masyarakat Melayu. Komunitas ini hanya melakukan transaksi jual beli skala kecil, sehingga belum cukup untuk pemenuhan kebutuhan hidup. Perekonomian mereka yang lemah, berimbas pada aspek kehidupan lainnya seperti jaminan sosial. Kenyataan serupa juga dialami oleh masyarakat Suku Duano di Riau. Penelitian Rilanda. Nugroho, & Amrifo . menyebutkan bahwa jaminan sosial tidak mampu dipenuhi oleh Masyarakat Suku Duano di Kampung Panglima Raja. Indragiri Hilir. Riau. Jaminan sosial yang terbangun hanya antar Suku Duano, lebih tepatnya berasal dari hubungan keluarga, masyarakat dan hubungan patron-klien. Masyarakat Suku Laut di Kepulauan Riau secara de jure tidak diakui lagi sebagai komunitas adat terpencil dari Kementerian Sosial Direktorat KAT sejak tahun 2015. Sehingga, bantuan pemerintah daerah maupun pusat menjadi sangat minim, bahkan untuk beberapa aspek belum terjamah, seperti keahlian melaut menggunakan peralatan modern. Mereka menetap puluhan tahun di Dusun Linau, sampai sekarang hanya menggunakan perahu dayung, pancing dan tombak sebagai alat tangkap. Padahal, mereka sangat terbuka untuk menerima inovasi baru. Dampaknya, kehidupan mereka tak pernah lepas dari hutang (Elsera, 2. Dalam catatan Arman . menemukan bahwa ada tiga . hal yang terindikasi dalam upaya pemenuhan kebutuhan sistem perekonomian pada masyarakat Pulau Lipan, yakni bekerja sebagai nelayan, buruh dan ketergantungan terhadap pengepul . Dampaknya kehidupan mereka terus bergulir dengan ketergantungan terhadap orang lain. Salah satu komunitas Suku Laut di Kabupaten Tanjungbalai Karimun, yakni Suku Laut Duano ditemukan menetap di Desa Paya Togok. Adapun penyebab ketertinggalan tersebut adalah karena belum mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman yang disebabkan oleh alasan kultural maupun struktural. Secara cultural history, mereka terbiasa hidup dengan kajang . di tengah laut. Tidak terbiasa bersosialisasi dengan masyarakat darat. Hal ini membuat mereka sedikit kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru mereka setelah dirumahkan. Secara struktural, mereka terkucilkan oleh kebijakan pemerintah yang terkesan belum mendukung keberlangsungan hidup mereka (Arman, 2. Dalam isu desentralisasi, pemberdayaan sosial merupakan tanggungjawab pemerintah pusat dan daerah. Sayangnya peraturan daerah maupun peraturan gubernur/bupati berkaitan dengan suku laut belum ada. Sehingga, ini berdampak pada penganggaran khusus bagi pemberdayaan masyarakat Suku Laut. Mereka yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus, hanya mendapatkan perlakuan yang sama seperti masyarakat miskin pesisir lainnya, dalam artian kata mereka terlupakan saat mendapatkan bantuan. Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society 52 | Marisa Elsera. Nanik Rahmawati & Annisa Valentina Penelitian terdahulu Elsera. Hanim. Casiavera, & Valentina . menemukan adanya pranata konsultif, praktik religi dan keagamaan dengan akulturasi singkretisme pada masyarakat Suku Laut di Pulau Senang. Kabupaten Lingga. Namun belum diterangkan lebih detail mengenai praktik religi dan intervensi pemuka agama terhadap masyarakat Suku Laut. Sementara, peran pemuka agama sangat kuat dalam mempengaruhi perkembangan masyarakat Suku Laut di Kepulauan Riau. Kekurangan masyarakat Suku Laut membangkitkan kepedulian pemuka agama. Mereka kemudian secara swadaya maupun komunitas, melakukan pembinaan terhadap masyarakat Suku Laut. Ketokohan juga tampak pada masyarakat Suku Akit di Kabupaten Tanjungbalai Karimun yang bersifat homogen dan komunal. Pernikahan dalam masyarakat Suku Akit biasanya dalam satu komunal yang sama. Namun ada juga pernikahan yang terjadi