Vol. 6, No. 1, Juni 2025, pp 136-146 https://doi.org/10.36590/jagri.v6i1.1331 http://salnesia.id/index.php/jagri jagri@salnesia.id, e-ISSN: 2746-802X Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) ARTIKEL PENGABDIAN Efektivitas Edukasi Pemberian Tekstur MP-ASI Sesuai Usia Balita untuk Pencegahan Stunting Effectiveness of Education on Providing Complementary Feeding Textures Appropriate to Toddlers' Ages for Stunting Prevention Prima Endang Susilowati1*, Yana Listyawardhani1, Dika Betaditya2, Mufti Ghaffar1, Heni Sukmawati3 1 Program Studi Gizi, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Indonesia Program Studi Ilmu Gizi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Indonesia 3 Program Studi Manajemen Halal, Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, Indonesia 2 Abstract Failure to thrive in children is influenced by the quality of food consumed. Children aged six months and above require complementary feeding as a nutritional supplement, which should be prepared with texture suitable for their age to ensure digestibility. Local fish, containing low allergenic protein, is a recommended choice for complementary feeding. This activity aimed to enhance knowledge among mothers of toddlers, particularly those with children aged 6–12 months, about complementary feeding using local ingredients. The participants were mothers active in Naluri Posyandu and Kencana Posyandu in Panglayungan Village, Tasikmalaya City. The method involved stages of activity, including (1) monitoring child weight and (2) providing nutritional education on complementary feeding. The nutritional status monitoring showed that 20,00% of toddlers in Naluri Posyandu were stunted, with 9,00% severely stunted. While in Kencana Posyandu, 21,00% were stunted and 6,00% severely stunted. Through educational activities, mothers’ knowledge significantly improved, with pretest scores averaging 5.87 and posttest scores 8.02. The Wilcoxon test confirmed a significant difference in knowledge before and after intervention (p-value =0,000, p-value <0,05). This program had a positive impact on enhancing maternal knowledge. It is recommended that posyandu continue regular educational activities on complementary feeding and related topics, either through posyandu cadres or in collaboration with relevant institutions. Keywords: mothers of toddlers, knowledge, texture of feeding Article history: PUBLISHED BY: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia) Address: Jl. Dr. Ratulangi No. 75A, Baju Bodoa, Maros Baru, Kab. Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia Submitted 10 November 2024 Revised 24 Juni 2025 Accepted 28 Juni 2025 Email: info@salnesia.id, jagri@salnesia.id Phone: +62 85255155883 136 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 Abstrak Gagal tumbuh pada anak dipengaruhi oleh kualitas makanan yang dikonsumsi. Anak usia enam bulan ke atas memerlukan makanan pendamping sebagai suplemen gizi, yang harus disiapkan dengan tekstur yang sesuai dengan usianya untuk memastikan daya cernanya. Ikan lokal mengandung protein rendah alergen merupakan pilihan yang direkomendasikan untuk makanan pendamping. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita, khususnya yang memiliki anak usia 6–12 bulan, tentang makanan pendamping dengan bahan lokal. Peserta penelitian adalah ibu-ibu yang aktif di Posyandu Naluri dan Posyandu Kencana di Desa Panglayungan, Kota Tasikmalaya. Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan tahapan kegiatan yaitu (1) pemantauan berat badan anak dan (2) pemberian edukasi gizi pada makanan pendamping ASI. Hasil pemantauan status gizi menunjukkan bahwa 20,00% balita di Posyandu Naluri mengalami stunting, dengan 9,00% mengalami sangat stunting. Sementara di Posyandu Kencana, 21,00% mengalami stunting dan 6,00% mengalami sangat stunting. Melalui kegiatan edukasi, pengetahuan ibu meningkat secara signifikan dengan nilai rata-rata pre-test 5,87 dan nilai rata-rata post-test 8,02. Uji Wilcoxon menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi (p-value= 0,000, p-value <0,05). Program ini berdampak positif pada peningkatan pengetahuan ibu. Disarankan agar posyandu melanjutkan kegiatan edukasi rutin tentang makanan pendamping ASI dan topik terkait, melalui kader posyandu maupun bekerja sama dengan lembaga terkait. Kata Kunci: ibu balita, pengetahuan, tekstur makanan *Penulis Korespondensi: Prima Endang Susilowati, email: primaendangs@unsil.ac.id This is an open access article under the CC–BY license Highlight: • • Kegiatan edukasi yang dilakukan di Posyandu Naluri dan Kencana berhasil meningkatkan rata-rata skor pengetahuan ibu balita dari 5,87 (pre-test) menjadi 8,02 (post-test). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang signifikan (p = 0,002), membuktikan bahwa intervensi edukatif efektif dalam menambah pemahaman ibu tentang pemberian MP-ASI sesuai usia. Pemberian MP-ASI dengan tekstur yang tepat sesuai usia balita, serta pemanfaatan ikan air tawar lokal sebagai sumber protein rendah alergen, menjadi bagian penting dari strategi gizi berbasis potensi lokal. Ini menunjukkan pendekatan edukatif yang tidak hanya berbasis teori tetapi juga kontekstual dan aplikatif dalam upaya menurunkan prevalensi stunting. PENDAHULUAN Setiap anak harus memperoleh makan yang tercukupi nutrisi dan diberikan sesuai dengan tahap perkembangannya. Pemberian nutrisi yang tepat selama 24 bulan pertama kehidupan anak sangat menentukan kualitas hidupnya. Oleh karena itu perlu dipastikan anak terbebas dari masalah gizi yaitu gizi kurang dan gizi buruk. Stunting merupakan kondisi anak yang mengalami malnutrisi kronis dan infeksi berulang dari janin, bayi sampai baduta. Pada tahun 2021, prevalensi stunting di Indonesia 24,40%. Balita di Jawa Barat pada tahun 2021 yaitu 24,50% terdeteksi Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 stunting. Angka stunting di Kota Tasikmalaya lebih tinggi dibanding Jawa Barat yaitu 28,90% (Dinkes, 2021). Data dari UPTD Puskesmas Panglayungan Kota Tasikmalaya, menunjukkan angka prevalensi stunting tertinggi berada di Kelurahan Panglayungan yaitu 24,93%. Bayi berusia 6 bulan ke atas membutuhkan tambahan nutrisi selain ASI. Pengenalan dan pemberian makanan harus dimulai pada saat bayi telah berusia 6 bulan agar tidak mengalami malnutrisi. Diketahui kuantitas dan kualitas asupan gizi sangat mempengaruhi kejadian stunting. MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) yang diberikan tepat waktu dengan jumlah dan tekstur yang sesuai tahapan perkembangan balita berperan signifikan menurunkan risiko stunting pada balita (Ismarina et al., 2024) Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) diberikan dan diperkenalkan pada anak secara bertahap disesuaikan dengan kemampuan tubuh mencerna. Persyaratan pemberian MP-ASI adalah waktunya tepat (bayi telah berusia 6 bulan), adekuat (porsi sesuai kebutuhan gizi), aman dan higienis sehingga tidak menimbulkan infeksi, serta pemberiannya disesuaikan dengan sinyal lapar atau kenyang (IDAI, 2018). Permasalahan yang sering dijumpai adalah pemberian MP-ASI dengan jumlah kurang dan kualitas rendah. Jumlah MP-ASI berhubungan dengan frekuensi konsumsi tiap harinya. Kualitas MP-ASI ditentukan oleh variasi bahan makanan, semakin bervariasi bahan pangan maka kualitas MP-ASI semakin baik. Peningkatan jumlah asupan makanan tidak dapat mengatasi kasus malnutrisi bila tidak dibarengi