Volume 8 | Nomor 2 | Tahun 2025 | Halaman 539Ai550 E-ISSN 2615-8655 | P-ISSN 2615-725X http://diglosiaunmul. com/index. php/diglosia/article/view/1175 Perlawanan diskursif terhadap mimpi Amerika dalam novel American Dirt karya Jeanine Cummins Discursive resistance toward American dream in AuAmerican DirtAy novel by Jeanine Cummins Ngestirosa Endang Woro Kasih1*. Kristiawan Indriyanto2. Surtinawati3, & Meri Nabila4 1,3,4 Universitas Teknokrat Indonesia Jalan Z. Pagar Alam 9-11. Bandar Lampung. Indonesia Email: ngestirosa@teknokrat. Orcid: http://orcid. org/0000-0003-0565-0611 Email: surtinawati@teknokrat. Orcid: https://orcid. org/0009-0005-4858-1304 Email: meri_nabila@teknokrat. Orcid: https://orcid. org/0009-0001-8176-7144 Universitas Prima Indonesia Jalan Sampul No. Sei Putih Barat. Medan. Indonesia Email: kristiawanindriyanto@unprimdn. Orcid: http://orcid. org/0000-0001-7827-2506 Article History Received 11 April 2025 Revised 13 May 2025 Accepted 19 May 2025 Published 16 June 2025 Keywords American dream. Kata Kunci American dream. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract This research aims to examine the discursive discourse on the American dream in the novel American Dirt by Jeanine Cummins. This novel tells the life of Lydia and her son. Luca as immigrants in the United States. This study uses a qualitative descriptive method supported by Stuart HallAos represnetation theory and belonging theory. The narrative of Mexican immigrants built by Cummins illustrates the ideals of achieving the American dream for a better life in the existing characters. However, the life that is dreamed of does not go completely as it should. Lydia and Luca are trying to achieve their ideal goals as new citizens. However, minority construction is still a hindrance. With the theory of representation and belonging, the depiction of Lydia and LucaAos lives is a process that immigrants should face. The rejection of the majority by the minority is an ongoing negotiation process and is not easy to achieve. Lydia and Luca are representations of Mexican immigrants who still have to negotiate the search for identity in a new community in the United States. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menelaah wacana diskursif pada mimpi Amerika pada novel American Dirt karya Jeanine Cummins. Novel ini mengisahkan kehidupan Lydia dan putranya. Luca sebagai imigran di Amerika Serikat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan didukung teori representasi Stuart Hall dan teori belonging. Narasi imigran Meksiko yang dibangun oleh Cummins menggambarkan akan cita-cita perolehan mimpi Amerika untuk kehidupan yang lebih baik pada tokoh yang ada. Akan tetapi kehidupan yang diimpikan tidak sepenuhnya berjalan dengan semestinya. Lydia dan Luca berusaha mencapai target ideal sebagai warga negara yang baru. Akan tetapi konstruksi minoritas masih Dengan teori representasi dan belonging, penggambaran kehidupan Lydia dan Luca merupakan proses yang sewajarnya dihadapi imigran. Penolakan mayoritas akan minoritas merupakan proses negosiasi yang terus ada dan tidak mudah dicapai. Lydia dan Luca adalah representasi imigran Meksiko yang masih harus bernegosiasi dengan pencarian identitas dalam komunitas yang baru di Amerika Serikat. A 2025 The Author. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya by Universitas Mulawarman How to cite this article with APA style 7th ed. Kasih. Indriyanto. Surtinawati. , & Nabila. Perlawanan diskursif terhadap mimpi Amerika dalam novel American Dirt karya Jeanine Cummins. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya, 8. , 539Ae550. https://doi. org/10. 30872/diglosia. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya is an open access article under the terms of the Creative Commons Attribution-Share Alike 0 International License (CC BY-SA 4. Ngestirosa Endang Woro Kasih. Kristiawan Indriyanto. Surtinawati, & Meri Nabila Pendahuluan Cerita tentang Amerika khususnya tentang mimpi Amerika telah menjadi perbincangan dan pusat perhatian dalam kehidupan masyarakat Amerika (Archer, 2016. High, 2. Gagasan ini muncul dari imigran Eropa ke Amerika Serikat pada awal sejarah Amerika yang mencari kehidupan yang lebih baik (Casarrubias et al. , 2024. Hou, 2017. Mays et al. , 2. American Dream akhirnya merupakan gagasan akan kebebasan dan