Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Februari 2026, pp. e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 http://journal. id/index. php/JSTIF/index Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turbo Menggunakan Metode Retrieval Augmented Few-shot pada Analisis Sentimen I Wayan Adi Maha Wiguna a,1,*. Ida Bagus Nyoman Pascimab,2. Luh Putu Eka Damayantic,3 a,b,c Pendidikan Teknik Informatika. Fakultas Teknik dan Kejuruan. Universitas Pendidikan Ganesha maha@student. 2 gus. pascima@undiksha. 3 ekadamayanthi@undiksha. * Penulis Korespondensi ABSTRAK Large Language Models (LLM) memerlukan metode tambahan untuk optimasi pada tugas spesifik seperti analisis sentimen. Penelitian ini membandingkan performa GPT-3. 5 Turbo dan LLaMA-2 melalui penerapan metode Retrieval Augmented Few-shot (RAFS) pada domain pariwisata, dengan skenario Zero-shot sebagai baseline. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa LLaMA-2 mengalami peningkatan performa yang jauh lebih signifikan dibandingkan GPT-3. 5 Turbo setelah penerapan RAFS. Akurasi LLaMA-2 meningkat dari 0,833 menjadi 0,862, sementara GPT-3. 5 Turbo hanya meningkat tipis dari 0,851 menjadi 0,856. Perbedaan substansial terlihat pada metrik kelas minoritas. f1-score GPT-3. 5 hanya naik dari 0,555 ke 0,572, sedangkan LLaMA-2 melonjak drastis dari 0,462 ke 0,676 dengan kenaikan presisi dari 0,395 ke 0,844. Secara head-to-head. LLaMA-2 terbukti sedikit lebih unggul dibanding dengan GPT-3. 5 Turbo dalam menghasilkan klasifikasi yang tepat dan seimbang. Meskipun GPT-3. 5 memiliki baseline awal yang lebih tinggi. LLaMA-2 menunjukkan kemampuan adaptasi dan skalabilitas yang lebih baik terhadap augmentasi konteks. Temuan ini menegaskan bahwa model open-source dengan dukungan RAFS mampu menyamai, bahkan melampaui model proprieter dalam menangani kompleksitas sentimen ulasan pelanggan. Riwayat Artikel Diterima 25 Januari 2026 Diperbaiki 15 Februari 2026 Diterbitkan 25 Februari 2026 Kata Kunci LLM Analisis Sentimen GPT LLaMA Retrieval Few-shot This is an open-access article under the CCAeBY-SA license Pendahuluan Pada era digital jutaan ulasan, komentar dan opini telah dibagikan oleh pengguna melalui platform Data yang tersebar tersebut memiliki nilai strategis jika dimanfaatkan dengan baik, salah satunya adalah ulasan pelanggan. Ulasan pelanggan merupakan salah satu tolak ukur dalam mengambil keputusan strategis khususnya pada industri akomodasi. Untuk mengetahui bagaimana emosi yang terkandung dari sebuah ulasan dapat dilakukan dengan menganalisis sentimen ulasan Analisis sentimen adalah bidang studi yang berfokus menganalisis opini, sentimen, emosi, penilaian, dan sikap seseorang terhadap suatu topik . Analisis sentimen telah banyak digunakan oleh perusahaan untuk mengetahui review dari produk atau jasa yang ditawarkan . Analisis sentimen dapat dilakukan dengan memanfaatkan machine learning tradisional seperti Support Vector Machine. Naive Bayes, atau Random Forest. Namun, menggunakan metode tradisional untuk pengolahan data teks menghadapi beberapa tantangan, terutama dalam hal akurasi dan pemahaman berbagai bahasa . Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan model besar yang sudah dilatih dengan banyak data sebelumnya, model tersebut bernama Large Language Model (LLM). LLM adalah model yang dilatih dengan kumpulan data yang besar. LLM juga dapat memahami bahasa alami atau NLP dengan tingkat pemahaman bahasa dan pengetahuan yang luas . 12928/jstie. jurnalsarjana@tif. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Februari 2026, pp. ISSN 2809-3399 Dalam tugas analisis sentimen LLM dapat dijalankan dengan berbagai metode, seperti Zero-shot. Fine Tuning. Few-shot atau Retrieval Augmented Generation (RAG). Metode seperti Zero-shot walau mudah untuk diterapkan tanpa data latih namun memiliki performa yang kurang baik sedangkan penerapan Few-shot dalam kasus analisis sentimen memerlukan komputasi yang tinggi karena memproses data keseluruhan contoh dan data ujinya tanpa memikirkan kesamaan semantik Disisi lain Fine-tuning dapat memberikan performa yang lebih baik namun diperlukannya komputasi yang besar serta dataset yang sangat banyak. Sedangkan pendekatan RAG kurang efektif karena tidak terdapat contoh label pada data retrievalnya. Penelitian oleh . membuktikan bahwa performa RAG dapat ditingkatkan lebih lanjut lagi, terutama dengan memberikan penalaran berbasis Selain itu penelitian oleh . menunjukan bahwa hasil dari metode Few-shot sangat bergantung pada relevansi dari contoh yang dipilih. Kedua penelitian tersebut menunjukan bahwa metode RAG dan Few-shot dapat saling melengkapi untuk tugas analisis sentimen. Oleh karena itu diperlukannya sebuah pendekatan yang lebih canggih yaitu Retrieval Augmented Few-shot (RAFS). Pendekatan RAFS ini secara dinamis mengambil contoh ulasan berlabel yang paling relevan secara semantik dari knowledge base untuk setiap data uji yang unik . Pendekatan ini mengadopsi mekanisme retrieval dari RAG untuk mengekstraksi informasi yang paling relevan secara semantik, sementara teknik Few-shot digunakan untuk memandu penalaran model melalui penyertaan contoh ulasan dan label dari hasil retrieval secara eksplisit di dalam prompt. Sistem serupa telah dikembangkan oleh . didapat bahwa adanya peningkatan rata-rata yang paling signifikan yaitu pada model Gpt-neo-2. 7b yang meningkat sebanyak 7. 4 poin. Pada penelitian ini model yang akan dibandingkan adalah LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turbo. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan baru yang krusial, mengingat dua LLM terkemuka seperti LLaMA dan GPT dikembangkan oleh arsitektur dan data pelatihan yang berbeda oleh dua perusahaan yang berbeda pula, maka tidak ada jaminan kedua model tersebut dapat menghasilkan merespon yang sama saat menggunakan metode RAFS. Adanya celah penelitian berupa minimnya penelitian yang menyajikan perbandingan head-to-head yang secara empiris mengukur performa kedua LLM yakni LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turbo dalam menerapkan metode RAFS yang terkontrol. Setidaknya ada 2 permasalahan yang akan dibahas pada penelitian ini . Apakah ada peningkatan yang signifikan setelah penerapan metode RAFS, . Model manakah yang menghasilkan performa yang lebih baik setelah penerapan metode RAFS. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis yang berharga berupa benchmark berbasis data bagi para pengembang dan praktisi industri dalam membuat keputusan strategis saat memilih platform LLM untuk aplikasi Metode 1 Alur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan eksperimental yang berfokus pada pengukuran performa dua Large Language Model (LLM), yaitu LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turbo, dalam tugas klasifikasi sentimen. Eksperimen dilakukan dengan membandingkan dua pendekatan, yaitu Zero-shot sebagai baseline dan Retrieval-Augmented Few-Shot (RAFS) sebagai metode utama yang diusulkan. Pada pendekatan Zero-shot, model melakukan klasifikasi sentimen tanpa diberikan contoh sebelumnya dalam prompt, sehingga performa yang diperoleh merepresentasikan kemampuan awal model dalam memahami instruksi klasifikasi . Sebaliknya, pada pendekatan RAFS, model diberikan contoh-contoh relevan yang diperoleh melalui proses retrieval berbasis kemiripan semantik sebelum proses generasi dilakukan. Berikut adalah alur dari penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1. Wiguna et al. (Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turb. Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 Vol. No. Februari 2026, pp. Gambar 1 Alur Penelitian Implementasi RAFS terdiri atas beberapa tahapan utama. Pertama, data ulasan diproses melalui tahap pra-pemrosesan yang meliputi cleaning, normalisasi, dan case folding. Selanjutnya, dataset dibagi menggunakan skema K-Fold Cross Validation untuk memastikan evaluasi yang adil dan menghindari bias. Pada setiap fold, data latih diubah menjadi representasi embedding dan disimpan dalam vector database. Ketika sebuah data uji diproses, sistem melakukan retrieval terhadap sejumlah k contoh terdekat berdasarkan similarity score. Contoh-contoh yang diperoleh kemudian digabungkan ke dalam prompt pada tahap augmentation, sebelum diberikan ke model LLM untuk proses generasi klasifikasi sentimen. Dengan skema ini. RAFS memungkinkan model menerima konteks tambahan yang relevan secara semantik, sehingga diharapkan dapat meningkatkan akurasi dibandingkan pendekatan Zero-shot. Pada Gambar 1, dijelaskan bahwa ada 2 alur yakni dengan treatment tambahan yakni RAFS dan baseline yakni Zero-shot 2 Akuisisi Data Akuisisi data dilakukan melalui Web Scrapping untuk mengambil data mentah pada website. Pada penelitian ini, proses scraping dilakukan terhadap dua platform utama yaitu Google Review dan Booking. com, yang merupakan sumber ulasan pelanggan dengan relevansi tinggi terhadap objek studi kasus. Seluruh data yang diperoleh disimpan dalam format terstruktur CSV yang kemudian digunakan pada tahapan pelabelan dan Pra-pemrosesan lebih lanjut. 3 Pelabelan Tahap pelabelan melibatkan 3 ahli yakni 2 Dosen Fakultas Bahasa dan Seni yaitu Kadek Trina Des Ryantini. Pd. Pd. dan Luh Putu Dian Kresnawati. Pd. Pd. selain itu terdapat 1 ahli dari pihak Hotel Blue Karma Ubud yaitu I Made Asta. Dari proses pelabelan didapat bahwa hanya ada beberapa perbedaan sentimen antara 3 ahli. Sebuah aturan diterapkan dalam menentukan sentimen final dari sebuah ulasan, jika jawaban kedua ahli dosen bahasa berbeda maka hasil final Wiguna et al. (Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turb. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Februari 2026, pp. ISSN 2809-3399 ditentukan oleh ahli dari pihak Blue Karma Ubud. Jika ketiga ahli menjawab sentimen yang berbeda pada satu ulasan, maka akan dilakukan diskusi lebih lanjut untuk penentuan akhir label. Dengan menggunakan mekanisme pelabelan berbasis konsensus ini, dataset yang digunakan dalam penelitian memiliki dasar anotasi yang lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Guna memperkuat validitas proses tersebut secara statistik, tingkat konsistensi antar-ahli diukur menggunakan koefisien FleissAo Kappa. Berdasarkan hasil pengujian terhadap total 669 ulasan, diperoleh nilai Kappa sebesar 0,5425 yang menunjukkan tingkat kesepakatan berada pada kategori Moderate Agreement. Nilai ini membuktikan bahwa meskipun terdapat variasi interpretasi bahasa, para ahli memiliki persepsi yang cukup konsisten dan objektif dalam menentukan kategori sentimen, sehingga label final yang dihasilkan layak digunakan sebagai ground truth untuk mengevaluasi model LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turbo. Setelah dilakukan pelabelan, didapat bahwa sentimen positif memiliki persentase sebesar 81,8% dengan jumlah 547 ulasan, sedangkan sentimen netral sebesar 15,2% dengan jumlah 102 ulasan. Sementara itu, sentimen negatif memiliki persentase paling kecil, yaitu sekitar 3% dengan total 20 ulasan. 