Jurnal Teologi Pambelum Volume 5. Nomor 1 (Agustus 2. : 47-66 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Keloso S. Ugak1. Lia Afriliani2. Rena Berkatni3 Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kalimantan Evangelis afrl@yahoo. Abstract This study aims to describe the role of the church in supporting health services for the elderly, focusing on GKE Eppata and GKE Eben Ezer in Banjarmasin. Through a qualitative approach, data was collected through interviews, observations, and literature reviews. The results showed that both congregations have an active Elderly Ministry Section, with various programs such as elderly worship, healthy gymnastics, and diakonia visits. At the GKE Eppata, physical health services are conducted regularly in collaboration with external parties, while at the GKE Eben Ezer, physical health services have not yet resumed post-pandemic. These services reflect the holistic health approach the physical, mental, social, and spiritual aspects. In addition, the role of the church also supports the achievement of successful aging through elderly awareness of personal health and active involvement in congregational life. The elderly are the image of God and part of the Body of Christ, so the church is responsible for caring for them. This research recommends strengthening holistic services and developing strategies to reach out to the elderly who are not yet involved in church services. Keywords: elderly, holistic health, successful aging, church ministry. Kalimantan Evangelical Church. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran gereja dalam mendukung layanan kesehatan bagi lansia, dengan fokus pada Jemaat GKE Eppata dan Jemaat GKE Eben Ezer di Banjarmasin. Melalui pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua jemaat memiliki Seksi Pelayanan Lansia yang aktif, dengan berbagai program seperti ibadah lansia, senam sehat, kunjungan diakonia. Jemaat Eppata, pelayanan kesehatan fisik dilakukan secara rutin bekerja sama dengan pihak eksternal, sedangkan di Jemaat Eben Ezer pelayanan kesehatan fisik belum kembali berjalan pasca Pelayanan ini mencerminkan pendekatan kesehatan holistik yang, mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual. Selain itu, peran gereja juga mendukung pencapaian successful aging melalui kesadaran lansia akan kesehatan pribadi dan keterlibatan aktif dalam kehidupan berjemaat. Lansia adalah gambar Allah dan bagian dari Tubuh Kristus, sehingga gereja bertanggung jawab untuk merawat mereka secara utuh. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pelayanan holistik dan pengembangan strategi untuk menjangkau lansia yang belum terlibat dalam pelayanan gereja. Kata kunci: lansia, kesehatan holistik, penuaan yang sukses, pelayanan gereja. Gereja Kalimantan Evangelis. Diterima Redaksi: 30-06-2025 | Selesai Revisi: 20-08-2. Diterbitkan Online: 30-08-2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Pendahuluan Berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, lansia adalah yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Sejak tahun 2021. Indonesia telah memasuki fase penuaan penduduk . geing populatio. , yakni proses transisi demografi di mana jumlah penduduk lanjut usia meningkat akibat peningkatan umur harapan hidup (Penyusun 2024, hlm. Hal ini terutama disebabkan oleh semakin majunya perkembangan teknologi di bidang kesehatan yang berdampak pada panjangnya usia harapan hidup (Situmorang & Pasaribu 2003, hlm. Proyeksi penduduk Indonesia pada tahun 2045 menyatakan bahwa penduduk lansia akan mencapai 65,82 juta atau mencapai 20,31 persen dari total penduduk Indonesia (Penyusun 2024, hlm. Di Kota Banjarmasin sendiri, penduduk usia 60 tahun ke atas pada tahun 2024 berjumlah 69. 920 jiwa atau sekitar 10% dari jumlah penduduk Kota Banjarmasin (Tim Penyusun 2025, hlm. Lansia adalah kelompok usia penduduk yang rentan dalam berbagai aspek, seperti aspek kesehatan, ekonomi, psikologis, dan sosial. Seiring bertambahnya usia, terdapat beberapa masalah kesehatan yang sering muncul pada Lansia, seperti menurunnya kemampuan fisik dan fungsi dalam tubuh. Selain itu ada penyakit-penyakit lain seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit sendi, stroke, penyakit paru-paru obstruktif kronis, depresi, dan lain-lain (Kusumo 2. Selain itu, masuk masa pensiun, keadaan yang tidak lagi bekerja, tekanan ekonomi, dan sebagainya dapat membuat para lansia terisolasi dan teralienasi sehingga memilih untuk menarik diri dari lingkungan (Siburian 2019, hlm. Lansia juga mengalami kondisi psikologis seperti perasaan kesepian, merasa tidak berdaya, tidak dibutuhkan, dan perasaan-perasaan negatif lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan jiwa Lansia (Vibriyanti et al. 2019, hlm. 1Ae. Oleh sebab itu, lansia memerlukan perhatian khusus dalam aspek kesehatan, kesejahteraan sosial, spiritual, dan kebutuhan Gereja adalah salah satu lembaga keagamaan yang hadir di tengah masyarakat. Gereja memiliki warga gereja dari berbagai kelompok usia, termasuk Lansia. Oleh sebab itu, gereja sesungguhnya memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pemenuhan kesejahteraan lansia. Dalam konteks ageing population, pelayanan kepada lansia tidak dapat dipandang sebelah mata. Gereja yang mengabaikan pelayanan lansia berpotensi menimbulkan kerentanan baru, seperti meningkatnya rasa kesepian, isolasi sosial, menurunnya kesehatan mental dan spiritual, serta hilangnya peran lansia sebagai teladan iman bagi generasi berikutnya. Oleh sebab itu, gerak pelayanan gereja dapat memberikan keseimbangan, perhatian, dan aksi penatalayanan (Nugroho 2024, hlm. Pada satu sisi, gereja menjadi penyedia layanan keagamaan dan mental spiritual bagi seluruh anggota jemaatnya, melalui pelayanan dan persekutuan yang dilakukan. Namun, pada sisi lain, gereja juga berperan untuk menjadi suatu komunitas yang menyediakan dukungan bagi lansia untuk dapat terpenuhi hak dan kesejahteraan sosialnya, termasuk di antaranya adalah layanan kesehatan secara menyeluruh. Jemaat GKE Eppata dan Jemaat GKE Eben Ezer adalah dua Jemaat GKE di Resort Banjarmasin yang memiliki Seksi Pelayanan Lansia untuk melayani jemaat usia lansia. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Kegiatan Seksi Pelayanan Lansia di kedua jemaat ini menunjukkan bahwa telah ada peranan gereja dalam layanan kesehatan bagi Lansia, serta sekaligus menunjukkan kolaborasi antara gereja sebagai lembaga keagamaan dengan lembaga kesehatan untuk mendukung kesejahteraan lansia. Namun, sejauh mana pelayanan tersebut memenuhi kebutuhan kesehatan holistik lansia, hal ini yang perlu untuk dikaji lebih lanjut. Beberapa penelitian mendukung pentingnya pelayanan holistik gereja kepada lansia. Elvin Paende menyoroti tentang berbagai metode pelayanan kategorial jemaat lansia yang mencakup pembinaan rohani dan pembinaan fisik. Salah satu bagian dalam pembinaan fisik berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang dilihat sebagai pelayanan yang holistik untuk meningkatkan kesehatan para lansia, seperti mengadakan olah raga bersama (Paende 2. Rahmad Purwanto dan Retno Mratihatani menyoroti kolaborasi antara gereja dan tenaga kesehatan, seperti kader kesehatan dalam meningkatkan kesehatan lansia di GKJ Kramas. Kecamatan Tembalang (Purwanto & Mratihatani 2. Namun demikian, belum banyak penelitian yang menyoroti konteks pelayanan gereja terhadap lansia di Kalimantan, khususnya di lingkup GKE. