Infotekmesin Vol. No. Juli 2024 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 DOI: 10. 35970/infotekmesin. 2204, pp. Aplikasi Damai : Desain Persuasif Aplikasi Konsultasi Kesehatan Mental Berbasis Mobile Menggunakan User Centered Design Ria Indriyani1. Rujianto Eko Saputro2. Nia Millatul Izza3. Fery Afriansyah4. Hasna Salsa Dhia5. Samsul Aimah6. Irwansyah Munandar7. Radeta Tea Makdatuang8 1,2Program Studi Teknologi Infromasi. Universitas Amikom Purwokerto 3Program Studi Ilmu Komputer. Universitas Gadjah Mada 4Program Studi Teknik Informatika. Universitas STEKOM Semarang 5Program Studi Manajemen Infromatika. STMIK Mardira Indonesia 6Program Studi Teknik Informatika . Universitas Banten Jaya Banten Program Studi Manajemen. Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon 8Program Studi Administrasi Publik. STISIPOL Raja Haji Tanjung Pinang 1,2Jl. Letjend Pol. Soemarto No. Purwokerto. Kab. Banyumas. Jawa Tengah 53127. Indonesia 3Jl. Geografi. Sumur. Kec. Mlati. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 55281. Indonesia 4Jl. Majapahit No. Pedurungan Kidul. Kec. Pedurungan. Kota Semarang. Jawa Tengah 50192. Indonesia Jl. Soekarno Hatta No. Situsaeur. Kec. Bojongloa Kidul. Kota Bandung. Jawa Barat 40233. Indonesia Jl. Syekh Moh. Nawawi albantani No. Kota serang. Banten 42171. Indonesia 7Jl. Pemuda Raya No. Kota Cirebon 45132. Indonesia 8Jl. Raja Haji Fisabilillah No. Tanjungpinang. Kepulauan Riau 29124. Indonesia E-mail: riaindriramandhani3@gmail. com1, rujianto@amikompurwokerto. id2, nia. izza@mail. feryafriansyah55@gmail. com4, hasnadhia1@gmail. Samsulspeed75@gmail. com6, seventeenirwan@gmail. m@gmail. Abstrak Info Naskah: Naskah masuk: 11 Januari 2024 Direvisi: 8 Juli 2024 Diterima: 31 Juli 2024 Kesehatan mental adalah kesehatan yang berkaitan dengan kondisi emosi, kejiwaan, dan psikis seseorang. Anxiety disorders atau juga dikenal sebagai gangguan kecemasan, didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang mengalami kecemasan dalam jumlah singkat atau episode yang intens, dan kecemasan ini dapat terjadi tanpa alasan yang jelas. Damai adalah sebuah aplikasi berbasis mobile yang dirancang untuk membantu mengatasi masalah kesehatan mental, terutama anxiety disorder pada kalangan remaja. Penelitian ini berfokus pada perancangan antarmuka pengguna yang melibatkan pengguna secara langsung pada setiap tahap UCD, mulai dari kebutuhan pengguna, perancangan konsep, hingga implementasi prototype aplikasi. Keberhasilan pada penelitian ini adalah merancang aplikasi konsultasi kesehatan mental berbasis mobile yang sukses membantu remaja yang menderita kesehatan mental. Aplikasi ini berhasil menyediakan beberapa fitur seperti tes kesehatan mental, konseling online atau offline dan layanan apotek. Pada uji coba yang dilakukan terhadap 6 partisipan, keberhasilan uji coba dapat disimpulkan bahwa rata-rata direct success sebesar 100%, misclick rate sebesar 25%, dan average duration sebesar 38,1 detik. Abstract Keywords: mental health. user interface. user centered design. Mental health is health related to a person's emotional, mental and psychological Anxiety disorders are conditions in which individuals experience anxiety for short periods of time or intense episodes, where this anxiety can occur for no apparent Damai is a mobile-based application designed to help overcome mental health problems, especially anxiety disorders among teenagers. This research focuses on designing a user interface that involves users directly at every stage of UCD, starting from user needs, concept design, to implementation of application prototypes. The success of this research was designing a mobile-based mental health consultation application to help teenagers who suffer from mental health. This application successfully provides several features such as mental health tests, online or offline counseling and pharmacy services. In trials conducted on 6 participants, the success of the trial can be concluded that the average direct success was 100%, the misclick rate was 25%, and the average duration was 38. 1 seconds. *Penulis korespondensi: Ria Indriyani E-mail: riaindriramandhani3@gmail. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Pendahuluan Kesehatan mental memiliki tingkat kepentingan yang sama dengan kesehatan fisik pada setiap indovidu. Kesehatan mental adalah ketika seseorang individu tidak memiliki gejala gangguan mental. Dengan kesehatan mental yang baik, bagian lain dari kehidupan seseorang berfungsi secara optimal. Kesehatan fisik dan mental saling terikat . Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional Indonesia (I-NAMHS), satu dari tiga remaja, atau 34,9%, mengalami gangguan kesehatan jiwa dalam waktu dua belas bulan. Selain itu, satu dari dua puluh remaja, atau 5,5% remaja di Indonesia, memenuhi kriteria untuk mengalami gangguan kesehatan jiwa jenis tertentu . Artinya, satu dari tiga remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini cukup mengkhawatirkan, mengingat remaja merupakan generasi penerus bangsa yang akan berperan penting dalam pembangunan nasional. Anxiety disorder . angguan kecemasa. kondisi di mana seseorang mengalami kecemasan dalam jangka waktu singkat atau dalam episode yang intens, yang mungkin terjadi tanpa alasan yang jelas. Penderita gangguan kecemasan sering menghindari beberapa aktivitas seharihari yang dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman bagi mereka . Anxiety disorder mempunyai banyak penyebab, seperti asupan kafein yang berlebihan, penyalahgunaan zat, kondisi fisik yang menurun, dan lingkungan yang memicu Namun, alasan paling umum dari semua ini adalah karena generasi muda saat ini takut terhadap lingkungan sekitar . Terdapat sejumlah penelitian sebelumnya yang terkait dengan penelitian yang akan dilakukan, sehingga dapat digunakan sebagai referensi dan state of the art. Penelitian perancangan User Interface dan User Experience pada placeplus menggunakan pendekatan User Centered Design, membahas perancangan UI/UX pada aplikasi Placeplus dengan menggunakan metode User Centered Design (UCD) karena target pasar Placeplus spesifik pada rentang usia dan jenis pekerjaan. Selain itu metode ini melibatkan pengguna dalam proses desain dan evaluasi untuk memastikan bahwa hasil memenuhi harapan pengguna. Metode UCD berhasil digunakan dalam perancangan UI/UX Placeplus. Proses iteratif memastikan desain akhir sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna, yang UCD pengembangan platform digital ini . Penelitian kedua terkait perancangan UI aplikasi konsultasi kesehatan mental berbasis mobile menggunakan metode User Centered Design (UCD) membahas terkait penggunaan metode UCD pada perancangan aplikasi kesehatan mental berhasil memenuhi kebutuhan pengguna dan berdasarkan hasil pengujiannya dinilai layak . Penelitian berikutnya adalahj perancangan User Interface Dan User experience aplikasi Say. Co membahas tentang mempertimbangkan elemen UI dan UX dalam perancangan aplikasinya, dan menghasilkan prototype yang mudah digunakan dan membantu menangani masalah kesehatan mental. Pada penelitian ini penekanan ditempatkan pada penyediaan UX yang baik dengan berfokus pada kebutuhan dan perilaku pengguna dan UI berfokus pada estetika aplikasi. Dari penelitian-penelitian sebelumnya, bahwa perancangan aplikasi kesehatan mental menggunakan metode User Centered Design (UCD) dan dikembangkan melalui pertimbangan desain User Interface (UI) dan User Experience (UX) dapat menghasilkan sistem informasi yang dapat mempermudah pengguna yang menderita kesehatan mental. Metode UCD dapat memastikan bahwa desain aplikasi berpusat pada kebutuhan dan preferensi pengguna, sehingga menghasilkan produk yang lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Perkembangan teknologi dan akses internet membawa perubahan yang signifikan dalam bidang desain, khususnya desain antarmuka pengguna atau dikenal dengan UI/UX (User Interface/User Experienc. User Interface (UI) atau antarmuka pengguna dirancang sebagai perangkat sistem informasi yang memungkinkan pengguna yang mengoperasikan perangkat tersebut dapat berinteraksi tampilan antarmuka pengguna. User experience (UX) merupakan bentuk interaksi antara manusia dan komputer . uman-computer interactio. Ini mencakup pengalaman pengguna yang