4 Pra-pemrosesan Dari data scraping yang didapat masih terdapat beberapa noise maka dilakukan Pra-pemrosesan meliputi pembersihan teks dari simbol dan emoji, normalisasi kata tidak baku, serta penyeragaman huruf melalui case folding. Pra-pemrosesan yang dilakukan pada pendekatan RAFS lebih sederhana dibandingkan dengan pendekatan tradisional . Proses ini bertujuan untuk mengurangi noise pada data teks sehingga representasi semantik ulasan menjadi lebih konsisten, selain itu fungsi dari Prapemrosesan ini agar data yang digunakan bersifat seragam. 5 Pembagian Data Gambar 2 Viusalisasi K-fold Cross Validation Pada penelitian ini digunakan pembagian data menggunakan Stratified K-fold Cross Validation yang bertujuan agar dataset tidak didistribusikan secara acak ke dalam fold, melainkan dengan tidak mengganggu rasio distribusi antar sampel kelas . Berdasarkan hasil pembagian data, pada fold 1 dan fold 2 masing-masing terdapat 110 data sentimen positif, 20 data sentimen netral, dan 4 data sentimen negatif. Sementara itu, pada fold 3 dan 4 terdapat 109 data sentimen positif, 21 data sentimen netral, dan 4 data sentimen negatif, serta pada fold 5 terdapat 109 data sentimen positif, 20 data sentimen netral, dan 4 data sentimen negatif. Visual dari pembagian data dapat tertampil pada Gambar 2. 6 Zero-shot Zero-shot dilakukan untuk mengukur kemampuan dasar dari kedua model dalam menganalisis sentimen tanpa diberikan contoh berlabel maupun mekanisme retrieval tambahan. Pada skenario ini, setiap ulasan yang menjadi data validasi langsung diberikan kepada model dalam bentuk prompt sederhana, sehingga proses klasifikasi sepenuhnya bergantung pada pengetahuan internal yang diperoleh model selama tahap pelatihan sebelumnya. Pendekatan Zero-shot digunakan untuk merepresentasikan kondisi awal model sebelum diterapkannya metode RAFS. Hasil dari skenario Zero-shot ini akan dijadikan baseline dan akan dikomparasikan dengan hasil setelah penerapan metode RAFS. Wiguna et al. (Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turb. Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 Vol. No. Februari 2026, pp. 7 Retrieval Augmented Few-shot Pada skenario Zero-shot model LLM akan diberikan data testing secara langsung dan hasil dari proses tersebut akan dilakukan evaluasi menggunakan Confusion Matrix. Sedangkan pada skema RAFS setiap iterasi saat data testing dijalankan maka akan dicari 3 ulasan yang memiliki kemiripan tinggi berdasarkan kedekatan semantik. Pada saat proses percarian ulasan, maka Vector DB secara otomatis mengubah data uji menjadi embedding vector dan akan dibandingkan dengan data retrieval. Setelah didapatkan 3 data termirip maka akan dilakukan proses augmentasi dengan menggabungkan contoh dan data testing untuk dijadikan Few-shot yang diberikan kepada model. Hasil dari jawaban model setelah mengklasifikasi menggunakan RAFS akan dievaluasi menggunakan Confusion Matriks. Dari Gambar 3, alur RAFS dijelaskan lebih rinci sebagai berikut: Gambar 3 Alur Retrieval Augmented Few-shot . Input Embedding Tahap pertama adalah melakukan embedding pada validasi set yang merupakan hasil dari pembagian pada tahap K-fold. Embedding dilakukan setiap ada data ulasan yang masuk ke dalam sistem RAFS. Proses embedding ini dilakukan setiap kali sebuah data ulasan validasi diproses oleh sistem RAFS. Ulasan tersebut akan direpresentasikan ke dalam bentuk vektor numerik agar dapat dibandingkan secara semantik dengan data pada retrieval set pada tahap selanjutnya . Retrieval Query vector yang telah dihasilkan selanjutnya digunakan untuk melakukan pencarian kemiripan semantik pada Vector Database yang dibangun dari data retrieval. Proses pencarian ini menggunakan metrik Cosine Similarity untuk mengukur tingkat kedekatan antara query vector dengan seluruh vektor yang tersimpan di dalam database. Berdasarkan hasil perhitungan kemiripan tersebut, sistem kemudian mengambil tiga data dengan nilai kedekatan tertinggi terhadap data validasi dari knowledge base. Output dari tahap retrieval ini berupa