peningkatan kemakmuran di antara negaranegara. Amerika Serikat tanpa memandang latar belakang melalui kerja keras dan ketekunan (Kasiyarno, 2. Istilah AoMimpi AmerikaAo pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan James Truslow Adams di mana ia menggambarkan American Dream sebagai keinginan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, lebih makmur, dan lebih memuaskan (Gholami, 2. Konsep ini menangkap harapan komunitas untuk menjalani kehidupan yang lebih memadai, lebih kaya, dan lebih memenuhi. Visi ini berakar pada keyakinan bahwa setiap orang, tanpa memandang latar belakang sosial atau tempat kelahiran, harus memiliki kesempatan yang setara untuk mengejar potensi terbaik mereka melalui pencapaian pribadi, bakat, dan upaya keras (Archer, 2016. Gholami, 2020. High, 2015. Hou, 2. Sejalan dengan kemajuan negara ini, banyak individu memiliki impian untuk menjadi bagian dari Amerika. Keinginan ini digambarkan sebagai Autanah yang dijanjikan di mana susu dan madu mengalirAy (Arendt, 2006, p. Perkembangan teknologi canggih yang pesat telah membawa impian ini melebihi harapan banyak orang, sehingga mereka merasa seolah hidup dalam Audunia terbaik dari semua kemungkinan dunia. Ay Gagasan untuk mencapai impian pada kehidupan yang lebih baik juga menjadi impian imigran lainnya untuk ke Amerika. Imigran dari Meksiko salah satunya memiliki mimpi yang besar dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik (Alba, 2006. Cohen, 2. Penduduk Meksiko yang tinggal di perbatasan dengan Amerika Serikat melihat kehidupan dan keamanan yang lebih baik selanjutnya memberikan motivasi yang sangat besar (Allegro, 2. Untuk itu pengungsi dari Meksiko terus mengalir ke Amerika Serikat hingga saat ini. Berbagai motivasi muncul bukan hanya kebutuhan ekonomi tetapi juga kebutuhan akan pendidikan dan keamanan yang lebih baik (Smith, 2. Pengungsi tersebut akhirnya menjadi bagian dari penduduk Amerika Serikat dan memulai kehidupan yang baru dengan segala permasalahan yang muncul. Hal ini akhirnya menjadi isu dan tema utama yang dihadirkan dalam karya sastra yang ditulis oleh penulis dari imigran keturunan Meksiko atau penulis Latin (Kasih et al. , 2. Penulis tersebut menyoroti permasalahan tersebut berawal dari berbagai konflik yang muncul pada kewarganegaraan imigran dari Meksiko. Cerita tentang imigran Meksiko yang ada pada novel American Dirt (Cummins, 2. ditulis pada tahun 2018 dan langsung menuai kritik yang tajam dari publik di Amerika Serikat. Kontroversi seputar novel ini berakar dari penggambaran imigran asal Meksiko yang dianggap tidak akurat menurut pandangan Jeanine Cummins (Panuco-Mercado, 2. Penulis tersebut bukan berasal dari latar belakang Meksiko, melainkan berdarah putih dan Puerto Riko. Narasi yang ditampilkan dalam novel ini secara dramatis oleh Cummins mengisahkan kehidupan Lydia dan Luca, dengan bahasa kasar mengenai kekejaman yang dilakukan kartel di Meksiko. Tak dapat dipungkiri bahwa representasi Lydia dan Luca adalah cerita tentang imigran Meksiko melalui sudut pandang seorang penulis kulit putih Amerika yang juga perlu menjadi perhatian. Penelitian yang berkaitan dengan mimpi Amerika dan kehidupan orang Meksiko di Amerika Serikat berpusat pada permasalahan kehidupan imigran. Mimpi Amerika juga menjadi bagian dalam perkembangan tersebut. Studi menunjukkan bahwa pada awalnya orang keturunan Mexico mendapatkan kepuasan akan kehidupan di Amerika dibandingkan orang Amerika yang dilahirkan di Amerika Serikat (Mays et al. , 2. Hal ini terjadi karena adanya dukungan dari keluarga dan optimisme untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Akan tetapi, imigran dari Meksiko ini mendapatkan kehidupan yang sulit dan tekanan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (Alba, 2. Studi dari Alba (Alba, 2. juga menemukan imigran Meksiko sering dianggap sulit Tetapi hal ini tidak terbukti karena adanya peningkatan dalam pendidikan dan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 539Ai550 Perlawanan diskursif terhadap mimpi Amerika dalam novel American Dirt karya Jeanine Cummins penguasaan Bahasa Inggris (Alba, 2006. Mays et al. , 2023. Rumbaut & Massey, 2. Penelitian lain menemukan bahwa mimpi Amerika yang dibawa oleh imigran juga karena peran media social yang menyoroti kehidupan mereka (Ochoa, 2. Beberapa penelitian yang menggambarkan mimpi Amerika