Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOLUME 6 NOMOR 2. SEPTEMBER 2025 https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ ISSN: 2721-5504 DARI SASTRA ANAK KE PENDIDIKAN AKIDAH-AKHLAK: ANALISIS NARATIF TERHADAP NOVEL PETUALANGAN SI BOCAH SOLEH Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha IAI Persis Bandung Email : fayedfauzan@iaipibandung. roninugraha@iaipibandung. Abstract This article examines AuFrom ChildrenAos Literature to Faith-Character Education: A Narrative Analysis of the Novel AoPetualangan Si Bocah SolehAo (Adventures of the Pious Bo. Ay The study aims to analyze how Roni integrates faithcharacter . kidah-akhla. education values into fictional storytelling through narrative and reflective approaches. The findings reveal that the adventure narrative incorporates three theological relations between God and humans: mercy (Creator-Creatio. , monotheism (Worshipper-Worshippe. , and divine justice (Judge-Accountabl. Additionally, through faith-based adventure storytelling, the author articulates the development of noble moral/character valuesAisuch as courage, honesty, responsibility, patience, solidarity . , discipline, and environmental stewardshipAiconveyed contextually through plot dynamics and character conflicts. With its aesthetic and affective approach. Petualangan Si Boleh is positioned as an applicative, inspirational, and transformative medium for faith-character education among elementary school readers. Keywords: Education. Faith-character . kidah-akhla. Moral values. Adventure. Si Boleh. Abstrak Artikel ini mengkaji AuDari Sastra Anak ke Pendidikan Akidah-Akhlak: Analisis Naratif Terhadap Novel Petualangan Si Bocah Soleh. Ay Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Roni mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan akidah-akhlak ke dalam cerita fiksi melalui pendekatan naratif dan reflektif. Hasil kajian menunjukkan bahwa cerita petualangan si Boleh mengintegrasikan tiga relasi teologis Tuhan-manusia: rahmat (KhalikAeMakhlu. , tauhid (AoAbidMaAobu. , dan keadilan ilahiah (HakimAeMukala. Di samping itu, melalui narasi cerita petualangan berbasis akidah, penulis menyuarakan pengembangan nilai-nilai akhlak/karakter mulia seperti keberanian, kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, ukhuwah, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan, yang disampaikan secara kontekstual melalui dinamika alur dan konflik tokoh. Melalui pendekatan estetis dan afektif, cerita Petualangan si Boleh diposisikan sebagai medium pendidikan akidah-akhlak yang bersifat aplikatif, inspiratif, dan transformatif bagi pembaca usia SD. Kata kunci: Pendidikan. Akidah-akhlak. Karakter. Petualangan. Si Boleh. PENDAHULUAN Pendidikan karakter yang dalam khazanah Pendidikan Islam populer dengan istilah akhlak, sampai hari ini masih menjadi isu utama pendidikan di Indonesia (Muthohar, 2. Isu utama yang menjadi bahan diskursus kalangan intelektual muslim adalah isu menguatnya krisis multi dimensi yang ditenggarai dengan: tingginya angka tindak kekerasan (Komarudin, 2021: . sex bebas dan obat-obatan terlarang (Shiddiq et , 2. gaya hidup hedonis dan tidak acuhnya masyarakat terhadap etika (Mudlofir, 2016. Sarbini et al. , menurunnya tingkat kejujuran masyarakat. menurunnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan terhadap figur-figur yang seharusnya dihormati. tumbuhnya berbagai penyimpangan prilaku. kasih sayang. dan meningkatnya korupsi, kolusi dan nepotisme(Listari, 2021. Nugraha, 2024. Nugraha et al. Realitas tersebut menegaskan pentingnya pendidikan akidah-akhlak dalam Islam sebagai pondasi pembentukan karakter. Karenanya, para ulama klasik memberikan perhatian husus terhadap pembentukan akhlak, berbagai gagasan mereka tuangkan dalam kitab khas akahlak, seperti kitab at-Targhib fi al-Aoilm karya Ismail al-Muzani. Bidayat al-Hidayah dan Minhaj al-MutaAoalim karya Imam al-Ghazali (Fattah & Afwadzi. Sodiman, 2. Demikian pula para ulama Nusantara, mereka memiliki perhatian besar terhadap diskursus akidah-akhlak melalui berbagai karya monumentalnya. Misalnya. Pendidikan budi pekerti karya E. Abdurrahman. Wahaia nak cucuku karya A. Hasan menekankan pentingnya Pendidikan akidah akhlak dalam Jauh sebelum A. Hasan dan E. Abdurrahman. Syekh Nawawi al-Bantani dalam karyanya Nasahaih Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 al-Ibad secara eksplisit menegaskan bahwa kajian akhlak sebagai bagian tidak terpisahkan dari praktik Namun demikian, buku-buku tersebut disusun mengikuti format ilmiah sehingga bahasa yang digunakan cenderung kaku. Karenanya, walau pun sarat nilai teologis dan akhlak, penggunaan diksi abstrak dan bahasa asing dirasakan menjadi kendala bagi pembaca, terlebih bagi anak-anak yang tentunya membutuhkan pendekatan yang lebih komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya. Dalam upaya menjembatani kesenjangan tersebut, sejumlah akademisi dan penulis mencoba mengintegrasikan nilai-nilai akidah-akhlak ke dalam karya sastra yang cenderung dianggap strategis, ajaran Islam disampaikan secara estetis, naratif, dan emosional. Ajaran akidah-akhlak yang bersifat abstrak, seperti keimanan kepada takdir, kesabaran, dan keikhlasan dapat dapat dijelaskan melalui alur, tokoh, konflik, dan dialog, sehingga nilai-nilai akidah cenderung lebih lebih mudah dipahami dan dirasakan anak-anak (Asyifa et , 2023. Rettyaningsih & Widayati, 2. Diantara karya sastra anak yang sarat dengan nilai-nila akidah-akhlak adalah Petualangan