Pengelolaan Sampah Dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Di Kabupaten Gianyar I Wayan Sujana Putra . Nyoman Diah Utari Dewi . Ni Putu Tirka Widanti . Master Student of Public Administration Study Program. Ngurah Rai University. Denpasar. Bali. Indonesia . , . Master Lecturer of Public Administration Study Program. Ngurah Rai University. Denpasar. Bali. Email: . sujanaputra42@gmail. utari@unr. widanti@unr. ARTICLE HISTORY Received . Februari 2. Revised . Mei 2. Accepted . Juni 2. KEYWORDS Tourism Area. Waste Management. Sustainable Tourism. This is an open access article under the CCAeBY-SA license ABSTRAK Kabupaten Gianyar merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang berada di Bali. Daerah wisata ini tentu saja tidak terlepas dari berbagai macam permasalahan, baik permasalahan yang dapat diatasi dengan mudah hingga permasalahan yang dapat menghambat pengembangan pariwisata itu sendiri. Permasalahan yang umum terjadi yaitu terkait pengelolaan sampah. Berdasarkan kondisi tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan sampah dalam mendukung perkembangan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Gianyar. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan observasi. Sumber data yang digunakan adalah sumber data sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari dokumentasi atau studi pustaka dari lokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang sudah dilakukan di Kabupaten Gianyar yaitu pemilahan sampah dari rumah tangga serta penjadwalan pengiriman sampah menurut sumbernya ke tempat pembuangan akhir. Kegiatan memilah sampah yang dimulai dari rumah tangga sangat berdampak pada kebersihan lingkungan dan pengembangan pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Gianyar. ABSTRACT Gianyar Regency is one of the tourist destinations in Bali. This tourist area is certainly not free from various problems, both problems that can be easily overcome and problems that can hinder the development of tourism itself. Common problems are related to waste management. Based on these conditions, the purpose of this study is to determine waste management in supporting the development of sustainable tourism in Gianyar Regency. The research methodology used in this study is qualitative research with observation. The data sources used are secondary data sources. Secondary data in this study are data obtained from documentation or literature studies from the research locus. The results of the study indicate that waste management that has been carried out in Gianyar Regency is sorting waste from households and scheduling waste delivery according to its source to the final disposal site. Waste sorting activities starting from households have a significant impact on environmental cleanliness and the development of sustainable tourism in Gianyar Regency. PENDAHULUAN Provinsi Bali telah menjadi destinasi wisata utama dunia (Anom, dkk. , 2. Perkembangan kepariwisataan Bali kini telah mengalami kemajuan pesat secara kuantitas maupun kualitas. Keunikan budaya dan keindahan alam Bali menjadi primadona wisatawan datang ke Bali (Hariyana, dkk. , 2. Berbagai julukan tentang Bali muncul karena kekaguman wisatawan. Mulai dari pulau surga, pulau seribu pura, pulau dewata dan masih banyak yang lainnya. Bali dianggap autentik mewakili budaya adiluhung masa lampau yang masih berjalan sampai masa kini. Ciri khas Bali dengan keautentikan budayanya memang sulit disaingi oleh daerah lain terutama dalam pembangunan pariwisata (Anom, dkk. , 2. Kebudayaan Bali tidak hilang dan tenggelam dengan berbagai macam budaya yang masuk ke Bali, namun tetap kuat dan tercermin dalam setiap kegiatan wisata di Bali. Hal ini menjadi daya tarik yang Tidak hanya kebudayaan saja, keindahan alam menambah keragaman pariwisata di Bali. Wisata alam yang paling digemari oleh wisatawan adalah pantai. Terdapat banyak pantai yang indah di Bali. Sebagian besar pantai yang berpasir putih terletak di sebelah selatan Pulau Bali. Pantai yang