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengeksplorasi bagaimana gereja berperan aktif dalam menjawab kesejahteraan lansia secara holistik. Pelayanan gereja tidak hanya bersifat pemberitaan Injil secara verbal saja atau pun hanya melayani hal-hal yang bersifat spiritual saja. Namun, pelayanan gereja juga seyogyanya dilakukan melalui berbagai aksi nyata dalam kehidupan (Stott & Wright 2. Suatu pelayanan yang bersifat holistik harus dilakukan oleh gereja dengan tujuan untuk menghadirkan damai sejahtera yang dijanjikan Tuhan (Kuiper 2013, hlm. World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) menyebutkan bahwa kesehatan merupakan keadaan sejahtera secara menyeluruh yang mencakup kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan spiritual (Hammer, et al. , 2. Perspektif ini penting, tetapi penelitian ini menambahkan pendekatan teologis melalui konsep successful aging (Crowther et al. Rowe & Kahn 1. untuk menganalisis pelayanan gereja dalam layanan kesehatan bagi lansia. Dengan demikian, layanan kesehatan yang dimaksud tidak hanya berkaitan dengan fisik saja, melainkan juga akan berbicara tentang kesehatan secara holistik atau menyeluruh, yakni mencakup fisik, mental, sosial, dan spiritual. Hal itulah yang akan dilihat dari keseluruhan kegiatan lansia yang dilaksanakan baik di Jemaat Eppata maupun Jemaat Eben Ezer. Keberadaan lansia sebagai pihak rentan di gereja harus menjadi perhatian dalam layanan spiritual, kesehatan, serta lainnya untuk menjamin kesejahteraan bagi para Lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan gereja dalam mendukung layanan kesehatan holistik bagi lansia di Jemaat GKE Eppata dan Jemaat GKE Eben Ezer Banjarmasin, menjelaskan prinsip pelayanan holistik beserta pendekatan kesehatan holistik dalam mendukung kesejahteraan lansia, serta merefleksikan secara teologis dukungan gereja dalam memberikan pelayanan kepada lansia. Artikel ini berargumen bahwa pelayanan lansia di kedua jemaat mencerminkan pendekatan holistik yang dapat dimaknai sebagai bentuk partisipasi gereja untuk mendukung penuaan yang sehat, bermakna, dan penuh spiritualitas. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati (Moelong 2006, hlm. Lokasi penelitian adalah Jemaat GKE Eppata dan Jemaat GKE Eben Ezer di Banjarmasin. Kalimantan Selatan. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara tak terstruktur, observasi partisipatif pasif, serta studi Informan penelitian adalah Majelis Jemaat, pengurus Seksi Pelayanan Lansia, dan lansia baik dari Jemaat Eppata maupun Jemaat Eben Ezer. Secara keseluruhan wawancara dilakukan dengan 15 orang informan dengan durasi tiap wawancara rata-rata 4060 menit. Observasi dilakukan dengan menghadiri kegiatan lansia di Jemaat GKE Eppata dan Jemaat GKE Eben Ezer. Teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan Pembahasan Perspektif Aging Theology dan Successful Aging Perspektif Aging Theology Pelayanan lansia yang dilakukan oleh gereja harus mendukung dan mendorong lansia untuk hidup sehat holistik dan berkualitas sesuai dengan hakikat dirinya sebagai kaum lansia. Untuk itu, secara Alkitabiah, hakikat kaum lansia dapat dipahami dari beberapa aspek. Pertama, kaum lansia adalah gambar Allah. Alkitab menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah dan bahwa semua ciptaan Allah sungguh amat baik (Kej. 1:26-27, . Digambarkan bahwa semua ciptaan Allah Ausungguh amat baikAy dan manusia memiliki kekhususan dibandingkan ciptaan Allah lainnya, yaitu sebagai gambar Allah. Hal ini memberi arti bahwa kehidupan manusia mempunyai kemuliaan dan nilai atau berharga di sepanjang usianya, termasuk pada saat seseorang memasuki usia lanjut atau Alkitab mengajarkan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar Allah dan memiliki nilai yang tak ternilai, tanpa memandang usia atau kondisi fisik. Kedua, kaum lansia adalah guru hikmat. Alkitab menyediakan gambaran tentang hakikat makna dari usia lanjut, yaitu bahwa usia lanjut adalah pemberian Allah yang memiliki tujuan (Ay. Simeon dan Hana menggambarkan teladan tokoh lansia yang hidup bahagia dan menjadi teladan baik yang dapat dicontoh dari segi kesalehan, kesetiaan, dan tindakan spiritualitas mereka (Luk. 2:25-. Ketiga, usia lanjut adalah anugerah Allah. Terdapat keadaan kurang menyenangkan saat keadaan usia sudah lanjut, di antaranya rambut menjadi putih . Sam. 12:2. Mzm. , penglihatan kabur (Kej. , semua indera menjadi lemah . Sam. , kekuatan tubuh menurun (Mzm. , sendi-sendi kaki pegal dan nyeri . Raj. , tubuh mudah kedinginan . Raj. Namun pada saat yang sama, digambarkan bahwa seiring terjadi perkembangan dalam usia, hikmat ada pada orang yang tua dan pengertian pada orang yang lanjut usia (Ams. 20:29. Hal ini menggambarkan bahwa usia lanjut adalah anugerah Tuhan yang disertai dengan keterbatasan gerak, kelemahan fisik serta mental dan rupa-rupa penyakit. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Keempat, lansia adalah bagian dari Tubuh Kristus. Anggota gereja berfungsi sebagai satu tubuh di bawah kepemimpinan Kristus sebagai Kepala . Kor. 12:12-. Peran-peran yang berbeda ini menunjukkan hubungan yang kuat antara iman dalam Kristus dan pekerjaan Roh Kudus yang menyatukan umat percaya dalam satu tubuh. Lansia adalah bagian dari anggota Gereja yang adalah Tubuh Kristus. Mereka bukan sekadar anggota jemaat yang memerlukan perhatian, tetapi juga memiliki fungsi dan tanggung jawab khusus dalam Gereja. Oleh karena itu, perhatian gereja kepada lansia bukan sebagai formalitas saja, tetapi merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kepada salah satu bagian dari Tubuh Kristus itu. Pelayanan yang diberikan bukan hanya menempatkan mereka sebagai objek pelayanan, tetapi juga menjadi subjek yang dihargai dalam pelayanan gereja. Dengan kata lain, segala bentuk kegiatan lansia jangan hanya menjadikan para lansia sebagai penerima, tetapi harus aktif juga sebagai pemberi (Santoso & Ismail 2009, hlm. Paulus meletakkan ajaran kasih Kristus mendorong umat percaya untuk mengasihi dan melayani sesama, termasuk lansia . Kor. 13:1-. Kasih Kristus merupakan dasar dan kebutuhan utama hidup manusia. Kasih adalah kunci dan dasar hidup orang percaya. Hukum kasih menjadi hukum terutama bagi umat Kristus. Karena kasih. Yesus Kristus taat menyerahkan diri-Nya sebagai kurban untuk menebus manusia dari dosa. Selain itu, dalam Yohanes 13:34-35. Yesus juga memberikan sebuah perintah baru kepada para murid, yaitu agar mereka saling mengasihi. Perintah baru tersebut juga ditujukan kepada orang Kristen masa kini. Atas dasar kasih tersebut. Gereja merencanakan pelayanan yang ditujukan kepada lansia maupun pelayanan yang melibatkan kaum lansia yang dijabarkan ke dalam berbagai pokok pelayanan dalam kerangka tugas panggilan Gereja . ersekutu, bersaksi, dan melayan. (Schumann 1999, hlm. Gereja dipanggil untuk menjadi saksi kasih Kristus melalui pelayanan pastoral, yang mencakup dukungan, pendampingan, dan pemberdayaan lansia dalam iman mereka. Lansia memiliki peran penting dalam gereja dan masyarakat sebagai saksi iman, teladan hidup, dan sumber hikmat. Gereja membantu lansia dalam menghadapi perubahan dan tantangan yang terkait dengan usia, seperti pensiun, penurunan kesehatan, dan kehilangan orang terkasih. Pelayanan pastoral bagi lansia harus berfokus pada pemberdayaan mereka untuk terus berkarya, melayani, dan hidup dalam iman yang teguh sampai akhir hayat. Gereja yang peduli terhadap lansia dan membuka diri bagi mereka adalah gereja yang akan menjadi semakin mampu untuk mengemban tugas panggilannya di tengah-tengah dunia (Ismail 2009, hlm. Dengan memahami dasar-dasar teologis ini, gereja dapat memberikan pelayanan yang holistik dan bermakna bagi lansia, membantu mereka tetap aktif dalam gereja dan masyarakat, serta mengalami sukacita dan kepenuhan hidup dalam iman. Perspektif Successful Aging World Health Organization (WHO) dalam konstitusinya tahun 1946 mendefinisikan kesehatan secara holistik, yakni health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity (Observatory n. ) Definisi ini Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) pada 