ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Volume 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 GANESHA: KAJIAN ESTETIKA HINDU Page 37-43 Oleh: Ni Ketut Riska Dewi Prawita1 Ida Kade Suarioka2 Komang Agus Triadi Kiswara3 I Wayan Dikse Pancane4 Universitas Hindu Indonesia1,2. Universitas Pendidikan Nasional3 riskadewiprawita@gmail. Proses Review 7-25 September. Dinyatakan Lolos 26 September Abstract In the Hindu perspective, art has a very important position, because it cannot be separated from the religiosity of Hindu society. It can be said that art cannot be separated from the context of Hindu One of the sacred works of art that can be found in the area of AUAUthe house is the statue of Ganesha, which is believed to be a medium of worship. Hindus believe that the medium of worship is very important in getting closer to Ida Sang Hyang Widhi Wasa. In this belief, the medium of worship is wrapped in a single unit of Satyam. Sivam, and Sundaram. In the teachings of Hinduism, the emphasis is on dialectic which always places truth containing chastity and beauty, beauty must contain chastity and truth, and chastity must contain truth and beauty. Keywords: Art. Ganesha. Hinduism Aesthetic Abstrak Dalam perspektif Hindu, kesenian mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena tidak dapat dipisahkan dengan religiusitas masyarakat Hindu. Dapat dikatakan bahwa seni tidak dapat lepas dengan konteks estetika Hindu. Salah satu karya seni sakral yang dapat ditemukan di area rumah adalah arca Ganesha, yang dipercayai sebagai media pemujaan. Umat Hindu meyakini bahwa media pemujaan sangat penting dalam mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam keyakinan tersebut, media pemujaan tersebut dibungkus dalam satu kesatuan Satyam. Sivam, dan Sundaram. Dalam ajaran agama Hindu yang ditekankan adalah dialektika yang selalu menempatkan kebenaran mengandung kesucian dan keindahan, keindahan harus mengandung kesucian dan kebenaran, dan kesucian harus mengandung kebenaran dan keindahan. Kata kunci: Seni. Ganesha. Estetika Hindu Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 PENDAHULUAN Kepercayaan manusia akan Sang Brahma yang telah nyata dan bertumbuh dari manusia dengan mulai memikirkan hal di luar kehidupan saat ini. Keyakinan Hindu memiliki banyak devosi dan ritual yang terkait dengan banyak filosofi agama. Dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan serta memahami hakikat agama Hindu, umat Hindu merepresentasikan Tuhan dengan berbagai macam simbol (Ardiyasa. Berdasarkan hal tersebut, orang mulai percaya pada kekuatan maha kuasa yang secara metaforis menampilkan kelebihan ini menjadi sebuah personifikasi. Untuk memudahkan pemahaman dan kepercayaan seseorang terhadap Tuhan, maka manusia dapat dengan lebih mudah memusatkan dan mendekatkan diri pada Tuhan melalui karya seni yang dijadikan sebagai simbol dan media Keterbatasan manusia yang tak mampu membayangkan wujud Tuhan ketika hendak memuja-Nya, diwujudkan Tuhan dalam sebuah karya seni. Dalam perspektif Hindu, kesenian mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena tidak dapat dipisahkan dengan religiusitas masyarakat Hindu. Dapat dikatakan bahwa seni tidak dapat lepas dengan konteks estetika Hindu. Hal tersebut ditegaskan oleh Sugriwa . bahwa seni Hindu di Bali, yang terus berkembang hingga saat ini, pada hakikatnya adalah keturunan atau cabang dari agama Hindu Bali. Salah satu kesenian yang dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah seni