dan pengalaman imigran dalam karya sastra. Novel-novel yang ditulis imigran dari Meksiko menggambarkan bahwa mimpi Amerika memacu kehidupan yang lebih baik dalam pendidikan dan karir (Kasih, 2018. Kasih et al. , 2. Mimpi Amerika dalam penelitian lain menekankan akan peningkatan pada kesejahteraan materi (Ghiotto & Wijanarka, 2. , dan berkaitan dengan nilai-nilai yang muncul dalam keluarga (Ariningrum & Haryanti, 2. Novel American Dirt pertama kali dirilis pada tahun 2018 dan langsung menuai kritik yang tajam dari publik di Amerika Serikat. Kontroversi seputar novel ini berakar dari penggambaran imigran asal Meksiko yang dianggap tidak akurat menurut pandangan Jeanine Cummins (PanucoMercado, 2. Penulis tersebut bukan berasal dari latar belakang Meksiko, melainkan berdarah putih dan Puerto Riko. Narasi yang ditampilkan dalam novel ini secara dramatis oleh Cummins mengisahkan kehidupan Lydia dan Luca, dengan bahasa kasar mengenai kekejaman yang dilakukan kartel di Meksiko. Tak dapat dipungkiri bahwa representasi Lydia dan Luca adalah cerita tentang imigran Meksiko melalui sudut pandang seorang penulis kulit putih Amerika yang juga perlu menjadi perhatian. Akhirnya, penelitian ini untuk memperdalam pengetahuan bagaimana kehidupan imigran dari Meksiko dan mimpi Amerika dapat dinarasikan. Fokus penelitian pada kajian novel American Dirt yang juga mengisahkan pengalaman imigran dari Meksiko pada tokoh Lydia dan Luca. Topik tentang wacana diskursif yaitu wacana sanggahan untuk memperjelas apakah benar narasi novel menggambarkan mimpi Amerika atau sebaliknya. Latar belakang penulis. Jeanine Cummns yang mendapatkan kontroversi dari masyarakat Amerika juga perlu dicermati. Selanjutnya, kajian tentang wacana diskursif belum pernah dilakukan pada novel American Dirt. Oleh karena itu, penelitian ini dianggap relevan dan mendukung studi sebelumnya pada novel-novel tentang imigran dari Meksiko. Metode Studi ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang membahas tentang wacana diskursif tentang mimpi Amerika. Sumber data primer yang digunakan adalah novel American Dirt yang ditulis oleh Jeaniine Cummins. Sedangkan data yang digunakan adalah narasi dan dialog tentang isu perlawanan diskursif mimpi Amerika. Untuk menunjang pembahasan, studi ini juga menggunakan data pendukung yang diambil dari artikel dan sumber lain yang berfokus pada pembahasan mimpi Amerika. Jurnal yang berisi tentang kehidupan imigran Meksiko di Amerika Serikat juga menjadi data pendukung (Kasih, 2018. Kasih et al. , 2. Dalam tahap pengumpulan data, studi ini dilakukan dengan beberapa tahapan. Pertama, pembacaan novel secara menyeluruh dan memahami seluruh aspek yang berkaitan dengan mimpi Amerika. Pada bagian tersebut beberapa catatan dibuat terkait isu-isu yang ada pada karya sastra khususnya novel. Kemudian catatan tersebut dipilah dan dipisahkan sesuai poin-poin penting dalam teks. Data kemudian diklasifikasikan berdasarkan isu dan struktur cerita seperti alur, tokoh, dan latar. Terakhir, pengarsipan data yang telah dikumpulkan untuk keperluan analisis. Setelah semua data terkumpul, penulis membuat daftar dan mengklasifikasikan data untuk dianalisis. Data dianalisis dengan menggunakan teori guna menjawab rumusan masalah penelitian. Dalam proses analisis data, teori representasi dari Stuart Hall digunakan (Adhitya et al. , 2021. Alama, 2023. Wendra & Tantri, 2. Teori representasi untuk menjelaskan secara lebih lengkap kehidupan imigran Meksiko di Amerika Serikat dengan segala permasalahannya. Teori ini digunakan dengan beberapa langkah yaitu langkah klasifikasi tanda dan simbol, interpretasi, analisis, evaluasi, dan penarikan kesimpulan. Teori ini digunakan untuk mengetahui bagaimana makna bisa diperbaharui sepanjang waktu dari media dan budaya yang hadir pada saat itu. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 539Ai550 E. Ngestirosa Endang Woro Kasih. Kristiawan Indriyanto. Surtinawati, & Meri Nabila Pembahasan Studi ini akan menyoroti wacana mengenai mimpi Amerika. Fokus utama akan tertuju pada karakter Lydia dan Luca dalam karya American Dirt yang ditulis oleh Jeanine Cummins. Diskusi ini akan menekankan tiga isu penting, yaitu representasi imigran asal Meksiko, definisi identitas Amerika, serta ambiguitas yang dialami oleh imigran Meksiko dalam konteks mimpi Amerika dan ilusi yang menyertainya. Ketiga aspek tersebut akan merujuk pada pengalaman dan kehidupan dari protagonis. Lydia dan putranya. Luca. Representasi Imigran Meksiko Novel Jeanine Cummins. American Dirt, adalah sebuah kisah perjalanan imigran Meksiko yang ditemukan pada tokoh Lydia dan Luca anaknya. Novel ini dibagi dalam dua wilayah yaitu kehidupan di Meksiko dan di Amerika Serikat. Kehidupan imigran itu dibagian awal oleh Cummins dibuka dengan latar belakang kehidupan di Meksiko. Cerita ini oleh Cummins dinarasikan sebagai latar belakang untuk akhirnya menjadi imigran di Amerika Serikat. Lydia dan Luca anaknya harus mengalami kehidupan mengerikan ketika keluarganya di bantai kartel Meksiko. Cummins secara vulgar menarasikan kekerasan dan kekejaman kartel tersebut. Lydia menyaksikan keluarganya dibunuh oleh kartel narkoba, dan dia berbagi pengalaman trauma dengan putranya. Luca, sebagai trauma yang terus berlanjut. AuHe tells himself that this is just a bad dream, a terrible dream, but one heAos had many times before. He always awakens, heart pounding, and finds himself flooded with relief. It was just a dreamAy (Cummins, 2019, p. Narasi tersebut menggambarkan kengerian Luca akan pembunuhan yang disaksikannya. Luca, seorang anak kecil harus mengalami mimpi buruk akan kehidupan di Meksiko. Cummins, walaupun bukan keturunan Meksiko, secara jelas menggambarkan bagaimana kehidupan imigran dimulai dari trauma kehidupan yang dialami di kehidupan di Meksiko. Sesuatu trauma yang tidak hanya pribadi, tetapi mewakili pengalaman kolektif banyak imigran Meksiko yang menanggung kekerasan, kehilangan, dan ketidakpastian pada kehidupan awal menjadi motivasi untuk melakukan perpindahan ke Amerika Serikat. Pengalaman traumatis Lydia yang dimulai di tanah air Meksiko, pada akhirnya mendorong untuk mencari harapan baru dan mengejar impian lain di Amerika. Dalam konteks teori push and pull factors (Karma Putra, 2022. Shintawati & Suharman, 2. , pengalaman Lydia dan Luca menjadi ilustrasi konkret dari push factor, yaitu dorongan kuat untuk meninggalkan negara asal akibat kekerasan dan ketidakamanan. Kesempatan untuk menjadi imigran ke Amerika Serikat bagi rakyat Meksiko adalah jalan menuju kebebasan. Berbagai alasan yang ada tidak hanya dipandang sebagai faktor ekonomi tetapi juga pengalaman hidup yang sulit. Kisah Luca dan Lydia adalah seorang imigran yang berusaha mencari kedamaian dalam hidup. Keluarga Luca dan Lydia merupakan keluarga yang cukup aman di bidang ekonomi sehingga alasan ekonomi bukan faktor utama. Lydia bisa mendapatkan visa dan cukup uang untuk tinggal di Amerika Serikat. Hal ini sebagai gambaran lain bahwa imigran Meksiko tidak hanya memulai perjalanan sebagai imigran dari kesulitan ekonomi (Maggo. Rumbaut & Massey, 2. Cummins secara eksplisit juga menyoroti lemahnya sistem hukum di Meksiko, yang menjadi alasan lain mengapa individu seperti Lydia merasa tidak memiliki pilihan selain melarikan diri. AuThe unsolved-crime rate in Mexico is well north of 90 percent. The costumed existence of la policya provides the necessary counterillusion to the fact of the cartelAos actual impunityAy (Cummins, 2019, p. Dalam hal ini. Meksiko tidak hanya digambarkan sebagai tempat penuh bahaya, tetapi juga sebagai negara yang gagal memberikan keadilan bagi warganya. Keadaan ini menggambarkan bagaimana negara sumber migran dapat menciptakan kondisi Autidak layak huniAy secara sosialpolitik, sehingga migrasi menjadi bentuk pertahanan diri. Dalam pelarian mereka. Lydia dan Luca menumpang kereta barang dan bertemu migran lain yang senasib. Mereka diposisikan sebagai bagian dari gelombang migrasi ilegal yang sering kali Narasi Cummins memperlihatkan bahwa masyarakat sering kali menyamaratakan Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 539Ai550 Perlawanan diskursif terhadap mimpi Amerika dalam novel American Dirt karya Jeanine Cummins penampilan dan status para migran: AuYeah, all the migrants wear the same uniforms, right? Dirty jeans, busted shoes, baseball hatsAy (Cummins, 2. Penggambaran ini menunjukkan bagaimana stereotip bekerja dalam membingkai imigran sebagai kelompok homogen dan marginal, bukan sebagai individu dengan latar belakang yang kompleks. Dalam narasi tersebut. Lydia diposisikan sebagai imigran AuidealAyAiberasal dari kelas menengah, berpendidikan, dan penuh kasih sayang terhadap anaknya. Bahkan