Si Boleh karya Roni Nugraha. Sebagai seorang akademisi di bidang pendidikan sekaligus aktivis Alam bebas. Roni secara sadar menyisipkan nilai-nilai akidah dan akhlak melalui karakter tokoh utama, alur, latar dan dialog dengan gaya bahasa dan diksi yang sesuai dengan dunia anak. Pendekatan ini menjadikan buku Petualangan si Bocah Soleh sebagai contoh konkret bagaimana sastra dapat menjadi medium pendidikan akidah-akhak yang menyenangkan dan membumi bagi anak-anak. Hal ini bisa dicermati misalnya dalam narasi berikut: "Kak Hasan bisa membuat tempat minuman dari kukuk, kalau sudah banyak, bawalah ke kota untuk Aku yakin, kak Hasan bakalan dapat uang untuk melanjutkan sekolah. " Dzaki mengemukakan "Tapi. aku kan gak punya modal," jawab Hasan. "Kawan. kita kan masih punya tabungan di bank SyariAoah, bagaimana kalau kita ambil sebagian tabungan untuk dijadikan modal buat Hasan. " Nadia mengusulkan. Kutipan di atas menegaskan bahwa dalam novelnya. Roni secara sengaja menyisipkan nilia-nilai kemandirian, kerja keras, dan ukhuwah. Di samping itu, narasi yang diucapkan Dzaki mengisyaratkan bagaimana mebangun semangat optimisme dalam menghadapi tantangan kehidupan dengan jalan memanfaatkan sumber daya alam. Sementara narasi yang diucapkan Nadia menegaskan pentingnya empati dan semangat ukhuwah Kajian ini penting mengingat kecenderungan para peneliti yang masih menomorduakan gagasan pendidikan akodah-akhlak yang didesain dalam bentuk sastra anak, dibanding gagasan pendidikan akhlak yang ditulis dan dipublikasikan secara utuh dalam bentuk buku. Padahal gagasan-gagasan tersebut lebih mencerminkan dialektika pemikiran penulis dengan realitas sosial yang dihadapinya (Rohmana & Zuldin. Di sisi lain, gagasan pendidikan akidah-akhlak dalam sastra anak memiliki posisi penting dalam upaya peningkatan pemahaman anak-anak terkait isu-isu pendidikan akidah-akhlak yang diuraikan secara singkat dengan bahasa populer dan ringan. Karenanya, kajian ini berusaha menganalisis sisi lain dialektika pemikiran Roni Nugraha dalam menyikapi isu-isu akhak di tengah kehidupan anak-anak generasi Z. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan . ibrary researc. yang bertujuan untuk menganalisis Dari Sastra Anak ke Pendidikan Akidah-Akhlak: Analisis Naratif Terhadap Novel Petualangan Si Bocah Soleh karya Roni Nugraha. Pendekatan yang digunakan adalah hermeneutika Gadamer, yang memungkinkan peneliti memahami teks tidak hanya secara harfiah, tetapi juga pada keterpengaruhan sejarah, pra-pemahaman dan penggabungan horison (Gadamer, 1986. Muhajir, 2. Melalui pendekatan ini, penelitian ini berupaya mengungkap bagaimana nilai-nilai akidah dan akhlak disisipkan dalam karakteristik tokoh, alur, latar dan Data primer penelitian ini adalah buku Petualangan si Bocah Soleh karya Roni Nugraha. Sementara data sekunder mencajyp karya-karya lain dari Roni Nugraha. Penggunaan sumber sekunder ini dimaksudkan untuk memperkaya interpretasi dan memberikan perspektif yang lebih luas terhadap buku yang dikaji. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks dan wawancara. Dokumentasi dilakukan dengan cara menginventarisasi, mengkaji, dan menafsirkan narasi petualangan si Bocah Soleh secara mendalam. Tahap ini mencakup analisis naratif novel, diksi, serta penelusuran nilai akidah dan akhlak yang terkandung di dalamnya. Sementara itu, wawancara dilakukan untuk melengkapi data dengan konteks di balik penyusunan novel anak tersebut. Narasumber yang diwawancarai: penulis buku, pengurus sekolah yang menjadikan buku tersebut sebagai refrensi pembelajaran dan anak-anak pembaca buku petualangan si Bocah soleh. Wawancara Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 dilakukan untuk memahami latar belakang intelektual dan keagamaan penulis, proses kreatifnya, serta bagaimana masyarakat dan anak-anak merespons pesan-pesan akidah dalam novel tersebut. Analisis penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data model interaktif, yang terdiri dari tiga komponen analisis data, yaitu: reduksi data, penyajian data . dan penarikan kesimpulan (Miles. Matthew B. Huberman, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Roni Nugraha Roni Nugraha dilahirkan pada 29 Juli 1976 di Kampung Pagelaran. Desa Depok. Kecamatan Cisompet. Kabupaten Garut. Jawa Barat dari pasangan Dzaenal Abidin dan Enong Supriatin. Pendidikannya diawali di SDN Depok 1, lulus pada tahun 1988. Selama menempuh pendidikan dasar, mata pelajaran agama dianggap paling sulit. Karenanya, pada saat lulus SD. Roni belum mampu membaca al-Quran. realitas inilah yang mendorongnya untuk melanjutkan studi ke pesantren, sebuah langkah spiritual awal yang membentuk basis religiusitasnya (Nugraha, 2016. Pada tahun 1988. Roni resmi menjadi santri tingkat Tazhijiyag di Pesantren Persis Bentar Garut, program khusus untuk mempersiapkan santri agar mampu mengikuti jenjang Tsanawiyah. Lulus Tzhijiyah, ia melanjutkan studi ke Pesantren Persis Rancabango hingga lulus Tsanawiyah pada tahun 1991. Pendidikan muAoalimin (SLTA) ditempuh selama tiga tahun di Pesantren Bentar, lulus tahun 1994. Semangat keilmuannya mendorongnya untuk melanjutkan studi di STAI Persis Bandung, program studi Tafsir Hadis angkatan 1995. Setelah berjuang melawan keterbatasan ekonomi, ahirnya gelar sarjana diraihnya pada tahun 2000, disusul pendidikan S2 dengan konsentrasi studi al-QurAoan dan lulus pada tahun 2005. Puncak pendidikannya ditempuh melalui jenjang doktoral di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan mengambil bidang Ilmu Pendidikan Islam yang diselesaikan pada tahun 2016 (Nugraha, 2016. Perjalanan karir akademiknya tidak lepas dari pengalaman hidup yang keras dan penuh perjuangan. Selama kuliah . 