Vol 6 No 1 . P ISSN 2615-160X || E ISSN 2987-5501 DOI: 10. 54180/joeces. Peran Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Berbasis Kurikulum Merdeka di Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi Alzena Larassati Minalia1. Dodi Harianto2. Anisah3 *laraszena@gmail. com1, dodiharianto75@gmail. com2, nisaanis1108@gmail. *Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin. Jambi. Indonesia ABSTRAK Pada penelitian ini yang menjadi pusat perhatian adalah konsep Kurikulum Merdeka yang memberikan tuntutan baru kepala sekolah untuk tercipta lingkungan belajar yang sesuai dengan prinsip kurikulum merdeka yang lebih bermakna dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode Kualitatif Deskriptif. Adapun Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. hasil penelitian yang peneliti peroleh serta pengkajian terhadap teori-teori yang ada, peneliti memperoleh kesimpulan bahwasanya Peran Kepala Sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kurikulum merdeka, bentuk peran yang dilaksanakan yaitu, peran mendidik, perencanaan, peran mengelola administrasi, peran manager, peran leader, peran menciptakan pembaharuan kurikulum dan peran pemberian motivasi kepada pendidik dan peserta didik mengenai kurikulum Kata Kunci: Peran Kepala Sekolah, pembelajaran dan Kurikulum Merdeka ABSTRACT In this study, the focus is on the concept of the Independent Curriculum, which places new demands on school principals to create a learning environment that aligns with the principles of the independent curriculum, making it more meaningful and relevant to the needs of students. In this study, the researcher used a qualitative descriptive Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. Based on the research results obtained and a review of existing theories, the researcher concluded that the role of the principal in improving the quality of learning based on the independent curriculum includes the following roles: educating, planning, managing administration, managing, leading, creating curriculum renewal, and providing motivation to educators and students regarding the independent curriculum. Keywords: The role of the principal, learning, and the independent curriculum. 1 Ae JOECES PENDAHULUAN Perubahan kurikulum di Indonesia telah terjadi beberapa kali sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai pedoman pembelajaran, tetapi juga sebagai arah dalam menentukan proses dan hasil belajar peserta didik agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Oleh karena itu, setiap perubahan kurikulum dirancang untuk menyempurnakan sistem pendidikan agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya Dalam pelaksanaannya, perubahan kurikulum memerlukan peran aktif dari berbagai pihak, terutama kepala sekolah dan tenaga pendidik. Kepala sekolah berperan dalam mengarahkan serta mengelola implementasi kurikulum di satuan pendidikan, sedangkan guru bertanggung jawab dalam menerapkan kurikulum tersebut dalam proses pembelajaran di kelas. Dengan demikian, keberhasilan perubahan kurikulum sangat bergantung pada kesiapan dan kemampuan kedua komponen tersebut dalam memahami serta mengimplementasikan kebijakan yang telah Perubahan dan penyempurnaan kurikulum di Indonesia sudah terjadi beberapa kali. Pertama pada tahun 1947, kedua pada tahun 1964, ketiga pada tahun 1968, keempat pada tahun 1973, kelima pada tahun 1975, keenam pada tahun 1984, ketujuh pada tahun 1994, kedelapan pada tahun 1997 atau revisi kurikulum 1994, kesembilan pada tahun 2004 atau disebut kurikulum berbasis kompetensi, kesepuluh pada tahun 2006 atau disebut kurikulum tingkat satuan Pendidikan, kesebelas pada tahun 2013 atau disebut kurikulum 2013 . , dan pada tahun 2018 kurikulum 2013 dilakukan revisi menjadi kurikulum 2013 revisi (Ulinniam et al. Pengembangan kurikulum merdeka menjadi salah satu langkah lanjutan dalam upaya pembaruan sistem pendidikan di Indonesia. Kurikulum ini hadir sebagai bentuk inovasi yang menekankan pada fleksibilitas dan otonomi satuan pendidikan dalam merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Dengan pendekatan yang lebih berpusat pada peserta didik, kurikulum merdeka diharapkan mampu menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, serta mendorong pengembangan potensi siswa secara optimal. Pengembangan kurikulum merdeka menjadi salah satu inovasi dalam sistem