USING THE LET'S TELL A STORY TECHNIQU IN IMPROVING SPEAKING SKILLS IN CLASS XII STUDENTS OF SMK NAHDLATUN NASYIIN KADUR PENGGUNAAN TEHNIK LETAoS TELL A STORY DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA PADA SISWA KELAS XII SMK NAHDLATUN NASYIIN KADUR Kusyairi1. Khoiri2. Edy Suyanto3 Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Jalan Raya Panglegur Km 3,5 Tlanakan. Pamekasan. Madura, 69371 Hp. 082336000936 / 087750453505 Email: kusyairi@unira. id & khoiri83@unira. Abstract: Speaking is one of the important aspects that is taught to students because speaking involves students' productive activities in conveying verbal utterances so that it becomes consideration for teachers about the importance of using learning techniques that are fun and not boring, in conclusion speaking skills are skills that must be honed and trained by students. Student. The interest of students at SMK. Nahdlatun Nasyiin Kadur in using the Indonesian language can be said to be low. This is evidenced by the fact that their daily activities still use their first language instead of using Indonesian. Besides that, in storytelling activities students tend to be afraid and nervous, so that it is necessary to use appropriate learning techniques to arouse students' enthusiasm and enthusiasm. Let's tell a story technique can be used as an alternative for effective and modern learning to improve speaking skills. The results of student responses to improving speaking skills using the Let's Tell a Story technique have increased, this is usually evidenced by the let's tell a story technique applied to you making your interest more interested in improving speaking Kata Kunci: Usage. Let's Tell a Story. Speak. Abstrak: Berbicara merupakan salah satu aspek penting yang dibelajarkan kepada siswa karena berbicara melibatkan kegiatan produktif siswa dalam menyampaikan ujaran secara IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan lisan sehingga menjadi bahan pertimbangan bagi guru tentang arti pentingnya penggunaan tehnik pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan, kesimpulannya keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang harus diasah dan dilatih oleh siswa. Minat siswa di SMK. Nahdlatun Nasyiin Kadur dalam menggunakan bahasa Indonesia bisa dikatakan rendah. Hal ini dibuktikan dengan aktivitas sehari-hari masih menggunakan bahasa pertamanya dari pada menggunakan bahasa Indonesia. Disamping itu dalam kegiatan bercerita para siswa cenderung takut dan gugup, sehingga hal itu diperlukan tehnik pembelajaran yang cocok untuk membangkitkan gairah dan semangat siswa. Tehnik letAos tell a story dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran efektif dan modern untuk meningkatkkan keterampilan Hasil respon siswa terhadap peningkatan keterampilan berbicara dengan menggunakan tehnik LetAos Tell a Story mengalami peningkatan, hal tersebut biasa dibuktikan dengan tehnik letAos tell a story yang diterapkan kepada anda membuat minat anda lebih tertarik dalam meningkatkan keterampilan berbicara. Kata Kunci: Penggunaan. LetAos Tell a Story. Berbicara. PENDAHULUAN Bahasa dalam kehidupan manusia menduduki fungsi yang utama, yaitu sebagai alat komunikasi. Melalui bahasa, manusia dapat memenuhi salah satu kebutuhannya yaitu bersosialisasi dan mengadakan interaksi yang satu dengan yang Ketika manusia ingin berkomunikasi, berekspresi, ataupun berintegrasi sehingga diterima sesamanya, manusia harus terampil berbahasa. Tarigan . 4: . mengungkapkan bahwa AoAosetiap keterampilan berbahasa itu erat sekali hubungannya dengan tiga keterampilan lainnya. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan satu kesatuan, merupakan catur tunggalAoAo. Batasan berbicara yang hampir sama dengan Taringan dikemukakan oleh Kartini . 