saat menghadapi trauma mendalam, ia digambarkan tetap kuat dan tabah, seperti ketika narator menyebut. AuShe doesnAot ask if heAos okay because from now on that question will carry the weight of painful absurdityAAy (Cummins, 2. Cummins berusaha menggambarkan secara dramatis bahwa Lydia sepenuhnya mengalami berbagai kesulitan dalam proses menjadi imigran. Lydia dalam narasi tersebut merasa kesulitan akan kehidupan baru sebagai imigran. Cummins, walaupun dirinya bukan keturunan Meksiko, tampaknya tidak secara tepat bahwa itu sepenuhnya merupakan penggambaran imigran Meksiko. Karakter Luca, pada bagian lain, direpresentasikan sebagai anak berbakat khususnya dalam kompetisi geography bee. Luca dalam gambaran ini menjadi sosok yang berbeda pada konstruksi imigran Meksiko secara umum. Gambaran imigran Meksiko di Amerika Serikat adalah ilegal, kriminal dan tidak berpendidikan (Portes & Rumbaut, 2. Narasi Luca sebagai anak pintar juga didukung oleh narasi tentang Lydia yang mendukung tentang Luca sebagai anak cerdas. Representasi imigran dalam tokoh Lydia dan Luca menggambarkan perjuangan yang dilakukan untuk mendapatkan penerimaan dalam komunitas masyarakat mayoritas. Untuk mendapatkan penerimaan di tanah baru, imigran harus membuktikan kualitas dan kecerdasannya. Narasi-narasi migrasi dalam novel-novel yang ditulis penulis Meksiko memusatkan pada narasi perjuangan untuk menarik empati pembaca. Cummins disatu sisi berhasil menarik perhatian pembaca dalam mempresentasi imigran cerdas. Di satu sisi tokoh Lydia dan Luca seolah lupa bahwa mereka tidak bisa secara mudah mendapatkan penerimaan dalam komunitas mayoritas. Cummins hanya menggambarkan narasi penderitaan dan perjuangan tanpa adanya nilai akan proses negosiasi dalam komunitas baru. American Dirt membangun narasi yang menyoroti kerentanan imigran Meksiko saat mereka menghadapi kekerasan struktural dan stereotip yang melekat pada mereka di negara asal mereka. Lydia dan Luca digambarkan tidak hanya sebagai korban kebrutalan kartel tetapi juga sebagai simbol perjalanan migran yang ditandai dengan kesulitan, ketidakpastian, dan kehilangan. Narasi imigran dalam novel ini menggambarkan imigran Meksiko sebagai tokoh rapuh. Perjalanan mereka mewujudkan versi ilusi dari impian Amerika yang berhasil menarik simpati pembaca seperti yang digambarkan oleh Cummins. Akan tetapi keberadaan Cummins dalam mempresentasikan penderitaan imigran Meksiko tidak sepenuhnya diterima karena penulis sendiri merupakan keturunan Puerto Rico dan bukan Meksiko. Cummins dianggap mendramatisi kehidupan imigran Meksiko secara berlebihan dalam novel ini (Panuco-Mercado, 2. Gambaran tentang proses bertahan hidup sering disalahpahami, disederhanakan secara berlebihan, atau bahkan diabaikan dalam wacana yang ada. Representasi imigran dalam tokoh Lydia dan Luca sebagai representasi kompleksitas kehidupan imigran Meksiko. Standar Identitas Amerika dan Ambiguitas Penerimaan Sosial Di American Dirt. Jeanine Cummins menyoroti standar AoidealAo imigran. Seorang imigran wajib menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dan harapan masyarakat Amerika. Cummins membangun narasi bahwa Luca, anaknya Lydia telah menjadi anak yang pintar berbahasa Inggris. Narasi seperti itu tampak sengaja ditampilkan Cummins seolah olah itu adalah gambaran imigran ideal. Lydia dan Luca dalam novel sebagai tokoh yang patuh dan menuruti identitas Amerika dengan membentuk pribadi yang tergambar pada Luca sebagai anak yang patuh, rajin dan pintar berbahasa Inggris. Seorang kulit putih Amerika menunjukkan keheranan akan kemampuan Luca. AuAnd in perfect English! Where did you learn such perfect English?Ay (Cummins, 2019, p. dan Luca menjawab dengan sederhana. AuAcapulco,Ay (Cummins, 2. Reaksi kekaguman terhadap kemampuan Luca Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 539Ai550 E. Ngestirosa Endang Woro Kasih. Kristiawan Indriyanto. Surtinawati, & Meri Nabila menunjukkan bahwa kefasihan berbahasa Inggris dianggap sebagai penanda superioritas dan syarat diterimanya seorang imigran. Kemampuan ini bahkan menjadi sumber kebanggaan tersendiri bagi ibunya. Lydia menggambarkan putranya sebagai anak yang sempurna: AuHer boy was perfect Ae so smart and accomplished, so guapo and happy. SheAod been teaching him English for almost as long as heAod been speaking SpanishAy (Cummins, 