1998 yang secara eksplisit menambahkan bahwa selain fisik, mental, dan sosial, maka spiritual juga menjadi salah satu aspek kesehatan, terkhususnya dalam konteks budaya dan komunitas yang religius (Hammer et al. Successful Aging atau penuaan yang sukses dimaknai sebagai proses untuk menjadi senior yang baik dan berhasil seperti yang diharapkan (Bala 2020, hlm. John W. Rowe & Robert I. Kahn menegaskan bahwa penuaan yang sukses bergantung pada pilihan dan perilaku individu. Oleh karena itu, penuaan yang sukses bukanlah suatu kebetulan, tetapi harus diinginkan, direncanakan, dan diusahakan (Rowe & Kahn 1998, hlm. Penuaan yang sukses bukan hanya sekadar ketiadaan penyakit pada lansia. Walaupun terbebas dari penyakit merupakan hal penting dari proses penuaan yang sukses. Namun, sesungguhnya bagi seorang yang telah berusia lansia, tidak adanya penyakit saja tidak cukup. Seseorang yang tidak sakit masih memiliki kemungkinan resiko tinggi terhadap penyakit, sementara seseorang yang tidak beresiko dalam hal tersebut mungkin saja menjalani masa tua yang sepi dan pasif (Rowe & Kahn 1998, hlm. Rowe & Kahn menyusun tiga komponen untuk menghasilkan Successful Aging. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan antara satu dengan lainnya sehingga membentuk kombinasi yang saling melengkapi. Pertama, meminimalkan resiko munculnya berbagai penyakit dan akibat yang berhubungan dengan penyakit tersebut. Seiring berjalannya waktu, lansia mengalami penurunan fisik secara perlahan. Pada kondisi ini, seorang lansia tidak menghindari penyakit, karena hal itu diterima atau tidak, pasti datang (Bala 2020, hlm. Namun, kecenderungan yang sering terjadi adalah mengabaikan tandatanda peringatan penyakit. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun kesadaran tentang resiko akibat penyakit. Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh lansia untuk mencapai successful aging adalah melakukan pemantausan dan tindakan pencegahan berkala, misalnya melalui mengatur pola makan, berolahraga, mengecek kesehatan secara berkala (Rowe & Kahn 1998, hlm. Kedua, menjaga fungsi fisik dan mental. Seiring bertambahnya usia, lansia sering kali memiliki ketakutan tentang hilangnya fungsi fisik dan mental mereka. Namun, tidak diragukan juga bahwa kinerja fisik lansia akan lebih baik jika mereka lebih aktif secara fisik, misalnya dengan aktif berolahraga atau bergerak (Rowe & Kahn 1998, hlm. Fungsi mental yang menurun juga tidak dapat disangkal, misalnya kepikunan ataupun depresi. Namun, menurut Rowe & Kahn, penurunan ini jarang memengaruhi semua jenis kinerja kognitif dan sebagian besar hanya terjadi di usia yang benar-benar lanjut (Rowe & Kahn 1998, hlm. Kaum lansia dapat memanfaatkan kebijaksanaan yang masih dimiliki ataupun pengalaman hidup untuk membimbing dan mendampingi anak cucunya (Bala 2020, hlm. 98Ae. Ketiga, terlibat aktif dengan kehidupan. Kematian teman dan orang terkasih, pengalaman pensiun, kebutuhan untuk pindah dari rumah atau lingkungan yang sudah dikenal sejak lama mungkin menjadi beberapa kehilangan tertentu bagi para lansia. Namun, pentingnya tetap memiliki hubungan dekat dengan orang lain serta melakukan aktivitas rutin Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin yang memberi makna dan kegembiraan harus terus berlanjut. Succesccful aging berarti menemukan kembali hubungan dan aktivitas yang memberikan kedekatan, semangat, dan kebersamaan (Rowe & Kahn 1998, hlm. Selanjutnya, teori successful aging diperkaya oleh Crowther dan kawan-kawan yang menambahkan komponen keempat, yaitu spiritualitas yang positif. Komponen ini mencakup keyakinan dan nilai-nilai individu yang memberikan makna hidup, harapan, serta kemampuan untuk mengatasi tekanan hidup. Spiritualitas positif mendorong keterlibatan aktif lansia dalam kehidupan, melalui kegiatan keagamaan atau komunitas, doa, meditasi dan praktik lainnya. Kegiatan spiritual yang aktif memiliki kontribusi yang signifikan dalam meminimalisir penyakit, meningkatkan kesejahteraan emosional, dan sebagainya pada lansia (Crowther et al. 2002, hlm. Pelayanan Lansia di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Gambaran Umum Jemaat GKE Eppata dan Pelayanan Lansia Jemaat GKE Eppata Banjarmasin merupakan salah satu jemaat yang ada di Resort GKE Banjarmasin, sekaligus menjadi Jemaat kedudukan Resort GKE Banjarmasin. Jemaat GKE Eppata tersebar ke dalam 11 Lingkungan, yaitu Lingkungan Kana. Bethesda. Sinai. Sion. Efrata. Yordan. Hermon. Betania. Betlehem. Siloam dan Zaitun. Jumlah keseluruhan adalah 822 KK dan 3. 110 jiwa. Pelayanan ibadah meliputi ibadah Minggu, ibadah rumah tangga, ibadah kategorial (SPA. SPPer. SPP. SPR. SPB, dan Seksi Pelayanan Lanjut Usi. , serta ibadah yang bersifat insidentil. Kategori Seksi Pelayanan Lanjut Usia diikuti oleh anggota jemaat yang sudah berusia lanjut, walaupun tidak semua anggota lansia jemaat GKE Eppata bisa mengikuti kegiatan secara rutin. Berdasarkan data, jumlah lansia di Jemaat GKE Eppata adalah 533 orang (Dahanta Nawetis, wawancara, 21 Juni 2. Adapun kegiatan pelayanan lansia Jemaat Eppata meliputi ibadah lansia, perayaan Hari Lansia Nasional, persekutuan doa pengurus, diakonia bagi anggota lansia berkekurangan atau sakit atau pemberian karangan bunga untuk keluarga berduka, penggembalaan berupa kunjungan rutin kepada anggota lansia yang tidak mampu datang ke gereja. Selain itu, ada pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan kesehatan lansia yang dilakukan dalam kerja sama dengan Puskesmas Banjarmasin Tengah. PANASEA, dan Bakti Warga Kesehatan Kristen (BWKK) Kota Banjarmasin. Untuk Jemaat GKE Eppata Banjarmasin, maka pelayanan kesehatan untuk lansia merupakan bagian dari pelayanan rutin yang tertuang dalam Program Kerja Lansia dan didukung sepenuhnya oleh Majelis Jemaat (Taji Manguntur Palis, wawancara, 20 Juni 2. Ibadah lansia dilaksanakan pada hari Sabtu minggu ke dua tiap bulan. Jumlah anggota lansia yang hadir berkisar 90-125 orang. Namun, ketika ibadah nuansa natal lansia, jumlah yang hadir mencapai 200 orang lebih. Kegiatan dimulai pada pukul 08. WITA untuk pemeriksaan kesehatan, kemudian dilanjutkan dengan ibadah yang dimulai 30 WITA (Rini Indiastuty. Wawancara, 21 Juni 2. Di penghujung ibadah, biasanya dilaksanakan perayaan ulang tahun untuk anggota lansia yang berulang tahun pada sepanjang bulan berjalan. Pendeta Pendamping lansia saat ini adalah Pdt. Tuah Kutuuni. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Th. , namun untuk pelayanan ibadah dilayani oleh Penatua/Diakon dari masing-masing Lingkungan secara bergiliran, dan oleh Pendeta Lingkungan yang bersangkutan. Tema-tema ibadah biasanya mengikuti Almanak Nas GKE yang ada bertepatan dengan hari atau tanggal pelaksanaan ibadah (Tuah Kutuuni, wawancara, 20 Juni 2. Kegiatan dilaksanakan di aula gereja Eppata lantai 1 sehingga anggota lansia tidak mengalami kesulitan untuk bergabung karena harus menaiki tangga gereja yang cukup Sementara pelayanan kesehatan dilakukan dengan penimbangan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan asam urat, serta dibuka juga layanan konsultasi dengan tenaga medis yang datang. Jumlah pengurus lansia jemaat Eppata adalah 17 orang (Kantun Lestari Ningsih, wawancara, 21 Juni 2. Para Pengurus Lansia yang dipilih adalah perpaduan antara anggota Jemaat yang masih lebih muda . elum lansi. dan kaum lansia itu sendiri, baik dari kalangan warga Jemaat secara umum maupun dari anggota Jemaat yang memiliki latar belakang sebagai Tenaga Kesehatan (Nake. (Nawetis, wawancara, 21 Juni 2. Gambaran Umum Jemaat GKE Eben Ezer dan Pelayanan Lansia Jemaat GKE Eben Ezer merupakan salah satu jemaat yang ada di Resort GKE Banjarmasin. Secara geografis wilayah pelayanannya meliputi Kecamatan Banjarmasin Tengah. Kecamatan Banjarmasin Barat. Kecamatan Banjarmasin Utara, serta meliputi juga Kecamatan Alalak. Jemaat GKE Eben Ezer dibagi menjadi lima lingkungan pelayanan, yakni lingkungan I. II, i. IV, dan V (Poniwinatae Putra. Wawancara, 14 Maret 2. Terdapat 342 Kepala Keluarga, dan 1. 