JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. AYAT-AYAT HUJAN DALAM PERSPEKTIF WAHBAH AZ-ZUHAILI Charissa Myla Utami Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang charissamyla@gmail. Sarmidah Hanum Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang sarmidahhanum@uinib. Supriadi AM STAI Asy-Syukriyyah Tangerang supriadi@asy-syukriyyah. Abstract: Rain is a natural phenomenon that occurs when sea air evaporates and forms clouds in water droplets, then these water droplets fall to the earth. Many people believe that rain can damage the environment around residents, when in fact environmental damage occurs due to human actions. The focus of this research is the Islamic perspective on the meaning of rain in human life in the book of tafsir al-munir by Wahbah az-Zuhaili. By using a thematic study of the meaning of rain. The aim of this research is to avoid misunderstandings about the fall of The results of this research show that rain is a gift from Allah SWT which provides benefits to all living creatures on earth, it can grow plants that produce fruit that can be enjoyed by living creatures on earth and also brings life to barren or dead land. This research only focuses on several letters, namely surah al-Baqarah verse 22, surah al-An'am verse 99, and Fussilat Keywords: Rain. Wahbah Az-Zuhaili PENDAHULUAN Al-Qur'an merupakan kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat jibril yang diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas yang tujuannya untuk disampaikan kepada manusia. Al-QurAoan juga sumber ajaran islam yang pertama dan merupakan pedoman hidup bagi umat manusia. Al-QurAoan terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6236 ayat yang diturunkan secara mutawatir. Al-Qur'an merupakan firman Allah SWT yang merupakan petunjuk sekaligus menjadi dasar hukum bagi umat manusia dalam mengapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Selain itu Al-QurAoan juga sebagai pembeda antara yang hak dan yang bathil. 1 Tidak ada keraguan didalam Al-qurAoan bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa yang senantiasa ingin mendapatkan petunjuk dari Allah dalam hidupnya. Hayati Nupus dan Wafiz Ajiza. AuSTUDI KAJIAN DALAM AL-QURAoAN,Ay JUTEQ: JURNAL TEOLOGI & TAFSIR 1, no. : 25Ae36. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 124 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. Al-Quran merupakan kalimat Allah yang sudah sempurna benar dan adil isinya tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat yang sudah tertulis di dalam Alquran. Al-Qur'an bukan sekedar memuat petunjuk tentang hubungan manusia dan tuhan. Tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Serta manusia dengan alam Untuk memahami ajaran islam secara sempurna perlu bagi kita untuk memahami kandungan Al-Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari secara sungguhsungguh dan konsisten. Alam merupakan ciptaan Allah SWT yang mengarah kepada fenomena dunia fisik dan juga kehidupan secara umum yang berhubungan lewat indra makhluk hidup. Dalam Alquran terdapat lebih dari 750 ayat yang merujuk kepada fenomena alam. Petunjuk Alquran terhadap fenomena alam dimaksudkan untuk menarik perhatian manusia kepada Allah dengan mempertanyakan dan merenungkan wujud-wujud alam dan mendorong manusia agar berjuang mendekat kepada-Nya. Setiap makhluk hidup terpengaruh terhadap lingkungan sekitarnya sebaliknya makhluk hidup itu sendiri juga dapat mempengaruhi lingkungannya. Jika diperhatikan dalam satu lingkungan hidup, selalu terdiri atas dua jenis yaitu berbagai jenis makhluk hidup dan bendabenda yang bukan makhluk hidup. Antara makhluk hidup dan lingkungannya senantiasa terjadi adanya interaksi dan saling mempengaruhi satu sama lain sehingga merupakan satu kesatuan secara fungsional yang disebut ekosistem. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk bertanggung jawab atas kebersihan keindahan dan keteraturan lingkungan yang ia tinggali baik di rumah ataupun di luar rumah. Secara umum, kerusakan lingkungan terjadi karena dua faktor yaitu bersifat langsung dan tidak langsung. 34 Faktor bersifat tidak langsung merupakan penyebab yang sangat dominan terhadap kerusakan lingkungan artinya rusaknya ekosistem tidak ada campur tangan manusia misalnya gunung meletus gempa bumi tsunami dan lain-lain. Sedangkan faktor yang secara langsung disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan karena desakan kebutuhan, keserakahan atau mungkin kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan misalnya menebang pohon secara liar, membakar hutan. Aliza Fitri. AuPenafsiran Ayat-Ayat Hujan Dalam Kitab Tafsir Al- Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili (Kajian Tematik Tentang Manfaat Huja. ,Ay Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, 2023, 1Ae185. Dinda Riskanita dan Yeni Widowaty. AuUpaya pemerintah daerah mengatasi kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan berdasarkan konsep negara kesejahteraan,Ay Supremasi Hukum: Jurnal Penelitian Hukum 28, no. : 123Ae35. Aisyah Nurhayati. Zulfa Izzatul Ummah, dan Sudarno Shobron. AuKerusakan lingkungan dalam Al-QurAoan,Ay Suhuf 30, no. : 194Ae220. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 125 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. membuang sampah sembarangan, membendung aliran sungai sehingga mencuit dan Kegiatan manusia tersebut dapat memicu kerusakan lingkungan seperti banjir dan sebagai contoh yang terjadi di Sumatera Barat tepatnya di kota bukit tinggi. banjir dan longsor yang melanda wilayah kota bukit tinggi, agam, malalak dan sekitarnya pada hari Sabtu tanggal 11 Mei tahun 2024 yang mengakibatkan kerusakan jalan, dan hanyutnya rumah warga sekitar akibat bencana alam tersebut. Dapat disimpulkan dari berita di atas bahwa faktor utama yang menyebabkan bencana alam seperti banjir ataupun longsor penyebab utamanya karena turunnya hujan. Dalam pandangan masyarakat juga sangat sering terjadi perbedaan pendapat terhadap hujan yang turun ada yang bersyukur dan ada juga yang khawatir ketika hujan turun. Ketika Alquran menjelaskan ayat tentang hujan pasti disertai dengan menyebutkan manfaatnya, dan tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa hujan akan menyebabkan bencana alam. Hal ini karena hujan merupakan kejadian alamiah biasa sebagaimana musim Justru ia akan membuat tanah menjadi subur namun persoalannya akan lain jika hujan tersebut menyebabkan bencana alam, sebab itu pasti ada faktor lain. Oleh karena itu. Jika terjadinya bencana alam yang dipersepsikan sebagai fenomena alam semata, tentunya harus diyakini sebagai akibat dari perbuatan manusia. Sebab. Jika bencana alam dikatakan sebagai "fenomena alam yang terjadi secara alamiah". Justru ini tidak sesuai dengan ketentuan Allah SWT yang telah menetapkan bahwa alam semesta itu untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sebab Allah SWT tidak mungkin menurunkan bencana alam yang berskala besar dan luas tanpa kesalahan atau penduduknya yang berperilaku tidak baik. Di dalam Alquran terdapat ayat yang menjelaskan tentang salah satu manfaat hujan diturunkan sebagaimana firman Allah SWT Al-Qur'an surat az-Zukhruf ayat 11 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: aA aI e a aI e U aCaa o Aa a eI eaIa a nN a eEaU acI eOU aE EaEa a e a a eOIA ca AaO I aca aE IaIa EA e AaO EacA wallazii nazzala minas-sama-i ma-am biqodar, fa angsyarnaa bihii baldatam maitaa, kazaalika tukhrojuun Fitri. AuPenafsiran Ayat-Ayat Hujan Dalam Kitab Tafsir Al- Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili (Kajian Tematik Tentang Manfaat Huja. Ay Fitri. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 126 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. "Dan yang menurunkan air dari langit menurut ukuran . ang diperluka. , lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati . Seperti itulah kamu akan dikeluarkan . ari (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat . Dari ayat di atas telah dijelaskan bahwa salah satu manfaat hujan diturunkan oleh Allah SWT untuk menghidupkan bumi yang tandus atau kering, tetapi yang terjadi sekarang ketika hujan turun dan disusul dengan adanya bencana alam selalu saja dinisbahkan kepada hujan dan mengklaim bencana itu semua akibat dari turunnya hujan tanpa memperhatikan perbuatan tangan jahil manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan alam itu sendiri. Hal ini menjadi daya tarik sendiri bagi penulis untuk mengangkat tentang bagaimana manfaat hujan bagi kehidupan manusia dalam pandangan Islam Adapun alasan lainnya penulis memilih menggunakan kitab tafsir Al Munir karya wahbah Az -Zuhaili karena banyak sekali kelebihan tafsir ini, yaitu tafsir ini mudah dicerna oleh orang yang tidak mengerti sama sekali dengan bacaan kitab, karena bahasa yang digunakan sangat sederhana tidak seperti bahasa kitab-kitab klasik lainya yang menggunakan bahasa yang sulit untuk dipahami. Selain itu kitab ini disusun dengan sistematika yang menarik tidak berantakan sehingga pembaca dengan mudah mencari apa yang diinginkannya, walaupun tidak membaca secara keseluruhan. Tafsir ini juga memudahkan pembaca untuk menarik kesimpulan hukum atau hikmah yang bisa diambil lalu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena Wahbah az- Zuhaili sendiri, setiap penghujung pembahasanya ia selalu menyimpulkan ayat yang ditafsirkan dengan pembahasan Fiqh Al- Hayya au al - Ahkam. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan oleh penulis untuk melakukan penelitian ini menggunakan metode tematik. 8 Penulis menggunakan teknik pengumpulan data studi dokumentasi dan studi literatur karena teknik tersebut dapat membantu peneliti untuk memperoleh data dan informasi dari berbagai macam sumber tertulis yang terdapat di jurnal, buku, laporan penelitian, artikel, dan karya ilmiah. 9 Dan teknik analisis data yang digunakan oleh penulis adalah deskriptif AuSTUDI ANALISIS TERHADAP TAFSIR AL-MUNIR KARYA PROF DR. WAHBAH ZHUHAILY Hermansyah,Ay t. Syaeful Rokim dan Rumba Triana. AuTafsir Maudhui: Asas dan Langkah Penelitian Tafsir Tematik,Ay AlTadabbur: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 6, no. : 409Ae24. Achmad Zubairin. AuTafsir Maqasidi Al-Mawardi: Studi Atas Ayat-Ayat Politik Dalam Tafsir Al-Nukat Wa AlAoUyun,Ay al Dhikr. Jurnal Studi QurAoan dan Hadis 4, no. : 81Ae92. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 127 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. Deskriptif Naratif merupakan suatu penyajian hasil analisis yang berupa deskripsi dari suatu fenomena atau data yang sudah diolah dan dianalisis. PEMBAHASAN Pengertian Hujan Hujan merupakan partikel-partikel air dengan diameter 0,5 mm atau lebih yang jatuh ke permukaan bumi. Jika partikel itu jatuh sampai ke permukaan tanah maka itu disebut dengan hujan, namun apabila artikel tersebut jatuh tidak sampai ke permukaan tanah karena menguap lagi maka jatuhan tersebut disebut dengan virga. Hujan juga bisa didefinisikan berupa uap yang mengkondensasi lalu jatuh ke tanah dalam rangkaian proses hidrologi. Hujan adalah salah satu bentuk presipitasi uapan air yang berasal dari awan yang terdapat di atmosfer. Contoh presipitasi