ulasan-ulasan yang paling relevan secara kontekstual, yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai few-shot examples pada tahap augmentasi . Agumentation Pada tahap ini dilakukan proses penggabungan antara data ulasan hasil retrieval dan teks validasi berupa ulasan asli. Ulasan hasil retrieval berfungsi sebagai contoh few-shot, sedangkan ulasan validasi berperan sebagai input utama yang akan diklasifikasikan. Kedua komponen tersebut dirangkai ke dalam sebuah prompt final yang selanjutnya dikirimkan ke Large Language Model (LLM) sebagai konteks tambahan dalam proses inferensi. Ulasan yang telah terpilih pada proses retrieval kemudian digabungkan dengan satu data ulasan validasi untuk membentuk sebuah prompt Pada tahap ini, konsep few-shot memiliki peran penting karena menyediakan konteks dan pengetahuan awal yang relevan sehingga dapat mengarahkan proses penalaran model dalam menentukan sentimen ulasan validasi secara lebih akurat. 8 Evaluasi Kinerja model GPT-3. 5 Turbo dan LLaMA-2 dievaluasi dengan menghitung nilai akurasi sebagai ukuran performa keseluruhan, serta confusion matrix untuk menganalisis pola kesalahan klasifikasi pada tiap kelas sentimen. Confusion matrix adalah sebuah tabel yang digunakan untuk menghitung seberapa baik performa dari sistem klasifikasi. Berdasarkan penelitian oleh . mengenai analisis sentimen ditemukan bahwa penggunaan confusion matrix adalah seperti pada Tabel 1. Selain itu. Wiguna et al. (Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turb. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Februari 2026, pp. ISSN 2809-3399 classification report digunakan untuk memperoleh nilai presisi, recall, dan f1-score pada setiap kelas, sehingga performa kedua model dapat dibandingkan secara objektif dan menyeluruh. Tabel 1 Confusion Matrix Prediksi Confusion Matrix Aktual Negatif Negatif Positif Positif Sehingga dari tabel confusion matrix tersebut dapat digunakan untuk menghitung akurasi, presisi, recall dan f1-score. Akurasinya adalah persentase jumlah prediksi yang benar dari total seluruh data uji dengan tujuan untuk mengukur kemampuan keseluruhan model dalam mengklasifikasikan ulasan dengan benar . Berikut adalah rumus untuk menghitung akurasi ditunjukan pada Persamaan 1. Akurasi = TP TN x 100% TP TN FP FN Presisi mengukur tingkat ketepatan model dalam memprediksi suatu kelas tertentu, yaitu seberapa banyak prediksi positif yang benar dibandingkan dengan seluruh prediksi positif yang dihasilkan model . Nilai presisi yang tinggi menunjukkan bahwa model jarang menghasilkan prediksi positif yang salah atau false positive, sehingga penting pada kasus ketika kesalahan prediksi positif harus presisi memiliki rumus ditunjukan pada Persamaan 2. Presisi = TP FP Recall mengukur kemampuan model dalam menemukan seluruh data yang benar-benar termasuk dalam suatu kelas tertentu, yaitu perbandingan antara true positive dengan seluruh data yang seharusnya positif atau true positive dan false negative . Recall yang tinggi menunjukkan bahwa model mampu menangkap sebagian besar data yang relevan, sehingga sangat penting ketika kehilangan data positif dianggap sebagai kesalahan serius. Rumus recall ditunjukan pada Persamaan . TP FN F1-score merupakan ukuran keseimbangan antara presisi dan recall yang digunakan untuk menilai performa model secara lebih adil, terutama pada kondisi data tidak seimbang . Nilai f1score tinggi menandakan bahwa model tidak hanya akurat dalam memprediksi kelas tertentu, tetapi juga mampu menemukan sebagian besar data yang benar. Sementara itu, f1-score weighted mempertimbangkan jumlah data pada setiap kelas sehingga memberikan evaluasi performa model yang lebih representatif terhadap distribusi data secara keseluruhan. Berikut rumus dari