berpasir hitam terletak di sebelah utara Pulau Bali. Semakin banyak wisatawan yang datang, maka berpengaruh juga dengan volume sampah yang ditimbulkan (Loviannauli & Nugroho, 2. Ini menjadi masalah yang terus disoroti oleh pemerintah karena dapat menjadi masalah yang serius bagi keberlangsungan pariwisata di Bali. Perlu pengelolaan sampah yang baik untuk menanggulangi permasalahan ini. Menurut Kaka & Widnyani . bahwa pemerintah muncul untuk memenuhi dan melayani masyarakat, yakni dalam hal melayani kebutuhan akan rasa aman. Pemerintah memiliki peran sentral dalam menciptakan program-program yang dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan remaja (Toi, et al, 2. Sampah merupakan masalah dalam kehidupan manusia. Pengelolaan sampah sendiri juga menjadi masalah apabila tidak ditangani dengan sistem yang baik. Sistem pengelolaan sampah yang tidak baik pada akhirnya akan mengakibatkan timbulan sampah yang menyebabkan pencemaran Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 299 Ae 306 | 299 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X lingkungan (Sarbi, 2. Rendahnya kesadaran masyarakat yang masih menganggap bahwa sampah adalah tanggungjawab pemerintah dalam penanganannya semakin menambah masalah sampah mejadi berlarut-larut, di sisi pemerintah sendiri keterbatasan dalam pembiayaan, jumlah personil maupun sarana prasarana yang tersedia menjadi kendala dalam penanganan sampah (Hartanto, 2. Tiga sumber utama sampah di lokasi pariwisata adalah sampah dari masyarakat yang mendukung kegiatan pariwisata, sampah dari para wisatawan, dan sampah dari pengelolaan pariwisata (Hilman, dkk. Para pendukung utama usaha pariwisata adalah penduduk lokal, yang biasanya memiliki pekerjaan perdagangan atau mengoperasikan warung dan pedagang kaki lima. Biasanya, stan makanan atau gazebo dibuat di destinasi wisata. Selain itu, ada banyak pedagang kaki lima dan stan kecil yang menjual makanan cepat saji dan makanan ringan seperti mie instan. Mereka mungkin akhirnya memiliki tumpukan sampah dari bungkus makanan dan sisa-sisa yang mereka jual (Wati & Sudarti, 2. Selain itu, mereka jarang sekali mendorong pelanggan untuk mengelola sampah dengan baik atau membuangnya di area yang ditentukan. Menurut penelitian sebelumnya (Fitri et al. , 2. , rendahnya kesadaran wisatawan adalah fakta yang ditemukan di berbagai lokasi pariwisata dan terkait dengan volume sampah yang signifikan. Wisatawan menunjukkan perilaku seperti mengabaikan permohonan atau papan peringatan dari pengelola . erutama jika tidak ada papan peringatan tersebu. , tidak peduli dengan risiko yang terkait dengan pencemaran lingkungan, atau "hati-hati/aware" terhadap sampah yang mereka hasilkan (Nurmalasari & Agustin, 2. Semakin banyak orang yang bergabung dalam kegiatan wisata, semakin banyak keuntungan yang diperoleh (Aziz et al. , 2. Jika tidak diimplementasikan dengan benar, ini bisa menjadi bom waktu yang dapat merusak lingkungan dan bahkan mungkin mengancam industri pariwisata itu sendiri. Penting untuk diingat bahwa peserta wisata tidak hanya datang untuk menyumbangkan waktu dan uang mereka untuk mendukung acara wisata. mereka juga membawa barang-barang yang pada akhirnya dapat menjadi sampah. Banyak objek wisata yang kurang memiliki sistem yang sesuai untuk mengelola sampah, dan banyak dari mereka mungkin tidak menyediakan tempat untuk menyimpan sampah. Pengelolaan sampah dimulai dari penyapuan dan pengumpulan sampah, pengangkutan sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk mewujudkan lingkungan yang bersih. Kemudian sampah yang telah diangkut ke TPA tidak hanya dibuang dan didiamkan begitu saja melainkan harus dikelola sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan (Wibowo, 2. Sampah menjadi permasalahan yang terus disorot oleh pemerintah, karena dapat menjadi permasalahan yang serius khususnya bagi citra pariwisata di Bali, sehingga dibutuhkan pengelolaan sampah yang baik. Menurut Kardono yang dikutip oleh Mahyudin . , sistem pengelolaan sampah yang efektif adalah pengelolaan sampah yang terpadu, dimana adanya kombinasi teknologi yang diaplikasikan sesuai pada kondisi lokal yakni disesuaikan dengan kebutuhan sosial masyarakat dan kondisi sumber daya. Kabupaten Gianyar merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Bali memiliki luas 368 km 2 serta jumlah penduduk sebanyak 523. 