Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KELUARGA KATOLIK SERTA PEMBENTUKAN SIKAP KASIH SAYANG ANAK KEPADA ALLAH DAN SESAMA Silvia Paskalita. Ola Rongan Wilhelmus*) STKIP Widya Yuwana silviapaskalita65@gmail. Penulis korespondensi, olarongan@widyayuwana. Abstract In the family, parents have an irreplaceable role in educating the Catholic faith of their children. Faith education in a Catholic family does not only provide knowledge about the Catholic faith to the children, but also to form children's loving attitudes. The research aims to explore the role of parents in children's faith education and the formation of children's loving attitudes towards God and others, as well as to analyze the challenges and solutions related to the children's faith education. The research applies a qualitative method with a descriptive approach. Data was collected through direct interviews with informants selected purposively. The results of the research show that Catholic faith education in the family has a significant influence on the formation of children's loving attitudes towards God and others. However, parents are continuously facing some challenges related to the Catholic faith education for their Those challenges are including time limitation to gather with the family due to huge activities of the parents and limited knowledge of parents regarding Catholic faith. To respond the challenges, parents continuously try their best to provide Catholic faith education for their children by encouraging them to join prayer activities in the family, attending Eucharist celebrations, increasing communication and mutual understanding among the family members. Keywords: Catholic family. faith education. PENDAHULUAN Keluarga Katolik merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi iman Katolik anak, sedangkan orang tua merupakan pendidik iman Katolik pertama dan utama dalam keluarga (Nurjannah, 2022:. Orang tua sebagai pendidik utama iman Katolik anak, mengandung arti bahwa orang tua bertanggung jawab penuh tehadap pendidikan iman Katolik anak dalam keluarga (Nampar & Silpanus, 2018:. Penting bagi orang tua untuk memberi perhatian serius terhadap pendidikan iman Katolik anak. Perhatian orang tua ini dapat memberi dampak Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 positif bagi pembentukan sikap kasih sayang anak kepada Allah dan sesama sesuai ajaran Katolik. Sikap kasih sayang anak kepada Allah terungkap melalui sikap anak menghargai semua ciptaan Tuhan dan berusaha menjalani hidup sesuai dengan iman Katolik serta nilai-nilai moral Katolik. Sebaliknya, sikap kasih sayang kepada sesama terungkap melalui sikap kepedulian, kepekaan, dan kesediaan anak untuk berbagi dan membantu orang lain. Kenyataannya dalam dunia dewasa ini, peneliti menemukan bahwa masih banyak orang tua Katolik kurang memberi perhatian terhadap pendidikan iman Katolik bagi anak-anaknya. Banyak orang tua Katolik mengabaikan peran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik pertama dan utama iman Katolik bagi anakanaknya. Seringkali orang tua hanya berusaha memenuhi kebutuhan jasmani sedangkan kebutuhan rohani anak kurang mendapatkan perhatian. Permasalahan yang ditemukan peneliti diperkuat oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Handayani . dalam penelitiannya menemukan bahwa orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya menyebabkan kurang memberi perhatian terhadap pendidikan iman anaknya. Wea . dalam penelitiannya menemukan bahwa orang tua tidak menjalankan perannya sebagai pendidik iman Katolik anak secara efektif karena tidak memiliki banyak waktu untuk pendidikan iman anak. Meskipun demikian, para peneliti tersebut hanya memfokuskan diri pada masalah penelitian tentang kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan iman anak dalam keluarga Katolik, sebaliknya hampir tidak banyak mendiskusikan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan iman Katolik anak serta pembentukan sikap kasih sayang anak kepada Allah dan sesama. Latar belakang dan permasalahan ini memberi inspirasi, memotivasi, dan mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan tema AuPendidikan Iman Anak dalam Keluarga Katolik serta Pembentukan Sikap Kasih Sayang Anak Kepada Allah dan SesamaAy. Berangkat dari permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi sejauh mana orang tua memberi perhatian terhadap pendidikan iman Katolik anak dalam keluarga, dan mengukur sejauh mana pendidikan iman Katolik dalam keluarga berpengaruh terhadap pembentukan sikap kasih sayang anak kepada Allah dan sesama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna dan bermanfaat bagi orang tua terkait pentingnya pendidikan iman anak dalam keluarga serta pembentukan sikap kasih sayang anak kepada Allah dan sesama. Tulisan ini membahas dua hal pokok yaitu pendidikan iman Katolik anak dalam keluarga, dan pembentukan sikap kasih sayang dalam diri anak kepada Allah dan sesama. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 II. PEMBAHASAN Kajian Teori Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga Katolik Katekismus Gereja Katolik mengartikan iman sebagai relasi pribadi antara manusia dengan Allah, dan dalam relasi ini manusia senantiasa mengandalkan Tuhan sebagai satu-satunya pegangan hidup. Iman juga dapat diartikan sebagai persetujuan manusia secara bebas terhadap segala kebenaran yang diwahyukan Allah. Iman ini dipandang sebagai suatu anugerah Allah yang diberikan kepada manusia secara cuma-cuma agar manusia dapat memperoleh keselamatan dan kelimpahan hidup dari Allah sendiri (KGK 150, 153, . Iman memiliki peran penting dalam hidup manusia karena iman menjadi pedoman hidup bagi setiap orang beriman. Tanpa iman, manusia mudah goyah dalam menjalani hidup, terutama ketika menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan hidup. Iman ini perlu diajarkan orang tua kepada anak-anak sedini mungkin agar anak memiliki pengetahuan dan penghayatan yang benar tentang iman Katolik seiring pertumbuhan dan perkembangan anak. Iman Katolik yang diajarkan orang tua kepada anak sejak dini dapat membantu menumbuhkan sikap kasih sayang anak kepada Allah dan sesama (KGK 150, 153, . Pendidikan iman merupakan suatu proses menumbuhkan iman dalam diri anak agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia serta memiliki sikap kasih sayang kepada Allah dan sesama. Pendidikan iman Katolik dalam kehidupan seorang anak selalu dimulai dari keluarga terutama dari orang tua. Dokumen Konsili Vatikan II khususnya Gravissimum Educationis artikel 3 menegaskan bahwa orang tua memiliki peran sebagai pendidik pertama dan utama bagi iman anak, karena itu, peran aktif dan perhatian serius orang tua terhadap pendidikan iman anak sangat diperlukan. Pendidikan iman Katolik dalam keluarga dapat dilakukan antara lain melalui doa pribadi dan doa bersama dalam keluarga, membaca dan merenungkan Kitab Suci secara bersama dalam keluarga, menghadiri perayaan Ekaristi secara bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga, melakukan ziarah rohani keluarga. Terkait pelaksanaan pendidikan iman Katolik dalam keluarga Katolik. Familiaris Consortio art. 39 mengatakan sebagai berikut: AyOrang tua, melalui kesaksian hidup mereka, menjadi duta Injil yang pertama bagi anak-anak mereka. Selain itu, dengan berdoa bersama anak-anak, dengan membaca Sabda Allah bersama mereka, dan dengan mengantar mereka melalui inisiasi Kristen, untuk secara mendalam menyatu dengan Tubuh Kristus Ae baik Tubuh Ekaristi maupun Tubuh GerejaAy Berdoa bersama dalam keluarga Katolik merupakan salah satu bagian yang paling penting dan mendasar dalam kaitan dengan pendidikan iman anak. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 berdoa bersama dalam keluarga bertujuan membantu anak membangun relasi pribadi dengan Allah dan mengandalkan Allah sebagai kekuatan hidupnya (Kurniadi dkk, 2022:. Selain berdoa, pendidikan iman dapat dilakukan oleh orang tua kepada anak dengan cara membaca, merenungkan, dan menghayati Kitab Suci secara bersama dalam keluarga. Kitab Suci merupakan Sabda Allah serta sumber utama ajaran tentang iman Katolik. Sabda Tuhan: AuIman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman KristusAy (Rm 10:. , maka mewartakan Firman Tuhan kepada anak-anak menjadi salah satu tugas penting bagi orang tua (KGK 2. Pelaksanaan pendidikan iman Katolik bagi anak-anak dalam keluarga dapat dilakukan juga dengan cara mengajak atau melibatkan anak sejak dini untuk ikut ambil bagian dalam perayaan Ekaristi agar anak-anak semakin mengenal dan mencintai Tuhan. Pendidikan iman dalam keluarga dapat pula dilakukan melalui perilaku hidup dan tutur kata yang baik dari orang tua yang dijiwai oleh nilai-nilai Injil. Hal ini disebabkan anak-anak dapat belajar tentang iman dari orang tua dengan melihat apa yang dilakukan, mendengar apa yang diucapkan, serta mencontohi apa yang dilakukan atau dikerjakan orang tua. Pembentukan Sikap Kasih Sayang dalam Diri Anak Kepada Allah dan Sesama Sikap kasih sayang kepada Allah dalam diri anak pada tempat pertama dibentuk oleh orang tua melalui pendidikan dan keteladanan iman Katolik dalam Pendidikan iman Katolik dalam keluarga dapat diberikan orang tua melalui doa bersama dalam keluarga, membaca dan merenungkan Kitab Suci secara teratur, mengikuti perayaan Ekaristi secara rutin pada hari minggu atau hari raya, mengajak anak mengikuti kegiatan doa dan pendalaman Kitab Suci di lingkungan. Sementara itu, keteladanan iman Katolik orang tua dalam keluarga ditunjukkan melalui hidup penuh penyerahan diri kepada Allah, sikap kasih sayang terhadap anak yang dijiwai oleh iman akan Allah sebagai Bapa yang penuh kasih, dan selalu bersyukur atas berkat Allah. Pembentukan sikap kasih sayang anak kepada Allah dalam keluarga berdampak positif terhadap perkembangan iman anak yang diungkapkan antara lain melalui kecintaan anak terhadap doa semakin besar, semangat dan kemauan anak membaca Kitab Suci semakin bertumbuh, anak semakin rajin menghadiri perayaan Ekaristi bersama orang tua, dan anak semakin terlibat aktif memimpin doa dalam Selain itu, sikap sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, tidak pemarah, tidak menutupi segala sesuatu, saling mencintai, mengampuni serta memaafkan, dan lain sebagainya semakin bertumbuh dan berkembang dalam diri Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Sikap kasih sayang anak kepada sesama dibentuk oleh orang tua dalam keluarga melalui keteladanan hidup orang tua bagi anak-anak dalam keluarga. Orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam keluarga dapat memberikan pendidikan iman Katolik kepada anak melalui teladan hidup yang dijiwai oleh iman Katolik. Bentuk konkret dari keteladanan hidup orang tua antara lain ditunjukkan melalui semangat saling mencintai antara kedua orang tua sebagai suami dan istri, dan sikap kasih sayang antara orang tua dengan anak. Sikap kasih sayang seharihari dalam keluarga ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi anak-anak. Pembentukan sikap kasih sayang kepada sesama dalam diri anak ini memberi dampak positif bagi pembentukan karakter kasih sayang, jujur, menghargai, serta menghormati orang tua. Sebagai contoh, anak semakin mencintai dan menghargai orang tua dan anggota keluarga, anak semakin bersikap jujur serta terbuka terhadap