berkaitan dengan kemudahan, kenyamanan, efisiensi, dan kemanfaatan saat menggunakan aplikasi seperti website, aplikasi smartphone, dan aplikasi . Pendekatan User Centered Design (UCD) dipilih karena menempatkan pengguna sebagai pusat pada proses desain, dan memastikan bahwa aplikasi sesuai dengan kebutuhan, tujuan, dan konteks pengguna. Dengan melibatkan pengguna dalam proses desain dan evaluasi. UCD memungkinkan iterasi yang memastikan desain akhir memenuhi harapan pengguna melalui umpan balik Penelitian ini telah berkontribusi secara signifikan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental, terutama di kalangan remaja, demografi yang diketahui rentan terhadap gangguan kecemasan. Dengan menggunakan metodologi User Centered Design (UCD), penelitian ini secara efektif mengembangkan aplikasi konsultasi kesehatan mental yang memprioritaskan persyaratan dan kecenderungan pengguna. Inovasi ini diharapkan dapat memberikan layanan kesehatan yang lebih efisien bagi individu yang membutuhkan layanan kesehatan khususnya kesehatan mental. Penelitian ini juga bisa menjadi referensi untuk penelitian di masa yang akan datang untuk dikaji ulang oleh peneliti dan profesional di bidang kesehatan mental, terutama bagi mereka yang bekerja dibidang teknologi berbasis aplikasi untuk meningkatkan layanan kesehatan mental. Metode Penelitian ini merancangan user interface dan user experience dengan menggunakan metode user centered design agar mendapatkan tampilan antarmuka aplikasi sesuai dengan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Secara khusus, tahapan UCD di mana penelitian ini akan dilakukan ditunjukkan pada Gambar 1. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 . Specify user and organization requirements. Fase ini dilakukannya proses identifikasi kebutuhan . Produce design solution. Fase ini dilakukan perancangan desain dan pembuatan prototype. Prototype yang sudah dirancang akan diuji kepada calon pengguna dan diharapkan masalah yang dihadapi dapat terselesaikan. Evaluate design. Fase ini merupakan tahap evaluasi desain yang dirumuskan pada tahap sebelumnya, dilakukannya penyelarasan dengan keinginan pengguna dan dilakukannya pengujian untuk menilai kompatibilitas dengan desain awal. Gambar 1. Tahapan User Centered Design Perancangan antarmuka ini menggunakan metode User Centered Design (UCD). User Centered Design (UCD) adalah sebuah metode yang menempatkan pengguna sebagai pusat proses desain sistem. Metode ini mengatur tujuan atau sifat, konteks, dan lingkungan sistem berdasarkan pengalaman pengguna. Penerapan User Centered Design (UCD) dalam pengembangan aplikasi konsultasi kesehatan mental merupakan aspek penting dari kebaruan dalam penelitian Strategi ini menjamin bahwa aplikasi yang dihasilkan secara efektif selaras dengan kebutuhan dan harapan pengguna, akibatnya meningkatkan penerimaan dan Penggabungan fungsi seperti konseling online, layanan farmasi, dan layanan selfcare ke dalam aplikasi konsultasi kesehatan mental merupakan sebuah terobosan baru yang signifikan. Pembaruan pada fitur ini tidak hanya memfasilitasi akses yang mudah dijangkau oleh pengguna yang menderita masalah kesehatan mental tetapi juga meningkatkan pengalaman pengguna secara keseluruhan. Tahapan pada motede UCD dapat dilihat pada Gambar 2. Hasil dan Pembahasan Berikut adalah tahap perancangan User Interface dari aplikasi konsultasi kesehatan mental berbasis mobile. Damai. 1 Analisis Identifikasi Pengguna Aplikasi Damai dirancang sebagai media bagi penderita gangguan mental khususnya Anxiety Disorder untuk mendapatkan penanganan yang tepat dari ahli Dengan menggunakan User Centered Design (UCD) penelitian ini memfokuskan kebutuhan pada remaja dengan rentang usia 17-24 tahun, memiliki masalah terkait kesehatan mental, pernah dan sering melakukan konseling baik online maupun offline. Dengan rincian segmentasi yang lengkap, analisis ini dapat disusun dengan lebih tepat sasaran dan memaksimalkan dampak positif untuk kebutuhan pengguna. 