Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) https://ejournal. id/index. php/aijis HAKIKAT. SUMBER. DAN KLASIFIKASI PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT DAN ISLAM Fristika Maulida Aminatuz Zuhria*1. Mohammad Nuril Barqul Fuadi2. Muhammad Alif Firdzan Zazuli3 123 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Keywords: Epistemology. Philosophy. Islamic Thought. Knowledge Classification. Integration of Science. Abstract This study aims to examine the nature, sources, and classification of knowledge from the perspectives of Western philosophy and Islamic Using a descriptive qualitative approach through the method of library research, data were collected from relevant primary and secondary literature. The analysis was conducted using historical and thematic approaches by examining philosophical texts as well as classical and contemporary Islamic literature. The findings show that Western philosophy classifies knowledge based on its origins namely empirical . ased on experienc. , rational . ased on reaso. , and intuitive . ased on intuitio. and distinguishes between a priori knowledge . rior to experienc. and a posteriori knowledge . erived from experienc. Meanwhile. Islamic epistemology regards revelation, reason, and the senses as complementary sources of knowledge that do not contradict one another. Knowledge in Islam is also classified hierarchically, such as Aoilm al-yaqn . nowledge through reliable informatio. Aoayn al-yaqn . nowledge through direct observatio. , and haqq al-yaqn . rue and certain knowledg. Furthermore, knowledge in Islam is differentiated into naqliyah and aqliyah sciences, fardhu Aoain and fardhu kifayah obligations, as well as worldly and otherworldly knowledge. Comparatively. Western epistemology tends to be secular and separates the spiritual dimension from the sources of knowledge, whereas Islam integrates the divine dimension throughout the entire epistemic process. Thus, the Islamic paradigm of knowledge is holistic and transcendental, in contrast to the Western approach, which tends to be dualistic and fragmentary. These findings highlight that in Islam, knowledge is not only a means of understanding reality but also a path toward closeness to God and the construction of a meaningful life. This study emphasizes the importance of an integrative approach in understanding and developing knowledge, particularly in addressing the entrenched dichotomy of sciences in contemporary education. In this context. Islamic thought and Western philosophy can, in fact, enrich one another. Although Western epistemology tends to emphasize the rational and empirical aspects Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) while detaching them from the spiritual dimension, the systematic and analytical methods developed in Western traditions can complement the Islamic worldview, which is both transcendental and ethical. critically and selectively linking the two, it becomes possible to construct a more holistic framework of knowledge one that is not only focused on technical advancement but also spiritually and ethically meaningful for humanity. Kata kunci: Epistemologi. Filsafat. Islam. Sumber Pengetahuan. Integrasi Ilmu. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hakikat, sumber, dan klasifikasi pengetahuan dari perspektif filsafat Barat dan pemikiran Islam. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui metode studi kepustakaan, data dikumpulkan dari literatur primer dan sekunder yang relevan. Analisis dilakukan melalui pendekatan historis dan tematik dengan menelaah teks-teks filosofis serta literatur Islam klasik dan kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat Barat mengklasifikasikan pengetahuan berdasarkan asalusulnya, yaitu empiris . erbasis pengalama. , rasional . erbasis aka. , dan intuitif . erbasis intuis. , serta membedakan antara pengetahuan a priori . ebelum pengalama. dan a posteriori . etelah Sementara itu, epistemologi Islam memandang wahyu, akal, dan indra sebagai sumber pengetahuan yang saling melengkapi dan tidak saling menegasikan. Islam juga mengklasifikasikan pengetahuan secara hierarkis, seperti Aoilm al-yaqn . engetahuan melalui informasi yang sahi. Aoayn al-yaqn . engetahuan melalui penglihatan langsun. , dan haqq al-yaqn . engetahuan yang bersifat hakiki dan meyakinka. Selain itu, pengetahuan dalam Islam dibedakan menjadi ilmu naqliyah dan aqliyah, fardhu Aoain dan fardhu kifayah, serta ilmu duniawi dan ukhrawi. Jika dibandingkan secara komparatif, epistemologi Barat cenderung bersifat sekuler dan memisahkan dimensi spiritual dari sumber pengetahuan, sedangkan Islam mengintegrasikan dimensi ilahiyah dalam keseluruhan proses Dengan demikian, paradigma pengetahuan dalam Islam bersifat holistik dan transendental, berbeda dari pendekatan Barat yang cenderung dualistik dan fragmentaris. Temuan ini menggarisbawahi bahwa dalam Islam, ilmu bukan hanya alat untuk memahami realitas, tetapi juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan membangun kehidupan yang Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan integratif dalam memahami dan mengembangkan ilmu, khususnya dalam menghadapi tantangan dikotomi keilmuan yang masih mengakar dalam dunia pendidikan kontemporer. Dalam konteks ini, pemikiran Islam dan filsafat Barat sebenarnya dapat saling Meskipun epistemologi Barat cenderung menekankan aspek rasional dan empiris secara terpisah dari dimensi spiritual, pendekatan sistematis dan analitis yang dikembangkan dalam tradisi Barat dapat melengkapi wawasan Islam yang bersifat transendental dan etis. Dengan mengaitkan keduanya secara kritis dan selektif, terbuka kemungkinan untuk membentuk kerangka ilmu yang lebih Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) utuh yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknis, tetapi juga