sesama teman dan anggota keluarga, dan memiliki semangat rela berbagi yang semakin bertumbuh dalam diri anak. Pembentukan sikap kasih sayang anak kepada Allah tidak terlepas dari sikap kasih sayang anak kepada sesama. Alasannya ialah sikap kasih sayang kepada Allah yang tidak kelihatan harus diungkapkan melalui sikap kasih sayang kepada sesama yang bisa dilihat, dialami, dan dirasakan secara konkret. Surat Yohanes . Yohanes 4:. Aujikalau seseorang berkata: AuAku mengasihi Allah,Ay dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Ay Santo Yohanes menegaskan bahwa bukti konkret seseorang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah ialah mengasihi sesamanya (Maia, 2019:. Yesus juga menghendaki agar setiap orang mengasihi AuInilah perintah-Ku: yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamuAy (Yoh 15:. Kasih yang dikehendaki Yesus yaitu kasih kepada semua orang tanpa terkecuali, termasuk mengasihi musuh-musuh, orang yang terasingkan, anak-anak, dan kaum miskin. Metode Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah II Paroki St. Yosef Mojokerto. Penentuan lokasi pelaksanaan penelitian ini didasarkan atas beberapa alasan, yaitu: Peneliti berasal dari kota yang sama yaitu Mojokerto sehingga kegiatan penelitian di kota ini dapat dilakukan dengan lebih baik dan lancar, dan penelitian dengan tema ini belum pernah diadakan di Wilayah II Paroki St. Yosef Mojokerto. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah sebuah metode penelitian ilmiah yang dilakukan dalam kondisi objek yang alamiah. Hal ini berarti dalam penelitian ini, peneliti sendiri turun langsung ke lapangan penelitian, bertemu secara langsung dengan para informan, melakukan wawancara dan diskusi dengan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 para informan terkait tema penelitian dalam konteks kehidupan para informan sehari-hari. Alasan peneliti menggunakan metode kualitatif karena metode ini menekankan keaslian sumber data penelitian, artinya metode penelitian ini sangat menantang peneliti untuk terjun langsung ke lapangan penelitian, melakukan wawancara, dan berinteraksi langsung dengan para informan di lapangan penelitian. Keterlibatan langsung peneliti di lapangan ini membantu peneliti untuk memahami secara lebih mendalam situasi dan kehidupan konkret para informan serta pandangan dan pengalaman mereka terkait tema penelitian, yaitu tentang Pendidikan Iman Anak dalam Keluarga Katolik serta Pembentukan Sikap Kasih Sayang Anak Kepada Allah dan Sesama . Sugiyono, 2006:. Para informan dalam penelitian ini terdiri dari suami istri keluarga Katolik yang memiliki anak berusia 7-12 tahun atau anak yang sedang menempuh pendidikan Sekolah Dasar. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini ialah wawancara individual. Sugiyono . mengatakan bahwa wawancara individual ialah pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui kegiatan tanya jawab atau diskusi terkait tema penelitian. Dalam wawancara ini, peneliti menggunakan model wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur adalah bentuk wawancara dimana peneliti sudah menyiapkan sejumlah pertanyaan secara tertulis untuk menjadi pedoman atau pegangan dalam diskusi bersama para informan. Melalui wawancara semi terstruktur ini setiap informan diberi pertanyaan yang sama untuk dijawab (Sugiyono, 2006:. Setelah melakukan pengumpulan data penelitian, peneliti melakukan analisa dan interpretasi data penelitian. Analisa data penelitian adalah upaya peneliti membaca dan mengorganisir seluruh bagian dari data penelitian dengan tujuan untuk menemukan arti dan makna tertentu yang terkandung dalam setiap bagian dari data penelitian. Analisa data penelitian ini bersifat induktif . endekatan khusus ke umu. Hal ini berarti dalam proses analisa data