kualitas makanan yang baik. Gangguan pertumbuhan pada bayi biasanya akan terjadi jika MP-ASI terlambat atau terlalu cepat diberikan, pemberian MP-ASI tidak tepat usia, kualitas dan kuantitas MP-ASI yang tidak sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG), dan cara pemberian yang tidak sehat (United Nations Children’s Fund, 2020). Praktik pemberian MP-ASI yang tidak tepat beresiko 3 kali mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang mendapat MP-ASI dengan baik. Anak yang diberikan MP-ASI terlalu dini atau tidak tepat berdasarkan usianya beresiko 17 kali mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang diberikan MP-ASI pada usia >6 bulan (Al-Rahmad et al., 2013; Prihutama et al., 2018). Praktik pemberian makan yang tidak higienis juga menyebabkan anak berisiko terkena infeksi dan diare, dan kondisi ini semakin diperburuk bila pola makannya buruk, sehingga berakibat terjadi gagal pertumbuhan (WHO, 2023). Indonesia kaya jenis pangan yaitu hewan dan tumbuhan dengan kandungan nilai gizi yang sangat baik untuk pertumbuhan anak. Balita di Indonesia diketahui masih rendah tingkat konsumsi pangan hewani. Protein hewani diketahui memiliki komposisi asam amino yang relatif lengkap sehingga bermanfaat untuk membangun sel tubuh terutama dalam proses tumbuh kembang anak (Oktaviani et al., 2018). Di wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya banyak tambak ikan air tawar (ikan mujahir, ikan lele, ikan nila, ikan mas). Ikan air tawar merupakan sumber protein yang bersifat kurang allergen sehingga baik diolah menjadi MP-ASI. Keuntungan penggunaan bahan pangan lokal untuk MP-ASI adalah dapat menekan biaya karena harga murah, mudah diperoleh, serta untuk edukasi anak untuk mengenal rasa dan jenis makanan. Mitra kegiatan ini adalah Posyandu Kencana dan Posyandu Naruli, merupakan dua posyandu dari 22 posyandu yang berada di Kelurahan Panglayungan. Berdasarkan informasi dari UPTD Puskesmas Panglayungan, angka kasus stunting Kelurahan Panglayungan adalah yang tertinggi (24,93%). Hasil analisis faktor resiko penyebab stunting di Kelurahan Panglayungan, menunjukkan ASI eksklusif, kunjungan balita di 138 Susilowati1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 fasilitas kesehatan, pemantauan pertumbuhan, pemberian vitamin A presentasenya cukup tinggi, namun kebersihan lingkungan buruk dan imunisasi dasar lengkap presentasenya rendah. Faktor kebersihan lingkungan dan pemberian imunisasi kemungkinan merupakan faktor penyebab tingginya kasus stunting, karena balita akan mudah terinfeksi. Selain itu faktor lain yang mungkin menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak adalah mutu, jenis dan jumlah MP-ASI tidak sesuai persyaratan. Target luaran kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan ibu dan kader posyandu untuk menerapkan pedoman pada Promosi dan Konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) sehingga bayi akan tercukupi asupan gizi. Prinsip PMBA adalah harus sesuai dengan prinsip tepat jumlah, tepat jenis (tekstur makanan), dan waktu pemberiannya. Selain itu mitra mampu memanfaatkan sumber bahan makanan berbasis pangan lokal protein tinggi hewani yang ada disekitarnya untuk dikonsumsi balita. METODE Metode kegiatan sebelum dilaksanakan kegiatan, adalah tim melakukan penentuan mitra dan menganalisis permasalahannya. Dimulai dengan mengumpulkan data kasus stunting di UPTD Puskesmas Panglayungan. Ditemukan Kelurahan Panglayungan kasus stuntingnya tertinggi di Puskesmas Panglayungan, maka selanjutnya dipilih 2 posyandu di kelurahan tersebut, yaitu Posyandu Naluri dan Posyandu Kencana. Kegiatan edukasi terkait pemberian MP-ASI bagi ibu balita dan kader posyandu dilaksanakan bulan Juli