lainnya adalah salju dan es. Titik-titik kondensasi, amoniak, debu dan asam belerang sangat diperlukan agar dapat terjadinya hujan. Titik-titik kondensasi tersebut memiliki sifat yang dapat mengambil uap air dari udara. Intensitas hujan dapat dilihat dari banyaknya curah hujan yang turun dalam jangka waktu tertentu. Jika intensitasnya besar berarti curah hujan itu lebat dan kondisi ini sangat berbahaya karena berdampak akan menimbulkan banjir, longsor dan efek negatif terhadap makhluk hidup yang mendapatkan curah hujan tersebut. Adapun hujan menurut Al-quAoran ialah salah satu bentuk anugerah dari Allah SWT yang di mana keberadaan hujan itu sangat penting dan memberikan banyak manfaat untuk makhluk hidup yang tinggal di bumi. terdapat empat istilah kata hujan di dalam Alquran yaitu al-Maar, al-Ghayth. Anzala mAa . enurunkan air atau huja. dan alWadqu. Masing-masing dari istilah tersebut memiliki karakter tersendiri. 11 Sebagaimana penjelasan berikut: kata Matar menurut Quraish Shihab yaitu (A )EIAbentuk jamak dari (A )EIAadalah (A)IA am tarun yang artinya hujan. jika menggunakan bentuk nakirah yakni (A )IAmataran yang artinya hujan atau sesuatu yang luar biasa atau ajaib. 12 arti dari kata ghayth yakni ialah "diberi hujan"13 . Kata anzala merupakan kata kunci yang diambil dari Alquran dan kata ini diulang hampir sebanyak penyebutan istilah al-ma atau air dalam Alquran. Alquran menyebut istilah Titis Okctavia. AuAnalisis Proses Terjadinya Hujan Dalam,Ay Pendidikan Fisika, 2022. Syaripah Aini. AuManfaat Hujan Dalam Al-QurAoan,Ay Al-Kauniyah 2, no. : 72Ae84, https://doi. org/10. 56874/alkauniyah. Fuad Abd Baqi. AuAl-MuAojam al Mufahras li Alfadz al-QurAoan,Ay Al-MuAojam al Mufahras li Alfaz al-QurAoan. Quraish Shihab. Tarsir Al-Mishbah. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 2005. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 128 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. Ma dalam bentuk nakirah dan al-ma dalam bentuk ma'rifah yang artinya air. Hal ini menunjukkan bahwa air menurut Alquran merupakan sumber kekayaan alam yang sangat penting berharga dan memiliki daya guna dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan makhluk hidup yang berada di bumi. Mayoritas ulama memahmi kata al-Wadq dengan arti Yang diambil dari kata wadaqo yang berarti menetes. Manusia Menganggap Hujan Sebagai Bencana Manusia memiki 2 sudut pandang yang berbeda mengenai hujan, ada yang beranggapan bahwa hujan merupakan anugerah dan rahmat dari Allah SWT yang patut disyukuri, namun ada juga manusia beranggapan bahwa hujan merupakan hal yang dapat mengakibatkan bencana alam dan membuat kerusakan lingkungan sekitar. Terjadinya bencana alam disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor yang bersifat langsung dan faktor tidak langsung. Faktor bersifat tidak langsung merupakan penyebab yang sangat dominan terhadap kerusakan lingkungan artinya rusaknya ekosistem tidak ada ikut campur ulah tangan manusia misalnya gunung meletus gempa bumi tsunami dan lain-lain. Sedangkan faktor yang secara langsung disebabkan oleh ulah manusia sendiri yang mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan karena desakan kebutuhan, keserakahan atau mungkin kurangnya kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan misalnya menebang pohon secara liar, membakar hutan, membuang sampah sembarangan, membendung aliran sungai sehingga mencuit dan sebagainya. Kegiatan manusia tersebut dapat memicu kerusakan lingkungan seperti banjir dan sebagai contoh yakni yang terjadi di Sumatera Barat tepatnya di kota bukit tinggi. bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah kota bukit tinggi, agam, malalak dan sekitarnya pada hari Sabtu tanggal 11 Mei