rupa, patung atau arca. Patung diukir sedemikian rupa sebagai ekspresi estetika, etika, dan sikap relegius orang-orang Hindu di Bali. Patung sebagai karya seni rupa memiliki fungsi yang berbeda, yakni sakral dan profan. Patung yang paling sering ditemui di area rumah adalah Ganesha. Ganesha adalah salah satu dewa Hindu paling terkenal yang memiliki kepala gajah, perut besar dan empat lengan. Ganesha adalah putra tertua dari Parvati dan Siva. Keyakinan umat Hindu dalam memuja Dewa Ganesha sebagai representasi Sang Hyang Widhi Wasa, sesungguhnya belum sepenuhnya memahami hakikat dan esensi yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan penge38 Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X tahuan tentang ajaran agama Hindu serta masih kental dengan istilah Aunak mule ketoAy. Fenomena tersebut sangat menarik untuk dibahas dan dikaji lebih dalam, guna memperdalam pemahaman masyarakat terhadap keberadaan Ganesha secara utuh dalam kaitannya dengan agama Hindu, terutama unsur estetika Hindu (Satyam. Sivam. Sundara. yang terkandung pada Ganesha. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode deskriptif melalui tinjauan pustaka. Tujuan penelitian hakekatnya berkaitan dengan masalah yang akan dijawab, yakni mengungkap gejala secara menyeluruh dan sesuai konteks Ganesha dalam kajian estetika Hindu. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan beberapa sumber pustaka . rtikel, buku, informasi dari interne. yang relevan dengan topik penelitian. Berdasarkan sumber dokumen-dokumen tersebut, analisis sederhana dilakukan dan disajikan dalam bentuk artikel. PEMBAHASAN Ganesha dalam Kajian Estetika Hindu Masyarakat Hindu memiliki identitas dan ciri khas yang tercermin dari sistem religi, upacara keagamaan, dan sistem kesenian. Ketiga hal tersebut merupakan bagian dari unsur kebudayaan yang memegang peranan penting dalam kehidupan beragama masyarakat Hindu di Bali. Umat Hindu tidak pernah lepas dengan pelaksanaan upacara agama yang selalu melibatkan berbagai macam seni. Salah satu seni yang tidak lepas dengan agama adalah seni rupa, seperti candi, artefak, arca, relief, dan simbol lainnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa simbol merupakan media pemujaan yang diyakini oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi-Nya. Masing-masing simbol suci memiliki nilai estetika yang dapat memberikan kesan takjub pada setiap orang yang melihatnya. Hal senada juga diuraikan oleh Titib . bahwa agama Hindu sangat kaya dengan berbagai simbol yang indah sehingga menarik hati setiap orang yang melihatnya. Bagi GANESHA: KAJIAN ESTETIKA HINDU Ni Ketut Riska Dewi Prawita | Ida Kade Suarioka Komang Agus Triadi Kiswara | I Wayan Dikse Pancane ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X umat Hindu, simbol-simbol tersebut menggetarkan kalbu serta berusaha untuk memahami makna yang terkandung dibalik simbol-simbol Simbol-simbol tersebut diyakini oleh umat Hindu sebagai media untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, berdialog dengan-Nya, dan memohon perlindungan serta waranugrahaNya. Salah satu simbol suci yang sering dijumpai adalah berupa patung atau arca. William Gaunt . alam Sudarso, 1976: . berpendapat bahwa istilah AupatungAy dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin AusculptilisAy, yang berarti AupatungAy atau AuarcaAy. Menurut Ensiklopedi Umum . 