Journal of Education and Culture Vol. No. Maret 2026 ISSN: 2797-8052 Konsep Pendidikan Islam Menurut M. Iqbal dan Fazlur Rahman Nur Fitriani Fatihah1. PAI. Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia silviafitriani92@gmail. Abstract Keywords: Islamic education. Muhammad Iqbal. Fazlur Rahman. Renewal of Islamic thought. This study aims to analyze the concepts of Islamic education according to Muhammad Iqbal and Fazlur Rahman and identify their relevance in the context of contemporary Islamic education. This study uses a qualitative approach with library research methods, through analysis of the main works of both figures and relevant secondary literature. The results indicate that Muhammad Iqbal viewed education as a process of forming khudi . reative personalit. , emphasizing the strengthening of individuality, dynamism, and human creativity within the framework of Islamic spirituality. Meanwhile. Fazlur Rahman emphasized the importance of methodological renewal through a historical-critical approach and the integration of religious and general knowledge to overcome the dichotomy of knowledge in the Islamic education The similarities between the two lie in their orientation toward renewal, critical attitude toward intellectual stagnation, and humanistic and progressive vision of education. The differences are evident in their conceptual focus, with Iqbal emphasizing the philosophical-existential aspect, while Rahman emphasizes epistemological and systemic reconstruction. This study concludes that the synthesis of the thoughts of these two figures contributes significantly to formulating an integrative, contextual, and responsive paradigm for Islamic education to the challenges of modernity. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep pendidikan Islam menurut Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman serta mengidentifikasi relevansinya dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. , melalui analisis terhadap karya-karya utama kedua tokoh serta literatur sekunder yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Muhammad Iqbal memandang pendidikan sebagai proses pembentukan khudi . epribadian kreati. yang menekankan penguatan individualitas, dinamisme, dan kreativitas manusia dalam kerangka spiritualitas Islam. Sementara itu. Fazlur Rahman menekankan pentingnya pembaruan metodologis melalui pendekatan historis-kritis dan integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum, guna mengatasi dikotomi keilmuan dalam sistem pendidikan Islam. Persamaan keduanya terletak pada orientasi pembaruan, sikap kritis terhadap stagnasi intelektual, serta visi pendidikan yang humanistik dan progresif. Perbedaannya tampak pada fokus konseptual, di mana Iqbal lebih menekankan aspek filosofis-eksistensial, sedangkan Rahman lebih menitikberatkan pada rekonstruksi epistemologis dan sistemik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sintesis pemikiran kedua tokoh tersebut berkontribusi signifikan dalam merumuskan paradigma pendidikan Islam yang integratif, kontekstual, dan responsif terhadap tantangan modernitas. Journal homepage: https://ejournal. id/index. php/jec/index Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 Corresponding Author: Nur Fitriani Fatihah Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia E-mail: silviafitriani92@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan adalah proses mengubah sikap dan prilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan. Pada hakikatnya pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Tujuan nya agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki potensi spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Munib, 2. Adapun Yusuf Qardawi berpendapat bahwa pendidikan islam adalah pendidikan manusia seutuhnya yang meliputi akal dan hatinya, jasmani dan rohaninya, serta akhlak dan keterampilannya (Qardawi, 1. Berdasarkan pengertian pendidikan islam sebagaimana para tokoh tersebut, dapat dipahami bahwa pendidikan islam ialah usaha untuk mengembangkan dan menjaga fitrah manusia sebagai ciptaan Allah SWT yang terbaik. Pendidikan Islam merupakan pilar utama dalam pembentukan manusia yang beriman, berakal, dan berkepribadian utuh. Namun, dalam realitas modern, pendidikan Islam sering dihadapkan pada tantangan serius berupa dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, stagnasi pemikiran, serta ketidakmampuan merespons dinamika sosial dan perkembangan zaman. Kondisi ini menuntut adanya rekonstruksi pemikiran pendidikan Islam yang tidak hanya berakar pada nilai-nilai normatif Islam, tetapi juga mampu berdialog secara kritis dengan modernitas. Oleh karena itu, pemikiran tokoh-tokoh muslim modern menjadi penting untuk dikaji sebagai upaya pembaruan konseptual dalam pendidikan Islam. Pemikiran Pendidikan islam memiliki corak dan warna yang sangat beragam, seiring dengan kekayaan tradisi keilmuan dalam dunia islam itu sendiri. Salah satu tokoh besar muslim yang memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan pemikiran dan mengubah nasib individu-individu bangsa melalui tulisantulisannya adalah Muhammad Iqbal, seorang filsuf, penyair dan pemikir muslim dari