Volume 8 Nomor 1 . Journal of Midwifery Science: Basic and Applied Research e-ISSN: 2774-227X Pengaruh Video Edukasi Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang Pijat Pada Bayi di Puskesmas Tempunak Tahun 2025 Putri1 . Novita Dewi Puspita2. Selasih Putri Isnawati Hadi3 Bachelor of Midwifery Study Program. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta. Indonesia Department of Midwifery. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta Department of Midwifery. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta Corresponding author: Putri Email: putrihalimah685@gmail. ABSTRACT Infant growth and development during the First 1,000 Days of Life (HPK) is a critical period that determines future human resource quality. This phase involves rapid brain and body development but is vulnerable to disturbances. Lack of proper nutrition and stimulation may lead to developmental delays and long-term health risks. Infant massage is a simple stimulation method that can improve weight gain, sleep quality, immunity, and motor development. However, mothersAo knowledge about infant massage in Indonesia remains low, particularly in the Tempunak Health Center area. This study aimed to determine the effect of educational videos on mothersAo knowledge of infant massage. A pre-experimental one group pre-test and post-test design was used with 25 mothers selected through purposive sampling. Data were collected using a validated questionnaire and analyzed using a paired t-test. Statistical tests showed a significant effect of educational video intervention on mothersAo knowledge of infant massage. The paired t-test results revealed an average difference of 8. 92 with a p-value of 0. < 0. Educational videos significantly improve mothersAo knowledge of infant massage and can be utilized by health workers and posyandu cadres as an engaging, efficient, and easy-to-understand method of education. Keywords: Educational video. Infant massage. MothersAo knowledge PENDAHULUAN Pertumbuhan dan perkembangan bayi merupakan fase krusial yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Bayi yang tumbuh sehat dan berkembang optimal akan menjadi generasi penerus bangsa yang produktif, sedangkan apabila proses tumbuh kembang tidak berjalan sesuai tahapan usianya, maka dapat menimbulkan dampak serius baik secara fisik, kognitif, maupun sosial. Salah satu periode terpenting dalam tumbuh kembang anak adalah 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini dikenal sebagai golden period atau periode emas karena pada masa ini otak anak berkembang sangat pesat, sekaligus merupakan periode kritis yang sangat rentan terhadap gangguan. Secara global. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa pada tahun 2020 terdapat sekitar 149,2 juta anak balita mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Sebanyak 95% kasus tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah . Indonesia, masalah tumbuh kembang anak juga masih menjadi tantangan besar. WHO mencatat bahwa prevalensi penyimpangan perkembangan pada anak usia di bawah lima tahun mencapai 7,51% . Angka ini menunjukkan bahwa gangguan perkembangan masih cukup tinggi dan memerlukan intervensi yang komprehensif. Khusus di Provinsi Kalimantan Barat, stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat menunjukkan prevalensi stunting mencapai 24%, sedangkan di Kabupaten Sintang tercatat sebesar 21,5% pada tahun 2024. Angka tersebut memang mengalami penurunan dibanding tahun-tahun dibandingkan target nasional sebesar 14% pada tahun 2024 . Stunting yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan dampak jangka Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR pendek berupa peningkatan morbiditas dan mortalitas, serta dampak jangka panjang berupa gangguan kognitif, penurunan kecerdasan, keterlambatan perkembangan saraf, postur tubuh pendek saat dewasa, penurunan produktivitas, imunitas rendah, hingga peningkatan risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit kardiovaskular di usia dewasa . Upaya untuk mencegah dan mengatasi permasalahan tumbuh kembang tidak hanya berfokus pada intervensi gizi, tetapi juga pada stimulasi dini yang tepat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stimulasi dini dapat memperbaiki perkembangan fisik, motorik, kognitif, dan sosial-emosional anak. Salah satu bentuk stimulasi sederhana namun sangat bermanfaat adalah pijat bayi. Pijat bayi terbukti mampu meningkatkan berat badan, memperbaiki kualitas tidur, memperkuat sistem imun, memperlancar pencernaan, mempererat ikatan emosional antara ibu dan bayi, serta merangsang perkembangan motorik dan sensorik . Namun demikian, keberhasilan pijat bayi sangat ditentukan oleh tingkat pengetahuan dan keterampilan ibu. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu masih kurang mendapatkan edukasi mengenai pijat bayi, bahkan sebagian masyarakat lebih mempercayakan praktik pijat bayi kepada dukun bayi atau tenaga non-medis yang belum tentu memiliki kompetensi yang tepat . Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara manfaat pijat bayi yang telah terbukti secara ilmiah dengan praktik yang terjadi di Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak melalui berbagai program, antara lain program percepatan penurunan stunting, intervensi spesifik dan sensitif, pelatihan kader, serta penyediaan media edukasi. Namun, meskipun programprogram tersebut sudah dijalankan, masih banyak ibu yang belum memperoleh informasi memadai mengenai pijat bayi . Oleh karena itu, dibutuhkan intervensi edukasi yang tepat dan mudah dipahami oleh masyarakat. Salah satu media edukasi yang potensial adalah video. Media video memiliki kelebihan berupa kombinasi audio-visual yang dapat memberikan gambaran nyata mengenai suatu Dengan demikian, ibu lebih mudah memahami, mengingat, dan meniru gerakan pijat bayi dengan benar. Beberapa penelitian telah membuktikan efektivitas media video dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu, termasuk dalam perawatan bayi . , . Video edukasi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang pijat bayi adalah video yang memiliki karakteristik audiovisual yang jelas, durasi yang tidak terlalu panjang . Ae10 meni. , menggunakan bahasa sederhana, disertai demonstrasi langsung langkah-langkah pijat bayi, serta dilengkapi dengan penjelasan manfaat dan waktu yang tepat melakukan pijat. Selain itu, penggunaan animasi atau ilustrasi yang menarik serta narasi yang sistematis dapat membantu ibu lebih mudah memahami dan mengingat informasi. Video edukasi yang digunakan dalam penelitian ini memiliki keunggulan dibandingkan video edukasi lainnya, yaitu telah melalui proses validasi oleh ahli media dan ahli materi, sehingga isi yang disampaikan lebih terstruktur, sesuai dengan standar kesehatan, dan mudah dipahami oleh Selain itu, video ini disesuaikan dengan karakteristik responden . bu dengan bayi usia 0Ae12 bula. , menggunakan bahasa yang komunikatif, serta menampilkan praktik pijat bayi secara Hal ini berbeda dengan video umum di media sosial yang seringkali tidak terstandar, kurang sistematis, dan belum tentu sesuai dengan kaidah kesehatan. Dengan demikian, penggunaan video edukasi yang terstandar dan berbasis kebutuhan sasaran terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu dibandingkan media edukasi biasa. Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Puskesmas Tempunak pada bulan April 2025 menemukan bahwa dari lima ibu yang diwawancarai, empat di antaranya tidak mengetahui tentang pijat bayi, sedangkan satu ibu pernah mendengar tetapi belum pernah melakukan karena tidak mendapatkan informasi yang jelas. Wawancara dengan bidan setempat juga mengonfirmasi bahwa hingga kini belum pernah ada program sosialisasi khusus terkait pijat bayi. Program tumbuh kembang yang berjalan masih terbatas pada imunisasi, pemantauan pertumbuhan, deteksi dini gangguan tumbuh kembang (SDIDTK), serta edukasi umum melalui buku KIA. Selain itu, ditemukan satu kasus bayi stunting di wilayah kerja Puskesmas Tempunak, yang menunjukkan bahwa masalah tumbuh kembang masih nyata terjadi di Berdasarkan disimpulkan bahwa masih terdapat kesenjangan pengetahuan ibu mengenai pijat bayi serta belum adanya program edukasi khusus di Puskesmas Tempunak. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian video edukasi terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR pijat bayi di wilayah kerja Puskesmas Tempunak. Kabupaten Sintang. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain preexperimental dengan rancangan one-group pretestposttest design. Desain ini dipilih karena sesuai untuk menilai pengaruh intervensi berupa edukasi berbasis video terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang pijat bayi. Dalam rancangan ini, kelompok responden diberikan pretest untuk mengukur pengetahuan awal, kemudian intervensi berupa pemutaran video edukasi, dan selanjutnya posttest untuk menilai peningkatan pengetahuan setelah Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki bayi usia 0Ae12 bulan yang melakukan kunjungan ke Puskesmas Tempunak. Kabupaten Sintang. Kalimantan Barat, pada bulan Agustus 2025 dengan jumlah 25 