3:1. , patung adalah seni rupa yang menunjukkan pengalaman artistik melalui bentuk tiga dimensi. Walaupun ada juga yang dianggap sebagai seni pakai, patung adalah karya tiga dimensi sehingga berada di dalam ruang. Patung suci yang paling sering dijumpai di area dalam rumah adalah Ganesha. Keberadaan patung Ganesha dapat difungsikan sebagai keyakinan umat Hindu sebagai media pemujaan kepada manifestasi dari Tuhan, atau sebagai sebuah hiasan dan dekorasi. Terkait hal ini, dalam Bhagawad Gita 4. 11 juga disebutkan: Ye yatha mam, prapadyante tams, tathaiva bhajamy aham, mamavartmanuvartante, manusyah partha sarvauah Terjemahan: Dengan jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku. Aku memberinya anugerah setimpal. Semua oran g mencariKu dengan berbagai jalan, wahai putera Partha. Mengacu pada fungsinya sebagai media pemujaan, arca Ganesha mengandung nilai-nilai estetika yang bersumber dari agama Hindu. Estetika dalam kebudayaan Hindu memiliki posisi yang sangat penting, karena kehidupan masyarakat Hindu dalam beragama tidak dapat lepas dari kesenian. Hal tersebut senada dengan ungkapan Triguna . 3: . yang menyatakan bahwa nilai-nilai luhur budaya Bali, terutama nilai estetika pada seni yang berasal dari agama Hindu, akan melekat pada setiap karya kreatif GANESHA: KAJIAN ESTETIKA HINDU Ni Ketut Riska Dewi Prawita | Ida Kade Suarioka Komang Agus Triadi Kiswara | I Wayan Dikse Pancane https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Bali. Istilah AuestetikaAy, yang berasal dari bahasa Yunani AuaesthesisAy, dapat diartikan sebagai rasa nikmat dan indah yang dihasilkan melalui penerapan panca indra (Djelantik, 1995: . Pada intinya, estetika Hindu merupakan cara pandang mengenai rasa keindahan . yang diikat dengan nilai-nilai keagamaan Hindu yang didasarkan dengan ajaran kitab suci Veda. Granoka . 8: . , menjelaskan bahwa estetika Hindu di Bali dapat digolongkan menjadi tiga kelompok besar yang disebut tiga wisesa, yaitu AosatyamAo kebenaran. AosivamAo kesucian. AosundaramAo keindahan. Berikut adalah uraian mengenai nilai-nilai estetika Hindu dalam arca Ganesha. Konsep Satyam (Kebenara. dalam Arca Ganesha Menurut Granoka . , kebenaran . adalah bentuk dari kebenaran produk seni yang dihasilkan. Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran implementasi yang mengalir dari Teologi Hindu, mitologi atau cerita, simbolsimbol dalam bentuk Ganesha sebagai karya seni rupa khususnya patung atau arca, baik dalam fungsinya sebagai seni profan, maupun seni Mengacu pada konsep kebenaran . , dapat dijelaskan beberapa hal penting, yaitu mitologi Ganesha dalam karya seni rupa, serta makna simbol dari Ganesha. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh teologi Hindu, yakni ilmu yang mempelajari mengenai Tuhan dalam Veda . itab suci Hind. Mitologi Ganesha Kelahiran Ganesha dan Mendapatkan Kepala Gajah Beberapa sumber tertulis menceritakan cerita mitologis tentang Ganesha. Setiap referensi yang membahas keberadaan Ganesha memberikan informasi yang beragam tentang sejarah kelahirannya, kehidupannya, dan kebajikan yang dilakukannya. Sehubungan dengan untaian cerita yang diakui secara umum. Ganesha digambarkan sebagai putra Sang Hyang Siva yang berwujud Devata dengan badan menyerupai manusia dengan kepala gajah. Dewa Ganapati atau Ganesha ditunjuk oleh Sang Hyang Siva sebagai pemimpin para Gana, yang merupakan pengikut Sang Hyang Siva. Oleh karena itu, dewa ini diseVol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 but Ganapati atau Ganadipa. Namun, sumber lain, seperti Linga Purana (Rao, 1968 : 35 dalam Titib, 2009 : . , menyebutkan bahwa Siva menciptakan Ganesha atas