pendidikan di Indonesia yang bertujuan memberikan fleksibilitas dan otonomi sekolah dalam merancang kurikulum sekolah sesuai kebutuhan peserta didik. Namun dalam implementasinya, masa transisi dari kurikulum 2013 menjadi kurikulum merdeka menjadikan problematika baru terhadap warga sekolah baik itu pendidik, peserta didik, tim pengembang kurikulum, kepala sekolah maupun stakeholders lainnya (Neliwati et al. Kepala sekolah merupakan pimpinan di tingkat satuan pendidikan yang memiliki peran strategis dalam mengelola dan mengembangkan kualitas pendidikan. Kepala sekolah tidak hanya bertindak sebagai pengelola administrasi, tetapi juga sebagai pemimpin yang bertanggung jawab dalam mewujudkan proses pembelajaran yang berkualitas. Dalam hal ini, kepala sekolah dituntut untuk mampu mengarahkan, membina, serta menggerakkan seluruh komponen sekolah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal. Tanggung jawab kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran tidak hanya terbatas pada pengelolaan administrasi, tetapi juga mencakup 2 Ae JOECES kemampuan dalam membangun visi dan misi sekolah, serta menciptakan budaya sekolah yang Lingkungan belajar yang inklusif, inovatif, dan responsif terhadap perubahan pendidikan sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan implementasi kurikulum, khususnya dalam menghadapi tantangan Kurikulum Merdeka. Kepala sekolah juga berperan dalam memfasilitasi berbagai kegiatan pembelajaran, menjaga kesinambungan kerja sama antar pendidik, serta mengelola sekolah untuk menciptakan budaya belajar yang mendukung pengembangan potensi siswa dan profesionalisme guru. Dalam hal ini, kepala sekolah dituntut mampu membangun semangat kerja guru serta mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aktif, kreatif, dan produktif. Di sisi lain, sebagai seorang pemimpin, kepala sekolah juga menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan perannya, terutama dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Tantangan tersebut meliputi masih terbatasnya pemahaman yang mendalam mengenai konsep Kurikulum Merdeka, keterbatasan dalam pengelolaan sumber daya, serta adanya resistensi dari sebagian pendidik dan peserta didik yang belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan sistem pembelajaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sangat penting dalam mengatasi berbagai hambatan tersebut agar proses pembelajaran dapat berjalan secara optimal. Menurut konteks mengenai kepala sekolah sebagai pentingnya kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif. Seorang kepala sekolah yang mampu "bermusyawarah" dan bersikap "lemah lembut" akan lebih mudah menciptakan budaya sekolah yang kondusif bagi guru dan siswa. Sebagaimana yang dijelaskan dalam tafsiran surah al-imran ayat 159 dibawah ini: an a eo aI Iea s aII NA AA aII aN IIA AEA AOA AIA AIA AacOA a AIA AaEA AIA AEA ACA AIA AEA AOA AEA a AA AIA AEA AaOA AEA AOA AIA AIA a AE Aa IA AIA a AI I aIA a A aaEa I a IA a AcEE EaIIA AIA a a a a a AO I aA aaEI O a aONI a IaEaI oea a I Aa OacEE EaO NA AOA ca AcEEa aaOA AcEE acI NA a a I a a a IA aA E aIIa aOEE IA AIA Aa I a I aI a I a IA Artinya:AuMaka berkat rahmat Allah engkau (Muhamma. berlaku lemah lembut terhadap Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Pada ayat alquran ini menjelaskan bahwa kepala sekolah tidak hanya menjalankan administrasi, tetapi mendalami ilmu kepemimpinan dan proses kualitas pembelajaran dengan menekankan peran kepemimpinan kepala sekolah yang harus memahami filosofi kurikulum yang meliputi konsep profil pelajar pancasila, pembelajaran berdiferensiasi, dan asesmen formatif secara musyawarah. Maka diperlukan peran kepala sekolah yang sangat krusial dalam memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan tidak hanya sesuai dengan standar yang ditetapkan, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab kepala sekolah atau pemimpin tidak hanya terbatas pada pelaksanaan tugas administratif atau pengajaran semata, 3 Ae JOECES melainkan mencakup kemampuan sikap tanggung jawab untuk melakukan perencanaan tugas dengan baik, memberikan dukungan, menciptakan suasana belajar yang kondusif, serta memberikan motivasi, dan melakukan pengawasan secara berkelanjutan. Keenam aspek ini saling berkaitan dan menjadi komponen penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dalam aspek Oleh karena