5: . yang mengungkapkan bahwa berbicara merupakan suatu pristiwa penyampaian maksud, gagasan pikiran, perasaan seorang kepada orang lain dengan dengan mengguanakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dipahami oleh orang Berbicara IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan berkomunikasi, memproduksikan arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan dan keinginan kepada orang laian. Selanjutnya Badudu-Zain . mengartikan berbicra dengan kata-kata, berpidato dan bercakap-cakap. Batasan berbicara yang dikemukakan Badudu-Zain, lebih mengarah kepada jenis Keterampilan berbicara tidak akan datang secara otomatis, tetapi melalui latihan dan praktek yang banyak. Latihan berbicara sebagai salah satu cara untuk melihat pencapaian pembelajaran berbicara terkadang menjemukan karena kurangnya kreativitas guru dalam mengajarkan pembelajaran berbicara menjadi menyenangkan dan menarik. Berbicara merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan manusia dalam berkomunikasi, sama halnya dalam menyimak. Dalam kegiatan pembelajaran, keterampilan berbicara sangat penting, dalam kegiatan pembelajaran, bahasa berperan untuk menyampaikan ilmu dari guru kepada siswa, melalui bahasa yang baik tentunya ilmu akan tersampaikan dengan baik pula, sehingga dapat dipahami oleh Berbicara merupakan kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekpresikan, menyatakan pendapat serta pikiran atau perasaan menjadi wujud ujaran atau bunyi bahasa yang bermakna, yang disampaikan kepada orang lain. Satu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa keberanian siswa dalam mengungkapkan suatu gagasan, pikiran, ataupun perasaan melalui bahasa lisan pada umumnya sangat terbatas. Alasan yang menyebabkan ketidakmampuan siswa untuk berbicara di depan umum, yaitu adanya kesulitan dalam menentukan bahan pembicaraan sehingga mereka merasa bingung tentang topik yang harus dibicarakan. Selain itu, rasa malu juga kerap melanda mereka ketika berbicara didepan umum. Kesulitan berbicara salah satu diantaranya disebabkan pembinaan kemampuan berbicara yang kurang di dalam kelas. Maidar . 8: . mengatakan bahwa AyDi IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan indonesia dari tingkatan pendidikan yang paling rendah hingga pendidikan yang paling tinggi, bentuk ceramah paling umum dipakai, baik dalam menggunakan alat bantu maupun tidak sehingga menjadi malas membaca. Hambatan yang sering terjadi dalam pelaksaan kegiatan berbicara adalah ketidaknyamanan, disebabkan karena sikap tidak tenang, kaku dan terbata-bata. Bahkan seseorang ada yang tidak berani berbicara kerena perasaan tidak percaya diri, takut dan tegang. Padahal kemampuan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting dan dapat menunjang segala aspek dalam kehidupan. Ketiadaan rasa percaya diri dalam diri siswa dalam berbicara dikarenakan siswa tidak menguasai topik pembicaraan atau bahkan siswa bingung mengenai topik yang harus Faktor lain yang menjadikan siswa tidak percaya diri untuk berbicara adalah faktor kebiasaan yang paling berpengaruh dalam kemampuaan berbicara. Pribahasa mengatakan Aubisa karena biasaAy, dari pribahasa tersebut kita dapat belajar bahwa jika siswa membiasakan diri sejak dini berbicara maka kebiasaan tersebut akan terbawa terus dalam hidup, baik dalam kegiatan forrmal ataupun nonformal. Pada umumnya kesulitan berbicara salah satu diantaranya disebabkan pembinaan kemampuan berbicara yang kurang di dalam kelas, baik kelas tingkat dasar, menengah, maupun tingkat atas Dalam kurikulum Bahasa Indonesia SMK. Nahdlatun Nasyiin Kadur, standart kompetensi pelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari 4 aspek sebagai berikut: Mendengarkan, seperti mendenagarkan berita, petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara, bunyi atau bahasa, lagu, ceramah, pidato, khotbah, laporan dialog atau percakapan. Berbicara, seperti mengungkapkan gagasan, atau pembicaraan, menyampaikan sambutan, dialog, diskusi, dan lain-lain. Membaca, seperti membaca huruf, suku kata, kata, kalimat, paragraf. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan d. Menulis, seperti menulis karangan naratif, deskptif, argumentasi dengan tulisan rapi dan jelas dengan memperhatikan tujuan dan ragam pembaca. Dari keempat keterampilan berbahasa diatas, antara keterampilan bahasa yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan, dalam artian saling memiliki hubungan yang erat. Keempat keterampilan berbahasa tersebut tentunya dalam proses belajar mengajar dibutuhkan tehnik belajar yang efektif dan menyenangkan bagi peserta didik sehingga diharapkan tujuan dari pembelajaran tersebut dapat tercapai secara efektif dan optimal, termasuk juga dalam proses berbicara Upaya pemecahan masalah pembelajaran tersebut diperlukan pengembangan berupa pembelajaran yang aktif, inovatif, dan kreatif serta berpusat pada siswa. Seperti penggunaan teknik yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan akan turut membantu dalam proses belajar mengajar. Melalui penggunaan teknik pembelajaran diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar mengajar. Oleh karena itu, peneliti/penulis terinspirasi untuk melakukan sebuah penelitian mengenai pembelajaran berbicara khususnya dalam bercerita. Tehnik yang digunakan mengarah pada pembelajaran yang aktif, inovatif, dan kreatif, serta berpusat pada siswa. Tehnik yang dimaksud adalah Tehnik letAos tell a story. Tehnik pembelajaran sangat diperlukan dalam pembelajaran, kerena akan berpengaruh terhadap pencapaian terhadap tujuan pembelajaran itu sendiri. Tehnik pembelajaran sangat diperlukan dalam pembelajaran, kerena akan berpengaruh terhadap pencapaian terhadap tujuan pembelajaran itu sendiri. Dalam tehnik mengajar mari bercerita . etAos tell a stor. merupakan permainan berbicara . peaking gam. digunakan dalam pengajaran berbicara. Tehnik ini ditujukan untuk melatih mengarang/bercerita bersama secara lisan, memotivasi siswa untuk belajar aktif karena dengan tehnik ini siswa diajak bermain dan diberikan tantangan untuk memecahkan masalah dalam suasana permainan. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Penelitian serupa juga pernah ditulis oleh saudari A. Ummul Haifa Mahasiswi Unuiversitas Muhammadiyah Makasar dengan judul AuPengaruh Penerapan Tehnik LetAos Tell A Story Terhadap Hasil Belajar Keterampilan Berbicara Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas V Sd Inpres Pullauweng Kecamatan EremerasaAy Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar sebelum penerapan tehnik LetAos Tel A story di kategorikan rendah ditunjukkan dari nilai kemampuan berbicara Siswa METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian (Arikunto, 2010:. Sedangkan metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu. Sugiono . 2: . Pengertian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa metode penelitian adalah ilmu yang mempelajari tentang cara untuk menemukan, mengembangkan dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan suatu metode ilmiah guna mencapai tujuan tertentu, maka untuk mendapatkan kebenaran suatu ilmu pengetahuan harus memakai metode-metode ilmiah dengan suatu penelitian yang seksama sehingga memperoleh data yang dapat dipertanggung jawabkan Penelitian ini peneliti menggunakan metode deskriptif yaitu memperoleh gambaran objektif terhadap masalah yang diteliti, peneliti juga menggunakan penelitian kuantitatif yaitu penelitian ilmiah yang sistematis terhadap bagian-bagian dan fenomena serta hubungan-hubungannya. Tujuan penelitian kuantitiatif adalah mengembangkan dan menggunakan model-model matematis, teori-teori dan atau hipotesis yang berkaitan permasalahan. Proses pengukuran adalah bagian yang sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari hubungan-hubungan IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Dari pengertian diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa metode penelitian adalah ilmu yang mempelajari tentang cara untuk menemukan, mengembangkan dan mengkaji kebenaran suatu pengetahuan dengan menggunakan suatu metode ilmiah guna mencapai tujuan tertentu, maka untuk mendapatkan kebenaran suatu ilmu pengetahuan harus memakai metode-metode ilmiah dengan suatu penelitian yang seksama sehingga memperoleh data yang dapat dipertanggung Jadi metode dalam penelitian sangat penting karena merupakan suatu alat untuk memperoleh jawaban dalam memecahkan suatu problem yang dihadapi dalam rangka penemuan, pengembangan dan pengujian kebenaran data yang didapat dalam penelitian ini. Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu, cara ilmiah, data tujuan, kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada cirri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat diamati oleh indra manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan mengatahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah-langkah tertentu yang bersifat logis walaupun langkah-langkah penelitian antara metode kuantitatif, kualitatif itu berbeda, tetapi semuanya sistematis (Sugiono, 2010: . Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, karena tujuan utama PTK adalah perbaikan dan peningkatan layanan pembelajaran. Dalam hal ini peneliti bertujuan memperbaiki atau meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Menurut Trianto . 7: . Penelitian Tindakan Kelas berasal dari istilah bahasa Inggris Classroom Action Reseach, yang berarti penelitian yang dilakukan pada sebuah kelas untuk mengetahui akibat tindakan yang diterapkan pada suatu IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan subjek penelitian di kelas tersebut. Sedangkan menurut Eliot . alam Suwandi, 2010: penelitian tindakan adalah suatu kajian tentang situasi sosial dengan tujuan memperbaiki mutu tindakan dalam situasi sosial dengan tujuan memperbaiki mutu tindakan dalam situasi sosial tersebut. Menurut Aqib . 9: . penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri bertujuan untuk memperbaiki kinerja sehingga hasil belajar siswa meningkat. Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan penelitian yang berusaha memperbaiki pembelajaran yang sudah Menurut Hopkins . alam aqib, 2006: . ada enam prinsip dalam penelititan tindakan kelas (PTK) yaitu sebagai berikut: Pekerjaan utama guru adalah mengajar dan apapun metode PTK yang diterapkannya sekiranya tidak mengganggu komitmennya sebagai pengajar. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga tidak berpeluang mengganggu proses Metodelogi yang digunakan harus reliabel, sehingga memungkinkan guru mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk menjawab hipotesis yang Masalah program yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang cukup merisaukan, dan bertolak dari tanggung jawab profsional. Dalam menyelenggarakan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian yang tinggi terhadap proses dan prosedur yang berkaitan dengan Dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin harus digunakan class room excerding perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan konteks kelas dan atau mata pelajaran tertentu, melainkan perspektif misi sekolah secara keseluruhan. HASIL DAN PEMBAHASAN Teoritis tentang Keterampilan Berbicara Para pakar memberikan difinisi yang berbeda-beda mengenai pengertian Tarigan . 8: . menyebutkan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaiakn pikiran, gagasan dan perasaan. Lebih luas lagi, berbicara merupakan suatu bentuk prilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, semantik dan ligustik. Secara ektensif dan luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam kegitan berbicara terjadi proses perubahan wujud pikiran atau perasaan menjadi wujud ujaran atau bunyi bahasa yang bermakna. Berbicara bukan hanya mengucap yang tanpa makna, tetapi menyampaiakn pikiran atau perasaan kepada orang lain melalui ujaran atau dengan bahasa lisan. Batasan berbicara yang hampir sama dengan Taringan dikemukakan oleh Kartini . 