Jurnal AUDHI Vol. No. Januari 2026. Pages 87-106 p-ISSN: 2662-2469. e-ISSN: 2774-8243 https://jurnal. id/index. php/AUDHI Pemanfaatan Barang Bekas Berbasis Kearifan Lokal Madura Untuk Meningkatkan Kognitif Anak Nazila Risqina Kamiliyah1*. Yuniatari2. Tarich Yuandana3 1,2,3 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. UniversitasTrunojoyo Madura. Bangkalan. Indonesia E-mail: 220651100078@student. Abstrak - Pendidikan anak usia dini membutuhkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna agar mampu menstimulasi perkembangan kognitif anak secara optimal. Salah satu pendekatan yang relevan adalah pemanfaatan barang bekas berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan barang bekas berbasis kearifan lokal Madura dalam menstimulasi kemampuan kognitif anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan barang bekas, seperti kerang, kardus, pasir pantai, tali kapal dan bahan lokal lainnya yang diintegrasikan dengan kearifan lokal Madura mampu menstimulasi kemampuan kognitif anak dalam aspek berpikir logis dan pemecahan masalah. Anak menunjukkan keterlibatan aktif, antusiasme tinggi, serta peningkatan kemandirian dalam menyelesaikan tugas berbasis proyek. Peningkatan kemampuan kognitif anak tampak pada aspek berpikir logis melalui kemampuan mengelompokkan, mengurutkan, dan menyusun pola secara sistematis, serta pada aspek pemecahan masalah melalui kemampuan anak dalam menemukan solusi alternatif dan menyelesaikan tugas berbasis proyek secara mandiri sesuai tahap perkembangannya. Implikasi penelitian ini adalah media pembelajaran berbasis barang bekas dan kearifan lokal Madura dapat menjadi alternatif model pembelajaran PAUD yang ekonomis, kontekstual, dan sejalan dengan Kurikulum Merdeka melalui pendekatan Problem Based Learning (PBL), sekaligus menanamkan nilai budaya Madura seperti gotong royong dan peduli lingkungan sejak dini. Keterbatasan penelitian ini terletak pada cakupan satu lembaga PAUD dan periode pengamatan yang terbatas, sehingga penelitian lanjutan dengan sampel lebih luas dan jangka waktu lebih panjang diperlukan untuk generalisasi temuan. Kata kunci - Anak Usia Dini. Barang Bekas. Kearifan Lokal Madura. Perkembangan Kognitif Abstract - Early childhood education requires contextual and meaningful learning to optimally stimulate children's cognitive development. One relevant approach is the utilization of used goods based on local wisdom. This study aims to analyze the utilization of used goods based on Madurese local wisdom in stimulating the cognitive abilities of early childhood. The study used a qualitative approach with a case study type. Data were collected through observation, interviews, and Data analysis used the Miles and Huberman model through the stages of data reduction, data presentation, and concluding. The results showed that the utilization of used goods, such as shells, cardboard, beach sand, ship ropes and other local materials integrated with Madurese local wisdom can stimulate children's cognitive abilities in the aspects of logical thinking and problem solving. Children showed active involvement, high enthusiasm, and increased independence in completing project-based tasks. Improved children's cognitive abilities were evident in the aspect of logical thinking through the ability to group, sort, and arrange patterns systematically, as well as in the aspect of problem solving through children's ability to find alternative solutions and complete project-based tasks independently according to their developmental stage. Thise research implies that learning media based on used goods and Madurese local wisdom can be an alternative model for early childhood Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. education (PAUD) that is economical, contextual, and aligned with the Independent Curriculum through a Problem-Based Learning (PBL) approach, while also instilling Madurese cultural values such as cooperation and environmental stewardship from an early age. The limitations of this study lie in the scope of a single PAUD institution and the limited observation period. Therefore, further research with a larger sample size and a longer period is needed to generalize the findings. Keywords - Early Childhood. Recycled Materials. Madura Local Wisdom. Cognitive PENDAHULUAN adura merupakan pulau di sebelah utara Provinsi Jawa Timur yang terkenal dengan tradisi dan budayanya, serta potensi besar di bidang pendidikan. Pulau Madura mempunyai 4 kabupaten, salah satunya ialah Kabupaten Bangkalan. Menurut data referensi pendidikan, jumlah data satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Bangkalan terdapat 1. 