di luar komunal mereka. Bahkan ketokohan justru muncul dari orang perantau yang menikah dengan perempuan Suku Akit. Tokoh ini memiliki peranan penting terhadap perkembangan masyarakat Suku Akit (Elsera. Yahya. Oprasmani. Casiavera, & Syakila, 2. Tokoh masyarakat Suku Laut membawa peranan dalam membina masyarakat. Bagi masyarakat Suku Laut tokoh agama dipercayai dalam urusan kehidupan masyarakat contohnya di saat akan membuat keputusan dan jika masyarakat Suku laut mendapat kesulitan mereka akan meminta nasehat dari pemuka agama. Oleh karena itu, menarik untuk diteliti mengenai pendampingan masyarakat Suku Laut oleh tokoh agama di Kepulauan Riau. Kerangka Teori Studi ini menggunakan pendekatan konsep pilihan rasional dalam agama. Teori pilihan rasional dalam agama pada dasarnya merupakan dasar teori yang digunakan untuk memahami agama dari model ekonomi, yang unit analisis pada umumnya bersifat makro. Perspektif teori pilihan rasional melihat bahwa setiap agama atau bahkan setiap denominasi dalam suatu agama tertentu berada dalam kondisi persaingan untuk merebut sebanyak mungkin jemaah. Salah satu tokoh yang berperan penting dalam pemikiran ini adalah Roney Stark. Teori pilihan rasional berpendapat bahwa individu beralih ke agama karena mereka melihat bahwa agama mampu memberi mereka semacam manfaat atau imbalan. Mereka akan bergabung dengan kelompok agama dan gerakan yang akan memberi mereka imbalan. Akibatnya, gerakan keagamaan yang memiliki profil pasti dan menawarkan sejumlah besar imbalan dan akan mencapai banyak dukungan dibandingkan dengan gerakan keagamaan yang memiliki sedikit imbalan. Teori pilihan rasional menjelaskan alasan seseorang berpindah agama dengan menggunakan asumsi dimana individu akan memilih keuntungan yang paling maksimal. Jawaban atas persoalan rasionalitas pilihan agama dilakukan seseorang, teoritis pilihan rasional mengajukan proposisi compensator. Agama harus menjadi aktivitas rasional karena adanya compensator. Manusia memerlukan agama untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Keyakinan itu diyakini oleh adanya compensator, yakni Tuhan yang akan memberikan ganjaran atas aktivitas peribadatan manusia. Jika tindakan rasional untuk mencapai tujuan dengan minimal biaya, orang dapat berargumentasi bahwa individu akan cenderung menjalani kehidupan yang layak dan baik tanpa keterlibatan agama. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis data berupa narasi yang didapatkan baik bentuk lisan maupun tulisan (Afrizal, 2. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lingga dan Kabupaten Tanjungbalai Karimun. Provinsi Kepulauan Riau. Jenis penelitian ini ialah penelitian deskriptif yang ingin menggambarkan fenomena dan kenyataan sosial yang terjadi pada masyarakat Suku Laut. Data-data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan 3 . teknik yakni. observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik observasi dilakukan untuk mengamati interaksi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Laut dengan pemuka agama. Teknik wawancara dilakukan untuk mendalami bagaimana pendampingan yang dilakukan pemuka agama kepada Suku Laut. Dalam wawancara, informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria. masyarakat Suku laut yang telah menetap minimal 10 tahun, telah mendapatkan dampingan, memiliki interaksi yang kuat dengan pemuka agama, dan sejumlah masyarakat yang menjadi pemuka agama. Sementara teknik dokumentasi dijadikan sebagai penguat (Moleong, 2. dari data-data yang dikumpulkan dari dua teknik pengumpulan data sebelumnya. Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 53 Setelah data-data dikumpulkan, seluruh data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik yang ditawarkan oleh Miles dan Huberman (Sugiyono, 2. Pertama, reduksi data . ata reductio. diartikan sebagai proses pemilihan, focusing, penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data mentah yang ada dalam semua bentuk catatan dan dokumen lapangan. Pada tahap ini peneliti memilah-milah mana data yang dibutuhkan dalam penelitian tentang pendampingan pada masyarakat Suku Laut yang dilakukan Pemuka Agama. Kemudian peneliti memisahkan data yang tidak perlu dan memfokuskan data yang benar-benar berhubungan dengan penelitian. Kedua, penyajian data (Data Displa. diwujudkan dalam bentuk uraian dengan teks naratif, tabel, dan gambar, untuk menjelaskan tentang pendampingan pada masyarakat Suku Laut yang dilakukan Pemuka Agama. Ketiga, penarikan kesimpulan . , yakni mengambil intisari dari rangkaian hasil penelitian berdasarkan sumber data primer dan sekunder sehingga diperoleh jawaban tentang pendampingan pada masyarakat Suku Laut yang dilakukan Pemuka Agama. Hasil Dalam pembahasan ini akan diuraikan bentuk dari keterlibatan tokoh agama terhadap pembinaan masyarakat Suku Laut. Tokoh agama atau ulama adalah pewaris para nabi, memiliki fungsi dan tanggungjawab mengajarkan ilmu-ilmu keislaman termasuk fikih, membimbing dan membina umat dalam menjalankan ajaran-ajaran agama serta mengingatkan berbagai kekeliruan masyarakat saat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari (Toweren, 2. Tokoh agama pada masyarakat Suku Laut disebut sebagai Pemuka Agama. Jika beragama Islam akan disebut Ustadz, jika beragama Kristen disebut bapak Pendeta jika Katolik disebut Pastor sementara itu jika beragama Budha disebut Segala kegiatan yang menyangkut spiritual merupakan tanggung jawab dari pemuka agama untuk melaksanakannya dan memimpin masyarakat dalam kegiatan Ia berperan penting memberi masukkan atau sosialisasi tentang kerukunan dan semua akhlak atau sifat keagamaan yang menjadi orang disegani. Berikut ini intervensi yang dilakukan tokoh agama bagi kehidupan masyarakat Suku Laut. Menyebarkan Ajaran Agama kepada Masyarakat Suku Laut Pendekatan tokoh agama kepada masyarakat Suku Laut mendorong mereka yang awalnya animisme . ercaya pada makhluk-makhlu. menjadi pemeluk salah satu agama. Agama yang dipilih oleh masyarakat Suku Laut tergantung pada pendekatan yang dilakukan secara efektif oleh pemuka agama. Di Provinsi Kepulauan Riau, agama yang dianut masyarakat Suku Lautnya beragam seperti beragamnya alasan untuk memutuskan memilih agama tertentu. Seperti halnya yang dilakukan oleh masyarakat Suku Laut di Kawal Pantai. Kabupaten Bintan. Mereka mayoritas beragama Kristen setelah mendapatkan pendampingan intensif dari Pendeta. Pendampingan dan penyebaran ajaran agama Kristen pertama kali oleh misionaris kedalam komunitas masyarakat suku laut di Kawal Pantai ini. Faktor yang mendorong Suku Laut Kawal Pantai memilih Kristen sebagai agama yang mereka percayai karena mengikuti keputusan dari Ketua Suku atau Kepala Adat. Sehingga jika Kepala Adat memutuskan untuk memeluk kepercayaan tertentu masyarakatnya akan mengikuti memeluk kepercayaan tersebut. Faktor yang terakhir yakni keaktifan para penyebar agama dalam membantu masyarakat Suku Laut menggerakkan hati mereka untuk memilih agama Kristen. Di lain tempat, yakni di Desa Payatogok. Kabupaten Tanjungbalai Karimun, masyarakat Suku Laut Duano memeluk agama Islam. Hal ini terjadi setelah seorang pemuka agama Islam mendampingi mereka yang telah mulai menetap di Kecamatan Kundur sejak tahun 1940. Seorang ustadz yang pertama kali menyebarkan agama Islam di Payatogok. Memilih untuk menjadi muslim