972 jiwa (BPS Kabupaten Gianyar, 2. Selama lima tahun terkahir, laju pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gianyar cenderung berfluktuasi. Dalam rentang tahun 2015 sampai 2018 laju pertumbuhan ekonomi cukup signifikan meski tahun 2019 pertumbuhan sedikit melambat (BPS Kabupaten Gianyar, 2. Hal tersebut secara tidak langsung akan memicu meningkatnya produksi limbah buangan atau sampah akibat dari meningkatnya kegiatan jasa, industri, bisnis dan sebagainya. Timbunan sampah tersebut dapat menjadi tempat perkembangan penyakit dan menurunkan kualitas lingkungan serta menimbulkan gangguan estetika bila tidak ditangani dengan baik (Sahil et al. , 2. Pemerintah Kabupaten Gianyar memiliki program unggulan yaitu Zero Waste. Program Zero Waste memiliki arti Aubukan tidak ada sampahAy. Zero Waste adalah model pengelolaan sampah yang memperlakukan sampah sebagai sumber daya. Merupakan penerapan konsep pengelolaan sampah berbasis pengurangan jumlah sampah, daur ulang sampah, penggunaan kembali sampah, dan konsep ekonomi sirkuler. Program ini memiliki dasar hukum yaitu Pergub No. 47 Tahun 2019 Tentang Pengelolaan Sampah. Dari kondisi di atas, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk . mengeksplorasi praktik pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar. mengidentifikasi potensi permasalahan yang timbul atas pengelolaan sampah yang ada. memberikan rekomendasi pengelolaan sampah untuk perkembangan pariwisata yang berkelanjutan. LANDASAN TEORI Teori Pengelolaan Sampah Sampah didefinisikan sebagai semua bentuk limbah berbentuk padat yang berasal dari kegiatan manusia dan hewan kemudian dibuang karena tidak bermanfaat atau keberadaannya tidak diinginkan lagi (Tchobanoglus, 1. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan 300 | I Wayan Sujana Putra. Nyoman Diah Utari Dewi,Ni Putu Tirka Widanti . Pengelolaan Sampah Dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata . Sampah, definisi sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga dijelaskan lagi tentang definisi sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas Ada beberapa motode dan teori yang digunnakan para pakar pengelolaan sampah menggunakan macam-macam teori. Pasal 12 . UUPS, setiap orang diwajibkan melakukan pengelolaan atau memilah sampah dengan cara atau metode yang berwawasan lingkuangan 3R yaitu : Reduce . engurangi sampa. dalam arti tidak membiarkan tumpukan sampah yang berlebihan . Reuce . enggunakan kembali sisa sampah yang bisa digunaka. Recycle . endaur ulang sampa. Adapun prinsip utama dari Pengelolaan Sampah Terpadu adalah mengurangi volume sampah yang harus diolah pada TPA, melalui perubahan perilaku pengelolaan sampah dengan pendekatan beberapa pendekatan yang bisa membantu masyarakat yaitu: Aspek Institusional Hal yang paling mendasar dari aspek ini adalah political willing dari pengambil kebijakan dalam memberikan prioritas terhadap pengelolaan sampah, perlu adanya penetapan tugas dan fungsi departemen terkait terhadap pengelolaan sampah serta koordinasi yang jelas diantara instansi Aspek Teknis Hal paling mendasar dari aspek ini adalah menentukan metode apa yang akan di implementasikan. Untuk itu perlu diketahui jenis, karakter dan volume sampah yang dihasilkan. Selain itu sumber daya manusia haruslah memiliki kemampuan teknis dan manajerial pengelolaan sampah terkait dengan metode yang akan dipilih, dari tahap perencanaan, operasional dan maintenance sampai tahap monitoring dan evaluasi, serta bagaimana dukungan dan partisipasi masyarakat terhadap metode yang akan dipilih. Aspek Sosial Dalam konsep ini, sebelum mengimplementasikan suatu teknologi, perlu diketahui terlebih dahulu perubahan