Jurnal PPKM i . ISSN: 2354-869X KOMUNIKASI INTERKULTURAL PADA MAHASISWA BERLATAR BELAKANG PESANTREN SEBAGAI PEMBELAJAR BAHASA INGGRIS Muhammad Najib Al Adib a Program Studi Sastra Inggirs Universitas Sains Al QurAoan (UNSIQ) Wonosobo E-mail: muhnajib. mnaa@gmail. INFO ARTIKEL Riwayat Artikel : Diterima : 24 Juli 2015 Disetujui : 14 Agustus 2015 Kata Kunci : Komunikasi Interkultural. Analisis kritis. Pesantren ABSTRAK Penelitian ini dikonsentrasikan pada studi dan analisis kritis dan komprehensif terhadap pola komunikasi yang sering digunakan oleh mahasiswa berlatar belakang pesantren di Universitas Sains Al QurAoan Wonosobo. Penelitian ini bermanfaat dalam mendukung pertimbangan terhadap penyusunan kurikulum dan pengembangan bahan ajar dalam pengajaran bahasa Inggris bagi mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi yang berbasis pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara mahasiswa yang berlatar belakang pesantren membentuk pola budaya tertentu dalam komunikasi mereka yang menggunakan bahasa Inggris serta untuk mengetahui pola komunikasi yang mengakibatkan miskomunikasi interkultural dalam bahasa Inggris. Langkah yang akan ditempuh peneliti adalah dengan melakukan diskusi kelompok terarah dan wawancara untuk mendapatkan hasil kualitatif yang menggambarkan hal-hal yang diajukan dalam perumusan masalah. Selanjutnya akan dilakukan analisis dengan menggunakan analisis data tematik dengan pendekatan a ARTICLE INFO ABSTRACT Riwayat Artikel : Diterima : July 24, 2015 Disetujui : August 14, 2015 Key words: Communication. Intercultural. Critical analysis. Pesantren This study concentrates on the comprehensive study and a critical analysis of the intercultural communication on pesantren-based students as learners of English at the QurAoanic Science University Wonosobo. This research is useful in supporting the consideration of the curriculum and the development of teaching materials in English teaching for pesantren-based students. Specific targets to be achieved by the researchers is to determine how pesantrenbased student form a certain cultural patterns in their communications that use the English language and miscommunication in English. Steps taken by the researchers is to conduct focus groups and interviews to obtain qualitative results that describe things that are proposed in the problem formulation. Further analysis will be done using a thematic data analysis with the a priori approach. PENDAHULUAN Pengajaran Bahasa Inggris di perguruan tinggi di Indonesia selain pada bidang kajian Bahasa dan Sastra Inggris serta Pendidikan Bahasa Inggris merupakan pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau Teaching English as a Foreign Language. Meskipun demikian, seiring dengan perkembangan zaman bahasa Inggris memiliki peran yang sangat penting dalam komunitas tersebut Jurnal PPKM i . 247-246 pemutakhiran ilmu dan pengetahuan serta teknologi yang diajarkan di perguruan tinggiperguruan tinggi tersebut. Secara umum, pembelajaran bahasa Inggris dilakukan dengan tujuan agar pembelajar dapat menggunakannya dalam berkomunikasi secara global. Terkait dengan hal tersebut, keberhasilan berkomunikasi secara global dengan menggunakan bahasa asing tersebut sangat dipengaruhi oleh latar belakang budaya bahasa target yang tentunya berbeda dengan budaya pembelajar itu sendiri. Pengaruh budaya menjadi besar karena sistem komunikasi, yang terdiri dari bahasa verbal maupun non-verbal merupakan produk budaya (Beamer et. , 2. Sehingga, pemahaman akan pola komunikasi interkultural menjadi sangat penting bagi para pembelajar