Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. Artikel Masuk: 31 Oktober 2019 | Artikel Diterima: 31 Desember 2019 Tantangan menggerakkan pemuda Ari Kamayanti Politeknik Negeri Malang. Jl. Soekarno Hatta Malang. Indonesia, 65144 kamayanti@polinema. *surel korespondensi: ari. kamayanti@polinema. Abstrak Artikel ini merupakan sebuah catatan tentang usaha menggerakkan pemuda, khususnya aktivis, di era milenial. Pendekatan refleksif-retrospektif-naratif digunakan untuk menelaah aktivisme kaum muda. Interaksi grup WA dan diskusidiskusi intensif dengan para aktivis menjadi bahan baku telaah. Pencarian jati diri pemuda yang bersifat superfisial sebagai akibat hilangnya jangkar kebudayaan dan kuatnya cengkaraman individualisme dan materialisme merupakan tantangan terbesar untuk menanamkan nilai dan tujuan ideologis bangsa. Minoritas kreatif dapat terbentuk saat kesamaan visi dicapai melalui pembagkitan kesadaran kemandirian . dan konsolidasi aksi untuk hijrah. Kata Kunci: Pemuda Milenial. Minoritas Kreatif. Aktivis. Zelfbestuur Abstract This article is a record of efforts to mobilize youth, especially activists, in the millennial era. The reflexive-retrospective-narrative approach is used to examine youth activism. Interaction with activists via WA group as well as intense discussions became the materials of analysis. The search for a superficial identity as a result of the loss of the cultural anchor and individualism as well as materialism entrapment is the biggest challenge when one wants to instill the nation's ideological values and goals to the youth. Creative minorities can be formed when the common vision is achieved through consciousness awakening . and action consolidation for Keywords: Millenial Youth. Creative Minorities. Activist. Zelfbestuur AuBagaimana engkau memimpikan Indonesia 20 tahun yang akan datang?Ay AuApa peranmu dalam membentuk Indonesia idealmu 20 tahun yang akan datang?Ay Pertanyaan-pertanyaan ini, jika terlontar pada sebagian besar pemuda, akan mendapatkan jawaban sunyi. Setidaknya ini yang saya alami di kelas- This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Tantangan menggerakkan pemuda Kamayanti. kelas di berbagai macam jenis kampus . aik negeri maupun swast. yang berisi pemuda berusia 18-23 tahun. Jika pertanyaan berputar pada diri pemuda: AuApa yang kau impikan tentang dirimu 20 tahun mendatang?Ay, jawabannya relatif cukup cepat didapat. Jawabannya berkutat pada kesuksesan karir, perolehan harta, dan keluarga yang bahagia. Tentu bagi saya hal ini cukup mengerikan karena apa jadinya jika pemuda tidak memiliki mimpi tentang kejayaan bangsanya? Siapa yang harusnya disalahkan atas AumelempemnyaAy pemuda Indonesia? Mengapa pemuda hanya bermimpi tentang kesuksesan diri saja? Seyogyanya mimpi tentang kejayaan sebuah bangsa dimiliki oleh setiap pemuda karena di tangan merekalah negeri ini akan dikelola. Kegalauan tentang ketidakpedulian pemuda memicu terbentuknya Yayasan Rumah Peneleh. Mengambil nama AuRumah PenelehAy sebagai rumah di mana HOS Tjokroaminoto menggembleng para pemikir, salah satunya Soekarno sebagai Auanak ideologisAy beliau, sebuah upaya berkesinambungan sejak 2016 dilakukan untuk menggugah idealisme pemuda. Pemuda-pemuda yang kini bergabung dengan Rumah Peneleh disebut dengan Aktivis Peneleh. Tantangan ini menjadi lebih besar dibandingkan upaya di era 90-an misalnya, karena era milenial semakin menjerumuskan