5: . yang mengungkapkan bahwa berbicara merupakan suatu pristiwa penyampaian maksud, gagasan pikiran, perasaan seorang kepada orang lain dengan dengan mengguanakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dipahami oleh orang Berbicara memproduksikan arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan dan keinginan kepada orang laian. Selanjutnya Badudu-Zain . mengartikan berbicra dengan kata-kata, berpidato dan bercakap-cakap. Batasan berbicara yang dikemukakan Badudu-Zain, lebih mengarah kepada jenis IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Faktor-Faktor Penting dalam Berbicara Untuk jadi pembicara yang baik, seseorang Selain harus memberikan kesan bahwa ia menguasai masalah yang dibicarakan, juga harus memperhatikan keberanian dan kegairahan. Selain itu pembicra juga harus berbicara dengan jelas dan Berkaitan dengan hal ini. Arsjad dan Mukti U. S . 3: . mengemukakan untuk keefektifan berbicaranya, yaitu faktor kebahasan dan non kebahasaan. Faktor kebahasaan yaitu aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah bahasa, yang seharusnya dipenuhi ketika seseorang menjadi pembicara, sedangkan faktor non kebahasaan yaitu aspek-aspek yang menentukan keberhasilan seorang dalam berbicara yang tidak ada kaitannya dengan masalah bahasa. Faktor kebahasaan meliputi: Ketepatan pengucapan . Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan kalimat secara tepatdan jelas. Pengucapannyang kurang tepat dapat mempengaruhi perhatian dan pendengarnya. Penempatan tekanan, nada, sendi dan durasi . Kesesuaian intonasi, nada dan durasi, merupakan fakor penentu. Jika penyampaian masalah yang dibicarakan datar-datar saja, hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kebosenan untuk pendengar sehingga keefektifan berbicara menjadi berkurang. Pemilihan kata . dan pemakain kalimat. Pilihan kata hendaknya tepat dan jelas agar mudah dipahami oleh . Ketepatan sasaran pembicaraan Pemakaian kalimat yang sederhana akan lebih memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraan. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Teknik LetAos Tell a Story Teknik mengajar mari bercerita . etAos tell a stor. merupakan bagian dari teknik permainan dalam pembelajaran berbahasa. F Maskey dalam Subana . membagi permainan bahasa . anguage game. ke dalam empat jenis, yaitu: Permainan mendengarkan . istening gam. Permainan berbicara . peakeng gam. Permaian membaca . eading gam. Permainan menulis . riting gam. Teknik lets tel a story yang merupakan permainan berbicara . peaking gam. digunakan dalam pengajaran berbicara. Tehnik ini ditujukan untuk melatih bercerita bersama secara lisan . ral compositio. Teknik ini memotivasi siswa untuk belajar aktif karena dengan tehnik ini siswa diajak bermain dan diberi tantangan untuk memecahkan masalah dalam suasana Teknik ini menimbulkan semangat kooperatif dan sehat, karena dapat dilakukan secara beregu. Pada dasarnya, dalam teknik letAos tell a story guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. pembelajaran teknik letAos tell a story ini merupakan teknik belajar dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari lima sampai enam orang, an siswa bekerja sama saling ketergantungan positif dan dan bertanggung jawab secara mandiri. Dalam teknik letAos tell a story ini siswa banyak kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan mengelolah informasi yang didapat dan dapat meningkatkan keberanian dalam berbicara. Anggota kelompoknya bertanggung jawab terhadap keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari dan dapat menyampaiakan informasinya secara baik. Lie . 