bermakna secara spiritual dan etis bagi kemanusiaan. *Penulis Koresponden E-mail: fristikamaulida@gmail. This is an open-access article under the CC-BY-SA license. A 2025 Author. PENDAHULUAN Dalam khazanah keilmuan, perdebatan mengenai hakikat, sumber, dan klasifikasi pengetahuan merupakan isu yang terus berkembang dan menjadi fondasi dalam diskursus Pertanyaan tentang dari mana pengetahuan berasal, bagaimana manusia mengetahuinya, dan bagaimana pengetahuan itu dikategorikan, telah melahirkan berbagai pendekatan dari masa ke masa. Filsafat Barat dan pemikiran Islam, dua tradisi besar dalam sejarah intelektual manusia, memiliki kerangka teoritis yang berbeda namun saling melengkapi dalam menjawab persoalan-persoalan mendasar seputar pengetahuan. (Indarti, 2. Dalam tradisi filsafat Barat, pemikiran tentang sumber pengetahuan berkembang melalui aliran-aliran besar seperti empirisme, rasionalisme, intuisionisme, dan kritik transendental Kantian. Masing-masing menawarkan pendekatan tersendiri terhadap bagaimana manusia memperoleh pengetahuan: apakah melalui pengalaman inderawi, rasionalitas murni, intuisi batiniah, atau gabungan keduanya. Di sisi lain. Islam menawarkan sistem epistemologi yang bersifat integral, memadukan wahyu, akal, dan indra sebagai tiga sumber pengetahuan utama. Pendekatan ini tidak hanya menekankan validitas logis dan empiris, tetapi juga memperhatikan aspek spiritual dan etis sebagai bagian dari proses memperoleh dan mengamalkan pengetahuan. (Vera & A. Hambali. Sejumlah penelitian terdahulu cenderung memisahkan kajian epistemologi Barat dan Islam secara dikotomis, atau hanya membahas salah satu pendekatan secara deskriptif. Hal ini menyebabkan terbatasnya pemahaman yang mendalam mengenai potensi integrasi antartradisi keilmuan tersebut. Di sinilah letak urgensi penelitian ini: mengisi kekosongan dengan menghadirkan kajian komparatif sekaligus integratif yang membandingkan kerangka epistemologis dari dua tradisi tersebut dan menunjukkan titik-titik temu maupun perbedaannya secara sistematis dan aplikatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan secara mendalam hakikat, sumber, dan klasifikasi pengetahuan dalam perspektif filsafat dan Islam, serta Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) menunjukkan bagaimana konsep-konsep tersebut tidak hanya relevan dalam kajian teoritis, tetapi juga dapat berkontribusi dalam pengembangan sistem pendidikan yang lebih holistik dan berakar pada nilai-nilai integratif. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka, artikel ini berupaya mengkaji teks-teks kunci dari kedua tradisi pemikiran, baik klasik maupun kontemporer, untuk memetakan kerangka epistemologi yang dapat membangun pemahaman keilmuan secara utuh. Manfaat dari penelitian ini diharapkan mampu memperkaya literatur epistemologi Islam kontemporer, memberikan kontribusi konseptual bagi dunia pendidikan, serta menjadi rujukan akademik bagi pengembangan paradigma keilmuan yang tidak terjebak dalam dikotomi Barat-Timur atau sekuler-religius. Lebih jauh, artikel ini menawarkan pendekatan integratif yang relevan untuk menjawab tantangan keilmuan abad ke-21 yang menuntut sinergi antara rasionalitas, nilai, dan spiritualitas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. , yang bertujuan untuk menelaah secara mendalam konsepkonsep teoritis mengenai hakikat, sumber, dan klasifikasi pengetahuan dalam perspektif filsafat dan Islam. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan, mengevaluasi, dan menganalisis literatur yang relevan sebagai dasar konseptual dalam merumuskan argumen dan pemahaman ilmiah. Sumber data pokok dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai literatur yang bersifat primer dan sekunder, seperti buku-buku filsafat ilmu, artikel ilmiah, dan jurnal akademik yang mendiskusikan epistemologi baik dalam tradisi pemikiran Barat maupun Islam. Di antara rujukan yang digunakan adalah karya Anshar et al. yang memberikan telaah mendalam tentang hakikat pengetahuan dan metodologi ilmiah, serta tulisan Alfaruki . yang secara filosofis mengurai hakikat ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam beserta implikasinya. Perspektif Islam juga diperkaya melalui kajian yang ditulis oleh Azzahra et al. , yang membahas karakteristik ilmu pengetahuan, termasuk cara pengelompokan dan sarana-sarana keilmuan menurut pandangan Islam. Sementara itu, artikel dari Vera dan Hambali . menjelaskan secara komprehensif kerangka epistemologis Barat melalui aliran rasionalisme dan empirisme, yang menjadi basis perbandingan dengan epistemologi Islam. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Selain itu, pemikiran tentang ilmu dalam konteks pendidikan Islam dianalisis melalui karya Nadya et al. dan Indarti . , yang mengaitkan hakikat ilmu dengan pendekatan tafaqquh f al-dn. Dimensi pendidikan juga didukung oleh tulisan Kurniawan . serta Aniyati dan Umah . ) yang menyoroti implementasi konsep ilmu pengetahuan sosial dalam dunia pendidikan. Aspek integrasi filsafat dan ilmu dikaji melalui literatur seperti yang ditulis oleh Maulidiyah et al. dan Sukma Anggreini et al. , sedangkan dinamika pengetahuan modern dalam kerangka filsafat Islam diulas secara kritis oleh Dhiaulhaq Rahman et al. serta Lasmanah et al. Dengan menyelaraskan semua sumber tersebut melalui pendekatan tematik dan komparatif, penelitian ini membangun pemahaman yang utuh tentang bagaimana integrasi pengetahuan dapat dimaknai secara filosofis dan aplikatif dalam kerangka pemikiran Islam dan Barat. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap utama yang saling berkaitan. Tahap pertama adalah analisis historis, yang digunakan untuk menelusuri latar belakang lahir dan berkembangnya teori-teori epistemologi dalam tradisi filsafat Barat maupun Islam, sehingga dapat dipahami konteks sosial-intelektual yang melatarbelakanginya. Tahap kedua adalah analisis tematik, yang bertujuan mengidentifikasi, mengelompokkan, dan merumuskan isu-isu utama terkait hakikat, sumber, dan klasifikasi pengetahuan dari berbagai sumber literatur, baik klasik maupun kontemporer. Tahap ketiga adalah analisis komparatif, yang difokuskan untuk mengkaji persamaan, perbedaan, serta kemungkinan titik temu antara pendekatan epistemologi Barat dan Islam. Melalui pendekatan ini, integrasi nilai dan metodologi antara keduanya dapat dirumuskan secara lebih tajam, sehingga menghasilkan sintesis pemikiran yang lebih relevan dengan kebutuhan pendidikan dan keilmuan masa kini. Seluruh proses dilakukan secara sistematis dan mendalam, memungkinkan eksplorasi yang komprehensif terhadap pemikiran yang dianalisis, tanpa bergantung pada observasi lapangan atau eksperimen. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Hakikat Pengetahuan Secara etimologis, istilah pengetahuan berasal dari bahasa Inggris knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan diartikan sebagai Aukepercayaan yang benar dan beralasanAy knowledge is justified true belief. Artinya, pengetahuan mencakup unsur keyakinan, kebenaran, dan pembenaran. Sementara itu, dalam Kamus Filsafat, ilmu pengetahuan Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) dijelaskan sebagai proses kesadaran manusia dalam mengenal realitas. Dalam proses ini, subjek yang mengetahui secara aktif membentuk pemahaman tentang objek yang diketahui di dalam dirinya sendiri. (Aniyati & Umah, n. Secara terminologis, beberapa ahli memberikan definisi pengetahuan dari sudut pandang yang berbeda. Drs. Sidi Gazalba, misalnya, menyatakan bahwa pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, sebagai hasil dari aktivitas mengenal, menyadari, memahami, dan berpikir. Pengetahuan mencakup semua hal yang kita ketahui tentang suatu objek, termasuk ilmu yang merupakan bagian khusus dari pengetahuan yang lebih Supratman menambahkan bahwa pengetahuan adalah segala hal yang dapat diketahui manusia melalui proses berpikir, yang melibatkan kesadaran dan keyakinan terhadap objek yang ingin dikenali. Dengan kata lain, pengetahuan merupakan hasil dari interaksi antara subjek yang sadar dan objek yang dikenali. (Aida et al. , 2. Adapun istilah ilmu pengetahuan berasal dari bahasa Inggris science, yang berakar dari kata Latin scientia, bentuk nominal dari kata kerja scire yang berarti AumengetahuiAy atau AumempelajariAy. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah ini mengalami perluasan makna, mencakup seluruh bentuk pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Dalam bahasa Jerman, istilah yang digunakan adalah Wissenschaft. The Liang Gie . mendefinisikan ilmu sebagai suatu rangkaian kegiatan penyelidikan yang bertujuan memahami berbagai aspek dunia secara rasional dan empiris, serta sebagai keseluruhan pengetahuan sistematis yang berusaha menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti. (Sukma Anggreini, et , 2. Dalam kaitannya dengan pengetahuan, konsep kebenaran juga menjadi unsur Kebenaran secara ontologis tidak dapat dipahami sebagai suatu benda konkret, melainkan sebagai sifat atau keadaan. Sifat "benar" ini dapat dikenali melalui entitas atau hal-hal yang memuatnya, sebagaimana sifat "bersih" dapat dikenali pada udara atau ruangan yang bersih, dan sifat "tenang" tampak pada suasana hati atau lingkungan yang Sifat AubenarAy pun tercermin dalam berbagai bentuk hasil pemikiran, seperti pendapat, informasi, berita, atau tindakan yang selaras dengan kenyataan. Secara sederhana, kebenaran adalah kesesuaian antara pemikiran dengan realitas. Suatu pemikiran dianggap benar jika terdapat hubungan yang sesuai antara subjek dan predikat dalam pernyataan tersebut. Misalnya. Auair mendidih pada suhu 100ACAy adalah pernyataan benar karena sesuai dengan fakta. Sebaliknya, jika pemikiran menunjukkan hubungan yang tidak ada atau menafikan hubungan yang sebenarnya ada, maka pemikiran Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) tersebut tergolong salah. Contoh kesalahan seperti: Aumanusia tidak bernapasAy atau Auikan hidup di udaraAy, yang bertentangan dengan realitas yang bisa diverifikasi. (Indarti, 2. Dengan demikian, pengetahuan dapat dipahami sebagai hasil dari proses sadar manusia dalam mengenali dan memahami realitas, yang mencakup unsur kesadaran, hubungan subjek dan objek, sistematika, dan kebenaran. Dalam sejarah keilmuan Islam, banyak tokoh yang memberikan kontribusi besar terhadap pengembangan epistemologi, baik dalam tataran konseptual maupun praktis. Para pemikir Muslim klasik tidak hanya membahas sumber dan klasifikasi pengetahuan secara mendalam, tetapi juga mengaitkannya dengan aspek teologis, etis, dan sosial. Pemikiran mereka menjadi pilar penting dalam membangun paradigma keilmuan Islam yang holistik dan integratif. Al-Ghazali . 8Ae1111 M), salah satu ulama besar dalam tradisi Islam, dikenal dengan konsep yaqn atau keyakinan tingkat tinggi dalam pengetahuan. Dalam karya monumentalnya. IhyaAo AoUlum al-Din dan al-Munqidz min al-Dalal. Al-Ghazali membagi pengetahuan ke dalam tiga kategori utama: pengetahuan inderawi, rasional, dan ilahiah . ahyu/ilha. Ia mengkritik keandalan akal secara mutlak dan menegaskan bahwa kebenaran hakiki hanya dapat dicapai melalui cahaya ilahi . ur ilah. yang diberikan oleh Allah kepada hati manusia. Baginya, pengetahuan sejati adalah yang mengantarkan manusia kepada makrifatullah . engenalan terhadap Alla. Pemikiran ini menunjukkan keterkaitan erat antara epistemologi dan spiritualitas dalam Islam. Ibn Sina . Ae1037 M), seorang filsuf dan dokter ternama, dikenal melalui karyanya al-Shifa dan al-Najah. Ia mengembangkan teori penangkapan intelektual . ntellectual apprehensio. dan taAoaqqul . sebagai proses perolehan pengetahuan. Ibn Sina mengklasifikasikan pengetahuan menjadi dua: pengetahuan teoritis dan pengetahuan Ia juga mengembangkan konsep al-Aoaql al-faAoal . kal akti. sebagai entitas metafisik yang membantu jiwa manusia dalam memperoleh pengetahuan universal. Bagi Ibn Sina, akal manusia merupakan sarana penting untuk memahami realitas, tetapi tetap berada dalam tatanan kosmologi yang lebih tinggi, yang mengaitkan pengetahuan dengan Ibn Rushd . 