itu, penting untuk meneliti dan menganalisis sejauh mana tanggung jawab tersebut dilaksanakan secara efektif dalam praktek pendidikan sehari-hari. Berdasarkan observasi di Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi, ditemukan bahwa peran kepala sekolah kurang maksimal dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kurikulum merdeka. Pada sekolah tersebut sudah melaksanakan kurikulum merdeka sesuai Standard Operational Procedure . namun, proses pembelajaran di Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi masih tidak optimal, karena berada pada tahap transisi dari Kurikulum 2013 menuju Kurikulum Merdeka. Dalam Kurikulum 2013, pola pembelajaran dirancang dengan pendekatan yang lebih terstruktur, berurutan, serta mengikuti tema dan perangkat administrasi yang baku, sedangkan pola kurikulum merdeka memberikan fleksibilitas kepada guru dan sekolah untuk merancang pembelajaran lebih relevan dan mendalam dengan berpusat pada kompetensi esensial anak, penguatan karakter dan minat bakat anak melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P. Oleh sebab itu, pendidik di sekolah yang selama bertahuntahun terbiasa menggunakan format RPP. STPPA, serta tema sangat membutuhkan waktu untuk Adaptasi ini tidak hanya menyangkut perubahan cara menilai, tetapi juga mencakup kemampuan merancang kegiatan belajar sambil bermain yang lebih fleksibel, kontekstual, dan berpusat pada anak. Sebagaimana menjadi tuntutan utama dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, sehingga peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang bagaimana cara kerja peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kurikulum merdeka, karena pada kurikulum baru yang sekarang sangat dibutuhkan peran kepala sekolah untuk membina guru dan siswa agar menciptakan kualitas pembelajaran berbasis kurikulum merdeka berhasil sesuai kriteria yang ditentukan. METODE PENELITIAN Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang dipilih peneliti untuk memahami fenomena secara mendalam dan menyeluruh. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali informasi secara lebih detail melalui interaksi langsung dengan subjek penelitian serta memahami makna di balik setiap peristiwa yang terjadi di lapangan. Dengan demikian, penelitian kualitatif tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses yang berlangsung selama kegiatan penelitian. Berbeda dengan pendekatan kuantitatif yang lebih menekankan pada data numerik dan pengukuran statistik, pendekatan kualitatif lebih mengutamakan kualitas data yang diperoleh melalui pengalaman, perspektif, serta pemaknaan subjek penelitian. Data yang dikumpulkan biasanya berupa deskripsi, hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang kemudian dianalisis secara mendalam untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai fenomena yang diteliti. 4 Ae JOECES Secara filosofis, penelitian ini berpijak pada paradigma postpositivisme yang memandang bahwa realitas sosial bersifat kompleks, dinamis, dan memiliki berbagai dimensi yang tidak dapat dipahami secara sederhana. Paradigma ini menekankan bahwa kebenaran bersifat relatif, sehingga peneliti perlu memahami fenomena berdasarkan konteks yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu, pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk menggali makna secara mendalam melalui interaksi langsung dengan subjek penelitian. Selain itu, penelitian kualitatif juga sering disebut sebagai pendekatan interpretatif, karena data yang diperoleh tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga ditafsirkan oleh peneliti untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Proses penelitian bersifat fleksibel dan tidak sepenuhnya terstruktur, sehingga memungkinkan peneliti untuk menyesuaikan langkah-langkah penelitian sesuai dengan kondisi yang ditemukan di lapangan (Sugiyono 2019:. Berdasarkan konteks diatas, peneliti bertindak sebagai instrumen kunci untuk menangkap realitas tersebut secara objektif namun tetap peka terhadap konteks lapangan. Tujuannya bukan untuk membentuk kesimpulan umum, melainkan untuk memberikan deskripsi naratif yang kuat mengenai inti masalah yang sedang diteliti. Penelitian ini dapat dikategorikan sebagai penelitian lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan secara intensif terinci dan mendalami melalui observasi, wawancara dan Dokumentasi tentang