mengingat menggunakannya secara mandiri. Begitu pentingnya kemampuan pembelajar bahasa Inggris dalam memahami komunikasi interkultural disebabkan oleh tuntutan agar terjadi feedback antara komunikator dan pihak yang diajak berkomunikasi. Komunikasi antar budaya dapat menjadi gagal apabila tidak terdapat kesepahaman antara penutur yang tidak asli dengan penutur asli bahasa target. Ketidaksepahaman interkultural ini akan menimbulkan konflik yang tidak diharapkan yang pada akhirnya akan membawa bencana di antara kedua belah Dengan demikian komunikasi sangat tergantung pada konteks dan budaya, sehingga komunikasi dianggap tidak bebas dari (Cortazzi Laopongharn et. Oleh karena itu penelitian dan kegiatan yang berkaitan dengan komunikasi interkultural menjadi sangat penting terutama bagi penyusunan dan pengembangan kurikulum Pengajaran Bahasa Inggris di perguruan tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara mahasiswa yang berlatar belakang pesantren membentuk pola budaya tertentu dalam komunikasi mereka yang menggunakan bahasa Inggris serta untuk mengetahui pola miskomunikasi interkultural dalam bahasa Inggris. ISSN: 2354-869X Penelitian penyusunan kurikulum dan pengembangan bahan ajar dalam pengajaran bahasa Inggris bagi mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi yang berbasis pesantren. Setelah selesainya penelitian ini dan penyebaran hasil penelitian, diharapkan agar hasil akhir pembelajaran bahasa Inggris dapat terpenuhi dimana para mahasiswa memiliki pengetahuan komunikasi interkultural yang benar dalam rangka mencegah kesalahpahaman antar budaya. Penelitian ini dikonsentrasikan pada studi dan analisis kritis dan komprehensif terhadap pola komunikasi yang sering digunakan oleh mahasiswa berlatar belakang pesantren di Universitas Sains Al QurAoan Wonosobo. TINJAUAN PUSTAKA Bahasa dan Budaya Sebuah bahasa biasanya terkait dengan negara tertentu, seperti bahasa Jepang terkait dengan negara Jepang, bahasa Indonesia terkait dengan negara Indonesia, dan sebagainya. Oleh karena itu, bahasa Inggris terkait dengan negara Inggris. Amerika Serikat dan Australia. Hal ini berarti bahwa bahasa juga terkait dengan budaya sebuah bangsa atau negara dimana bahasa itu berasal (Nault, 2. Dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa Inggris, para penggunanya seharusnya menggunakan norma dan nilai-nilai yang komunikasi yang dilakukan tidak akan mengakibatkan kesalahpahaman. Sebagai konsekuensinya, mereka perlu mengetahui dan mengidentifikasi diri mereka sendiri dengan budaya bahasa target dimanapun mereka menggunakan bahasa Inggris sebagai alat Persepsi klasik terhadap pengajaran bahasa Inggris di sebuah negara dimana bahasa Inggris tidak menjadi bahasa utama adalah dengan tujuan memberikan keterampilan yang sesuai atas aturan, bentuk dan fungsi bahasa untuk berkomunikasi dengan penutur aslinya (Wandel, 2. Hal ini berarti bahwa pihakpihak yang mempelajari bahasa Inggris juga harus mempelajari budaya Inggris. Amerika Serikat dan Australia termasuk di dalamnya produk budaya, cara pandang dan praktekpraktek sosialnya. Hal ini beralasan bahwa Jurnal PPKM i . 