f1-score ditunjukan pada Persamaan 4, sedangkan rumus dari f1-score weighted ditunjukan pada Persamaan Recall = F1 Score = 2 x Recall x Precision Recall Precision F1weighted = Oc (F1i y 9 Analisis Hasil Support i . Untuk mengetahui seberapa signifikan RAFS mempengaruhi kedua model dilakukan analisis menggunakan Wilcoxon Signed-Rank. Uji ini dipilih karena metrik evaluasi yang dihasilkan dari proses cross-validation bersifat berpasangan dan tidak memenuhi asumsi normalitas. Uji Wilcoxon merupakan metode statistik non-parametrik yang sesuai untuk membandingkan dua metode pembelajaran mesin . Tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini adalah =0. Wiguna et al. (Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turb. Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 Vol. No. Februari 2026, pp. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Evaluasi telah dilakukan terhadap 2 skenario yakni Zero-shot sebagai baseline pada kedua model LLM dan RAFS sebagai metode usulan untuk meningkatkan performa klasifikasi pada kedua model LLM. 1 Zero-shot Pengujian Zero-shot diimplementasikan sebagai baseline untuk mengukur kemampuan awal kedua model tanpa bantuan konteks tambahan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa baik GPT-3. maupun LLaMA-2 menghadapi kendala signifikan dalam mengklasifikasikan sentimen netral, di mana LLaMA-2 tidak berhasil mengidentifikasi satu pun data pada kategori tersebut. Sebaliknya, kedua model menunjukkan performa yang sangat andal pada kelas positif serta kemampuan yang cukup konsisten dalam mengklasifikasikan sentimen negatif. Hasil dari Confusion Matrix pada skenario Zero-shot disajikan pada Gambar 4. Gambar 4 Hasil Confusion Matrix Zero-shot . GPT 3. 5 Turbo . LLaMA-2 GPT-3. 5 Turbo menunjukkan keunggulan pada seluruh metrik evaluasi dibandingkan LLaMA-2. Pada akurasi. GPT-3. 5 Turbo mencapai skor 0,851, sementara LLaMA-2 berada di angka 0,833. Perbedaan performa yang paling signifikan terlihat pada metrik presisi, di mana GPT-3. 5 Turbo mencatatkan skor 0,699 dibandingkan LLaMA-2 yang hanya sebesar 0,395. Untuk metrik recall. GPT-3. 5 Turbo memperoleh 0,687 dan LLaMA-2 sebesar 0,661. Berdasarkan nilai presisi dan recall tersebut. GPT-3. 5 Turbo menghasilkan f1-score sebesar 0,555, mengungguli LLaMA-2 yang memperoleh 0,462. Tren keunggulan ini juga tercermin pada nilai weighted f1-score, di mana GPT3. 5 Turbo memperoleh skor 0,801 dibandingkan LLaMA-2 sebesar 0,779. Hasil dari klasifikasi dari Zero-shot disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Performa Zero-shot Model Akurasi Presisi Recall F1-score Weighted F1Score GPT 3. 5 Turbo LLaMA-2 2 Retrieval Augmented Few-shot Pengujian metode RAFS sebagai metode usulan yang diimplementasikan untuk meningkatkan performa GPT-3. 5 Turbo dan LLaMA-2. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kedua model mengalami peningkatan performa, khususnya pada klasifikasi sentimen netral. LLaMA-2, yang pada Wiguna et al. (Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turb. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Februari 2026, pp. ISSN 2809-3399 pengujian Zero-shot gagal mengidentifikasi satu pun data pada kategori netral dengan 0 true positive (TP), menunjukkan peningkatan nyata dengan berhasil mengidentifikasi 14 data secara tepat melalui metode RAFS. Tren serupa terlihat pada GPT-3. 5 yang peningkatannya tercatat dari 7 menjadi 13 data benar pada kelas yang sama. Sebaliknya, performa untuk kelas positif dan negatif menunjukkan stabilitas dengan hasil yang hampir identik antara skenario baseline dan metode usulan. Hasil Confusion Matrix disajikan pada Gambar 5. Gambar 5 Confusion Matriks Retrieval Augmented Few-shot . GPT 3. 