benua India. Dalam pandangan Muhammad Iqbal, pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu pengetahuan, tapi merupakan proses pembentukan manusia seutuhnya. Ia menekankan pentingnya kebebasan berpikir, pengembangan potensi diri . ang dikenal dengan konsep khud. , serta pembentukan karakter dan integritas moral. Konsep khudi menjadi pusat pemikiran Muhammad Iqbal yang revolusioner, yaitu keyakinan bahwa setiap individu memiliki potensi ilahiyah yang harus dikembangkan melalui pendidikan yang visioener dan mendalam. Dengan kata lain, pendidikan islam yang dikemukakan oleh Muhammad Iqbal didasari oleh proses kehidupan nyata di masyarakat yang tidak berpihak pada takdiri Ilahi semata, bahwa diperlukan adanya tindakan nyata atau aksi untuk menciptakan perubahan dalam kehidupan (Yanti et al. , 2. Oleh sebab itu, pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang merdeka, kreatif, dan bertanggung jawab secara spiritual maupun Relevansi pemikiran Muhammad Iqbal dalam konteks pendidikan Islam masa kini sangatlah kuat. tengah arus globalisasi, sekularisasi, dan disrupsi teknologi, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Muhammad Iqbal mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada romantisme masa lalu atau merasa inferior di hadapan budaya Barat, melainkan membangun sistem pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Islam yang universal namun terbuka terhadap perkembangan zaman. Pemikirannya menjadi inspirasi untuk merancang sistem pendidikan yang holistik, transformatif, dan berbasis pada keadilan sosial. Lebih jauh. Muhammad Iqbal menggarisbawahi bahwa pendidikan harus bersifat inklusif, menjangkau semua lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Setiap individu, terlepas dari latar belakang sosial dan ekonomi, berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu. Di saat yang sama, pendidikan juga harus diarahkan untuk membentuk kesadaran spiritual dan moral yang tinggi. Pendidikan yang baik tidak hanya menciptakan manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat, bermoral, dan memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat. Inilah visi besar pendidikan dalam pandangan Muhammad Iqbal yaitu membentuk insan kamil yang mampu membangun peradaban yang adil dan berkeadaban. Menurut Fazlur Rahman, masih ada sejumlah masalah dalam pendidikan Islam meskipun ada inisiatif untuk mereformasinya. Pendidikan Islam masa kini tidak benar-benar bertujuan untuk mencapai tujuan yang Tujuan pendidikan Islam pada periode tersebut secara eksklusif berfokus pada kehidupan setelah kematian dan cenderung bersifat defensif, berupaya melindungi umat Islam dari pencemaran dan kehancuran yang disebabkan oleh pengaruh konsep-konsep Barat yang masuk melalui berbagai disiplin ilmu, terutama Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 yang terkait dengan adat istiadat Islam (Rahman, 1. Dengan mempertimbangkan keadaan tersebut, pendekatan pendidikan Islam yang secara umum telah tercipta di seluruh dunia Islam masih cenderung berbeda, sehingga tidak mampu menghasilkan muslim yang benar-benar berkomitmen pada Islam baik secara intelektual maupun religius. Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman merupakan dua pemikir muslim terkemuka yang memberikan kontribusi signifikan terhadap gagasan pembaruan pendidikan Islam. Muhammad Iqbal menekankan pendidikan sebagai proses pembentukan khudi . iri atau kepribadia. yang kreatif, dinamis, dan bertanggung jawab, sehingga manusia mampu menjadi subjek aktif dalam sejarah. Sementara itu. Fazlur Rahman mengembangkan konsep pendidikan Islam yang berorientasi pada integrasi ilmu pengetahuan dan moralitas melalui pendekatan intelektual yang kritis terhadap Al-QurAoan dan tradisi Islam. Ia memandang pendidikan sebagai sarana untuk melahirkan manusia muslim yang memiliki keutuhan intelektual, spiritual, dan sosial. Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis konsep pendidikan Islam menurut Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman, serta relevansinya dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Dengan memahami gagasan kedua tokoh ini, diharapkan dapat diperoleh perspektif alternatif dalam merumuskan model pendidikan Islam yang transformatif, humanis, dan responsif terhadap tantangan zaman tanpa kehilangan landasan nilai-nilai keislaman. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. , yang bertujuan untuk melakukan telaah mendalam dan analisis kritis terhadap sumber pustaka yang relevan dengan topik penelitian. Dalam pendekatan ini, berbagai referensi akademik, seperti jurnal dan buku digunakan sebagai bahan utama untuk memperoleh data yang valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Studi kepustakaan merupakan metode yang digunakan dalam pengumpulan informasi dan data melalui analisis literatur yang telah terpublikasi, sehingga memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman komprehensif terhadap isu yang di kaji. Sumber primer dalam penelitian ini berdasarkan dari buku atau karya-karya pemikiran Muhammad Iqbal tentang pemikiran pendidikan islam. Juga buku dan jurnal terkait pemikiran Muhammad Iqbal. Adapun sumber primer merupakan sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data atau peneliti (Sugiyono, 2. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini diambil dari artikel atau jurnal yang berkaitan dengan tema penelitian. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari data yang sudah ada, berupa literatur-literatur yang mempunyai hubungan dengan masalah yang sedang di teliti. Proses seleksi data dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama, peneliti menelusuri berbagai literatur yang berkaitan dengan pemikiran Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman dalam konteks pendidikan Islam. Kemudian peneliti menyaring sumber berdasarkan kecocokan dengan topik utama dan kualitas sumbernya. Dalam tahap selanjutnya, peneliti menilai kualitas sumber dengan melihat relevansi, kredibilitas, dan metode yang digunakan dalam setiap literatur tersebut. Analisis data dilakukan menggunakan teknik content analysis dengan pendekatan kualitatif. Pada tahap ini, peneliti mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dalam pemikiran kedua tokoh tersebut, seperti pendidikan akhlak, kurikulum, metode pembelajaran, dan konsep Peneliti juga mengelompokkan dan menganalisis ide-ide tersebut secara sistematis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perbedaan dan kesamaan antara kedua pemikir. Langkah terakhir adalah penarikan kesimpulan berdasarkan analisis yang dilakukan, yang kemudian digunakan untuk membandingkan dan merumuskan pemikiran pendidikan Islam dalam perspektif Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman. PEMBAHASAN Biografi Muhammad Iqbal Nama lengkapnya adalah Muhamamd Iqbal bin Muhammad Nur bin Muhammad Rafiq. Ia lahir pada 22 februari 1873 di kota Sialkot, sebuah kota peninggalan Dinasti Mughal di India. Dalam konteks sosial India pada masa kelahirannya, keluarga Iqbal berasal dari kasta Brahmana Kashmir. Selain mendapatkan pendidikan dari keluarganya, kepribadian, pengetahuan dan keterampilan keagamaan Iqbal kecil juga dibentuk melalui bimbingan Maulana Mir Hasan, seorang guru sekaligus sastrawan yang ahli dalam sastra Persia dan Bahasa Arab. Iqbal merampungkan Pendidikan nya pada tahun 1895 (Hidayatullah. Setelah menyelesaikan pendidikan awalnya. Muhammad Iqbal melanjutkan studi di Government Collage, tempat ia bertemu dengan Sir Thomas Arnold, seorang orientalis dan akademisi Barat, yang memberikan pengaruh besar terhadap kepribadiannya. Dalam perjalanan intelektualnya. Iqbal di pengaruhi oleh dua sosok penting. Sayid Mir Hasan dan Sir Thomas Arnold. Sayid Mir Hasan menanamkan kecintaan Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 terhadap nilai-nilai ketimuran dan warisan budaya islam, sedangkan Sir Thomas Arnold membentuk pandangannya untuk lebih terbuka dan menghargai prinsip-prinsip pemikiran Barat. Atas dorongan intelektual dari Sir Thomas Arnold. Iqbal kemudian melanjutkan studinya ke Eropa, dimulai di Universitas Cambridge. Inggris. Disana, ia mendalami filsafat dan belajar langsung dari Dr. McTaggart, seorang filsuf terkemuka. Iqbal berhasil meraih gelar dalam bidang filsafat moral. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya ke Universitas Munich di Jerman, tempat ia meraih gelar doctor. Setelah menyelesaikan studi di Jerman. Iqbal Kembali ke London untuk mempelajari hukum. Ia berhasil menyelesaikan Pendidikan hukumnya dan resmi menjadi advokat (Aristyasari, 2. Iqbal di anugerahi gelar AiSirAn, oleh pemerintah Inggris pada 1922 atas usul seorang wartawan Inggris, karena ketenarannya baik di Eropa maupun di negeri-negeri Timur. Karir politiknya mencapai puncak prestasinya ketika pada 1926-1930 dipercaya menjadi presiden Dewan Legislatif di Punjab, selain menduduki presiden Liga Muslim di Allahabat. Iqbal pernah dua kali, 1931 dan 1932, mewakili kaum minoritas muslim di Konferensi Meja Bundar I dan Konferensi Meja Bundar II. Pada 21 maret 1932. Iqbal di tunjuk untuk memimpin konferensi seluruh muslim India di Lahore, kemudian pada 23 agustus 1933 ditunjuk menjadi presiden Komite Kasmir, dan meleburkan diri dengan organisasi politik lain sehingga ia menjadi inspirator untuk terciptanya negara islam, yang kemudian cita-cita Iqbal ini terwujud pada 15 agustus 1947 ketika masa Ali Jinnah (Suharto, 2. Di kemudian hari dalam karirnya, reputasi Iqbal meluas melampaui pekerjaannya sebagai akademisi dan praktisi di bidang filsafat, pendidikan, dan politik. Ia juga memiliki bakat menulis yang luar biasa. membuktikannya dengan kemampuannya menulis puisi, yang kemudian diakui oleh seorang penyair Urdu Namun, puisi dan sajaknya berfungsi sebagai media untuk evolusi ide-ide politik, filosofis, dan pendidikannya (A. Iqbal, 2. Maka dengan berbagai keahlian yang dimiliki menjadikan Iqbal sebagai rujukan dalam pengambilan setiap ide dan gagasan, salah satunya dalam bidang Pendidikan. Kontribusi Muhammad Iqbal dalam Pendidikan Islam Pengertian Pendidikan Iqbal berbeda dengan pembaharu-pembaharu islam yang lain, sebab ia adalah seorang penyair dan filosof Timur yang telah mengukir hidupnya sedemikian rupa, hingga akan dikenang umat manusia ratusan tahun yang akan datang (Nasution, 2. Sebab, seluruh karyanya dalam bentuk puisi