8Ae2. , ia bekerja sebagai penarik becak untuk membiayai kebutuhan hidup dan kuliah. Pada tahun yang sama, ia mulai aktif menjadi pengajar mengaji anak-anak SD Yayasan Izzul Islam . 9Ae Kombinasi interaksi dengan dunia anak-anak, kehidupan jalanan, dan kedekatan dengan petualangan di alam bebas dan dinamikan kehidupan masyarakat pelosok menjadi pijakan kuat bagi lahirnya perspektif pendidikan Islam inklusif dan membumi. Semasa menjadi mahasiswa. Roni aktif dalam organisasi pecinta alam yang ia kolaborasikan dengan aktivitas dakwah dan sosial, khususnya di wilayah-wilayah pedalaman Jawa Barat. Realitas ini memunculkan identitas ganda: sebagai dai rimba dan akademisi reflektif. Karenanya, ia dikenal melalui karya-karya naratif berbasis refleksi spiritual, seperti Bahtera. Lalangse. Santri Badeur. Bertasbih Bersama Alam, tafsir juz Aosama untuk anak, petualangan si Boleh dan lain-lain. Buku-buku tersebut mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam bentuk sastra religius, yang cenderung dianggap mampu menjembatani wahyu degan pengalaman hidup sehari-hari (Nugraha, 2016. Komitmen Roni terhadap pendidikan anak-anak tampak jelas dalam karya intelektualnya tafsir juz Aosama untuk anak dan Petualangan si Boleh. Menurutnya, realitas pembelajaran al-QurAoan di tingkat anakanak masih terlalu menekankan pada aspek bacaan dan hafalan tanpa pemahaman. Menurut pengamatannya, tidak sedikit anak yang fasih membaca atau hafal al-QurAoan, tetapi minim dalam perilaku QurAoani. Atas dasar itulah, ia menyusun Tafsir Juz AoAmma untuk Anak dan Petualangan si Boleh sebagai bentuk alternatif yang berusaha menyederhanakan nilai-nilai al-QurAoan dalam bahasa dan pengalaman anak-anak. Dalam proses penyusunannya, ia memadukan pendekatan linguistik, riwayat, kontekstual, serta refleksi terhadap pengalaman masa kecilnya. Menurutnya, tidak adanya penyesuaian bahasa dengan dunia anak-anak, niali-nilai ajaran alQuran akan sulit dipahami dan diinternalisasikan pada anak-anak. Roni memulai karir akademik di perguruan tinggi sejak tahun 2005 sebagai dosen tafsir di STAI Persis Bandung. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Tafsir Hadis selama tiga periode . 8Ae2. Ketua I Bidang Akademik STAI Persis Bandung pada 2021-2023. Pada tahun 2023, ia dipercaya sebagai Direktur Pascasarjana IAI Persis Bandung, dan sejak tahun 2025, ia kembali diamanhi tugas sebagai Warek I Bidang Akademik IAI Persis Bandung (Nugraha, 2. Aktivitas kepengarangannya mencakup artikel di media massa, buku ilmiah, karya sastra Islam, serta publikasi akademik di jurnal nasional dan internasional. Beberapa karyanya yang sudah dipublikasikan antara lain: Dan Tuhan Pun Bersumpah: Tafsir Ayat-ayat Sumpah dalam al-QurAoan . Tafsir Ayat-ayat Pendidikan . Ngungudag Guratan Takdir . Tafsir Juz AoAmma untuk Anak . , dan sejumlah artikel akademik seperti Reformist Muslim Discourse in the Sundanese Commentary of the QurAoAn: E. AbdurrahmanAos Commentary on QS. Al-HujurAt. Poetic Interpretation of the Quran and Sundanese Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Literature: Pupujian Poem of Walfajri By K. Abdullah. Poetic Interpretation of the QurAoan and Sundanese Literature serta Rationality of Tafsir al-QurAoan by A. Hassan. Translation of Two Scriptures in West Jawa: Comparison of Sundanese Translations of The Bible and the QurAoan. Strengthening Character Through Comparative Rhetoric and Istifham: A Study on E. Abdurrahman Thoughts on Character Education, dll. Dalam seluruh kiprahnya. Roni Nugraha berupaya membumikan tafsir al-QurAoan agar menjadi bagian dari pengalaman hidup umat, termasuk anak-anak, melalui pendekatan kreatif, komunikatif, dan edukatif. mengedepankan bahwa pendidikan tafsir tidak boleh elitis dan eksklusif, melainkan harus inklusif dan aplikatif, sesuai dengan jenjang usia dan kemampuan peserta didik. Dimensi Naratif Petualangan Si Bocah Soleh Novel Petualangan si Boleh karya Roni Nugraha, diterbitkan untuk pertama kalinya oleh FAZ Publishing pada tahun 2016. Cerita ini mengintegrasikan Pendidikan akidah akhlak ke dalam cerita petualangan di alam bebas. Cerita ini diawali dengan deskripsi kebiasaan Arman Cs menabung di bank SyariAoah sehingga pada ahir semester, mereka mendapat hadiah untuk berpetualang di salah satu kampung Di kampung itulah mereka berinteraksi dengan Masyarakat lokal dan alam yang masih liar. Melalui interaksi sosial dan pengalaman langsung di alam, tokoh-tokoh utama novel ini secara tidak langsung menempuh proses pembelajaran nilai-nilai akidah, sosial, dan akhlak melalui dialog natural dan sisipan refleksi individual seperti yang dilakukan Arman. Dzaki dan Hasan (Nugraha, 2016. Dari sisi alur. Petualangan Si Boleh termasuk ke dalam kategori cerita dengan alur maju . Peristiwa-peristiwa yang terjadi dituturkan secara kronologis, yakni dari adegan mendapat hadiah dari bank Syariah untuk berpetualang sampai adegan reboisasi. Bagian awal cerita berisi eksposisi, yaitu pengenalan tokoh-tokoh utama (Arman. Fayed. Azis. Dzaki. Silmi. Raisa. Nadia dan Hasa. serta latar sosial mereka. Situasi awal ini mendeskripsikan kehidupan anak-anak muslim perkotaan yang rajin menabung dan memiliki semangat eksploratif yang tinggi. Rangkaian petualangan dimulai saat mereka melakukan perjalanan ke rumah Kakek Juhdi . akeknya Dzak. Pada