penelitian ini, peneliti terlebih dahulu membaca setiap kepingan data dari masing-masing informan, dan setelah itu membandingkan data penelitian dari satu informan dengan informan lain dengan maksud untuk mendapatkan suatu gambaran umum dan holistik terkait arti dan makna dari data penelitian. Proses analisa data penelitian terdiri dari beberapa tahap yaitu membaca data penelitian, mereduksi data penelitian, melakukan koding terhadap data penelitian, melakukan display terhadap data penelitian, dan melakukan interpretasi terhadap data penelitian . Sugiyono 2006:. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Hasil Penelitian dan Diskusi Pemahaman Tentang Arti Iman Katolik Hasil analisa data penelitian lapangan tentang pemahaman orang tua mengenai arti iman Katolik menunjukkan sebanyak 5 . ,42%) informan berpendapat bahwa iman adalah percaya kepada Allah Tritunggal. Hal ini dapat dilihat dari pandangan I1 yang mengatakan Auiman Katolik yaitu kepercayaan kepada Allah Tritunggal yaitu Bapa. Putra, dan Roh KudusAy. Selanjutnya. I4 mengatakan Auiman Katolik itu ya percaya kepada Allah Tritunggal (Allah Bapa. Allah Putra, dan Allah Roh Kudu. Ay. Terakhir. I7 mengatakan Auiman secara harafiah yaitu kepercayaan kita akan Yesus Kristus sebagai Tuhan kitaAy. Berdasarkan pemahaman para informan tentang iman Katolik, maka dapat disimpulkan bahwa iman merupakan suatu kepercayaan atau penyerahan diri secara utuh kepada Allah Tritunggal. Pendapat para informan ini selaras dengan pandangan Jawamara. Ndihi . yang mengatakan bahwa iman Katolik merupakan suatu keyakinan yang teguh kepada Allah Tritunggal. Konsili Vatikan II dalam Katekismus Gereja Katolik . mengatakan bahwa iman adalah kegiatan manusiawi yang menerima dan mengakui Allah Tritunggal sebagai Tuhan dalam hidupnya. Cara Orang Tua Mengajarkan Iman Katolik Kepada Anak Hasil analisa data penelitian tentang pengalaman konkret orang tua mengajarkan iman Katolik kepada anak-anak dalam keluarga menunjukkan 6 . ,71%) informan mengatakan bahwa para informan mengajarkan iman Katolik kepada anak-anak dalam keluarga dengan cara doa bersama. Tentang hal ini. I1 mengatakan Aupengajaran iman dalam keluarga kami dilakukan dengan cara doa bersama dalam keluarga sejak anak-anak masih kecilAy. Menyusul. I5 mengatakan Aykami mengajarkan iman kepada anak dengan cara menyediakan waktu untuk berdoa bersama secara rutin pada pagi dan malam hariAy. Terakhir. I6 mengatakan bahwa Aykami biasa melakukan doa pagi, doa malam, dan doa rosario secara bersama-samaAy. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat dikatakan bahwa orang tua pada dasarnya mengajarkan iman kepada anak-anaknya dalam keluarga melalui doa-doa yang dilakukan secara bersama dalam keluarga. Pendapat para informan ini selaras dengan pandangan Kurniadi, dkk. yang mengatakan berdoa bersama keluarga adalah cara konkret yang dapat dilakukan oleh orang tua sebagai sarana pendidikan iman Katolik pada anak-anak. Erma & Wilhemus . mengatakan bahwa berdoa bersama keluarga menjadi sarana bagi orang tua untuk mendidik dan menumbuhkan iman anak-anak mereka kepada Allah. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Pemahaman Tentang Arti Sikap Kasih Sayang Hasil analisa data penelitian lapangan mengenai pemahaman orang tua tentang arti sikap kasih sayang kepada sesama menunjukkan sebanyak 5 . ,42%) informan berpendapat bahwa sikap kasih sayang kepada sesama berarti berbuat baik kepada sesama. Terkait hal ini. I1 mengatakan Ausikap kasih sayang kepada sesama berarti menyayangi anggota keluarga, sahabat dan kenalan dalam hidup sehari-hariAy. Selanjutnya. I4 mengatakan Aukasih kepada sesama berarti bersikap baik kepada sesama sebagai citra Allah melalui tutur kata dan perbuatan baikAy. Terakhir. I7 mengatakan Ausikap