2 Analisis Kebutuhan Pengguna Dalam analisis kebutuhan pengguna, penelitian ini melakukan wawancara dan kuesioner terkait pentingnya kesehatan mental. Dengan target responden yaitu remaja maupun pelajar yang berusia 17-24 tahun. Penyebaran kuesioner dilakukan dan mendapatkan respon dari 23 responden dan wawancara dilakukan dengan 7 responden. Hasil notulensi wawancara yang sudah dilakukan terhadap 7 responden akan dijabarkan pada Tabel 1. Tabel 2. Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6, dan Tabel 7 sebagai berikut : Gambar 2. Tahapan Metode User Centered Design (UCD) Proses User Centered Design terdiri dari empat tahapan penting yang harus dilewati. Diantaranya . Specify the context of use Specify the context of use merupakan fase untuk mengidentifikasi pengguna yang akan menggunakan aplikasi dan menjelaskan dan menggambarkan kondisi menggunakan aplikasi Untuk mendapatkan informasi ini, peneliti menggunakan teknik observasi dan wawancara singkat dengan calon pengguna. Nama Usia Pekerjaan Domisili Tipe kepribadian Kesimpulan Wawancara Tabel 1. Responden 1 Abyan 21 tahun Mahasiswa Tuban Abyan belum pernah menggunakan aplikasi kesehatan mental. Dia sangat peduli dengan kesehatan mentalnya, ia permasalahannya dengan teman. Dia cukup skeptis dengan adanya spikolog di media sosial yang memberikan konseling secara cuma-cuma namun tidak memiliki sumber yang jelas. Abyan merasa dengan Adaya aplikasi konseling online ini dapat membatu penderita Kesehatan mental dengan mudah dan terorganisir. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Nama Usia Pekerjaan Domisili Tipe kepribadian Kesimpulan Wawancara Nama Usia Pekerjaan Domisili Tipe kepribadian Kesimpulan Wawancara Nama Usia Pekerjaan Domisili Tipe kepribadian Kesimpulan Wawancara Nama Usia Pekerjaan Domisili Tipe kepribadian Kesimpulan Wawancara Tabel 2. Responden 2 Fatih 22 tahun Mahasiswa Jakarta Introvert Fatih belum pernah menggunakan aplikasi kesehatan mental namun dia pernah berkonsultasi dengan psikiater. Dia sangat peduli dengan kesehatan mentalnya, ia juga sering menceritakan permasalahannya dengan sang kekasih. Fatih berpendapat jika tidak semua semua orang tau dan berani dengan konsultasi kesehatan mental, jadi Fatih menyarankan untuk memberikan fitur-fitur yang dapat menarik minat pengguna. Tabel 3. Responden 3 Fiki 21 tahun Mahasiswa Yogyakarta Introvert Fiki pernah melakukan konseling dengan seorang psikolog secara offline. Dia mentalnya, ia juga seorang yang terbuka ketika terjadi masalah, ia sering bercerita denga orang yang ia percaya. Fatih berpendapat jika akan memudahkan pengguna ketika aplikasi terhubung langsung denga psikolog ataupun psikiater terdekat. Tabel 4. Responden 4 Anna 19 tahun Mahasiswa Yogyakarta Ambivert Anna merupakan seseorang yang sering melakukan konseling dengan psikiater di suatu platform. Hampir tiap bulan dia melakukan konseling. Dia sangat peduli dengan kesehatan mentalnya, namun ia juga seorang yang tertutup akan masalah Anna berpendapat jika akan lebih mudah bagi pengguna ketika terdapat fitur chat rahasia, fitur musik penenang dan beberapa afirmasi yang dapat dibaca oleh pengguna. Tabel 5. Responden 5 Febi 20 tahun Mahasiswa Tanjungpinang Ambivert Febi merupakan seseorang yang sering melakukan konseling dengan seorang psikolog, namun ia belum pernah menggunakan aplikasi konseling. sering menangis ketika sedang ada Ia juga berpendapat akan lebih baik jika bertemu langsung dengan profesional sehingga ia menyarankan adanya fitur konsultasi offline. Nama Usia Pekerjaan Domisili Tipe kepribadian Kesimpulan Wawancara Nama Usia Pekerjaan Domisili Tipe kepribadian Kesimpulan Wawancara Tabel 6. Responden 6 Gestiani 18 tahun Siswa Cimahi Introvert Gestiani merupakan seorang siswi yang sangat peduli akan kesehatan mental. Meskipun ia belum pernah menggunakan aplikasi konseling ia sangat peduli dengan kesehatan mentalnya. Ia sering melakukan konseling dengan beberapa lembaga konsultasi yang datang ke Baginya aplikasi konseling online merupakan sebuah alternatif yang gangguan mental untuk melakukan penangan terkait kesehatan mentalnya Tabel 7. Responden 7 Rima 21 tahun Mahasiswa Cirebon Introvert Rima merupakan seseorang yang sangat peduli akan kesehatan mentalnya. merasa mudah mendapatkan informasi terkait