247-253 budaya-budaya bertebut harus dipelajari karena Inggris tergantung pada bagaimana penutur aslinya Oleh karena itu, para pembelajar bahasa Inggris diberi gambaran tentang bagaimana masyarakat pada bahasa sasaran berperilaku di negara-negaranya melalui pemberian bahan ajar otentik yang memotret budayanya. Dengan memberikan bahan ajar otentik tersebut, mereka diharapkan dapat berkomunikasi dengan orang-orang yang datang dari wilayah-wilayah tersebut di atas. Selanjutnya, pada waktu seseorang sedang Inggris komunikasinya, berarti bahwa dia sedang terlibat dalam sebuah sistem linguistik dalam konteks tertentu dimana interpretasi terhadap makna didasarkan pada konteks (Liddicoat. Kominikasi Interkultural Sebagaimana disebutkan dalam bagian sebelumnya tentang hubungan bahasa dan budaya, para pembelajar bahasa Inggris perlu memahami bagaimana pengaruh budaya terhadap pembentukan kesepahaman antara komunikator dan pihak yang diajak . Dengan demikian terdapat tindakan tukar-menukar informasi antar budaya secara interpersonal. Terkait dengan hal ini, dapat didefinisikan bahwa komunikasi interkultural adalah pertukaran informasi pada tingkatan kesadaran dan pengendalian yang berbeda antara orangorang dengan latar belakang budaya yang berbeda (Allwood, 1. Dengan demikian, bersamaan dengan terjadinya komunikasi antar budaya tersebut terjadi pula usaha untuk menyesuaikan diri terhadap budaya dari bahasa sasaran ketika seseorang yang bukan penutur asli bahasa Inggris berinteraksi dengan seorang penutur aslinya. Jika seseorang menggunakan sebuah kata atau frasa dalam bahasa Inggris yang tidak tepat pada waktu berkomunikasi dengan seorang penutur aslinya dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman atau malu. Lebih jauh, apabila dia juga melanggar konvensi dan nilainilai memunculkan bencana bagi maksudnya melakukan interaksi. Oleh karena itu. ISSN: 2354-869X komunikator yang bukan penutur asli bahasa Inggris komunikasi interkultural yang meliputi pemahaman tentang perbedaan dalam normanorma interaksional antar kelompok-kelompok sosio-kultural (Laopongharn, et. Terkait dengan pemahaman yang berbeda dalam komunikasi interkultural ini Allwood . menyatakan bahwa kemungkinan perbedaan di antara pola-pola komunikasi antar individu, antara lain gerak tubuh, bunyi dan tulisan, kosakata dan pembentukan frasa, serta tata bahasa. Pada tingkat individu inilah Kekeliruan Pragmatis Terkait dengan hal tersebut di atas, penguasaan pengetahuan linguistik dari bahasa sasaran dan keahlian pragmatiknya (Lihui, , 2. Hal ini penting karena komunikator dan interlokutor yang berbeda latar belakang bahasa dan budaya akan keberhasilan komunikasinya. Dalam hal ini, kompetensi pragmatik dibutuhkan untuk memberikan kesamaan persepsi tentang konvensi sosio-kultural serta aturan-aturan dan nilai komunikatif bahasa sasaran (Lihui, et. Ketidakmampuan memahami hal-hal tersebut di atas akan menimbulkan kekeliruan pragmatik. Thomas . mendefinisikan kekeliruan pragmatik sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memahami apa yang dimaksud dengan apa yang dikatakan. Lebih jauh dia menyebutkan bahwa apabila ketidakmampuan tersebut terjadi di antara penutur asli dan bukan penutur asli bahasa sasaran maka hal tersebut dianggap sebagai kekeliruan pragmatik antar budaya (Thomas, 1. METODOLOGI PENELITIAN Data penelitian diperoleh dari mahasiswa Universitas Sains Al QurAoan Wonosobo yang juga merupakan santri pondok pesantren di Umur mahasiswa berkisar antara 19-25 tahun dengan berbagai ragam tingkat kefasihan berbahasa Inggris dari dasar Jurnal PPKM i . 