pemuda dalam jeratan modernitas tanpa batas. Informasi melalui internet serta realitas simulakra (Baudrillard, 1. di mana pemuda menghabiskan sebagian besar hidupnya menjadikan realitas nyata semakin sulit tersentuh. Terdapat sebuah keterpisahan pemahaman dunia versi simulakra dengan dunia nyata, apalagi dunia termarjinalkan. Artikel ini adalah sebuah catatan tentang tantangan yang ditemukan saat menggerakkan pemuda Indonesia khususnya Aktivis Peneleh di era Kesuksesan menggerakkan pemuda menjadi sebuah harapan bahwa Indonesia masih memiliki arah selama ada yang peduli dan mengaksikan METODE Pengalaman pribadi menggerakkan Aktivis Peneleh merupakan bahan baku yang kemudian diramu dengan menggunakan pisau refleksivitas. Pengalaman bersifat lampau, sehingga diperlukan upaya mengingat kembali . tantangan yang ditemui dan juga buah manis hasil menggerakkan Aktivis Peneleh. Adapun pengalaman meggerakkan berasal dari hasil pendampingan Sekolah Aktivis Peneleh . ermasuk Pendidikan Dasar Nasional/Diksarna. Relawan Riset Peneleh, dan juga potret interaksi Grup WhatsApp selama periode 2018-2019. Kesemuanya disajikan secara naratif sebagaimana sebuah cerita yang dapat menjadi sebuah pembelajaran baik bagi penggerak pemuda maupun pemuda sendiri. Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. HASIL DAN PEMBAHASAN Bagian ini membahas tentang tantangan yang ditemui di pemuda saat menjadi AupenggerakAy aktivisme. Terdapat dua bagian yang disajikan. Bagian pertama menelaah tentang kesulitan utama yang dihadapi aktivis yang dipotret melalui interaksi WA grup maupun refleksi diskusi dalam sebuah bedah buku. Sebagai bentuk interaksi milenial, foto-foto di instagram aktivis juga Facebook juga dimasukkan dalam telaah. Bagian kedua menyajikan harapan-harapan yang lahir akibat tumbuhnya kesadaran . dan pentingnya kesadaran tersebut untuk diaksikan. Tantangan 1: Individualisme dan Materialisme. Bagaimana menarik minat aktivis untuk masuk dalam gerakan adalah suatu upaya yang cenderung trial and error. Hal ini karena ada rentang era yang tak dapat disangkal antara generasi pengelola Rumah Peneleh yang merupakan aktivis era 80-90an dengan aktivis 2000an. Berbekal niat lillahi taAoala sekolah aktivis nasional Peneleh . tau yang dikenal sebagai pendidikan dasar nasional-diksarna. diawali di tahun 2016. Penarikan minat peserta dilakukan melalui pendekatan materialistis yaitu pemberian beasiswa. Sebanyak 20 orang diberikan beasiswa bulanan selama 6 bulan dengan tugas mengunggah hasil aksi ke youtube. Setiap aktivis berproses untuk mendapatkan beasiswa. Proses ini diulang hingga Diksarnas ke 3 saat jumlah aktivis yang tersedot memuncak sejumlah 99 orang- hingga disebut sebagai angkatan AuAsmaul HusnaAy. Puluhan juta setiap bulan untuk membiayai beasiswa aktivis selama 6 bulan bukanlah hal yang mudah bagi organisasi yang baru saja dibangun dan mengandalkan penjualan buku hasil terbitannya sendiri, namun jumlah ini bukan pula merupakan masalah. Selalu ada rezeki jika niat baik mengawal suatu tindakan. Hal yang menjadi masalah justru sikap utilitarian para Relasi antar aktivis menjadi transaksional. Suatu aksipun menjadi penuh pamrih. Pada diksarnas ke 4 pola beasiswa kemudian diubah agar tidak lagi berfokus pada pencapaian individual untuk mendapatkan materi namun pada kelompok dengan nama bantuan proyek keumatan. Hal ini membuka kesempatan bagi aktivis sebelumnya untuk berkolaborasi