Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 TINGKAT PEMAHAMAN PERAWAT TERKAIT SOCIETY 5. O DENGAN KINERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RSUD KEPULAUAN SERIBU Suatmaji1*. Labora sitinjak2. Tiara3 1Ao2 Dosen Akper Husada Karya Jaya 3 Mahasiswa Akper Husada Karya Jaya *Koresponden: Suatmaji. Alamat: Jl. Sunter Permai Raya. Tanjung Priok. Email: Suatmajihkj@gmail. Received: 12 agust | Revised: 20 aguts | Accepted: 09 sept Abstrak Latar Belakang: Pemahaman merupakan suatu kemampuan seseorang untuk mengetahui, menjelaskan dan menarik kesimpulan apa yang telah dipelajari. Society 5. 0 merupakan konsep pengembangan komunitas yang bertujuan untuk mengintegrasikan teknologi digital ke dalam kehidupan sehari-hari dan membangun masyarakat yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada Sedangkan society 5. 0 dalam kinerja perawat adalah istilah untuk penggunaan sistem manajemen data elektronik terintegrasi, sehingga mengurangi beban administratif pada perawat, dalam penerapan society 5. 0 seperti Internet of Things (IoT). Salah satu perannya dapat digunakan untuk pemantauan pasien dan keperawatan jarak jauh secara real-time. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran terhadap tingkat pemahaman perawat terkait society 5. 0 dengan kinerja perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Kepulauan Seribu. Metodologi Penelitian: metode penelitian kuantitatif dengan quasy eksperiment one group pre dan post test menggunakan uji sampel berpasangan. yang bertujuan untuk melihat perbandingan responden dengan sebelum diberikan sosialisasi sehingga diberikan sosialisasi penilaian yang lebih akurat. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 10 responden. Hasil: Dari hasil penelitian ini yang dilakukan didapatkan bahwa tiak terdapat perbedaan tingkat pemahaman responden antara sebelum dan sesudah dilakukannya sosialisasi baik definisi society 5. 0, society 5. 0 dalam kesehatan, society 5. 0 dalam kinerja perawat, dan manfaat society 5. 0 dalam kinerja perawat yang menunjukkan hasil p Value 0,66(<0,. , yang artinya tingkat pemahaman perawat rawat inap RSUD Kepulauan Seribu sudah dikatakan tinggi setelah dilakukan sosialisasi. Kesimpulan: Menggunakan kuesioner CCQ lebih efiesien untuk mengetahui tingkat keparahan pada pasien Kata Kunci: Tingkat Pemahaman. Society 5. Kinerja Perawat Latar Belakang dengan Revolusi Industri 4. Konsep ini diadopsi oleh Pada tahun 2016. Jepang memperkenalkan konsep pemerintah Jepang untuk menggambarkan masyarakat yang Society 5. 0 sebagai respons terhadap tren global yang terkait menggunakan berbagai teknologi untuk mengatasi berbagai Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 masalah dalam kehidupan sehari-hari. Revolusi Industri 4. ditandai oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berkolaborasi secara efektif dengan profesional kesehatan (TIK), seperti internet dan digitalisasi. Sebelumnya. Revolusi Dalam lingkungan pelayanan kesehatan yang Industri 1. 0 mengenai penggunaan mesin uap. Revolusi semakin terhubung dan terintegrasi secara teknologi. Industri 2. 0 berkaitan dengan penerapan listrik dalam perawat yang produksi, dan Revolusi Industri 3. 0 berfokus pada teknologi berkomunikasi dengan insinyur, administrator pelayanan Oleh karena itu. Society 5. 0 merupakan kelanjutan kesehatan, dan profesional kesehatan lainnya tentang dari era-era revolusi sebelumnya, di mana kemajuan penggunaan dan pengembangan teknologi yang relevan. teknologi dimanfaatkan untuk memberikan manfaat kepada Kolaborasi masyarakat dan mempermudah kehidupan mereka. , (Sugeng keperawatan, memfasilitasi pertukaran informasi yang lebih Sutiarso, 2. baik, dan meningkatkan hasil keperawatan pasien, (Ogbolu. Perkembangan memahami konsep & Denny. E, 2. kemajuan dan perubahan teknologi yang terus berubah, dan Di sektor keperawatan, society 5. 