seperti apa . engelolaan sampa. yang masuk akal . untuk dapat diterima oleh masyarakat, melalui studi exsisting praktik pengelolaan sampah oleh masyarakat untuk menentukan jenis teknologi dan supporting program yang dibutuhkan. Untuk menemukenali perilaku pihak terkait di daerah permukiman, dilakukan pendekatan pengamatan dan pembahasan terhadap aspek sosial, yang meliputi: Pengetahuan mengenai cara pemilahan sampah . Bentuk partisipasi yang dapat diberikan dalam pengelolaan sampah daur ulang . Bentuk partisipasi yang dapat diberikan dalam pengelolaan sampah organik Metode pengelolaan sampah yang lain yang dapat dijalankan diterapkan dimasyarakat ada beberapa metode pengelolaan sampah yang utama digunakan yaitu: Sistem Pengolahan Sampah Skala Komunal (Off sit. Pengolah Sampah Skala Komunal adalah sistem pengelolaan sampah rumah tangga . rganik saja atau organik dengan non organi. yang dikelola oleh masyarakat dengan atau tanpa bantuan pemerintah, yang meliputi 1-3 Rukun Warga (RW) yang berada di suatu lingkungan permukiman atau komplek perumahan. Sistem Pengolahan Sampah Skala Individu (Onsit. Pengelolaan Sampah di Kawasan Pariwisata Pengelolaan sampah di kawasan pariwisata merupakan tantangan global yang memerlukan pendekatan berkelanjutan dan partisipasi berbagai pemangku kepentingan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pariwisata dapat meningkatkan produksi sampah secara signifikan, terutama di daerah yang mengalami lonjakan kunjungan wisatawan selama event besar (Hall & Dredge, 1991. Richards & Hall, 2. Menurut Hall dan Dredge . , pengelolaan sampah yang efektif di kawasan pariwisata harus mencakup edukasi dan kesadaran masyarakat, infrastruktur yang memadai, dan regulasi yang ketat. Selain itu, keterlibatan komunitas lokal dan wisatawan dalam praktik pengelolaan sampah yang baik sangat penting untuk mencapai keberlanjutan lingkungan. Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 299 Ae 306 | 301 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X Konsep Zero Waste Konsep Zero Waste adalah model pengelolaan sampah yang memperlakukan sampah sebagai sumber daya. Zero Waste mengedepankan prinsip pengurangan, penggunaan kembali, daur ulang, dan pengelolaan sampah secara efektif untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan (Lombardi & Bailey, 2. Program Zero Waste adalah contoh implementasi konsep ini di tingkat Lombardi dan Bailey . menyatakan bahwa Zero Waste tidak hanya fokus pada pengurangan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir tetapi juga pada transformasi sampah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Implementasi Zero Waste memerlukan dukungan regulasi, infrastruktur yang memadai, dan partisipasi aktif dari masyarakat serta sektor swasta. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain studi kasus yang memungkinkan analisis mendalam terhadap praktik pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar. Studi kasus dipilih karena memberikan wawasan komprehensif tentang bagaimana berbagai faktor saling berinteraksi dalam konteks tertentu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk mengeksplorasi praktik pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar, mengidentifikasi potensi permasalahan yang timbul atas pengelolaan sampah yang ada, serta memberikan rekomendasi pengelolaan sampah untuk perkembangan pariwisata yang Sumber data yang digunakan adalah sumber data sekunder. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari dokumentasi atau studi pustaka dari lokus penelitian. Metode pengumpulan data dengan menggunakan observasi, yaitu mengamati praktik pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar untuk mendukung perkembangan pariwisata yang berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Praktik Pengelolaan Sampah Di Kabupaten Gianyar Sampah di Bali tengah menjadi sorotan sejak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung terbakar (Putri & Windri, 2. Terbakarnya TPA di Denpasar mengakibatkan sejumlah tempat penampungan sementara (TPS) di Ibu Kota Provinsi Bali penuh sampah. Tabel 1. berikut menunjukkan timbulan sampah di kabupaten/kota Provinsi Bali. Tabel 1. Timbulan Sampah di Kabupaten/Kota Provinsi Bali Sumber: detikBali, 2023 Berdasarkan Tabel 1 menunjukkan Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dipublikasikan oleh detikBali menunjukkan volume timbulan sampah di Pulau Dewata sepanjang 2022 mencapai 1,02 juta ton. Jumlah itu meningkat dibandingkan setahun sebelumnya yang hanya 915,5 ribu ton timbulan sampah. Kabupaten Gianyar merupakan kabupaten dengan timbunan sampah terbanyak nomer 2 setelah Kota Denpasar. Tahun 2022 timbunan sampah sebanyak 196,698 ton, meningkat dari tahun 2021 yaitu 116,731 ton. Salah satu Desa Adat di Kabupaten Gianyar yaitu Desa Adat Padangtegal memperoleh apresiasi dari Wakil Menteri Pariwisata yang konsisten mengolah sampah lingkungan menjadi pupuk kompos. Langkah ini merupakan kontribusi nyata dalam mendukung pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Gianyar. Pengolahan sampah lingkungan menjadi pupuk kompos di Desa Padangtegal disebut rumah kompos dan sudah beroperasi dari Februari 2012. Sampah yang diolah berasal dari berbagai sumber, termasuk kawasan wisata Monkey Forest. Manfaat dari pengelolaan sampah ini tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan tetapi juga mendukung sektor pertanian masyarakat. Pemerintah desa turut memberikan subsidi terkait pembiayaan pengelolaan sampah bagi warganya, kecuali jika kuota sampah yang dihasilkan melebihi batas yang telah ditentukan (Mastika, 2. 302 | I Wayan Sujana Putra. Nyoman Diah Utari Dewi,Ni Putu Tirka Widanti . Pengelolaan Sampah Dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata . Gambar 1. Timbunan Sampah di Provinsi Bali Sumber: Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK), 2019 Berdasarkan Gambar 1 menunjukkan timbunan sampah di Provinsi Bali sebanyak 5. Timbunan sampah terbesar yaitu bersumber dari sumber sampah organik yaitu sebanyak 60-70 Sampah non-organik 20-30 persen dan residu 10 persen. Hal ini menunjukkan bahwa harus diperlukan upaya yang dapat mengolah sampah organic karena sampah organic menyumbang sampah Kebijakan Pemerintah Kabupaten Gianyar mewajibkan masyarakatnya untuk menerapkan pengelolaan sampah berbasis sumber dan melarang sampah tercampur masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhi. Desa Temesi, per 1 Mei 2024, diharapkan juga dilakukan oleh Pemerintah kabupaten/kota lainnya di Bali. PPLH Bali lewat program unggulannya. Zero Waste Cities (ZWC) melakukan pendampingan untuk implementasi peraturan pemerintah terkait dengan pengelolaan sampah berbasis sumber dalam payung hukum Peraturan Gubernur Nomor 47 Tahun 2019. ZWC mengusung pengelolaan sampah desentralisasi dengan pemilahan. Tujuannya untuk mengatasi tantangan dalam pengelolaan sampah, meningkatkan tingkat daur ulang, dan mengurangi dampak negatif terhadap Sejak tahun 2022. Kabupaten Gianyar menjadi salah satu pilot project dari program ZWC. Berbagai aktivitas yang dilakukan antara ZWC dengan DLH Kabupaten Gianyar seperti Pelatihan Kompos untuk DLH. Pelatihan Kewirausahaan Kompos untuk TPS 3R se-Kabupaten Gianyar. Pemkab sebelumnya sudah melakukan bermacam-macam upaya pengelolaan sebelum sampah dikirim ke TPA Temesi. Mulai dari kerja sama pengelolaan sampah organik, dan maggot dengan pihak swasta sampai dengan hadirnya TPS3R yang tersebar di desa-desa yang ada di Kabupaten Gianyar. Namun, permasalahan sampah tidak dengan mudah berakhir. Keterjangkauan TPS3R untuk melayani seluruh KK masih kurang. Dengan situasi yang demikian, pemerintah daerah Kabupaten Gianyar menilai pemilahan berbasis sumber akan lebih efektif apabila TPA Temesi bersikap tegas menolak datangnya sampah yang belum terpilah. Aturan ini tercantum dalam Peraturan Bupati Gianyar Nomor 76 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal. Adapun sampah yang masuk harus terpilah, dengan jadwal pengangkutan sampah organik yang terdiri atas sisa