Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science Vol. No. Mei 2025, pp. Pemetaan Bibliometrik Penelitian Global tentang Non-Fungible Token (NFT) Loso Judijanto1. Apriyanto2 1IPOSS Jakarta. losojudijantobumn@gmail. Politeknik Tunas Pemuda Tangerang. irapriyanto0604@gmail. Article Info ABSTRAK Article history: Studi ini bertujuan untuk memetakan perkembangan dan tren riset global mengenai Non-Fungible Token (NFT) melalui pendekatan bibliometrik menggunakan data dari basis Scopus dan visualisasi VOSviewer. Hasil analisis menunjukkan bahwa riset NFT mengalami peningkatan signifikan sejak 2020, dengan dominasi tema seperti smart contract, digital assets, dan blockchain. India. Tiongkok, dan Inggris tercatat sebagai kontributor utama literatur NFT global. Analisis kata kunci mengungkap transisi tematik dari fokus seni digital menuju bidang teknologi informasi, keamanan siber, dan data kesehatan. Visualisasi temporal dan densitas mengindikasikan bahwa topik-topik baru seperti cybersecurity, interplanetary file system, dan electronic health record menjadi pusat perhatian terkini dalam literatur NFT. Studi ini memberikan kontribusi penting dalam memahami struktur, aktor, dan arah perkembangan penelitian NFT, serta menawarkan rekomendasi strategis bagi peneliti dan pengambil kebijakan untuk mengembangkan riset NFT yang inklusif dan berkelanjutan. Received Mei, 2025 Revised Mei, 2025 Accepted Mei, 2025 Kata Kunci: Non-Fungible Token (NFT). Bibliometrik. Blockchain. Smart Contract. Digital Asset Keywords: Non-Fungible Token (NFT). Bibliometric Analysis. Blockchain. Smart Contract. Digital Asset ABSTRACT This study aims to map the development and trends of global research on Non-Fungible Tokens (NFT. using a bibliometric approach based on data from the Scopus database and visualized with VOSviewer. The analysis reveals a significant surge in NFT-related publications since 2020, dominated by themes such as smart contracts, digital assets, and blockchain technology. India. China, and the United Kingdom emerged as leading contributors to the global NFT literature. Keyword co-occurrence analysis highlights a thematic transition from digital art and creative industries toward advanced technological domains, including cybersecurity, electronic health records, and decentralized data storage systems. Temporal and density visualizations indicate the growing relevance of emerging topics such as interplanetary file systems and data authentication. This study provides a comprehensive overview of the scientific structure, key contributors, and evolving directions in NFT research, while offering strategic recommendations for researchers and policymakers to foster inclusive and sustainable developments in the NFT ecosystem. This is an open access article under the CC BY-SA license. Journal homepage: https://wnj. westscience-press. com/index. php/jbmws Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science A 174 Corresponding Author: Name: Loso Judijanto Institution: IPOSS Jakarta Email: losojudijantobumn@gmail. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi blockchain dalam satu dekade terakhir telah melahirkan berbagai inovasi digital yang mendisrupsi tatanan ekonomi tradisional. Salah satu inovasi yang paling menonjol adalah kemunculan Non-Fungible Token (NFT), yakni representasi digital atas kepemilikan aset unik yang dicatat dalam sistem blockchain . NFT memungkinkan digitalisasi berbagai objek seperti karya seni, musik, video, hingga properti virtual, dengan ciri khas tidak dapat dipertukarkan secara identik seperti mata uang kripto biasa. Kehadirannya tidak hanya mengubah cara kepemilikan didefinisikan, tetapi juga menginisiasi transformasi model bisnis di berbagai sektor industri kreatif dan teknologi . Adopsi NFT berkembang pesat sejak 2020, terutama di kalangan