kasih sayang kepada sesama berarti tidak menyakiti sesama, empati dan peduli kepada sesama, mau menolong sesama, dan membantu orang tua . enyapu, membersihkan meja, dan lainny. di rumahAy. Berdasarkan pandangan para informan di atas, maka dapat dikatakan bahwa sikap kasih sayang kepada sesama berarti menyayangi anggota keluarga, sahabat, dan kenalan dalam hidup, peduli terhadap sesama, serta memandang sesama manusia sebagai citra Allah. Pendapat para informan ini selaras dengan pendapat Bambangan . yang mengatakan bahwa sikap kasih sayang kepada sesama dapat diwujudkan melalui perbuatan baik kepada orang lain, sebagai bukti nyata kasih kita kepada Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Winowa & Marbun . mengatakan bahwa setiap orang yang beriman dipanggil untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada sesama melalui perbuatan-perbuatan baik bagi sesama. Hasil analisa data penelitian mengenai pemahaman orang tua tentang arti kasih sayang kepada Allah menunjukkan sebanyak 3 . ,9%) informan mengatakan sikap kasih sayang kepada Allah berarti mengakui kasih dan kebaikan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Hal ini diungkapkan melalui sikap hidup yang selalu menyampaikan syukur dan terimakasih kepada Allah atas kasih dan kebaikan Allah yang dialami dalam hidup. Terkait hal ini. I1 mengatakan Ausikap kasih sayang kepada Allah berarti mengasihi Allah dengan tulus hati, dan penuh kesadaran. Sikap ini dapat ditunjukkan melalui kebiasan menyampaikan syukur dan terimakasih atas anugerah Allah dalam hidupAy. Selanjutnya. I2 dan I7 mengatakan bahwa sikap kasih sayang kepada Allah ditunjukkan melalui sikap hidup penuh penyerahan diri kepada Allah yang diungkapkan melalui doa dan syukur atas segala kebaikan Allah. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sikap kasih sayang kepada Allah berarti mengasihi Allah dengan tulus hati, penuh kesadaran, bersyukur dan berterimakasih atas anugerah Allah dalam hidup, serta hidup penuh penyerahan diri kepada Allah. Pandangan para informan ini selaras dengan pemahaman Pranoto . yang mengatakan bahwa sikap kasih sayang kepada Allah berarti selalu mengucap syukur dan berterima kasih kepada Allah dalam segala keadan. Nenosono & Subagio . mengatakan bahwa Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 mengucap syukur dan berterimakasih kepada Allah dalam segala keadaan merupakan wujud dari sikap hidup penuh kasih dan sayang kepada Allah. Cara Orang Tua Menumbuhkan Sikap Kasih Sayang dalam Diri Anak Kepada Allah dan Sesama Hasil analisa data penelitian lapangan mengenai cara menumbuhkan sikap kasih sayang kepada sesama dalam diri anak menunjukkan sebanyak 5 . ,42%) informan berpendapat bahwa menumbuhkan sikap kasih sayang kepada sesama dalam diri anak dilakukan dengan cara mengajak anak untuk berbagi. Terkait hal ini. I3 mengatakan Aucinta kepada sesama kami ajarkan kepada anak-anak dengan cara menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama dalam diri anakAy. Menyusul. I5 mengatakan Ausaya menumbuhkan sikap kasih sayang kepada sesama dalam diri anak dengan cara mengajarkan anak untuk berani berbagiAy. Terakhir. I6 mengatakan Ausikap kasih sayang kepada sesama diajarkan dengan cara memberikan contoh dan nasihat kepada anak untuk berbagi dengan sesamaAy. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat dikatakan bahwa orang tua menumbuhkan sikap kasih sayang kepada sesama dalam diri anak dengan cara memberikan contoh, nasihat, dan keberanian kepada anak untuk belajar berbagi dengan sesama dalam hidup. Pandangan ini selaras dengan pendapat Simangunsong & Simanjuntak, . 