6Ae1198 M), tokoh rasionalis Islam terbesar, menekankan pentingnya penggunaan akal dalam memahami wahyu. Dalam Tahafut al-Tahafut, ia membela filsafat dari kritik Al-Ghazali dan berargumen bahwa tidak ada pertentangan antara syariat dan filsafat. Menurutnya, akal dan wahyu berasal dari sumber yang samaAi Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) yakni AllahAidan karenanya tidak mungkin saling bertentangan. Ia menegaskan bahwa filsafat adalah jalan untuk memahami syariat secara lebih mendalam, dan para ulama harus menggunakan logika dan metode deduktif dalam menafsirkan ajaran agama. Pandangannya ini memberikan dasar kuat bagi integrasi antara ilmu rasional dan ilmu Al-Farabi . Ae950 M), dikenal sebagai guru kedua setelah Aristoteles, banyak mengembangkan teori tentang klasifikasi ilmu dan hirarki pengetahuan. Dalam pandangannya, pengetahuan tertinggi adalah falsafah ilahiyyah . , yang berkaitan langsung dengan hakikat ketuhanan. Ia membagi ilmu ke dalam dua kategori besar: ilmu teoritis dan ilmu praktis. Ilmu teoritis bertujuan mencapai kebenaran, sedangkan ilmu praktis bertujuan mencapai kebaikan. Dalam sistem pendidikan yang dirancangnya. AlFarabi menempatkan filsafat sebagai ilmu yang menyatukan seluruh cabang pengetahuan lainnya, sehingga membentuk sistem keilmuan yang utuh dan terarah. Tokoh-tokoh ini membuktikan bahwa epistemologi dalam Islam tidak hanya bersifat abstrak, tetapi juga sangat aplikatif dalam membangun tatanan ilmu, pendidikan, dan masyarakat. Mereka berhasil merumuskan kerangka berpikir yang tidak hanya mengandalkan rasio, tetapi juga memperhatikan wahyu, intuisi, dan pengalaman spiritual sebagai bagian integral dari proses pencarian ilmu. Kontribusi mereka tetap relevan hingga kini, terutama dalam upaya membangun sistem pendidikan dan keilmuan yang bebas dari dikotomi serta selaras dengan nilai-nilai transendental. Sumber Pengetahuan Sumber utama dari pengetahuan berasal dari kemampuan berpikir manusia yang mampu mengaitkan antara subjek dan objek. Hasil pemikiran dikatakan benar apabila terdapat kesesuaian antara yang diterangkan . dan yang menerangkan . , dan hubungan tersebut memang ada dalam kenyataan. Sebaliknya, pemikiran dianggap salah jika hubungan yang dipahami antara keduanya tidak sesuai dengan realitas misalnya, ketika seseorang menyimpulkan adanya hubungan padahal kenyataannya tidak ada, atau sebaliknya, menyimpulkan tidak ada hubungan padahal sebenarnya hubungan itu ada. Dengan demikian, sumber pengetahuan tidak hanya berasal dari akal dan pengalaman, tetapi juga melibatkan validasi logis terhadap hubungan-hubungan dalam realitas. (Anshar et al. , 2. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Dalam perspektif Islam, sumber pengetahuan tidak hanya terbatas pada akal dan pengalaman empiris semata, tetapi juga mencakup wahyu sebagai sumber utama dan Setidaknya terdapat tiga sumber pengetahuan utama dalam pandangan Islam, yaitu wahyu . , akal (Aoaq. , dan indra . Wahyu (Naq. Wahyu merupakan pengetahuan yang diturunkan langsung oleh Allah Swt kepada para nabi dan rasul-Nya melalui perantara malaikat Jibril. Wahyu ini termaktub dalam AlQur'an dan hadis. Dalam Islam, wahyu memiliki kedudukan tertinggi sebagai sumber pengetahuan, karena berasal dari Zat Yang Maha Mengetahui . l-AoAl. Al-Qur'an mengandung petunjuk tentang hakikat kehidupan, kebenaran, hukum-hukum, dan prinsip-prinsip moral yang tidak bisa dijangkau hanya oleh akal manusia semata. Oleh karena itu, wahyu menjadi fondasi epistemologi Islam. Akal (AoAq. Akal merupakan instrumen yang diberikan Allah kepada manusia untuk berpikir, merenung, dan menarik kesimpulan. Islam sangat menghargai akal, bahkan banyak ayat Al-QurAoan yang mendorong manusia untuk menggunakan akalnya, seperti dalam QS. AlBaqarah . : 164 a e a e a e a ca e a e ca ca AEI aN aO eE aA e acE eO a e eO AO eE a e aI aO eI aA aA a A aO aI e a eI a aE NA ca a e ca a AEIA AcEE aI aIA a a a a a A O aaE aA EO aE OA a a a AaI aAO E aC EIO a OeEA ca a e a ca a a e a ca a aa ca ca a a e a a e a a e a e e e a ca sn a a e AE aI aA A eE a OIA AE aI a aI eI acI s A e aO a aN eEA a A IO a aN O aA eO aN aII E aE ac s OA aOA a AEO a OEA a a a ea e a A eE O s aE aC eO sI acO e aCE eO aIA a AOeEA Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang bahtera yang berlayar di laut dengan . yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati . , dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, . emua it. sungguh merupakan tanda-tanda . ebesaran Alla. bagi kaum yang mengerti. dan QS. Yunus . : 101. ca a a a eaa e a e e a a a a e a e a ca ca AeE O a aOA AEI a a a eI C eO sI eE aO e aI aI eO aIA A OI aIOA a AC aE IO I aAO EIO a OeEA Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Katakanlah (Nabi Muhamma. AuPerhatikanlah apa saja yang ada di langit dan di bumi!Ay Tidaklah berguna tanda-tanda . ebesaran Alla. dan peringatan-peringatan itu . ntuk menghindarkan azab Alla. dari kaum yang tidak beriman. Namun, dalam epistemologi Islam, akal memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, penggunaannya harus selalu berada dalam koridor wahyu dan tidak boleh menyalahi kebenaran yang telah ditetapkan oleh Allah. Indra Pengamatan melalui pancaindra juga diakui dalam Islam sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Melalui indra, manusia dapat mengamati gejala-gejala alam, mengambil pelajaran . , dan memperkuat keyakinan terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah . yat kauniyya. Al-QurAoan mengajak