Proceedings of PsychoNutrition Student Summit Volume 01. No. Desember 2024 ISSN: 3090-0956 https://proceedings. id/index. php/PINUSS Implikasi Kematangan Emosi terhadap Kualitas Hubungan Pasangan pada Pernikahan Dini: Review Literatur Titin Herlin Indah Pratiwi. Endang Wahyuni. Irul Hidayati Fakultas Psikologi dan Kesehatan. UIN Sunan Ampel Surabaya Jln. Dr. Ir. Soekarno No. Gunung Anyar. Surabaya E-mail: 11040121154@student. Abstrak Pernikahan dini memiliki implikasi yang serius pada kesehatan masyarakat. Secara global, lebih dari 650 juta wanita hidup atau satu dari lima gadis menikah sebelum 18 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh kematangan emosi dalam mempengaruhi hubungan pernikahan dini. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya kematangan emosi dalam membangun hubungan pernikahan yang sehat dan harmonis. Tinjauan sistematis dilakukan pada database online Google scholar. Science Direct. Sinta. Springer dengan 2 kata kunci "emotional maturity" dan "early-age marriage" kemudian diseleksi dari 5 tahun terakhir 2019-2024. jurnal yang memenuhi kriteria inklusi. penelitian ini mengidentifikasi pentingnya pengaruh kematangan emosi pada hubungan pernikahan dini dengan berbagai lamanya usia pernikahan kesimpulannya dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kematangan emosi berperan sentral dalam keberhasilan pernikahan dini. Analisis terhadap berbagai studi menunjukkan bahwa pasangan muda dengan tingkat kematangan emosi yang tinggi cenderung memiliki hubungan yang lebih harmonis dan stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan mengelola emosi, menjalin hubungan, dan mengambil keputusan yang matang merupakan faktor kunci dalam membangun pernikahan yang sukses, bahkan di usia yang relatif muda. Temuan ini memberikan wawasan berharga bagi upaya mendukung remaja dalam menunda pernikahan dan mengembangkan kematangan emosi mereka. Kata Kunci: Kematangan Emosi. Pernikahan Dini PENDAHULUAN Fenomena pernikahan dini yang melibatkan remaja dibawah umur atau remaja yang menikah di usia muda ini terjadi tidak hanya di Indonesia. Namun juga merupakan masalah global yang dihadapi beberapa negara berkembang lainnya, dengan berbagai background atau alasan yang berbeda. pada setiap negara memiliki range usia yang berbeda terkait kategori usia anak berdasrkan peraturan hukum di kawasannya atau juga dapat ditentukan berdasarkan tradisi dan agama yang dianutnya, hal ini yang menjadikan Indonesia menjadi negara di ASEAN yang memiliki kasus perkawinan anak terbesar (Yosep Budianto, 2. Menurut data UNICEF pada tahun 2023 indonesia menempati peringkat ke-4 di dunia dengan estimasi jumlah anak perempuan yang dinikahkan mencapai 25,53 juta jiwa yang dinikahkan. Angka ini mencerminkan besarnya masalah pernikahan dini di indonesia (Unicef, 2. Semakin banyak orang yang menikah di usia muda. terdapat beberapa faktor terjadinya menikah muda, seperti faktor ekonomi atau kenakalan remaja, sosial dan Untuk meringankan beban finansial, banyak keluarga di daerah pedesaan menikahkan anak perempuan mereka lebih awal daripada yang mereka inginkan. Adat istiadat sosial dan keyakinan agama juga mendorong orang untuk menikah dini, sementara pengaruh orang tua dan peran gender tradisional mendorong praktik ini. Teman sebaya dan media juga terkadang memengaruhi keputusan untuk menikah muda (Said et al. , 2. Faktor lain terjadinya pernikahan dini yakni salah satunya untuk mencegah anak perempuan kehilangan keperawanannya sebelum menikah adalah Pratiwi. Wahyuni. Hidayat. Implikasi Kematangan Emosi TerhadapA. menikah muda, karena pergaulan remaja saat ini sudah melampaui batas. Akibatnya, beberapa orang tua menasihati anak-anak mereka untuk menikah segera setelah mereka Karena pernikahan adalah cara untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ditambah lagi media sosial dan internet. Banyaknya informasi tentang seks tersebar luas yang membuat remaja saat ini lebih permisif terhadap seks (Khoirot & SaAodiyin, 2022. Nurhikmah et al. , 2021. Taena et al. , 2. Masa remaja merupakan masa transisi antara dari anak-anak menjadi dewasa, hal ini ditandai dengan pertumbuhan biologis dan perkembangan psikologis. Pertumbuhan biologis mencakup perkembangan seks primer dan sekunder, sementara perkembangan psikologis ditandai dengan emosi, sikap, dan keinginan yang seringkali tidak stabil (Marwoko, 2. Pada fase ini remaja memiliki kecenderungan mental yang kurang matang dalam pengambilan keputusan, pergaulan, mengontrol emosinya. Hal ini yang membuat remaja tidak disarankan untuk menikah dini. Pernikahan dini ini terjadi tidak hanya di desa-desa terpencil namun juga terjadi di kawasan perkotaan. Pernikahan yang dilakukan pada pasangan wanita sebelum mencapai usia 18 tahun dianggap sebagai pernikahan dini karena pasangnan tersebut tidak siap secara fisik, fisiologis dan psikologis untuk menikah dan memiliki anak (Gebeyehu et al. , 2. Dalam sebuah pernikahan pastinya terdapat suatu masalah antara keduanya, sama halnya dengan pernikahan dini menimbulkan banyak persoalan salah satunya dari perspektif hukum undang-undang perkawinan mengenai batasan usia perkawinan, dalam UU perkawinan mengacu pada pasal 7 ayat 1 tahun 1974 yang kemudian di revisi menjadi UU perkawinan no 16 tahun 2019 (Mangande et al. , 2. Tidak hanya itu. Pernikahan dini seringkali diikuti oleh berbagai masalah, termasuk konflik rumah tangga yang dapat membahayakan hubungan pernikahan seperti kurangnya komunikasi, pengelolaan emosi, pengambilan keputusan. Beberapa kebijakan yang telah dilakukan pemerintah sebagai suatu bentuk respon pemerintah, salah satunya dengan peningkatan usia minimum menikah bagi perempuan, menjadikan isu perkawinan anak sebagai prioritas dalam RPJMN, serta meluncurkan kampanye nasional (Saharani & Putrikita, 2. Selain itu, berbagai lembaga mitra pemerintah juga mengembangkan program intervensi, seperti kampanye nasional untuk menghentikan perkawinan anak, program Kota Layak Anak. Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), dan pendidikan mengenai kesehatan reproduksi dan seksual. Meskipun demikian, upaya kebijakan dan program tersebut masih belum cukup untuk sepenuhnya mencegah dan menangani perkawinan anak beserta dampak negatifnya (UNICEF, 2. Pernikahan dini merupakan isu yang sering dibahas dalam konteks perkembangan psikologis dan sosial, terutama terkait dengan kesiapan emosional pasangan muda. Kematangan emosi sangat penting dalam menghadapi berbagai dinamika pernikahan, seperti konflik, tanggung jawab, dan tekanan hidup berumah tangga (Adam, 2. Pada pasangan yang menikah pada usia dini, sering kali kematangan emosi belum sepenuhnya terbentuk. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan mereka dalam mengelola stres, berkomunikasi secara efektif, dan menghadapi masalah dengan bijaksana (Putri & Sofia, 2. Kematangan emosi mencakup kemampuan untuk mengendalikan perasaan, menunda kepuasan, serta memahami perspektif pasangan. Pada usia muda, individu cenderung masih berfokus pada pencarian jati diri dan sering kali belum siap menghadapi komitmen jangka panjang seperti pernikahan (Lybertha & Desiningrum, 2. Mereka mungkin belum mengembangkan keterampilan hidup yang diperlukan untuk mengelola perbedaan pendapat dan emosi negatif, yang penting dalam membangun hubungan yang sehat dan harmonis. Kurangnya kematangan ini dapat berujung pada peningkatan risiko konflik, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan perceraian (Yopani Selia Almahisa & Anggi Agustian, 2. Selain itu, pernikahan dini sering kali terjadi karena faktor sosial, budaya, atau ekonomi, yang justru menambah tekanan pada pasangan muda. Ketidaksiapan emosional ini diperparah oleh kurangnya Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 dukungan sosial atau pendidikan yang memadai dalam hal keterampilan hidup dan kesehatan mental. Pasangan muda yang belum siap secara emosional cenderung menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan peran baru, baik sebagai suami atau istri, maupun sebagai orang tua (Nurhikmah et al. , 2. Studi menunjukkan bahwa pasangan yang menikah pada usia dini lebih rentan terhadap masalah komunikasi, kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan pasangan, dan tidak mampu mengatasi perbedaan dengan cara yang sehat. Kematangan emosi sangat berpengaruh pada kemampuan pasangan dalam mengelola konflik tanpa merusak hubungan (Hayatnnufus et al. , 2. Pasangan yang belum matang emosinya cenderung bereaksi impulsif, memperburuk situasi saat menghadapi konflik, dan lebih sulit untuk memaafkan atau mencari solusi yang konstruktif. Selain mempengaruhi hubungan internal, kematangan emosi juga berdampak pada interaksi dengan lingkungan eksternal, seperti keluarga besar dan masyarakat (Bengesai et al. , 2. Pasangan yang tidak matang emosinya mungkin lebih sulit menghadapi tekanan dari pihak keluarga atau masyarakat terkait dengan ekspektasi sosial dalam pernikahan. Kegagalan dalam menghadapi tekanan eksternal ini juga berpotensi memicu ketegangan dalam hubungan pernikahan (Yati & Citra, 2. Pasangan yang menikah dini penting untuk memberikan pendidikan dan dukungan, agar mereka dapat mengembangkan kematangan emosi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan pernikahan. Upaya ini bisa melalui konseling pranikah, program keterampilan hidup, dan dukungan komunitas, yang bertujuan untuk membekali pasangan muda dengan kemampuan mengelola konflik, berkomunikasi dengan baik, dan menyesuaikan diri dalam peran baru mereka. Dengan demikian, pengembangan kematangan emosi menjadi elemen kunci dalam meningkatkan keberhasilan pernikahan dini dan mencegah risiko permasalahan rumah tangga di kemudian hari. Dengan fenomena yang telah dijelaskan tersebut penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh kematangan emosi terhadap dinamika dan kualitas hubungan dalam pernikahan dini, yang sering terjadi pada individu yang belum sepenuhnya matang secara emosional. Kematangan emosi yang rendah dapat meningkatkan risiko konflik dan perceraian. Penelitian ini penting untuk mengembangkan kebijakan dan program edukasi yang bertujuan mengurangi masalah dalam pernikahan dini serta meningkatkan kesejahteraan pasangan muda. METODE PENELITIAN Metode dalam penelitian ini yakni studi literatur riview untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, dan mengevaluasi studi-studi yang telah dipublikasikan sebelumnya terkait dengan topik penelitian studi literatur bisa didapat dari berbagai sumber baik jurnal, buku, dokumentasi, internet dan daftar pustaka. Data-data temuan dalam penelitian ini merupakan sumber dari data sekunder, berupa jurnal atau artikel internasional. Penelititian ini melakukan penelusuran dengan Google scholar. Science Direct. Sinta. Springer. dari tahun 2019 Ae 2024 dengan kata kunci pernikahan dini, komunikasi pernikahan dini, kematangan emosi pernikahan dini. Peneliti setidaknya mendapatkan 6 jurnal penelitian nasional dan internasional. Pendekatan literature riview ini memberikan landasan yang kuat untuk membangun kerangka teori, menyajikan konteks penelitian, serta merumuskan pertanyaan penelitian yang relevan dengan studi ini (Agus dkk. , 2. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil temuan jurnal yang telah di seleksi oleh peneliti setidaknya mendapatkan 6 jurnal temuan terpilih yang disajikan datanya pada tabel 1 berikut: Pratiwi. Wahyuni. Hidayat. Implikasi Kematangan Emosi TerhadapA. Hasil analisis regresi dapat dilihat pada tabel 1 berikut. Tabel 1. Hasil temuan jurnal yang terpilih Judul/Author Metode Penelitian ini Metode penelitian ini dengan cara observasi dan Emotional maturity of wawancara early age marriage's dengan (Farahdiba menggunaka Thahur. n alat tape recorder dan Terdapat berusia 18-20 Aceh, dengan pernikahan 03 tahun Kematangan dengan penyesuaian pelaku perkawinan usia dini (Suyant. Penelitian ini n pendekatan Partisipan Teknik sampel yang Hasil