058 lembaga yang menuntut tanggung jawab besar dari pemerintah dan masyarakat untuk menyediakan pendidikan berkualitas melalui jalur formal maupun nonformal (Kemendikdasmen, 2. Oleh karena itu, lembaga PAUD perlu memberikan program inovatif dalam kegiatan pembelajaran, seperti pemanfaatan barang bekas yang berada pada daerah daratan maupun daerah pesisir sebagai media pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan kognitif anak usia dini (Adhani & Nazarullail, 2. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. , anak usia dini berada pada rentang usia 0-6 tahun dan merupakan kelompok usia Masa golden age pada usia 0-5 tahun sangat krusial, karena perkembangan 4 tahun pertama setara dengan 14 tahun pembentukan yang sangat pesat. Setelah masa ini, laju perkembangan kecerdasan akan melambat (Baharun et al. , 2. Pendidikan anak usia dini merupakan jenjang dasar yang membentuk karakter dan kepribadian Proses pembelajaran pada jenjang ini berbasis pengalaman nyata untuk membentuk konsep yang bermakna. Pengalaman tersebut mendorong aktivitas dan rasa ingin tahu anak secara optimal, sementara pendidik berperan sebagai pendamping, pembimbing, dan Pendidikan anak usia dini adalah upaya pemberian rangsangan pendidikan sejak lahir hingga usia enam tahun untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan jasmani sertarohani, sehingga anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Adawiyah & Risnawati, 2. Lembaga PAUD menjadi tahap fundamental dalam membentuk kemampuan belajar secara menyeluruh, terutama pada fase emas pertumbuhan otak, di mana stimulasi yang tepat akan menentukan arah perkembangan kognitif Perkembangan pertumbuhan kemampuan berpikir anak yang berkaitan erat dengan kematangan saraf otak. Secara sederhana, ini adalah cara anak belajar memberikan penilaian, dan mempertimbangkan Dengan perkembangan kognitif yang baik, anak tidak hanya sekadar tahu, tetapi mampu menerapkan pengetahuannya dalam situasi baru, berinisiatif dalam melakukan sesuatu, dan mampu berinteraksi secara cerdas dengan lingkungan sosialnya (Warmansyah et al. , 2. Menurut Permendikbud No. 137 Tahun 2014, klasifikasi kognitif anak usia dini, meliputi: . belajar dan pemecahan masalah, mencakup kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari dengan cara fleksibel dan diterima sosial serta menerapkan pengetahuan atau pengalaman dalam konteks yang baru. berfikir logis, mencakup berbagai perbedaan, klasifikasi, pola, berinisiatif, berencana, dan mengenal sebab-akibat. berfikir simbolik, mencakup kemampuan mengenal, menyebutkan, dan menggunakan konsep bilangan, mengenal huruf, serta mampu imajinasinya dalam bentuk gambar (Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 137 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. Pendidik perlu merancang kegiatan belajar yang menyenangkan karena hal ini dapat merangsang perkembangan kognitif anak secara optimal. Suasana belajar yang positif membuat anak lebih fokus, kreatif, dan termotivasi untuk berpikir kritis, memahami, dan memecahkan masalah (Gea & Zega, 2. Perkembangan kognif anak melibatkan dua proses utama, yaitu asimilasi . enyerapan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ad. dan akomodasi . enyesuaian struktur kognitif untuk menerima informasi baru sehingga memperluas skema pengalaman ana. (Damayanti et al. , 2. Pembuatan media pembelajaran memerlukan kreativitas dan inovasi dari guru agar proses belajar berjalan efektif dan menyenangkan (Adawiyah & Risnawati, 2. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah memanfaatkan barang bekas berkearifan lokal Madura sebagai media yang efisien dan dapat menghindari kebosanan anak di kelas Barang bekas adalah benda atau material sisa pakai yang sudah tidak digunakan sesuai fungsi awalnya, namun masih dapat dimanfaatkan kembali sebagai media pembelajaran melalui proses kreativitas dan daur ulang (Zulkarnain & Farhan. Kearifan lokal adalah bagian dari membedakannya dari budaya lain. Kearifan ini berkembang sesuai dengan pandangan hidup, nilai, dan kebiasaan masyarakat setempat (Moningka & Purwanti, 2. Kearifan lokal Madura tercermin dalam pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan sekitar yang dekat dengan kehidupan masyarakat Madura. Salah satu tradisi kerarifan lokal Madura yang paling terkenal adalah tradisi karapan sapi dan sape sonok (Lestari & Kurnia. Sedangkan pemanfaatan barang bekas berbasis kearifan lokal Madura merujuk pada pemanfaatan material bekas dari lingkungan sekitar masyarakat yang diintegrasikan dengan nilai-nilai budaya Madura, baik dari segi bentuk, motif, bahan, maupun nilai filosofisnya. Meskipun memiliki potensi besar, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan. Dalam praktiknya, masih banyak ditemukan orang tua dan guru membeli Alat Permainan Edukatif (APE) dari toko. Kondisi ini menumbuhkan budaya konsumtif, melemahkan kreativitas, dan membuat pembelajaran monoton karena keterbatasan inovasi guru. Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa siswa mudah merasa bosan, sehingga orang tua dan guru perlu mengembangkan kemampuan membuat APE secara mandiri dengan mengintegrasikan unsur budaya lokal (Jazariyah et al. , 2. Peningkatan mutu layanan PAUD dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor internal meliputi kemampuan pengelola dalam memanfaatkan sumber daya dan peran pendidik sebagai fasilitator dengan strategi yang tepat (Rahman. Hal ini dapat mendorong motivasi anak untuk aktif dan kreatif dalam bermain, serta menumbuhkan nilai-nilai karakter. Sementara, faktor eksternal mencakup dukungan dari masyarakat dan Dinas Pendidikan (Kresnawaty. Peran PAUD penyelenggaraan pendidikan sangatlah penting (Melly, 2. Adapun peran pengelola PAUD di antaranya menjabarkan visi, misi, dan tujuan penyelenggaraan pendidikan anak usia dini, memanfaatkan sumber daya yang ada, serta menyusun rencana kerja strategis untuk peningkatan mutu layanan. Pengelola juga bertanggung jawab melibatkan pendidik dan orang tua dalam perencanaan program serta menjalin kemitraan dengan masyarakat (Kresnawaty, 2. Pengelola lembaga memiliki peran strategis dalam mendorong kreativitas pendidik untuk memanfaatkan barang bekas berbasis kearifan lokal sebagai media pembelajaran yang dapat menstimulasi perkembangan kognitif anak, serta membangun sinergi dengan orang tua dalam penyediaan bahan bekas dari lingkungan sekitar. Berdasarkan kajian penelitian terdahulu, teridentifikasi masih terbatasnya kajian yang membahas penggunaan media pembelajaran berbasis barang bekas yang diintegrasikan dengan kearifan lokal Madura sebagai upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini, khususnya pada satuan PAUD yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana. Padahal, pemanfaatan barang bekas yang dipadukan dengan nilai-nilai kearifan lokal pembelajaran yang ekonomis, kontekstual, dan Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. relevan dengan lingkungan belajar anak. Berikut ini dipaparkan beberapa penelitian terdahulu yang relevan. Penelitian oleh Aynullutfihana et al. , . dengan memanfaatkan limbah botol plastik dan kain batik Nusantara sebagai bahan sofa daur ulang yang dikombinasikan dengan teknologi Augmented Reality (AR). Inovasi ini tidak hanya berfokus pada pengelolaan limbah, tetapi juga menggabungkan nilai budaya Indonesia dengan Hasil menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu menghasilkan produk kreatif yang ramah memperkenalkan batik sebagai identitas nasional di ruang digital. Kajian yang dilakukan oleh Sativa et al . menyoroti penggunaan pendekatan etnosains dalam meningkatkan pemahaman konsep sains pada anak usia dini. Pembelajaran dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari berbasis budaya lokal, seperti pengenalan tanaman obat dan Hasil menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep ilmiah anak, tetapi juga menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya daerah serta meningkatkan keaktifan Selanjutnya, penelitian oleh Laili et al . mengembangkan media Puzdaya (Puzzle Buday. untuk mengenalkan literasi budaya Madura pada anak usia dini. Media ini dikemas dalam bentuk permainan edukatif interaktif yang meningkatkan minat dan keterlibatan anak. Temuan menunjukkan bahwa Puzdaya efektif dalam menumbuhkan pengetahuan budaya lokal serta mengembangkan kemampuan bahasa, sosial, dan kognitif