manusia untuk memperhatikan langit, bumi, binatang, dan tumbuhan sebagai bentuk perenungan terhadap ciptaan Allah (QS. AlGhasyiyah . : 17Ae. e a a a e aa a a a e a e a a ae a a a e a a e a a ae a a a e a a ca a a ae a a a e a A E eOAA a aE aOI a eOI aEOA a AeE a aE EOA aEC OaEO EI a EOA aA OaEO E a aE EOA I aA OaEO eEA a Aa a a eA Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam Islam, pengetahuan diperoleh melalui sinergi antara wahyu, akal, dan indra. Ketiganya membentuk sistem epistemologi yang menyeluruh dan seimbang, di mana wahyu menjadi pemandu, akal sebagai alat analisis, dan indra sebagai media pengamatan. Pendekatan ini menjadikan pengetahuan dalam Islam bersifat holistik, tidak hanya membahas aspek empiris dan rasional, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan transenden. (Kurniawan, 2. Sumber pengetahuan dalam filsafat dipahami melalui beberapa pendekatan utama yang masing-masing memberikan penekanan berbeda terhadap bagaimana pengetahuan Dalam tradisi empirisme, pengetahuan dianggap berasal dari pengalaman Aliran ini berpandangan bahwa manusia sejak lahir merupakan tabula rasa lembaran kosong yang kemudian diisi oleh pengalaman-pengalaman melalui pancaindra. Tokoh seperti John Locke menekankan bahwa semua ide dan konsep dalam pikiran berasal dari hasil pengamatan terhadap dunia luar, sementara David Hume mengembangkan pandangan lebih skeptis dengan menolak kepastian kausalitas, karena menurutnya hubungan sebab-akibat hanyalah kebiasaan mental yang terbentuk dari pengalaman berulang. (Azzahra et al. , 2. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Berlawanan dengan empirisme, rasionalisme menegaskan bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal atau rasio. Aliran ini meyakini bahwa ada kebenaran-kebenaran tertentu yang dapat diketahui tanpa melalui pengalaman, melainkan dengan penalaran logis dan deduktif. Reny Descartes menjadi salah satu tokoh sentral rasionalisme dengan ungkapannya Cogito, ergo sum Auaku berpikir, maka aku adaAy yang menegaskan bahwa eksistensi manusia dan pengetahuan sejati ditemukan melalui aktivitas berpikir. Rasionalisme juga mengakui adanya ide bawaan . nnate idea. yang tidak berasal dari pengalaman, seperti konsep bilangan, logika, dan Tuhan. (Anshar et al. , 2. Sementara itu, intuisionisme memandang bahwa pengetahuan sejati dapat diperoleh secara langsung melalui intuisi batiniah, bukan dari akal atau pengalaman Henri Bergson, salah satu tokoh penting dalam aliran ini, membedakan antara pengetahuan analitik yang dihasilkan oleh intelek dan pengetahuan intuitif yang dihasilkan oleh intuisi sebagai kemampuan mengenali hakikat sesuatu secara langsung dan Intuisi dipandang lebih dalam dan lebih esensial daripada sekadar pengetahuan rasional karena mampu menangkap realitas secara utuh dan tidak terbatas pada bentuk-bentuk logis. Sebagai jalan tengah dari perdebatan antara empirisme dan rasionalisme. Immanuel Kant memperkenalkan pendekatan kritis yang dikenal sebagai kritik Menurut Kant, pengetahuan adalah hasil perpaduan antara bahan mentah yang berasal dari pengalaman dan struktur apriori dari akal budi manusia. Dalam pandangan ini, indra memberikan data empiris, tetapi akal memberikan bentuk dan struktur melalui kategori-kategori seperti ruang, waktu, dan kausalitas. Pengetahuan bukan sekadar hasil tangkapan pasif terhadap dunia luar, tetapi merupakan konstruksi aktif dari subjek yang mengetahui. Dengan demikian, manusia tidak dapat mengetahui Aubenda pada dirinya sendiriAy . as Ding an sic. , melainkan hanya sebatas fenomena yang telah diproses melalui struktur kognitif yang dimilikinya. (Vera & A. Hambali, 2. Keempat pendekatan tersebut empirisme, rasionalisme, intuisionisme, dan kritik Kantian memberikan pemahaman mendalam dan beragam tentang bagaimana manusia memperoleh pengetahuan, dan masing-masing memiliki kontribusi yang signifikan dalam perkembangan epistemologi dan metode ilmiah hingga masa kini. Selain itu, konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan tidak semata-mata ditemukan melalui pengamatan objektif, tetapi dibentuk secara aktif oleh individu atau kelompok melalui pengalaman dan interaksi sosial. Oleh karena itu, pendekatan ini menekankan pentingnya Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) memperhatikan konteks sosial, budaya, dan latar belakang kognitif dalam proses pencarian dan pembentukan pengetahuan. Dalam pendekatan ini, realitas bukan sesuatu yang berdiri sendiri secara mutlak, melainkan dipahami dan dikonstruksi berdasarkan pengalaman subjektif individu maupun kelompok. Di samping itu, dalam proses validasi pengetahuan, dikenal pula dua pendekatan penting, yakni falsifikasi dan konfirmasi. Falsifikasi, sebagaimana dijelaskan oleh Karl Popper, menyatakan bahwa suatu teori ilmiah dianggap valid jika dapat diuji dan memungkinkan untuk dibuktikan salah. Pendekatan ini mendorong pengembangan teori yang tahan terhadap pengujian kritis. Sebaliknya, pendekatan konfirmasi yang dikembangkan oleh Imre Lakatos menekankan bahwa sebuah teori akan semakin kuat jika didukung oleh bukti-bukti yang konsisten dan memperkuat klaim kebenarannya. Kedua pendekatan ini melengkapi kerangka epistemologi ilmiah, karena sama-sama bertujuan menguji dan mengukuhkan keabsahan suatu pengetahuan secara sistematis. Dengan demikian, berbagai pandangan filsafat mengenai sumber pengetahuan baik melalui pengalaman inderawi, rasio, intuisi, menunjukkan bahwa pengetahuan tidak bersumber dari satu jalur tunggal. Setiap pendekatan memiliki kekuatan dan keterbatasannya masing-masing dalam menjelaskan bagaimana manusia mengenal realitas. Oleh karena itu, pemahaman yang utuh terhadap pengetahuan menuntut keterbukaan terhadap keberagaman pendekatan tersebut, agar kita mampu menghargai kompleksitas proses manusia dalam mencapai kebenaran. (Dhiaulhaq Rahman et al. , 