DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 Representasi Kepemimpinan pada Karakter Alif (Film Menolak Diam!) Ningrum Niza Unnavi, 2Amara Bilqis Kinanti, 3Erindah Dimisqiyani, 4Gagas Gayuh Aji. Amaliyah, 6Rizky Amalia Sinulingga Manajemen Perkantoran Digital. Fakultas Vokasi. Universitas Airlangga. Surabaya Corresponding Author: amaliyah@vokasi. E-mail: ningrum. unnavi-2023@vokasi. ABSTRAK Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mengarahkan dan mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Seorang pemimpin idealnya tidak hanya memberi arahan, tetapi juga mampu menjadi inspirasi dan penggerak perubahan. Dalam prosesnya, nilai integritas, keberanian, dan rasa tanggung jawab memiliki peran penting dalam membentuk kepemimpinan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi kepemimpinan transformasional dalam film Menolak Diam! yang menyoroti perjuangan melawan ketidakadilan di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif, melalui pengamatan adegan serta kajian teori kepemimpinan dari berbagai sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh utama berhasil mempengaruhi lingkungan sekitarnya melalui semangat perubahan, kejujuran, dan kepedulian terhadap keadilan Namun, pendekatan tersebut juga memunculkan tantangan karena tidak semua pihak dapat menerima perubahan yang ditawarkan, seperti Alif yang akhirnya harus menghadapi tekanan dari pihak sekolah dan lingkungan sekitar saat memperjuangkan keadilan. Kata kunci : Kepemimpinan. Kepemimpinan transformasional. Film. Menolak Diam!. ABSTRACT Leadership is the ability of a person to direct and influence others to work together to achieve predetermined goals. An ideal leader not only gives directions but is also able to inspire and drive In the process, the values of integrity, courage, and responsibility play an important role in shaping effective leadership. This study aims to analyze the representation of transformational leadership in the film Menolak Diam! (Refusing to Be Silent!), which highlights the struggle against injustice in schools. This study uses a descriptive qualitative method with a narrative approach, through observation of scenes and a review of leadership theory from various sources. The results of the study show that the main character successfully influences his surroundings through his spirit of change, honesty, and concern for social justice. However, this approach also presents challenges because not everyone can accept the changes offered, such as Alif, who ultimately has to face pressure from the school and his surroundings while fighting for justice. Keyword : Leadership. Transformational Leadership. Film. Menolak Diam!. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. PENDAHULUAN Kepemimpinan selalu menjadi topik penting dalam banyak bidang, baik dalam organisasi, pendidikan, maupun kehidupan sosial. Dalam pandangan umum, kepemimpinan dianggap sebagai kunci yang menentukan keberhasilan suatu kelompok untuk mencapai tujuan (Silva, 2. menekankan bahwa kepemimpinan sebenarnya bukan sekedar soal jabatan, melainkan sebuah proses mempengaruhi orang lain agar mau bergerak menuju tujuan tertentu. Setiap menunjukkan kepemimpinan, meskipun tidak memiliki kedudukan formal. Pemahaman ini membuat konsep menjadi luas dan Menariknya, berkembang seiring perubahan zaman. Jika dulu kepemimpinan sering dilihat sebagai sosok tunggal yang berperan dominan, sekarang definisinya lebih banyak melibatkan interaksi antara pemimpin, pengikut, dan konteks organisasi itu sendiri. (Eddy et al. , 2. bahkan menyoroti adanya pergeseran pemaknaan kepemimpinan, dari yang hanya fokus pada figur AupahlawanAy ke arah pemahaman yang kolektif. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan konsep yang statis, melainkan selalu menyesuaikan dengan kebutuhan sosial dan budaya. Oleh karena itu, membahas kepemimpinan masih sangat bagaimana masyarakat menghadapi tantangan dan perubahan. Dalam kepemimpinan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Globalisasi, perubahan teknologi, serta dinamika sosial menuntut pemimpin agar memiliki fleksibilitas dan kemampuan adaptif. Pemimpin yang efektif harus mampu menyesuaikan gaya kepemimpinannya sesuai dengan kondisi, situasi, dan kebutuhan pengikutnya. Pemimpin yang adaptif akan siap menghadapi krisis dan perubahan mendadak, karena mereka mampu mengembangkan respons yang relevan dan inovatif. Di era yang penuh ketidakpastian ini, gaya kepemimpinan transformatif terbukti lebih efektif menumbuhkan semangat, membangun kreativitas, dan memperkuat keterlibatan. Menurut (Han langsung mempengaruhi keberhasilan proyek melalui peningkatan reflektivitas tim dan ketangguhan. Pemahaman ini krusial untuk menumbuhkan kesadaran akan kepemimpinan yang berintegritas tinggi dan adaptif terhadap perubahan sosial positif di kalangan generasi muda. Berbagai teori kepemimpinan menyebutkan bahwa seorang pemimpin dapat menggunakan segala bentuk gaya kepemimpinan sesuai situasi dan konteks Kepemimpinan memberdayakan pengikut agar mencapai potensi maksimal mereka (Northouse. Sebaliknya, transaksional berfokus pada pertukaran yang jelas antara pemimpin dan pengikut, di mana imbalan diberikan untuk dan hukuman diterapkan untuk kegagalan (Aga et al. Di sisi lain, kepemimpinan otoriter ditandai dengan pengambilan Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. keputusan yang sepenuhnya berada di tangan pemimpin, dengan minimnya ruang partisipasi bagi bawahan, sehingga kepatuhan menjadi prioritas utama (Wang et al. , 2. Pandangan ini menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan fleksibel dan dapat berubah mengikuti konteks sosial maupun organisasi. Berbagai teori direpresentasikan melalui media, salah satunya film, yang menyajikan narasi kepemimpinan secara dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam film Menolak Diam! . , tokoh Alif digambarkan sebagai sosok pemuda yang berani bersuara ketika menemukan adanya dugaan penyalahgunaan dana di sekolahnya. Meski statusnya hanya sebagai siswa, ia menunjukkan peran pemimpin yang tidak jabatan formal, melainkan pada keberanian moral dan rasa tanggung jawab sosial. memutuskan untuk menyelidiki dan mengajak teman-temannya bergerak bersama ketika pihak sekolah secara sepihak membatalkan acara wisuda. Sikap kepemimpinan tidak harus lahir dari posisi formal, melainkan juga bisa muncul dari inisiatif individu yang kesadaran moral tinggi (Aggarwal, 2. Kepemimpinan yang ditunjukkan Alif dapat dikategorikan sebagai kepemimpinan transformasional, gaya kepemimpinan yang berfokus pada memberikan inspirasi, motivasi, serta Meskipun banyak penelitian kepemimpinan transformasional dalam Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 konteks pendidikan maupun organisasi, namun kajian yang secara khusus menyoroti representasi kepemimpinan dalam film Menolak Diam . masih sangat terbatas. Beberapa penelitian terdahulu lebih banyak berfokus pada kepemimpinan di lembaga formal seperti sekolah atau perusahaan (Nguyen et al. Sementara dimensi kepemimpinan yang muncul melalui media film jarang dikaji sebagai refleksi nilai moral dan Padahal, film dapat menjadi media efektif untuk memahami dinamika menyajikan contoh nyata yang dekat dengan realitas generasi muda. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kekosongan tersebut dengan menelaah kepemimpinan tokoh Alif dalam film Menolak Diam sebagai transformasional yang relevan dengan nilai keadilan dan keberanian dalam menghadapi ketidakadilan. Penelitian ini berfokus pada bagaimana kepemimpinan tokoh Alif dalam film Menolak Diam! ditampilkan dan apa pesan yang bisa dipetik darinya. Tujuannya adalah untuk menggambarkan bentuk kepemimpinan yang hadir dalam sosok Alif serta memahami bagaimana nilai-nilai keberanian, kejujuran, dan solidaritas dimaknai dalam cerita. Film ini sangat relevan dengan Sustainable Development Goal (SDG. poin ke-16 kelembagaan yang tangguh, karena tindakan Alif menekankan pentingnya keadilan, transparansi, dan keberanian melawan penyalahgunaan wewenang. Relevansi SDGs 16 dalam konteks pendidikan juga terlihat jelas, karena P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. pembentukan karakter yang harus menjunjung nilai keadilan dan integritas agar lahir generasi yang berani bersuara dan menolak ketidakadilan. Keberanian untuk menolak diam mencerminkan mewujudkan lingkungan yang jujur dan lembaga pendidikan yang bersih dari praktik tidak adil. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya merefleksikan kepemimpinan dalam film, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai tersebut relevan dengan upaya global untuk mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan. LANDASAN TEORI Definisi Manajemen Fungsi Manajemen merupakan proses mengarahkan sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi. (Jakhongir, 2. menjelaskan bahwa konsep ini berkembang dari teori klasik yang menekankan efisiensi menjadi lebih modern dan adaptif terhadap globalisasi, sosial-ekonomi. (Wooi, menambahkan bahwa peran manajer sering disandingkan dengan pemimpin karena sama-sama terlibat dalam pengambilan keputusan dan motivasi tim. Namun manajemen berfokus pada sedangkan kepemimpinan menekankan pada pengaruh dan inspirasi. Pengertian Kepemimpinan Kepemimpinan mengarahkan, dan menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. (Rosari, 2. menyatakan bahwa kepemimpinan tidak hanya soal posisi kepercayaan, memberi teladan, dan mendukung kinerja kolektif. (Whitehead et al. , 2. menambahkan bahwa kepemimpinan modern harus mampu menghadapi kompleksitas, beradaptasi dengan disrupsi digital, dan merancang strategi berkelanjutan. Dengan demikian, dinamis yang menekankan kolaborasi dan pengaruh positif dalam menghadapi tantangan global. Gaya Kepemimpinan Berbagai gaya kepemimpinan menjadi fokus penting dalam organisasi masing-masing memberikan pengaruh berbeda terhadap kinerja dan dinamika kelompok. (Kesting et al. , 2. menegaskan bahwa gaya kepemimpinan tidak bersifat tunggal, melainkan bervariasi sesuai konteks dan Secara umum, terdapat beberapa gaya yang sering dibahas: Kepemimpinan transformasional yang mendorong motivasi dan kreativitas pengikut. Kepemimpinan yang berfokus pada imbalan dan Kepemimpinan karismatik yang Kepemimpinan partisipatif yang bawahan dalam pengambilan keputusan. Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Selain itu, (Yahaya & Ebrahim, 2. menambahkan bahwa setiap gaya membawa dampak berbeda terhadap komitmen organisasi, motivasi, dan kepuasan kerja. Oleh karena itu, memahami variasi gaya kepemimpinan penting untuk menilai efektivitas seorang pemimpin, baik dalam praktik nyata maupun representasi media. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif karena mampu menggambarkan fenomena secara nyata tanpa manipulasi serta menekankan detail peristiwa yang diteliti (Colorafi & Evans. Objek penelitian adalah film Menolak Diam yang diproduksi oleh Transparency International Indonesia dan Night Bus Pictures, dipilih karena menampilkan praktik kepemimpinan dalam konteks sosial dan pendidikan melalui tokoh Alif. Pendekatan ini membantu menyajikan data secara naratif Seperti dikemukakan oleh (Kim et al. , 2. penelitian deskriptif berfokus pada penyajian gambaran nyata dari fenomena yang diteliti, sehingga relevan untuk kepemimpinan dalam media film serta menarasikan adegan-adegan penting tanpa kehilangan konteks sosialnya. (Creswell, 2. menjelaskan bahwa penelitian naratif bertujuan untuk individu dalam bentuk cerita. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menggambarkan peristiwa, tetapi juga memaknai pengalaman kepemimpinan yang ditampilkan dalam film. Sumber Data Sumber data penelitian ini terdiri atas data primer dan sekunder sebagai Data primer diperoleh langsung dari film Menolak Diam! berupa adegan, dialog, dan interaksi yang menggambarkan gaya kepemimpinan tokoh Alif. Data ini dicatat melalui observasi dengan menonton film secara berulang, lalu dipilih adegan yang relevan untuk dianalisis. Data sekunder berupa literatur pendukung seperti buku, artikel, dan jurnal ilmiah mengenai teori kepemimpinan transformasional. Seperti disebutkan (Hughes et al. memperkuat analisis agar lebih dengan teori. Jenis Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Pendekatan menggunakan kualitatif deskriptif dengan Melalui pendekatan ini, peneliti berusaha memahami peran dan karakter tokoh utama serta menyusun data secara Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode dokumentasi, yaitu dengan menonton film Menolak Diam! secara berulang dan mencatat adegan Data yang telah diperoleh Pendekatan Penelitian Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. kemudian dikategorikan berdasarkan teori kepemimpinan dan dianalisis menggunakan model analisis kualitatif menurut (Wijaya, 2. , yang terdiri dari tiga tahapan utama: reduksi data. Melalui tahapan ini, peneliti menyaring informasi yang relevan, menyusunnya dalam bentuk deskripsi naratif, serta menginterpretasikan makna kepemimpinan yang ditampilkan dalam HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Setelah melakukan observasi terhadap film Menolak Diam!, terlihat bahwa Alif berperan sebagai pemimpin yang tegas, berani, dan inspiratif. Bondan menyampaikan aspirasi siswa sebagai bentuk kepedulian terhadap keadilan, sekaligus menunjukkan visi yang jelas dalam mengungkap penyalahgunaan Keteguhannya menolak cara-cara tidak etis menegaskan pentingnya Dengan demikian, film ini komitmen terhadap keadilan, serta peran penting suara generasi muda dalam mendorong perubahan sosial. Gambar 1. Alif memberikan arahan secara tegas kepada Bondan (Menit Alif: AuSegera itu kapan? Aku udah pernah jadi ketua osis loh, aku itu pernah di posisimu. Segera itu berarti detik ini juga selama kamu gak sibuk atau gak sakitAy Dalam adegan ini. Alif terlihat tidak hanya diam atau menunggu, dorongan kepada Bondan untuk segera Tindakannya Alif pengalaman kepemimpinannya terdahulu sebagai landasan untuk menguatkan Melalui sikap tegas tersebut. Alif berusaha membangkitkan kesadaran Bondan agar tidak ragu atau menunda, melainkan ikut bergerak bersama dalam memperjuangkan kepentingan para siswa. Memiliki Visi dan Tujuan yang Jelas Menginspirasi dan Memotivasi Gambar 2. Alif menyatakan niatnya untuk membongkar penyalahgunaan yang terjadi di sekolah ( Menit 9:. Alif: AuOke, aku mau bongkar semua iniAy Dito: AuAku ikut, mau mulai dari mana? Alif: AuSerius? yang nyata aja duluAy Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. Dalam memperlihatkan keberanian Alif saat menyatakan tekad untuk mengungkap penyalahgunaan di sekolah. Ucapannya mencerminkan rasa frustasi sekaligus kepeduliannya terhadap ketidakadilan, terutama terkait fasilitas rusak dan kebijakan yang merugikan siswa. Respons Dito yang langsung bersedia ikut menunjukkan bahwa semangat Alif menular kepada teman-temannya dan menjadi awal terbentuknya gerakan bersama mencari keadilan. Percakapan singkat ini juga menegaskan keseriusan Alif yang tak lagi berhenti pada obrolan, melainkan mulai mengambil langkah nyata dengan mengumpulkan bukti. Keberanian untuk bersuara dan bertindak menjadi titik awal perjuangan Alif dan Berintegritas dan Beretika Tinggi Gambar 3. Alif menentang ide yang tidak baik dari teman-temannya (Menit 21. Nisa: AuKenapa si Lif, ada masalah?Ay Alif: AuAda lah, bukan begini caranya, mau buktikan orang maling, kita sendiri malingAy Adegan ketegasan Alif saat sebagian temannya mengusulkan cara yang tidak benar untuk Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 membuktikan kecurangan di sekolah. menolak jalan pintas itu dan menegaskan diperjuangkan dengan cara yang salah. Menurutnya, membalas kecurangan menghilangkan makna perjuangan. Alif lebih memilih mencari bukti yang jelas kebenarannya atau melibatkan pihak Sikap ini