makanan, ranting, daun, buah, sayur, jajan, dan lainnya dijadwalkan pada Senin. Rabu, dan Jumat. Sementara itu, sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas, dan lainnya dijadwalkan pada Selasa dan Sabtu. Terakhir, untuk sampah residu seperti popok, pembalut, tisu, puntung rokok, mika, dan lainnya dilakukan pada Kamis, dan Minggu. Beberapa upaya pengolahan sampah organik di Kabupaten Gianyar yang sudah dilakukan yaitu melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce. Reuse. Recycle (TPS3R) dan Teba Modern. TPS3R merupakan tempat pengolahan sampah organik menjadi kompos. Pengelolaan sampah berbasis sumber kini telah berjalan di beberapa desa di Bali, salah satunya yaitu desa Desa Keliki. Pengelolaan sampah berbasis sumber kini telah berjalan di beberapa desa di Bali. Upaya tersebut bertujuan untuk mengurangi pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang semakin menumpuk. Jenis sampah yang diolah di TPS3R adalah sampah organik. Kebanyakan sampahnya berupa canang dan dedaunan. Sampah-sampah itu diolah menjadi kompos. Prosesnya diawali dengan pemilahan jenis sampah terlebih Sampah anorganik yang bernilai ekonomi dijual ke bank sampah. Selanjutnya yaitu Teba modern, merupakan tempat pengolahan sampah organik diolah menjadi kompos. Permasalahan dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar Salah satu masalah utama di Kabupaten Gianyar adalah kurangnya edukasi dan kesadaran masyarakat serta wisatawan tentang pentingnya pengelolaan sampah merupakan masalah yang sering ditemukan di kawasan pariwisata. Selain itu, kurangnya pemahaman beberapa masyarakat di Kabupaten Gianyar khususnya masyarakat yang sudah lanjut usia mengenai pemilahan sampah dan Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 299 Ae 306 | 303 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X jadwal pengangkutan sampah, sehingga hal ini menimbulkan kesalahpahaman yang menyebabkan tidak sedikit warga yang kesal karena sampahnya tidak diangkut oleh petugas sampah. Padahal, hal ini terjadi karena masyarakat kurang memahami penjadwalan pengangkutan sampah. Banyak wisatawan dan penduduk lokal tidak membuang sampah pada tempatnya, dan hanya sedikit yang memahami konsep daur ulang dan pengurangan sampah. Edukasi lingkungan yang berkelanjutan harus menjadi bagian integral dari strategi pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar. Program edukasi ini bisa mencakup kampanye publik, pelatihan bagi masyarakat dan pelaku industri pariwisata, serta pengenalan kurikulum pendidikan lingkungan di sekolah-sekolah setempat. Seperti yang disarankan oleh Wijayanti dan Suryani . , edukasi dan sosialisasi yang terus-menerus dapat meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam program pengelolaan sampah. Regulasi dan kebijakan yang kuat merupakan dasar bagi pengelolaan sampah yang efektif. Meskipun Pergub No. 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah telah diterapkan, implementasinya di lapangan masih lemah. Hal ini tercermin dalam temuan bahwa sampah sering kali belum bisa diangkut karena masih ada beberapa rumah tangga yang sampahnya tercampur. Tidak ada sanksi yang efektif bagi pelanggar. Penguatan regulasi dan kebijakan yang mengatur pengelolaan sampah sangat penting. Pemerintah daerah harus memastikan bahwa peraturan ini diterapkan dengan tegas, termasuk pemberian sanksi bagi individu atau perusahaan yang melanggar aturan pengelolaan sampah. Selain itu, insentif dapat diberikan kepada masyarakat dan perusahaan yang aktif dalam pengelolaan sampah, seperti pengurangan pajak atau penghargaan lingkungan. Kolaborasi yang efektif antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah. ITDC, sektor swasta, komunitas lokal, dan wisatawan, sangat penting untuk keberhasilan pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada beberapa bentuk kerja sama, seperti antara ITDC dan Bank Sampah, koordinasi antar pemangku kepentingan masih kurang optimal. Hall . menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif dalam pengelolaan