142 jiwa yang dilayani di Jemaat Eben Ezer. Pelayanan ibadah meliputi ibadah Minggu, ibadah rumah tangga, ibadah kategorial (SPA. SPPer. SPP. SPR. SPB, dan Seksi Pelayanan Lanjut Usi. , serta ibadah lainnya sesuai dengan permintaan dari anggota jemaat. Seksi Pelayanan Lanjut Usia sebagai salah satu bentuk pelayanan kategorial di jemaat ini memiliki beberapa program, seperti ibadah lansia, perayaan HUT lansia, peringatan Hari Lanjut Usia Nasional, senam sehat lansia, diakonia lansia berupa kunjungan kepada lansia yang sakit, keluarga berdukacita, diakonia natal. Selain itu, pengurus lansia juga menyediakan layanan jemput dan antar lansia untuk beribadah lansia di gereja Eben Ezer (MPH Jemaat Eben Ezer 2. Pengurus Seksi Pelayanan Lansia di Jemaat Eben Ezer berjumlah 16 orang Dalam kepengurusan ini, rata-rata usia pengurus adalah belum masuk kategori usia lansia (Tharate, 2. Pemilihan para pengurus juga diprioritaskan orangorang yang lebih muda dari para lansia supaya memberikan kesan dan pesan Aoanak yang mengurus orang tuaAo (Poniwinatae Putra, wawancara, 14 Maret 2. Ibadah lansia dilaksanakan rutin setiap bulan di Minggu terakhir hari Selasa pukul 30 WITA. Jumlah kehadiran lansia adalah sekitar 50-60 orang. Namun ketika ibadah nuansa natal, jumlah kehadiran bisa mencapai 100 orang lebih. Kegiatan lansia selalu diupayakan dengan berbagai variasi metode serta beragam tema di setiap bulannya (Tharate, wawancara, 14 Maret 2. Berbeda dengan Jemaat Eppata, di Jemaat Eben Ezer pemeriksaan kesehatan lansia tidak dilaksanakan. Menurut Hartati. Pada masa sebelum Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin pandemi Covid-19, kegiatan ini memang menjadi salah satu kegiatan rutin. Namun dihentikan pada masa pandemi Covid-19 hingga saat ini. Beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi adalah peralatan dan obat-obatan yang sudah kedaluwarsa, dr. Wiwin yang biasanya melakukan pemeriksaan tidak lagi berdinas di Banjarmasin, serta posisi gereja Eben Ezer yang dekat dengan beberapa fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit Islam. Rumah Sakit Ansari Saleh, dan Puskesmas (Hartati, wawancara, 14 Maret 2. Tanggapan Lansia terhadap Kegiatan Lansia yang Diikuti Secara umum, informan menyatakan bahwa mereka merasa diperhatikan melalui kegiatan lansia yang diselenggarakan oleh gereja. Menurut Hariani, kegiatan lansia merupakan bentuk nyata perhatian gereja bagi kaum lansia dan kegiatan ini menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan teman-teman lansia lainnya (Hariani A. Bandan, wawancara, 12 April 2. Sementara menurut Liani, dengan berinteraksi bersama kaum lansia lainnya membuat dia merasa bersemangat (Liani, wawancara, 12 April 2. Hatiana menyampaikan pengalamannya pernah menjadi ketua pengurus lansia di Jemaat Eben Ezer yang ketiga, di mana pada masa kepengurusannya ada upaya untuk bekerja sama dengan pihak kesehatan . uskesmas dan dokte. untuk menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan secara fisik. Profesinya dulu sebagai perawat di RSUD Ulin Banjarmasin sedikit banyak membantu dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan bagi lansia di Jemaat Eben Ezer kala itu. Dalam pengalamannya selama aktif di ibadah lansia, ia menyatakan senang dengan berbagai metode yang dilakukan di Seksi Pelayanan Lansia, walaupun secara pribadi, dia merasa metode persekutuan doa dirasa kurang cocok untuk lansia (Hatiana Liwi E. Talie. Wawancara,14 Juni 2. Waldemar menyampaikan bahwa ia mengikuti ibadah dan kegiatan lansia secara rutin, kecuali ada kendala seperti cuaca atau Waldemar menyoroti tentang cara penyampaian dan durasi khotbah dari pelayan Firman Tuhan yang dirasanya terkadang kurang cocok untuk kategorial lansia (Waldemar Umar, wawancara, 16 Juni 2. Tanggapan Lansia terhadap Dukungan Gereja dalam Kesehatan Holistik Dukungan gereja dalam kesehatan holistik di sini adalah dalam empat aspek, yakni secara fisik, sosial, mental, dan spiritual. Secara umum narasumber memberikan tanggapan yang positif terhadap layanan kesehatan holistik yang dilaksanakan oleh gereja, baik di Jemaat Eppata maupun di Jemaat Eben Ezer. Menurut Hariani, dukungan gereja terhadap kesehatan fisik dirasakan melalui pelaksanaan kegiatan seperti senam lansia dan pemeriksaan kesehatan (Hariani, 2. Dukungan gereja secara sosial sangat terasa bagi lansia. Adanya penerimaan yang baik dari sesama lansia, anggota jemaat secara umum, serta gereja memberikan dukungan bagi lansia secara emosional dan sosial (Mardiana, wawancara, 12 April 2. Hal ini juga dibenarkan oleh Liani yang menyatakan bahwa gereja sudah sangat mendukung dan menerima lansia di gereja dengan baik (Liani, 2. Bukan hanya penerimaan Majelis Jemaat, pengurus lansia, ataupun anggota jemaat secara umum, struktur bangunan gedung Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin gereja juga dirasa menjadi bentuk dukungan gereja bagi lansia. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Waldemar, gereja Eben Ezer sudah ramah lansia di mana gedung gereja tidak menggunakan tangga yang tinggi, sehingga memudahkan lansia untuk masuk beribadah di gereja ini (Waldemar, 2. Dukungan gereja bagi kesehatan mental sangat dirasakan Hatiana melalui kunjungan diakonia dan percakapan pastoral yang dilaksanakan, baik oleh majelis jemaat, pengurus lingkungan, maupun pengurus kategorial, baik kepada lansia yang sakit, berulang tahun, ataupun berdukacita (Hatiana, 2. Bukan hanya kunjungan, pelaksanaan kegiatan ibadah juga dirasakan oleh Liani sebagai bentuk dukungan menuju sehat secara mental (Liani. Dalam aspek spiritual, para lansia yang diwawancarai merasa bahwa gereja tidak hanya menyediakan ruang ibadah, tetapi juga secara aktif telah melibatkan mereka dalam kegiatan rohani demi pertumbuhan iman mereka. Misalnya. Mardiana menyatakan bahwa dukungan bagi pertumbuhan spiritualnya dirasa ketika ada ibadah khusus untuk lansia ini (Mardiana, 2. Gereja sangat memperhatikan lansia, baik secara kesehatan fisik maupun pertumbuhan iman melalui ibadah lansia (Hariani, 2. Ditegaskan oleh Waldemar, gereja mutlak harus mendukung para lansia dalam pertumbuhan imannya melalui pelayanan Firman Tuhan dan metode yang tepat untuk itu (Waldemar, 2. Persepsi Lansia terhadap Kesehatan Pribadinya Secara umum, seluruh informan memahami bahwa kesehatan bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga memenuhi aspek lainnya seperti sehat secara mental, sehat secara sosial, dan sehat secara spiritual. Hal-hal ini terus diupayakan oleh mereka secara pribadi, melalui aktivitas kesehariannya, baik di rumah, gereja, maupun dalam kehidupan bermasyarakat. Secara fisik. Hariani merasa sehat dan cukup bugar, namun tetap menjaga dengan olahraga ringan seperti berjalan-jalan pagi di sekitar siring (Hariani, 2. Mardiana menyampaikan bahwa ia menjaga kesehatan tubuh dengan melakukan aktivitas rumah tangga agar tetap berkeringat (Mardiana, 2. , sedangkan Liani menyatakan bahwa meskipun usianya sudah lanjut dan kadang merasa lelah, ia tetap aktif berkegiatan bersama suaminya, misalnya berkebun di pekarangan rumah (Liani, 2. Hatiana menyampaikan beberapa keluhan sakit yang ia alami, seperti sakit kaki dan punggung. Namun keluhan rasa sakit itu dilawannya dengan menjaga pola makan, berolahraga secara mandiri di rumah (Hatiana, 2. Waldemar juga merasa kesehatannya baik, walaupun demikian dia tetap rutin setiap bulan ke Rumah Sakit Ansari Saleh untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, menjaga pola makan, serta pola istirahat (Waldemar, 2. Secara mental. Hariani dan Mardiana merasa baik-baik saja dan memilih untuk tidak terlalu banyak pikiran (Hariani & Mardiana, 2. Waldemar berupaya untuk selalu berpikiran positif dan mengimbanginya dengan berbagai aktivitas. Waldemar juga selalu mengaitkan bahwa supaya sehat secara mental maka harus juga memperkuat aspek spiritual, yakni membangun relasi dengan Tuhan (Waldemar, 2. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Secara sosial, semua informan menyatakan bahwa mereka memiliki interaksi yang baik dengan lingkungan sekitar, baik dengan anggota keluarga maupun tetangga. Hatiana misalnya senang berjalan ke warung atau pasar yang tidak jauh dari rumahnya untuk berbelanja atau sekadar berbincang dengan para penjual (Hatiana, 2. Demikian juga. Hariani menilai kesehatannya secara sosial sangat baik, dia sering berinteraksi dengan tetangga, anak, dan cucunya (Hariani, 2. Kesehatan spiritual juga dinilai baik oleh para lansia. Hariani mengupayakan untuk selalu aktif dalam mengikuti ibadah (Hariani, 2. Demikian juga Mardiana, bukan hanya hadir dalam ibadah lansia, tetapi juga mengikuti ibadah Minggu ataupun ibadah keluarga di kawasan komplek rumahnya (Mardiana, 2. Liani menilai kesehatan spiritualnya baik melalui keteguhannya untuk rutin berdoa dan mengikuti ibadah (Liani, 2. Hatiana demikian juga, bahkan ia memiliki jadwal rutin untuk mendengar renungan setiap pagi, mewajibkan dirinya berdoa dan membaca Alkitab, serta mengirimkan nas Alkitab kepada keempat cucunya melalui pesan WhatsApp setiap hari (Hatiana, 2. Waldemar memanfaatkan teknologi untuk mendukung pertumbuhan iman, seperti membaca Alkitab di handphone dan mendengarkan renungan Berita Salamat Jari Dumah (BSJD) setiap hari (Waldemar, 2. Harapan Lansia terhadap Pengembangan Pelayanan Para lansia memiliki harapan agar pelayanan lansia di kedua jemaat ini mengalami Hatiana menyatakan supaya selalu ada variasi dalam metode ibadah. Ia juga menyarankan supaya pemeriksaan kesehatan fisik bisa dilaksanakan kembali di Jemaat Eben Ezer. Hal ini karena menurutnya, ada banyak lansia yang meminta supaya hal tersebut diadakan lagi. Walaupun demikian. Hatiana menyadari terkadang hambatan dalam pengembangan pelayanan adalah masalah dana (Hatiana, 2. Waldemar berharap supaya pelayanan lansia dapat terus dilaksanakan, tetapi tidak mengabaikan pelayanan kategorial lainnya (Waldemar, 2. Mardiana berharap supaya kegiatan lansia di Jemaat Eppata bisa terus berjalan ke depannya dan tentu dengan pelayanan yang semakin baik (Mardiana, 2. Senada dengan itu. Liani juga mengharapkan hal yang sama, terutama bagi para pengurus lansia Jemaat Eppata supaya mereka juga selalu sehat sehingga dapat memajukan kegiatan lansia di tempat ini (Liani, 2. Analisis Pelayanan Lansia di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Pelayanan Gereja kepada Lansia sebagai Pelayanan yang Holistik Pelayanan holistik adalah pelayanan yang dilakukan secara utuh, dengan melihat kebutuhan, baik secara rohani maupun jasmani. Oleh karena itu, bagi gereja ada tiga unsur yang harus tampak, yakni persekutuan . , pemberitaan Firman . , dan pelayanan . Menurut Hoekendijk, ketiga unsur ini mutlak ada dalam pelayanan gereja demi mendatangkan shalom . amai sejahtera. yang dijanjikan Tuhan (Kuiper 2013, hlm. Temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa Jemaat Eppata dan Jemaat Eben Ezer telah berupaya untuk melakukan pelayanan yang sifatnya holistik. Hal ini Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin terlihat dari adanya perhatian dan pelayanan yang diberikan kepada masing-masing kategorial, terkhususnya adalah kategorial lansia. Dyrness memberikan penekanan bahwa dalam rangka pelayanan holistik tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek-aspek menyeluruh dalam kehidupan manusia, melainkan juga memberikan pelayanan dan perhatian kepada semua orang, tanpa terkecuali, termasuk mereka yang rentan dan terabaikan (Dyrness 2001, hlm. Oleh sebab itu, pelayanan lansia merupakan salah satu bagian dari tanggung jawab iman gereja untuk menghadirkan syalom Allah kepada kaum Perhatian yang diberikan oleh Jemaat Eppata dan Jemaat Eben Ezer kepada lansia menunjukkan bahwa lansia tidak disisihkan dari persekutuan, melainkan dianggap sebagai bagian penting sebagaimana kategorial yang lainnya. Beberapa lansia yang diwawancarai menyatakan merasa diperhatikan oleh gereja melalui kegiatan lansia yang diikuti. Dalam deskripsi program pelayanan lansia maupun gambaran kegiatan yang dilakukan di kedua jemaat ini, tampak bahwa bukan hanya aspek kerohanian atau spiritualitas saja yang menjadi perhatian. Namun, secara jelas terdapat upaya-upaya dari pengurus lansia dan gereja untuk memberikan perhatian pada aspek fisik, emosional, dan sosial melalui program-program yang dilaksanakan. Hal ini ditekankan baik oleh Bosch maupun Dyrness bahwa gereja dipanggil untuk tidak terbatas hanya pada pemberitaan Injil secara verbal saja, tetapi harus mencakup seluruh keberadaan manusia, baik secara fisik, sosial, spiritual, dan emosional (Dyrness 2001, hlm. Kesaksian, pelayanan, penyembuhan, persekutuan, dan lain-lain menjadi tanggung jawab pelayanan gereja yang holistik (Bosch 2006, hlm. Pelayanan Yesus merupakan suatu pelayanan yang holistik, di mana Ia memberikan perhatiannya kepada banyak aspek secara menyeluruh dalam kehidupan manusia. Ia tidak hanya memberitakan Kerajaan Allah secara verbal, tetapi juga memberi makan orang lapar, menyembuhkan yang sakit, menghibur yang berduka, dan memulihkan yang terpinggirkan (Yeh 2016, hlm. Hal ini merupakan dasar kuat bagi gereja untuk melakukan hal yang sama dalam panggilannya di tengah-tengah dunia, yakni melakukan pelayanan yang holistik. Oleh sebab itu, tugas panggilan gereja untuk bersekutu, bersaksi, dan melayani harus benarbenar mencakup apa yang menjadi kebutuhan secara jasmani dan rohani dari manusia. Tugas panggilan inilah yang dalam istilah Hoekendijk disebutnya sebagai unsur yang mutlak ada dalam pelayanan gereja yang holistik, yakni persekutuan . , pemberitaan Firman . , dan pelayanan . (Kuiper 2013, hlm. Demikian juga dalam pelayanan lansia di kedua jemaat ini, tiga unsur mutlak ini tampak di dalam pelayanan kategorial yang dilaksanakan. Dalam unsur koinonia, kedua jemaat memiliki praktik persekutuan yang mendukung kehidupan spiritual dan sosial lansia. Di Jemaat GKE Eppata, koinonia tampak melalui persekutuan doa pengurus dan ibadah lansia yang memberikan ruang bagi perjumpaan dan Kegiatan koinonia ini menciptakan ruang berharga bagi pengurus maupun lansia itu sendiri untuk saling bertemu, membangun relasi, berbagi pengalaman, dan saling menopang satu sama lain. Sementara di Jemaat Eben Ezer, koinonia tampak melalui ibadah lansia setiap bulannya. Meskipun belum ada kegiatan khusus seperti persekutuan doa Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin pengurus, keterlibatan aktif pengurus dalam pelaksanaan ibadah dan mendampingi para lansia menunjukkan perhatian terhadap unsur persekutuan dalam kehidupan jemaat. Dalam hal marturia di kedua jemaat tampak dalam ibadah lansia yang di dalamnya menggunakan tema-tema relevan bagi lansia. Secara khusus. Jemaat Eben Ezer terlihat lebih menonjol dengan variasi metode yang digunakan dalam tiap bulannya, seperti khotbah, sharing, games, persekutuan doa, dan lain-lain. Walaupun, perlu dicermati bahwa beberapa metode tertentu, seperti persekutuan doa atau gaya penyampaian khotbah yang dinilai kurang cocok oleh informan. Sementara Jemaat Eppata melaksanakan ibadah sesuai dengan tema dari nas Almanak untuk hari tersebut. Dalam unsur diakonia, terlihat keragaman bentuk. Namun, tentunya kedua jemaat telah berupaya untuk melakukan secara optimal sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Di Jemaat