2. Dalam konteks ini, setelah memahami berbagai pendekatan terhadap sumber pengetahuan, penting juga untuk menelaah bagaimana pengetahuan dibedakan dari konsep lain yang sering kali dianggap serupa, seperti keyakinan dan opini. Pengetahuan sering kali disamakan dengan keyakinan atau opini, namun sesungguhnya ketiganya memiliki perbedaan mendasar. Opini dan keyakinan sering kali bersifat spekulatif dan tidak stabil karena kurangnya kepastian. Sebaliknya, pengetahuan menuntut dasar yang kuat, yakni adanya bukti yang sahih dan meyakinkan. Untuk dianggap sebagai pengetahuan, sebuah klaim harus merujuk pada sesuatu yang benar-benar ada. Misalnya, seorang guru yang mengajarkan tentang hewan harus merujuk pada makhluk nyata seperti gajah, harimau, dan kambing, bukan makhluk fiktif seperti unicorn. Artinya, sesuatu yang tidak eksis tidak dapat dijadikan objek pengetahuan. Keberadaan . menjadi syarat penting dalam pengetahuan, sebab sesuatu yang benar-benar ada tidak mungkin bertentangan dengan dirinya sendiri. Oleh karena Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) itu, pengetahuan haruslah konsisten dan tidak saling kontradiktif. Aspek lainnya adalah kebenaran, yang menjadi ciri utama pengetahuan. Apa pun yang bertentangan dengan kebenaran tidak dapat disebut sebagai pengetahuan karena sifat dasar pengetahuan adalah keandalan dan kepastian. Selain itu, menurut Bamisai, pengetahuan juga harus memiliki nilai kegunaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta memiliki potensi untuk melahirkan pengetahuan baru. Dalam kerangka epistemologi klasik, pengetahuan setidaknya harus memenuhi tiga komponen utama, yaitu: kebenaran . , kepercayaan . , dan pembenaran . Pertama, suatu proposisi hanya bisa disebut pengetahuan jika proposisi tersebut benar secara objektif. Tidaklah rasional menyatakan mengetahui sesuatu yang tidak benar. Misalnya, tidak dapat dikatakan seseorang mengetahui bahwa alien ada jika kenyataannya belum terbukti. Kedua, subjek yang mengklaim memiliki pengetahuan harus mempercayai kebenaran proposisi tersebut. Mengatakan "saya tahu, tetapi saya tidak percaya" adalah bentuk kontradiksi logis. Ketiga, pembenaran menjadi elemen penting yang menunjukkan bahwa suatu kepercayaan terhadap proposisi tersebut memiliki dasar yang kuat. Persyaratan pembenaran ini menjadi perdebatan dalam epistemologi modern. Sebagian aliran, seperti evidensialisme, berpandangan bahwa keyakinan hanya bisa dibenarkan jika didukung oleh bukti yang memadai. Semakin konsisten bukti yang dimiliki seseorang terhadap proposisi yang diyakini, maka semakin besar justifikasi epistemologis terhadap keyakinan tersebut. Misalnya, bila seseorang meyakini prinsip moral Aucintailah sesamamu seperti dirimu sendiriAy dan membuktikan keyakinan itu melalui tindakannya, maka keyakinan tersebut menjadi dapat dibenarkan. Namun, terdapat pula pandangan yang berbeda, seperti reliabilisme, yang menekankan pentingnya proses kognitif yang dapat dipercaya dalam menghasilkan kebenaran, meski tanpa pembenaran eksplisit. Aliran infalibilisme bahkan menegaskan bahwa pembenaran suatu keyakinan harus bersifat absolut dan tidak mungkin salah. Sementara itu, eksternalisme menilai bahwa sumber pembenaran dapat berasal dari faktor eksternal, seperti lingkungan atau kondisi di luar subjek yang mengetahui. Di sisi lain, internalisme berpandangan bahwa seluruh elemen pembentuk pengetahuan harus berasal dari dalam diri individu yang Aliran-aliran seperti transendentalisme dan fenomenologi transendental memperluas pandangan tentang sumber pengetahuan. Jika positivisme menekankan pada fakta objektif yang bebas dari pengaruh subjek, maka fenomenologi memandang bahwa Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) pengetahuan lahir dari kesadaran subjek atas dunia. Bagi transendentalisme, makna dunia dan eksistensi ditentukan oleh refleksi subyektif dan pengalaman batin, bukan hanya oleh bukti empiris semata. Refleksi inilah yang memunculkan makna dan membentuk kenyataan sebagai fenomena yang tampak dalam kesadaran. Klasifikasi Pengetahuan Klasifikasi pengetahuan dapat ditinjau dari dua perspektif utama, yaitu pandangan filsuf Barat dan pemikiran dalam tradisi Islam. Keduanya memberikan sudut pandang yang kaya dalam memahami jenis-jenis pengetahuan berdasarkan sumber, cara perolehan, dan fungsinya dalam kehidupan manusia. (Maulidiyah et al. , 2. Dalam tradisi filsafat Barat, pengetahuan pertama-tama diklasifikasikan menjadi pengetahuan a posteriori dan a Pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan yang diperoleh setelah adanya artinya, manusia membutuhkan data empiris atau pengamatan inderawi terlebih dahulu untuk sampai pada pemahaman. Contohnya adalah pengetahuan bahwa air mendidih pada suhu 100 derajat Celsius. Sebaliknya, pengetahuan a priori tidak memerlukan pengalaman untuk memastikannya. Ia diperoleh melalui rasio dan bersifat logis atau intuitif, seperti dalam pernyataan Ausetiap bilangan genap dapat dibagi duaAy. Selain itu, pengetahuan dalam filsafat juga dibedakan berdasarkan cara manusia mengaksesnya, yaitu melalui indra, rasio, dan intuisi. Pengetahuan indrawi merupakan hasil dari interaksi manusia dengan dunia luar melalui pancaindra. Sementara pengetahuan rasional melibatkan proses berpikir, argumentasi, dan logika untuk sampai pada Adapun pengetahuan intuitif adalah jenis pengetahuan yang diperoleh secara langsung tanpa proses berpikir rasional atau pengalaman empiris, melainkan melalui semacam Aopenglihatan batinAo yang spontan dan mendalam. Dalam perspektif Islam, klasifikasi pengetahuan memiliki dimensi spiritual dan moral yang lebih kuat. Salah satu pembagian penting adalah Aoilm al-yaqn. Aoain al-yaqn, dan uaqq al-yaqn. AoIlm al-yaqn adalah pengetahuan yang bersifat teoritis atau berdasarkan informasi. Misalnya, seseorang tahu bahwa api itu panas karena diberi