bagian ini, konflik mulai berkembang yang menandai komplikasi atau rising action, yaitu ketika tokoh-tokoh dihadapkan pada tantangan fisik . uduk di atas kap mobil yang sudah penuh, berjalan kaki menelusuri hutan, hampir mengenai tahi kerbau, jatuh ke kubangan lumpu. dan konflik emosional . elelahan, pertengkaran ringan, rasa takut, hingga rasa iri dari Hasan terhadap kehidupan teman-teman kot. Melalui konflik-konflik kecil tersebut, karakter tokoh-tokoh mulai mengalami pembentukan yang lebih dalam, baik secara individual maupun dalam dinamika kelompok (Nurhasanah, 2. Cerita mencapai klimaks saat tim Aubocah solehAy menemukan batu Opak dan berhasil membuka akses menuju ruang bawah tanah misterius yang penuh dengan simbol-simbol sejarah, seperti singgasana raja, mahkota, dan senjata kuno. Pada fase ini, aspek petualangan bergabung dengan unsur refleksi sejarah dan Klimaks juga ditandai oleh penyatuan nilai edukatif dengan pengalaman konkret yang mendorong tokoh-tokohnya untuk memahami pentingnya kerja sama, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab social (Nugraha. Cerita kemudian beralih pada fase penemuan ladang ganja yang mereka temui yang tersembunyi di dalam hutan. Temuan ini merupakan titik balik dari keseluruhan petualangan, mengalihkan fokus dari kegiatan eksploratif dan edukatif menjadi tindakan moral dan keberanian dalam menghadapi ancaman sosial yang nyata. Pada fase ini. Arman dan anggota tim bocah soleh menyadari bahwa petualangan mereka bukan sekadar permainan anak-anak, melainkan berhadapan langsung dengan bahaya serius yang mengancam masa depan generasi muda. Mereka tidak hanya menyaksikan langsung kejahatan terselubung berupa praktik penanaman ganja, tetapi juga terlibat dalam upaya melaporkannya kepada pihak berwenang. Respons cepat pihak berwenang serta tertangkapnya para pelaku mengantarkan cerita pada penyelesaian yang tegas dan sarat pesan moral. Penulis menutup cerita dengan adegan resolusi berupa adegan penanaman bibit pohon di lahan yang sebelumnya dijadikan sebagai ladang ganja sebagai bentuk penghambaan manusia pada tuhannya melalui pemeliharaan alam, yang menandakan cerita telah berakhir (Armet et al. , 2. resolusi ini menegaskan bahwa keberanian dan kepedulian sosial tidak mengenal usia, dan bahwa anak-anak pun dapat menjadi agen perubahan apabila ditanamkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab sejak dini. memperlihatkan penyelesaian konflik tidak hanya terjadi dalam ruang batin para tokoh, tetapi juga terjadi dalam bentuk tindakan nyata melawan kemungkaran sosial yang terorganisir (Nugraha, 2016c. Nugroho. Secara umum, alur Petualangan Si Boleh tidak hanya menyusun peristiwa secara kronologis, tetapi juga membangun transformasi nilai dalam diri tokohnya. Cerita ini menyiratkan bahwa membentuk jiwa yang kuat. Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 cerdas, dan berempati memerlukan perjalanan yang menggabungkan pengetahuan, pengalaman, dan Meski berlatar dalam dunia anak-anak, pesan moralnya melampaui usia. Sementara dilihat dari perspektif tokoh, cerita si Boleh berpusat pada tiga tokoh utama, yaitu Arman. Dzaki dan Hasan. Di satu sisi, ketiganya memiliki peran strategis dalam menggerakan alur cerita dan merepresentasikan dinamika pendidikan akidah akhlak. Di sisi lain, ketiganya tidak hanya difungsikan sebagai tokoh fungsional, tetapi menjadi simbol pembentukan akhlak anak yang dipengaruhi lingkungan alamiah, pengalaman sosial, dan nilai-nilai akhlak yang mereka alami secara langsung selama berpetualang di alam bebas (Istanti & Hadi, 2. Tokoh Arman dideskripsikan sebagai ketua kelompok yang tenang, tegas, bijaksana dan Ia menunjukkan akhlak yang kuat yang bisa dilihat dari kemampuannya dalam menentukan keputusan penting dan memediasi konflik di antara anggota kelompok. Dalam kontek ini. Arman berfungsi sebagai pengarah nilai dan pengusung pesan etis, ia menjadi sosok panutan yang menegaskan pentingnya keteladanan dalam pendidikan akhlak. Dzaki muncul sebagai tokoh ekspresif, enerjik dan kocak. Di balik kekocakannya, ia memperlihatkan kecerdasan logis dan daya pikir kritis. Dalam kontek ini. Dzaki digambarkan sebagai thinking character, yaitu karakter anak yang tidak segan untuk mengajukan pertanyaan, menganalisis dan memesahkan masalah. Karenaya. Dzaki diposisikan sebagai katalisator intelektual dalam kelompok yang memperkaya cerita dengan dialog kritis dan tindakan eksploratif-edukatif. Sementara itu. Hasan merupakan tokoh yang merepresentasikan karakter anak pedesaan, sehingga di awal cerita ia digambarkan sebagai sosok yang merasa minder karena keterbatasab ekonmoi, namun kemudian setelah berinteraksi dengan anak-anak muslim perkotaan, karakternya berubah menjadi optimis dan kreatif. Karenanya. Hasan merepresentasikan transformational character, yakni tokoh yang berubah melalui dukungan interaksi sosial dan refleksi. Hasan dijadikan sebagai simbol perjuangan anak-anak marjinal, sekaligus menjadi cermin bagaimana nilai optimisme dan ukuhuwah islamiyah dapat membentuk pribadi yang tangguh (Nugraha. Dalam kontek pendidikan akidah-akhlak, ketiga tokoh dalam cerita si Boleh mewakili tiga dimensi akhlak mahmudah, yaitu: Arman sebagai pemimpin etis. Dzaki sebagai pemikir kritis, dan Hasan sebagai pejuang harapan. Melalui interaksi dinamis diantara ketiga tokoh dan empat empat peran pembantu (Nadia. Silmi. Fahri dan Rais. , novel petualangan si bocah soleh membangun narasi yang tidak hanya menarik secara alur, tetapi juga luas dan