kegiatan pelaksanaan penelitian peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kurikulum merdeka yang terlebih dahulu menganalisis proses pelaksanaanya di lapangan, dalam hal ini peneliti turun langsung ke lokasi Subjek dalam penelitian ini terdiri dari kepala sekolah, tenaga pendidik dan peserta didik yang merupakan sumber data untuk memperoleh informasi tentang bagaimana Peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kurikulum merdeka di Taman Kanak Kanak Negeri Kota Jambi kecamatan danau sipin kelurahan sungai putri Provinsi Jambi. KAJIAN PUSTAKA Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah dan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan. Menurut Mulyati . , kepala sekolah tidak hanya berfungsi sebagai administrator, tetapi juga sebagai penggerak seluruh komponen sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut memiliki kompetensi manajerial, kepemimpinan, dan supervisi pembelajaran. Selain itu, kepala sekolah juga berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, memotivasi guru, serta mendorong inovasi pembelajaran. Dengan kepemimpinan yang efektif, kualitas proses belajar mengajar dapat meningkat secara optimal sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Gafur . menyatakan bahwa kepemimpinan kepala sekolah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Kepala sekolah berperan sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator yang saling berkaitan dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya. Sebagai educator, kepala sekolah membina dan mengembangkan kompetensi guru, sedangkan sebagai manager dan administrator bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya sekolah secara efektif dan efisien. Peran sebagai supervisor dilakukan melalui kegiatan pengawasan dan evaluasi pembelajaran, sementara sebagai leader dan 5 Ae JOECES motivator kepala sekolah mampu memberikan arahan serta dorongan kepada guru agar bekerja secara profesional. Selain itu, sebagai innovator, kepala sekolah dituntut mampu menghadirkan pembaruan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, keberhasilan suatu lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh efektivitas kepemimpinan kepala sekolah dalam mengelola dan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada. Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, kepala sekolah juga harus mampu menjalin komunikasi yang efektif dengan tenaga pendidik. Purwanugraha dan Kertayasa . menjelaskan bahwa komunikasi yang baik antara kepala sekolah dan guru dapat meningkatkan koordinasi, kerja sama, serta keselarasan dalam pelaksanaan pembelajaran. Melalui komunikasi yang terbuka dan dua arah, kepala sekolah dapat menyampaikan kebijakan, memberikan arahan, serta menerima masukan dari guru terkait pelaksanaan pembelajaran di kelas. Selain itu, komunikasi yang efektif juga dapat memperkuat hubungan profesional dan menciptakan suasana kerja yang harmonis di lingkungan sekolah. Hal ini penting agar setiap kebijakan yang diterapkan tidak hanya dipahami, tetapi juga dilaksanakan secara optimal oleh seluruh warga sekolah demi tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan. Di sisi lain, kebijakan pendidikan di Indonesia saat ini mengarah pada penerapan Kurikulum Merdeka sebagai bentuk inovasi dalam sistem pendidikan. Nugraha . menjelaskan bahwa Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum yang memberikan fleksibilitas kepada satuan pendidikan dalam merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Fleksibilitas ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan strategi, metode, serta media pembelajaran agar lebih relevan dengan karakteristik dan potensi siswa. Kurikulum ini menekankan pada pengembangan kompetensi, karakter, serta kreativitas peserta didik melalui pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna. Peserta didik didorong untuk aktif, kritis, dan mandiri dalam proses belajar, sehingga tidak hanya berfokus pada pencapaian kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik. Selain itu, pembelajaran berbasis proyek . roject based learnin. menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk menguatkan profil pelajar Pancasila. Dalam implementasinya. Kurikulum Merdeka juga menuntut peran aktif guru sebagai fasilitator dan pembimbing dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan dari seluruh komponen