kesehatan mental dari media Rima juga menyarankan agar aplikasi ini dirancang dengan adanya fitur memaksimalkan sesi konseling dengan baik antar pasien dengan ahli profesional. Metode wawancara dilakukan secara online. Responden diberikan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan kesehatan mental, perasaan, pengalaman mereka ketika menghadapi permasalahan tersebut dan harapan maupun ekspektasi mereka tentang sebuah aplikasi yang dapat membantu menangani permasalahan tersebut. Pertanyaan pada saat survei dan wawancara terdapat sedikit perbedaan, tetapi memiliki tujuan yang sama. Selama tahap wawancara, penelitian ini menggunakan panduan wawancara yang telah disiapkan untuk memastikan bahwa semua topik yang relevan tercakup. Dari hasil wawancara, dipilih 3 responden terbaik yang nantinya akan dijadikan acuan untuk membuat user persona yang dapat menjadi gambaran dari target pengguna dari aplikasi yang akan dikembangkan. Berikut adalah hasil kebutuhan pengguna dari wawancara dan kuesioner pengguna: Menghubungkan pengguna secara langsung dengan Psikolog ataupun Psikiater dengan menggunakan konseling secara chat, telephone, maupun video call. Menyediakan fitur apotek untuk mempermudah pengguna mendapatkan resep dari Psikiater. Merancang fitur tirai khilaf sebagai media bercerita pengguna tanpa mengetahui identitas asli dari p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 . Merancang fitur selfcare sebagai media untuk meningkatkan awareness pengguna mengenai pentingnya kesehatan mental. menampilkan warna, teks, dan elemen lainnya. Pada tahap ini memungkinkan peneliti melihat struktur dan tata letak desain yang sebenarnya. Wireframe yang didesain pada penelitian ini terdapat pada Gambar 4. 3 Tahap Pembuatan Desain Pada tahap ini, mulai dilakukannya perancangan yang menggambarkan alur dari aplikasi menggunakan Information Architecture. Information Architecture (AI) mencakup kebutuhan bisnis perusahaan, informasi, komponen proses dan penyatuan yang mengendalikan bisnis serta pedoman untuk memilih, membangun dan memelihara informasi tersebut . Setelah pembuatan Information Architecture (IA), selanjutnya adalah pembuatan desain aplikasi High Fiedelity dengan menggunakan platform Figma. Untuk memverifikasi bahwa aplikasi konsultasi kesehatan mental berbasis android sejalan dengan kriteria perencanaan yang berasal dari hasil survei dan wawancara yang dilakukan. Arsitektur Informasi (IA) telah dirancang untuk menyusun informasi aplikasi selama interaksi Rincian IA pada penelitian ini dijabarkan pada Gambar 3. Gambar 4. Gambar Wireframe Gambar 3. Gambar Information Architecture (IA) Setelah merancang Information Achitecture (IA), tahap selanjutnya adalah perancangan gambar kasar atau sering disebut wireframe. Kerangka desain aplikasi dikenal sebagai wireframe, yang memungkinkan untuk menata item pada halaman aplikasi sebelum proses desain sesungguhnya dimulai. Wireframe ini dibuat pada platform Figma, dan menjadi acuan untuk susunan high fidelity dari aplikasi konsultasi kesehatan mental berbasis mobile. Desain Wireframe Pada tahap ini penulis mulai mendesain gambaran kasar dari aplikasi melalui wireframe. Sebuah wireframe berfungsi sebagai kerangka desain dasar dari suatu aplikasi, memungkinkan organisasi berbagai elemen pada halaman sebelum memulai fase desain yang sebenarnya. Pembuatan wireframe melibatkan pemanfaatan alat desain seperti Figma. Secara visual, wireframe terdiri dari garis dan kotak yang menentukan susunan elemen dalam Wireframe ini dikategorikan menjadi dua bentuk, wireframe low Ae fidelity dan high Ae fidelity Wireframe low Ae fidelity berfungsi sebagai desain dasar yang menghilangkan warna, teks, dan berbagai elemen lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan kerangka kerja dan organisasi elemen individu sebelum proses desain yang sebenarnya. Di sisi lain, wireframe highAefidelity merupakan sebuah pengembangan dari wireframe lowAefidelity. Dalam wireframe high Ae fidelity. Desain High-Fidelity Berdasarkan wireframe yang telah dibuat, maka tersusunlah rancangan akhir . igh fidelit. dari aplikasi konsultasi Kesehatan mental berbasis mobile