9: . menyatakan bahwa teknik letAos tell a story merupakan salah satu tehnik pembelajaran yang fleksibel, banyak riset telah dilakukan berkaitan dengan pembelajaran berbicara, secara konsisten menunjukkan bahwa siswa yang terlibat di IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan dalam pembelajaran teknik letAos tell a story ini memperoleh prestasi lebih baik, mempunyai sikap dan keberanian yang lebih baik terhadap pembelajaran Penerapan Teknik LetAos Tell a Story dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara Teknik letAos tell a story digunakan untuk materi bercerita. Guru akan memberikan materi yang mengenai bercerita dan hal-hal yang harus diperhatikan dalam bercerita. Setelah itu, siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya. Siswa membagi cerita dengan teman kelompoknya dan belajar bercerita dengan temannya. Dengan menggunakan teknik ini siswa bisa mengembangkan sikap sosial dan mendorong siswa dalam berpartisipasi melakukan kegiatan. Penjelasan materi Tahap ini merupakan tahapan penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan tahapan ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Belajar kelompok Tahapan ini dilakukan setelah guru memberikan penjelasan materi, siswa bekerja dalam kelompok yang telah dibentuk sebelumnya. Mengembangkan sikap sosial Pembelajaran bercerita dengan menggunakan teknik letAos tell a story ini membuat siswa bisa mengembangkan sikap sosial. Karena siswa disini dilatih untuk berinteraksi dengan guru dan teman kelompoknya atau dari kelompok lain. Hal ini yang membuata siswa terlatih sikap sosialnya, mereka akan belajar bagaimana interaksi dengan teman kelompoknya. Mendorong partisipasi siswa dalam kegiatan Pada proses pembelajaran siswa diharuskan fokus terhadap materi yang disampaikan oleh guru. Teknik ini menuntut guru untuk bisa menarik perhatian IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan siswa dan harus membuat siswa aktif. Selain itu guru harus memberikan stimulus agar siswa lebih giat lagi untuk belajar, jadi guru harus benar-benar memperhatikan serta menciptakan suasana kelas yang menyenangkan. Pengakuan tim Tahap ini merupakan penetapan tim yang dianggap paling menonjol atau tim yang paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah, dengan harapan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi lebih baik lagi. HASIL Data pengamatan aktivitas siswa observasi digunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa pada proses belajar mengajar dalam rangka peningkatan keterampilan berbicara dengan menggunakan tehnik letAos tell a story kelas XII SMK. Nahdlatun Nasyiin Kadur Data respon siswa angket digunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa proses belajar mengajar dalam rangka mengetahui respon siswa kelas XII SMK. Nahdlatun Nasyiin Kadur untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Data hasil tes kemampuan siswa digunakan untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara. Perencanaan Dalam perencanaan siklus I ini peneliti sebagai pengajar dengan dibantu satu orang observer melakukan persiapan yaitu menyusun RPP, lembar observasi, lembar penilaian membaca pemahaman dan angket untuk siswa. Implementasi Tindakan dan Observasi Pembelajaran berbicara dalam bentuk bercerita dengan menggunakan teknik letAos tell a story berdasarkan RPP tersebut : Guru melakukan apersepsi Guru menyampaikan kompetensi dasar yang akan dicapai Menggali pengetahuan awal siswa mengenai bercerita. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan d. Guru membentuk siswa dalam beberapa kelompok, dan menyiapkan yang berisi no urut kelompok, serta kartu yang berisi judul dongeng. Setiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda. Setelah itu siswa diberi kesempatan untuk mempelajari dan memahami tugas yang diberikan guru yang berupa cerita . Guru mengundi no undian siswa yang telah di sediakan senbayak jumlah siswa untuk maju kedepan satu persatu. Masing-masing siswa maju satu persatu untuk bercerita . , dan kelompok lain mendengarkan dengan seksama. Setelah semua kelompok selesai maju ke depan, guru memberikan evaluasi. Diakhir pembelajaran, guru menyebarkan angket respon siswa terhadap proses belajar mengajar yang berlangsung. Angket tersebut digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap peningkatan keterampian berbicara dengan menggunakan