seniman, kolektor, dan Pasar NFT mencatat pertumbuhan eksponensial dengan nilai transaksi mencapai miliaran dolar, mendorong minat riset lintas disiplin termasuk teknologi informasi, hukum, seni digital, ekonomi, dan pemasaran . Fenomena ini menandai pergeseran penting dalam pemahaman terhadap nilai, kelangkaan, dan hak kepemilikan di ruang digital. Tak hanya sebagai aset spekulatif. NFT juga menjadi instrumen untuk mengamankan royalti bagi kreator melalui smart contract yang tertanam dalam sistem blockchain . Dalam konteks akademik. NFT mulai menjadi objek kajian yang signifikan. Studi-studi terdahulu membahas berbagai aspek seperti teknologi di balik NFT . , dampaknya terhadap industri kreatif . , aspek hukum dan hak kekayaan intelektual . , hingga etika dan keberlanjutan NFT terkait konsumsi energi blockchain . Dengan beragam perspektif tersebut, literatur tentang NFT menunjukkan kompleksitas topik serta keterkaitannya dengan banyak bidang pengetahuan. Oleh karena itu, perlu pemetaan yang sistematis dan menyeluruh untuk memahami bagaimana bidang ini berkembang secara ilmiah. Metode bibliometrik menjadi pendekatan yang efektif untuk memetakan perkembangan ilmu pengetahuan dalam ranah tertentu secara kuantitatif. Dengan menggunakan teknik seperti analisis co-authorship, co-citation, dan keyword co-occurrence, bibliometrik dapat mengungkap jaringan kolaborasi, tren tematik, serta literatur yang paling berpengaruh . Melalui pendekatan ini, riset tentang NFT dapat dipahami secara lebih menyeluruh, termasuk mengidentifikasi celah penelitian . esearch ga. dan arah perkembangan ke depan. Hal ini penting mengingat ekosistem NFT masih tergolong baru dan terus berkembang secara dinamis. Pemetaan bibliometrik terhadap literatur NFT juga dapat menjadi panduan penting bagi akademisi, pembuat kebijakan, serta pelaku industri dalam mengambil keputusan strategis. Dengan mengetahui siapa penulis terkemuka, jurnal yang dominan, serta tema-tema riset yang sedang berkembang, maka upaya kolaborasi dan inovasi dapat dilakukan secara lebih terarah. Di sisi lain, hasil pemetaan juga dapat membuka peluang baru bagi peneliti pemula untuk mengeksplorasi topik-topik yang masih minim kajian namun berpotensi besar untuk dikembangkan di masa depan. Meskipun jumlah publikasi tentang NFT mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, belum banyak studi yang secara sistematis memetakan lanskap penelitian global mengenai NFT dengan pendekatan bibliometrik. Kurangnya sintesis ini menyulitkan pemahaman mengenai struktur ilmu pengetahuan yang telah terbentuk, pola kolaborasi penulis dan institusi, serta identifikasi tema riset utama dan potensial dalam ranah NFT. Hal ini menimbulkan kesenjangan dalam literatur yang perlu segera diisi untuk mendukung kemajuan riset yang lebih terkoordinasi dan berdampak luas. Studi ini bertujuan untuk melakukan pemetaan bibliometrik Vol. No. Mei 2025: pp. Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science A 175 terhadap literatur global tentang Non-Fungible Token (NFT) guna mengidentifikasi tren publikasi, aktor kunci . enulis, institusi, negar. , sumber publikasi utama, serta tema-tema penelitian dominan dan emerging. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif tentang perkembangan riset NFT, sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan studi lanjutan dan pengambilan kebijakan berbasis data ilmiah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan bibliometrik kuantitatif untuk memetakan dan menganalisis literatur global yang berkaitan dengan Non-Fungible Token (NFT). Metodologi bibliometrik dipilih karena kemampuannya dalam mengevaluasi struktur, pola, dan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan berdasarkan data publikasi ilmiah secara sistematis . Proses analisis dilakukan dalam beberapa tahapan mulai dari pengumpulan data, pembersihan . ata cleanin. , hingga visualisasi jaringan menggunakan perangkat lunak khusus. 