2. Narasi ideal akan Luca sebagai tokoh yang cerdas membingkai akan tuntutan bagai sesuatu kewajiban yang harus dilakukan. Cummins sekali lagi berusaha menunjukkan Luca sebagai sosok yang pintar di seluruh bagian novel. Narasi wunderkind and incredibleAy (Cummins, 2019, p. diulang beberapa kali dalam novel sebagai gambaran yang harus ada bagi imigran. Penggambaran imigran oleh Cummins seolah memperkuat pesan bahwa imigran Meksiko hanya akan dianggap layak jika mereka istimewa bukan karena kemanusiaannya, tetapi karena pencapaiannya. Dalam teori belonging, seorang akan berusaha menyesuaikan dirinya di tempat baru. Mereka akan terus bernegosiasi dan membentuk identitas walaupun terdapat ambiguitas akan identitas mereka. Imigran akan terus melihat kehidupan masa lalu dan kondisi saat ini (Dusi et al. , 2015. Ullah et , 2. Lydia menempatkan dirinya sebagai orang tua yang bisa membentuk Luca untuk memiliki identitas Amerika. Luca berusaha menyesuaikan diri dengan nilai-nilai serta harapan masyarakat Amerika. Hal ini sejalan dengan teori belonging bahwa individu dalam proses imigrasi mengalami konflik keberpihakan yang harus dijalani. Sehingga dirinya secara tidak sadar menyetujui format yang telah disetujui pada masyarakat di mana dirinya tinggal. Tambahan lagi, penulis sebagai keturunan Latin juga ambil bagian dalam membentuk karakter dalam ekspektasi yang ada. Dalam novel-novel tentang imigran, keberpihakan akan selalu pada imigran, dengan memoles cerita tentang keberhasilan, perjuangan dan kemiskinan. Negara yang menjadi tujuan imigran akan selalu menjadi korban akan kegagalan imigran untuk menyesuaikan diri. Narasi Cummins seolah menyatakan dukungan akan status Lydia dan Luca sebagai imigran. Akan tetapi Cummins, juga tidak sepenuhnya loyal. Lydia dan Luca digambarkan sebagai imigran ilegal. Lydia harus mengalami kekecewaan karena status ilegal tersebut. Dalam peristiwa yang ada, tokoh Luca harus mengalami diskriminasi. Luca nyaris memenangkan sebuah perlombaan, namun kemudian didiskualifikasi karena statusnya sebagai imigran ilegal. Petugas berkata kepada Lydia. AuI didnAot realize your son was undocumented. Ay [A] AuIAom sorry. he wonAot be eligible to win the prize. Ay (Cummins, 2019, p. Adegan ini menggambarkan bagaimana hukum tetap menjadi standar utama dari proses penerimaan. Lingkungan sosial akan lebih menerima jikalau standar kewarganegaraan bisa dipenuhi, terlepas dari usaha individu imigran untuk menyesuaikan diri atau memenuhi standar yang berlaku. Cummins sekali lagi menarasikan representasi imigran illegal pada orang Meksiko di Amerika Serikat. Narasi Lydia dan Luca memperkuat argumen bahwa standar penerimaan di Amerika bukan hanya bergantung pada kecerdasan atau kemampuan berbahasa, tetapi juga pada aspek legalitas dan persepsi terhadap identitas rasial. Kelompok imigran kulit berwarna seperti keturunan Asia dan kulit hitam Amerika lebih mudah diterima karena dianggap cepat beradaptasi dan memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi (Epstein & Cohen, 2015. Hamad, 2. Sebaliknya, orang-orang keturunan Meksiko sering kali ditempatkan pada posisi marginal karena dipersepsikan sebagai kelompok dengan tingkat pendidikan dan kecerdasan yang lebih rendah (Cuelenaere et al. , 2. Kelompok Meksiko dalam beberapa studi juga dianggap tidak patuh dalam mengurus kewarganegaraan (Jimynez & Jimenez, 2. Dengan demikian, meskipun Cummins tampaknya ingin menunjukkan simpati terhadap penderitaan imigran Meksiko, narasi yang ia bangun tetap berada dalam kerangka nilai-nilai dominan Amerika yang bersifat eksklusif dan selektif. Penerimaan terhadap karakter seperti Luca tidak benar-benar menunjukkan penerimaan atas identitas sebagai keturunan Meksiko secara utuh, melainkan sebuah bentuk penerimaan bersyarat yang tetap menegaskan superioritas nilai-nilai budaya Amerika. Representasi semacam ini mencerminkan bagaimana batas antara empati dan ekspektasi ideologis dalam sastra dapat menjadi kabur. Di satu sisi ingin membela, namun di sisi lain tetap memperkuat stereotip dan struktur eksklusi yang ada. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 539Ai550 Perlawanan diskursif terhadap mimpi Amerika dalam novel American Dirt karya Jeanine Cummins American Dream sebagai Ilusi bagi Imigran Meksiko Kehidupan imigran selalu terkait dalam pemenuhan harapan dan mimpi. Narasi dalam tokoh Lydia dalam novel American Dirt juga menyoroti akan kehidupan yang lebih baik dan hal ini sebagai bagian dari pengharapan mimpi Amerika. Tokoh Lydia dan Luca dinarasikan oleh penulis. Cummins, sebagai imigran yang berjuang keras meraih kehidupan dan kemakmuran. Lydia bekerja dan memiliki toko buku untuk mendukung anaknya Luca menjadi anak yang cerdas. Kehidupan ini tersebut merupakan gambaran ideal yang wajib dipenuhi oleh imigran. Kisah Lydia dan Luca menjadi sosok imigran ideal dengan segala cita-citanya. Kisah Lydia dibangun atas keyakinan bahwa siapa pun dapat meraih kehidupan yang lebih baik melalui kerja keras dan keberanian sebagai sebuah narasi khas American Dream. Penggambaran imigran yang dibangun Cummins berhasil dalam mempresentasikan imigran ideal dalam konteks sosial. Penerimaan identitas disadari Lydia akan tetap menjadi konflik bagi dirinya dengan status sebagai imigran dari Meksiko. Meskipun berharap dapat membangun hidup baru di negeri yang lebih aman. Lydia justru dihadapkan pada kenyataan bahwa statusnya sebagai imigran tanpa dokumen membuatnya tetap berada dalam ketidakpastian, rasa takut, dan penolakan sosial. Dalam pelariannya. Lydia sadar bahwa kehidupan barunya tidak akan pernah benar-benar aman, sebagaimana ia ungkapkan. AuShe will never feel safe again. Not really. Not truly. Even if she makes it to the other side. Even if she gets asylum. Even if they let her stayAy (Cummins, 2. Kesadaran Lydia juga membangun gambaran bahwa dalam berproses untuk membangun mimpi dan harapan di Amerika Serikat, tidak mudah bagi imigran Meksiko. Lydia bukan sebagai imigran nakal yang tidak mematuhi status hukum yang diwajibkan. Narasi Lydia memersonifikasikan American Dream sebagai bentuk angan-angan yang rapuh yaitu campuran antara harapan, fantasi, dan keputusasaan. Cummins menggambarkan Lydia sebagai sosok perempuan kuat yang berjuang sendiri, namun kenyataannya ia tidak pernah benarbenar berdaya dalam sistem sosial dan hukum Amerika. Identitasnya sebagai pengungsi Meksiko menjadikan impiannya sulit untuk dicapai, bahkan membuatnya kehilangan rasa diri. AuShe has no idea who she is now, or who she will be when she gets where sheAos going. But she knows she will never be the person she was beforeAy (Cummins, 2019, p. Hal ini memperlihatkan dampak psikologis dari mimpi yang gagal terwujud dan identitas yang terpecah. Kegagalan meraih American Dream tidak hanya berdampak pada individu seperti Lydia, tetapi juga mencerminkan luka kolektif yang dialami komunitas Meksiko di Amerika Serikat. Proses belonging pada imigran dalam kaitan dengan penerimaan identitas pada komunitas tertentu tidak sepenuhnya mudah. Lydia memahami hal tersebut. Harapan besar untuk kehidupan yang lebih baik sering kali berubah menjadi beban mental karena realitas yang dihadapi jauh dari ekspektasi. Tekanan dari komunitas yang ada untuk menyesuaikan diri tetap harus dipenuhi. Gambaran akan narasi negatif atau stigma akan imigran sebagai pendatang tidak sah akan selalu ada. Komunitas yang sudah ada tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Imigran dan komunitas sosial yang sudah ada tetap harus bekerja sama dalam membangun komunitas yang baru. Narasi Cummins dalam novel tidak sepenuhnya memberikan gambaran utuh akan penerimaan sosial pada identitas baru seorang Bagi banyak imigran Meksiko, impian Amerika bukan hanya gagal diraih, tetapi juga menciptakan perasaan gagal secara personal dan sosial. Dalam konteks ini, mimpi bukan lagi motivasi, melainkan menjadi sumber luka batin yang mendalam. Hal ini menjadi sebuah ekspektasi yang merusak ketika tidak pernah benar-benar bisa diwujudkan. Maka, mimpi Amerika bukan hanya ilusi ekonomi atau sosial, tetapi juga ilusi psikologis yang menggerogoti kesejahteraan mental masyarakat Meksiko di Amerika. Cummins dalam menyuarakan harapan imigran Meksiko tidak menarasikan sepenuhnya bahwa itu proses yang harus dihadapi imigran. Di akhir cerita, anak Lydia bahkan ditolak menjadi juara oleh pihak sekolah karena tidak memiliki dokumen resmi. Cerita ini menjurus pada gambaran akan penolakan komunitas mayoritas yang memandang minoritas akan status ilegal. Cummins menarasikan Lydia yang menyadari bahwa meskipun ia telah berjuang sejauh ini, ia tetap dianggap tidak layak. AuThereAos no Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 