menegaskan bahwa tujuan harus dicapai dengan cara yang jujur dan benar. Pembahasan Hasil observasi dalam film Menolak Diam! sosok Alif digambarkan sebagai pemimpin transformasional yang mampu menyalakan semangat perubahan di lingkungannya. Ia tidak hanya teman-temannya berani bersuara, tetapi juga berani menghadapi tekanan dari pihak sekolah dan tetap berpegang pada prinsip Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai mempengaruhi pengikut melalui visi yang kuat, motivasi inspiratif, stimulasi intelektual, serta keteladanan moral yang konsisten (Korejan & Shahbazi, 2. Menginspirasi dan Memotivasi Karakter Alif dalam film Menolak Diam! menunjukkan keberanian menyuarakan aspirasi siswa sekaligus menggerakkan teman-temannya untuk ikut berjuang. Saat Bondan ragu. Alif menegaskan bahwa aspirasi harus segera disampaikan kepada kepala sekolah, sehingga membangkitkan semangat kolektif dan keyakinan bahwa perjuangan mereka memiliki makna lebih besar dari kepentingan pribadi. (Bakker, 2. P-ISSN : 2654-4946 E-ISSN : 2654-7538 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. inspirasi dengan memberi motivasi optimisme, serta menanamkan keyakinan bahwa tujuan besar dapat dicapai Kepemimpinan Alif tidak hanya memotivasi, tetapi juga membentuk kesadaran baru di antara pengikutnya keadilan meskipun penuh risiko. Memiliki Visi dan Tujuan yang Jelas Pemimpin dengan visi dan tujuan yang jelas dapat meningkatkan motivasi serta keterlibatan pengikutnya karena arah yang pasti memberi keyakinan dalam mencapai tujuan bersama. Visi yang terarah tidak hanya memberi makna pada tindakan, tetapi juga membantu perjuangan dan kontribusi mereka (Haque et al. , 2. Hal ini tergambar dalam film Menolak Diam! ketika Alif kecurangan di sekolah. Ia tidak sekadar kecewa, tetapi menegaskan langkah nyata untuk memperjuangkan keadilan. Visi konkret tersebut ia bagikan kepada Dito agar perjuangan dilakukan bersama. Dengan tujuan yang jelas. Alif tetap teguh menghadapi hambatan dan orang di sekitarnya bahwa perjuangan mereka layak dijalani. Berintegritas Tinggi Beretika Dalam film Menolak Diam!. Alif tetap berpegang pada nilai moral meskipun mendapat tekanan dari Saat temannya mengusulkan cara tidak etis untuk membuktikan kesalahan pihak sekolah, ia menolak dan menegaskan bahwa perjuangan harus dilakukan secara benar. Sikap ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal hasil, tetapi juga menjaga integritas dalam proses. Tindakan Alif kepemimpinan transformasional yang berlandaskan nilai dan etika, di mana pemimpin sejati memberi teladan dengan menjadikan integritas sebagai dasar setiap langkah (Alessa et al. , 2. Nilai tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDG. poin ke-16 yang menekankan pentingnya keadilan, transparansi, dan kelembagaan yang KESIMPULAN Observasi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan berperan penting dalam mengarahkan kelompok mencapai tujuan bersama, seperti tergambar dalam film Menolak Diam!. Alif tampil sebagai pemimpin yang tegas dan inspiratif Tekadnya membongkar penyalahgunaan dana mencerminkan visi yang jelas dan kepedulian terhadap keadilan, sementara penolakannya terhadap cara-cara tidak komitmen memperjuangkan kebenaran. Dengan keberanian, integritas, dan tanggung jawab menjadi pondasi penting dalam menciptakan perubahan positif. Sosok Alif membuktikan bahwa pemimpin sejati tidak hanya mengarahkan, tetapi juga memberi teladan, membangun Jurnal IKRAITH-EKONOMIKA Vol 9 No 2 Juli 2026 DOI: https://doi. org/10. 37817/ikraith-ekonomika. semangat kolektif untuk melawan Nilai-nilai menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat dapat membawa dampak besar, tidak hanya di lingkungan kecil seperti sekolah, tetapi juga dalam membangun masyarakat yang adil, transparan, dan UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya penelitian ini, khususnya kepada dosen pembimbing dan rekan-rekan yang telah memberikan masukan berharga. DAFTAR PUSTAKA