LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 PENGARUH REMOTE AUDIT DAN TEKNOLOGI INFORMASI TERHADAP KUALITAS AUDIT BPK SULAWESI BARAT Riana Anggraeny Ridwan Universitas Sulawesi Barat email: riana@unsulbar. ABSTRACT Purpose: This study analyzes the impact of remote audits and information technology on audit quality at the Audit Board of the Republic of Indonesia (BPK RI) Representative Office of West Sulawesi Province. Motivated by national budget efficiency policies, it examines whether digitalbased auditing enhances effectiveness, accuracy, and credibility of audit results despite limited Method: This study used a quantitative causal approach with 36 purposively selected auditors from BPK RI West Sulawesi. Data were collected via online questionnaires and analyzed using multiple linear regression in SPSS 30, supported by classical assumption tests to ensure model validity. Finding: The results show that both remote audit and information technology have a positive and significant effect on audit quality, either partially or simultaneously. The coefficient of determination (RA) of 0. 670 indicates that 67% of audit quality variations are explained by these two variables. This finding confirms that digital audit practices improve efficiency, timeliness, and the accuracy of financial examination in the public sector. Novelty: This study differs from previous works by providing empirical evidence from the Indonesian public sector, specifically the BPK RI West Sulawesi Office, where digital audit implementation occurs under strict budget efficiency policies. Unlike prior studies focusing mainly on private-sector or theoretical perspectives, this research examines how limited resources and institutional digital transformation jointly shape audit quality in a developing-country context. Keywords: Remote Audit. Information Technology. Audit Quality. Public Sector. Digital Audit PENDAHULUAN Transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara menjadi pilar penting dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) memiliki mandat untuk memeriksa pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara secara independen. Peran BPK tidak hanya sebagai pengawas, tetapi juga sebagai penjamin bahwa setiap rupiah yang dikelola negara digunakan secara efektif, efisien, dan bebas dari penyimpangan (Ariyanto, 2. Dalam konteks ini. BPK Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat memegang tanggung jawab strategis untuk memastikan transparansi keuangan daerah di tengah perubahan kebijakan fiskal nasional. Pada tahun 2025, kebijakan efisiensi anggaran yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 menandai perubahan besar dalam pola pengelolaan keuangan negara. Kebijakan ini menuntut setiap instansi, termasuk BPK, untuk melakukan penghematan belanja hingga 90% pada beberapa pos pengeluaran. Konsekuensinya, ruang lingkup pemeriksaan BPK menjadi terbatas, sehingga lembaga ini perlu menetapkan prioritas pemeriksaan berdasarkan risiko dan manfaat audit. Pemangkasan anggaran sebesar Rp 1,38 triliun memaksa BPK melakukan adaptasi strategis, seperti efisiensi perjalanan dinas dan optimalisasi teknologi informasi dalam mendukung proses audit. Hal tersebut memunculkan tantangan baru: bagaimana menjaga kualitas audit dalam kondisi keterbatasan sumber daya. Kualitas audit merupakan indikator utama kredibilitas lembaga pemeriksa. Audit yang berkualitas tidak hanya mendeteksi kesalahan dalam laporan keuangan, tetapi juga memberikan rekomendasi perbaikan yang konstruktif (I. Munawarah, 2. Dalam konteks efisiensi anggaran. BPK berupaya menjaga kualitas audit melalui penerapan remote audit, yakni proses audit jarak jauh yang memanfaatkan teknologi informasi. Pendekatan ini memungkinkan auditor melakukan 204 | e-ISSN: 2810-0921 | DOI: 10. 55587/jla. LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 pemeriksaan tanpa harus hadir secara fisik di lokasi auditee. Dengan dukungan sistem digital, remote audit dapat mempercepat proses audit, mengurangi biaya perjalanan, dan meningkatkan fleksibilitas auditor (Minarhadi & Trisnaningsih, 2. Seiring perkembangan teknologi informasi, paradigma audit modern turut berubah. Pemanfaatan teknologi informasi, seperti aplikasi audit berbasis daring dan sistem pengelolaan data real-time, telah meningkatkan efisiensi dan ketepatan analisis auditor (Kurniawaty, 2. Di BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat, teknologi menjadi sarana penting untuk mendukung efektivitas remote audit, terutama dalam situasi anggaran terbatas. Namun, implementasi audit jarak jauh tidak lepas dari hambatan seperti keterbatasan akses data fisik, risiko keamanan informasi, serta kesenjangan infrastruktur