diakui oleh masyarakat Paya Togok disebabkan oleh pendekatan yang perlahanlahan, intensitas pertemuan yang sering serta pendampingan ustadz yang membuatnya dapat dipercayai oleh masyarakat Suku Laut membuat mereka tertarik untuk memeluk Agama Islam. Temuan itu berdasarkan data kutipan wawancara di bawah ini. Dulu awal-awal kami disini banyak dibantu oleh Pak Ustadz, baik dia orangnya. Pelan-pelan juga dia ngajarkan kami. Kami kami tertariklah buat masuk Islam (Sarti. Wawancara, 7 Januari 2. Kalau kami sih mana yang banyak bantu kami, yang bisa mengurus permasalahan yang kami punya. Kami anggap orang baik yang patut kami jadikan panutan. Liat Pak Ustadz baik kami masuk Islam lah, lagi pula Pak Ustadz ini yang pertama mengenalkan pada kami secara rutin masalah agama dan kepercayaan kepada Tuhan (Agusmani. Wawancara, 7 Januari 2. Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society 54 | Marisa Elsera. Nanik Rahmawati & Annisa Valentina Berdasarkan pernyataan informan di atas, pemilihan agama bagi masyarakat Suku Laut merupakan pilihan rasional. Teori pilihan rasional berpendapat bahwa individu beralih ke agama karena mereka melihat bahwa agama memberikan semacam manfaat atau imbalan. Individu sebagai bagian dari masyarakat akan bergabung dengan kelompok agama dan gerakan yang akan memberi mereka imbalan. Akibatnya, gerakan keagamaan yang memiliki profil pasti dan menawarkan sejumlah besar imbalan akan mencapai lebih banyak dukungan dari pada gerakangerakan keagamaan dengan sedikit imbalan. Dengan demikian maka agama diidentikkan dengan komoditas lain layaknya komoditas ekonomi yang dijual dalam sebuah pasar bebas yang terdapat di dalamnya unsure persaingan antar institusi agama. Tokoh Agama Berperan Sebagai Motivator Tokoh agama mengajak masyarakat Suku Laut mengikuti kegiatan keagamaan yang Memberikan motivasi agar mereka bersedia menjalankan ibadah. Bahkan tak jarang tokoh agama juga menetap di lokasi pemukiman masyarakat Suku Laut. Seperti halnya yang dilakukan Pendeta di Pulau Air Ingat yang biasa dipanggil Om Dasa. Memberikan ceramah agama dan pendampingan di Desa Air Ingat. Kabupaten Lingga. Berangkat dari kampung halamannya yakni Manado. Sulawesi Utara untuk mendampingi masyarakat Suku Laut Desa Air Ingat selama 5-6 tahun terakhir ini. Selain kegiatan keagamaan. Pendeta Om Dasa juga membantu masyarakat belajar membaca dan membantu anak-anak sekolah untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Hal serupa juga dilakukan oleh ustadz di Desa Paya Togok. Tokoh agama ini sering memberikan pembinaan terkait keagamaan sehingga masyarakat mulai mengenal Agama Islam dan akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam. Sejak memutuskan untuk menetap di Dwikora sekitar tahun 1980, mereka sudah menunjukkan praktik Ustadz membantu melakukan pembinaan dan sosialisasi program pemerintah terkait pemberdayaan masyarakat baik secara ekonomi maupun sosial, sosialisasi terkait kesehatan dan pemberian bantuan. Tokoh Agama Melakukan Pembinaan dan Konsultasi Pada awalnya, tokoh agama menjalankan peran penting dalam pembinaan masyarakat Suku Laut. Para tokoh ini membantu masyarakat suku laut dalam melengkapi administrasi yang dibutuhkan selama proses pendataan dari pemerintah. Seperti contohnya membantu masyarakat Suku Laut dalam pembuatan KTP, memberitahu berkas-berkas apapun yang perlu disiapkan, serta apa yang harus dilakukan masyarakat suku laut tersebut untuk mendapatkan bantuan perumahan ini. Lambat laun, bukan hanya dalam pengurusan bantuan, namun dalam segala aspek kehidupan mereka mengandalkan tokoh agama. Aspek kehidupan seperti penyelesaian masalah antar warga, pengurusan