247-246 . hingga menengah . Setiap mahasiswa telah memiliki pengalaman dalam pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing selama sekolah menengah sebagai pembelajar pasif. Matakuliah bahasa Inggris disusun untuk membangun dasar yang kuat terhadap kemampuan menggunakan bahasa Inggris secara akademis, komunikatif dan akurat. Oleh karena itu, hasil akhir yang diharapkan adalah agar para mahasiswa mampu menggunakan bahasa Inggris di dalam komunitas mereka, selama mereka belajar di perguruan tinggi dan di masa yang akan Metode focus group discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah merupakan salah satu alat yang digunakan untuk pengumpulan data dengan alasan bahwa penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan data kualitatif yang tidak melibatkan tabel serta penghitungan statistik. Dalam hal ini, pengumpulan data diperoleh melalui interaksi antar anggota kelompok diskusi (Ritchie, et. , 2. Dari metode ini diharapkan informasi muncul secara alamiah melalui percakapan antar partisipan. FGD dilaksanakan dalam dua kali dengan kelompok yang berbeda. Masing-masing kelompok terdiri dari dua belas orang. Kelompok pertama melibatkan mahasiswa dari fakultas-fakultas agama Islam di Universitas Sains Al QurAoan Wonosobo yaitu Fakultas Tarbiyah dan ilmu Keguruan (FITK). Fakultas Komunikasi dan Sosial Politik (FKSP), dan Fakultas Syariah dan Hukum Islam (FSHI). Kelompok kedua terdiri dari mahasiswa fakultas-fakultas umum, antara lain Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS). Fakultas Ekonomi (FE). Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), serta Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FASTIKOM). Metode kedua yang dipilih untuk penelitian ini adalah interview kualitatif untuk menjaga kualitas data dan untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak. Alasan lain adalah karena pertanyaannya juga mengenai apa yang dilakukan masing-masing mahasiswa, maka percakapan tatap muka antara peneliti dan yang diteliti. Pendek kata, proses yang ada didasarkan pada beberapa pertimbangan seperti pihak yang harus diwawancarai, strategi ISSN: 2354-869X sampling, dan cara mendapatkan akses kepada yang diwawancarai (Minichiello, 1. Mahasiswa yang diwawancarai dalam penelitian ini adalah mereka yang menjadi mahasiswa Universitas Sains Al QurAoan Wonosobo yang juga merupakan santri pondok pesantren di sekitarnya. Satu syaratnya adalah bahwa informan untuk wawancara ini haruslah dapat diakses oleh peneliti agar ia dapat berkomunikasi dengan mudah. Dalam wawancara, pertanyaannya disusun dalam bentuk pertanyaan terbuka untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam sehingga memang tidak seragam (Weiss 1. Dengan menggunakan metode ini, diharapkan agar wawancara dapat memberikan jawaban tambahan yang tidak diperkirakan sebelumnya oleh peneliti di awal penelitiannya. Meskipun demikian, dalam melakukan wawancara, peneliti menyusun pertanyaan secara terencana dan terstruktur dengan fleksbilitas terhadap perkembangan topik percakapannya. Setelah data dikumpulkan, peneliti menggunakan analisis data tematik sebagai Pendekatan a priori, sebagai bagian analisis data tematik diambil untuk mendapatkan hasil dari analisis. Dengan menggunakan pendekatan ini, peneliti dapat menentukan kategori-kategori dalam rangka mempertimbangkan apa yang akan muncul dari data tersebut (Freeman, 1. Pada dasarnya, terdapat empat elemen data analisis, . ,pengelompokan . ,menemukan hubungan . inding relatio. , dan pemaparan . HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini mendiskusikan beberapa hal terkait dengan cara mahasiswa yang berlatar belakang pesantren membentuk pola budaya tertentu dalam komunikasi mereka yang menggunakan bahasa Inggris serta untuk mengakibatkan miskomunikasi interkultural dalam bahasa Inggris. Hal-hal yang terkait dengan topik ini adalah bahan pertimbangan mereka untuk menentukan cara berkomunikasi dengan orang yang berasal dari negara berbahasa Inggris, cara mereka berkomunikasi dengan orang yang berbahasa Inggris dan berbudaya berbeda dengan mereka agar Jurnal PPKM i . 