1 Sumber Data dan Kriteria Pencarian Sumber data utama yang digunakan adalah Scopus, salah satu basis data ilmiah terbesar dan paling bereputasi yang mencakup berbagai disiplin ilmu. Pencarian dilakukan dengan menggunakan kata kunci: TITLE-ABS-KEY ("Non-Fungible Token" OR NFT). Rentang waktu yang ditentukan adalah 2017 hingga 2025, mengingat kemunculan NFT sebagai fenomena ilmiah dan pasar mulai dikenal luas pada tahun 2017. Data diunduh dalam format BibTeX dan CSV untuk keperluan pengolahan dan visualisasi. Adapun kriteria inklusi adalah: . artikel jurnal, prosiding konferensi, dan review yang ditulis dalam bahasa Inggris. fokus utama publikasi adalah pada topik NFT atau pembahasannya secara substantif dalam konteks teknologi, ekonomi, hukum, atau seni digital. 2 Proses Analisis Bibliometrik Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak VOSviewer versi terbaru. VOSviewer digunakan untuk membangun dan memvisualisasikan jaringan bibliometrik, dengan fokus pada beberapa jenis analisis utama yakni analisis co-authorship, analisis keyword co-occurrence, dan analisis kutipan. Pada proses analisis co-occurrence keyword, metode full counting digunakan, dengan batas minimum frekuensi kemunculan kata kunci ditetapkan sebanyak 5 kali untuk memastikan kualitas dan kekuatan jaringan tematik. Semua jaringan divisualisasikan dalam bentuk peta dengan klasterisasi otomatis berdasarkan kekuatan asosiasi antar elemen. Untuk meningkatkan validitas hasil, proses ekstraksi dan pembersihan data dilakukan secara manual guna menghindari duplikasi nama penulis dan inkonsistensi terminologi. Misalnya, istilah seperti AuNFTsAy dan AuNonFungible TokensAy disatukan secara konseptual. Selain itu, seluruh prosedur disusun agar dapat direplikasi oleh peneliti lain dengan data dan perangkat lunak yang sama. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Co-Authorship Analysis Vol. No. Mei 2025: pp. Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science A 176 Gambar 1. Visualisasi Penulis Sumber: Data Diolah Visualisasi jaringan co-authorship pada gambar di atas menggambarkan pola kolaborasi antar penulis dalam penelitian terkait Non-Fungible Token (NFT). Terdapat lima klaster utama yang diidentifikasi dengan warna berbeda, menunjukkan komunitas ilmiah yang saling berinteraksi. Klaster hijau dipimpin oleh wang q. sebagai pusat kolaborasi yang sangat dominan, dikelilingi oleh penulis seperti nakamoto s. dan regner f. Klaster merah menunjukkan dominasi penulis dengan nama keluarga AuwangAy dan AuliuAy, mengindikasikan konsentrasi publikasi dari kawasan Asia Timur, khususnya Tiongkok. Sementara itu, klaster kuning yang mencakup dowling m. , lucey b. , dan yousaf mencerminkan kolaborasi kuat dari peneliti Barat dengan fokus pada aspek ekonomi dan pasar NFT. Adapun klaster biru dan biru kehijauan mencerminkan kolaborasi lintas wilayah yang lebih Visualisasi ini menunjukkan bahwa riset NFT bersifat global dengan jejaring penulis yang saling terhubung, meskipun masih terdapat dominasi beberapa kelompok regional tertentu. Gambar 2. Visualisasi Negara Sumber: Data Diolah Visualisasi di atas menunjukkan jaringan kolaborasi antarnegara dalam publikasi ilmiah mengenai Non-Fungible Token (NFT). Ukuran lingkaran menunjukkan jumlah publikasi dari masing-masing negara, sementara garis penghubung mencerminkan intensitas kolaborasi. India. China, dan United Kingdom muncul sebagai tiga pusat produksi ilmiah terbesar, dengan India menjadi simpul utama yang paling terhubung secara global. Negara-negara seperti Italia. Jerman, dan United Arab Emirates juga memainkan peran penting dalam kolaborasi lintas negara, terintegrasi dalam berbagai klaster warna yang merepresentasikan kelompok kerja regional atau Menariknya, beberapa negara seperti Indonesia. Taiwan, dan Mexico mulai masuk dalam jaringan global, meskipun dengan keterhubungan yang masih terbatas. Secara keseluruhan, peta ini mencerminkan bahwa penelitian NFT bersifat lintas batas, dengan kontribusi kuat dari Asia. Eropa, dan Timur Tengah, serta semakin meningkatnya partisipasi dari negara-negara berkembang. Vol. No. Mei 2025: pp. Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science A 177 2 Analisis Keyword CO-Ocurrence Gambar 3. Visualisasi Jaringan Sumber: Data Diolah Visualisasi di atas merupakan peta co-occurrence keyword yang menggambarkan keterkaitan tema-tema utama dalam literatur mengenai Non-Fungible Token (NFT). Kata kunci Aunon-fungible tokenAy berada di pusat jaringan dan tampil sebagai simpul terbesar, menunjukkan bahwa istilah ini menjadi fokus dominan dalam seluruh publikasi yang dianalisis. Pemetaan ini mengelompokkan kata kunci ke dalam beberapa klaster warna, yang masing-masing merepresentasikan bidang kajian yang berdekatan atau sering muncul bersamaan dalam satu karya Klaster hijau mendominasi jaringan dan mencakup konsep-konsep seperti digital assets, smart contract, cryptocurrency, digital art, dan distributed ledger. Hal ini menandakan bahwa NFT paling sering dikaitkan dengan sistem ekonomi digital dan teknologi blockchain. Hubungan erat antara NFT dengan digital art serta intellectual property memperkuat posisi NFT sebagai alat revolusioner dalam industri kreatif dan hak kepemilikan digital. Selain itu, kehadiran istilah seperti ecosystems dan tokenization dalam klaster ini menunjukkan bahwa NFT juga dilihat sebagai bagian integral dari arsitektur ekonomi digital yang lebih luas. Klaster biru memusat pada aspek metaverse, virtual reality, dan social media, mengindikasikan bahwa penelitian tentang NFT juga banyak dikaitkan dengan pengembangan ruang virtual dan ekonomi digital imersif. NFT dalam konteks ini dilihat sebagai instrumen kunci dalam membentuk kepemilikan aset dalam dunia virtual, seperti avatar, properti virtual, atau koleksi dalam game. Kaitannya dengan augmented reality dan virtual worlds memperjelas bahwa NFT bukan hanya fenomena finansial, tetapi juga komponen penting dalam transformasi interaksi digital berbasis pengalaman. Klaster merah menggambarkan keterkaitan NFT dengan teknologi komputasi canggih dan aspek keamanan digital. Istilah seperti decentralized finance (DeF. , machine learning, cybersecurity, authentication, dan internet of things (IoT) menunjukkan bahwa NFT menjadi bagian dari infrastruktur teknologi yang lebih kompleks dan berisiko tinggi. Fokus pada security, digital storage, serta electronic health record mengisyaratkan bahwa riset terkini juga mulai mengeksplorasi aplikasi NFT dalam bidang kesehatan dan perlindungan data, memperluas cakupan penggunaannya di luar seni dan keuangan. Klaster kuning mencerminkan pendekatan sistem dan infrastruktur seperti supply chains, interplanetary file system, dan property. Ini menunjukkan minat yang meningkat dalam penerapan Vol. No. Mei 2025: pp. Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science A 178 NFT untuk tujuan logistik dan manajemen rantai pasok, terutama dalam konteks pelacakan aset dan keaslian barang. Keberadaan istilah seperti tokenization dan smart contract dalam klaster ini memperkuat argumen bahwa NFT memiliki potensi besar sebagai penggerak inovasi dalam sistem kontrak otomatis dan pencatatan kepemilikan terdesentralisasi. Gambar 4. Visualisasi Overlay Sumber: Data Diolah Visualisasi overlay dari peta keyword co-occurrence di atas memberikan gambaran temporal tentang evolusi tema penelitian terkait Non-Fungible Token (NFT) dari tahun 2023. Warna pada setiap node mencerminkan waktu kemunculan rata-rata keyword tersebut dalam literatur, dengan gradasi warna dari biru . hingga kuning . Kata kunci