teknologi antar entitas. Tantangan tersebut menuntut penguatan kapasitas auditor dan keandalan sistem audit berbasis teknologi agar hasil pemeriksaan tetap objektif dan Dua teori menjadi landasan konseptual penelitian ini. Pertama. Social Presence Theory menekankan pentingnya kehadiran sosial dalam komunikasi virtual, yang dapat menjaga efektivitas interaksi antara auditor dan auditee. Kedua. Technology Acceptance Model (TAM) menjelaskan bahwa penerimaan teknologi bergantung pada persepsi kemudahan dan manfaat penggunaannya. Kombinasi kedua teori ini memperlihatkan bahwa keberhasilan remote audit sangat ditentukan oleh kemampuan auditor dalam beradaptasi dengan teknologi serta interaksi yang efektif selama proses pemeriksaan (A. Hermina, 2. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang beragam terkait pengaruh remote audit dan teknologi informasi terhadap kualitas audit. Putri & Mulyani . , menemukan bahwa remote audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit, sedangkan penelitian R. V Gusman & Challen . , menyimpulkan sebaliknya. Hasil yang inkonsisten ini menunjukkan adanya faktor kontekstual yang perlu dikaji lebih lanjut, terutama dalam lingkungan kerja publik seperti BPK. Selain itu, studi oleh A. Junaid & Haeruddin . dan Siwi Faryantri et al. menunjukkan pengaruh positif teknologi informasi terhadap kualitas audit, namun hasil berbeda ditunjukkan oleh Lonto & Pandowo . temuan ini memperkuat urgensi penelitian lanjutan untuk memperoleh pemahaman empiris yang lebih mendalam, khususnya di lingkungan pemeriksaan keuangan negara tingkat daerah. Berdasarkan uraian tersebut, permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana pengaruh remote audit dan teknologi informasi terhadap kualitas audit di BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat. Fokus ini penting mengingat kondisi efisiensi anggaran yang menuntut lembaga pemeriksa untuk tetap produktif tanpa mengorbankan mutu hasil pemeriksaan. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh remote audit terhadap kualitas audit, menganalisis pengaruh teknologi informasi terhadap kualitas audit dan menguji pengaruh simultan keduanya terhadap kualitas audit. Urgensi penelitian ini terletak pada relevansinya terhadap transformasi digital dalam sektor publik Indonesia. Temuan penelitian diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi BPK dan lembaga pemeriksa lainnya dalam meningkatkan kualitas audit berbasis teknologi. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam menyeimbangkan kebijakan efisiensi anggaran dengan kebutuhan peningkatan kualitas pengawasan keuangan negara. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya memiliki nilai teoretis dalam pengembangan literatur audit modern, tetapi juga nilai praktis dalam memperkuat tata kelola keuangan daerah yang transparan, akuntabel, dan adaptif terhadap perubahan era digital. LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Teori Kehadiran Sosial (Social Presence Theor. Teori Kehadiran Sosial (Social Presence Theor. dikembangkan oleh John Short. Ederyn Williams, dan Bruce Christie pada tahun 1979. Teori ini menekankan pentingnya kehadiran sosial dalam komunikasi yang dimediasi teknologi (A. Hermina, 2. Kehadiran sosial mencerminkan sejauh mana seseorang merasa AuhadirAy dan terlibat dalam interaksi melalui media digital. Dalam konteks audit jarak jauh, teori ini menjelaskan bahwa auditor dan auditee dapat mempertahankan DOI: 10. 55587/jla. 203 | e-ISSN: 2810-0921 . LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 efektivitas komunikasi meskipun tanpa tatap muka, selama media yang digunakan mampu meniru interaksi langsung secara real-time. Kehadiran sosial yang kuat dapat menciptakan kepercayaan, meningkatkan kejelasan komunikasi, dan mendukung akurasi pengumpulan bukti audit. Penerapan teori ini dalam praktik remote audit menggambarkan bagaimana auditor tetap dapat Auhadir secara virtualAy melalui teknologi komunikasi seperti video conference, cloud document sharing, dan sistem audit berbasis daring. Keberhasilan audit jarak jauh sangat dipengaruhi oleh sejauh mana auditor mampu mempertahankan kehadiran sosial yang efektif selama proses audit Dengan demikian, teori ini memberikan dasar konseptual bahwa komunikasi yang dimediasi teknologi tetap dapat menghasilkan hubungan profesional yang kuat, meningkatkan pemahaman informasi, dan menjaga objektivitas dalam audit meskipun dilakukan secara jarak jauh (R. Litzenberg & Ramirez, 2. Teori Penerimaan Teknologi (Technology Acceptance Model Ae TAM) Technology Acceptance Model (TAM) dikembangkan oleh Davis pada tahun 1989 dan menjelaskan bagaimana individu menerima serta menggunakan teknologi berdasarkan dua konstruk utama, yaitu