Karakteristik Peternak Sapi Potong dalam Mendeteksi Birahi yang Menjalankan Inseminasi Buatan di Kecamatan Campalagian (Characteristics of Cattle Farmers in Detecting Estrus using Artificial Insemination in Campalagian Distric. Aco Ridamsyah. Ruth Dameria Haloho*. Deka Uli Fahrodi Program Studi Peternakan. Fakultas Peternkan dan Perikanan. Universitas Sulawesi Barat *Corresponding author: ruthdameria. haloho@unsulbar. ABSTRACT The aim of this study was to evaluate the characteristics of beef cattle farmers implementing artificial insemination (AI). The research was conducted in Campalagian District. The study employed a survey method with a total of 73 AI adopters as respondents. Data were analyzed descriptively. The results of the study revealed the following characteristics of farmers implementing AI: 40 farmers . 74 %) were aged between 40 and 60 years, 40 farmers . 79 %) had completed elementary school education, 67 farmers . 78 %) worked as farmer-livestock keepers, and 30 farmers . 09 %) had been involved in livestock farming for 15 Ae 20 years. It could be concluded that the farmers implementing AI were still within the productive age range, their level of education was relatively low, they had considerable experience in livestock farming, and the majority worked as farmer-livestock keepers. Keywords: Artificial insemination. Beef cattle farmers. Characteristics ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi karakteristik peternak sapi potong yang menjalankan inseminasi buatan (IB). Lokasi penelitian berada di Kecamatan Campalagian. Metode penelitian adalah metode survei. Jumlah responden sebanyak 73 akseptor IB. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik peternak yang menjalankan IB adalah: sebanyak 40 . ,74 %) Peternak berusia 40 Ae 60 tahun, sebanyak 40 . ,79 %) peternak berpendidikan SD, sebanyak 67 . ,78 %) bekerja sebagai petani-peternak, sebanyak 30 . ,09 %) telah beternak selama 15 Ae 20 tahun. Berdasarkan karakteristik peternak maka dapat disimpulkan bahwa usia peternak dalam menjalankan IB masih produktif, tingkat pendidikan masih rendah, lama pengalaman beternak cukup tinggi, dan hampir semua pekerjaan dijalankan sebagai petani-peternak. Kata Kunci: Inseminasi buatan. Karakteristik. Peternak sapi potong AProsiding Seminar Nasional PKP I 2024 Pendahuluan Permintaan akan prodak hewani khususnya daging sapi potong semakin meningkat seiring dengan pertambahan jumlah populasi penduduk yang semakin meningkat. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) , sepanjang tahun 2022 Indonesia melakukan impor daging dengan berat 225,6 ribu ton . Upaya dalam meningkatkan populasi ternak sapi potong untuk mencapai swasembada daging sapi terus dilakukan, salah satunya dengan memanfaatkan sumber daya lokal. e-ISSN: 3090-305X Pemanfaatan teknologi inseminasi buatan (IB) dapat digalakkan dalam upaya mencapai target swasembada daging sapi tersebut. IB adalah salah satu teknologi tepat guna untuk meningkatkan produktifitas ternak . Kabupaten Polewali Mandar adalah salah satu wilayah potensial untuk pengembangan usaha ternak sapi potong. Populasi ternak sapi potong di Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2022 berjumlah 35. 882 ekor. Populasi ternak sapi potong di Kabupaten Polewali Mandar Kabupaten Polewali Mandar terbagi atas 16 kecamatan, salah satu di antaranya Ridamsyah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 102 Ae 105 adalah Kecamatan Camapalagian. Populasi Kecamatan Camapalagian pada tahun 2020 sebanyak 370 ekor sedangkan pada tahun 2022 860 ekor . Data tersebut menunjukkan bahwa populasi ternak sapi potong khususnya di Kecamatan campalagian pada tahun 2021 hingga 2022 mengalami penurunan sebanyak 510 ekor. Hal-hal yang mempengaruhi karakteristik peternak sapi potong dalam mendeteksi birahi adalah umur, tingkat pendidikan, pengalaman beternak, dan pekerjaan. faktor yaitu umur Sehingga perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengkaji karakteristik sosial peternakan sapi potog di Kecamatan Campalagian. Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait di Kabupaten Polewali Mandar. Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis secara desktiptif kuantitatif . , kemudian di perbandingan dengan hasil penelitian yang Hasil dan Pembahasan Karakteristik hubungan dengan keterlibatannya dalam mengelola usaha ternak. Karakteristik peternak perlu diperhatikan untuk mengetahui respon setiap peternak dalam mengadopsi suatu teknologi. Karakteristik peternak sebagai individu perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah berpengaruh terhadap inovasi yang . Hasil karakteristik peternak sapi yang menjalankan IB di Kecamatan Campalagian disajikan pada Tabel 1. Metode Penelitian Waktu dan Tempat Penelitian dilakukan di Kecamatan Campalagian. Kabupaten Polewali Mandar. Sulawesi Barat, yang berlangusng dari bulan Mei hingga Juni 2024. Tabel 1. Karakteristik peternak sapi potong yang menjalankan IB di Kecamatan Campalagian Populasi dan Sampel Populasi pada penelitian ini adalah seluruh peternak yang mengadopsi IB (Akseptor IB). Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah 73 orang dari keseluruhan peternak yang mengadopsi IB di Kecamatan Campalagian. Kabupaten Polewali Mandar. No. Keterangan Umur . Tingkat Pekerjaan Jumlah ternak . Lama beternak . Variabel yang Diamati Variabel yang diamati yaitu karekteristik peternak sapi potong. Karakteristik peternak yang diamati meliputi: usia, tingkat pendidikan, pekerjaan utama peternak, status kepemilikan ternak, jumlah ternak yang dimiliki, dan cara pemeliharaan. Prosedur Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei untuk memperoleh data primer dan data sekunder. Pengambilan data primer dilakukan melalui teknik wawancara langsung atau secara terbuka dengan pemilik ternak sapi potong berdasarkan daftar pertanyaan yang telah disiapkan dalam bentuk kuesioner Kriteria 20 Ae 40 41 Ae 60 61 Ae 70 71 Ae 80 Tidak sekolah SMP SMA Perguruan Tinggi Petani Wiraswasta Nelayan 1Ae3 4Ae7 >10 1Ae5 5 Ae 10 11 Ae 15 16 Ae 20 >20 Jumlah Keterangan: Data primer yang telah diolah . Umur Peternak Responden yang berusia 20 Ae 40 tahun sebanyak 21 peternak, jumlah peternak yang Ridamsyah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 102 Ae 105 berada pada usia 41 Ae 60 tahun sebanyak 40 peternak, artinya usia rata-rata responden berada pada usia produktif. Usia yang berkisar antara 40 Ae 60 tahun akan memudahkan seorang petani peternak dalam berfikir dan Semakin tinggi usia seorang peternak maka proses berfikir akan semakin dewasa dan lebih mempertimbangkan setiap tindakannya. Usia 40 Ae 60 tahun merupakan usia produktif karena fisik dan mental masih kuat dalam mengelolah produktifitas ternak . Daya tangkap dan pola pikir seseorang dipengaruhi oleh pertambahan usia, semakin bertambah usia seseorang maka akan meningkatkan pula daya tangkap dan pola fikirnya sehingga pengetahuan yang diperoleh pun semakin baik . sebagai petani/peternak yang diperoleh dari hasil penelitian cendrung lebih banyak, yaitu sebanyak 67 orang. Pekerjaan berternak dan bertani tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling berkaitan. Usaha diselaraskan dengan usaha pertanian karena kedua usaha tersebut saling mengisi . Pekerjaan mendeteksi birahi, pekerjaan sebagai petani peternak akan lebih gampang dan lebih sering mengecek . birahi pada ternaknya karena kesehariannya yang lebih sering berada di kebunnya. Dilla et al. menyatakan bahwa wiraswasta berbeda dengan PNS yang memungkinkan mereka lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerjanya atau kantor mereka. Tingkat Pendidikan Jumlah Kepemilikan Ternak Tingkat pendidikan peternak. Pendidikan responden yang berada pada tingkat Sekolah Dasar (SD) sebanyak 40 orang, 10 orang responden berada pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), 15 orang berada pada pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) sedangkan 5 orang peternak tidak mendapatkan pendidikan dan tiga orang