mendalam dalam dimensi teologis dan akhlak. Gambar 1. Petualangan Si Boleh karya Roni Nugraha Pendidikan Akidah-Akhlak Cerita Petualangan si Boleh tidak hanya menyajikan narasi yang menarik berupa petualangan di alam bebas, tetapi juga secara cermat mengintegrasikan nilai-nilai akidah Islam sebagai ruang refleksi keimanan bagi pembacanya. Dalam kisah tersebut, penulis secara sengaja menyisipkan kajian akidah yang berfokus pada tiga relasi utama Tuhan-manusia sebagai pondasi dasar pembentukan kesadaran moral-spiritual. Tiga relasi tersebut adalah: Pertama. Relasi Rahmat. Lafadz rahmat berasal dari akar kata r-h-m . enaruh kasihan,menyayangi dan Dalam Al-Quran, lafadz rahmat muncul dalam berbagai bentuk seperti ar-ruhma, ar-rahmu, arrahman, ar-rakhym. Lafaz ar-ruhma dan ar-rahmu mengandung makna belas kasih dan rahmat. Lafaz arrahym mengandung makna rahim, lafadz ini menyatakan hubungan kekerabatan karena berasal dari rahim yang sama dan karenanya pula istilah silaturahmi dimaknai menjalin hubungan kekerabatan dan kekeluargaan. Walaupun pengertian keduanya berbeda, lafaz ar-rahman dan ar-rahym merupakan lafaz yang sering digunakan bersama-sama. Menurut AoAthif Al-Zayn, lafaz ar-rahman dimaknai sebagai Yang Maha Penyayang, sifat yang hanya disandarkan kepada Allah (Al-Zayn, 1. Al-Ishfahyny mendefinisikan rahmat dengan Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 riqqah taqtadhi al-ihsan ila al-marhum, perasaan halus yang mendorong memberikan kebaikan kepada yang Dalam penggunaannya, lafaz itu bisa mencakup kedua batasan tersebut dan bisa juga hanya mencakup salah satunya, rasa kasih atau memberikan kebaikan saja (Al-Isfahni, 1972. Ibn Manzhur, 1. Dalam cerita petualangan si boleh, relasi rahmat menempatkan Allah sebagai pemberi rahmat, sementara manusia diposisikan sebagai penerima yang dituntut untuk beryukur terhadap rahmat yang dianugrhkan kepadanya. Relasi ini disampaikan melalui berbagai adegan petualangan di alam bebas yang penuh tantangan dan bahaya. Situasi-situasi sulit yang dihadapi tim si Boleh dideskripsikan untuk menegaskan limpahan rahmat Allah kepada seluruh manusia melalui penciptaan . ikmat dasa. yang menuntut manusia untuk mengembangkan ciptaan-Nyha yang dengannya nikmat dasar itu bisa berkembang dan dimanfaatkan dalam kontek memakmurkan bumi. Hal ini bisa dicermati misalnya dari dialog berikut: "WoiA. hebat kali tempat airmu. " Dzaki terkagum-kagum akan tempat air minum milik Hasan yang mirip seperti kantung air di film-film kungfu. "Harganya berapa San? tanya Arman seraya memperhatikan secara seksama tempat air yang warnanya agak kecoklatan. "Gak mahal kok, yang ginian kan tinggal ngambil di ladang. " jawab Hasan, tangan kananya ia julurkan pada Dzaki. Dzaki bergerak cepat, kini kukuk sudah berpindah tangan. Sementara waktu Dzaki memperhatikan secara seksama barang yang baru saja diterimanya. "Kak, ajari aku cara membuat tempat air seperti ini, ya. " Dzaki ingin memiliki tempat air dari kukuk. Hasan menganggukan kepala. Dzaki terlihat ceria. Dalam pikirannya terbersit jika tempat air dari kukuk itu dibawanya ke sekolah, sudah dapat dipastikan, kawan-kawannya bakal pada takjubAy(Nugraha. Di samping itu, rahmat dan kasih sayang Allah hadir dalam setiap gerak perjalanan tim Si Boleh melalui pertolongan-pertolongan dari situasi-situasi kritis yang tidak disangka sebelumnya. Hal ini bisa dicermati mislanya dalam adegan peralihan dari goa ke leuweung tutupan, melalui doa yang dipanjatkan secara tulus ikhlas, tim Si Boleh kembari merasakan ketenangan batin sehingga menggerakan mereka untuk terus berjuang menyelamatkan diri dari ancaman leuweung tutupan. Adegan tersebut mengajarkan bagaimana cara bersyukur dan kesadaran bahwa keselamatan dan keberhasilan seseorang merupakan rahmat-Nya yang menuntut manusia untuk tidak menyombongkan diri (Nugraha, 2016. Kedua. Relasi Keesaan (AoAbid-MaAobu. , relasi ini menempatkan manusia sebagai hamba (Aoabi. yang harus senantiasa taat dan tunduk pada Allah, sementara Allah diposisikan sebagai maAobud, satu-satunya yang layak disembah. Melalui adegan-adegan dramatis. Roni menegaskan bahwa kesadaran akan relasi abid-maAobud dibangun di atas pondasi kesadaran bahwa seluruh alam semesta, termasuk manusia merupakan milik Allah sebagai konsekuensi logis penciptaan. Di sini, segala sesautu yang diciptkan Allah, berarti milik-Nya. Karena posisinya sebagai yang dimiliki, maka ketaatan dan kesetiaan menjadi kewajiban yang tidak bisa dibantah. Para tokoh dalam cerita petualangan si Boleh bergerak dalam alur pengabdian kepada Allah, dalam situasi sesulit apa pun, mereka senantiasa taat menjalani perintah-perintah agama. Mereka beruasha sekuat tenaga, namun segala hasil mereka serahkan kepada-Nya sebagai wujud kepasrahan secara total . (Nugraha. Melalui adegan-adegan menyeramkan yang terkadang dipahami dan disikapi sebagian masyarakat dengan kemusyrikan, tim si Boleh, dengan pandangan kritisnya bergerak untuk membongkar kekeliruan cara berpikir sebagian masyarakat dalam menyikapi rahasiah-rahasiah alam semesta. Melalui nalar kritis ini, tokohtokoh si Boleh mengajak pembaca untuk melakukan pembacaan ulang secara kritis terhadap beragam tradisi dan keyakinan yang dianggap sudah menyimpang dari ajaran Islam . atu opa. Hal ini bisa dicermati misalanya dalam dialog berikut: AuBukannya tidak percaya, kak. Aku yakin Allah tidak akan menyalahi hukum-hukum yang dibuat-Nya. Coba kakak pikirkan, andai semua ini diakibatkan proses alamiah, pasti deh batu-batu ini tidak bakal