sekolah, khususnya kepala sekolah dan guru, agar tujuan dari penerapan kurikulum ini dapat tercapai secara optimal dan berkelanjutan. Selain itu. Madhakomala et al. menyatakan bahwa Kurikulum Merdeka memiliki landasan filosofi yang menekankan kebebasan belajar, di mana peserta didik diberikan ruang yang luas untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakatnya secara mandiri. Konsep ini mendorong terwujudnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, sehingga mereka lebih aktif, kreatif, dan mampu berpikir kritis dalam menghadapi berbagai permasalahan. Dalam implementasinya, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing, mengarahkan, serta mendampingi peserta didik dalam proses pembelajaran, bukan lagi sebagai satu-satunya sumber informasi. Guru dituntut mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan Selain itu, penggunaan berbagai sumber belajar juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan pembelajaran. 6 Ae JOECES Oleh karena itu, diperlukan kesiapan dari seluruh komponen sekolah, terutama kepala sekolah dan guru, dalam memahami serta menerapkan kurikulum ini secara efektif. Dukungan berupa pelatihan, kolaborasi, serta penguatan kompetensi menjadi faktor penting agar implementasi Kurikulum Merdeka dapat berjalan optimal. Namun demikian, dalam praktiknya implementasi Kurikulum Merdeka tidak terlepas dari berbagai tantangan. Neliwati et al. mengemukakan bahwa kendala yang sering dihadapi meliputi kurangnya pemahaman guru terhadap konsep kurikulum, keterbatasan sarana dan prasarana, serta belum optimalnya pelatihan dan pendampingan. Selain itu, perubahan pola pembelajaran yang relatif cepat juga menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi dari pendidik, sehingga tidak semua guru dapat langsung menerapkannya secara maksimal di kelas. Kondisi ini menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sangat penting dalam mengatasi berbagai hambatan tersebut melalui pembinaan, supervisi, serta penguatan kapasitas guru. Kepala sekolah perlu mendorong adanya pelatihan berkelanjutan, memfasilitasi kolaborasi antar guru, serta menciptakan lingkungan sekolah yang mendukung inovasi pembelajaran. Dengan demikian, berbagai kendala yang muncul dalam implementasi Kurikulum Merdeka dapat diminimalisir, sehingga tujuan peningkatan kualitas pembelajaran dapat tercapai secara lebih optimal. Dengan demikian, berdasarkan kajian pustaka yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Peran tersebut mencakup aspek kepemimpinan, manajerial, supervisi, serta kemampuan dalam membangun kolaborasi dan inovasi di lingkungan Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada analisis peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka di Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi. HASIL DAN PEMBAHASAN Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi merupakan salah satu lembaga pendidikan formal pada jenjang pendidikan anak usia dini yang berlokasi di Jalan Letmud Sanil Bandung. Lorong Putra. Kelurahan Sungai Putri. Kecamatan Danau Sipin. Kota Jambi. Provinsi Jambi. Lembaga ini memiliki peran penting dalam menyelenggarakan pendidikan dasar bagi anak usia dini, khususnya dalam mengembangkan aspek kognitif, sosial-emosional, bahasa, serta kreativitas anak melalui proses pembelajaran yang terarah dan sistematis. Secara historis, pembangunan Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi telah direncanakan oleh Departemen Pendidikan sejak tahun 1984 sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan anak usia dini. Lembaga ini kemudian resmi didirikan pada awal tahun 1986, yang ditandai dengan peresmian pembukaan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tanggal 12 April 1986 di Provinsi Jambi. Keberadaan lembaga ini menjadi salah satu wujud komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan sejak usia dini serta mendukung perkembangan generasi yang berkualitas. Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan kebijakan pendidikan. Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi terus melakukan 7 Ae JOECES berbagai upaya penyesuaian, baik dari segi kurikulum, manajemen sekolah, maupun kualitas Hal ini terlihat dari keterlibatan aktif pihak sekolah dalam mengimplementasikan berbagai inovasi pendidikan, termasuk penerapan Kurikulum Merdeka sebagai upaya meningkatkan mutu pembelajaran yang lebih fleksibel, kreatif, dan berpusat pada peserta didik. Pada tahun 2015. Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi memperoleh akreditasi dengan predikat C dengan menggunakan Kurikulum 2013 sebagai dasar pelaksanaan Seiring dengan perkembangan waktu, lembaga ini terus menunjukkan peningkatan baik dari segi jumlah peserta didik maupun kualitas penyelenggaraan pendidikan. Saat ini, jumlah peserta didik mencapai 70 anak, yang terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok A dengan jumlah 12 anak usia 4Ae5 tahun dan kelompok B sebanyak 57 anak usia 5Ae6 tahun. Peningkatan ini menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas layanan pendidikan yang diberikan oleh sekolah. Dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran, sekolah ini juga telah mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sebagai bentuk penyesuaian terhadap kebijakan pendidikan terbaru. Penerapan kurikulum tersebut memberikan dampak positif terhadap kualitas proses pembelajaran, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan hasil akreditasi sekolah menjadi predikat B. Hal ini menunjukkan adanya komitmen sekolah dalam melakukan perbaikan dan inovasi secara berkelanjutan. Selain itu. Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi juga didukung oleh sumber daya manusia yang memadai, yaitu terdiri dari 8 tenaga pendidik, seorang kepala sekolah, serta 1 staf tata usaha. Seluruh komponen sekolah tersebut bekerja sama dalam membangun lingkungan pendidikan yang kondusif, dengan menekankan pada pembentukan karakter yang berakhlak mulia serta pengembangan kreativitas anak. Kepercayaan masyarakat, khususnya di wilayah Telanaipura dan Danau Sipin, menjadi salah satu indikator bahwa sekolah ini mampu memberikan layanan pendidikan anak usia dini yang berkualitas. Peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran adalah tanggung jawab dan fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin di satuan pendidikan untuk mengarahkan, mengelola, dan memfasilitasi berbagai aspek yang berkaitan dengan proses pembelajaran agar menjadi lebih efektif, efisien, dan bermutu tinggi, sehingga ketika kualitas pembelajaran disuatu lembaga meningkat maka kegiatan kinerja sekolah juga dapat dinyatakan meningkat. Sejalan pendapat peneliti yang sudah melakukan observasi terlihat bahwa untuk menjadi kepala sekolah profesional, harus mampu melaksanakan pekerjaan nya sebagai educator, manager, administrator, supervisor, leader, inovator, dan motivator baik dalam Penugasan Sebagai Kepala Sekolah dan manajerial, kepemimpinan dan Supervisi kepada guru dan tenaga kependidikan. Untuk itu dalam memperbaiki kualitas pembelajaran sangat berhubungan erat dengan kepemimpinan dan manajemen yang efektif oleh kepala sekolah agar terjamin guna keberhasilan utama pada suatu lembaga pendidikan dalam mempengaruhi dan membimbing seluruh warga sekolah untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis kurikulum 8 Ae JOECES Penerapan kurikulum terbaru, yaitu Kurikulum Merdeka, merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kemandirian baik bagi peserta didik maupun pendidik. Kurikulum ini dirancang untuk memberikan kebebasan kepada peserta didik dalam mengembangkan potensi, minat, dan bakatnya melalui proses pembelajaran yang lebih fleksibel dan berpusat pada kebutuhan individu. Dalam implementasinya, peserta didik didorong untuk lebih aktif, kreatif, dan kritis dalam memanfaatkan berbagai sumber belajar yang tersedia, baik dari lingkungan sekitar maupun media pembelajaran lainnya. Di sisi lain, pendidik juga dituntut untuk berperan sebagai fasilitator yang mampu menciptakan suasana belajar yang inovatif dan Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber informasi, melainkan sebagai pembimbing yang mengarahkan peserta didik dalam proses pencarian dan pengolahan Dengan demikian. Kurikulum Merdeka diharapkan mampu menghasilkan peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, serta kreativitas yang tinggi dalam menghadapi tantangan pembelajaran di era Kendala-kendala yang dialami kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka, berdasarkan hasil pengamatan peneliti, menunjukkan bahwa peran kepala sekolah masih belum sepenuhnya optimal dan belum sesuai dengan harapan dalam mendukung implementasi kurikulum tersebut. Hal ini terlihat dari berbagai hambatan yang muncul