Eppata, diakonia dilakukan secara lebih luas dan sistematis. Selain dilakukan pemberian bantuan kepada lansia, kunjungan kasih kepada lansia yang tidak mampu datang ke gereja, dan senam lansia. Jemaat Eppata juga menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan secara rutin yang bekerja sama dengan Puskesmas Banjarmasin Tengah. PANASEA, dan BWKK Banjarmasin. Sementara di Jemaat Eben Ezer, diakonia dijalankan melalui senam lansia, diakonia bagi lansia yang membutuhkannya . erkekurangan, sakit, atau keluarga yang berduk. , serta diakonia khusus. Jemaat Eben Ezer belum melanjutkan kembali program pemeriksaan kesehatan pasca pandemi Covid-19 karena beberapa faktor penyebab. Namun, ketersediaan layanan jemput dan antar lansia untuk beribadah oleh pengurus lansia juga menjadi suatu kekuatan bagi pelayanan lansia di jemaat ini. Hal ini merupakan implementasi kasih Kristus (Yoh. 13:34-. di mana gereja memperhatikan keterbatasan akses lansia. Berdasarkan pemaparan ini, tampak bahwa pelayanan lansia yang dilakukan oleh kedua jemaat telah mencerminkan implementasi dari pelayanan gereja yang holistik: koinonia, marturia, dan diakonia. Walaupun terdapat perbedaan dalam capaian dan kelengkapan masing-masing. Perbedaan tersebut tentu saja dipengaruhi oleh situasi di jemaat masing-masing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa upaya pelayanan gereja yang holistik telah dilakukan, baik di Jemaat Eppata maupun di Jemaat Eben Ezer, terkhususnya dalam pelayanan lansia. Kedua jemaat telah menunjukkan komitmen yang nyata dalam memperhatikan kebutuhan lansia sebagai bagian dari panggilan pelayanan Pelayanan kepada lansia tidak hanya menjadi kegiatan kategorial rutin, tetapi merupakan bentuk partisipasi gereja dalam mewujudkan damai sejahtera Allah bagi kehidupan warga jemaat, terkhususnya para lansia di Jemaat Eppata maupun Jemaat Eben Ezer. Pada sisi lain, dalam rangka pemberdayaan dan perlindungan lansia sebagaimana diatur oleh Pemerintah Daerah Kota Banjarmasin dalam Perda Nomor 11 tahun 2023 (Pemerintah Daerah Kota Banjarmasin 2. , apa yang telah dilakukan oleh kedua jemaat ini merupakan bentuk dukungan dan kerja sama bagi kesejahteraan lansia di Kota Banjarmasin secara khusus. Layanan Kesehatan Holistik bagi Lansia di Jemaat Eppata dan Jemaat Eben Ezer Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Pelayanan lansia di Jemaat Eppata dan Jemaat Eben Ezer menunjukkan perhatian terhadap pendekatan kesehatan holistik. Pengurus maupun lansia di kedua jemaat memahami bahwa kesehatan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga melibatkan kondisi mental, sosial, dan spiritual. Hal ini sejalan dengan definisi dari WHO yang menyatakan kesehatan bukan sekadar ketiadaan penyakit, melainkan keadaan sejahtera secara menyeluruh yang mencakup kesejahteraan fisik, mental, sosial, dan spiritual (Observatory Salah satu yang berperan untuk memberikan layanan kesehatan holistik bagi lansia adalah komunitas (Dwisetyo 2. Dalam hal ini dapat diartikan bahwa salah satu yang dimaksud dengan komunitas tersebut adalah gereja melalui pelayanan lansia. Dalam konteks gereja, pelayanan kesehatan yang holistik berarti melihat lansia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang utuh, yang memiliki kebutuhan fisik, mental, sosial, dan spiritual yang harus diperhatikan secara menyeluruh. Oleh sebab itu, sebagaimana pokok analisa sebelumnya, pelayanan kepada lansia tidak dapat dibatasi hanya pada aspek ibadah saja, tetapi seharusnya mencakup juga dukungan terhadap kualitas hidup mereka secara menyeluruh. Gereja dipanggil untuk menjalankan layanan kesehatan yang holistik sebagai wujud nyata dari kasih Kristus yang menyentuh seluruh aspek kehidupan umat-Nya. Bayu Dwisetyo mengembangkan pendekatan kesehatan holistik dalam peningkatan kualitas hidup lansia. Pendekatan holistik ini mencakup strategi dukungan tidak hanya dalam aspek medis, tetapi juga dalam pemenuhan kebutuhan emosional, relasional, dan spiritual lansia secara berkelanjutan. Menurutnya, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh faktor medis saja, tetapi merupakan hasil dari interaksi kompleks antara faktor-faktor biologis, psikologis, sosial, lingkungan, dan spiritual (Dwisetyo 2. Pendekatan kesehatan holistik ini digunakan untuk mengevaluasi dampak dari layanan kesehatan oleh gereja terhadap kesejahteraan para lansia secara menyeluruh. Terdapat empat pendekatan kesehatan holistik Strategi pendekatan pertama berupa kepedulian terhadap kesehatan fisik lansia (Dwisetyo 2024, hlm. 81Ae. Adanya program-program terkait kesehatan fisik lansia di Jemaat Eppata dan Jemaat Eben Ezer menunjukkan adanya kepedulian dan perhatian gereja untuk menjawab kebutuhan dasar lansia. Pemeriksaan kesehatan rutin yang dijalankan di Jemaat Eppata menjadi pendekatan yang baik supaya lansia dapat terus terpantau kesehatannya serta membantu mereka untuk lebih sadar akan kondisi tubuh mereka dan merasa didampingi oleh gereja dalam urusan kesehatan. Di Jemaat Eben Ezer, adanya senam sehat lansia menjadi bagian dari program latihan fisik yang diberikan oleh gereja, walaupun kegiatan ini tidak rutin. Sementara, layanan pemeriksaan menjadi suatu harapan untuk dapat dilaksanakan kembali oleh gereja. Ini menunjukkan bahwa layanan kesehatan fisik sudah ada, tetapi belum sepenuhnya terpenuhi secara lengkap di Jemaat Eben Ezer, karena gereja belum menyediakan lingkungan pendukung yang memungkinkan lansia memantau kesehatannya dengan didampingi oleh gereja. Menurut Bayu, kesehatan fisik tidak dapat dilepaskan dari interaksi antara faktor biologis, lingkungan, psikologis, dan spiritual (Dwisetyo 2. Dalam kerangka ini, pemeriksaan kesehatan tidak hanya bernilai medis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan sosial dan spiritual yang Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin mendukung kesehatan lansia. Lansia tidak hanya mendapatkan layanan kesehatan secara fisik, tetapi juga mengalami keterhubungan dengan komunitas dan rasa aman secara Di sinilah gereja dipanggil untuk menghadirkan damai sejahtera Allah melalui perhatian terhadap tubuh sebagai bagian dari ciptaan yang harus dihargai dan dirawat. Strategi pendekatan kedua berupa meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia. Dalam hal pelayanan gereja, kunjungan diakonia yang dilakukan ternyata bermanfaat untuk menjaga kesehatan mental lansia. Hal ini seperti ditawarkan oleh Bayu bahwa salah satu cara untuk memastikan mereka sejahtera secara psikologis, yakni dengan memastikan lansia memiliki dukungan sosial yang kuat dari keluarga, teman, atau komunitas (Dwisetyo 2024, 86Ae. Dukungan ini berperan penting untuk menjaga semangat hidup dan mencegah munculnya rasa kesepian atau tidak berguna pada masa lansia. Keaktifan pengurus lansia bersama Majelis Jemaat dan pendeta untuk melakukan kunjungan kasih kepada lansia membantu mereka untuk merasa diperhatikan dan didengarkan. Oleh karena itu, sangat baik jika dilakukan secara konsisten, baik kepada lansia yang sedang sakit, berdukacita, maupun yang tidak mampu hadir dalam kegiatan ibadah secara rutin. Perasaan diterima dan diingat memberikan dampak positif bagi lansia seperti rasa aman, tenang, dan bersemangat. Hal ini bukan hanya berdampak bagi kesehatan mental, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik yang lebih baik (Dwisetyo 2024, hlm. Dengan demikian, pelayanan diakonia harus dipandang sebagai bagian penting dari strategi gereja untuk membangun kesehatan mental Dalam Aging Theology, lansia adalah bagian dari Tubuh Kristus. Kunjungan diakonia bukan hanya aksi sosial, tetapi perwujudan iman bahwa Aujika satu anggota menderita, semua turut menderitaAy . Kor. Strategi pendekatan ketiga adalah menjaga hubungan sosial lansia di komunitasnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja sangat berperan sebagai komunitas yang menerima dan mendukung. Para lansia merasakan dukungan gereja secara sosial bagi mereka, ada penerimaan yang baik serta dukungan secara sosial dan emosional yang cukup Pada sisi spiritualitas, gereja dinilai aktif melibatkan lansia dalam kegiatan rohani bagi pertumbuhan iman mereka. Adanya interaksi yang ramah dan inklusif dari orang-orang di sekitar lansia membuat lansia dapat merasa tetap aktif, terhubung, dan dihargai (Dwisetyo 2024, hlm. 87Ae. Keberadaan gereja sebagai komunitas yang saling menerima dan memberikan perhatian bagi lansia menjadikannya sebagai suatu Aoruang aman dan nyamanAo bagi lansia untuk berkumpul. Strategi pendekatan keempat adalah menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi Kedua jemaat telah berupaya untuk mewujudkan gereja ramah lansia. Hal ini ditandai dengan bangunan gereja Eben Ezer yang tidak menggunakan tangga yang tinggi ataupun pelaksanaan ibadah lansia di Jemaat Eppata yang bertempat di aula Eppata. Namun, hal ini belum cukup. Menurut Bayu, perlu juga dipikirkan strategi lainnya, yakni memastikan kebersihan dan keamanan tempat di mana mereka berkegiatan (Dwisetyo 2024, hlm. 90Ae Hal ini penting supaya lansia dapat beribadah dengan baik. Peranan penting yang masih perlu dimunculkan atau ditingkatkan lagi oleh gereja adalah melakukan edukasi isu-isu terkait lansia kepada anggota jemaat yang lain sehingga kepedulian untuk mewujudkan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin gereja ramah lansia bukan hanya menjadi tugas gereja dan pengurus lansia, tetapi menjadi tugas semua anggota jemaat dan terkhususnya juga keluarga lansia itu sendiri. Berdasarkan empat poin atas strategi pendekatan kesehatan holistik di atas, dapat disimpulkan bahwa layanan kesehatan yang dilakukan oleh Jemaat Eppata dan Jemaat Eben Ezer telah berkontribusi terhadap pemenuhan dimensi kesehatan holistik para lansia. Walaupun belum seluruh aspek terpenuhi secara setara di kedua jemaat, layanan kesehatan yang dilakukan telah menyentuh kebutuhan dasar lansia, baik secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. Hal ini memperkuat peran gereja sebagai komunitas iman yang tidak sekadar menyelenggarakan kegiatan rohani, tetapi juga menghidupi Injil secara konkret melalui pelayanan yang menjawab kebutuhan nyata jemaatnya. Successful Aging dalam Kehidupan Pribadi Lansia dan Peran Gereja dalam Mendukungnya Pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh gereja kepada lansia tidak hanya berdampak pada aspek jasmani dan rohani saja, tetapi juga berkontribusi pada proses penuaan yang lebih bermakna dan berkualitas. Dalam dua temuan sebelumnya ditemukan bahwa layanan kesehatan yang diberikan oleh gereja memberikan dampak baik bagi lansia yang menerimanya. Temuan selanjutnya adalah perlu untuk melihat bagaimana lansia secara pribadi mengukur kesehatan dirinya secara holistik dan upaya yang dapat dilakukannya secara pribadi untuk dapat merasakan successful aging . enuaan yang sukse. Hal ini penting, karena di satu sisi, kesadaran lansia secara pribadi dalam menjaga kesehatannya dapat memperkuat efektivitas pelayanan gereja. Pada sisi lain, keberhasilan mencapai successful aging tidak hanya ditentukan oleh pelayanan dari luar . diri lansia, tetapi juga oleh kesadaran pribadi lansia dalam mengelola kesehatannya secara lebih baik . Dengan demikian, dalam perspektif penelitian ini, successful aging merupakan hasil kolaborasi antara tanggung jawab pribadi dan dukungan komunitas, terkhususnya dari Temuan ketiga dalam penelitian ini dikaitkan dengan teori successful aging . enuaan yang sukse. menurut Rowe & Kahn yang juga diperkaya oleh Crowther dan kawan-kawan. Secara pribadi, para lansia yang telah diwawancarai dari kedua jemaat ini memiliki kesadaran yang tinggi terhadap upaya meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam rangka menghindari penyakit, beberapa lansia melakukan olahraga sederhana, mengecek kesehatan secara rutin di faskes, serta mengatur pola makan mereka. Menurut Rowe & Kahn, melakukan pemantauan dan tindakan pencegahan berkala sebagai upaya meminimalkan risiko akibat penyakit sangatlah penting untuk dapat mencapai successful aging (Rowe & Kahn 1998, hlm. Ketika gereja memiliki layanan pemeriksaan kesehatan rutin dan program senam, maka kiranya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh lansia. Sementara ketika gereja tidak dapat melaksanakan layanan pemeriksaan kesehatan ini, maka kesadaran lansia untuk mandiri dalam mengakses fasilitas kesehatan menjadi sangat penting. Dalam rangka menjaga fungsi fisik dan mental supaya tetap sehat, para lansia selalu berupaya untuk berpikiran positif dan membangun hubungan yang sehat dengan anggota Sementara bagi yang sudah ditinggalkan oleh pasangan hidupnya . Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin memang terasa kekosongan dan kesedihan. Namun, berpikiran positif dan menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat membuatnya bisa mengimbangi rasa tersebut. Keaktifan secara fisik melalui olahraga ataupun beraktivitas secara rutin membantu untuk menjaga kesehatan mental (Rowe & Kahn 1998, hlm. Gereja harus selalu berupaya untuk menyediakan Auruang aman dan nyamanAy bagi lansia untuk mereka dapat berbicara, berekspresi, dan merasa didengar serta dihargai, baik di saat ibadah, pertemuan, ataupun di saat diakonia dilaksanakan. Komponen selanjutnya adalah terlibat aktif dalam kehidupan diupayakan oleh para lansia melalui tetap berhubungan dengan orang lain, baik keluarga, tetangga, maupun sesama lansia. Sebagaimana dikatakan oleh Rowe & Kahn, lansia perlu untuk menemukan kembali hubungan dan aktivitas yang memberikan kedekatan, semangat dan kebersamaan (Rowe & Kahn 1998, hlm. Salah satu tempat di mana mereka dapat menemukan kembali hubungan tersebut adalah di gereja, baik dalam persekutuan umum maupun terkhususnya melalui kegiatan lansia yang dapat mereka ikuti. Oleh karena itu, gereja perlu memastikan bahwa lansia yang tidak mampu hadir karena keterbatasan fisik dapat tetap dijangkau agar mereka tidak merasa kehilangan rasa keterhubungan itu. Kesadaran untuk memiliki komponen keempat, yakni spiritualitas yang positif tampak dari antusias mereka dalam mengikuti kegiatan lansia di jemaat masing-masing, termasuk juga mengikuti ibadah Minggu di gereja dan ibadah keluarga di sekitar tempat tinggal mereka. Secara pribadi juga, kesadaran untuk berdoa, membaca, dan merenungkan Alkitab setiap hari menjadi tindakan-tindakan nyata untuk mendorong tumbuhnya spiritualitas yang positif dalam diri setiap lansia. Dengan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut, mereka juga tertarik untuk terus membagikan Firman Tuhan kepada anggota keluarganya dengan memanfaatkan teknologi yang dimiliki. Ini mencerminkan lansia sebagai guru hikmat (Ams. yang menjadi teladan bagi generasi muda. Spiritualitas yang positif membantu lansia untuk memiliki iman, memaknai hidup secara positif, berpengharapan, dan mampu untuk mengatasi tekanan hidup di usia yang tidak lagi muda. Bahkan, spiritualitas mampu meminimalisir penyakit dan meningkatkan kesejahteraan emosional lansia (Crowther et al. 2002, hlm. Pelayanan lansia yang dilakukan oleh gereja di kedua jemaat harus menjadi komunitas iman yang mendukung dan mendorong lansia untuk terus beribadah dan melakukan disiplin rohani pribadi. Komponen keempat ini merupakan tempat di mana gereja memiliki kapasitas paling besar secara langsung untuk membentuk dan menopang lansia dalam menjalani usia tuanya dengan penuh makna. Strategi Praktis Pelayanan yang Dapat Dikembangkan Tawaran strategi ini ditujukan kepada Seksi Pelayanan Lansia dan Majelis Jemaat di Jemaat GKE Eppata dan Jemaat GKE Eben Ezer. Pertama, gereja