pada Gambar Gambar 6. Gambar 7. Gambar 8. Gambar 9 dan Gambar Gambar 5. Tampilan Onboarding Screen. Login dan Daftar Gambar 6. Tampilan Beranda dan fitur utama aplikasi Damai p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 pengguna melihat sistem yang baru dikembangkan. Pengujian dapat membantu memahami perspektif pengguna dengan lebih baik. Tantangan yang didapatkan saat melakukan pengujian menggunakan platform Maze yaitu tidak terselesaikannya semua task yang ada karna dilakukan secara online. Pada Batasan pengujian yang dilakukan oleh pengguna yaitu pada fitur Tes Kesehatan Mental. Fitur Konseling Online dan Fitur Konseling Offline. Berikut adalah hasil pengujian yang dilakukan dengan platform Maze yang dijabarkan pada Tabel 8. Gambar 7. Tampilan Fitur Tes Kesehatan Mental Gambar 8. Tampilan Fitur Konseling Online. Tabel 8. Hasil Pengujian dengan Platform Maze Fitur Tes Pengujian Konseling Konseling Kesehatan Online Offline Mental Direct Success 16,7% 66,7% Misclick Rate 82,6% 39,7% Avg Duration 44,4s 38,1s 59,5s Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan kepada 6 partisipan, pada skenario 1 dapat disimpulkan bahwa rata-rata partisipan masih belum bisa memahami fitur tes Kesehatan Mental sehingga mendapatkan direct success sebesar 16,7%, mission unfinished sebesar 83,3% dan durasi waktu yang diperlukan cukup lama. Berdasarkan hasil pengujian pada skenario 2 dapat disimpulkan bahwa partisipan mendapatkan hasil direct success sebesar 100% dengan mission unfinished 0% dan durasi waktu yang dihabiskan pada fitur ini tidak terlalu memakan banyak Hasil pengujian pada skenario 3 dapat disimpulkan bahwa partisipan mendapatkan hasil direct success 66,7%, mission unfinished 0% dan rata-rata durasi waktu yang dihabiskan cukup memakan banyak waktu. Gambar 9. Tampilan Fitur Konseling Online. Gambar 10. Tampilan Fitur Apotek Gambar 14. Hasil Redesign Fitur Tes Kesehatan Mental 4 Tahap Pengujian Setelah high fidelity dibuat. Langkah selanjutnya adalah membuat prototype. Prototype yang telah dibuat akan diuji sebelum ditunjukkan kepada pengguna. Tahap pengujian ini sangat penting untuk mengetahui bagaimana Berdasarkan hasil pengujian terhadap Fitur Tes Kesehatan Mental dan mendapatkan hasil pengujian yang kurang memuaskan, maka dibuatkan redesign fitur Tes Kesehatan Mental yang terlihat pada gambar 10. Dengan p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 me-redesign button yang dilingkari warna merah, diharapkan fitur Tes Kesehatan Mental tidak lagi membuat bingung pengguna. Kesimpulan Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan dari data yang didapatkan baik dari wawancara maupun kuesioner. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa aplikasi yang dirancang dapat bermanfaat bagi penderita gangguan Kesehatan mental terutama penderita anxiety disorder. Aplikasi konseling kesehatan mental AuDamaiAy yang dirancang dalam penelitian ini tidak hanya memberikan manfaat yang signifikan bagi pengguna yang mengalami gangguan kecemasan seperti gangguan kecemasan, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap kesehatan mental masyarakat secara keseluruhan. Dengan fitur seperti konsultasi online, akses ke apotek, dan fitur selfcare, pengguna dapat dengan mudah mendapatkan bantuan dan dukungan yang mereka perlukan, sementara profesional kesehatan mental seperti psikolog dan psikiater dapat menjangkau lebih banyak pasien dan memberikan bantuan secara efisien. Selain itu, metode user centered design (UCD) yang digunakan dalam penelitian ini juga dapat memberikan panduan untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut di bidang aplikasi kesehatan Perancangan aplikasi ini tentu banyak memberikan kemudahan bagi pengguna terutama penderita anxiety disorder dalam mengelola kesehatan mental mereka. Dari tahap pengujian dapat disimpulkan bahwa pengguna masih merasa kebingungan dengan fitur Tes Kesehatan Mental, hal ini disebabkan desain antar muka masih kurang menonjol bagi pengguna sehingga perlu disempurnakan Sedangkan kesimpulan untuk fitur Konseling Online semua partisipan sudah memahami setiap task dengan baik. Ucapan Terimakasih