kawasan pariwisata. Di Kabupaten Gianyar, forum reguler untuk dialog dan koordinasi antara semua pemangku kepentingan dapat membantu menyelaraskan upaya dan memastikan bahwa setiap pihak memainkan perannya dengan baik. Peningkatan keterlibatan sektor swasta dalam bentuk kemitraan publik-swasta juga dapat membantu menyediakan sumber daya tambahan untuk program pengelolaan sampah. Pengembangan teknologi pengelolaan sampah yang lebih canggih dan penerapannya dalam skala yang lebih luas dapat membantu mengatasi masalah sampah di Kabupaten Gianyar. Pemerintah dan pihak swasta dapat berinvestasi dalam teknologi pengolahan sampah modern, seperti fasilitas daur ulang otomatis di setiap desa atau wilayah dan sistem pengolahan kompos yang lebih efisien. Selain itu, program pelatihan teknologi bagi masyarakat dan pelaku industri pariwisata dapat meningkatkan keterampilan lokal dalam pengelolaan sampah. Dampak dan Rekomendasi pengelolaan sampah untuk perkembangan pariwisata yang berkelanjutan Sampah yang tidak terkelola dengan baik tidak hanya berdampak negatif pada lingkungan tetapi juga pada ekonomi pariwisata. Destinasi wisata yang tercemar oleh sampah akan kehilangan daya tariknya, mengurangi kunjungan wisatawan dan pendapatan yang dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang baik merupakan investasi penting untuk keberlanjutan Studi oleh Jaleel . di Maldives menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang efektif dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan menarik lebih banyak wisatawan. Implementasi program serupa di Kabupaten Gianyar, dengan fokus pada kebersihan lingkungan dan keberlanjutan, dapat membantu meningkatkan daya tarik kawasan ini sebagai destinasi pariwisata kelas dunia. Menurut Alzyirah& Sasmita . upaya untuk membangun relasi dengan masyarakat, pemerintah harus mampu menjalin interaksi dan komunikasi dengan masyarakat yang bertujuan untuk pemerintahan yang baik. Beberapa rekomendasi diajukan untuk pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar untuk mendukung perkembangan pariwisata yang berkelanjutan yaitu: Peningkatan Infrastruktur: Pemerintah dan pihak swasta perlu berinvestasi lebih banyak dalam fasilitas pengelolaan sampah, termasuk tempat pembuangan sementara yang lebih banyak dan fasilitas pemrosesan sampah yang lebih canggih. Program Edukasi dan Kesadaran Lingkungan: Edukasi dan sosialisasi yang berkelanjutan tentang pemilahan dan pengelolaan sampah harus dilakukan. Ini dapat mencakup kampanye publik, pelatihan bagi masyarakat lokal dan pekerja pariwisata, serta integrasi kurikulum lingkungan di sekolah-sekolah setempat. Penguatan Regulasi dan Kebijakan: Implementasi Pergub No. 47 Tahun 2019 harus diperkuat dengan pengawasan yang ketat dan sanksi yang tegas bagi pelanggar. Selain itu, insentif dapat diberikan untuk mendorong praktik pengelolaan sampah yang baik. Meningkatkan Kolaborasi Stakeholder: Forum reguler untuk dialog dan koordinasi antar pemangku kepentingan harus diadakan untuk memastikan bahwa setiap pihak memainkan perannya 304 | I Wayan Sujana Putra. Nyoman Diah Utari Dewi,Ni Putu Tirka Widanti . Pengelolaan Sampah Dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata . dengan efektif. Kemitraan publik-swasta juga perlu ditingkatkan untuk menyediakan sumber daya . Adopsi dan Ekspansi Teknologi: Teknologi pengelolaan sampah harus diadopsi dan dikembangkan lebih luas. Investasi dalam teknologi pengolahan sampah modern akan membantu mengurangi volume sampah yang tidak terkelola. Keterlibatan Wisatawan: Wisatawan harus dilibatkan dalam upaya pengelolaan sampah, misalnya melalui penyediaan fasilitas daur ulang di area wisata dan program kesadaran lingkungan. Untuk menangani permasalahan sampah, diperlukan kerjasama yang baik antara pihak pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat lokal. Masing-masing pihak memiliki peranan dan terlibat dalam penanggulangan permasalahan sampah di Kabupaten Gianyar. Pihak pengelola yaitu Desa Adat di masing-masing desa