seperti non-fungible token, smart contract, dan digital assets tampak berada di tengah jaringan dengan warna kebiruan-kehijauan, menandakan bahwa istilah-istilah ini telah mapan lebih awal sebagai inti dari diskursus NFT. Sementara itu, kata kunci dengan warna kekuningan seperti interplanetary file system, electronic health record, security, dan cybersecurity menunjukkan bahwa tema-tema ini merupakan tren yang lebih baru atau emerging topics dalam kajian NFT. Hal ini menunjukkan perluasan fokus riset NFT dari sektor seni dan finansial ke ranah infrastruktur data dan keamanan Misalnya, eksplorasi penggunaan NFT untuk penyimpanan data terdistribusi dan catatan kesehatan elektronik mengindikasikan potensi aplikatif NFT dalam sektor-sektor non-tradisional seperti layanan kesehatan dan pengelolaan data. Menariknya, kata kunci seperti metaverse, virtual reality, dan web3 berada di antara warna hijau dan kuning, yang berarti mulai memperoleh perhatian yang meningkat di pertengahan 2023. Hal ini mengindikasikan bahwa integrasi NFT dalam ruang virtual dan sistem web terdesentralisasi menjadi arah baru yang sedang naik daun. Vol. No. Mei 2025: pp. Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science A 179 Gambar 5. Visualisasi Densitas Sumber: Data Diolah Visualisasi di atas merupakan peta densitas . ensity visualizatio. dari kata kunci dalam literatur Non-Fungible Token (NFT), yang menunjukkan tingkat frekuensi dan intensitas kemunculan istilah tertentu dalam publikasi ilmiah. Area dengan warna kuning cerah menunjukkan kata kunci yang paling sering digunakan dan menjadi pusat diskursus ilmiah, dalam hal ini adalah non-fungible token, diikuti oleh smart contract, digital assets, dan distributed ledger. Zona hijau dan biru merepresentasikan kata kunci dengan frekuensi sedang hingga rendah, seperti virtual reality, copyright, dan supply chains, yang menunjukkan bahwa topik-topik tersebut merupakan bagian dari literatur namun belum seintens topik utama. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian NFT paling banyak terpusat pada aspek fundamental teknologi blockchain, aset digital, dan kontrak pintar, yang merupakan infrastruktur dasar dari sistem NFT. Namun, terlihat pula perluasan minat riset ke arah konsep-konsep lanjutan seperti metaverse, decentralized finance, dan cybersecurity, yang meskipun belum dominan, mulai menunjukkan tingkat intensitas tertentu. Hal ini mencerminkan dinamika riset yang berkembang dari pemahaman teknis dasar ke arah aplikasi dan tantangan yang lebih luas di ranah sosial, ekonomi, dan keamanan digital. 3 Analisis Kutipan Tabel 1. Literatur Kutipan Tertinggi Kutipan Penulis Judul Mapping the NFT revolution: market trends, trade networks, and visual Is non-fungible token pricing driven by cryptocurrencies? . Fertile LAND: Pricing non-fungible tokens . The merchants of meta: A research agenda to understand the future of retailing in the metaverse . Prospecting non-fungible tokens in the digital economy: Stakeholders and ecosystem, risk and opportunity . Digital future of luxury brands: Metaverse, digital fashion, and non-fungible . NFTs and asset class spillovers: Lessons from the period around the COVID19 pandemic . Construction payment automation using blockchain-enabled smart contracts and robotic reality capture technologies . Applying Digital Twins in Metaverse: User Interface. Security and Privacy Challenges Sumber: Scopus, 2025 PEMBAHASAN Kolaborasi Penulis: Sentralisasi dan Fragmentasi Analisis jaringan co-authorship menunjukkan bahwa kolaborasi penulis dalam studi NFT masih terfragmentasi, meskipun terdapat beberapa simpul dominan seperti wang q. , dowling m. , dan yousaf i. yang berfungsi sebagai pusat kolaborasi lintas wilayah. Klaster yang terbentuk mengindikasikan adanya kelompok peneliti yang aktif dan terkonsentrasi di wilayah