administrasi kependudukan, serta masalah keyakinan yang mereka percayai. Selain pembinaan, tokoh agama juga sebagai tempat untuk diskusi dan mencari solusi dari permasalahan yang sedang terjadi dalam masyarakat. Masyarakat Suku Laut sangat menghargai pemuka agama, hal ini dilihat dari perilaku mereka dalam mengikuti arahan pemuka agama tersebut jika ada program sosialisasi dari instansi pemerintah Mereka juga meminta saran terhadap tokoh tersebut sebelum mengambil keputusan tertentu yang dianggap sulit. Hal ini yang menunjukkan bahwa masyarakat suku laut menghormati Tokoh masyarakat mereka. Tokoh Agama membantu Pemberdayaan Masyarakat Suku Laut Berikut ini bentuk pemberdayaan yang dilakukan tokoh agama terhadap masyarakat Suku Laut di Kepulauan Riau. Pertama, meningkatkan kesadaran masyarakat Suku Laut akan pentingnya pembangunan. Kedua, meningkatkan kesadaran masyarakat Suku Laut dalam memanfaatkan fasilitas yang disediakan pemerintah. Ketiga, menggali dan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat Suku Laut untuk pembangunan. Keempat, mengembangkan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan kultur budaya masyarakat Suku Laut. Dan kelima, mengembangkan manajemen sumberdaya yang dimiliki masyarakat Suku Laut secara transparan. Intervensi sosial yang dilakukan oleh tokoh agama terhadap masyarakat Suku Laut di Kepulauan Riau menasbihkan tokoh agama sebagai salah satu elemen yang ada pada sistem sosial masyarakat Suku Laut. Intervensi sosial yakni perubahan terencana yang dilakukan oleh pelaku perubahan . hange agen. terhadap berbagai sasaran perubahan . arget of chang. yang terdiri dari individu, keluarga, dan kelompok (Achmad. Nurwati, & Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 55 Mulyana, 2. Tokoh agama cukup berhasil melakukan intervensi sosial. Sebagai pelaku perubahan . hange agen. , pemuka agama melakukan pendampingan dan sosialisasi dalam aspek kerohanian, sosial, adminduk, ekonomi dan kesehatan. Sebagai sasaran perubahan . arget of chang. , masyarakat Suku laut membuka diri dengan pendampingan yang dilakukan oleh pemuka agama ini. Perubahan kultur, tradisi dan kebiasaan yang sangat signifikan dari kehidupan yang nomaden di perahu kajang menuju kehidupan yang sudah menetap di daratan membutuhkan penyesuaian yang tidak mudah. Intervensi yang dilakukan oleh pemuka agama mempercepat adaptasi masyarakat Suku Laut dengan kehidupan barunya. Adapun perubahan cukup signifikan dari kehidupan nomaden masyarakat Suku Laut hingga sekarang dapat dilihat dari gambar berikut ini: Sebelum Dampingan Sesudah Dampingan Gambar 1. Perubahan Pola Pemukiman Masyarakat Suku Laut Berdasarkan gambar di atas, terlihat bahwa kehidupan masyarakat Suku Laut di Kabupaten Lingga sudah tidak lagi nomaden dan saat ini sudah menganut agama. Pendampingan intensif yang dilakukan pemuka agama membantu mereka untuk beradaptasi dengan daratan. Adaptasi masyarakat Suku Laut dengan wilayah daratan beragam, ada yang bisa lebih cepat menyesuaikan diri ada yang lebih lambat. Pola kehidupan masyarakat Suku Laut yang hidup di pesisir dengan yang hidup di daratan setelah mendapatkan pendampingan juga berbeda. Pada umumnya Suku Laut yang tinggal di daratan sudah mengurung babi/anjing peliharaan mereka di kandang sehingga lingkungan jadi lebih bersih dan tertata rapi. Berikut ini potret tempat tinggal masyarakat Suku Laut di Desa Perayun yang bersih dan sudah membuat kandang untuk babi dan anjing peliharaannya. Gambar 2. Potret Tempat Tinggal Masyarakat Suku Laut di Desa Perayun Kabupaten Tanjungbalai Karimun Perbedaan pola lainnya juga terlihat pada masyarakat Suku Laut yang berinteraksi dengan