dalam proses pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Secara keseluruhan, berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, dapat diidentifikasi beberapa kendala utama yang dihadapi, yaitu keterbatasan waktu serta sarana dan prasarana yang belum memadai, sehingga menghambat pelaksanaan program pembelajaran secara maksimal. Selain itu, kurangnya pelatihan dan pendampingan yang memadai terkait Kurikulum Merdeka juga menjadi faktor penting yang menyebabkan pemahaman pendidik terhadap kurikulum tersebut masih belum merata. Di sisi lain, komunikasi dan koordinasi antara kepala sekolah dan pendidik belum terjalin secara optimal, sehingga berdampak pada kurangnya keselarasan dalam pelaksanaan Masih terdapat guru yang belum sepenuhnya memahami konsep dan penerapan Kurikulum Merdeka, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas proses pembelajaran di kelas. Ditambah lagi, perubahan pola pembelajaran yang terjadi dalam waktu relatif singkat menuntut adanya kemampuan adaptasi yang tinggi, sementara tidak semua pendidik memiliki kesiapan yang sama dalam menghadapi perubahan tersebut. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Berbasis Kurikulum Merdeka Di Taman Kanak Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi. Berdasarkan analisis terhadap upaya kepala sekolah merupakan kunci dari segala tindakan dan strategi yang dilakukan pemimpin sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan, termasuk pengembangan kompetensi guru mengenai kurikulum merdeka dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, pengelolaan sarana prasarana, dan monitorig serta evaluasi secara berkala disekolah secara keseluruhan dilapangan, peneliti mengidentifikasi sejumlah strategi upaya untuk pelaksanaan kurikulum guna mengoptimalkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. 9 Ae JOECES Kepala sekolah tidak hanya berperan dalam meningkatkan kualitas administrasi sebagai seorang pemimpin, tetapi juga memiliki kontribusi yang signifikan dalam pengembangan pola pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka yang lebih fleksibel dan adaptif. Dalam hal ini, kepala sekolah dituntut untuk mampu membangun kerja sama yang efektif dengan seluruh warga sekolah, khususnya para pendidik, guna menciptakan proses pembelajaran yang selaras dengan prinsipprinsip Kurikulum Merdeka. Selain itu, kepala sekolah juga berperan dalam melakukan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan pembelajaran, sehingga dapat mengidentifikasi berbagai kendala serta menentukan langkah perbaikan yang tepat. Melalui evaluasi yang berkelanjutan, kualitas pembelajaran diharapkan dapat terus meningkat sesuai dengan tuntutan perkembangan Lebih lanjut, kepala sekolah berupaya menciptakan suasana belajar yang kondusif, yaitu lingkungan yang bebas, menyenangkan, dan tetap memiliki nilai edukatif. Lingkungan belajar yang demikian diharapkan mampu mendorong partisipasi aktif peserta didik, meningkatkan kreativitas, serta membangun pengalaman belajar yang bermakna sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka. Peneliti menemukan bahwa upaya kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka sangat berperan penting dalam keberhasilan implementasi kurikulum tersebut. Kepala sekolah aktif melakukan berbagai langkah strategis, seperti memberikan pelatihan dan pendampingan kepada guru agar mereka lebih memahami dan mampu menerapkan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka secara efektif menyediakan sarana dan prasarana yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Melalui berbagai upaya tersebut, kepala sekolah memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Peran ini tidak hanya terlihat dari aspek manajerial, tetapi juga dari kemampuan kepala sekolah dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif, inovatif, dan menyenangkan. Dengan demikian, proses belajar mengajar dapat berlangsung secara optimal serta mampu mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Kontribusi kepala sekolah juga diwujudkan melalui penyediaan sarana dan prasarana yang aman dan mendukung kegiatan pembelajaran, pemberian penguatan serta motivasi kepada pendidik dan peserta didik, serta perannya sebagai fasilitator dalam pelaksanaan pembelajaran. Selain itu, kepala sekolah juga menjadi teladan dalam sikap dan perilaku, sehingga mampu membangun budaya sekolah