5 Turbo . LLaMA-2 Secara umum. LLaMA-2 menunjukkan keunggulan pada beberapa metrik evaluasi dibandingkan GPT 3. 5 Turbo. Pada metrik akurasi. LLaMA-2 mencatatkan skor 0,862, melampaui GPT-3. 5 Turbo yang memperoleh 0,856. Peningkatan paling mencolok terlihat pada presisi, di mana LLaMA-2 mencapai angka 0,844, sementara GPT-3. 5 Turbo berada di angka 0,698. Meskipun GPT-3. 5 Turbo memiliki nilai recall sedikit lebih tinggi yaitu 0,705 dibandingkan LLaMA-2 yang hanya memperoleh 0,694. LLaMA-2 tetap unggul secara agregat pada nilai f1-score dengan capaian 0,676 berbanding 0,572. Menariknya, kedua model menunjukkan performa yang identik pada metrik weighted f1-score dengan skor sebesar 0,819. Hasil dari klasifikasi dari Zero-shot disajikan pada Tabel 3. Tabel 3 Performa Retrieval Augmented Few-shot Model Akurasi Presisi Recall F1-score GPT 3. 5 Turbo LLaMA-2 Weighted F1score 3 Eksperimen Imbalance Class Table 4 Akurasi Eksperimen Imbalance Dataset Oversampling Non Oversampling Akurasi GPT 3. 5 Turbo Akurasi LLaMA-2 Penelitian ini menghadapi tantangan ketidakseimbangan dataset yang signifikan, dengan dominasi sentimen positif sebesar 81,8%, diikuti oleh sentimen netral 15,2% dan negatif hanya 3%. Pada Tabel 4, eksperimen mitigasi menggunakan teknik oversampling pada kelas minoritas menunjukkan hasil yang tidak konsisten terhadap performa model, sementara akurasi GPT-3. 5 Turbo meningkat marginal sebesar 1%, performa LLaMA-2 justru mengalami penurunan sebesar 0,7%. Wiguna et al. (Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turb. Jurnal Sarjana Teknik Informatika e-ISSN: 2809-3399, p-ISSN: 2338-5197 Vol. No. Februari 2026, pp. Temuan ini mengindikasikan bahwa bagi model LLM, penambahan frekuensi data secara artifisial melalui duplikasi tidak selalu efektif dalam meningkatkan kemampuan generalisasi, terutama pada arsitektur LLaMA-2 yang menunjukkan kecenderungan overfitting terhadap pola repetitif pada sampel minoritas. Hal ini menegaskan bahwa dalam konteks analisis sentimen ulasan pariwisata, keberagaman linguistik pada distribusi data asli jauh lebih krusial dibandingkan keseimbangan kuantitas antar kelas semata. 2 Pembahasan Hasil eksperimen menunjukkan bahwa penerapan metode RAFS memberikan pengaruh yang signifikan, terutama pada model LLaMA-2. Temuan ini diperkuat oleh hasil uji statistik Wilcoxon pada Tabel 5, yang mencatatkan nilai p-value untuk LLaMA-2 sebesar 0. 000074 yang dimana nilai tersebut < 0,05. Hal ini mengonfirmasi adanya perbedaan performa yang signifikan secara statistik setelah pemberian perlakuan. Sebaliknya. GPT-3. 5 Turbo menunjukkan nilai p-value sebesar 0. yang dimana > 0,05, yang mengindikasikan bahwa perubahan performa pada model tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan secara statistik. Meskipun demikian, analisis lebih lanjut pada akurasi, presisi, recall dan f1-score menunjukkan bahwa kedua model mengalami perubahan ke arah positif, yang menandakan adanya peningkatan performa klasifikasi setelah implementasi metode RAFS. Tabel 5 Hasil Uji Statistik Wilcoxon Model p-value Kesimpulan GPT-3. 5 Turbo Tidak signifikan LLaMA-2 Signifikan Dalam evaluasi pada skenario RAFS, model LLaMA-2 terbukti menunjukkan keunggulan yang lebih dominan dibandingkan GPT-3. 5 Turbo pada mayoritas metrik utama. LLaMA-2 mencatatkan skor akurasi sebesar 0,862, melampaui GPT-3. 5 Turbo yang berada pada angka 0,856. Perbedaan performa yang paling signifikan terlihat pada metrik presisi, di mana LLaMA-2 mencapai angka 0,844 sementara GPT-3. 5 Turbo tertinggal jauh di angka 0,698. Keunggulan presisi yang tinggi ini berdampak langsung pada nilai f1-score LLaMA-2 yang mencapai 0,676, jauh mengungguli GPT3. 5 Turbo yang hanya memperoleh skor 0,572. Walaupun GPT-3. 