Kabupaten Gianyar juga memiliki program tersendiri dalam menangani permasalahan ini. Sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di Kabupaten Gianyar adalah sistem pengelolaan sampah 4P (Pemilahan. Pengelolaan. Pengumpulan, dan Pengangkuta. Pemilahan Sampah. sampah-sampah seperti kayu, bambu, dan ranting pohon dipisahkan untuk dimanfaatkan kembali menjadi bahan bakar untuk memasak, membuat api unggun, membuat peti kemas dan lain sebagainya. Pengolahan Sampah. sampah-sampah yang berserakan hanya dikumpulkan di satu tempat dan kemudian diangkut menggunakan truk pengangkut sampah ke tempat pembuangan sampah (TPS). Pengumpulan Sampah. sampah-sampah dikumpulkan dengan pola penyapuan pantai dan kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pengangkutan Sampah. sampah-sampah yang sudah terkumpul di TPS atau yang sudah dikumpulkan di rumah-rumah warga dipindahkan menggunakan truk pengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan. Kabupaten Gianyar merupakan salah satu daerah di Provinsi Bali yang merupakan daya tarik wisata. Daerah wisata ini tentu saja tidak terlepas dari berbagai macam permasalahan, baik permasalahan yang dapat diatasi dengan mudah hingga permasalahan yang dapat menghambat pengembangan pariwisata itu sendiri. Permasalahan yang umum terjadi yaitu terkait pengelolaan sampah. Volume timbulan sampah di Pulau Dewata sepanjang 2022 mencapai 1,02 juta ton. Kabupaten Gianyar merupakan kabupaten dengan timbunan sampah terbanyak nomer 2 setelah Kota Denpasar. Timbunan sampah terbesar yaitu bersumber dari sumber sampah organik yaitu sebanyak 60-70 persen. Kebijakan Pemerintah Kabupaten Gianyar mewajibkan masyarakatnya untuk menerapkan pengelolaan sampah berbasis sumber dan melarang sampah tercampur masuk ke TPA (Tempat Pembuangan Akhi. upaya pengolahan sampah organik di Kabupaten Gianyar yang sudah dilakukan yaitu melalui Tempat Pengelolaan Sampah Reduce. Reuse. Recycle (TPS3R) dan Teba Modern. Permasalahan utama yang dihadapi oleh Kabupaten Gianyar dalam pengelolaan sampah yaitu masih adanya beberapa warga yang belum memahami cara pemilahan sampah serta belum pahamnya jadwal pengangkutan sampah menurut jenisnya. Sehingga penting bagi aparat desa untuk melakukan edukasi untuk menanamkan pemahaman masyarakat terkait cara pemilahan sampah dan memastikan masyarakat mengetahui jadwal pengangkutan sampah menurut jenisnya. Sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar terdiri dari 4P yaitu Pemilahan. Pengolahan. Pengumpulan, dan Pengangkutan. Setelah mengetahui sistem pengelolaan sampah masing-masing daya tarik wisata, maka dilakukan komparasi untuk mencari persamaan, perbedaan, kekurangan serta kelebihan dari masing-masing daya tarik wisata. Saran Adapun saran yang bisa penulis berikat terkait pengelolaan sampah di Kabupaten Gianyar dalam mendukung Pariwisata yang berkelanjutan yaitu diharapkan bagi stakeholder pengelolaan sampah Kabupaten Gianyar khususnya aparat masing-masing desa untuk memberikan edukasi kepada beberapa masyarakat yang kurang memahami metode pemilahan sampah dan penjadwalan pengangkutan sampah mneurut jenisnya. Masyarakat Kabupaten Gianyar agar tetap menjalani program pengelolaan sampah yang sudah berjalan karena selain mempunyai manfaat dalam meningkatkan kualitas lingkungan juga memiliki manfaat ekonomis bagi masyarakat Kabupaten Gianyar untuk mendukung pariwisata yang Desa lain dapat mengikuti beberapa upaya yang sudah dilakukan desa lain seperti Desa Padangtegal yang sudah mengolah sampah organiknya sendiri untuk dijadikan kompos dan TPS3R yang ada di Desa Keliki sehingga akan menurunkan timbunan sampah ke TPA. Kemudian, saran untuk aparat pemerintah desa dan pihak swasta agar mampu memarakkan adopsi teknologi pengelolaan sampah serta dikembangkan lebih luas. Investasi dalam teknologi pengolahan sampah modern akan membantu mengurangi volume sampah yang tidak terkelola. Jurnal Professional. Vol. 12 No. 1 Juni 2025 page: 299 Ae 306 | 305 p-ISSN 2407-2087 e-ISSN 2722-371X DAFTAR PUSTAKA