lainnya berada pada Perguruan Tinggi (PT). Semakin tinggi pendidikan seorang peternak maka diharapkan kemampuannya dalam mengadopsi teknologi lebih baik. Peternak yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan memiliki semangat yang tinggi dalam berusaha. Tingkat pendidikan juga berpengaruh dalam kemampuan berfikir sehingga akan mempengaruhi pengembangan usaha dan taraf kehidupan seseorang. Dilla et . menyatakan bahwa peternak yang memiliki latar belakang berpendidikan akan lebih mengetahui dan memiliki wawasan luas sehingga lebih mudah dalam menerima dan memanfaatkan inovasi untuk membantu kelancaran usahanya. Kepemilikan ternak paling sedikit atau terendah berjumlah 1 Ae 3 ekor dan kepemilikan ternak sapi potong terbanyak berjumlah 20 Berdasarkan Tabel 1. Responden dengan kepemilikan sapi yang berkisar antara 1 Ae 3 ekor sebanyak 41 orang, 29 responden memiliki sapi 3 Ae 7 ekor dan yang memiliki sapi 10 ekor ke atas hanya berjumlah tiga Kementrian Pertanian . menyatakan bahwa jumlah kepemilikan sapi potong <5 ekor dengan tujuan pembiasaan atau hanya sampingan termasuk usaha mikro. Lama Berternak Pengetahuan Peternak Sumber Peternak yang berternak selama 1 Ae 5 tahun sebanyak 11 peternak, 5 Ae 10 tahun sebanyak 15 peternak, 10 Ae 15 tahun sebanyak 30 peternak, 15 Ae 20 tahun sebanyak 13 peternak dan 4 orang berpengalaman di atas 20 Sumber pengetahuan dalam berternak berdasarkan data pada Tabel 1, menunjukkan pengetahuan tentang usaha peternakan dari penyuluh sebanyak 10 orang responden dan 63 orang lainnya berdasarkan pengetahuan turuntemurun dari orang terdahulu. Peternak yang memiliki pengalaman lebih lama dapat memberikan dampak baik dalam mengelola usaha ternak sapi potong, menggunakan pengalaman dapat menghambat Pekerjaan Peternak Pekerjaan utama peternak. Jumlah responden sebanyak 73 orang diketahui masyarakat yang bermata pencaharian pokok sebagai petani peternak sebanyak 67 orang, lima orang sebagai wiraswasta dan sebagai nelayan satu orang. Responden yang bekerja Ridamsyah et al. | Seminar Nasional PKP I . : 102 Ae 105 adopsi sebuah teknologi baru. Peternak yang sudah berada pada zona nyaman akan sulit menerima inovasi baru . Responden yang memelihara ternak dari usia muda dan cukup lama bahkan sampai 20 tahun ke atas kebanyakan melanjutkan pemeliharaan ternak yang dilakukan oleh pemeliharaannya pun didapatkan secara turuntemurun. Semakin lama pengalaman yang dimiliki oleh seorang peternak dalam berternak maka pengetahuan yang diperoleh hingga mereka dapat menentukan pola pikir mengelola usahanya juga semakin banyak . inseminasi buatan (IB). Jurnal Triton. , 81Ae88. Kastalani. Torang. dan Kurniawan. Tingkat inseminasi buatan (IB) pada peternakan sapi potong di Kelurahan Kalampangan Kecamatan Sabangau Kota Palangka Raya. Jurnal Ilmu Hewani Tropika. 8, 2 , 82Ae88. Kementrian Pertanian. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14 Tahun 2020 tentang Pendaftaran dan Perizinan Usaha Peternakan. Kementrian Pertanian. Indonesia. Kurnia. Riyanto. dan Kristant. Pengaruh umur, pendidikan, kepemilikan ternak dan lama beternak terhadap perilaku pembuatan MOL isi rumen sapi di KUT Lembu Sura. JPPM: Jurnal Penyuluhan Pembangunan. 1, 2 , 40Ae49. Makatita. Isbandi dan Dwidjatmiko. Tingkat efektivitas penggunaan metode penyuluhan pengembangan ternak sapi potong di Kabupaten Buru Provinsi Maluku. Agromedia: Berkala Ilmiah Ilmu-ilmu Pertanian. 32, 2 , 64Ae74. Populasi Ternak Menurut Kecamatan dan Jenis Ternak (Uni. , 2023: 2024. https://polewalimandar id/id/statistics-table/2/ MTUxIzI=/populasi-ternak-menurutkecamatan-dan-jenis-ternak-. Sugiyono 2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Sumarwan. Prilaku Konsumen: Teori dan Penerapan dalam Pemasaran. Ghalia Indonesia. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa usia peternak dalam menjalankan IB masih produktif. Tingkat pendidikan masih rendah, lama pengalaman beternak cukup tinggi, hampir semua pekerjaan sebagai petani peternak. Daftar Pustaka