perceived usefulness . anfaat yang dirasaka. dan perceived ease of use . emudahan penggunaa. (R. Melati, 2. Model ini berasumsi bahwa semakin tinggi persepsi kemudahan dan manfaat suatu teknologi, maka semakin tinggi pula niat individu untuk menggunakannya. Dalam konteks audit. TAM menjelaskan bagaimana auditor dapat menerima dan mengadopsi teknologi informasi dalam kegiatan pemeriksaan mereka. Yusran & Jumardi . , menegaskan bahwa penerimaan teknologi oleh auditor sangat bergantung pada kompetensi sumber daya manusia, seperti kemampuan beradaptasi, pemecahan masalah, dan kerja sama tim. Ketika auditor memahami manfaat penggunaan sistem audit berbasis teknologi, seperti efisiensi waktu dan peningkatan akurasi data, mereka akan lebih mudah mengintegrasikannya ke dalam praktik kerja. Dengan demikian. TAM menjadi dasar konseptual penting untuk menjelaskan hubungan antara penerimaan teknologi informasi dan peningkatan kualitas audit di lembaga pemeriksa seperti BPK RI. Kualitas Audit Kualitas audit didefinisikan sebagai probabilitas auditor dalam mendeteksi dan melaporkan kesalahan material dalam laporan keuangan kliennya (R. Dinda & Annisa, 2. Audit yang berkualitas harus memenuhi prinsip independensi, objektivitas, dan kepatuhan terhadap Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Menurut A. Hermina . , audit yang berkualitas tercermin dari kepatuhan auditor terhadap prosedur dan standar pemeriksaan yang berlaku. Kualitas audit juga bergantung pada ketelitian auditor dalam mengevaluasi bukti, kemampuan analisis terhadap risiko, serta integritas dalam menyampaikan opini hasil pemeriksaan. Kualitas audit berperan penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap laporan keuangan sektor publik. Laporan keuangan yang diaudit dengan baik menjadi dasar pengambilan keputusan yang akurat bagi pemangku kepentingan, seperti pemerintah, masyarakat, dan investor. Dalam era digital, kualitas audit semakin ditentukan oleh sejauh mana auditor dapat mengintegrasikan teknologi informasi dalam proses pemeriksaan agar efisien, transparan, dan relevan dengan kebutuhan zaman (I. Munawarah, 2. Remote Audit Remote audit atau audit jarak jauh merupakan metode pemeriksaan yang dilakukan tanpa kehadiran fisik auditor di lokasi auditor, melainkan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (M. Satria et al. , 2. Tujuan utama remote audit adalah meningkatkan efisiensi waktu, menghemat biaya perjalanan, dan memperluas jangkauan pemeriksaan tanpa mengurangi mutu audit. Melalui remote audit, auditor dapat mengakses dokumen digital, melakukan wawancara virtual, serta meninjau bukti audit melalui live streaming atau screen sharing. Remote auditing menuntut kompetensi auditor dalam mengelola data digital dan menjaga keamanan informasi. Namun, praktik ini juga memiliki tantangan, seperti keterbatasan observasi fisik, risiko kebocoran data, serta kesulitan verifikasi dokumen elektronik. Meskipun demikian, penelitian A. Hermina . menunjukkan bahwa penerapan remote audit secara optimal dapat 206 | e-ISSN: 2810-0921 | DOI: 10. 55587/jla. LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 meningkatkan kualitas audit, karena proses digitalisasi mempercepat pengumpulan data dan memperkuat dokumentasi audit. Teknologi Informasi Teknologi Informasi (TI) adalah kombinasi antara perangkat keras, perangkat lunak, dan jaringan komunikasi yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, memproses, dan menyebarkan informasi (R. Choirunnisa & Rufaedah, 2. Dalam konteks audit. TI berperan penting dalam mendukung analisis data, pengolahan laporan, serta deteksi anomali keuangan. Penggunaan TI memungkinkan auditor memperoleh data secara real-time, meningkatkan akurasi pemeriksaan, dan mempercepat proses pelaporan hasil audit. Putri & Mulyani . menyebutkan bahwa penerapan TI meningkatkan efisiensi dan efektivitas auditor dalam melaksanakan tugasnya. Dengan adanya sistem berbasis digital seperti Computer Assisted Audit Techniques (CAAT. , auditor dapat menganalisis data dengan volume besar secara cepat dan akurat. Oleh karena itu, teknologi informasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan kualitas audit, terutama di lembaga publik yang memiliki kompleksitas data tinggi dan keterbatasan sumber daya manusia. Sintesis Teori dan Konsep Antarvariabel Hubungan antara remote audit, teknologi informasi, dan kualitas audit dapat dijelaskan melalui integrasi antara Social Presence Theory dan Technology Acceptance Model (TAM). Teori Kehadiran Sosial menjelaskan dimensi komunikasi dalam remote audit, di mana interaksi efektif antara auditor dan auditee dapat mempertahankan kepercayaan dan akurasi meskipun dilakukan secara virtual. Sementara itu. TAM menjelaskan