seperti opak, tapi akan membentuk serpihan-serpihan memanjang dari atas bukit, sebab yang namanya air itu mempunyai hukum mengalir dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang lebih rendah. Ay Dzaki menyanggah pendapat Hasan. Untuk beberapa saat, tim si Boleh kembali berpikir. Sementara itu. Dzaki berdiri, kaki melangkah menjauhi kawan-kawannya, matanya melirik ke sana kemari, seolah sedang mencari sesuatu. Selang beberapa saat. AuYesAaku menemukan jawabannya,Ay Dzaki berjingkrak-jingkar kegirangan (Nugraha, 2016. Ketiga. Relasi Al-Adalah Al-Ilahiah (Hakim-Mukala. yang memposisikan Allah sebagai hakim yang Maha Adil, sementara manusia diposisikan sebagai pengemban amanah yang harus mempertanggung jawabkan seluruh prilakunya. Dalam cerita petualangan si Boleh, gagasan relasi hakim-mukalaf ini bergerak melalui posisioning kematian, kiamat dan pengadilan sebagai acuan hidup yang menuntut refleksi diri dan penghayatan terhadap keadilan Allah yang akan terwujud di akhirat. Melalui mengingat kematian, tokoh-tokoh Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 dalam petualngan si Boleh bergerak sebagai penegasan kepada pembaca bahwa kematian bukan sebagai akhir perjalanan, ia sebagai pintu awal menuju alam keabadian dan seluruh perbuatan di dunia akan mendapat balasan yang menuntut umat Islam untuk bertakwa, bertobat, dan hidup sesuai perintah Allah. Hal ini bisa dicermati misalnya dari narasi berikut: Hasan menarik nafas panjang-panjang. AuKawan, aku yakin, ajal akan segera menemui kita,Ay kembali Hasan menundukan pandangannyaAuAjalAajal akan segera menjemput kita!Ay Serempak semua anak tim bocah soleh mengungkapkan kata yang paling ditakuti umat manusia. Dzaki yang biasanya ceria pun tidak sanggup lagi menahan kesedihannya. Ia tidak mengira jika umurnya akan segera berakhir. Terdengar pula tangisan Nadia. Silmi dan Raisa. Mereka bertiga saling berpelukan, pikirannya teringat kembali pada dosa-dosa yang selama ini mereka perbuat, terutama dosa-dosa yang dilakukan pada orang AuMamahAmaafkan Nadia!Ay Suasana seperti itu semakin membuat anak laki-laki tertekan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa terduduk lesu, masing-masing membayangkan kejadian mengerikan akan segera menemui mereka (Nugraha, 2016. Karakter yang dikembangkan Nilai-nilai pendidikan akidah yang disisipkan secara sengaja dalam kisah Petualangan Si Boleh tidak hanya difungsikan sebagai penguat dimensi keimanan, tetapi juga difungsikan sebagai fondasi pembentukan karakter . peserta didik. Melalui berbagai adegan emosional dan spiritual para tokoh dalam menghadapi tantangan alam bebas atau pun dinamika konflik internal, pembaca diajak untuk melakukan refleksi diri terhadap nilai-nilai yang membentuk kepribadian mulia, seperti keberanian, kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, ukhuwah, kedisiplinan, dan mencintai lingkungan (Kemendikbud, 2. Setiap karakter dimunculkan dalam adegan kontekstual dan reflektif, sehingga membentuk kesadaran moral. Secara rinci, karakter yang dikembangkan dalam Petualangan Si Boleh dapat dipetakan sebagai berikut: Keberanian Sepanjang alur cerita Petualangan si Boleh. Arman. Dzaki dan Hasan yang dijadikan sebagai tokoh utama, tampil sebagai figure yang tidak hanya berani dalam menghadapi tantangan sulit di alam bebas, seperti menelusuri lorong misterius, lebatnya hutan larangan dan ancaman para penjahat yang menanam ganja di hutan Keberanian mereka bukan keberanian impulsive yang bersumber dari dorongan nafsu amarah yang oleh al-Ghazali dikategorikan sebagai Tahawwur . ebodohan atau semberon. Sebaliknya, keberanian mereka bermuara pada tiga pilar utama: keyakinan kepada Rahmat Allah sebagai sumber perlindungan, kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi situasi, serta strategi yang terencana dalam menentukan Tindakan. Keterpaduan antara keyakinan, kritis dan strategis ini diistilahkan al-Ghazali dengan syajaAoah, yakni keberanian yang tumbuh dari keseimbangan antara akal, iman dan kendali diri. Nalar al-Ghazali ini menjadi acuan Roni dalam mendesain karakter tokoh yang tidak sekedar memeprlihatkan Tindakan heroic, tetapi juga mencerminkan kematangan rasional dan spiritual. Hal ini bisa dicermati misalnya dari adegan berikut (Mz. AuArman merenung sebentar, matanya ia putarkan pada kawan-kawannya, sementara pikirannya mencoba memikirkan berbagai kemungkinan. Setelah merasa yakin, akhirnya Arman memutuskan untuk menuruni lorong tersebut. Arman pun melangkah menuju tenda untuk mengambil karamantel dan alat Beberapa saat kemudian, ia telah kembali ke tempat semula, bergegas pula ia menambatkan salah satu ujung karamantel pada sebuah pohon yang terletak kira-kira dua puluh meter dari lorong Sementara itu. Fayed sibuk mengajari Hasan cara membuat harnest dari webing sekaligus memperkenalkan kalabiner dan deskender serta fungsi dari kedua alat tersebut (Nugraha, 2016. Ay. Kejujuran Dalam cerita Petualangan Si Boleh, kejujuran tidak hanya diekspresikan sebagai norma sosial, tetapi lebih ditekankan sebagai ekspresi iman yang lahir dari kesadaran dan keyakinan terhadap masalah-masalah eskatalogis, yakni keyakinan bahwa setiap perbuatan seluruh manusia senantiasa berada didalam pengawasan para malaikat penjaga dan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Nilai ini tergambar secara tegas dalam dialog antara dzaki dan kakenya . akek Juhd. mengenai prestasinya di rapot. Kake Juhdi menanyakan apakah nilai-nilai itu hasil kerja keras atau hasil mencontek (Nugraha, 2016. Momen ini menjadi ruang refleksi moral yang menguji kejujuran sebagai bagian integral akidah. Dalam kontek Pendidikan islam, kejujuran seperti ini sejalan dengan prisnip muraqabah . erasa diawasi Alla. , yang menjadi pondasi dasar bagi perwujudan integritas individual (Usman et al. , 2. Dengan demikian, kejujuran dalam cerita petualangan si Boleh tidak hadir secara verbalisti, tetapi diinternalkan melalui situasi yang cenderung menggugah kesadaran spiritual dan tanggung jawab moarl tojoh terhadap diri dan Tuhan-Nya. Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 Tanggungjawab Nilai karakter tanggung jawab dalam novel petualangan si boleh, tidak hanya terpusat pada tokoh Arman sebagai ketua tim, tetapi juga menjadi citra diri seluruh anggota tim yang mencerminkan keasadaran kolektif terhadap peran dan kewajiban masing-masing anggota dalam sebuah komunitas. Tanggung jawab dideskripsikan sebagai sikap moral yang tumbuh dan berkembang dari pemahaman setiap prilaku manusia harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Deskripsi nilai tanggung jawab dalam alur cerita si Boleh, secara tidak langsung dianggap sebagai upaya internalisasi konsep kepimipinan dalam Islam, yakni bahwa setiap manusia adalah pemimpin . ulukum rai. yang akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya . a kulukum masulun Aoan raiyatih. (Rohmatika, 2. Dalam alur cerita petualangan, pembagian peran, sikap saling menjaga, dan keterlibatan aktip semua tokoh dalam menyelesaikan masalah yang mereka hadapi menjadi manifestasi tanggungjawab individual dan kolektif. Hal ini dapat dicermati misalnya dalam adegan berikut: AuMau gak cari kayu bakar?Ay tanya Arman pada Dzaki yang duduk di hadapannya. Waktu itu, sekitar pukul setengah lima sore, tim si Boleh berada di tepi sebuah danau kecil. Arman memutuskan untuk mendirikan tenda di tepi danau yang agak datar. Danau itu cukup unik, luasnya tidak terlalu besar, paling berukuran sekitar satu hektaran. Di tengah-tengah danau terdapat pulau kecil yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman rawa yang digunakan rumah oleh beberapa jenis burung. Sebelah barat dan utara danau dipenuhi berbagai jenis tumbuhan besar, sementara bagian selatan ditumbuhi ilalang yang cukup tinggi dan di sebelah Timurnya menghampar padang rumput yang tidak terlalu tinggi diselingi bebatuan yang nampaknya bekas muntahan gunung berapi (Nugraha, 2016. Ay Dengan demikian, nilai tanggungjawab disisipkan dengan harapan pembaca bersemangat untuk meniru pribadi yang dapat dipercaya, mampu mengambil keutusan secara bijak, serta siap menanggung akibat pilihan hidupnya sebagaimana ditegaskan dalam ajaran akidah Islam. Sabar Kesabaran menjadi salah satu karakter yang menonjol dalam tim Si Boleh selama menghadapi berbagai tantangan, rintangan dan ancaman di alam bebas. Berbagai situasi ekstrim seperti ancaman alam liar, keterbatasan logistik , ketidakpastian arah, hilangnya akses komunikasi, hingga kecemasan terhadap kematian, tidak menjadikan mereka larut dalam keputusasaan. Sebaliknya, mereka memperlihatkan keteguhan jiwa dengan tetap berusaha dan memaksimalkan seluruh potensi dari penderitaan dengan memaksimalkan seluruh potensi individual dan kolektif. Melalui adegan-adegan petualangan si Boleh, sabar tidak dimaknai sebagai kepasrahan pasif, tetapi sebagai kekuatan aktif yang menjadi faktor pendorong ketahanan psikologis, semangat kolaborasi dan ketajaman berpikir untuk menemukan solusi. Hal ini bisa dicermati misalnya dalam adegan AuLepaskan ranselnya. Man!Ay teriak Hasan sambil melemparkan tali. AuTida. tida mungkinATidak mungkin aku melepaskan ransel ini,Ay jawab Arman serius. Pikirannya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau ranselnya dibiarkan terjatuh. Ya, sewaktu di tepi danau tadi, anak-anak tim bocah soleh sepakat untuk memasukan semua bahan makanan dalam ransel Arman. Jadi, pasti deh jika ransel itu terjatuh, anak-anak tim bocah soleh akan kelaparan. AuSudah! jangan pikirkan makanan itu, yang penting kamu selamat,Ay Azis membujuk Arman. Yang ada di benaknya bukanlah makanan, namun keselamatan kawannya. Percuma saja mereka memiliki banyak bahan makanan, sementara kawannya mati sia-sia. Ay Dalam perspektif spiritual, kesabaran tim Si Boleh dilandasi keyakinan bahwa AuAllah bersama orangorang yang sabarAy (Q. 2: . Ayat ini, menjadi pemicu tumbuhnya harapan sekaligus mengikis rasa takut. Keyakinan ini diperkuat dengan pepatah Arab AuMan sabara dzafaraAy . arangsiapa bersabar, ia akan memperoleh kemenanga. (Miskahuddin, 2. , yang secara naratif diekspresikan tim si Boleh dalam memandu arah masa-masa kritis. Dengan demikian, dalam cerita petualangan si Boleh. Roni menjadikan kesabaran sebagai pilar moral-spiritual yang menjadi penopang karakter tangguh dan bertanggungjawab. Ukhuwah Cerita petualangan si Boleh, secara konsisten memperlihatkan nilai-nilai ukhuwah yang bermuara dari keyakinan mendasar bahwa seluruh manusia di muka bumi ini bersaudara, perbedaan bangsa, suku dan kabilah bukan untuk dijadikan dasar perselisihan, tetapi harus dijadikan sebagai dasar persaudaraan. Keyakinan ini tidak cukup hanya pada tataran konseptual, tetapi diekspresikan secara nyata melalui empati yang kuat di antara anggota tim si Boleh. Melalui empati, mereka merasakan penderitaan sesama sehingga dengannya Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 mereka berusaha membantu meringankan penderitaan orang lain. Roni menempatkan empati sebagai fondasi emosional agar terwujudnya