dan prosa yang berbahasa Urdu. Parsi (Persi. , dan Inggris telah terdokumentasi dengan baik (M. Iqbal, 2. Iqbal bukan ahli Pendidikan dalam arti sehari-hari tetapi apabila ditinjau dari buah pikirannya dan imajinasinya, apa yang diungkapkannya adalah sangat kompeten untuk direnungi oleh segenap ahli yang berkecimpung dalam dunia Pendidikan. Dalam hal ini Iqbal melontarkan ide, yang apabila disejajarkan dengan pengertian pendidikan pada umumnya lebih mempunyai jangkauan yang luas dan menyeluruh. pengertian pendidikan menurut Iqbal mencakup pembinaan pengaruh secara pribadi maupun sosial yang membentuk, mengembangkan dan memodifikasi gagasan dan perbuatan perorangan maupun kelompok. Sehingga dengan demikian, pendidikan itu dipandang sebagai suatu keseluruhan daya budaya yang mempengaruhi kehidupan perorangan maupun kelompok masyarakat yang mencakupi prinsip dasar pendidikan, konsep individualitas, keserasian jasmani dan ruhani, individu dan masyarakat, evolusi kreatif, peranan intelek dan intuisi, pendidikan karakter, tata kehidupan sosial dan kreatifitas pendidikan (Hendri, 2. Kedua, gagasan Iqbal adalah tentang kehidupan, menekankan tantangan dan tujuan akhir umat manusia, serta menyarankan dan mendukung filosofi pendidikan. Dengan kata lain, filosofi Iqbal telah mengarahkan fokus kita pada gagasan inti pendidikan dan secara tepat mendukung semua teori dan praktik pendidikan. Lebih jauh. Suharto (Suharto, 2. menjelaskan bahwa dalam upaya mengajukan gagasan rekonstruksi pendidikan. Muhammad Iqbal terlebih dahulu melakukan kritik terhadap kedua sistem pendidikan yang dominan pada masanya, yakni sistem Pendidikan Barat dan sistem Pendidikan islam. Kritik Iqbal terhadap sistem Pendidikan Barat merupakan bentuk pertahanan intelektual untuk melindungi pemikiran umat islam dari pengaruh destruktif gagasan-gagasan Barat. Gagasan tersebut menyusup melalui berbagai cabang ilmu pengetahuan dengan tujuan utama merusak fondasi moral islam melalui penyebaran pandangan hidup yang bersifat materialistik. Sementara itu, kritik Iqbal terhadap sistem pendidikan islam tradisional bersifat korektif. Ia menyoroti kesalahpahaman sebagian umat islam dalam memaknai pendidikan islam, yang cenderung hanya menekankan aspek spiritual ukhrawi. Oleh karena itu. Iqbal mendorong adanya keseimbangan antara aspek duniawi dan ukhrawi dalam pendidikan agar lebih relevan dengan kebutuhan umat. Tujuan Pendidikan Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 Menurut Muhammad Iqbal, pendidikan merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan peradaban manusia. Bahkan, ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan inti dari peradaban itu sendiri. Karena itu, lanjut Iqbal, tujuan utama pendidikan merupakan inti dari peradaban itu sendiri. Karena itu, lanjut Iqbal, tujuan utama pendidikan adalah membentuk sosok manusia sejati, yakni individu yang utuh secara moral dan spiritual. Baginya, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu menyelaraskan antara dimensi duniawi dan ukhrawi secara seimbang. Berdasarkan pemikiran ini. Iqbal melontarkan kritik tajam terhdap dua sistem Pendidikan yang dominan saat itu yaitu Pendidikan tradisional islam dan Pendidikan Barat. Karena menurutnya, keduanya gagal merealisasikan cita-cita Pendidikan sejati sebagaimana yang ia bayangkan (Puspitasari, 2. Nuryamin . menyatakan bahwa dalam pandangan Iqbal, pendidikan idelanya bersifat progresif dan kreatif, mendorong individu untuk aktif mengembangkan diri. Melalui pendekatan ini, manusia akan memperoleh tempat yang diakui dalam kehidupan sosial dan global. Untuk membentuk kemanusiaan yang utuh, sistem pendidikan perlu diarahkan pada pengembangan potensi akal dan diri, dengan memperhatikan baik aspek rasional-idealis maupun pengalaman indrawi dalam memahami realita Lebih lajut lagi, menurut Iqbal sebagaimana dikutip oleh Mukti . , tujuan Pendidikan diantaranya meliputi: Karena pendidikan adalah perjalanan sejati untuk menjelajahi kemungkinan yang tak terbatas, tujuan hidup yang mulia harus memotivasi aktivitas manusia di semua sektor, khususnya di bidang pendidikan, yang bertugas memperkuat hati nurani dan intelektual manusia tanpa "sikap menyerah" atau pesimisme. Untuk menjamin hubungan dan harmoni antara dua kutubAiIslam tradisional dan Barat kontemporerAipendidikan berfungsi untuk mendorong interaksi yang dinamis dan berwawasan ke depan di antara keduanya. Pendidikan adalah "jimat" untuk mencapai tujuan. Akibatnya, semangat dan tujuan tersebut harus meresap ke dalam pendidikan karena memberikan motivasi bagi kehidupan sosial dan budaya. Pendidikan perlu dinamis dan imajinatif, dimotivasi oleh keyakinan penuh harapan bahwa tujuan utama umat manusia adalah menjadi manusia yang sempurna. Adapun dasar-dasar pendidikan menurut Iqbal dalam Saiyidain . memiliki beberapa prinsip diantaranya sebagai berikut: Konsep individu Iqbal menggarisbawahi bahwa pendidikan hanya dapat dilakukan oleh manusia. Untuk menjadi manusia yang sempurna . nsan kami. Iqbal berpendapat bahwa pendidikan harus mampu menumbuhkan karakteristik individualitas manusia . go/dir. Menurut Iqbal, manusia yang sempurna adalah orang yang bertindak seperti