emosional dalam tantangan yang signifikan karena mereka, mereka juga menyadari perlunya bekerja dalam keluarga Hasil bahwa hubungan yang signifikan emosional dan pernikahan, yang emosional bagi pasangan yang Saran saran praktis bagi istri muda untuk emosional mereka. Saran Kematangan emosi adalah kunci pasangan muda. Dengan dalam menghadapi Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 penelitian ini usia dini untuk The Relation Emotional Maturity. Family Interaction and Marital Satisfaction of Early Age Married Couples (Yasmin Nindyasari,Tin Herawat. Metode yang penelitian ini studi crosectional, dan Sampel terdiri dari 30 istri selama dua Hasil penelitian usia rata-rata istri adalah 17 tahun dan suami 19 Kematangan sedang, dengan pernikahan juga dalam kategori Usia suami-istri dan jumlah anggota lama pernikahan Emotional Maturity as a Predictor of Marriage Readiness in Early Adult Women from Batak Ethnic Groups (Winchary Grace Meilani Purba Metode yang penelitian ini Hasil bahwa korelasi emosional dan lebih kuat dan Saran penelitian ini yakni Pasangan komunikasi untuk Konseling tentang keuangan sangat penting, sementara Fokus Penelitian diperlukan untuk dampak interaksi Saran penelitian ini yakni emosional melalui pendidikan, sistem Pratiwi. Wahyuni. Hidayat. Implikasi Kematangan Emosi TerhadapA. Ratriana Yuliastuti sebanyak 87 Endang Kusumiat. rentang usai Emotional Maturity and Mental Health Among New Couples Referred to Pre-Marriage Health Center in Karaj. Iran (Zohreh Ghazivakili. Razieh Lotfi. Roohangiz Norouzinia, and Kourosh Kabi. Penelitian ini studi crosectional. Sample dalam penelitian ini pernikahan . = 0,193. p = 0,. , emosional yang Faktor-faktor seperti stabilitas emosional dan Penelitian intervensi untuk kalangan wanita dewasa awal. Hasil bahwa terdapat korelasi antara hubungan positif yang signifikan emosional dan mental di antara dengan koefisien korelasi r = 0,67, hubungan yang kuat (P < 0,. Strategi ini dapat transisi yang lebih penellitian ini yakni Pasangan emosional melalui Kesehatan dengan dukungan stabilitas pekerjaan Memahami faktor Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 pranikah juga dapat membangun dasar yang kuat untuk Kematangan pernikahan usia muda KabupatenTulungagun (Puput Dwi Mayangsari. Adhyatman Prabowo. Udi Rosida Hijriant. Penelitian ini n pendekatan kriteria usia emosional yang dikaitkan dengan perkawinan yang lebih baik di antara pasangan Sebaliknya, emosional yang perkawinan yang lebih buruk. Ini emosional dalam perkawinan yang sehat, terutama pernikahan muda Saran penelitian ini yakni Bagi menam-bah kriteria dari subjek agar mendapatkan data yanglengkap. Selain itu, peneliti i subjek yang bisa mewakili seluruh wilayahIndonesia Data penelitian yang ada pada tabel diatas menggunakan kematangan emosi sebagai variabel yang diuji. Teknik pengukuran dan instrument yang digunakan sangat beragam, namun semuanya memiliki fungsi dan tujuan yang serupa,yakni untuk mengukur tingkat kematangan emosi pada remaja yang menikah dini. Sama halnya dengan landasan teori yang digunakan juga beragam. Hal itu dikarenakan terdapat penyesuaian terhadap subjek penelitian dengan latar penelitian yang berbeda-beda. Subjek yang digunakan dalam penelitian tersebut merupakan seorang remaja dengan usia dibawah 25 tahun Pratiwi. Wahyuni. Hidayat. Implikasi Kematangan Emosi TerhadapA. PEMBAHASAN Di indonesia fenomena pernikahan dini sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang lazim dilakukan oleh masyarakat pada zaman dulu. Stigma menurut orang terdahulu seorang gadis lebih baik menikah lebih muda dari pada menikah pada saat usia matang (Rahayu et al. , 2. Di beberapa bagian dunia pernikahan dini dianggap sebagai norma sosial yang sudah turun menurun dari nenek moyangnya. Keluarga yang masih menganggap stigma perempuan harus menikah muda karena pernikahan dianggap sebagai pelindung agar anak terhindar dari seks before merried dan kehamilan (Johnson et al. , 2. berbeda