yang positif dan kondusif. Melalui peran yang komprehensif tersebut, kepala sekolah diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran yang berkelanjutan sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. KESIMPULAN Peran kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka di Taman Kanak-Kanak Negeri Pembina 1 Kota Jambi, khususnya sebagai leader dan manager, belum sepenuhnya optimal sesuai dengan prinsip-prinsip kurikulum terbaru. Hal ini terlihat dari masih terbatasnya upaya dalam memberikan pelatihan, bimbingan, serta dukungan kepada pendidik dalam merancang dan mengimplementasikan program pembelajaran yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Selain itu, kepala sekolah juga belum secara maksimal memberikan 10 Ae JOECES arahan yang mendorong munculnya inovasi dalam pengelolaan sekolah, seperti pengembangan ide-ide baru, penciptaan suasana belajar yang kreatif, serta pemanfaatan teknologi dalam proses Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya kesiapan pendidik dalam mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sebagaimana yang diharapkan dalam Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, diperlukan peran kepala sekolah yang lebih aktif dan strategis dalam membina, mengarahkan, serta memfasilitasi guru agar mampu beradaptasi dengan perubahan kurikulum, sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat secara Kendala yang dihadapi kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka di TK Negeri Pembina 1 Kota Jambi menunjukkan adanya berbagai faktor yang saling berkaitan. Keterbatasan waktu antara kepala sekolah dan pendidik menjadi hambatan dalam melakukan pembinaan, supervisi, serta koordinasi secara intensif. Selain itu, sarana dan prasarana yang belum memadai turut memengaruhi optimalisasi pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka, terutama dalam mendukung kegiatan belajar yang inovatif dan berbasis pengalaman. Di sisi lain, kurangnya pelatihan dan pendampingan terkait Kurikulum Merdeka menyebabkan pemahaman pendidik masih belum merata. Perubahan pola pembelajaran yang terjadi dalam waktu relatif singkat juga menuntut adanya adaptasi yang cepat, sementara tidak semua pendidik memiliki kesiapan yang sama. Hal ini berdampak pada belum optimalnya penerapan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Selain itu, belum terbangunnya kolaborasi dan kerja sama yang kuat antara kepala sekolah dan para pendidik menjadi faktor penghambat lainnya. Padahal, kolaborasi yang efektif sangat diperlukan untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, serta strategi dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih terarah, seperti peningkatan pelatihan, penguatan koordinasi, serta penyediaan sarana pendukung, agar kualitas pembelajaran dapat meningkat secara optimal sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka. Upaya kepala sekolah dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka di TK Negeri Pembina 1 Kota Jambi dilakukan melalui berbagai langkah strategis. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyediakan pelatihan dan pengembangan kompetensi guru terkait Kurikulum Merdeka, sehingga pendidik memiliki pemahaman yang lebih baik dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Selain itu, kepala sekolah juga berupaya meningkatkan kerja sama antara guru dan pihak manajemen sekolah melalui koordinasi yang intensif serta komunikasi yang terbuka. Kepala sekolah juga melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi secara berkala guna memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Melalui kegiatan ini, kepala sekolah dapat mengidentifikasi kendala yang dihadapi guru serta memberikan solusi yang tepat. Di samping itu, penyediaan waktu, sarana, dan prasarana yang memadai juga menjadi perhatian penting dalam mendukung terciptanya lingkungan belajar yang kondusif. Lebih lanjut, kepala sekolah mendorong terciptanya suasana sekolah yang positif, inovatif, dan kreatif dengan memberikan ruang bagi guru untuk mengembangkan ide-ide pembelajaran yang baru. Dengan adanya upaya-upaya tersebut, diharapkan kualitas pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka 11 Ae JOECES dapat meningkat secara optimal dan mampu mendukung perkembangan peserta didik secara DAFTAR PUSTAKA Abadi. Husnu. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: CV. Pustaka Ilmu.