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling, sehingga seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Dengan demikian, jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 25 responden. Kriteria inklusi penelitian meliputi ibu yang bersedia menjadi responden, mampu baca tulis, hadir dan menyelesaikan seluruh sesi penelitian. Sementara itu, kriteria eksklusi adalah ibu bayi yang memiliki keterbatasan fisik atau mental yang dapat menghambat partisipasi, serta ibu yang berpindah tempat tinggal selama periode penelitian. Penerapan kriteria tersebut bertujuan untuk memastikan data yang diperoleh sesuai dengan tujuan penelitian. Lokasi penelitian ditetapkan di Puskesmas Tempunak. Kecamatan Tempunak. Kabupaten Sintang. Kalimantan Barat. Pemilihan lokasi didasarkan pada data awal yang menunjukkan belum adanya program edukasi khusus mengenai pijat bayi, sementara kasus stunting masih ditemukan di wilayah kerja tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari 2024 hingga Agustus 2025, mencakup tahap persiapan instrumen, pengumpulan data, dan analisis hasil. Instrumen penelitian terdiri atas video edukasi pijat bayi berdurasi 5 menit 28 detik yang berisi materi pengertian, manfaat, teknik, waktu pelaksanaan, indikasi, dan kontraindikasi pijat bayi. Video ini telah melalui uji validitas isi oleh ahli materi dan ahli media, dengan hasil penilaian yang menyatakan layak digunakan setelah dilakukan beberapa perbaikan. Instrumen kedua adalah kuesioner pengetahuan berjumlah 22 butir pertanyaan yang mencakup aspek pengertian, manfaat, teknik, waktu, serta indikasi dan kontraindikasi pijat bayi. Kuesioner ini telah diuji coba sebelumnya kepada 20 responden dengan Hasil menunjukkan bahwa 22 item pernyataan valid, sedangkan uji reliabilitas menghasilkan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,888 yang termasuk kategori sangat tinggi, sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Prosedur pengumpulan data dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, responden diberikan pretest berupa kuesioner untuk mengukur pengetahuan awal tentang pijat bayi. Kedua, responden diberikan intervensi berupa pemutaran video edukasi pijat bayi sebanyak dua kali. Ketiga, setelah menonton video edukasi pijat bayi sebanyak dua kali pemutaran dengan total durasi 10 menit responden diberikan posttest menggunakan kuesioner yang sama untuk menilai perubahan tingkat pengetahuan. Selama proses penelitian, peneliti menjelaskan tujuan penelitian, memberikan informed consent, serta mendampingi responden dalam pengisian kuesioner untuk memastikan pemahaman. Data yang terkumpul kemudian melalui proses editing, coding, scoring, dan tabulasi. Analisis mendeskripsikan karakteristik responden . sia, pendidikan, pekerjaan, parita. dan distribusi pengetahuan ibu sebelum dan sesudah edukasi. Selanjutnya, analisis bivariat menggunakan uji Paired t-test karena data berdistribusi normal berdasarkan hasil uji Shapiro-Wilk . > 0,. Tingkat signifikansi ditetapkan pada = 0,05. Jika nilai p < 0,05 maka dinyatakan terdapat pengaruh signifikan edukasi berbasis video terhadap pengetahuan ibu tentang pijat bayi. Penelitian ini telah melalui uji etik dan memperoleh ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan STIKES Guna Bangsa Yogyakarta 047/PRO/KEPK/VI/2025. Seluruh responden dilibatkan secara sukarela setelah mendapatkan penjelasan lengkap mengenai tujuan dan prosedur penelitian, serta menandatangani informed consent. Peneliti menjamin kerahasiaan identitas responden dengan prinsip anonymity dan confidentiality, serta memastikan penelitian tidak menimbulkan risiko atau kerugian bagi responden. Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Ibu Responden Frekuensi Persentase Karakteristik Kategori . (%) Usia Ibu <20 tahun 20Ae35 tahun >35 tahun Pendidikan SD/SMP SMA/SMK Diploma/Sarjana Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja 1 anak Paritas 2Ae4 anak >4 anak Tabel 1 menunjukan mayoritas responden berada pada usia 20Ae35 tahun . %), yang merupakan usia reproduktif sehat dan produktif. Pada kelompok usia ini, kemampuan kognitif relatif lebih baik sehingga lebih mudah menerima informasi baru. Sebaliknya, responden <20 tahun . %) memiliki pengalaman terbatas dalam pengasuhan, sehingga pengetahuan awalnya lebih rendah meskipun tetap meningkat setelah edukasi. Responden >35 tahun . %) memiliki pengalaman sebagai ibu, tetapi terkadang kurang akrab dengan media audiovisual sehingga penyerapan materi lebih lambat. Sebagian besar responden berpendidikan SMA/SMK . %), yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan menengah mendominasi. Responden berpendidikan tinggi (Diploma/Sarjana, 12%) memiliki skor awal lebih baik dan peningkatan signifikan pasca intervensi. Hal ini sesuai teori Notoatmodjo . bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin mudah seseorang memahami informasi kesehatan. Sebanyak 72% responden tidak bekerja . bu rumah tangg. , sehingga mereka memiliki waktu lebih banyak bersama anak, tetapi akses terhadap informasi kesehatan relatif terbatas. Responden bekerja . %) cenderung lebih banyak terpapar informasi dari luar, misalnya rekan kerja atau media digital, yang membuat pengetahuan awal mereka lebih tinggi. Namun, setelah diberikan video edukasi, keduanya menunjukkan peningkatan Responden dengan paritas 2Ae4 anak . %) memiliki pengalaman merawat anak lebih banyak dibanding paritas 1 anak . %). Namun, pengalaman saja tidak menjamin pengetahuan yang Hanya melalui edukasi berbasis ilmu kesehatan, responden dapat memahami teknik pijat bayi yang benar. Tabel 2. Rata-rata Skor Pengetahuan Ibu Sebelum dan Sesudah Intervensi Variabel Pre-test Post-test Variabel Min Min Max Max Rata-rata 37,48 77,84 Rata-rata Tabel 2 menunjukan rata-rata skor pre-test adalah 37,48, sedangkan post-test meningkat menjadi 77,84. Skor minimum meningkat dari 14 menjadi 55, sementara skor maksimum meningkat dari 55 menjadi 95. Peningkatan skor ini menunjukkan bahwa pemberian video edukasi memiliki peran yang sangat efektif dalam proses pembelajaran Hal ini terjadi karena video mampu menggabungkan unsur visual dan auditori secara bersamaan, sehingga informasi tidak hanya didengar tetapi juga dilihat secara langsung dalam bentuk demonstrasi. Dalam konteks pijat bayi, penyajian gerakan secara visual sangat membantu ibu dalam memahami teknik yang benar. Hal ini sejalan dengan teori pembelajaran yang menyatakan bahwa kombinasi audio dan visual dapat meningkatkan retensi pengetahuan secara signifikan. Bahkan, skor minimum pasca intervensi sama dengan skor maksimum sebelum intervensi, menandakan bahwa seluruh responden memperoleh manfaat nyata dari edukasi Hal ini sesuai dengan teori DaleAos Cone of Experience (Purnomo & Handayani, 2. , bahwa pembelajaran dengan kombinasi audiovisual meningkatkan daya ingat hingga 70%. Tabel 3. Hasil Uji Normalitas (Shapiro-Wil. Variabel Pre-test Post-test Statistik 0,949 0,930 p-value 0,232 0,880 Tabel 3 menunjukan hasil uji Shapiro-Wilk p-value 0,232 untuk pre-test dan 0,880 untuk posttest. Keduanya lebih besar dari 0,05, sehingga data berdistribusi normal. Distribusi normal ini memungkinkan analisis dilanjutkan dengan uji parametrik Paired t-Test. Uji normalitas penting untuk memastikan bahwa perbedaan yang ditemukan memang valid dan bukan akibat distribusi data yang menyimpang. Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR Tabel 4. Hasil Uji Paired t-Test Variabel Mean Std. Deviasi Pre-test Post-test 8,24 17,16 2,437 2,779 Std. Error Mean 0,487 0,556 Selisih (PreAe Pos. -8,92 3,390 0,678 13,156 Tabel 4 menunjukan hasil uji rata-rata skor pre-test 8,24, meningkat menjadi 17,16 pada posttest, dengan selisih rata-rata 8,92 poin. Nilai t = 13,156 dan p-value = 0,000 (<0,. membuktikan adanya perbedaan signifikan. Artinya, edukasi berbasis video benar-benar efektif meningkatkan pengetahuan ibu tentang pijat bayi. Peningkatan ini selaras dengan penelitian Farokah et al. yang membuktikan bahwa media audiovisual lebih efektif dibanding media cetak dalam edukasi Field . juga menekankan bahwa demonstrasi visual membantu ibu memahami teknik pijat bayi dengan lebih tepat . Karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas ibu berada pada usia produktif 20Ae35 Kelompok ini mengalami peningkatan pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih muda maupun lebih tua. Hal ini dapat dipahami karena pada usia produktif kemampuan kognitif cenderung lebih optimal, sehingga informasi baru lebih mudah diterima. Faktor pendidikan juga terlihat berperan penting. Responden dengan pendidikan yang lebih tinggi lebih mudah memahami materi yang diberikan, sedangkan mereka dengan pendidikan rendah tetap mengalami peningkatan meskipun tidak sebesar kelompok lain. Status pekerjaan turut memengaruhi akses informasi, namun penggunaan video edukasi mampu menjangkau baik ibu rumah tangga maupun ibu yang bekerja. Selain itu, paritas atau jumlah anak yang dimiliki memberikan pengalaman dalam praktik perawatan, tetapi tanpa pengetahuan teoritis yang benar, praktik pijat bayi berisiko tidak dilakukan sesuai kaidah yang tepat. Sebelum rata-rata pengetahuan responden masih berada pada kategori rendah hingga sedang. Kondisi