0 memberikan perubahan teknologi ini selalu mengubah lanskap industri, keuntungan dengan memfasilitasi pertukaran data medis termasuk dalam sektor kesehatan. Dengan kata lain, evolusi antar rumah sakit yang tersebar. Dalam bidang asuhan dalam keperawatan selalu dipengaruhi oleh tren dan topik keperawatan, penerapan sistem jarak jauh telah mengurangi yang terus berkembang setiap tahun sejalan dengan kebutuhan akan kunjungan rutin ke rumah sakit, terutama bagi lansia. Dengan terus berkembangnya teknologi dan era Indonesia Semakin 0 yang revolusioner, penting bagi pelayanan menggunakan teknologi komunikasi dalam kehidupan sehari- keperawatan untuk beradaptasi agar dapat menyediakan hari mereka. Data dari Kementerian Komunikasi dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan. Revolusi society Informatika menunjukkan bahwa jumlah pengguna internet 0 telah tiba, dan inovasi dalam bidang keperawatan, di Indonesia telah mencapai 150 juta orang. , dengan tingkat khususnya pelayanan keperawatan yang mengandalkan data penetrasi mencapai 56% di seluruh wilayah. Jumlah pengguna dan teknologi untuk memberikan pelayanan jarak jauh, juga internet seluler, sebaliknya, mencapai 142,8 juta dengan harus dipersiapkan dan ditingkatkan, (Nastiti ely Faulinda, tingkat penetrasi 53%. Survei APJII 2018 menunjukkan . bahwa Pulau Jawa dan Sumatera masih menjadi wilayah dengan proporsi pengguna internet tertinggi. Pemahaman Pemahaman dan penerimaan teknologi dalam pengaturan pelayanan kesehatan mungkin berbeda-beda di antara perawat. Beberapa perawat memiliki memungkinkan mereka untuk menggunakan teknologi terbaru dalam praktik keperawatan. Misalnya, perawat yang memanfaatkannya dalam praktik klinis mereka, sementara memahami konsep-konsep seperti kecerdasan buatan (AI), perawat lainnya memiliki pemahaman yang terbatas atau Internet of Things (IoT), big data, dan robotika akan dapat menghadapi hambatan ketika menerapkan teknologi baru. menggunakan alat-alat teknologi yang relevan untuk Dalam pelayanan kesehatan, teknologi seperti telemedis, membantu dalam diagnosis, pemantauan pasien, dan catatan kesehatan elektronik, kecerdasan buatan, dan pengambilan keputusan klinis yang tepat. Pemahaman ini robotika dapat digunakan untuk juga memungkinkan perawat untuk meningkatkan efisiensi akurasi, dan kualitas pelayanan, (Eka Ratnawati, . dan efektivitas keperawatan, mengurangi kesalahan, dan meningkatkan keselamatan pasien. Selain itu, pemahaman Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Tujuan Penelitian Mengidentifikasi data demografi . sia, jenis kelamin dan Pertimbangan Etik pendidika. Mengidentifikasi tingkat pemahaman Telah dilakukan uji etik dan dinyatakan lolos serta diterima perawat mengenai society 5. Mengidentifikasi kinerja oleh reviewer. perawat yang terkait dengan pemahaman mereka tentang Hasil Penelitian Pada penelitian ini jumlah responden sebanyak 10 Metode Penelitian Desain Penelitian perawat Rawat Inap. Responden usia 22 - 30 tahun ada 4 Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain orang . %), sementara 6 orang. %) berusia >30 - 40 post-test tahun, responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak menggunakan uji sampel berpasangan melibatkan perawat di 7 responden . %) dan yang berjenis kelamin laki-laki 3 Rawat Inap dan diukur perbedaan sebelum dan sesudah responden . %) dan responden dengan pendidikan Di diberikan sosialisasi tentang Society 5. Keperawatan sebanyak 8 orang . %). S1 Keperawatan Hipotesis sebanyak 2 orang . %). Tingkat pemahaman perawat tentang definisi Hipotesis dalam penelitian ini, antara lain: Tidak terdapat perbedaan tingkat pemahaman 0 menurut usia, hasil menunjukkan bahwa nilai responden sebelum dan sesudah dilakukan sosialisasi tertinggi diperoleh pada usia 22-30 tahun . ,7%) baik tentang Society 5. 0 dengan Kinerja Perawat sebelum maupun sesudah sosialisasi dibandingkan dengan Ha: Terdapat perbedaan perbedaan tingkat pemahaman usia >30-40 tahun . ,1%) sebelum sosialisasi, . ,6%) responden sebelum dan sesudah dilakukan sosialisasi setelah sosialisasi meningkat sebesar . ,5%). tentang Society 5. 0 dengan Kinerja Perawat jenis kelamin, hasil menunjukkan nilai tertinggi diperoleh Ho: bahwa jenis kelamin perempuan mempunyai nilai lebih tinggi Populasi dan Sampel sebelum sosialisasi sebesar . ,2%) dan sesudah sosialisasi Populasi pada penelitian ini yaitu perawat di Ruang Rawat . ,8%) meningkat sebesar . ,6%), dibandingkan dengan Inap RSUD Kepulauan Seribu berjumlah 10 perawat dengan jenis kelamin laki-laki memperoleh nilai yang tetap yaitu menggunakan teknik pengumpulan data yaitu total sampling. ,6%) berdasarkan jenis pendidikan, hasil menunjukkan bahwa nilai Instrumen Pengumpulan Data tertinggi diperoleh Di Keperawatan . ,6%) sebelum Dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sosialisasi, . ,7%) sesudah sosialisasi meningkat sebesar berupa kuesioner dengan skala guttman. ,1%), dibandingkan dengan S1 Keperawatan memperoleh nilai tetap yaitu . ,5%) baik sebelum maupun sesudah Pengumpulan Data Tingkat Pemahaman Perawat terkait Society 5. Pengumpulan Data dilakukan pada bulan April 2025 di RSUD dalam Kesehatan berdasarkan usia, hasil menunjukkan nilai Kepulauan Seribu. tertinggi diperoleh usia >30-40 tahun . ,6%) sebelum sosialisasi, . ,2%) sesudah sosialisasi meningkat . ,6%). Analisa Data Analisis menghitung distribusi frekuensi . nalisis univaria. dibandingkan dengan usia 22-30 tahun . ,3%) sebelum sosialisasi, . ,5%) sesudah sosialisasi sebesar meningkat . ,2%). Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 menunjukkan bahwa nilai tertinggi diperoleh bahwa jenis dan sesudah sosialisasi terhadap Society 5. 0 Tidak ada kelamin perempuan mempunyai nilai lebih tinggi sebelum perbedaan yang signifikan antara tingkat pemahaman sosialisasi . ,2%) dan sesudah sosialisasi sebesar . ,8%) perawat Rawat Inap RSUD Kepulauan Seribu sebelum dan laki-laki sesudah sosialisasi, seperti yang didukung oleh analisis memperoleh nilai tetap yaitu . ,6%) baik sebelum maupun dengan nilai p-value (>0,. Ini menunjukkan bahwa tingkat sesudah sosialisasi. pemahaman perawat rawat inap di RSUD Kepulauan Seribu . ,6%), jenis pendidikan, hasil Di sudah tinggi sebelum sosialisasi dilakukan. Keperawatan . ,0%) sebelum sosialisasi, . ,8%) sesudah sosialisasi meningkat sebesar . ,8%), dibandingkan dengan S1 Keperawatan memperoleh nilai tetap yaitu . ,6%) baik sebelum maupun sesudah sosialisasi. Kesimpulan Karakteristik responden mayoritas perawat berusia >30-40 tahun dan minoritas berusia 22-30 tahun. Mayoritas Tingkat Pemahaman Perawat terkait Society 5. berjenis kelamin perempuan dan minoritas laki-laki. dalam Kinerja Perawat berdasarkan usia, hasil menunjukkan Mayoritas bahwa nilai tertinggi diperoleh usia <30-40 tahun dengan Keperawatan dan minoritas responden berpendidikan S1 nilai . %) baik sebelum maupun sesudah sosialisasi. Keperawatan. dibandingkan dengan usia 22-30 tahun . ,6%) sebelum sosialisasi, . %) Di Tingkat pemahaman perawat terkait definisi society sesudah sosialisasi meningkat . ,4%). 0 menurut usia responden berusia 22 hingga 30 tahun berdasarkan jenis kelamin, hasil menunjukkan bahwa nilai memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi daripada tertinggi diperoleh bahwa jenis kelamin laki- laki . %) baik responden yang berusia >30-40 tahun. Responden jenis sebelum maupun sesudah sosialisasi, dibandingkan dengan kelamin perempuan memiliki tingkat pemahaman yang lebih jenis kelamin perempuan . ,2%) sebelum sosialisasi, tinggi daripada responden laki- laki. Responden pendidikan . %) sesudah sosialisasi meningkat . ,8%). pendidikan Diploma i Keperawatan memiliki tingkat pendidikan, hasil menunjukkan bahwa nilai tertinggi diperoleh S1 Keperawatan . %) baik sebelum maupun responden yang memiliki latar belakang pendidikan Sarjana sesudah sosialisasi, dibandingkan dengan (S. Keperawatan. Di Tingkat pemahaman perawat terkait Society 5. dalam kesehatan menurut usia responden berusia >30-40 Perawat terkait Manfaat Society 5. 0 dalam Kinerja Perawat tahun memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi berdasarkan usia, hasil menunjukkan bahwa usia 22-30 tahun dibandingkan dengan responden yang berusia 22-30 tahun. maupun usia >30-40 tahun nilai pemahaman tetap pada Responden jenis kelamin perempuan memiliki tingkat . %) pemahaman yang lebih tinggi daripada responden laki- laki. berdasarkan jenis kelamin hasil menunjukkan bahwa Responden pendidikan pendidikan Diploma i Keperawatan perempuan maupun laki-laki nilai pemahaman tetap pada memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi dibandingkan . %) dengan responden yang memiliki latar belakang pendidikan . %) . ,8%) sosialisasi meningkat . ,2%). Tingkat Pemahaman Keperawatan berdasarkan jenis pendidikan, hasil menunjukkan Sarjana (S. Keperawatan. bahwa Di Keperawatan maupun S1 Keperawatan nilai Tingkat pemahaman perawat terkait Society 5. pemahaman tetap pada . %) baik sebelum maupun dalam kinerja perawat menurut usia responden berusia >30- sesudah sosialisasi. 40 tahun memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi Analisis Hasil Tingkat pemahaman perawat sebelum dibandingkan dengan responden yang berusia 22-30 tahun. Volume 11. Nomor 2. April 25 Ae September 25 ISSN: 2442-501x | E-ISSN: 2541-2892 Responden laki-laki sudah tinggi sebelum sosialisasi dilakukan. Responden pendidikan pendidikan Sarjana (S. Keperawatan memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi Referensi