hal dengan penelitian yang dlakukan oleh (Purba & Kusumiati, 2. penelitian ini menunjukkan bahwa Pada masyarakat Batak, perempuan sering menunda pernikahan karena pendidikan, karier, atau alasan finansial. Rata-rata usia menikah di atas 23 tahun, dengan sebagian besar sudah berpendidikan sarjana. Status sosial atau pendidikan tinggi juga meningkatkan persyaratan mahar . dari pihak pria. Penelitian (Thahura, 2. mengungkapkan bahwa kematangan emosi berperan cukup signifikan dalam pernikahan dini, manusia yang berada pada fase usia muda belum matang secara fisik dan psikis, jika kedua faktor belum cukup matang maka hal itu membuat timbulnya konflik tertentu. Ketidakmampuan mengendalikan emosi, belum mampu memahami permasalahan secara objektif sebagai salah satu tanda kematangan emosi yang kurang baik. Pernikahan bukan hanya tentang menyatukan dua individu agar menjadi satu namun juga menyatukan dua keluarga. Setiap pasangan menginginkan menginginkan pernikahan yang harmonis dan bahagia, pernikahan merupakan awal dari sebuah proses dalam perjalanan rumah tangga, mulai dari proses adaptasi satu sama lain, tingkat pendidikan, mulai adanya perbedaan atau konflik antar keluarga, proses saling memahami satu sama lain dan seterusnya (Mayangsari et al. , 2. Faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya pernikahan dini yakni kematangan emosi dengan penyesuaian pernikahan, hal ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki kematangan emosi yang baik maka cenderung akan memiliki sikap penyesuain pernikahan yang baik juga (Suyanti, 2. Dalam pernikahan agar mencapai kepuasan pernikahan antara suami istri berperan penting didalamnya, kematangan emosi mulai terbentuk pada saat fase remaja. Jika remaja belum mencapai kematangan emosi, hal ini dapat berdampak pada munculnya perilaku menyimpang dalam kehidupan pernikahan. Pasangan suami istri yang dapat ampu mengelola emosinya akan membangun kepuasan dalam pernikahan, yang mempengaruhi interaksi dan hubungan antar anggota keluarga secara positif. Teknik kecerdasan emosional intelligence membantu menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga dan memperkuat ikatan antar anggota keluarga . Teknik ini membantu menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga dan memperkuat ikatan antar anggota keluarga. Sebaliknya, pendatang baru yang sering menyesuaikan diri satu lainsama mungkin menghadapi kesulitan di setiap tahap pertumbuhan kelompok, yang dapat menyebabkan konflik yang lebih sengit danyang lebih meningkatkandan meningkatkan risiko cedera. risiko cedera. Hubungan pernikahan yang berhasil terletak pada faktor-faktor dasar, perlakuan adil, jujur dan komunikasi terbuka, serta interaksi yang sehat dan positif. Menciptakan rasa saling pengertian dan keharmonisan antara mertua juga penting dalam menjaga pernikahan yang harmonis dan langgeng. saling memahami dan keharmonisan antar mertua juga penting dalam menjaga keharmonisan dan kelanggengan rumah tangga Prosiding PsychoNutrition Vol. 01 No. 1 Desember 2024 (Nindyasari & Herawati, 2. Keterampilan hidup memengaruhi kematangan emosi dan kesehatan mental, membantu pasangan menjalin hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan masyarakat, serta menerima keterbatasan diri dengan bijak. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan hidup penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat (Ghazivakili et al. , 2. Berdasarkan temuan dari berbagai penelitian, kematangan emosi menjadi faktor kunci dalam menentukan penyesuaian diri dan kepuasan dalam pernikahan dini. Kematangan emosi mencakup kemampuan untuk memahami dan mengelola emosi pribadi, serta berempati terhadap perasaan pasangan. Pasangan yang menikah diusia muda seringkali dihadapkan pada tekanan dan tanggung jawab yang datang lebih cepat dibandingkan mereka yang menikah diusia dewasa. Dalam hal ini, kematangan emosi menjadi sangat penting untuk menjaga komunikasi yang efektif dan mengelola konflik secara