geografis tertentu, khususnya Asia Timur. Eropa Barat, dan Asia Selatan. Kelompok penulis dari Tiongkok seperti liu j. , zhang x. , dan wang s. membentuk komunitas kolaborasi tersendiri yang cukup solid dan produktif, terutama dalam konteks teknologi blockchain dan aplikasinya di NFT. Sementara itu, penulis dari negara-negara Barat seperti dowling m. , corbet s. , dan lucyy b. cenderung berfokus pada aspek keuangan dan pasar NFT, mencerminkan pendekatan interdisipliner yang lebih kuat antara teknologi dan ekonomi. Kehadiran berbagai klaster ini menggambarkan bahwa penelitian NFT belum sepenuhnya terintegrasi dalam satu komunitas ilmiah global, melainkan berkembang dalam kelompok-kelompok tematik dan regional yang relatif otonom. Oleh karena itu, diperlukan lebih Vol. No. Mei 2025: pp. Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science A 180 banyak inisiatif kolaboratif lintas disiplin dan lintas negara untuk memperkaya pemahaman holistik tentang NFT. Kontribusi Negara: Dominasi Asia dan Integrasi Global Peta kolaborasi antarnegara memperlihatkan bahwa India. Tiongkok, dan Inggris menjadi tiga negara dengan kontribusi publikasi terbesar dalam kajian NFT. India muncul sebagai simpul kolaborasi utama, menjalin kerja sama yang luas dengan berbagai negara termasuk Inggris. Uni Emirat Arab, dan beberapa negara Eropa. Hal ini menunjukkan peningkatan kapasitas dan visibilitas ilmiah India dalam domain teknologi digital dan keuangan. Tiongkok menunjukkan pola produksi ilmiah yang tinggi namun dengan jaringan kolaborasi internasional yang cenderung lebih terbatas, banyak berfokus pada kolaborasi internal atau dengan mitra regional seperti Hong Kong dan Singapura. Sementara itu, negara-negara Eropa seperti Inggris. Italia, dan Jerman memperlihatkan jejaring yang lebih tersebar dan terbuka, berkontribusi pada diversifikasi perspektif Indonesia, meskipun belum menjadi aktor sentral, telah mulai berpartisipasi dalam kolaborasi global dan berpotensi menjadi pemain yang relevan seiring meningkatnya perhatian terhadap teknologi blockchain di Asia Tenggara. Tema-tema Penelitian Dominan Hasil analisis co-occurrence keyword menampilkan bahwa istilah non-fungible token merupakan pusat gravitasi diskursus ilmiah, diikuti oleh istilah pendukung seperti smart contract, digital assets, dan distributed ledger. Klaster utama pertama mengelompokkan NFT dengan teknologi blockchain inti dan ekonomi digital, seperti cryptocurrency, tokenization, dan ecosystems. Hal ini menegaskan bahwa sebagian besar kajian awal dan mendasar NFT berakar pada studi tentang struktur data terdesentralisasi dan mekanisme kepemilikan digital. Tema lain yang berkembang adalah integrasi NFT dengan dunia virtual seperti metaverse, virtual reality, dan web3. Ini mencerminkan tren industri yang mendorong pemanfaatan NFT untuk memperkuat kepemilikan dan monetisasi aset dalam ruang virtual, mulai dari avatar, game item, hingga real estate digital. Peningkatan relevansi kata kunci seperti social media dan augmented reality menunjukkan bahwa NFT juga mulai diadopsi dalam ranah interaksi sosial berbasis teknologi, dengan kemungkinan dampak besar pada ekonomi kreator dan distribusi konten digital. Di sisi lain, klaster keamanan dan infrastruktur data juga mulai menonjol. Kata kunci seperti cybersecurity, authentication, electronic health record, dan interplanetary file system menunjukkan potensi perluasan aplikasi NFT ke sektorsektor kritis seperti kesehatan, penyimpanan data, dan keamanan siber. Meskipun masih dalam tahap eksploratif, arah ini mengindikasikan bahwa teknologi NFT dapat dimanfaatkan untuk melindungi integritas dan otentikasi data dalam berbagai konteks. Dinamika Temporal: Dari Seni Digital ke Infrastruktur Data Peta overlay dan peta densitas keyword mengkonfirmasi pergeseran fokus kajian NFT dalam waktu