tahu. AoAin al-yaqn adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan langsungAiorang melihat api dan mengamati panasnya. Sedangkan uaqq al-yaqn adalah pengetahuan yang lahir dari pengalaman langsung dan mendalam seseorang yang benar-benar merasakan panasnya api secara nyata. Tiga tingkat ini menggambarkan kedalaman dan kekuatan keyakinan terhadap suatu kebenaran. Selanjutnya. Islam juga membagi pengetahuan ke dalam ilmu naqliyah dan ilmu aqliyah. Ilmu naqliyah adalah ilmu-ilmu yang bersumber dari wahyu atau teks suci Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) seperti Al-QurAoan dan Hadis, seperti ilmu tafsir, fikih, dan akidah. Sedangkan ilmu aqliyah bersumber dari akal dan pemikiran manusia, seperti matematika, logika, dan ilmu alam. Meskipun berbeda sumber, keduanya dipandang saling melengkapi dalam Islam, karena akal dipakai untuk memahami wahyu secara benar. Dari segi kewajiban mempelajarinya. Islam mengelompokkan pengetahuan menjadi fardhu Aoain dan fardhu kifayah. Fardhu Aoain adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu muslim, seperti ilmu tentang akidah, ibadah, dan akhlak. Sedangkan fardhu kifayah adalah ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian umat saja, seperti ilmu kedokteran, pertanian, atau teknologi. jika sebagian sudah menguasainya, maka gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Terakhir. Islam juga mengenal klasifikasi ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi. Ilmu duniawi adalah ilmu yang berkaitan dengan kehidupan di dunia, seperti ilmu ekonomi, teknik, atau sosiologi, sedangkan ilmu ukhrawi adalah ilmu yang menunjang keselamatan dan kebahagiaan di akhirat, seperti ilmu akhlak dan ilmu-ilmu syariat. Namun, pembagian ini bukan berarti keduanya bertentangan. Dalam Islam, selama niatnya benar dan bermanfaat, maka ilmu duniawi pun dapat bernilai ibadah dan berkontribusi pada kehidupan ukhrawi. Dengan memahami berbagai klasifikasi pengetahuan ini, kita tidak hanya memahami bagaimana pengetahuan didefinisikan dan diperoleh, tetapi juga menyadari nilai, peran, dan tanggung jawab moral yang menyertainya, baik dalam tataran praktis maupun spiritual. (Ridwan et al. , 2. Klasifikasi pengetahuan dan filsafat pendidikan memiliki keterkaitan yang erat dalam membentuk dasar teoritis dan praktis bagi dunia pendidikan. Klasifikasi pengetahuan, yang mencakup beragam sumber dan cara memperoleh pengetahuan seperti empirisme, rasionalisme, intuisionisme, hingga konstruktivisme, memberikan fondasi epistemologis bagi berbagai pendekatan dalam pendidikan. Filsafat pendidikan kemudian mengambil inspirasi dari klasifikasi ini untuk merancang sistem pembelajaran yang sesuai dengan cara manusia memperoleh dan memaknai pengetahuan. Melalui pendekatan filsafat, pengetahuan tidak hanya dipahami dari sisi kognitif, tetapi juga dibingkai dalam nilai-nilai moral, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap berbagai bentuk pengetahuan menjadi sangat penting dalam menentukan tujuan, metode, dan orientasi pendidikan yang efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Filsafat pendidikan memainkan peran fundamental dalam membentuk kerangka berpikir dan dasar moral dalam dunia pendidikan modern. Melalui filsafat, dapat dipahami secara mendalam tujuan, nilai, dan prinsip yang melandasi proses pendidikan. John Dewey, salah satu tokoh terkemuka dalam bidang ini, menyatakan bahwa filsafat Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) pendidikan bertujuan membentuk kemampuan dasar manusia, baik dari sisi intelektual maupun emosional, guna mengarahkan perkembangan karakter dan tabiat manusia. Berbagai aliran filsafat pendidikan telah memberikan kontribusi besar terhadap teori dan praktik pendidikan, seperti progresivisme, rekonstruksionisme, liberalisme, dan kritisisme. Progresivisme, sebagai salah satu aliran yang paling berpengaruh, menekankan kebebasan dan kemandirian peserta didik. Dalam pandangan ini, anak didik dilihat sebagai individu yang memiliki potensi alami yang harus dikembangkan tanpa hambatan struktural yang mengekang. John Dewey memandang pendidikan sebagai proses sosial yang membentuk individu melalui pengalaman langsung di lingkungan mereka. Sejalan dengan itu. Yunus . menguraikan lima prinsip dasar progresivisme: . kurikulum harus berbasis pengalaman edukatif yang nyata. guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan eksplorasi ilmiah siswa. peserta didik diberi ruang untuk berkembang sesuai bakat dan minat. lingkungan dipandang sebagai komponen penting dalam mendukung proses belajar. metode pembelajaran lebih diutamakan daripada sekadar penguasaan materi. Pendekatan ini menciptakan model pendidikan yang dinamis dan relevan dengan kebutuhan zaman. Rekonstruksionisme hadir sebagai respons terhadap ketimpangan dan kerusakan sosial-moral yang terjadi di masyarakat. Aliran ini menolak pandangan konservatif yang mempertahankan status quo, dan justru mendorong rekonstruksi sosial demi menciptakan tatanan yang lebih adil, demokratis, dan emansipatoris. Rekonstruksionisme melihat pendidikan sebagai sarana perubahan sosial dan pembebasan individu dari bentuk ketidakadilan struktural. Menurut Moh dan Chaer . , pendekatan ini turut memperkuat pemikiran demokratis siswa dan mendorong pengembangan potensi diri dalam konteks sosial yang lebih luas, termasuk kemampuan guru dalam mengelola kelas secara efektif dan demokratis. Liberalisme, sebagai aliran yang menekankan kebebasan individu dan hak asasi manusia, melihat pendidikan sebagai media untuk menumbuhkan otonomi dan kesadaran Ahida . menegaskan bahwa individu yang otonom adalah mereka yang mampu bertindak sesuai keyakinannya tanpa ketergantungan pada pihak luar. Namun. Choiri . memberikan catatan kritis bahwa dalam praktiknya, pendidikan liberal sering kali digunakan untuk mendukung agenda pembangunan