sehat. Individu yang matang seacra emosional cenderung lebih mampun mengatasi masalah sehari-hari dengan tenang, menjaga stabilitas emosional dalm hubungan dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional kedua belah pihak. pasangan yang menikah muda sering kali menghadapi tantangan besar terkait perubahan tanggung jawab yang cepat, seperti mengelola rumah tangga, keuangan, dan bahkan membesarkan anak. Kematangan emosi membantu pasangan untuk mengatasi tekanan ini dengan lebih baik. Individu yang mampu mengendalikan emosinya cenderung lebih rasional dalam menghadapi konflik, tidak bereaksi secara impulsif, dan lebih terbuka untuk mendengarkan serta memahami perspektif pasangan. Dengan demikian, mereka dapat memelihara hubungan yang lebih harmonis dan saling Sebaliknya, pasangan yang kurang matang secara emosional lebih rentan terhadap konflik yang tidak terselesaikan, yang dapat memperburuk hubungan dan mengurangi kepuasan dalam pernikahan. Kesimpulan dalam penelitian ini juga menunjukkan pentingnya program pendidikan emosional bagi pasangan yang menikah di usia muda. Program-program ini dapat berfokus pada pengembangan keterampilan mengelola emosi, memperkuat komunikasi interpersonal, dan memahami dinamika hubungan pernikahan. Pengembangan emosional yang baik akan membantu pasangan untuk lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin muncul, seperti tekanan finansial, perbedaan pandangan, atau peran baru sebagai orang tua. Dengan keterampilan emosional yang memadai, pasangan dapat membangun fondasi yang lebih kuat untuk pernikahan yang sehat, harmonis, dan berkelanjutan, sehingga mampu menciptakan kualitas hubungan yang lebih memuaskan di masa mendatang. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan temuan dari berbagai penelitian, dapat disimpulkan bahwa kematangan emosi merupakan faktor kunci dalam penyesuaian diri dan kepuasan dalam pernikahan dini. Kematangan emosi mencakup kemampuan untuk mengelola emosi pribadi, memahami perasaan pasangan, serta memelihara komunikasi yang efektif dalam situasi yang penuh tekanan. Individu yang memiliki kematangan emosi yang lebih tinggi cenderung mampu mengatasi konflik dengan lebih baik, menjaga stabilitas emosi dalam hubungan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pertumbuhan emosional kedua belah pihak. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pasangan yang menikah pada usia muda sering kali menghadapi tantangan yang lebih besar terkait dengan perubahan emosional dan tanggung jawab yang datang lebih cepat. Oleh karena itu, kemampuan untuk menavigasi berbagai emosi, seperti frustrasi, ketidakpastian, atau stres, menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas hubungan. Kematangan emosi berperan sebagai fondasi dalam mengembangkan rasa saling pengertian dan empati yang mendalam antara Pratiwi. Wahyuni. Hidayat. Implikasi Kematangan Emosi TerhadapA. pasangan, yang pada akhirnya berkontribusi pada keberhasilan dan kepuasan dalam pernikahan dini. Hasil penelitian ini mendukung pentingnya program-program pendidikan emosional bagi individu yang menikah pada usia muda, dengan fokus pada peningkatan keterampilan pengelolaan emosi, komunikasi interpersonal, dan pemahaman terhadap dinamika hubungan pernikahan. Pengembangan emosional ini dianggap esensial untuk membantu individu mengatasi tantangan yang mungkin muncul, serta membangun fondasi pernikahan yang lebih sehat dan berkelanjutan. UCAPAN TERIMA KASIH Dengan penuh rasa syukur, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan artikel ini. Terima kasih kepada para pembimbing, rekan sejawat, serta semua pihak yang telah memberikan masukan, arahan, dan dukungan selama proses penelitian dan penulisan artikel ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada institusi yang telah memberikan dukungan, baik dalam bentuk fasilitas penelitian. Tanpa dukungan dan kontribusi berbagai pihak, artikel ini tidak akan dapat terselesaikan dengan baik. DAFTAR PUSTAKA