3:12. yang mengatakan bahwa mengasihi sesama dapat diwujudkan dengan cara belajar dan berani berbagi dengan sesama. Waruwu, . mengatakan bahwa untuk menumbuhkan sikap kasih sayang kepada sesama dalam diri anak, orang tua perlu mengajarkan anak untuk mau berbagi dengan orang lain sebagaimana diajarkan dan dihayati oleh Yesus sendiri. Hasil analisa data penelitian mengenai cara menumbuhkan sikap kasih sayang kepada Allah dalam diri anak menunjukkan sebanyak 3 . ,9%) informan mengatakan bahwa mereka telah berupaya menumbuhkan sikap kasih sayang kepada Allah dalam diri anak dengan cara mengajak anak untuk mengikuti perayaan Ekaristi bersama. Terkait hal ini. I2 mengatakan Ausaya mengajarkan anak untuk mencintai Allah dengan cara mengajak dan mendorong anak untuk mengikuti perayaan EkaristiAy. Selanjutnya. I3 mengatakan AuKami tumbuhkan sikap kasih kepada Allah dalam diri anak dengan cara mengajarkan anak untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui perayaan EkaristiAy. Terakhir. I6 mengatakan Aukami menumbuhkan sikap kasih sayang dalam diri anak kepada Allah dengan cara mengajak anak untuk mengikuti perayaan EkaristiAy. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat dikatakan bahwa orang tua menumbuhkan sikap kasih sayang kepada Allah dalam diri anak dengan cara mengajak anak mendekatkan diri kepada Allah melalui doa dan juga perayaan Ekaristi. Pandangan ini selaras dengan pendapat Ardijanto, . yang mengatakan bahwa Ekaristi merupakan sumber kasih yang dapat menuntun umat Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 beriman termasuk anak-anak untuk mengasihi Allah dan Yesus dalam Roh Kudus. Supriyadi, . mengatakan bahwa kasih sayang kepada Allah merupakan ciri khas iman Kristiani. Sikap kasih sayang kepada Allah ini dapat ditumbuhkan dalam diri anak dengan cara mendekatkan anak kepada Allah melalui perayaan Ekaristi. Pengaruh Pengajaran Iman Terhadap Pembentukan Sikap Kasih Sayang dalam Diri Anak Kepada Allah dan Sesama Hasil analisa data penelitian mengenai pandangan informan tentang pengaruh pengajaran iman kepada anak dalam keluarga terhadap pembentukan sikap kasih sayang kepada Allah dan sesama menunjukkan 4 . ,14%) informan menyatakan bahwa iman yang diajarkan sangat berpengaruh terhadap sikap berbagi anak dengan sesamanya. Terkait hal ini. I2 mengatakan Auiman yang saya ajarkan kepada anak di rumah dan di sekolah itu bisa membentuk pribadi anak. Iman membuat anak-anak mulai memiliki rasa ingin berbagi dengan saudarasaudaranyaAy. Selanjutnya. I3 mengatakan Aupengajaran iman dalam keluarga berpengaruh terhadap sikap kasih sayang anak kepada sesama. Kalau di rumah mereka bisa berbagi dengan saudaranyaAy. Terakhir. I4 mengatakan Aumengajarkan iman kepada anak itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap kasih sayang anak-anak kepada sesama. Anak-anak juga mulai belajar berbagi bekal dan uang sakunya sama teman-temannya yang tidak bawa uang atau bekalAy. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa iman yang diajarkan kepada anak-anak di rumah membuat anak-anak semakin memiliki sikap kasih sayang dalam keluarga dan di sekolah. Hal ini dapat terlihat dari sikap dan semangat berbagi makanan atau bekal dengan saudara-saudara dalam keluarga dan juga dengan teman-teman di sekolah. Pandangan ini selaras dengan pendapat Naibaho dkk, . yang mengatakan bahwa iman Kristiani mendorong setiap orang untuk berbagi, termasuk memberi makanan, sebagai wujud nyata kasih kepada sesama. Kurniati & Supriyadi, . mengatakan pengajaran iman kepada anak membantu anak mengembangkan sikap peduli, misalnya mau berbagi makanan dengan teman sebayanya. PENUTUP Kesimpulan Para informan berpendapat bahwa iman Katolik adalah kepercayaan yang teguh kepada Allah Tritunggal (Bapa. Putra, dan Roh Kudu. yang diwujudkan dalam hubungan pribadi yang mendalam dengan Allah melalui doa, perbuatan baik, dan pelayanan kasih. Iman ini menjadi