tahun 2024 yang mengakibatkan kerusakan jalan, dan hanyutnya rumah warga sekitar akibat bencana alam tersebut. Dari kejadian diatas banyak manusia beranggapan bahwa bencana alam seperti longsor dan banjir disebabkan karena turunya hujan, sehingga mereka menganggap turunya hujan merupakan hal yang sial. Abd Baqi. AuAl-MuAojam al Mufahras li Alfadz al-QurAoan. Ay Shihab. Tarsir Al-Mishbah. Fitri. AuPenafsiran Ayat-Ayat Hujan Dalam Kitab Tafsir Al- Munir Karya Wahbah Az-Zuhaili (Kajian Tematik Tentang Manfaat Huja. Ay JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 129 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. ANALISIS TAFSIR WAHBAH AZ-ZUHAILI TENTANG AYAT YANG MEMBAHAS MANFAAT DARI HUJAN Al-Baqarah ayat 22 U A Aa aA aA aI e a aI e U Aa a e a a a nN IaIA ca A aI e a aIa e U o acOa eIa aE IaIa EA ca A acO EA a AaO aa aE EaA aE aI ea eA e AEacA aA a eCU EacA aE eI o Aa aaE ae aEa eO a NcEaEa a eIa U acOa eIA a eI a eEa aI eOIA a AEac aI A "(Diala. yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air . dari langit, lalu Dia hasilkan dengan . itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. " (QS. Al-Baqarah 2: Ayat Wahbah az-Zuhaili dalam kitab tafsir al-munir menafsirkan ayat ini bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala telah menjadikan langit sebagai atap yang menaungi bumi yang memayungi manusia dengan beribu keberkahan. Dia menciptakan langit dengan kokoh dan di sana terdapat banyak sekali galaksi dan bintang yang ia ciptakan. Dia menyesuaikan perbandingan dengan seluruh benda-benda langit itu dengan hukum gravitasi sehingga sistemnya tidak ada yang kacau, tak ada benda langit raksasa yang jatuh ke bumi dan bendabenda itu tidak ada yang bertabrakan. Dari awan yang berada di langit Dia menurunkan air yang bermanfaat untuk makhluk hidup yang ada di bumi, sehingga air yang turun tersebut dapat menumbuhkan tanaman dan rumput-rumput, dan tanaman dan rumput-rumput yang mati menjadi segar/hidup setelah turunnya air hujan . Hujan tersebut juga dapat menghilangkan udara atau debu yang kotor yang dapat menyebabkan polusi udara yang dapat membahayakan kesehatan terutama pada manusia. dari tafsiran diatas menunjukkan bahwa Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat dan rezeki bagi makhluk hidup yang ada di bumi maka dari itu tidak pantas manusia menganggap bahwa turunnya hujan tersebut merupakan bencana alam yang dapat membawa kerusakan lingkungan. Dalam ayat ini menyuruh kita untuk merenungkan dan merasakan bukankah kemakmuran hidup kita sangat bergantung kepada pertalian langit dengan bumi lantaran hujan? adanya diciptakan gunung dan pepohonan agar dapat menghambat air hujan itu supaya tidak langsung tumpah secara percuma ke laut namun tertahan-tahan dan menimbulkan sungaisungai, setengahnya akan terpendam di bawah bumi yang akan menjadi persediaan air untuk JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 130 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. makhluk hidup yang ada di bumi. dan ayat ini juga menyuruh kita untuk merenungkan, bahwasanya semua yang ada di bumi itu ada yang menciptakannya yaitu Allah SWT. Tidak mungkin ada kekuasaan lain yang dapat menciptakan aturan tertib dan teratur yang Allah Lalu datanglah di penghujung ayat yang berbunyi "maka janganlah kamu adakan bagi Allah sekutu, padahal kamu mengetahui". dengan maksud tidak patut bagi kita menyembah kepada Tuhan yang lain selain Allah SWT. Karena hanya Allah yang menghamparkan bumi dan membangun langit, lalu menurunkan air hujan sebagai rahmat bagi manusia, yang tidak ada dicampuri oleh kekuasaan yang lain. Al-AnAam ayat 99 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: Aa UA a A aI e a aI e U o Aa a e a eIa a nN Ia a