tehnik letAos tell a story. Data Hasil Observasi Aktivitas Siswa Aspek yang diamati Antusias mengikuti KBM Kekompakan siswa dalam mengerjakan tugas Kelancaran siswa dalam mengajukan pertanyaan Kesanggupan siswa dalam menjawab pertanyaan Baik Sekali Baik Cukup Kurang Jumlah IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Persentase Observasi aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran berbicara dengan menggunakan teknik letAos tell a story, siswa masih kurang bersemangat dalam belajar. Selain itu, keaktifan siswa juga masih kurang dan siswa masih kurang percaya diri untuk bertanya dan menjawab. Dari 30 siswa hanya 8 siswa yang antusias dalam mengikuti pembelajaran, 11 siswa yang sanggup menjawab pertanyaan dan 22 siswa yang mampu bertanya, serta 28 siswa yang bekerja sama. Hasil Angket Respon Siswa PERSENTASE Tidak Tidak PERTANYAAN Apakah anda senang dengan pelajaran bahasa Indonesia? PILIHAN JAWABAN Apakah anda lebih mengerti dan lebih mudah memahami materi dengan teknik letAos tell a story? Apakah anda menyukai cara mengajar guru anda dengan teknik letAos tell a story? Apakah teknik letAos tell a story yang diterapkan kepada anda membuat minat anda lebih tertarik dalam menigkatkatkan keterampilan berbicara ? IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Apakah merasa lebih mudah mengerjakan tugas setelah anda mengikuti pembelajaran dengan Jumlah Rata Ae Rata menggunakan teknik letAos tell a Berdasarkan hasil respon pada siklus I persentase siswa dari pertanyaan yang diberikan mendapat masukan sebagai berikut: Pada pertanyaan apakah anda senang dengan pelajaran Bahasa Indonesia mendapat respon jawaban Ya sebanyak 22 siswa dan jawaban Tidak sebanyak 8 Pertanyaan apakah anda lebih mengerti dan lebih mudah memahami materi dengan teknik letAos tell a story mendapat respon jawaban Ya sebanyak 18 siswa dan jawaban Tidak sebanyak 12 siswa. Pertanyaan apakah anda menyukai cara mengajar guru anda dengan teknik leAos tell a story? mendapat respon jawaban Ya sebanyak 20 dan jawaban Tidak sebanyak 10. Pada pertanyaan apakah teknik leAos tell a story yang diterapkan kepada anda membuat minat anda lebih tertarik dalam meningkatkan keterampilan berbicara? mendapat respon jawaban Ya sebanyak 16 siswa dan jawaban Tidak sebanyak 14 siswa. Pada pertanyaan apakah merasa lebih mudah mengerjakan tugas setelah anda mengikuti pembelajaran dengan menggunakan tehnik letAos tell a story? mendapat respon jawaban Ya sebanyak 19 siswa dan jawaban Tidak sebanyak 11 siswa. Dengan demikian penerapan pembelajaran cukup positif walaupun masih harus dibenahi. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Hasil Tes Keterampilan Berbicara Ketepatan struktur kosa Cara bercerita JUMLAH Anniyah Erfan Efendi Ernawati Faisol Akbar Fausi Hairi Hamimah Harromah Hasinah Ika Wati Innamah Ismawati Kadir Khoirul Anwar Muhit Musirah Muslihah Nurul Hasanah NAMA SISWA Kelancaran Gaya Kelengkapan isi cerita ASPEK YANG DINILAI IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Nurul Yakin RifAoah Rifatin Rizal Muhaimin Rohayati Rohimah Rohmayati Romyati Siti Halimah Siti Munifah Tatik Uswatun Hasanah Jumlah Persentase 63, 66 KESIMPULAN Aktivitas siswa kelas XII SMK. Nahdlatun Nasyiin Kadur dalam Berbicara dengan menggunakan teknik letAos tell a story mengalami peningkatan aktivitas, dari mengajukan diri untuk bertanya, mengajukan diri untuk berpendapat, mengerjakan tugas dan kerja sama, persentase pada siklus I sebesar 69%, dan siklus II sebanyak Respon siswa setelah dilihat dari hasil angket yaitu sebanyak 26 siswa dengan presentase 87% mengatakan senang dan sebanyak 4 siswa dengan presentase 13% mengatakan tidak senang. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Hasil tes pada peningkatan keterampilan berbicara dengan menggunakan teknik letAos tell a story mengalami peningkatan yang signifikan yaitu pada perubahan nilai rata-rata dari nilai rata-rata mendapat nilai 75. DAFTAR PUSTAKA