permintaan Indra dan dewa lain. Dalam suatu peristiwa, para dewa menyerang pasukan asura dan raksasa yang sangat kuat atas anugrah Siva. Siva, yang sangat dipuja oleh Asura, merasa senang sehingga mengabulkan permintaan asura agar menjadi makhluk yang tidak dapat Asura menjadi sombong dan berniat mengambil alih sorga, rumah para dewa. Sebagai hasil dari serangan bala tentara Asura dan raksasa, para dewa tidak dapat menghentikan serangan mereka. Mereka meminta bantuan Siva untuk mencegah hal itu terjadi. Para dewa berbondong-bondong menghadap Siva dan meminta Siva menciptakan makhluk yang dapat melawan kekuatan asura untuk menghentikan serangan mereka. Setelah itu. Siva memberikan sebagian kekuatan-nya dalam bentuk seorang pemuda tampan yang dilahirkan oleh Parvati. Melihat putranya yang tampan. Parvati sangat bangga. Siva menamai anak itu Vighnesvara dan memerintahkannya untuk menghalangi dan mengalahkan para asura dan raksasa. antara para Dewa, ada seorang yang tidak mau melihat Vighnesvara, atau Sani (Saturnu. , karena dia dikutuk oleh istrinya. Parvati memberi tahu Sani bahwa itu tidak akan terjadi pada putranya, jadi Sani dengan berat hati menatap Vighnesvara. Namun, yang tidak dapat diprediksi adalah kepala pemuda itu hancur menjadi Setelah itu. Brahma menghibur Parvati dengan mengatakan bahwa dia akan menyelamatkan putranya dengan menemukan kepala binatang yang pertama kali ditemukan. Setelah menemukan gajah. Visnu memenggal kepalanya dan meletakkannya di leher Vighnesvara. Dia kemudian diberi nama Ganesha. Kitab Matsya Purana dan Skanda Purana (Rao, 1968: 41. Getty, 1971: 5 dalam Titib, 2009: menceritakan tentang kelahiran Ganesha dalam wujud manusia berkepala gajah. Pada masa antara Dvaparayuga dan Kalkiyuga, wanita, kaum sudra, dan orang yang melakukan dosa melakukan Tirthayatra ke pura Somesvara untuk masuk ke kahyangan. Indra meminta Siva untuk merintangi mereka, tetapi Siva tidak dapat menarik kembali anugrah yang telah di40 Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Jadi. Siva menyarankan agar Indra meminta belas kasihan Parvati. Para Dewa kemudian meminta belas kasihan Parvati dan memberikan puji-pujian kepadanya. Parvati senang dengan persembahan para Dewa dan mengabulkan permintaan Indra. Dia kemudian menggerakkan tubuhnya. Tiba-tiba muncul makhluk dengan empat tangan dan kepala gajah. Sebagai Ganesha. Vinayaka. Siddhi, dan Buddhi. Parvati menyebutnya Ganapati. Vinayaka harus dipuja pada hari keempat tiap pertengahan bulan, kata sang dewi. Orang yang memuja Vinayaka tidak akan kesulitan mendapatkan apa yang diinginkannya. Gading yang Patah Menurut Kitab Padma Purana (Titib, 2003: Parasurama tiba di Kailasa untuk menghadap Sang Hyang Siva yang sedang tertidur. Ganapati melarang Parasurama masuk untuk bertemu dengan Siva, namun terjadi pertempuran yang menyebabkan salah satu gading Ganapati Salah satu gading Ganesha disebutkan dalam kitab Ganesha Purana (Getty dalam Titib, 2003:341-. Diceritakan bahwa Parasurama datang ketika Siva sedang tidur di istananya di Kailasa. Mengira bahwa kedatangan Parasurama akan mengganggu tidur Siva. Ganesha berusaha menghalanginya. Parasurama terus mendesak ke istana Siva, meskipun dilarang. Akibatnya, terjadi pertarungan. Ketika Parasurama terdorong oleh gading Ganesha, ia seketika mengayunkan kapaknya dan berhasil mematahkan salah satu gadingnya. Parvati datang pada saat yang bersamaan, dan seketika hampir mengutuk Parasurama. Namun, para dewa berhasil membujuknya dengan mengatakan bahwa gading yang patah akan dipuja oleh para dewa di masa depan. Dalam cerita Ganapati. Ganesha disebut Vakratunda, yang berarti AuIa yang bergading bengkokAy. Menurut Mahanirvana-tantra. Ganesha digambarkan sebagai Aupenguasa panenAy. Ia juga dikenal sebagai Raktatunda, atau AuIa yang bertaring merahAy, dan potongan gadingnya melambangkan mata bajak. Nama Vighesvara Menurut Titib . 