dimensi penerimaan teknologi, yaitu sejauh mana auditor mampu menggunakan teknologi informasi untuk menunjang efektivitas audit. Kedua teori ini berkontribusi terhadap pemahaman mengenai bagaimana teknologi dapat memperkuat efisiensi audit tanpa mengorbankan kualitas hasil pemeriksaan. Remote audit berfungsi sebagai inovasi dalam proses audit modern yang berorientasi pada efisiensi dan mobilitas tinggi. Teknologi informasi mendukung mekanisme ini melalui digitalisasi dokumen, komunikasi daring, dan analisis berbasis data. Dengan demikian, kedua variabel independen tersebut secara sinergis dapat meningkatkan kualitas audit dengan cara mempercepat proses pemeriksaan, meminimalkan kesalahan manual, serta memperkuat pengawasan berbasis bukti digital (M. Lonto & Pandowo, 2. Pengembangan Hipotesis Pengaruh Remote Audit Terhadap Kualitas Audit Remote audit meningkatkan kualitas audit karena memudahkan auditor mengakses data dan berkomunikasi dengan auditee di berbagai lokasi. Efisiensi waktu yang dihasilkan memungkinkan auditor lebih fokus pada analisis substantif dan evaluasi risiko. Melalui remote audit, auditor dapat memperluas cakupan pemeriksaan tanpa menambah biaya operasional. Teori Kehadiran Sosial menjelaskan bahwa tingkat kehadiran sosial yang tinggi melalui media digital dapat meningkatkan efektivitas komunikasi, sedangkan TAM menunjukkan bahwa jika teknologi audit jarak jauh dianggap mudah dan bermanfaat, auditor akan menggunakannya secara optimal. Hipotesis 1 (H. : Remote audit berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Pengaruh Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Audit Pemanfaatan teknologi informasi memungkinkan auditor bekerja lebih cepat, efisien, dan akurat dibandingkan metode manual (Siwi Faryantri et al. , 2. Teknologi seperti data analytics dan computer-assisted audit techniques membantu auditor menganalisis data besar secara sistematis dan mendeteksi potensi penyimpangan keuangan lebih dini. Berdasarkan TAM, persepsi kemudahan dan manfaat penggunaan teknologi menentukan tingkat adopsinya. Auditor yang memahami manfaat TI akan lebih cenderung menggunakannya untuk meningkatkan mutu audit. Hipotesis 2 (H. : Teknologi informasi berpengaruh positif terhadap kualitas audit. DOI: 10. 55587/jla. 203 | e-ISSN: 2810-0921 . LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 Pengaruh Remote Audit dan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Audit Integrasi antara remote audit dan teknologi informasi menciptakan lingkungan kerja audit yang efisien, cepat, dan adaptif terhadap perubahan digital. Kedua faktor ini berperan sebagai penggerak bagi peningkatan kualitas audit karena mendukung transparansi, akurasi, dan ketepatan waktu Menurut A. Hermina . , sinergi antara praktik audit jarak jauh dan pemanfaatan teknologi mempercepat komunikasi serta memperkuat dokumentasi audit digital. Kedua teori pendukung Social Presence Theory dan TAM menegaskan bahwa interaksi virtual yang efektif dan penerimaan teknologi yang baik akan meningkatkan hasil pemeriksaan. Hipotesis 3 (H. : Remote audit dan teknologi informasi secara simultan berpengaruh positif terhadap kualitas audit. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian kausal. Pendekatan ini digunakan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antara variabel independen dan variabel Menurut R. Wijayanti et al. , penelitian kuantitatif kausal bertujuan menguji hubungan pengaruh antarvariabel dengan data numerik yang dapat diolah secara statistik. Dalam konteks ini, penelitian berfokus untuk mengetahui seberapa besar pengaruh remote audit (XCA) dan teknologi informasi (XCC) terhadap kualitas audit (Y). Penggunaan pendekatan kuantitatif dianggap tepat karena memungkinkan peneliti menguji hipotesis yang telah dirumuskan melalui analisis statistik yang objektif dan terukur. Penelitian ini dilaksanakan di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat, yang berlokasi di Jalan H. Abdul Malik Pattana Endeng. Kelurahan Rangas. Kecamatan Simboro. Kabupaten Mamuju. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada relevansi objek penelitian dengan fokus kajian mengenai audit jarak jauh. Penelitian dilaksanakan selama Mei hingga Juni 2025, dengan tahapan kegiatan mencakup pengumpulan data melalui kuesioner, pengolahan data menggunakan perangkat lunak statistik, serta analisis hasil untuk menarik kesimpulan empiris terkait hubungan antar variabel penelitian. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka dan dapat diolah secara statistik untuk menggambarkan hubungan antar variabel. Data tersebut diperoleh melalui data primer, yakni informasi yang dikumpulkan secara langsung dari sumber aslinya tanpa perantara (Sihotang, 2. Dalam hal ini, data diperoleh dari jawaban kuesioner yang diisi oleh para auditor di BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat. Kuesioner yang digunakan disusun berdasarkan instrumen penelitian terdahulu yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya oleh (A. Hermina, 2. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 50 auditor yang bekerja di BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat. Populasi didefinisikan sebagai keseluruhan subjek yang memiliki karakteristik tertentu sesuai dengan tujuan penelitian (Sihotang, 2. Arena jumlah populasi relatif terbatas, maka seluruh anggota populasi dipertimbangkan dalam penentuan sampel. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang telah ditetapkan peneliti (Sugiyono, 2. Kriteria responden meliputi auditor memiliki pengalaman kerja minimal satu tahun dan auditor terlibat langsung dalam pelaksanaan remote audit. Metode pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner online kepada responden di lokasi penelitian. Menurut Sugiyono . , metode kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien untuk memperoleh informasi dalam jumlah besar secara seragam. Kuesioner disusun menggunakan Skala Likert lima poin yang menggambarkan tingkat persetujuan responden terhadap pernyataan tertentu, mulai dari Ausangat tidak setujuAy . hingga Ausangat setujuAy . kor Instrumen tersebut mengukur tiga variabel utama, yaitu remote audit (XCA), teknologi informasi (XCC), dan kualitas audit (Y) dengan indikator yang disesuaikan dari penelitian terdahulu. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif dan Data yang terkumpul terlebih dahulu diuji melalui uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan bahwa instrumen penelitian mampu mengukur variabel secara akurat dan konsisten 208 | e-ISSN: 2810-0921 | DOI: 10. 55587/jla. LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 (Ghozali, 2. Uji validitas dilakukan menggunakan Pearson correlation, di mana item dinyatakan valid jika nilai signifikansi kurang dari 0,05. Sementara itu, reliabilitas instrumen diuji menggunakan koefisien Cronbach Alpha, dengan ketentuan bahwa nilai lebih besar dari 0,6 menunjukkan bahwa instrumen reliabel. Sebelum melakukan uji regresi, dilakukan uji asumsi klasik untuk memastikan bahwa data memenuhi syarat analisis regresi linier. Uji asumsi klasik meliputi uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heterokedastisitas (Ghozali, 2. Uji normalitas dilakukan dengan memeriksa sebaran data terhadap garis diagonal pada grafik P-P Plot. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF) dan Tolerance, sedangkan uji heterokedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya varians residual yang tidak konstan antarobservasi. Model regresi dinyatakan baik apabila seluruh asumsi klasik terpenuhi. Teknik analisis utama yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda, dengan Y = a CAXCA CCXCC e, di mana Y adalah kualitas audit. XCA adalah remote audit. XCC adalah teknologi informasi, a adalah konstanta. CA dan CC adalah koefisien regresi, serta e adalah error. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh simultan dan parsial antarvariabel independen terhadap variabel dependen. Data diolah menggunakan IBM SPSS versi terbaru guna memperoleh hasil yang akurat dan terverifikasi secara statistik. Selanjutnya, dilakukan uji hipotesis yang terdiri dari uji t, uji F, dan koefisien determinasi (RA). Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen (Sanusi, 2. Uji F digunakan untuk mengukur pengaruh simultan dari semua variabel independen terhadap variabel dependen. Sementara itu, nilai RA digunakan untuk mengetahui seberapa besar variasi kualitas audit yang dapat dijelaskan oleh faktor-faktor remote audit dan teknologi informasi (Sujarweni, 2. Nilai RA yang tinggi menunjukkan bahwa model memiliki daya prediksi yang baik, namun interpretasinya tetap perlu mempertimbangkan uji statistik tambahan untuk memastikan keakuratan model. Proses penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah diolah secara Hasil analisis digunakan untuk menilai apakah pengaruh remote audit dan teknologi informasi terhadap kualitas audit signifikan secara parsial maupun simultan. Kesimpulan disusun dengan mempertimbangkan nilai signifikansi uji t dan uji F, serta besaran koefisien determinasi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan literatur audit modern, khususnya dalam konteks penerapan teknologi informasi dan audit jarak jauh di lingkungan lembaga pemeriksa pemerintah. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat, sebuah lembaga pemeriksa keuangan negara yang bertugas mengawasi pengelolaan serta pertanggungjawaban keuangan daerah. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2025 dengan melibatkan 36 auditor sebagai responden. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh remote audit dan teknologi informasi terhadap kualitas audit. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner daring . dan dianalisis dengan metode regresi linier berganda menggunakan program IBM SPSS versi 30. Analisis dilakukan untuk menguji validitas, reliabilitas, serta asumsi klasik sebelum pengujian hipotesis. Deskripsi Data Responden Responden terdiri atas 19 auditor laki-laki . ,78%) dan 17 auditor perempuan . ,22%). Berdasarkan usia, mayoritas responden berusia 27Ae30 tahun . ,89%), diikuti oleh kelompok usia 31Ae34 tahun . ,56%). Berdasarkan tingkat pendidikan, sebagian besar responden memiliki gelar S1 . ,33%), sedangkan S2 sebanyak 36,11% dan S3 sebesar 5,56%. Dari sisi pengalaman kerja, 58,33% responden telah bekerja lebih dari lima tahun, sedangkan sisanya 41,67% memiliki pengalaman DOI: 10. 55587/jla. 203 | e-ISSN: 2810-0921 . LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 antara satu hingga lima tahun. Komposisi ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berpengalaman, sehingga data yang diperoleh dianggap representatif untuk mengukur persepsi auditor terhadap penerapan audit jarak jauh dan pemanfaatan teknologi informasi. Hasil Uji Instrumen Penelitian Tabel 1 Hasil Uji Validitas Nomor Butir Pertanyaan Pearson Correlation Sig. -taile. Keterangan 0,333 0,047 Valid 0,541 0,000 Valid 0,370 0,026 Valid 0,332 0,048 Valid 0,755 0,000 Valid 0,480 0,003 Valid 0,642 0,000 Valid 0,459 0,005 Valid 0,513 0,001 Valid P10 0,361 0,031 Valid P11 0,749 0,000 Valid P12 0,766 0,000 Valid P13 0,730 0,000 Valid P14 0,630 0,000 Valid P15 0,502 0,000 Valid P16 0,477 0,003 Valid P17 0,761 0,000 Valid P18 0,599 0,000 Valid P19 0,605 0,000 Valid P20 0,814 0,000 Valid P21 0,760 0,000 Valid P22 0,720 0,000 Valid P23 0,535 0,000 Valid P24 0,773 0,000 Valid P25 0,676 0,000 Valid P26 0,541 0,000 Valid P27 0,643 0,000 Valid P28 0,520 0,000 Valid P29 0,828 0,000 Valid P30 0,699 0,000 Valid P31 0,699 0,000 Valid Sumber: Data Primer diolah, 2025 Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh item pertanyaan pada variabel remote audit, teknologi informasi, dan kualitas audit memiliki nilai signifikansi kurang dari 0,05, sehingga seluruh indikator dinyatakan valid. Dengan demikian, setiap item dalam kuesioner mampu mengukur konstruk yang dimaksud secara akurat. Tabel 2 Hasil Uji Reliabilitas Variabel CronbachAos Alpha Keterangan Remote Audit 0,708 Reliabel Teknologi Informasi 0,893 Reliabel Kualitas Audit 0,910 Reliabel Sumber: Data Primer diolah, 2025 210 | e-ISSN: 2810-0921 | DOI: 10. 55587/jla. LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 Uji reliabilitas menghasilkan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,708 untuk remote audit, 0,893 untuk teknologi informasi, dan 0,910 untuk kualitas audit. Seluruh nilai melebihi batas minimal 0,6, yang berarti instrumen penelitian reliabel dan konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pernyataan kuesioner mampu menghasilkan jawaban yang stabil apabila diulang pada waktu yang berbeda dengan kondisi serupa. Hasil Uji Asumsi Klasik Tabel 3 Hasil Uji Asumsi Klasik Jenis Uji Uji Normalitas (KolmogorovSmirno. Uji Multikolinearitas Uji Heteroskedastisitas (Scatterplo. Tujuan Pengujian Mengetahui model regresi Mengetahui ada tidaknya kuat antar Hasil Statistik / Nilai Penting Kriteria Pengambilan Keputusan Keterangan Asymp. Sig. -taile. = 0,200 (> 0,. Jika nilai signifikansi > 0,05 maka data berdistribusi normal Data berdistribusi normal, asumsi Tolerance = Jika nilai Tolerance 0,358 (> 0,. > 0,10 dan VIF < 10 VIF = 2,791 (< maka tidak terjadi Tidak terdapat asumsi terpenuhi Titik-titik Jika penyebaran tersebar acak titik acak dan tidak di atas dan membentuk pola, bawah garis maka tidak terjadi nol tanpa pola Sumber: Data Primer diolah, 2025 Menilai residual antar Model bebas dari asumsi terpenuhi Hasil uji normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,200 > 0,05, yang menandakan bahwa data berdistribusi normal. Pola penyebaran pada grafik PAeP Plot juga memperlihatkan titik-titik yang mengikuti garis diagonal, memperkuat kesimpulan bahwa model memenuhi asumsi normalitas. Uji multikolinearitas menunjukkan nilai Tolerance sebesar 0,358 dan VIF sebesar 2,791 untuk masing-masing variabel independen. Karena nilai Tolerance lebih besar dari 0,10 dan VIF lebih kecil dari 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas antar variabel independen. Sementara itu, uji heteroskedastisitas memperlihatkan penyebaran titik-titik pada scatterplot yang acak dan tidak membentuk pola tertentu, menunjukkan bahwa model regresi bebas dari heteroskedastisitas. Dengan demikian, model dinyatakan layak untuk digunakan dalam analisis regresi linier berganda. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda Tabel 4 Hasil Analisis Regresi Liniear Berganda Standardized Unstandardized Variabel Std. Error Coefficients Coefficients (B) (Bet. (Constan. 5,187 5,517 Remote Audit 0,570 0,225 0,424 (X. t hitung Sig. 0,940 0,354 2,537 0,016 DOI: 10. 55587/jla. 203 | e-ISSN: 2810-0921 . LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 Variabel Unstandardized Coefficients (B) Teknologi Informasi (X. 0,449 Std. Error Standardized Coefficients (Bet. t hitung Sig. 0,171 0,439 0,627 0,013 Sumber: Data Primer diolah, 2025 Analisis regresi linier berganda dilakukan untuk mengetahui pengaruh simultan dan parsial variabel remote audit (XCA) dan teknologi informasi (XCC) terhadap kualitas audit (Y). Hasil pengolahan data menghasilkan persamaan regresi sebagai berikut: Y = 5,187 0,570XCA 0,449XCC Persamaan tersebut menunjukkan bahwa baik remote audit maupun teknologi informasi memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap kualitas audit. Koefisien regresi sebesar 0,570 pada variabel remote audit mengindikasikan bahwa setiap peningkatan satu satuan dalam pelaksanaan remote audit akan meningkatkan kualitas audit sebesar 0,570 satuan. Sedangkan koefisien sebesar 0,449 pada variabel teknologi informasi menunjukkan bahwa setiap peningkatan satu satuan dalam pemanfaatan teknologi informasi akan meningkatkan kualitas audit sebesar 0,449 satuan. Dengan demikian, kedua variabel independen memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas audit di BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat. Uji Parsial (Uji . Tabel 5 Hasil Uji Parsial (Uji . Variabel Independen Remote Audit (X. Teknologi Informasi (X. Koefisien Regresi (B) Std. Error t hitung Sig. Nilai Kritis ( = 0,. 0,570 0,225 2,537 0,016 0,05 0,449 0,171 2,627 0,013 0,05 Sumber: Data Primer diolah, 2025 Dependent Variabel : Kualitas Audit Hasil uji t menunjukkan bahwa variabel remote audit berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit dengan nilai t hitung 2,537 > t tabel 2,035 dan signifikansi 0,016 < 0,05. Begitu pula variabel teknologi informasi memiliki pengaruh signifikan dengan t hitung 2,627 > t tabel 2,035 dan signifikansi 0,013 < 0,05. Artinya, baik penerapan remote audit maupun penggunaan teknologi informasi secara individual memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas audit. Uji Simultan (Uji F) Tabel 6 Hasil Uji Simultan (Uji F) Sumber Variasi Regression Residual Total Sum Of Squares 861,156 424,066 1285,222 Mean Square F Hitung 430,578 33,507 12,850 Sumber: Data Primer diolah, 2025 Dependent Variabel : Kualitas Audit Predictors : (Constan. Teknologi Informasi. Remote Audit 212 | e-ISSN: 2810-0921 | DOI: 10. 55587/jla. Sig. < 0,001 LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 Hasil uji F menunjukkan bahwa nilai F hitung 33,507 > F tabel 3,285 dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Hal ini berrti variabel remote audit dan teknologi informasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Dengan kata lain, semakin optimal penerapan audit jarak jauh yang didukung teknologi informasi, semakin tinggi pula kualitas hasil audit yang dicapai. Koefisien Determinasi (R. Tabel 7 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R. Adjusted R Std. Error of the R Square Square Estimate Model 0,819 0,670 0,650 3,58476 Keterangan Kuat dan Signifikan Sumber: Data Primer diolah, 2025 Predictors : (Constan. Teknologi Informasi. Remote Audit Hasil uji determinasi menunjukkan nilai R = 0,819 dan RA = 0,670, yang berarti 67% variasi kualitas audit dapat dijelaskan oleh variabel remote audit dan teknologi informasi, sementara 33% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model, seperti independensi auditor, kompetensi, atau tekanan waktu. Nilai R yang tinggi juga menandakan bahwa hubungan antara variabel-variabel penelitian tergolong kuat dan positif. Pembahasan Pengaruh Remote Audit Terhadap Kualitas Audit Hasil penelitian menunjukkan bahwa remote audit memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit. Temuan ini mendukung hipotesis pertama (HCA) yang menyatakan bahwa penerapan audit jarak jauh mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemeriksaan. Hasil ini selaras dengan Social Presence Theory, yang menekankan pentingnya komunikasi dan kehadiran sosial dalam konteks digital. Meskipun dilakukan secara jarak jauh, auditor tetap dapat membangun interaksi yang efektif melalui teknologi, menjaga pemahaman terhadap kondisi auditee, dan mengumpulkan bukti audit secara optimal. Temuan ini juga sejalan dengan