masyarakat luar lebih intens biasanya akan lebih cepat beradaptasi dengan kehidupan di darat, khususnya bagi masyarakat Suku Laut yang tinggal berbaur dengan penduduk tempatan atau didampingi oleh pemuka agama secara intens. Seperti halnya yang terjadi Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society 56 | Marisa Elsera. Nanik Rahmawati & Annisa Valentina pada masyarakat Suku Laut di Desa Perayun dimana pendeta tinggal Bersama di perkampungan masyarakat Suku Akit kemudian mendirikan gereja. Begitu pula dengan masyarakat Pulau Senang. Kabupaten Lingga yang didampingi oleh pastor sehingga praktik beragamanya menjadi lebih tampak pasca dibangunnya gereja di pulau tersebut. Berikut ini potret gereja yang dibangun hasil swadaya masyarakat Suku Laut dan sumbangan dari Yayasan di Pulau Senang. Gambar 3. Aktivitas Masyarakat Suku Laut Pulau Senang di Dekat Gereja Kesimpulan Penelitian ini memiliki kesimpulan bahwa intervensi yang dilakukan oleh pemuka agama terhadap masyarakat Suku Laut di Kepulauan Riau dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, menyebarkan ajaran agama kepada masyarakat Suku Laut. Kedua, tokoh agama berperan sebagai motivator. Ketiga, tokoh agama melaukan pembinaan dan konsultasi. Dan keempat, tokoh agama membantu pemberdayaan masyarakat Suku Laut. Ucapan terima Kasih Penelitian ini menggunakan dana mandiri, namun dalam publikasi mendapatkan bantuan dari Prodi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Maritim Raja Ali Haji. Konflik Kepentingan Penulis menyatakan bahwa tidak ada konflik kepentingan antar penulis dan subjek penelitian dalam penulisan artikel ilmiah ini. Daftar Kepustakaan Achmad. Nurwati. , & Mulyana. Intervensi Sosial Terhadap Pengembangan Masyarakat Lokal Di Daerah Transmigrasi Desa Topoyo. Jurnal Public Policy, 5. , 111. https://doi. org/10. 35308/jpp. Afrizal. Metode Penelitian Kualitatif: Sebagai Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. Arman. Orang Suku Laut Kepulauan Riau dalam Realita Pembangunan dan Kebijakan Daerah. Retrieved June 22, 2022, from BNPB Riau website: https://kebudayaan. id/bpnbkepri/orang-suku-laut-kepulauan-riaudalam-realita-pembangunan-dan-kebijakan-daerah/ Elsera. Identifikasi Permasalahan Dan Upaya Pemberdayaan Suku Laut Di Dusun Linau Batu. Desa Tanjungkelit. Kabupaten Lingga. Provinsi Kepri. Sosioglobal: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Sosiologi, 3. , 1Ae19. Retrieved http://journal. id/sosioglobal/article/view/21054 Elsera. Hanim. Casiavera, & Valentina. Kehidupan Sosial dan Budaya Suku Laut di Pulau Senang . Kabupaten Lingga. Jurnal Masyarakat Maritim, 6. , 1Ae7. Elsera. Yahya. Oprasmani. Casiavera. , & Syakila. Eksistensi Suku Laut (Suku Aki. di Dusun Bangsal Ujung. Desa Sungai Asam. Kabupaten Tanjungbalai Karimun. Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal Sosiologi Andalas, 7. , 81Ae93. https://doi. org/10. 25077/jsa. Hasan. Pemberdayaan Sosial Ekonomi Komunitas Adat Terpencil (KAT) Dalam Rangka Pengentasan Kemiskinan. Jurnal Sosiologi Universitas Syiah Kuala, 3. , 77Ae Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society Indonesian Journal of Religion and Society 2022, 4 . | 57 Moleong. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Rilanda. Nugroho. , & Amrifo. The Social Security of Duano Community Panglima Raja. Jurnal Online Mahasiswa Universitas Riau, 4. , 1Ae15. Sugiyono. Metode Penelitian Kombinasi (Mix Method. Bandung: Alfabeta. Toweren. Peran Tokoh Agama Dalam Peningkatan Pemahaman Agama Masyarakat Kampung Toweren Aceh Tengah. Dayah: Journal of Islamic Education, 1. , 258Ae272. Copyright A 2022. Indonesian Journal of Religion and Society