dan Agustus 2024. Tahapan kegiatan meliputi persiapan, pelaksanaan dan evaluasi (Gambar 1). Gambar 1. Tahapan kegiatan edukasi kepada ibu balita Kegiatan dimulai dengan tahap persiapan, yaitu pembuatan media edukasi leaflet dan buku saku (Gambar 2 dan 3) yang akan dibagikan kepada peserta. Selain itu juga disiapkan materi penyuluhan (slide presentasi) dan tes (pre-test dan post-test). Berikut media edukasi leaflet yang berisi contoh resep MP-ASI yang dibagikan kepada ibu balita dan kader posyandu mitra (Gambar 2). Leaflet ini berisi jenis MP-ASI yang sesuai tekstur dan nilai gizinya untuk bayi pada kelompok usia: 6-8 bulan, 9-11 bulan dan 12-23 bulan. 139 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 Gambar 2. Leaflet edukasi Media edukasi buku saku berisi pengertian MP-ASI, prinsip pemberian MP-ASI, tips pemberian MP-ASI, serta beberapa contoh resep MP-ASI (Gambar 3). Beberapa buku saku dititipkan kepada posyandu mitra dan dibagikan kepada kader posyandu. Gambar 3. Buku saku edukasi Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam dua bentuk yaitu (1) pemantauan status gizi balita (2) pemberian materi edukasi pemberian MP-ASI sesuai PMBA. Kegiatan pemantauan status gizi balita dilaksanakan bersamaan dengan jadwal posyandu. Pada saat kegiatan ini, juga dilakukan diskusi dengan ibu balita terkait pemberian MP-ASI. Kegiatan edukasi dilaksanakan melalui penyampaian materi menggunakan slide presentasi, selain itu juga dibagikan leaflet dan buku merupakan media penyampaian informasi tentang MP-ASI disertai beberapa resep modifikasi olahan pangan lokal yang biasa dikonsumsi oleh keluarga. Pengumpulan data tingkat pengetahuan ibu terkait pemberian MP-ASI dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan. Sebelum dan setelah dilakukan kegiatan penyuluhan, peserta diminta mengisi pre-test dan post-test. Pertanyaan kuesioner yang diberikan adalah mewakili materi yang disampaikan. Evaluasi kegiatan dilakukan berdasarkan hasil analisis data pretest dan posttest yang deskriptifkan dan dianalisis 140 Susilowati1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 secara statistik. Analisis statistik yang dilakukan yaitu Uji Wilcoxon. Uji ini digunakan untuk mengetahui perbedaan antara tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah diberikan intervensi, serta untuk melihat perubahan sebelum dan sesudah diberikan intervensi apakah ada peningkatan ataupun penurunan tingkat pendidikan peserta. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik balita di dua posyandu mitra kegiatan, menunjukkan lebih banyak balita berjenis kelamin laki-laki. Di Posyandu Naluri 55,00% balita berjenis kelamin lakilaki, sedangkan di Posyandu Kencana 58,00% laki-laki. Hasil pemantauan yang dilakukan, menunjukkan kasus stunting di dua posyandu mitra masih tinggi di atas target pemerintah (Gambar 4). Oleh karena itu ibu balita merupakan sasaran untuk dilakukan intervensi pencegahan stunting. Ibu berperan untuk menentukan dan menyiapkan makanan yang dikonsumsi oleh anggota keluarga, termasuk anak. Gambar 4. Kegiatan pemantauan status gizi balita Hasil pemantauan status gizi balita pada dua posyandu di Kelurahan Panglayungan, menunjukkan angka stunting masih jauh dari target pemerintah yaitu 14,00%. Data status gizi balita di Posyandu Naluri (Gambar 5) pada 55 balita, hasil pengukuran 39 balita kategori normal, 11 balita kategori stunting (20,00%) dan 5 balita kategori sangat pendek (9,00%). Gambar 5. Distribusi status gizi balita di Posyandu Naluri 141 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 Pemantauan status gizi balita di Posyandu Kencana (Gambar 6), pada 67 balita didapatkan 40 balita kategori normal (59,70%), 21 balita kategori stunting (31,34%) dan 6 balita kategori sangat pendek (8,95%). Data ini menunjukkan balita yang mengalami stunting di dua posyandu ini masih melebihi target nasional yaitu 14,00% (TP2AK, 2024). Balita dinyatakan pendek (stunting): bila nilai Z score < -2 SD/standar deviasi sampai dengan -3,00 SD/standar deviasi. Bila kurang dari -3,00 SD/standar deviasi (sangat pendek/severely stunted). Penilaian status gizi didasarkan pada indeks PB/U (Panjang Badan/ Usia) atau TB/U (Tinggi Badan/Usia) (Kemenkes RI, 2023). Gambar 6. Distribusi status gizi balita di Posyandu Kencana Pelaksanaan kegiatan edukasi kepada ibu balita dan kader posyandu (Gambar 7) diberikan dengan cara penyuluhan, pemutaran video bergambar, pemberian leaflet dan buku saku (Gambar 2 dan 3). Pengetahuan ibu balita tentang pemberian MP-ASI, diukur menggunakan test tertutup yang dilakukan sebelum dan sesudah kegiatan. Pertanyaan pada pre-test dan post-test disesuaikan dengan materi yang disampaikan sehingga dapat menggambarkan tingkat pengetahuan gizi ibu balita. Gambar 7. Peserta edukasi: ibu balita dan kader posyandu 142 Susilowati1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 Hasil pengukuran tingkat pengetahuan gizi ibu mengenai pemberian MP-ASI dapat dilihat pada Tabel 1. Skor pre-test minimum yang didapatkan peserta adalah 3, dan skor maksimalnya adalah 8 (Tabel 1). Nilai rata-rata pengetahuan ibu sebelum diberikan edukasi yaitu 5,87 dengan standar deviasi (SD) 1,271. Setelah dilakukan edukasi, nilai post-test peserta mengalami peningkatan yaitu nilai minimum 6 dan nilai maksimal 10, dengan nilai rata-rata 8,02 dan standar deviasi 0,922. Data menunjukkan terjadi peningkatan nilai rata-rata dari 5,87 menjadi 8,02. Peningkatan nilai test menunjukkan edukasi kepada ibu balita dapat meningkatkan pengetahuan. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Dainy et al. (2024), yaitu kegiatan edukasi yang dilakukan berhasil meningkatkan pengetahuan ibu tentang jumlah porsi makanan balita. Sejalan juga dengan Nuburi et al. (2025) yang dapat meningkatkan 15 poin pengetahuan pada pelatihan pembuatan -berbasis pangan lokal di Kampung Nolokla Sentani Timur. Tabel 1. Distribusi pengetahuan peserta N Min Maks Rata-rata Standar deviasi Skor Pre-test 61 3 8 5.87 1.271 Skor Post-test 61 6 10 8.02 0.922 Valid N (listwise) 61 Keterangan: N: frekuensi; Min: nilai minimal; Maks: nilai maksimal Hasil analisis untuk tiap pertanyaan menunjkan terjadi peningkatan persentase di seluruh item pertanyaan dari pre-test dan post-test intervensi dengan selisih peningkatan tertinggi pada pertanyaan 2 sebesar 34,42 diikuti pertanyaan 7 yakni 24,59 (Tabel 2). Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu setelah diberikan intervensi. Tabel 2. Hasil analisis setiap item pertanyaan No Item Pertanyaan Jawaban Benar Pre-test Post-test N % N % 1 MP-ASI yang diberikan kepada bayi 47 77,05 58 95,08 pertama kali sebaiknya bertekstur sangat cair 2 Bayi yang sudah mengenal MP-ASI, tidak 35 57,38 56 91,80 perlu diberi ASI 3 Susu formula merupakan salah satu jenis 47 77,05 54 88,52 MP-ASI yang boleh diberikan 4 Pengolahan MP-ASI sebaiknya dilakukan 49 80,33 55 90,16 dengan dikukus, direbus, dan tim 5 Cara pengolahan MP-ASI boleh dilakukan 39 63,93 48 78,69 dengan cara digoreng 6 Pada awal pemberian MP-ASI, lebih baik 43 70,49 54 88,52 diberikan 1 jenis bahan makanan 7 Nasi tim, sebaiknya diberikan pada 44 72,13 59 96,72 pemberian MP-ASI pertama kali 8 Sebaiknya MP-ASI diberikan tanpa 42 68,85 50 81,97 penambahan bahan perasa (gula, garam dan penyedap rasa) 9 Sebaiknya anak mulai makan makanan 52 85,25 58 95,08 143 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 No Item Pertanyaan Jawaban Benar Pre-test