penelitian A. Hermina . serta N. Putri & Mulyani . yang menegaskan bahwa remote audit meningkatkan efisiensi waktu, mengurangi biaya operasional, dan mempercepat proses pelaporan tanpa menurunkan kualitas hasil audit. Pengaruh Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Audit Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa teknologi informasi memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas audit, sebagaimana dibuktikan oleh nilai signifikansi 0,013. Hal ini membuktikan bahwa penggunaan sistem teknologi yang modern, seperti aplikasi audit digital dan cloud-based reporting, dapat meningkatkan kecepatan serta akurasi dalam pengolahan data audit. Temuan ini didukung oleh Technology Acceptance Model (TAM) yang menjelaskan bahwa auditor akan lebih menerima teknologi apabila dianggap mudah digunakan dan memberikan manfaat nyata dalam proses kerja mereka. Hasil ini diperkuat oleh penelitian Siwi Faryantri et al. dan A. Junaid & Haeruddin . yang menemukan bahwa pemanfaatan teknologi informasi mempercepat analisis, meningkatkan ketepatan data, dan mengurangi potensi kesalahan manusia . uman erro. , yang secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan kualitas audit. Pengaruh Simultan Remote Audit dan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Audit Uji simultan menunjukkan bahwa kombinasi remote audit dan teknologi informasi secara bersama-sama memberikan pengaruh signifikan terhadap kualitas audit. Nilai determinasi (RA = 0,. membuktikan bahwa kedua variabel ini menjelaskan sebagian besar variasi pada kualitas audit. Integrasi antara audit jarak jauh dan sistem informasi modern memungkinkan auditor mengakses data secara real-time, berkomunikasi tanpa hambatan geografis, serta melakukan analisis yang lebih Temuan ini mendukung teori TAM dan Social Presence Theory, di mana penerapan teknologi yang efektif dan komunikasi digital yang interaktif mampu menjaga kredibilitas serta ketelitian proses DOI: 10. 55587/jla. 203 | e-ISSN: 2810-0921 . LITERA: Jurnal Literasi Akuntansi Vol. 5 No. 4 Desember 2025 Implikasi Penelitian Temuan ini memberikan implikasi praktis bagi lembaga pemeriksa seperti BPK RI. Pertama, peningkatan kapasitas auditor dalam penggunaan teknologi audit digital harus menjadi prioritas agar proses remote audit berjalan efektif. Kedua, lembaga perlu memperkuat infrastruktur teknologi informasi, termasuk keamanan data dan konektivitas sistem, untuk mendukung pelaksanaan audit jarak jauh yang berkualitas. Ketiga, hasil penelitian ini juga memperkuat teori TAM dan Social Presence Theory dalam konteks praktik audit publik di Indonesia, bahwa penerimaan teknologi dan interaksi sosial digital adalah faktor penentu keberhasilan audit modern. KESIMPULAN dan SARAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa remote audit dan teknologi informasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas audit pada BPK RI Perwakilan Provinsi Sulawesi Barat. Penerapan audit berbasis digital terbukti mampu meningkatkan efektivitas, akurasi, serta keandalan hasil pemeriksaan meskipun dalam keterbatasan anggaran. Nilai determinasi sebesar 0,670 mengindikasikan bahwa 67% variasi kualitas audit dijelaskan oleh kedua variabel utama tersebut. Secara empiris, hasil ini memperkuat pentingnya inovasi audit jarak jauh dalam mendukung efisiensi kinerja lembaga pemeriksa keuangan di era digitalisasi. Secara teoritis, penelitian ini memperluas penerapan Technology Acceptance Model (TAM) dan Social Presence Theory dalam konteks sektor publik Indonesia. Pengaruh signifikan teknologi informasi menunjukkan bahwa persepsi kemanfaatan dan kemudahan penggunaan teknologi menjadi kunci penerimaan auditor terhadap sistem audit digital. Di sisi lain, temuan remote audit mendukung pandangan Social Presence Theory, bahwa komunikasi virtual yang efektif dapat mempertahankan kepercayaan profesional serta objektivitas pemeriksaan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori penerimaan teknologi dan interaksi sosial dalam praktik audit modern. Penelitian mendatang disarankan menambahkan variabel lain seperti independensi auditor, pengalaman kerja, etika profesi, atau budaya organisasi sebagai faktor yang memengaruhi kualitas Pendekatan mixed methods juga direkomendasikan untuk menggali lebih dalam aspek perilaku dan persepsi auditor terhadap efektivitas audit digital. Selain itu, perluasan objek penelitian ke lembaga pemeriksa di wilayah lain akan meningkatkan generalisasi hasil. Dari sisi teori, integrasi antara TAM. Social Presence Theory, dan socio-technical systems theory dapat memperkaya pemahaman tentang keseimbangan antara teknologi, manusia, dan budaya organisasi dalam meningkatkan kualitas audit publik. REFERENSI