5 Turbo memiliki nilai recall yang sedikit lebih tinggi yakni 0,705 berbanding 0,694, secara agregat LLaMA-2 lebih unggul dalam memberikan hasil klasifikasi yang lebih tepat dan seimbang setelah diberikan augmentasi konteks. Keunggulan LLaMA-2 pada skenario ini sekaligus menjawab kendala yang ditemukan pada tahap Zero-shot, di mana rendahnya nilai f1-score disebabkan oleh kecenderungan model memprediksi sentimen secara bias ke dalam kelas positif. Sebagaimana terlihat pada Gambar 3, banyak data netral yang salah diklasifikasikan sebagai positif karena keterbatasan model dalam memahami batasan sentimen tanpa panduan. Fenomena ini mengonfirmasi bahwa model open-source dengan skala parameter yang lebih kecil seperti LLaMA-2 sangat bergantung pada strategi tambahan seperti RAFS untuk mencapai performa optimal, terutama dalam menangani karakteristik dataset yang tidak Ketangguhan LLaMA-2 dalam menangani ketidakseimbangan ini semakin dipertegas melalui uji tambahan menggunakan teknik oversampling. Berbeda dengan GPT-3. 5 Turbo yang mengalami sedikit peningkatan akurasi dari 0,854 menjadi 0,864. LLaMA-2 justru menunjukkan performa terbaiknya pada distribusi data asli non-oversampling dengan akurasi sebesar 0,862 dan pada skenario oversampling menjadi 0. Penurunan performa LLaMA-2 menjadi 0,855 saat diterapkan oversampling mengindikasikan bahwa model ini lebih optimal dalam menggeneralisasi ulasan pariwisata melalui keberagaman linguistik pada data asli dibandingkan melalui replikasi data Hal ini membuktikan bahwa mekanisme attention pada LLaMA-2, ketika didukung oleh metode RAFS, mampu mengidentifikasi fitur sentimen kelas minoritas secara efektif meskipun tanpa penyeimbangan jumlah sampel. Kesimpulan Penelitian ini berhasil mengimplementasikan metode RAFS pada model GPT-3. 5 Turbo dan LLaMA-2 untuk tugas analisis sentimen pada domain pariwisata. Temuan eksperimen menunjukkan Wiguna et al. (Perbandingan Performa LLaMA-2 dan GPT-3. 5 Turb. Jurnal Sarjana Teknik Informatika Vol. No. Februari 2026, pp. ISSN 2809-3399 bahwa penerapan RAFS memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan berbagai metrik kedua model dibandingkan dengan skenario baseline Zero-shot. Dari eksperimen yang telah dilakukan didapat temuan bahwa RAFS pada kedua model berpengaruh dalam meningkatkan performa model, pada model LLaMA-2 RAFS berpengaruh secara signifikan. Sedangkan pada model GPT 3. 5 Turbo RAFS tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini diperkuat dengan hasil uji statistik Wilcoxon yang menyatakan bahwa nilai p-value GPT-3. 5 Turbo yaitu 0. 2850 sedangkan LLaMA-2 0. 000074, yang dimana jika nilai p-value kurang dari 0. 05 maka dapat dikatakan ada perbedaan signifikan. Perbandingan head-to-head antara kedua model setelah penerapan RAFS menunjukkan bahwa secara agregat LLaMA-2 sedikit lebih unggul dalam memberikan hasil klasifikasi yang presisi dan seimbang berkat dukungan augmentasi konteks. LLaMA-2 mengungguli GPT-3. 5 Turbo pada metrik akurasi, presisi, dan f1-score, yang mencerminkan reliabilitas model dalam menangani distribusi data yang tidak seimbang. Sementara itu. GPT-3. 5 Turbo hanya mencatatkan keunggulan tipis pada metrik recall, namun pencapaian tersebut diikuti dengan tingkat kesalahan prediksi . alse positiv. yang signifikan dibandingkan dengan LLaMA-2. Deklarasi Kontribusi Penulis. Semua penulis berkontrbusi secara bersama-sama dengan kontributor utama dalam artikel ini. Semua penulis membaca dan menyetujui versi akhir dari artikel yang diajukan. Pernyataan Pendanaan. Tidak ada penulis yang menerima dana atau hibah dari lembaga atau badan pendanaan untuk penelitian ini. Konflik Kepentingan. Penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan. Informasi Tambahan. Tidak ada informasi tambahan dalam artikel ini. Daftar Pustaka