3: 344-. Ganesha dikenal sebagai Vighesvara karena kemampuannya untuk melenyapkan segala rintangan yang GANESHA: KAJIAN ESTETIKA HINDU Ni Ketut Riska Dewi Prawita | Ida Kade Suarioka Komang Agus Triadi Kiswara | I Wayan Dikse Pancane ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X dihadapi manusia. Ganesha melakukan apa pun yang dia inginkan tanpa halangan, itulah mengapa orang Hindu memujanya dalam setiap acara Hindu. Kepercayaan ini didukung oleh cerita Lavanakalambakam. Kathasaritsagara. Ganesha Puja Di dalam agama Hindu. Ganesha merupakan salah satu dewa yang paling popular, selain Dewa-dewa Trimurti, yaitu Dewa Siwa (Dewa pelebur alam semest. Dewa Brahma (Dewa pencipta alam semest. , dan Dewa Wisnu (Dewa pemelihara alam semest. Umat Hindu mempercayai bahwa Dewa Ganesha merupakan manifestasi dari Tuhan dengan segala kepintaran, kecerdasan, dan kecerdikan, serta sebagai pelindung dari berbagai hal-hal negatif dengan mengendalikan semua rintangan . enolak bal. Pemujaan kepada Dewa Ganesha dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam upacara tertentu. Misalnya pelaksanaan ritual upacara Rsi Gana yang dedikasikan untuk menyembah kepada Dewa Ganesha. Upacara Rsi Gana sendiri dimaknai oleh umat Hindu sebagai persembahan berupa caru kepada rencangan Dewa Ganesha guna agar tidak mengganggu serta memberikan perlindungan terhadap umatNya (Gunawijaya, 2. Berikut sloka pemujaan kepada Dewa Ganesha: Gajanannaam Buta Ganadi Sevitaam Kaappitha Jammbbu Phaalla Sarra Bhakssittam Umma Suthamm Sjhoka Winnaasha Kaarrannamm Namaamij Vigghneeshvara Pada Pangkaajam Terjemahan: Engkau yang berkepala gajah, yang dilayani dan dipuja oleh para Bhutagana. Engkau yang menyukai buah Ae buahan. Engkau putra dari dewi Uma, yang menghancurkan segala penderitaan. Oh dewa Ganesha, sembah sujud kami dibawah kaki padma-Mu. Pranamya Shirasa Devam Gauriputram Vinaayakam Bhaktaavaasam Smare Nityam Aayush Kaamartha Siddhaye GANESHA: KAJIAN ESTETIKA HINDU Ni Ketut Riska Dewi Prawita | Ida Kade Suarioka Komang Agus Triadi Kiswara | I Wayan Dikse Pancane https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Terjemahan: Setiap hari aku bersujud pada Dewa Ganesha, putra dari dewi Parwati, dewa yang bersemayam dalam hati setiap bhakta, dan yang menganugrahkan mereka dengan kesehatan, kesejahteraan dan segala Sloka-sloka di atas menyiratkan tentang pemujaan kepada Dewa Ganesha sebagai Putra dari Parvati, istri Siva. Pemujaan tersebut dilaksanakan untuk memohon perlindungan dari segala hal negatif serta memohon anugrah, berkat dan rahmat-Nya. Umat Hindu mempercayai bahwa Dewa Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan atau dewa kecerdasan. Maka oleh sebab itu, di berbagai tempat bahkan termasuk Indonesia, sampai sekarang masyarakat umat Hindu sering membangun tempat suci berisi Dewa Ganesha. Hal ini dipercaya juga agar anakanak yang lahir menjadi pintar, pandai dan berbakti kepada orang tua. Bahkan hampir di setiap rumah masyarakat umat Hindu didirikan arca Dewa Ganesha. Konsep kebenaran . tentang Ganesha dapat ditemukan dalam pelaksanaannya secara langsung yang dipuja sebagai media komunikasi dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, kebenaran . yang telah dinyatakan dalam bentuk arca Ganesha merupakan representasi rasa cinta, syukur, dan penghormatan yang tulus kepada Sang Pencipta dengan harapan memohon keselamatan, keindahan, kemakmuran, keseimbangan dan keharmonisan. Konsep Sivam (Kesucia. dalam Arca Ganesha Menurut Granoka . , kesucian . adalah proses atau manifestasi dari kesucian produk seni. Umat Hindu memiliki kepercayaan dalam menyembah Tuhan dalam segala manifestasi-Nya melalui media, salah satunya seperti patung Ganesha. Pemujaan tersebut dilalui dengan beberapa proses, mengingat patung memiliki fungsi yang berbeda, yakni sebagai profan dan sakral. Mengacu pada media pemujaan, maka harus dilakukan proses penyucian terhadap patung Ganesha, yaitu upacara sakralisasi, agar dapat difungsikan sebagai meVol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 dia penyembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Ganesha. Menurut Wojowasito . alam Pandji, 1983:. kata AusacraAy dan AusacraalAy/sakral ditemukan dalam Kamus Umum Belanda-Indonesia, dengan pengertian benda keramat Auuntuk sacraAy dan terkait dengan agama untuk Ausakral. Ay Kemudian istilah sakral ini dimasukkan ke dalam kosa kata Indonesia dengan makna yang berkaitan dengan agama, seperti bersifat suci, kramat, dan angker. Di dalam bukunya yang berjudul AuThe Sacred and the ProfaneAy. Mircei Eliade . alam Pandji, 1983: . berpendapat bahwa definisi pertama yang mungkin untuk hal sakral adalah lawan dari yang profan, . he first possible definition of the opposite of the profan. Dengan demikian, sakralisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses atau transformasi dari hal-hal profan menjadi hal-hal sakral, transformasi dari karya seni profan menjadi karya seni sakral. Banyak kali, benda-benda yang dianggap sakral diproses melalui penyucian atau pembersihan ritual, yaitu melaspas. pranapratistha, upacara yang memberikan kehidupan kepada arca melalui pembacaan mantra tertentu atau penyucian gambar dan arca rupa, dilakukan setelah itu. Ganesha sebagai karya seni rupa berupa patung, dikembalikan lagi sesuai dengan fungsinya. Apabila difungsikan sebagai media pemujaan, sudah diwajibkan untuk dilakukan proses penyucian . dan sebutan patung akan berubah menjadi arca. Namun, apabila hanya sekedar sebagai karya seni hiasan, tidak perlu dilakukan proses sakralisasi dan sebutannya pun tetap disebut patung. Upacara ini pada intinya bermakna pembersihan atau penyucian, sehingga umat Hindu tidak meragukan lagi keberadaan Beliau sebagai media penyembahan dengan rasa sraddha dan bhakti yang tulus. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pemujaan kepada Ganesha melalui simbolnya sarat dengan unsur magis, bahkan menjadi hakiki atau utama dalam ritual keagamaan yang bersifat diikat dengan simbolsimbol tertentu menjadikan realitas seni rupa memiliki fungsi kesucian yang sangat penting. Simbol dan aspek yang berkaitan dengan Ganesha mengandung unsur religi yang menunjuk42 Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X kan adanya hubungan yang erat antara konstruksi kesenian dengan agama Hindu di Bali. Konsep Sundaram (Keindaha. dalam Arca Ganesha Menurut Granoka . , keindahan . adalah suatu bentuk produk seni yang dapat dinikmati, dilihat dari segi keindahannya. Keindahan (Sundara. dapat dicapai apabila unsur kebenaran . dan kesucian . telah diimplementasikan dengan baik dan benar, maka suatu karya seni akan menumbuhkan rasa indah