a aE aEA ca AaO a eIa aE IaIa EA a AO Aa a e a eIa aI eINa A e e AaON aaO EacA e AA a A aI eINa aUc acI aa aEU o aOIaIa EIac e aE aI eIA A eE a aN Ca eI aO UI a IaOaU acO aIN aI eI a eIa acOA a AIac e aA a AO ae aIaa aN o a eIA AOA a AE acI Ia aI ea a UN acOA ca AE eO a eOIa aOA e aA a e eO aEO a aI a neN aa e ae aI a aOOa eI a nN o acaI AA aA aE aE eI a eE O aECa eOI Oace aIIa eOIA "Dan Dialah yang menurunkan air dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebunkebun anggur, dan (Kami keluarkan pul. zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah, dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda . ekuasaan Alla. bagi orang-orang yang " (QS. Al-An'am 6: Ayat . Wahbah az-Zuhaili menafsirkan ayat ini, ya ini di dalamnya terdapat salah satu ayat kauniyah, yakni turunnya air hujan merupakan sebab tumbuhnya tanaman. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dengan kekuasaan, pengaturan, dan hikmahnya menurunkan air dari langit dengan kadar tertentu sebagai pembawa keberkahan dan rezeki bagi hamba-Nya yang ada di Dengan air yang Allah turunkan dapat menghidupkan dan merawat makhluk hidup yang Fitri. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 131 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. ada di bumi sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada mereka. Allah SWT menumbuhkan tanaman menggunakan air hujan. Lalu setelah itu Allah menciptakan biji dan buah di dalamnya. Oleh karena itu. Allah SWT berfirman, "Biji-biji itu kami rangkai antara yang satu dengan yang lainya". Ayat ini merupakan penjelasan tentang tumbuhan yang tidak memiliki batang. setelah itu, beralih pada penjelasan mengenai tanaman yang memiliki batang. Allah SWT berfirman, " Kami keluarkan dari mayang kurma tangkai-tangkai yang mudah diraih". Dari semua tumbuhan yang sudah dijabarkan Allah sebut secara khusus buah zaitun dan delima. Keduanya memiliki kesamaan pada daun dan bentuknya, tetapi buahnya berbeda, baik bentuk, rasa, dan kekhasannya. Ada yang manis, asam, dan ada yang pahit. Hal itu menunjukkan kekuasaan dari Allah sang pencipta dari semua tumbuhan. Jika kita perhatikan dengan penuh penghayatan dan perenungan, bagaimana kondisi buah dari pepohonan yang belum matang dan setelah matang itu sangat berbeda. Ia memiliki proses dari kering kemudian dipenuhi dengan air. berbuah lalu berbunga. setiap buah memiliki rasa, ukuran, dan warna tersendiri. Jika dibandingkan buah-buah tersebut maka patut untuk kita merenungkan bahwa hal itu merupakan kekuasaan pencipta yakni Allah SWT yang menciptakan dari tiada menjadi ada. Adapun surah al-An'am ayat 99 ditutup dengan "bagi kaum yang beriman", ayat tersebut ditutup demikian sebagai isyarat bahwa tanda-tanda ini hanya bermanfaat untuk yang beriman. Memang bisa saja ada yang mengetahui rahasia dibalik fenomena yang diuraikan ayat-ayat di atas, tetapi jika pengetahuan tersebut tidak dilandasi dengan iman kepada Allah SWT maka pengetahuan itu tidak akan bermanfaat. Surah Fussilat ayat 39 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: e A aO a aA e AEa eO aN eE aI e a eN acaA AOA a A a a aU Aa a a e a eIa eEIaA a AaO aI eI O a n eN aIacEa aaO eEa eA e e A o acaI Eac aA AO Ca aO UeA a A EO aE aEA a Aa e aONa Ea aIe O a eE aI eO O aIacNA e AA "Dan sebagian dari tanda-tanda . -Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. AuTafsir Munir 4. crdownload,Ay t. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 132 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. Sesungguhnya (Alla. yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. " (QS. Fussilat 41: Ayat . Wahbah az-Zuhaili menafsirkan ayat ini, dengan berbagai bukti kekuasaan dari Allah SWT dalam ba'ts dan membangkitkan sesuatu yang telah mati seperti tanah tandus gersang yang tak berumput dapat subur kembali karena hujan yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Bahkan tanah itu dapat menghasilkan berbagai macam tanaman dan buah-buahan. Sangat mudah bagi Allah SWT menyuburkan tanah yang tandus dan gersang, tentu sangat mudah juga bagi Allah untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Karena hanya Allah SWT yang maha mampu atas segala sesuatu. Kata "khasyiah" pada surat fussilat ayat 41 melambangkan kepatuhan dan ketiadaan daya menghadapi sesuatu. Dari sini kata tersebut dapat digunakan juga dalam arti ketiadaan hidup, karena itu jika konteksnya menyifati tanah, ia akan diartikan sebagai tanah kering atau Ayat ini menjabarkan bahwa unsur-unsur yang ada pada kosmos dan lapisan tanah yang mati jika disiram oleh air hujan akan larut bersama air hujan itu. Dengan demikian tanah tersebut akan lebih mudah bergerak sehingga mencapai benih dan akar berbagai macam tumbuhan yang kemudian akan berubah menjadi sel-sel, jaringan-jaringan dan akhirnya organisme yang hidup karena meresapnya air dan tumbuhnya berbagai tumbuhan bumi akan tampak lebih hidup. KESIMPULAN Sebagaimana tujuan dari penulis yang ingin meneliti ini ialah untuk menjelaskan bagaimana manfaat hujan bagi kehidupan makhluk hidup dalam pandangan Islam, juga menjabarkan pandangan dari manusia yang menganggap bahwa hujan merupakan bencana alam yang dapat merusak lingkungan sekitarnya dan menjelaskan bagaimana Wahbah azZuhaili menafsirkan ayat-ayat tentang manfaat hujan bagi makhluk hidup dalam kitabnya yakni kitab Tafsir Al Munir, penulis dapat menyimpulkan beberapa poin penting diantaranya yaitu: Manusia memiliki dua sudut pandang yang berbeda mengenai hujan, ada yang beranggapan bahwa Hujan merupakan anugerah dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta'ala yang patut disyukuri namun ada juga manusia beranggapan bahwa Hujan merupakan hal yang dapat Abdulmalik Abdulkarim Amrullah. AuTafsir Al-Azhar Juz 10,Ay Pustaka Nasional PTE LTD Singapura 53, no. : 1689Ae99. Shihab. Tarsir Al-Mishbah. JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir | Vol. 3 | Nomor 2 | Juli Ae Desember 2024 | 133 JIQTA: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 3 | Nomor 2 | Juli - Desember 2024 E-ISSN : 2828-7339 DOI : https://doi. org/10. 36769/jiqta. mengakibatkan bencana alam dan membuat kerusakan lingkungan sekitar. Di dalam Alquran banyak sekali manfaat hujan yang diturunkan oleh Allah SWT, diantaranya di dalam Q. S AlBaqarah ayat 22 ,Q. S Al an'am ayat 99, dan Q. S Fussilat ayat 39 inti dari pembahasan yang telah dianalisis oleh penulis ialah masing-masing dari ayat ini menjabarkan kekuasaan Allah SWT yang telah menurunkan air hujan yang sangat bermanfaat untuk keberlangsungan makhluk hidup yang ada di bumi. Menurut kitab tafsir Al Munir karya Wahbah az- Zuhaili keempat ayat yang telah dikaji oleh penulis sama-sama membahas manfaat hujan untuk keberlangsungan makhluk hidup yang ada di bumi. Dalam surat Al-Baqarah ayat 22 manfaat hujan yang beliau tafsirkan yakni hujan sangat bermanfaat untuk menumbuhkan berbagai macam jenis tanaman, buah-buahan yang lezat dan segar untuk dapat dinikmati oleh makhluk hidup yang ada di bumi. Sedangkan pada surat Al an'am ayat 99 Wahbah az- Zuhaili menafsirkan bahwa manfaat hujan yaitu untuk menyuburkan tanaman yang awalnya tanaman itu layu menjadi hijau dan dapat menghasilkan buah-buahan. Dan pada surat Fussilat ayat 39. beliau menafsirkan manfaat hujan untuk menghidupkan tanah yang gersang atau tandus, kemudian setelah hujan turun bumi hidup kembali, bahkan daerah yang telah mati beribu tahun dapat hidup kembali karena turunnya air hujan. DAFTAR PUSTAKA