pedoman hidup yang membimbing umat agar tetap setia menjalankan ajaran Yesus Kristus dan Gereja Katolik dalam hidup sehari-hari. Dalam hal pengajaran iman kepada anak, para informan mengungkapkan bahwa mereka melakukannya melalui berbagai cara antara lain: Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 mengajarkan anak-anak berdoa sejak usia dini, mengajak anak-anak berdoa bersama serta beribadah di Gereja, memberikan teladan hidup yang baik sesuai dengan ajaran iman Katolik. Selain itu, orang tua juga memberi nasihat kepada anak-anak yang dijiwai oleh nilai-nilai Injil, mengajak anak terlibat dalam kegiatan Gereja, menyekolahkan anak di sekolahan Katolik guna memperdalam dan memperkokoh iman mereka, serta membaptis anak secara Katolik. Para informan mengatakan sikap kasih sayang kepada sesama berarti berbuat baik kepada sesama, menghargai dan menghormati sesama sebagai makhluk ciptaan Allah sendiri. Sebaliknya, sikap kasih sayang kepada Allah berarti hidup penuh penyerahan diri kepada Allah, mengandalkan Allah sebagai kekuatan hidup, bersyukur dan berterimakasih atas segala anugerah Tuhan, taat pada rencana dan kehendak Allah. Sikap kasih sayang kepada Allah ini dapat diungkapkan secara konkret melalui semangat hidup penuh syukur dan selalu dekat dengan Tuhan yang diungkapkan melalui doa. Para informan mengatakan cara menumbuhkan sikap kasih sayang dalam diri anak kepada Allah dapat dilakukan melalui berbagai cara yaitu mengikuti perayaan Ekaristi dan mengajak anak agar terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan Gerejani seperti kegiatan BIAK, doa lingkungan dan lain-lain. Sebaliknya, sikap kasih sayang kepada sesama dalam diri anak dapat ditumbuhkan melalui berbagai cara yaitu mengajarkan anak untuk berbagi, melayani, menghargai serta berempati kepada sesama. Para informan mengakui iman yang diajarkan kepada anak dalam keluarga terbukti berpengaruh secara signifikan dalam membentuk sikap kasih sayang anak kepada Allah dan sesama. Pengaruh tersebut terlihat dari berbagai tindakan anak, seperti sikap berbagi dan peduli kepada sesama, kemampuan berempati, kebiasaan berdoa dan bersyukur kepada Allah, kesadaran akan kehadiran Allah dan penyerahan diri kepada Allah, dan lain-lain. Saran Bagi Orang Tua Hasil penelitian mengungkapkan orang tua menghadapi berbagai tantangan dalam mendidik iman Katolik anak-anak mereka, seperti pengaruh negatif dari teman sebaya, rasa malas anak, penggunaan handphone yang berlebihan, keterbatasan waktu akibat kesibukan kerja, kesulitan menjalin kerja sama dengan anak, sikap intoleransi, serta kurangnya pemahaman iman Katolik yang mendalam. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberi saran kepada orang tua untuk memperkuat peran sebagai pendidik utama dalam keluarga dengan cara menciptakan rutinitas doa bersama, secara rutin menghadiri perayaan Ekaristi bersama anak-anak, serta memberikan teladan hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai dan ajaran iman Katolik. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Hasil analisa data penelitian menunjukkan sejumlah orang tua masih mengalami kesulitan dalam mendidik iman Katolik kepada anak dalam keluarga. Hal ini disebabkan karena orang tua memiliki keterbatasan pengetahuan tentang iman dan tidak memiliki metode pembinaan yang baik bagi anak-anak dalam Berdasarkan masalah ini, maka diusulkan kepada komisi pastoral keluarga Paroki St. Yosef. Mojokerto untuk memberi pendalaman tentang iman Katolik kepada orang tua serta memberikan pelatihan tentang cara mengajarkan iman Katolik secara praktis dan menyenangkan bagi anak-anak di rumah. Program pelatihan ini akan sangat membantu orang tua dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pembina iman anak dalam keluarga. DAFTAR PUSTAKA