Post-test N % N % 10 keluarga ketika berusia di atas 12 bulan Santan boleh diberikan sebagai perasa pada MP-ASI untuk bayi di bawah 12 bulan 50 81,97 57 93,44 Keterangan: N: frekuensi Hasil analisis statistik dapat dilihat pada Tabel 3, yaitu terdapat 53 peserta yang mengalami peningkatan nilai. Namun ada 8 peserta yang nilainya tidak mengalami perubahan sebelum ataupun sesudah diberikan intervensi. Tabel 3. Hasil analisis nilai pre-test dan post-test N Mean Rank Sum of Ranks Skor Post – Skor Pre Negative Ranks Positive Ranks Ties Total 0a 53b 8c 61 0,00 27,00 0,00 1431,00 Keterangan: N: frekuensi; a = frekuensi negatif ranks (penurunan nilai pre-post); b = frekuensi positive ranks (kenaikan nilai pre-post); c = frekuensi ties (nilai pre-post sama) Hasil uji normalitas skor pre-test dan post-test menunjukkan data tidak terdistribusi normal sehingga diuji menggunakan uji Wilcoxon. Hasil uji menunjukkan p-value =0,002 (Tabel 4), maka dapat disimpulkan pemberian intervensi berupa edukasi menyebabkan perbedaan pengetahuan peserta. Tabel 4. Uji Statistik Tingkat Pengetahuan (Post-test) – (Pre-test) Perbedaan Tingkat Pengetahuan 0,002 Keterangan: *Uji Wilcoxon, signifikan jika p-value<0,05 Edukasi kepada ibu balita dan kader posyandu sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang gizi dan perawatan anak yang tepat, khususnya dalam hal pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Salah satu metode edukasi yang efektif adalah melalui penyuluhan langsung, di mana ibu balita dan kader posyandu mendapatkan informasi secara lisan dan interaktif. Menurut (Adityanto et al., 2022) penyuluhan tatap muka memungkinkan peserta untuk bertanya dan berdiskusi langsung, sehingga meningkatkan pemahaman dan retensi informasi terkait gizi balita. Selain itu, pemutaran video bergambar terbukti efektif karena visualisasi dapat membantu mengilustrasikan informasi penting dengan cara yang mudah dipahami oleh peserta dari berbagai latar belakang pendidikan (Panggabean et al., 2024). Di samping itu, pembagian leaflet dan buku saku menjadi langkah tambahan yang bermanfaat, karena materi tertulis ini dapat dibawa pulang dan dibaca kembali oleh ibu balita atau kader posyandu kapan saja. Menurut (Safitri dan Fitranti, 2016) leaflet dan buku saku berisi panduan praktis yang dapat membantu dalam mengingat informasi dan menerapkannya di rumah. 144 Susilowati1 et al. Vol. 6, No. 1, Juni 2025 KESIMPULAN Kegiatan edukasi pemberian makanan bagi balita (MP-ASI) cukup efektif meningkatkan pengetahuan peserta, nilai rata-rata tes dari 5,87 (pre-test) menjadi 8,02 (post-test). Hal ini merupakan bukti bahwa edukasi pemberian tekstur MP-ASI bagi ibu balita oleh tim pengabdian masyarakat berdampak baik untuk meningkatkan pengetahuan ibu. Pada hasil uji statistik menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Hasil kegiatan ini menunjukkan edukasi pemberian MP-ASI dapat meningkatkan pengetahuan peserta. Pengabdian ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu balita sehingga pada akhirnya diharapkan dapat menurunkan prevalensi stunting. Saran untuk pihak posyandu atau penulis lain yang akan melakukan kegiatan serupa adalah untuk dapat melakukan kegiatan edukasi secara terus menerus. Untuk meningkatkan pengetahuan ibu mengenai MP-ASI atau topik terkait maka diperlukan peran kader posyandu atau kerjasama dengan instansi terkait. Rekomendasi untuk kegiatan pengabdian masyarakat selanjutnya adalah penggunaan metode yang lebih variatif. Kegiatan workshop atau konsultasi dapat meningkatkan pengetahuan, perilaku mitra menjadi terlatih dan teratasinya permasalahan kesehatan balita. UCAPAN TERIMA KASIH Kegiatan pengabdian ini terlaksana atas dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak, penulis menyampaikan apresiasi kepada Rektor Universitas Siliwangi, LPPM Universitas Siliwangi. Terima kasih juga disampaikan kepada UPTD Puskesmas Panglayungan, Posyandu Naluri dan Posyandu Kencana yang telah memberikan sarana dan prasarana dalam kegiatan pengabdian masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Adityanto, R.E., Fattah, D., Khuzaimah, K., Pranata, E.H., Nugroho, A., 2022. Penyuluhan Gizi Balita dan Tablet Tambah Darah Remaja Putri melalui Whatsapp Group dan Pembentukan Kader Tablet Tambah Darah (Ttd) Remaja Putri. SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan 6, 240–248. https://doi.org/10.31764/jpmb.v6i1.7277 Al-Rahmad, A.H., Miko, A., Hadi, A., 2013. Kajian stunting pada anak balita ditinjau dari pemberian ASI eksklusif, MP-ASI, status imunisasi dan karakteristik keluarga di Kota Banda Aceh. Jurnal Kesehatan Ilmiah Nasuwakes 6(2), 169–184. Dainy, N.C., Kushargina, R., Anwar, K., Herdiansyah, D., 2024. Edukasi Pengolahan Menu dan Porsi Makan Balita sebagai Upaya Pencegahan Stunting di Kabupaten Bogor. Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) 5, 33–42. https://doi.org/10.36590/jagri.v5i1.876 (Dinkes) Dinas Kesehatan, 2021. Profil Kesehatan Kota Tasikmalaya. Kota Tasikmalaya. IDAI, 2018. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) [WWW Document]. URL https://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/pemberian-makananpendamping-air-susu-ibu-MP-ASI (accessed 9.2.24). Ismarina, Mutiara Maheka, L., Nurhayati Hidayat, A., 2024. The Relationship Between Complementary Feeding with Breastmilk (MP-ASI) and the Incidence of Stunting in Under-Five Children. Health and Technology Journal (HTechJ) 2, 21–27. 145 Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6, No.1, Juni 2025 https://doi.org/10.53713/htechj.v2i1.136 Kemenkes RI, 2023. Profil Kesehatan Indo-nesia, Pusdatin.Kemenkes.Go.Id. Nuburi, D., Lusiana, S.A., Deda, M.O., 2025. Pelatihan Kader Posyandu dalam Pembuatan MP-ASI Berbasis Pangan Lokal untuk Pencegahan Stunting di Kampung Nolokla Sentani Timur. Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) 6, 1–8. https://doi.org/https://doi.org/10.36590/jagri.v6i1.1548 Oktaviani, A.C., Pratiwi, R., Rahmadi, F.A., 2018. Asupan Protein Hewani Sebagai Faktor Risiko Perawakan Pendek Anak Umur 2-4 Tahun. Jurnal Kedokteran Diponegoro (Diponegoro Medical Journal) 7, 977–989. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico/article/view/20846 Panggabean, J.Z.Z., Januaripin, M., Husnita, L., Wulandari, T., Pureka, M.N.Y., Arsyati, A.M., Mardiawati, M., Kmurawak, R.M.B., Supriatna, A., Dharmayanti, P.A., 2024. Teknologi Media Pembelajaran: Penerapan Teknologi Media Pembelajaran di Era Digital. PT. Green Pustaka Indonesia. Safitri, N.R.D., Fitranti, D.Y., 2016. Pengaruh edukasi gizi dengan ceramah dan booklet terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap gizi remaja overweight. Journal of Nutrition College 5, 374–380. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/article/view/16438 (TP2AK) Tim percepatan Pencegahan Anak Kerdil. 2024. Peta Jalan Percepatan Stunting Indonesia 2018-2024. United Nations Children’s Fund, 2020. Improving Young Children’s Diets During The Complementary Feeding Period. UNICEF Programming Guidance. 76. (WHO) World Health Organization, 2023. WHO Guideline for complementary feeding of infants and young children 6–23 months of age, 2023. Yoshua Prihutama, N., Agung Rahmadi, F., Hardaningsih, G., 2018. Pemberian Makanan Pendamping ASI Dini sebagai Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Usia 2-3 Tahun 7, 1419–1430. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/medico/article/view/21288 146