Tuhan dan memiliki sifat-sifat ilahi. Manusia menyerap dan sepenuhnya mengintegrasikan sifat-sifat ini. Pertumbuhan individu Pertumbuhan dan perkembangan individu harus dibimbing secara optimal oleh pendidikan. Individu terlibat dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang kreatif dan dinamis ini sebagai respons terhadap lingkungan sekitarnya. Keseimbangan antara jasmani dan rohani. Iqbal menegaskan bahwa pertumbuhan kekayaan batin seseorang akan dipengaruhi oleh perkembangan pribadinya sendiri. Tanpa keterkaitan dengan benda-benda materi, perkembangan kekayaan batin ini tidak mungkin terjadi. Untuk mengembangkan individu, perlu untuk mengintegrasikan spiritualitas sebagai cita-cita dan fisik sebagai kenyataan. Manusia hendaknya menggunakan dunia fisik sebagai bahan mentah untuk mengejar cita-cita budaya dan spiritual, dan mereka hendaknya menyelidiki dan memanfaatkan semua peluang yang tersedia untuk meningkatkan martabat manusia. Pertautan individu dan masyarakat Gagasan ini menyoroti hubungan penting antara budaya masyarakat dan kehidupan pribadi. Keberadaan individu terwujud dalam masyarakat. Kehidupan seseorang akan lebih lemah dan tujuan hidupnya akan menjadi tidak jelas tanpa adanya masyarakat. Kreativitas Individu Iqbal tidak menyetujui kausalitas tertutup karena hal itu menyangkal kemungkinan suatu fenomena terulang di beberapa lokasi dan era atau munculnya orisinalitas. Iqbal menyoroti nilai kreativitas manusia, yang telah berkembang dari waktu ke waktu. Manusia dapat melampaui waktu dan mengatasi kendala berkat daya cipta mereka. Pendidikan adalah satu-satunya cara untuk memupuk kreativitas semacam ini. Peran intelektual dan intuisi Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 Realitas dapat dipahami secara intuitif atau intelektual. Masing-masing berkontribusi dengan cara unik untuk meningkatkan kreativitas manusia. Pemahaman langsung dan menyeluruh tentang realitas sangat bergantung pada kapasitas intelektual. Iqbal menegaskan bahwa berkonsentrasi pada konsepkonsep yang hanya dapat dipahami melalui intuisi adalah jalan menuju kebenaran metafisik, bukan mengejarnya melalui pengajaran intelektual. Pendidikan Karakter Manusia dapat menjadi kekuatan yang tak terhentikan jika mereka mempersenjatai diri dengan kualitas pribadi yang dapat berkembang hingga potensi penuh mereka dan didasarkan pada iman yang Orang seperti itu akan mampu menghubungkan dirinya dengan kehendak Tuhan dan membimbing dirinya menuju kebajikan. Iqbal menyebut hal itu sebagai memiliki karakter yang tangguh. Pendidikan Sosial Iqbal menegaskan bahwa kehidupan sosial selayaknya dilaksanakan diatas prinsip tauhid. Ini berarti bahwa tauhid semestinya hidup di dalam kehidupan intelektual dan emosional manusia. Di samping itu. Iqbal mengungkapkan bahwa tata kehidupan sosial seharusnya secara aktif menguras dan menggali segala kekuatan yang tersirat di dalam ilmu pengetahuan dan pada saat yang sama juga mengontrol dan mengawasi lingkungan kebendaan. Biografi Fazlur Rahman Di distrik Hazara. Punjab, yang saat ini berada di barat laut Pakistan di anak benua India-Pakistan. Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 M/1338 (Suprapno et al. , 2. Fazlur Rahman dibesarkan dalam keluarga yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat Islam Hanafi. Seperti yang diketahui umum, mazhab ini sangat menghargai ra'yu, atau akal. Fazlur Rahman telah menghafal Al-Quran pada usia sepuluh tahun. Selanjutnya pada usia 14 tahun. Fazlur Rahman mulai belajar filsafat. Bahasa arab, teologi, hadits dan tafsir. Apalagi setelah beliau menguasai beberapa Bahasa asing seperti Bahasa Persia. Urdu. Inggris. Prancis. Jerman. Latin dan Yunani yang semakin mempengaruhi kualitas intelektualnya. Orang tua Fazlur Rahman memiliki pengaruh besar dalam hidupnya. Ia mengklaim bahwa ibunya menanamkan dalam dirinya nilai-nilai kesetiaan, kejujuran, kasih sayang, dan yang terpenting, cinta. Ayahnya juga mengajarkannya tentang modernisme, yang membuatnya berpikir bahwa Islam harus selalu mengikuti perkembangan zaman. Pada akhirnya, ia bersikap kritis terhadap Islam Sunni dan Syiah. Fazlur Rahman dan keluarganya pindah ke Lahore. Pakistan, pada tahun 1933. Di sana, ia memperoleh pendidikan akademis dan pendidikan Islam tradisional. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Punjab, tempat ia lulus pada tahun 1942 dengan gelar Master di bidang sastra Arab. Dengan syarat ia mengesampingkan studi disertasinya, ia diberi kesempatan untuk bergabung dengan organisasi Jamiat Islami Al-Maududi sambil menyelesaikan gelarnya. Namun, ia menolak karena ingin menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Oxford di Inggris pada tahun 1946. Ia mengambil tindakan ini setelah mengamati betapa tidak memadainya pendidikan Islam di India. menjadi skeptis terhadap studinya sebagai akibat dari menghadapi banyak paradoks yang ia peroleh saat mempelajari filsafat. Disertasinya tentang pemikiran Ibnu Sina yang menganggap bahwa Ibnu Sina lah yang membuat sistem filsafat yang lengkap dari kalangan muslim. Dari sinilah ia menerjemahkan karya-karya Ibnu Sina dalam Bahasa Inggris. Ia memberikan kuliah di Universitas Durham di Inggris