kerjasama, kepedulian, dan keutuhan tim/kelompok di tengah tekanan dan bahaya yang mereka hadapi. Dengan demikian, nilai ukhuwah dalam cerita si Boleh tidak hanya menjadi landasan sosial, tetapi juga menjadi manifestasi keimanan yang menggerakan manusia untuk membangun kehidupan harmonis, adil dan berprikemanusiaan. Hal ini bisa dicermati misalnya dalam adegan: AyDzaki yang duduk di belakang berhadapan dengan Nadia tidak menghiraukan obrolan kawannya, matanya menatap tajam dua bocah jalanan yang berdiri dekat mobil sedan warna putih, rambutnya tampak acak-acakan, kaos lusuh menutupi bagian atas tubuhnya, celana sontog yang juga tampak lusuh menutupi bagian bawah tubuhnya, telapak kaki beralaskan sandal jepit, tangannya bergerak-gerak memainkan alat musik yang sangat sederhana, sesekali bertepuk tangan tuk mengiringi gerak mulut yang tak henti-hentinya mendenadngkan lagu seadanya, "Kasihan," ucap Dzaki lirih (Nugraha, 2016. Ay. Kedisiplinan Dalam novel petualangan si Boleh, nilai kedisiplinan menjadi salah satu karakter yang kuat dan terintegrasi secara konsisten dalam alur cerita. Kedisiplinan dideskripsikan tidak hanya sebagai kepatuhan terhadap aturan-aturan eksternal, tetapi diposisikan sebagai kesadaran internal terhadap pentingnya ketertiban, tanggung jawab, dan komitmen Bersama (Yasin, 2. Hal ini tampak dalam berbagai adegan di mana anggota tim Si Boleh secara sadar menaati aturan-aturan yang telah disepakati bersama, seperti pembagian peran dan tugas, waktu istirahat, mekanisme pengambilan keputusan, dan sikap saling menghargai. Dalam cerita ini, disiplin difungsikan sebagai fondasi utama keberhasilan misi tim si Boleh, terutama pada saat mereka menghadapi situasi kritis yang membutuhkan kerja tim. Dengan demikian, petualngan si Boleh tidak hanya menegaskan disiplin sebagai bentuk kepatuhan, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab kolektif yang tumbuh dan berkembang dari kesadaran terhadap pentingnya keteraturan untuk mencapai tujuan kolektif (Nugraha, 2016. Lingkungan Secara naratif, cerita Petualangan si Boleh berlatar kehidupan pedesaan dan alam bebas dengan kakayaan botani dan hewani, seperti pohon beringin raksasa, kawanan monyet, burung rangkong, lubang, danau kecil dan lain-lain. Semua itu tidak hanya diposisikan sebagai latar visual, tetapi difungsikan juga sebagai elemen edukatif yang menyuarakan kepedulian ekologis (Faizah, 2. Eksistensi alam yang dideskripsikan secara detail menjadi medium reflektif bagi pembaca, khusunya anak-anak usia SD untuk memahami dan menyadari bahwa alam semesta sebagai amanah Allah yang harus dijaga dan dilestarikan. Dalam kontek pendidikan akidah-akhlak, kepedulian terhadap lingkungan menjadi bukti nyata sikap syukur terhadap anugrah Allah, sekaligus sebagai manifestasi tanggung jawab manusia sebagai khalifah fi al-ardh (Susanti, 2. Realitas tersebut dapat dicermati misalnya dalam adegan berikut: AuHeAheAhe,Ay kalau kakak jadi burung, aku si pecinta burung akan mengurung kak Dzaki dalam sangkar emas,Ay ucap Azis. Walau dalam keadaan terluka, ia masih sempat berguyon ria. AuMasa pecinta mengurung kesukaannya, kalau kamu benar-benar ngaku pecinta burung, kamu harus membiarkanku terbang bebas mencari makan sendiri, mencari istri sendiri, menentukan hidupku Ay jawab Dzaki seraya menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, matanya ia pejamkan, sementara kedua tangannya tetap saja ia kepak-kepakan. Data-data tersebut menunjukkan bahwa Roni meliihat bahwa internalisasi nilai lingkungan menjadi sangat strategis di tengah krisis ekologi global. Melalui berbagai adegan petualangan, certa petualangan si Boleh menegaskan bahwa merusak alam semesta dianggap sebagai bentuk penghianatan iman dan sosial. Dengan demikian, secara tegas cerita petualangan si Boleh menginternalisasikan prinsip eco-theologi dalam bingkai akidah-akhlak yang mendorong cinta, empati dan tanggung jawab terhadap terpeliharannya lingkungan hidup sebagai penopang kehidupan manusia. ruksaknya lingkungan hidup menjadi pertanda akan rusaknya kehidupan manusia. PENUTUP Cerita Petualangan Si Boleh karya Roni Nugraha merupakan karya naratif yang secara sengaja mengintegrasikan elemen-elemen petualangan dengan nilai-nilai Pendidikan akidah Akhlak. Cerita ini tidak hanya mengkontruksi imajinasi dan ketegangan melalui penjelajahan di alam bebas, tetapi juga mebimbing pembaca, khususnya anak-anak SD dalam pembentukan kesadaran spiritual dan moral. Nilai-nilai akidah yang difokuskan pada tiga relasi utama antara Tuhan dan manusia, yakni rahmat (KhalikAeMakhlu. , tauhid (AoAbidAe Fayed Fauzan al-MutaAoaliyah. Roni Nugraha Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. September 2025 MaAobu. , dan keadilan ilahiah (HakimAeMukala. , dijadikan kerangka konseptual dalam membangun cara pandang religious terhadap manusia, alam dan kehidupan Tiga relasi tersebut berfungsi sebagai basis fundamental pembentukan karakter/akhlak mulia seperti keberanian, kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, ukhuwah, kedisiplinan dan mencintai lingkungan. Dalam kontek ini, masing-masing nilai dikembangkan secara kontekstual melalui pengalaman tiga tokoh utama dan tokoh pembantu dalam menghadapi tantangan fisik dan spiritual, sehingga membentuk narasi yang sarat emosional dan spiritual. Melalui pendekatan ini, cerita petualangan si Boleh tidak hanya mendidik secara verbal dan konseptual, tetapi membentuk karakter pembaca melalui pengalaman estetis, afektif dan kognitif DAFTAR PUSTAKA