atau memunculkan keharmonisan hidup sekala dan niskala, serta menumbuhkan rasa indah atau memunculkan kedamaian yang abadi di alam Bhur. Bwah. Swah, yaitu Suka Tan Mawali Duka. Umat Hindu memiliki pandangan estetik yang terikat dengan nilai-nilai Ketuhanan yang menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Indah. Arca Ganesha dipercaya mengandung nilai estetika apik yang bersifat simbolik dan filosofis, serta estetika Hindu yang menjiwai bentuk, isi, dan tata penyembahan kepada Ganesha untuk berkreasi dan mencapai kehidupan yang harmonis. Arca Ganesha yang sudah melalui proses sakralisasi serta dilakukan persembahan sehari-hari ataupun upacara tertentu yang mampu membangkitkan rasa AolangoAo indah yang memunculkan keharmonisan hidup secara niskala dan sekala, sehingga mencapai kedamaian yang abadi bagi pemuja-Nya. Hal tersebut juga dapat terlihat dalam proses upacara Rsi Gana, pelaksanaan ritual upacara Rsi Gana yang dedikasikan untuk menyembah kepada Dewa Ganesha. Upacara Rsi Gana sendiri dimaknai oleh umat Hindu sebagai persembahan berupa caru kepada rencangan Dewa Ganesha guna agar tidak mengganggu serta memberikan perlindungan terhadap umat-Nya. Upacara tersebut dilengkapi dengan upakara serta diiringi oleh berbagai macam seni, seperti gamelan, wayang, tarian, kidung, serta mantra-mantra indah yang dilantunkan oleh Pedanda . rang suc. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keindahan dalam melakukan pemujaan kepada Dewa Ganesha sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa adalah bentuk rasa syukur, cinta, dan keberkahan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. karunia hidup untuk GANESHA: KAJIAN ESTETIKA HINDU Ni Ketut Riska Dewi Prawita | Ida Kade Suarioka Komang Agus Triadi Kiswara | I Wayan Dikse Pancane ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 menjalani kehidupan yang memberikan keharmonisan antara manusia, antara manusia dan Tuhan, dan antara manusia dan alam. IV. PENUTUP Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Ganesha mengandung unsur-unsur estetika Hindu, yaitu kebenaran (Satya. , kesucian (Siva. , dan keindahan (Sundara. Hal tersebut terlihat dari nilai spiritual atau ketuhanan yang dimunculkan. Dalam agama Hindu. Mengacu pada uraian dalam kitab suci Weda, umat Hindu percaya dan percaya bahwa segala sesuatu yang memiliki nilai seni adalah ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kebenaran (Satya. yang dimaksud adalah kebenaran implementasi yang mengalir dari Teologi Hindu, mitologi atau cerita, simbol-simbol dalam bentuk Ganesha sebagai karya seni rupa khususnya patung, baik dalam fungsinya sebagai seni profan, maupun seni sakral. Kesucian (Siva. , di- lakukan upacara sakralisasi terhadap patung Ganesha agar dapat difungsikan sebagai media penyembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Ganesha. Keindahan (Sundara. Arca Ganesha mampu membangkitkan rasa AolangoAo indah yang memunculkan keharmonisan hidup secara niskala dan sekala, sehingga mencapai kedamaian yang abadi bagi pemuja-Nya. Umat Hindu meyakini bahwa media pemujaan sangat penting dalam mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam keyakinan tersebut, media pemujaan tersebut dibungkus dalam satu kesatuan Satyam. Sivam, dan Sundaram. Dalam ajaran agama Hindu yang ditekankan adalah dialektika yang selalu menempatkan kebenaran mengandung kesucian dan keindahan, keindahan harus mengandung kesucian dan kebenaran, dan kesucian harus mengandung kebenaran dan keindahan. DAFTAR PUSTAKA