dekat. Pada awal 2023, perhatian riset masih sangat terkonsentrasi pada aplikasi seni digital dan ekonomi kreatif, tercermin dari intensitas istilah seperti digital art, intellectual property, dan copyright. Namun, seiring berjalannya waktu, mulai muncul tren yang lebih aplikatif dan teknis. Kata kunci yang muncul lebih belakangan seperti cybersecurity, electronic health record, dan interplanetary file system mengindikasikan perluasan minat penelitian ke sektor teknologi dan perlindungan data. Tren baru ini mencerminkan tahap maturasi dari kajian NFT. Awalnya fokus pada potensi pasar dan eksplorasi kreatif, kini bergeser ke arah implementasi sistemik dan Hal ini juga didukung oleh makin meningkatnya peran NFT dalam sistem logistik, kontrak bisnis otomatis, serta pengelolaan hak kepemilikan di sektor non-konvensional seperti agrikultur, kesehatan, dan supply chains. Visualisasi densitas memperlihatkan bahwa area-area baru ini mulai menyala sebagai AuhotspotAy baru riset, meskipun intensitasnya belum sebesar topik Tantangan dan Arah Penelitian Selanjutnya Meskipun NFT menawarkan potensi besar, beberapa tantangan konseptual dan teknis masih perlu dijawab oleh komunitas ilmiah. Pertama adalah isu interoperabilitas dan standarisasi, di mana NFT dari berbagai platform belum selalu kompatibel satu sama lain, menciptakan Vol. No. Mei 2025: pp. Jurnal Bisnis dan Manajemen West Science A 181 hambatan adopsi luas. Kedua adalah masalah energi dan lingkungan, karena sebagian besar NFT masih bergantung pada blockchain dengan konsumsi energi tinggi, seperti Ethereum, meskipun kini mulai beralih ke teknologi yang lebih efisien. Ketiga, terdapat kebutuhan akan kerangka hukum dan regulasi yang jelas, terutama terkait hak kekayaan intelektual, pajak, dan perlindungan konsumen dalam transaksi NFT. Dalam konteks akademik, penting untuk memperluas pendekatan interdisiplinerAimenggabungkan ilmu komputer, ekonomi, hukum, hingga kajian budayaAiguna menciptakan pemahaman yang lebih utuh dan mendalam. Selain itu, riset masa depan juga perlu memperhatikan dimensi sosial dan etika dari NFT, seperti potensi eksklusi digital, manipulasi pasar, dan implikasi terhadap seniman atau kreator. KESIMPULAN Penelitian ini secara komprehensif telah memetakan perkembangan dan arah riset global mengenai Non-Fungible Token (NFT) menggunakan pendekatan bibliometrik berbasis data dari Scopus dan visualisasi melalui VOSviewer. Temuan utama menunjukkan bahwa penelitian NFT telah berkembang pesat sejak 2020, dengan dominasi pada tema-tema seperti smart contract, digital assets, blockchain, serta integrasinya dengan dunia metaverse, virtual reality, dan decentralized Peneliti dari India. Tiongkok, dan Inggris merupakan aktor utama dalam pengembangan literatur ini, dengan India menunjukkan jaringan kolaborasi yang paling luas secara global. Secara tematik, riset NFT telah berevolusi dari sekadar pembahasan seputar seni digital dan cryptocurrency menjadi lebih kompleks, mencakup sektor-sektor seperti keamanan digital, layanan kesehatan, manajemen hak kekayaan intelektual, dan penyimpanan data terdistribusi. Tren baru ini terlihat dari kemunculan kata kunci seperti interplanetary file system, electronic health record, dan cybersecurity, yang mulai intens muncul sejak pertengahan 2023. Peta densitas juga mengkonfirmasi bahwa topik-topik ini mulai menjadi pusat perhatian dalam komunitas akademik. Namun demikian, studi ini juga menyoroti beberapa kesenjangan. Salah satunya adalah masih kurangnya integrasi antara kelompok penulis dari berbagai kawasan dunia, serta minimnya kolaborasi antar Selain itu, literatur yang membahas aspek hukum, etika, dan keberlanjutan dari NFT masih relatif sedikit, padahal isu-isu tersebut sangat krusial dalam konteks adopsi jangka panjang dan tanggung jawab sosial teknologi baru ini. DAFTAR PUSTAKA