perlu secara konsisten mempertahankan program-program yang sudah berjalan baik. Pelayanan ini tidak hanya menjadi suatu kegiatan rutin yang diprogramkan, baik oleh pengurus lansia ataupun Majelis Jemaat, tetapi menjadi bentuk nyata dari pelayanan holistik gereja yang memperhatikan seluruh aspek kehidupan manusia. Lebih dari mempertahankan, gereja juga harus untuk Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin mengembangkan bentuk-bentuk pelayanan baru yang sesuai dengan kebutuhan holistik para Beberapa bentuk pelayanan tambahan yang dapat diterapkan dalam konteks pelayanan Jemaat Eppata dan Jemaat Eben Ezer, misalnya konseling spiritual . embinaan rohani secara personal untuk mendampingi lansia dalam perjalanan iman merek. , konseling kesehatan mental . embantu lansia meningkatkan kesejahteraan mental, mengurangi depresi dan kesepia. , dan pendampingan ke faskes . elayanan untuk lansia yang tidak memiliki pendamping keluarga untuk mengantar dan menemani lansia ketika membutuhkan perawatan atau kontrol rutin di faske. Kedua. Pengurus Seksi Pelayanan Lansia sangat perlu untuk diberikan pelatihanpelatihan yang memadai agar dapat melakukan pelayanan dengan baik. Beberapa pelatihan dasar yang diperlukan adalah pelatihan komunikasi pastoral dan pendampingan spiritual lansia, pelatihan dasar pelayanan lansia berbasis holistik, cara komunikasi antar generasi, pengetahuan dasar kesehatan lansia, pelatihan liturgi ramah lansia, dan topik lain yang Sementara bagi pendeta pendamping pelayanan lansia atau bahkan untuk semua pendeta yang melayani di pelayanan lansia juga perlu diperlengkapi tentang metode khotbah lansia, liturgi ramah lansia, dan pelatihan konseling pastoral lansia. Ketiga. Majelis Jemaat memiliki peranan penting untuk melihat kesenjangan dalam jangkauan pelayanan. Masih terdapat anggota jemaat lansia yang belum terlibat dalam kegiatan pelayanan, sehingga Majelis Jemaat perlu untuk mencari tahu faktor yang menyebabkan ketidakterlibatan tersebut, apakah faktor keterbatasan fisik, lokasi geografis, keberasingan sosial, atau bahkan ketidaktahuan akan program yang tersedia. Untuk itu. Majelis Jemaat perlu untuk melakukan pemetaan dan pendataan ulang anggota lansia secara menyeluruh di masing-masing lingkungan pelayanan. Kemitraan dengan pihak lain juga harus terus dilanjutkan bagi Jemaat Eppata, sementara bagi Jemaat Eben Ezer, kemitraan dengan pihak kesehatan harus terus diupayakan dan dijajaki kembali. Agar keberlangsungan pelayanan lansia terjamin. Majelis Jemaat perlu untuk memberikan anggaran yang memadai untuk mendukung program lansia. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa pelayanan gereja terhadap lansia di Jemaat GKE Eppata dan Jemaat GKE Eben Ezer telah mencerminkan model pelayanan yang holistik, yakni mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan spiritual. Gereja hadir sebagai komunitas iman yang memberikan ruang dan dukungan nyata bagi para lansia melalui berbagai bentuk Para lansia merespons positif layanan yang diberikan gereja dan merasa diperhatikan serta didukung dalam kehidupan mereka. Hal ini memperlihatkan bahwa gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga tempat pembinaan mental dan sosial yang memperkuat kualitas hidup mereka. Hal ini selaras dengan perspektif Aging Theology yang menekankan makna iman, relasi, dan pengharapan dalam proses penuaan, serta memperkuat konsep successful aging yang menekankan kualitas hidup, penerimaan diri, dan dukungan Gereja berperan sebagai mitra aktif dalam mendukung lansia mencapai kesejahteraan hidup melalui persekutuan . , kesaksian iman . , dan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin pelayanan kasih . Pelayanan kepada lansia bukan sekadar bentuk tanggung jawab sosial gereja, melainkan bagian integral dari panggilan iman untuk menghadirkan damai sejahtera Allah kepada seluruh umat-Nya. Gereja perlu terus memperkuat peran ini melalui strategi pelayanan yang holistik agar mampu merespons secara tepat kebutuhan lansia di tengah dinamika zaman dan tantangan penuaan penduduk . geing populatio. Daftar Rujukan Bala. Robert. Successful Aging. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Bosch. David J. Transformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah. Cet. Jakarta: Gunung Mulia. Crowther. Martha R. Michael W. Parker. Achenbaum. Walter L. Larimore, & Harold Koenig. AuRowe and KahnAo s model of successful aging revisited: Positive spirituality - The forgotten factor. Ay Gerontologist 42. :613Ae20. 1093/geront/42. Dwisetyo. Bayu. Strategi Holistik Peningkatan Kualitas Hidup Lansia. diedit oleh Lisnawati. Jawa Tengah: Penerbit Amerta Media. Dyrness. William A. Agar Bumi Bersukacita: Misi Holistis dalam Teologi Alkitab. Jakarta: Gunung Mulia. Hammer. Joseph. Nathaniel Wade, & Ryan Cragun. AuValid assessment of spiritual quality of life with the WHOQOL-SRPB BREF across religious, spiritual, and secular persons: A psychometric study. Ay Psychology of Religion and Spirituality 12. doi: 10. 1037/rel0000266. Ismail. Andar. Ajarlah Mereka Melakukan: Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Kuiper. Arie de. Missiologia: Ilmu Pekabaran Injil. 22 ed. Jakarta: Gunung Mulia. Kusumo. Mahendro Prasetyo. Buku Lansia. Yogyakarta: Lembaga Penelitian. Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UMY. Moelong. Lexy J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. MPH Jemaat Eben Ezer. Program Kerja dan Anggaran Pendapatan dan Belanja MJ GKE Eben Ezer Banjarmasin Tahun 2025. Banjarmasin. Nugroho. Fibry Jati. AuKualitas Hidup Lanjut Usia dan Peran Gereja di Panti Jompo. Ay Nubuat: Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Katolik 1. Observatory. The Global Health. AuHealth and Well-being. Ay World Health Organization. Diambil 13 Juni 2025 . ttps://w. int/Data/Gho/Data/Major-Themes/Healthand-Well-Bein. Paende. Elvin. AuPelayanan Terhadap Jemaat Lanjut Usia Sebagai Pengembangan Pelayanan Kategorial. Ay Missio Ecclesiae 8. :93Ae115. Pemerintah Daerah Kota Banjarmasin. Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 11 Tahun 2023 Tentang Pemberdayaan dan PErlindungan Lanjut Usia. Banjarmasin. Penyusun. Tim. Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024. diedit oleh D. Rakyat. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Purwanto. Rahmad, & Retno Mratihatani. AuPeran Kader Kesehatan Dalam Peningkatan Kesehatan Lanjut Usia (Lansi. Ay Mimbar Administrasi 1. :16Ae24. doi: 10. 56444/pengabdian45. Rowe. John W. , & Robert L. Kahn. Successful Aging. United States of Amerika: Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Gereja dan Layanan Kesehatan Holistik untuk Lansia: Studi di Jemaat GKE Eppata dan GKE Eben Ezer Banjarmasin Pantheon Books. Santoso. Hanna, & Andar Ismail. Memahami Krisis Lanjut Usia: Uraian medis dan Pedagogis-Pastoral. 1 ed. Jakarta: Gunung Mulia. Schumann. Olaf H. Agama dalam Dialog. diedit oleh O. Schumann. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Siburian. Banner. Bersahabat dengan Lanjut Usia: Fenomena Pelayanan Pastoral Lanjut Usia di Gereja Batak. Jakarta: Penerbit Jala Permata Aksara. Situmorang. Merri Natalia, & Endang Pasaribu. AuPemberdayaan Lansia dalam Pelayanan Gereja. Ay Jurnal Kadesi 5. :61Ae79. Stott. John, & Christopher J. Wright. Christian Mission in the Modern World. United States: InterVarsity Press. Tim Penyusun. Kota Banjarmasin dalam Angka 2025. Vol. Banjarmasin: Badan Pusat Statistik Kota Banjarmasin. Vibriyanti. Deshinta. Dewi Harfina. Sari Seftiani, & Marya Yenita Sitohang. Lansia Sejahtera: Tanggung Jawab Siapa? Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Yeh. Allen. Polycentric Missiology. United States of Amerika: InterVarsity Press. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025