pada tahun 1958. Ia juga menghasilkan banyak esai tentang filsafat agama Islam saat mengajar di Universitas McGill pada tahun yang sama. Tulisantulisannya membantunya mendapatkan pengakuan luas. Fazlur Rahman adalah seorang reformis dan pemikir Islam modern yang sangat kritis. Bahkan ide-idenya diakui secara global, khususnya di kalangan akademisi yang mengkhususkan diri dalam filsafat Islam baik di Barat maupun di Timur. Pemerintahan Ayyub Khan menunjuk Fazlur Rahman sebagai direktur Institut Pusat Penelitian Islam pada tahun 1962. Lebih lanjut, ia ditambahkan ke dewan penasihat doktrin Islam. Selama waktu ini. Fazlur Rahman menerbitkan artikel tentang studi Islam, yang membantunya mengembangkan ide-idenya. Namun, sejumlah ulama tradisional di Pakistan memberikan tantangan serius kepada Fazlur Rahman. Di tengah tantangan-tantangan ini. Fazlur Rahman mengklaim bahwa Al-Qur'an sepenuhnya adalah firman Allah dan, dalam pengertian konvensional. Nabi Muhammad SAW. Ketika penentangan terhadap ide-ide Fazlur Rahman meningkat, sebuah publikasi fundamentalis akhirnya diterbitkan, yang menyudutkan Rahman dengan menyebutnya sebagai Munkir Qur'an, atau seseorang yang tidak percaya pada Al-Qur'an. Karena terus berlanjutnya keresahan di Pakistan. Fazlur Rahman mengundurkan diri dari jabatannya sebagai direktur Institut Penelitian Islam. Ini adalah langkah politik yang bertujuan untuk melemahkan Ayyub Khan dengan memanfaatkan ulama tradisional untuk melawan ide-idenya (Yusdani, 1. Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 Konflik antara faksi tradisional, fundamentalis, dan modernis termasuk di antara isu-isu teologis yang memengaruhi munculnya isu-isu politik. Pengunduran diri Ayyub Khan terjadi setelah pengunduran diri Fazlur Rahman. Fazlur Rahman akhirnya pindah ke Chicago. Illinois, selama waktu ini. Di sana. Fazlur Rahman bergabung dengan Departemen Bahasa dan Peradaban Timur Universitas Chicago sebagai profesor studi Islam. Ia dengan tekun membagikan pemikirannya baik secara lisan maupun tulisan selama delapan belas tahun di sana. Fazlur Rahman menulis buku dan esai selama periode ini yang diterbitkan di sejumlah publikasi ilmiah di AS. Eropa, dan Asia hingga wafatnya pada tahun 1988. Baik umat Muslim maupun komunitas ilmiah sangat berduka atas kepergiannya. Dalam sebuah jurnal yang di tulis oleh Ajahari . Menurut interpretasi Islam yang luas dari Fazlur Rahman. Islam dapat dan seharusnya menerima perilaku yang wajar dalam kerangka iman, yang memiliki kesetaraan dan kecukupan. Menurutnya, tujuan Islam adalah untuk membangun struktur masyarakat yang bermoral, sehat, dan berwawasan ke depan. Ia mampu dengan bebas mengungkapkan pandangannya selama puncak kariernya di Chicago, di mana ia mengkritik kaum modernis, sekularis, gerakan fundamentalis Islam, dan pemikiran Barat secara umum, serta menawarkan interpretasi ekstrem terhadap Islam normatif. Banyak ide kebangkitan Islam, pra-modernis, modernis klasik, dan neo-kebangkitan menjadi dasar gagasan Fazlur Rahman. Ciri-ciri berikut membedakan gerakan-gerakan ini dari gerakan-gerakan di Barat: kepedulian terhadap degradasi sosial-moral umat Islam dan upaya untuk mengatasinya. seruan untuk kembali kepada Islam asli dan pemberantasan takhayul Sufi modern. seruan untuk menghilangkan sifatsifat yang telah ditentukan sebelumnya. seruan untuk pembaharuan kebangkitan melalui penggunaan kekuatan bersenjata. Fazlur Rahman menerapkan gerakan yang dikenal sebagai neo-modernisme berdasarkan ide-ide ini. Gerakan ini berfokus pada pendekatan metodis yang dapat memulihkan Islam secara utuh sambil tetap setia pada fondasi spiritualnya dan memenuhi tuntutan Islam kontemporer tanpa secara terang-terangan menolak atau menyerah kepada Barat. Kontribusi Fazlur Rahman dalam Pendidikan Islam Tujuan Pendidikan Menurut Fazlur Rahman (Rahman. Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual. Terjemahan Ahsin Muhammad, 1. tujuan Pendidikan terbagi ke dalam beberapa poin. Pertama, tujuan Pendidikan islam yang bersifat defensive dan hanya berorientasi pada kehidupan akhirat. Tentu tujuan ini harus segera diubah sebab sebelum manusia menjamah kehidupan akhirat, manusia lebih dahulu hidup di dunia. Pada dasarnya, tujuan Pendidikan islam harus berorientasi pada kehidupan dunia dan akhirat sekaligus bersumber pada Al-QurAoan. Menurut Al-Qur'an, tujuan pendidikan adalah untuk membantu manusia mengembangkan keterampilan dasar mereka sehingga pengetahuan yang mereka pelajari dapat dipadukan dengan sifat kreatif Kedua. Beban psikologis umat Muslim saat berurusan dengan Barat perlu segera dihilangkan. Dalam hal ini. Dengan menggunakan Al-Qur'an sebagai panduan. Fazlur Rahman mempromosikan studi Islam yang menyeluruh, historis, dan metodis dengan merujuk pada evolusi bidang-bidang Islam seperti teologi, hukum, etika, hadits, ilmu sosial, dan filsafat. Struktur intelektual dan spiritual peradaban Muslim ditopang oleh disiplin ilmu Islam yang telah berkembang dari waktu ke waktu. Ketiga, sifat negatif umat islam terhadap ilmu pengetahuan juga harus diubah. Dalam pandangan Fazlur Rahman, tidak ada ilmu pengetahuan yang salah, penggunanyalah yang kurang tepat. Sebagai