ini menggambarkan keterbatasan informasi tentang pijat bayi yang tersedia di masyarakat. Rendahnya pengetahuan awal juga menunjukkan bahwa ibu memerlukan sumber informasi yang lebih jelas, terarah, dan praktis agar dapat memahami manfaat dan teknik pijat bayi dengan benar. Setelah diberikan intervensi berupa video edukasi, skor pengetahuan responden meningkat secara signifikan. Hampir semua responden mengalami peningkatan skor, bahkan nilai terendah pada saat post-test sudah lebih tinggi dibandingkan nilai tertinggi pada saat pre-test. Temuan ini menegaskan bahwa video edukasi merupakan media yang efektif, karena memberikan kombinasi visual dan audio yang membantu responden memahami dan mengingat informasi dengan lebih Hasil uji statistik juga membuktikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest dan post-test. Hal ini memperlihatkan bahwa video edukasi berpengaruh nyata dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pijat bayi. Media audiovisual terbukti lebih menarik, mudah diikuti, serta dapat memberikan gambaran nyata mengenai praktik pijat, sehingga responden lebih percaya diri untuk mempraktikkannya secara Implikasi praktis dari penelitian ini adalah bahwa video edukasi dapat dijadikan alternatif media penyuluhan kesehatan di puskesmas. Media ini tidak hanya efektif dalam meningkatkan pengetahuan, tetapi juga fleksibel karena dapat diakses dan diputar ulang sesuai kebutuhan. Bagi tenaga kesehatan, khususnya bidan, penggunaan video edukasi dapat memperkuat program promosi kesehatan serta mendukung peningkatan kualitas perawatan bayi di masyarakat. SIMPULAN Penelitian mengenai pengaruh video edukasi terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang pijat bayi di Puskesmas Tempunak Tahun 2025 menunjukkan bahwa mayoritas responden merupakan ibu berusia 20Ae35 tahun, berpendidikan SMA/SMK, tidak bekerja, dan memiliki paritas 2Ae4 anak. Karakteristik ini menggambarkan bahwa responden berada pada usia reproduktif aktif dengan tingkat literasi yang cukup serta memiliki pengalaman dalam merawat anak, sehingga berpotensi lebih mudah menerima informasi kesehatan. Hasil pengukuran sebelum intervensi menunjukkan nilai rata-rata pre-test sebesar 37,48, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan ibu tentang pijat bayi masih tergolong rendah hingga Setelah diberikan intervensi berupa video edukasi, nilai rata-rata post-test meningkat menjadi 77,84. Hasil uji paired t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dengan nilai p = 0,000 . < 0,. , sehingga dapat disimpulkan bahwa video edukasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pijat bayi. Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR Peningkatan ini menunjukkan bahwa media video memiliki keunggulan dalam menyampaikan informasi secara visual dan auditori, sehingga lebih Penyajian materi yang sistematis serta disertai demonstrasi langsung memungkinkan ibu memahami teknik pijat bayi dengan lebih baik. Secara praktis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa video edukasi dapat dimanfaatkan sebagai media penyuluhan kesehatan yang menarik, efisien, dan mudah diakses. Ibu diharapkan lebih proaktif dalam mengikuti kegiatan edukasi di fasilitas kesehatan, sementara Puskesmas dapat mengoptimalkan penggunaan media audiovisual dalam program promosi kesehatan, seperti kelas ibu hamil dan posyandu. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan studi selanjutnya dengan desain yang lebih kuat serta menjadi referensi pembelajaran dalam pendidikan kebidanan terkait pemanfaatan media edukasi berbasis audiovisual. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih khusus ditujukan kepada para ibu bayi di wilayah kerja Puskesmas Tempunak. Kecamatan Tempunak. Kabupaten Sintang, yang telah bersedia meluangkan waktu serta berpartisipasi secara sukarela sebagai responden sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Kepala Puskesmas Tempunak, para bidan, dan kader posyandu yang telah menyediakan fasilitas, memberikan izin, serta membantu kelancaran proses pengumpulan data di lapangan. Dukungan dari pihak akademik, terutama dosen pembimbing dan rekan-rekan sejawat, sangat berarti karena telah memberikan arahan, semangat, serta masukan berharga sejak tahap persiapan hingga penyusunan laporan penelitian. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan penelitian ini tidak akan mungkin tercapai tanpa kontribusi, kerja sama, dan dukungan dari berbagai pihak yang telah disebutkan. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus atas segala bantuan yang telah diberikan. DAFTAR PUSTAKA