539Ai550 E. Ngestirosa Endang Woro Kasih. Kristiawan Indriyanto. Surtinawati, & Meri Nabila way to win this game. You survive or you donAot. But there is no winningAy (Cummins, 2019, p. Mimpi kebebasan yang ia kejar berubah menjadi permainan tanpa kemenangan. Lydia dalam narasi tersebut seperti telah menyerah akan kondisi dirinya sebagai imigran. Meski Lydia dan Luca mencoba menyesuaikan diri dan menerima identitas Amerika, realitas yang mereka hadapi tidak sesuai harapan. Hal ini bisa dilihat dari keberadaan orang keturunan Meksiko yang ada di Amerika. Kelompok ini berharap bisa memperoleh hak dan privilese serta keluar dari lingkaran diskriminasi, namun tetap terjebak dalam sistem yang menolak keberadaan mereka (Blackmore, 2015. Kasih et al. , 2019. Mays et al. , 2. Mimpi Amerika, yang dalam pandangan banyak orang menjadi simbol kemerdekaan dan kemajuan, justru menjadi mimpi kosong bagi imigran. Di satu sisi, kelompok imigran Amerika tidak sepenuhnya menyadari akan kewajiban-kewajiban yang semestinya dilengkapi sebagai imigran. Kedekatan lokasi antara Meksiko dan Amerika menjadikan imigran dari Meksiko melalaikan status hukum kewarganegaraan (Feliciano & Rumbaut, 2018. Portes & Rumbaut, 2014. Rumbaut & Massey. Sehingga image negatif tentang imigran Meksiko selalu muncul seperti yang dialami oleh Lydia dan Luca. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada komunitas Meksiko, tetapi juga terlihat pada kelompok imigran lain seperti Chinese-Amerika (Yovela et al. , 2. Black-American (Dahir, 2025. Sargent, 2. dan kelompok imigran lainnya (Hamad, 2024. Kang, 2. Meskipun banyak imigran berusaha untuk berintegrasi dan memberikan kontribusi positif di lingkungan baru, penerimaan terhadap kelompok minoritas sering kali bersifat terbatas dan belum sepenuhnya setara. Perbedaan latar belakang budaya, bahasa, dan status sosial menjadi tantangan tersendiri yang kerap mempersulit proses adaptasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa American Dream tidak selalu dapat diakses secara merata oleh semua orang, khususnya bagi mereka yang berasal dari komunitas yang terpinggirkan (Lammert, 2. Konsep belonging menandaskan bahwa negosiasi akan identitas imigran akan tetap tidak mudah dicapai (Dusi et al. , 2015. Ullah et al. , 2. Proses negosiasi antara AoinsiderAo dan AooutsiderAo harus berjalan sebagai mestinya. Upaya keras dari para imigran untuk menyesuaikan diri dan menyelaraskan nilai serta tujuan hidup mereka dengan masyarakat yang dituju, tetap membutuhkan dukungan berupa akses terhadap sumber daya, peluang pendidikan, serta lingkungan sosial yang inklusif. Tanpa hal tersebut, mimpi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik akan tetap menjadi harapan yang sulit terwujud, terutama dalam sistem yang masih menghadirkan berbagai tantangan struktural. Penutup Studi tentang wacana diskursif terhadap mimpi Amerika di novel American Dirt berpusat pada pengalaman imigran Lydia dan Luca. Narasi imigran dibangun penulis. Cummins pada penerimaan identitas ideal untuk menjadi warga negara Amerika Serikat. Disisi lain, standar identitas tersebut merupakan konflik yang diciptakan oleh tokoh imigran ketika menempati ruang yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Lydia dan Luca berusaha memenuhi ruang ideal tersebut tanpa memenuhi aspek utama yang identitas resmi kewarganegaraan. Narasi dalam pemenuhan mimpi Amerika dalam tokoh Lydia dan Luca melalui proses kehidupan di Amerika Serikat tidak berjalan semestinya. Gambaran ideal yang sudah disampaikan oleh Cummins akan sosok imigran ideal yang cerdas dan ahli berbahasa Inggris juga digugurkan oleh penulis sendiri. Narasi imigran ilegal tetap mendominasi narasi imigran Meksiko. Lydia dan Luca hanyalah bagian dari imigran Meksiko dalam pemenuhan menjadi warga negara Amerika sesuai dengan teori belonging pada imigran. Keterikatan sosial dan penerimaan identitas pada suatu komunitas tidak sepenuhnya dapat dicapai. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa. Sastra, dan Pengajarannya Vol. 8 No. 539Ai550 Perlawanan diskursif terhadap mimpi Amerika dalam novel American Dirt karya Jeanine Cummins Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih diberikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Teknokrat Indonesia yang telah membantu memberikan pendanaan pada penelitian ini. Daftar Pustaka