contoh, para ilmuwan Barat menemukan ilmu atom, tetapi mereka mengembangkan bom atom sebelum mereka dapat memanfaatkannya secara efektif atau mengendalikan kekuatannya . enggunakan energi yang dihasilkan oleh reaksi nuklir yang dapat diubah menjadi energi listri. Produksi bom atom masih berlangsung hingga saat ini, dan bahkan bersifat kompetitif. Pada akhirnya, para peneliti mati-matian mencoba mencari cara untuk menghentikan pembuatan senjata-senjata ini. Sistem Pendidikan Persoalan dualism . sistem pendidikan telah melanda seluruh negara muslim. Bahkan Syed Hossein Nasr dan Syed Ali Ashraf percaya bahwa dualitas sistem pendidikan berasal dari pendekatan mereka yang berbeda terhadap tujuan pendidikan serta dari variasi bentuk eksternal sistem tersebut. (Suprapno. Filsafat Pendidikan Islam, 2. Sekumpulan prinsip yang diambil dari Al-Quran membentuk dasar sistem Islam tradisional yang telah lama ada. Tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang taat kepada Allah dan yang senantiasa berusaha untuk memenuhi perintah-Nya, demikian bunyi Al-Quran. Mereka yang mengikuti petunjuk Allah Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 SWT akan berusaha untuk memahami semua fenomena, baik di dalam maupun di luar lingkup kekuasaan Allah. Sistem modern, di sisi lain, berupaya untuk menghilangkan Allah dari pemahaman tentang asal usul kosmos atau fenomena, meskipun mereka tidak secara eksplisit menyangkal-Nya. Rahman berupaya memberikan solusi untuk kesenjangan yang semakin lebar dalam sistem pendidikan Islam dengan memadukan pengetahuan umum dengan pengetahuan agama secara alami dan menyeluruh. Pada intinya, pengetahuan tidak dapat dipisahkan dan saling terkait. Dengan demikian, baik pengetahuan agama . iqh, kalam, tafsir, dan hadit. maupun pengetahuan umum . lmu sosial, ilmu alam, dan sejarah duni. harus dimasukkan dalam kurikulum dan silabus pendidikan Islam. Pada masa keemasan Islam, strategi integrasi ini dipraktikkan. Untuk meraih kesuksesan di dunia ini maupun di akhirat. pengetahuan kemudian dipelajari secara holistik dan harmonis. Peserta Didik Ketidakmampuan lembaga pendidikan Islam untuk membuat perbedaan yang jelas antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum sangat terkait dengan kesulitan yang dihadapi siswa dalam bidang studi ini. Hal ini mengakibatkan rendahnya kualitas intelektual siswa dan terciptanya kepribadian ganda di kalangan Misalnya, seorang muslim yang saleh mungkin religius dan taat, namun pada saat yang sama, ia mungkin terlibat dalam praktik korupsi, penindasan, pemerasan, atau kejahatan keji lainnya. Ironisnya, generasi muslim yang seharusnya berdedikasi secara intelektual dan spiritual kepada Islam justru dirugikan oleh paradoks dalam sistem pendidikan ini (MaAoarif, 1. mereka lebih berperan sebagai pemain teknis dalam persoalan agama. Sementara ruh agama jarang dipelajari secara intens dan akrab. Permasalahan yang disebutkan di atas dapat diselesaikan dengan sejumlah cara, termasuk sebagai berikut: pertama, pelajaran Al-Quran harus diajarkan kepada siswa sedemikian rupa sehingga kitab suci tersebut dapat berfungsi sebagai sumber inspirasi moral dan sumber utama untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Fazlur Rahman menyajikan pendekatan metodisnya untuk memahami dan menafsirkan Al-Qur'an dalam konteks ini. Pendekatan ini terdiri dari dua langkah: berangkat dari masa kini menuju wahyu Al-Qur'an dan kemudian kembali ke masa kini. Dua langkah dalam gerakan pertama adalah sebagai berikut: Makna atau pentingnya suatu pernyataan harus dipahami dengan melihat konteks sejarah dan masalah-masalah yang dibahas dalam Al-Qur'an. Studi tentang situasi makro dalam lingkup masyarakat Arab, agama, adat istiadat, lembaga, dan kehidupan pada masa kedatangan Islam, khususnya di wilayah Makkah, harus dilakukan sebelum menelaah ayat-ayat individual. Dengan mempertimbangkan konteks sosial-historis yang sering disebutkan, generalisasikan tanggapan-tanggapan tertentu dan di sajikan sebagai pernyataan dengan implikasi moral dan sosial yang luas yang dapat diambil dari bagian-bagian tertentu. Arahan Al-Quran akan kembali efektif jika kedua langkah ini dilakukan. Rahman memberikan teknik penafsiran yang dikenal sebagai prosedur ijtihad. Kedua, memberikan materi disiplin ilmu-ilmu islam secara historis, kritis, dan holistic. Disiplin ilmu tersebut meliputi Teologi. Hukum. Etika. Ilmu sosial, dan Filsafat. Pendidik Saat ini, cukup sulit untuk menemukan guru yang terampil di lembaga pendidikan Islam. Pandangan Fazlur Rahman tentang bagaimana pendidikan Islam telah berkembang di banyak negara Islam menjadi bukti hal ini. Dari segi substansi, pendidik yang berkualitas dan profesional dengan pemikiran inovatif dan integratif adalah mereka yang dapat menggunakan hal-hal baru sebagai alat untuk mengkomunikasikan ide dan menafsirkan hal-hal lama dalam bahasa baru. Hampir semua negara Islam telah berjuang dengan kekurangan tenaga pengajar. Fazlur Rahman memberikan beberapa saran untuk mengatasi masalah ini. Pertama, temukan dan latih siswa yang sangat berbakat dan taat kepada Islam. Untuk membantu mereka mencapai tujuan dan memajukan karir intelektual mereka, siswa yang bercita-cita menjadi pendidik harus didukung dan diberi insentif yang cukup. Kedua. Baik dengan merekrut lulusan madrasah yang berprestasi atau merekrut akademisi kontemporer dengan gelar doktor dari universitas-universitas Barat yang telah mengajar bahasa Arab. Persia, dan sejarah Islam di lembaga pendidikan tinggi. Ketiga. Pusat-pusat studi Islam di luar negeri, khususnya di Barat, harus menyediakan pelatihan bagi para pendidik. Fazlur Rahman melanjutkan upaya ini ketika beliau menjabat sebagai Direktur Institut Pusat Penelitian Islam. Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 Keempat. Mempekerjakan sejumlah lulusan madrasah berbahasa Inggris dan mendidik mereka dalam metode penelitian kontemporer. Kelima. Para guru diingatkan untuk menulis dengan gaya Islami. Selain menulis tentang seni, filsafat, dan sejarah, mereka juga harus fokus pada pengenalan kembali ide-ide Islam. Para guru juga harus mengerahkan banyak upaya dalam penelitian dan pekerjaan mereka untuk publikasi. Kesejahteraan yang lebih besar harus diberikan kepada mereka yang melakukan pekerjaan baik sebagai tanda terima kasih. Komparasi tujuan pendidikan perspektif Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman Aspek Perbandingan Landasan Filosofis Tujuan Utama Pendidikan Orientasi Pendidikan Konsep Manusia Ideal Sikap terhadap Ilmu Kritik terhadap Pendidikan Islam Peran Pendidikan Dampak yang Diharapkan Metode Pendekatan Tujuan Akhir Muhammad Iqbal Filsafat khudi . dan dinamisme eksistensial Membentuk individu yang kuat, kreatif, dan sadar diri Individual-spiritual . embangunan Insan dinamis, aktif, dan progresif Integrasi wahyu dan akal Umat kehilangan semangat kreatif dan keberanian ijtihad Menguatkan khudi untuk membangun peradaban Kebangkitan individu sebagai agen Spiritualitas aktif dan ijtihad Terwujudnya manusia merdeka dan Fazlur Rahman Etika QurAoani dan pendekatan historis-kritis Membentuk manusia bermoral dan bertanggung jawab sosial Sosial-etis . eformasi masyaraka. Manusia QurAoani yang rasional dan Integrasi ilmu agama dan ilmu Stagnasi pemikiran dan dominasi Merekonstruksi pemikiran Islam agar relevan dengan modernitas Transformasi sosial melalui reformasi intelektual Metode double movement . erak gand. dalam memahami Al-QurAoan Terwujudnya masyarakat Islam yang progresif dan berkeadaban Tabel 1. Komparasi tujuan pendidikan persfektif Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman KESIMPULAN DAN SARAN/REKOMENDASI Kesimpulan Konsep pendidikan Islam yang ditawarkan Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman memberikan kontribusi penting bagi pengembangan pendidikan Islam kontemporer. Gagasan mereka relevan untuk menjawab problem dikotomi ilmu, stagnasi intelektual, serta tantangan globalisasi yang dihadapi umat Islam saat ini. Dengan mengintegrasikan semangat kreatif dan pembentukan karakter sebagaimana ditegaskan Iqbal, serta pendekatan kritis dan integratif sebagaimana dirumuskan Fazlur Rahman, pendidikan Islam dapat berkembang menjadi sistem yang tidak hanya menjaga nilai-nilai spiritual, tetapi juga mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban. Oleh karena itu, pemikiran kedua tokoh ini layak dijadikan landasan konseptual dalam merumuskan paradigma pendidikan Islam yang relevan, kontekstual, dan berdaya saing di era modern. Konsep pendidikan Islam menurut Muhammad Iqbal dan Fazlur Rahman sama-sama berangkat dari semangat pembaruan . dan respons terhadap tantangan modernitas. Keduanya menolak pendidikan Islam yang bersifat statis, tekstual, dan hanya berorientasi pada hafalan, serta mendorong lahirnya sistem pendidikan yang dinamis, rasional, dan transformatif. Muhammad Iqbal menekankan pendidikan sebagai proses pembentukan khudi . epribadian/ego kreati. yang kuat, mandiri, dan produktif. Pendidikan menurutnya harus melahirkan manusia yang memiliki kesadaran diri, kebebasan, dan daya cipta, sehingga mampu berperan aktif dalam membangun peradaban. Sementara itu. Fazlur Rahman menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum melalui pendekatan historis-kritis terhadap Al-QurAoan dan Sunnah. Ia mengusulkan metode double movement sebagai upaya memahami nilai-nilai moral universal Islam untuk kemudian diaplikasikan dalam konteks kekinian. Secara umum, persamaan keduanya terletak pada visi pendidikan yang humanistik, progresif, dan berorientasi pada pembentukan insan yang utuh . Perbedaannya tampak pada titik tekan: Iqbal lebih filosofis-eksistensial dengan konsep penguatan individu, sedangkan Rahman lebih metodologisepistemologis dalam pembaruan sistem dan kurikulum pendidikan Islam. Journal of Education and Culture ISSN: 2797-8052 REFERENSI Ajahari. Pemikiran Fazlur Rahman Dan Muhammad Arkoun Ajahari. Jurnal Studi Agama Dan Masyarakat, 12. , 232Ae262. Aristyasari. Pendidikan Islam Progresif Muhammad Iqbal. Al Ghazali, 2. , 32Ae50. Hendri. Pemikiran Muhammad Iqbal Dan Pengaruhnya Terhadap Pembaruan Hukum Islam. AlAoAdalah, 12. Hidayatullah. Perspektif Filosofis Sir Muhammad Iqbal Tentang Pendidikan Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 2. , 419Ae440. https://doi. org/10. 14421/jpi. Iqbal. Pemikiran Pendidikan Islam. Pustaka.