kapitalistik tanpa refleksi mendalam terhadap nilai-nilai ideologis yang mendasarinya. Hal ini menimbulkan tantangan serius Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) bagi pendidikan untuk tetap berpijak pada nilai kemanusiaan, bukan sekadar kepentingan Kritisisme menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan analitis bagi peserta didik. Aliran ini bertujuan membebaskan individu dari keterbatasan struktural dan tekanan lingkungan yang membatasi kebebasan berpikir. Menurut Choiri . , pendidikan kritis memungkinkan transformasi kehidupan melalui kesadaran terhadap struktur kekuasaan dan ketimpangan sosial. Dengan pendekatan ini, peserta didik didorong untuk mempertanyakan realitas dan mengambil peran aktif dalam perubahan Sejalan dengan keempat aliran tersebut, landasan etika dalam pendidikan juga menjadi aspek penting dalam pembentukan pengetahuan. Etika pendidikan bertujuan membentuk individu yang memiliki integritas moral, tanggung jawab sosial, dan kemampuan berpikir reflektif. Dalam konteks pendidikan kontemporer, nilai-nilai etis menjadi fondasi dalam membangun karakter, menciptakan lingkungan belajar yang sehat, dan memastikan kebijakan pendidikan berjalan sesuai prinsip keadilan dan kemanusiaan. Integrasi Ilmu dalam Pandangan Islam Islam memandang ilmu secara menyeluruh . , tidak membatasi pengetahuan pada dimensi duniawi semata, melainkan mencakup aspek ukhrawi yang bersifat transenden. Dalam Al-QurAoan dan hadis, ilmu tidak dikotakkan secara dikotomis, melainkan diposisikan sebagai sarana untuk mengenal Allah, memahami ciptaan-Nya, serta membentuk kehidupan yang bermakna di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, dalam tradisi keilmuan Islam klasik, tidak dikenal pemisahan tajam antara ilmu agama dan ilmu umum, karena semua pengetahuan yang bermanfaat dan membawa kepada kemaslahatan dinilai sebagai bagian dari ibadah. (Alfaruki, 2. Konsep integrasi ilmu ini menegaskan bahwa pengetahuan dalam Islam tidak hanya diukur dari aspek fungsional dan praktisnya, tetapi juga dari orientasi dan tujuannya. Ilmu yang mendorong manusia untuk semakin dekat kepada Allah, meningkatkan kualitas ibadah, dan mendorong etika dalam kehidupan sosial dianggap sebagai ilmu yang hakiki. Misalnya, pengetahuan tentang kedokteran, pertanian, atau teknik, selama diniatkan untuk memberi manfaat dan dikerjakan dalam kerangka nilai-nilai Islam, maka ia memiliki nilai ibadah yang tinggi. Integrasi ini menuntut adanya kesadaran bahwa ilmu duniawi dan ukhrawi bukan dua hal yang terpisah, tetapi satu kesatuan yang harus diarahkan pada penghambaan kepada Allah. (Lasmanah et al. , 2. Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Salah satu kritik utama Islam terhadap perkembangan ilmu modern adalah munculnya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Dikotomi ini lahir dari pengaruh sekularisasi pemikiran Barat yang memisahkan antara urusan dunia dan akhirat, antara rasionalitas dan spiritualitas. Dalam konteks dunia Islam, pemisahan ini berdampak serius terhadap kurikulum pendidikan dan struktur keilmuan, di mana ilmu-ilmu keislaman dianggap terpisah dari ilmu pengetahuan modern, padahal dalam sejarahnya, ulama-ulama Muslim klasik seperti Ibn Sina. Al-Farabi, dan Al-Ghazali justru mengintegrasikan filsafat, ilmu alam, dan teologi dalam satu kerangka epistemologi yang utuh. Akibat dari dikotomi ini, ilmu sering kali kehilangan dimensi etikanya dan hanya mengejar aspek teknis tanpa mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. (Nadya et al. , 2. Oleh karena itu. Islam menekankan pentingnya etika ilmu sebagai fondasi utama dalam proses mencari, mengembangkan, dan mengamalkan pengetahuan. Ilmu yang tidak disertai akhlak dapat menjadi alat kerusakan, bukan kemaslahatan. Nabi Muhammad saw. dalam doanya memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat, sebagaimana disebutkan dalam hadis: "Allahumma inni a'udzubika min Aoilmin la yanfaAo. " (HR. Musli. Doa ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar adalah ilmu yang membawa manfaat nyata dan tidak sekadar memperluas wawasan tanpa arah. Dalam Islam, etika ilmu mencakup kejujuran ilmiah, kesadaran akan tanggung jawab sosial, serta niat ikhlas dalam pengabdian kepada umat dan penciptanya. Tujuan akhir ilmu dalam pandangan Islam adalah untuk membentuk manusia yang beriman, berakal, dan berakhlak. Ilmu tidak hanya bertujuan untuk menguasai alam, tetapi untuk membimbing manusia agar dapat hidup selaras dengan nilai-nilai ilahiyah. Karena itu, integrasi ilmu dalam Islam menuntut keterpaduan antara logika, etika, dan spiritualitas dalam setiap proses keilmuan, baik dalam pendidikan, penelitian, maupun penerapannya dalam kehidupan nyata. KESIMPULAN Integrasi keilmuan antara perspektif filsafat dan Islam bukan sekadar pilihan metodologis, melainkan kebutuhan mendasar dalam merumuskan sistem pendidikan dan peradaban yang utuh. Klasifikasi pengetahuan yang disandarkan pada keseimbangan antara akal, wahyu, dan pengalaman empirik memberikan arah baru bagi pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan intelektualitas, tetapi juga menumbuhkan dimensi moral, spiritual, dan sosial. Dalam konteks ini, pendidikan ideal adalah yang mampu membentuk manusia sebagai subjek yang berpikir kritis, bertindak etis, dan menyadari tanggung jawab Al-IqroAo: Journal of Islamic Studies Vol. No. Juli 2025. DOI: 10. 54622/aijis. ISSN 3032-3436 (E) ISSN 3031-3732 (P) Pendekatan integratif ini sekaligus menjadi jembatan untuk mengatasi dikotomi lama antara ilmu duniawi dan ukhrawi, serta menawarkan kerangka epistemologis yang menyatukan antara rasionalitas modern dan nilai-nilai keimanan. Maka, pengembangan ilmu pengetahuan ke depan harus diarahkan untuk menjadi jalan menuju kebijaksanaan dan kebermaknaan hidup, bukan sekadar akumulasi informasi atau kekuasaan teknologis. REFERENSI