247-253 komunikasi tersebut tidak merusak suasana Selain itu dibahas pula cara mereka membangun komunikasi antar-budaya agar memiliki keberlanjutan di kemudian hari dan cara mereka mengatasi kendala-kendala yang menghambat terbangunnya komunikasi antar budaya. Selanjutnya didiskusikan juga cara para mahasiswa tersebut mengatasi perbedaan di antara mereka dan lawan bicara yang berasal dari budaya yang berbeda. Terkait dengan bahan pertimbangan mereka untuk menentukan cara berkomunikasi dengan orang yang berasal dari negara berbahasa Inggris dapat diperoleh beberapa keterangan yang memunculkan hal-hal tertentu yang dipikirkan sebelum mereka melakukan Salah satunya adalah bahwa mereka yang berasal dari wilayah dengan bahasa dan budaya Inggris (Bara. memiliki pandangan yang terbuka dan menerima apa saja yang disampaikan oleh lawan bicaranya. Sebagaimana yang disampaikan responden berikut ini Saya melihat kalau orang barat itu lebih terbuka, jadi kalau ada pertimbangan takut salah atau yang seperti itu, saya kesampingkan. Jadi modalnya pede aja. Dan saya melihat mereka biasanya lebih . Dari kutipan di atas dapat diambil keterangan bahwa mahasiswa tersebut telah memiliki persepsi dimana dia lawan bicara yang memiliki budaya Barat pada umumnya tidak akan memandang sempit orang lain yang mengajak berbicara. Dalam hal ini, mahasiswa tersebut tidak khawatir dengan persepsi budaya yang berbeda dengan lawan bicara, meskipun pada akhirnya nanti ada kemungkinan muncul kekeliruan pragmatis. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi pragmatik tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting dalam memulai sebuah komunikasi antar-budaya dengan seseorang dengan latar belakang budaya yang Hal ini sama dengan yang disampaikan oleh mahasiswa lainnya yang menganggap dengan pegetahuannya tentang bahasa Inggris dia sudah dapat berkomunikasi dengan seseorang yang berlatarbelakang budaya bahasa Inggris tanpa memperhatikan kompetensi pragmatiknya sendiri sebagaimana keterangan berikut ini. ISSN: 2354-869X Lebih ke sisi bahasanya pak. Karena menurut saya bahasa itu sendiri sudah merupakan kekuatan budaya, maka secara otomatis pertimbangan bahasa sudah merupakan pertimbangan budaya. Yang penting apa yang kita sampaikan itu bisa . Dari kutipan tersebut dapat dipahami bahwa mahasiswa di atas tidak menganggap bahwa komunikasi interkultural memerlukan menghindari mispersepsi di antara interlokutor. Selanjutnya, informan lainnya merasa perlu untuk mempersiapkan kata-kata apa saja yang akan disampaikan sebagai sikap hati-hati diri mereka ketika akan berkomunikasi dengan mereka yang berbeda bahasa dan budaya tersebut di atas. Selain itu, untuk mengantisipasi terjadinya mispersepi di antara kedua belah pihak, informan ini juga menambahkan bahasa isyarat yang umum dipakai oleh kalangannya sendiri, sebagaimana kutipan berikut ini. Yang pertama, ngatur bahasa dulu. mikirin apa yang mau diucapkan gitu kan. Yang kedua, mungkin ditambah dengan bahasa isyarat mungkin mereka lebih mengerti,gitu aja. Terkait dengan kutipan di atas, dapat diketahui bahwa mahasiswa tersebut berusaha berhati-hati untuk menghindari kekeliruan pragmatik yang akan muncul nantinya dan Dalam hal ini, mahasiswa ini menganggap bahwa bahasa isyarat yang digunakannya untuk berkomunikasi tersebut merupakan konvensi umum. Implikasinya adalah bahwa dia menganggap makna bahasa isyarat yang diapakainya sama dengan yang digunakan oleh pihak yang memiliki budaya Dengan demikian, mahasiswa ini mempertimbangkan bahwa hal tersebut mungkin juga menimbulkan kekeliruan pragmatik dan persepsi yang berbeda yang Terkait dengan cara para mahasiswa tersebut di atas berkomunikasi dengan orang yang berbahasa Inggris dan berbudaya berbeda dengan mereka agar komunikasi tersebut tidak Jurnal PPKM i . 