dengan aktivis angkatan yang lebih baru. Hal yang sama terjadi. Budaya transaksional masih kental walau tak separah di diksarnas angkatan 1-3. Di sini mulai muncul penyadaran diri pengelola Rumah Peneleh bahwa kekuatan sejati gerakan bukan pada materi namun pada ideologi yang harus didengungkan dan ditanamkan secara lebih masif. Para Aktivis Peneleh dipaparkan dengan pemikiran fenomenal HOS Tjokroaminoto seperti Memeriksai Alam Kebenaran (H. Tjokroaminoto, 2. Wasiat untuk Ummat (H. Tjokroaminoto, 1. , dan pemikiran lainnya. Akhirnya, pola penanaman nilai menjadi tujuan utama gerakan Rumah Peneleh. Gerakan Peneleh bukan menciptakan buih- namun gelombang, yang tidak harus Tantangan menggerakkan pemuda Kamayanti. ekuivalen dengan banyaknya aktivis. Justru dengan cara berpikir seperti ini, kini ribuan aktivis Peneleh dari berbagai jalur telah mendapatkan diri mereka di rumah peneleh tanpa alih-alih beasiswa. Tagline AuPemikir BangsaAy seperti yang tampak pada poster medsos Aktivis Peneleh di Instagram menunjukkan posisi Peneleh di mata pemuda. Tajuk ini bukan tajuk yang dirancang pengelola, namun muncul sendiri dari Aktivis Peneleh. Pada Rumah Peneleh, para pemikir diajak untuk bicara tidak hanya tentang perubahan dan pergerakan namun tentang hijrah. Hijrah memiliki makna meninggalkan hal-hal buruk menjadi lebih baik. Hijrah dengan kemandirian atau zelfbestuur bahkan lebih jauh memiliki makna mengembangkan kreativitas riil untuk perbaikan peradaban. Gambar 1. Aktivis Peneleh Sebagai Pemikir Bangsa Sumber: Instagram Aktivis Peneleh Pusat Tantangan 2: Hilangnya akar nilai atau jangkar kebudayaan. Interaksi dengan Aktivis Peneleh juga dilakukan di dunia maya di mana mereka lebih sering AueksisAy. Sayangnya memang, di balik diskusi yang menggebu, tampak hilangnya pijakan nilai yang mengarah pada pembentukan praktik. Ini yang kemudian menyebabkan pemuda lebih mudah untuk digiring pada tindakan sporadis karena kehilangan akar idealisme. Pemuda lebih mudah melihat realitas praksis dibandingkan mencari nilai apa yang ada di balik praktik Sebuah transkripsi grup WA Aktivis di Januari awal 2019 memunculkan kehilangan identitas nilai ini, saat membahas Ekonomi Konvensional Versus Ekonomi Syariah. Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. Saya Aktivis 1 Saya Aktivis 2 Saya Saya Aktivis 3 Aktivis 4 Saya Saya : AuTransaksi ekonomi baik apabila. ?Ay : AuSurvey juga ke asuransi prudential dimana itu merupakan asuransi konven namun sudah ada sistem syariahnya sama aja masih sepi. Ay : AuIni riak masalah. Kalau belum tahu beda fondasinya akan Ay :. enjawab: Autransaksi ekonomi baik apabilaA?A. Ausaling Ay :. enjawab: Ausaling menguntungkanA. AuIni kebaikan versi liberal. Pancasila atau Islam?Ay : AuIni aja nggak bisa jawab. Artinya makna kebaikan . masih kabur. Ay : AuKalo dari konstruksi hukum tata negara, nilai syariah secara kaffah di semua lini kehidupan Indonesia sulit terlaksana. Karena memang konstruksinya tidak mendukung ke arah sana. Jadi kalo kita hanya nunggu pemerintah mengeluarkan kebijakan yang pro syariah itu sebenernya kebijakan yang kulitnya doang, tanpa menyentuh dari konsep syariah secara Tapi, kalo kita lihat tren-tren masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya ekonomi yang syariah, pergerakan itu bisa lahir dari gerakan masyarakat itu sendiri yang akhirnya membuat sistem-sistem kecil bisa menerapkan syariah dengan konsep menyeluruhnya. Nah