247-246 diidentifikasikan bahwa mereka memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengantisipasi dan memecahkan masalah ketika terjadi sesuatu Sebagaimana diketahui dari hasil wawancara berikut ini. Saya nggak pernah ngobrol panjang, tapi saya juga pernah ngobrol kemudian ada mis di situ juga ya. Cuman kemudian kami sama-sama maklum karena beda kultur. Ya just say IAom sorry. cukup saya Dulu pernah saya berkomunikasi, tapi mungkin bagi orang barat itu menyinggung gitu ya. Dia kemudian menjelaskan panjang lebar bahwa pertimbangan saya salah gitu lah. Setelah itu saya minta maaf dan bilang bahwa di Indonesia yang seperti itu sudah jamak dan seharusnya hal itu menjadi bahan lelucon. Akhirnya ya dia bilang ok . Dari kutipan di atas dapat diidentifikasi bawa mahasiswa yang bersangkutan pada awal komunikasinya tidak menganggap bahwa kompetensi interkultural sangat signifikan dalam rangka membuat komunikasi tidak menimbulkan hal-hal yang negatif di antara Adanya ketersinggungan lawan bicaranya akibat kekeliruan pragmatik mahasiswa tersebut hanya diselesaikan dengan permintaan maaf dan penjelasan singkat saja. Dengan demikian, permasalahan signifikan mengenai kompetensi interkultural mahasiswa hanya merupakan pelengkap yang tidak perlu dipelajari atau didalami oleh mahasiswa sebelum mereka memulai komunikasi antarbudaya dengan penutur asli bahasa Inggris. Dari sisi cara mereka membangun komunikasi antar-budaya agar memiliki keberlanjutan di kemudian hari dan cara mereka mengatasi kendala-kendala yang menghambat terbangunnya komunikasi antar budaya dapat diketahui bahwa para mahasiswa keberlanjutan komunikasi dengan interlokutor. Biasanya mereka hanya ingin mempraktekkan kemampuan bahasa Inggris mereka pada waktu tersebut saja tanpa ada maksud agar komunikasi tersebut berlanjut di kemudian Dari keterangan yang didapatkan, kendalakendala yang muncul pada waktu komunikasi berlangsung yang menghambat terbangunnya komunikasi antar budaya adalah pada kendala teknis bahasa seperti listening, grammar dan ISSN: 2354-869X Untuk hal-hal tersebut, mereka lebih memilih untuk tetap berbicara apa saja, karena mereka menganggap intelokutor juga pasti mengerti dengan yang mereka utarakan. AuKita salah ngomong, mereka juga paham dan itu nggak jadi kendala. Ay. Dalam mengatasi perbedaan persepsi di antara mereka dan lawan bicara yang berasal dari budaya yang berbeda, para mahasiswa tersebut ada yang menggunakan tambahan bahasa Isyarat, berusaha mengikuti persepsi lawan bicara, dan berusaha untuk tidak menganggap perbedaan perseps tersebut sebagai sesuatu yang serius. KESIMPULAN Dari kajian tentang komunikasi interkultural yang terjadi pada mahasiswa berbasis pesantren di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kompetensi interkultural dan kompetensi pragmatik tidak dianggap sebagai hal penting dalam praktek mereka ketika berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berbahasa dan berbudaya berbeda. Hal ini merupakan kekurangan yang harus dihilangkan agar tidak terjadi kekeliruan pragmatik yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan ketersinggungan dari lawan bicara mereka. Oleh karena itu, kontent materi pembelajaran bahasa Inggris di perguruan tinggi hendaknya ditambah dengan materi pemahaman antarbudaya dan kompetensi interkultural. DAFTAR PUSTAKA