peran kita sih, menguatkan hal Karena kalo mau merubah sistem ekonomi Indonesia, cara paling ekstrim adalah ketika kita jadi . presiden, . anggota DPR RI dengan partai mayoritas yang berkuasa. Jadi yang perlu digerakkan itu gerakan akar rumputnya. Kecil kecil kalo banyak dan masif bisa jadi gerakan besar. : AuInilah target anak-anak FOSSEI agar bisa menduduki jabatan Ay : AuNah ini kembali ke diskusi praksis. saya ngajak ke diskusi ontologis kok. Ay :. enjawab: Auinilah target anak-anak FOSSEI agar bisa menduduki jabatan ituA. Duduk di jabatan tapi nggak paham fondasi sama aja duduk di kursi roda yang bergerak ke sana sini tergantung siapa yang dorong. Diskusi menunjukkan bahwa gairah untuk membangun ekonomi syariah besar namun ketidakmampuan menangkap nilai apa yang membedakan ekonomi syariah dari konvensional akhirnya memerangkap diskusi pada tataran praktis semata. Kekuasaan menjadi salah satu faktor penting perubahan, namun apa yang akan dilakukan pemuda kelak jika mereka duduk di kursi kuasa dan tidak tahu hal substansial apa yang perlu Tantangan menggerakkan pemuda Kamayanti. dilakukan? Akan sulit untuk menginisiasi perubahan secara masif jika perubahan ada hanya pada tataran praktis. Sebagai retrospeksi senada, pada 26 Januari 2018. Aktivis Peneleh Regional Kediri mengundang aktivis dan akademisi di Kediri. Jawa Timur, untuk mengikuti agenda Diskusi Kebangsaan dan Bedah Buku Jang Oetama bertema AuKontribusi Pergerakan Intelektual Mahasiswa pada Negeri. Pembumian Pemikiran TjokroaminotoAy. Diskusi mengerucut pada aksi kebaikan komunitas-komunitas yang ada di Kediri, di mana satunya adalah berbagi nasi bungkus bagi tukang becak. Tidaklah salah tentu berbagi kebaikan, namun apakah yang ada di balik kebaikan? Apa akhirnya peran aksi ini kepada strategi kemandirian negara? Kebaikan seharusnya direncanakan dengan matang karena sebuah konstruksi besar. Bukan kebaikan yang bersifat sporadis dan umum. Kegagalan merelasikan nilai pada aksi dan konstruksi negeri menentukan gerakan aktivisme apakah akan bersifat antisipatif atau terstruktur (Mulawarman, 2. Harapan 1: Identitas Nasionalisme Pemuda Indonesia. Sebuah AustatusAy bisa jadi merupakan sebuah penyematan gelar superfisial, namun kebanggaan menjadi AuAktivis PenelehAy dalam gerakan para pemuda menarik untuk Pemuda yang bergabung menjadi Aktivis Peneleh jarang yang tidak berbasis pada gerakan aktivis. Hal ini wajar karena menjadi Aktivis Peneleh kepemudaan/kemahasiswaan. Aktivis Peneleh berasal dari berbagai organisasi kepemudaan baik ekstra maupun intra kampus. Rumah Peneleh menjadi payung bagi para aktivis Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI). Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Latihan Mujtahid Dakwah (LMD), dan lain-lain. Rumah Peneleh tidak sedang AumerampokAy aktivis namun mengobarkan semangat kesatuan agar pemuda lebih mudah melihat kesamaan visi daripada perbedaan yang memunculkan perpecah-belahan. Tidak dapat disangkal, organisasi kemahasiswaan kini lebih sering berkutat pada perebutan kekuasaan di AuRepublik KampusAy seakan mengasah mereka untuk kelak berebut kuasa di level nasional. Apa yang dilakukan setelah berkuasa? Diperkuat dengan berbagai kepentingan pasar, kekuasaan bisa jadi menjauhkan negeri ini dari kepentingan rakyat. Keberadaan Rumah Peneleh sangat diharapkan menjadi api pemersatu para pemuda untuk kepentingan Indonesia. Gerakan pengakuan diri sebagai AuAktivis PenelehAy menjadi sebuah identitas baru pemersatu pemuda pemikir Indonesia. Hal ini dapat ditangkap dari berbagai media sosial maupun media massa daring yang menjadi konsumsi penikmat dunia maya. Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. Gambar 2. Refleksi Identitas Idealisme Pemuda sebagai AuAktivis PenelehAy Sumber: Berbagai medsos dan media daring Harapan 2: Konsolidasi itu mungkin! Palu terkena gempa dan tsunami pada tanggal 28 September 2018. Hal ini bersamaan dengan Diksarnas VII di Jakarta 27-30 September 2018. Sontak semua bergerak. Para aktivis memiliki program bersama yang dijalankan dan memiliki dampak kebersamaan nasional yang tinggi. Rumah Peneleh adalah yang pertama yang tanggap Tantangan menggerakkan pemuda Kamayanti. untuk mengumpulkan donasi. Hingga 2 minggu berikutnya Rumah Peneleh terus menyalurkan bantuan. Bukti nyata penyaluran donasi secara transparan yang disajikan di media sosial secara harian membuat organisasi dipercayai penderma hingga ratusan juta rupiah. Terlepas dari kesedihan yang dialami oleh negara ini akibat bencana, ada suatu titik harapan yang muncul tentang kemampuan para aktivis berkonsolidasi dan bahu-membahu menyelamatkan negeri. Saat kesamaan visi dicapai maka creative minority dapat membuat perbedaan besar dalam Gambar 3. Kloter pertama relawan yang diberangkatkan ke Palu dan aktivitas relawan di Palu Sumber: rumahpeneleh. SIMPULAN Tantangan besar yang dihadapi penggerak pemuda adalah sifat individualisme dan materialism serta tercerabutnya jangkat kebudayaan dari para pemuda. Sebagai penggerak, diperlukan kesabaran dan upaya tiada henti mengubah pola penanaman nilai sesuai karakter pemuda. Nilai tidak dapat dikompromikan, namun cara dan media dapat disesuaikan dengan tren komunikasi era milenial. Harapan bagi Indonesia masih selama ada creative minority beserta penggeraknya yang tak kenal lelah mengobarkan api Selama upaya ini diyakini bukan sebagai beban, namun kewajiban, maka tak mungkin surut langkah untuk melakukan penyadaran zelfbestuur yang diaksikan melalui hijrah dengan melakukan konsolidasi berbagai pihak. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan kezaliman sebagai bentuk keIslaman sejati. (H. Tjokroaminoto, 1. AuTiap-tiap anggauta umat Islam haruslah mengindahkan hadits Rasulullah ClmA dalam mana ada dinjatakan bahwa tjabang terketjil daripada iman ialah menghilangkan rintangan di djalan. Inilah berarti perintah kepada tiaptiap orang muslimin, djanganlah hendaknja membuang kesempatan akan memperbuat kebaikan walau ketjil tampaknjaA Rintangan dalam arti lahir ialah seumpanja batu, duri dan lain-lainA rintangan dalam arti batin ialah Oetoesan Hindia: Telaah Pemikiran Kebangsaan Volume 1 No 2 Tahun 2019 Hlmn. seumpamanja kesusahan-kesusahan dalam kehidupan bermasjarakat politik, penghidupan economie dan lain-lain sebagainjaAy HOS Tjokroaminoto. Pertundjuk Iman dan Keimanan Sedjati (Reglement Umum bagi Ummat Islam, 4 Februari 1. DAFTAR RUJUKAN Baudrillard. Simulacra and Simulation. Michigan: University of Michigan Press. https://doi. org/10. 1017/CBO9781107415324. Mulawarman. 2024: Hijrah untuk Negeri (Indonesia dalam Ayunan Peradaba. Jakarta: Yayasan Rumah Peneleh. Tjokroaminoto. Reglement Umum Ummat Islam. Yogyakarta: Dewan Partai Sjarikat Islam Indonesia. Tjokroaminoto. Memeriksai AoAlam Kebenaran. Jakarta: Yayasan Rumah Peneleh. Tantangan menggerakkan pemuda Kamayanti.