anak secara bersamaan. Penelitian Rochimah & Gudnanto . menekankan bahwa pembelajaran PAUD dapat ditingkatkan melalui penerapan permainan tradisional sebagai media edukatif berbasis kearifan lokal. Pendekatan ini terbukti meningkatkan kemampuan sosial, motorik halus dan kasar, sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana penguatan karakter dan pengembangan potensi anak secara holistik. Studi yang dilakukan oleh Putikadyanto et al. mengusulkan penerapan ekokurikulum berbasis kearifan lokal Madura di sekolah Kurikulum menggabungkan nilai ekologis dengan nilai budaya lokal untuk menanamkan kesadaran lingkungan pada siswa. Hasilnya menunjukkan bahwa ekokurikulum mampu memperkuat kesadaran ekologis dan identitas budaya peserta didik, meskipun implementasinya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan pelatihan guru dan dukungan infrastruktur. Sementara itu, penelitian Idhayani et al . menitikberatkan pada inovasi pembelajaran anak usia dini melalui pendekatan kearifan lokal dalam praktik manajemen lembaga PAUD. Penelitian ini memadukan aspek manajemen kreatif, pemberdayaan komunitas, serta kolaborasi antara guru dan orang tua. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi kearifan lokal dalam manajemen pembelajaran mampu menciptakan lingkungan belajar yang dinamis, inklusif, dan relevan dengan konteks budaya Kolaborasi antara PAUD, masyarakat, dan pemerintah daerah juga dinilai efektif dalam membentuk karakter anak yang berakar pada nilai-nilai lokal. Rantina et al. , . menyoroti keterbatasan variasi model pembelajaran yang digunakan guru PAUD dalam menstimulasi kemampuan kolaborasi anak. Sebagian besar guru masih menggunakan model klasikal yang berpusat pada pendidik, sementara hanya sedikit yang menerapkan project-based learning dan STEAM yang terbukti efektif menumbuhkan kerja sama dan tanggung jawab anak. Penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan pemahaman guru terhadap indikator kolaboratif dalam kurikulum serta inovasi model pembelajaran yang mampu mengembangkan keterampilan sosial sejak usia dini. Berdasarkan berbagai temuan penelitian tersebut, secara teoritis pemanfaatan media berbasis lingkungan dan kearifan lokal memiliki hubungan erat dengan perkembangan kognitif anak usia dini. Media pembelajaran berbasis lingkungan dan kearifan lokal, seperti barang bekas, permainan tradisional, dan sumber daya alam sekitar, memiliki hubungan langsung dengan perkembangan kognitif anak usia dini. Melalui media tersebut, anak terlibat dalam Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. membandingkan, mengukur, dan memecahkan masalah, yang merupakan inti dari proses berpikir kognitif. Interaksi anak dengan lingkungan nyata juga mendorong terjadinya proses asimilasi dan akomodasi sebagaimana dikemukakan Piaget, sehingga konsep yang dipelajari menjadi lebih bermakna dan mudah Dengan demikian, pemanfaatan media berbasis lingkungan tidak hanya mendukung pembelajaran kontekstual, tetapi juga berperan penting dalam meningkatkan kemampuan kognitif anak usia dini secara bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan media pembelajaran berbasis barang bekas yang diintegrasikan dengan kearifan lokal Madura dalam menstimulasi kemampuan kognitif anak usia dini di TK ABA Vi Kamal. Kabupaten Bangkalan. Analisis difokuskan pada beberapa aspek, yaitu jenis media berbasis barang bekas yang digunakan guru, pengintegrasian nilai-nilai kearifan lokal dalam kegiatan belajar, dan kemampuan berpikir logis dan pemecahan TK ABA Vi Kamal merupakan salah satu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini yang berlokasi di Kecamatan Kamal. Kabupaten Bangkalan. Meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas pembelajaran, lembaga ini tetap berupaya mendukung perkembangan kognitif anak melalui sarana yang fungsional. Fasilitas yang tersedia saat ini mencakup Alat Permainan Edukatif (APE) sederhana, seperti balok susun, puzzle, serta kartu angka dan huruf yang berfungsi membantu anak dalam berhitung serta mengenal simbol. Guna mengatasi keterbatasan tersebut. TK ABA Vi Kamal berkomitmen mengoptimalkan potensi lingkungan sekitar serta menjalin kemitraan dengan orang tua dan Strategi pemberdayaan sumber daya lokal ini diterapkan untuk memberikan layanan pendidikan berkualitas tanpa terkendala faktor biaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan menggambarkan dan menganalisis hasil secara deskriptif tanpa kesimpulan luas, menghasilkan data berupa kata-kata dari perilaku yang diamati, dengan penekanan pada makna dari pada penalaran (Subagiyo & Kristian, 2. Lokasi penelitian yang dipilih adalah TK Busthanul Athfal (ABA) Vi yang berada di bawah naungan Yayasan Aisyiyah Muhammadiyah, beralamatkan di Jalan Bedak Barat. Masjid AlArqom. Desa Banyuajuh. Kecamatan Kamal. Kabupaten Bangkalan. Lembaga ini telah menerapkan media pembelajaran berbahan barang bekas dalam pembelajaran formal. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, beberapa layanan pembelajaran yang pernah diberikan dengan memanfaatkan sumber daya lokal, yaitu pada kegiatan pembuatan mainan tradisional menggunakan pelepah pisang, botol bekas, dan tempurung kelapa. Melalui kegiatan tersebut, anak diajak untuk berpikir kreatif, hubungan sebab-akibat. Aktivitas ini tidak hanya menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah, seperti saat anak menentukan cara menyusun bahan menjadi mainan yang utuh, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir simbolis ketika mereka menggunakan hasil karyanya untuk bermain imajinatif, misalnya mengubah botol bekas menjadi mobilmobilan. Berdasarkan paparan tersebut, penelitian ini METODE PENELITIAN Subjek penelitian ini terdiri atas kepala sekolah, dua orang guru . asing-masing guru kelas TK A dan TK B), seluruh peserta didik kelompok TK A dan TK B yang berjumlah 26 anak, serta tiga orang perwakilan wali murid yang bersedia memberikan pendapat. Penentuan subjek penelitian dilakukan secara purposive sampling berdasarkan peran dan keterlibatan langsung subjek dalam proses pembelajaran. Kepala sekolah dipilih karena memiliki kewenangan dalam perencanaan dan pengawasan kebijakan pembelajaran di sekolah. Dua orang guru dipilih sebagai subjek penelitian dengan kriteria: . merupakan wali kelas TK A dan TK B yang mengajar dan mendampingi peserta didik secara . terlibat aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran berbasis media barang bekas kearifan lokal Madura. memiliki pengalaman mengajar yang memadai dan memahami karakteristik perkembangan anak usia dini. bersedia memberikan data penelitian secara objektif. Peserta didik dilibatkan sebagai subjek utama penelitian untuk Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. mengetahui dampak langsung dari intervensi pembelajaran yang diberikan. Selain pihak sekolah, penelitian ini juga melibatkan wali murid untuk memperoleh data yang komprehensif melalui triangulasi sumber. Keterlibatan orang tua sangat krusial untuk memvalidasi apakah peningkatan kemampuan kognitif anak yang distimulasi melalui media barang bekas di sekolah juga terinternalisasi dan dipraktikkan dalam aktivitas anak di lingkungan Dengan melibatkan keempat kelompok subjek ini, data yang diperoleh diharapkan mampu menggambarkan proses pembelajaran secara holistik dari berbagai perspektif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dokumentasi (Sugiyono, 2. Data primer diperoleh melalui kegiatan observasi proses pembelajaran di kelas TK A dan TK B dengan menggunakan instrumen observasi yang sama, perbandingan data secara objektif. Untuk menunjukkan perbandingan data perkembangan kognitif anak secara objektif. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur perkembangan kognitif anak mengacu pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) Permendikbud No. 137 tahun Berikut tabel aspek kognitif yang diamati pada anak usia 4Ae5 tahun . elas TK A): Tabel 1. Aspek Kognitif Usia 4-5 Tahun Aspek Kognitif Indikator Berpikir Logis Mengklasifikasi berdasarkan warna, bentuk, dan ukuran Mengurutkan benda 2-3 seriasi ukuran atau warna Pemecahan Masalah Mengenal berdasarkan fungsi Berikut tabel aspek kognitif yang diamati pada anak usia 5Ae6 tahun . elas TK B). Tabel 2. Aspek Kognitif Usia 5-6 Tahun Aspek Kognitif Berpikir Logis Indikator Mengenal perbedaan berdasarkan ukuran Mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentuk, ukuran . Mengurutkan benda berdasarkan ukuran dari paling kecil ke paling besar atau sebaliknya Mengenal pola ABCDABCD dan mengulanginya Pemecahan Masalah Menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif dan Memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari Menerapkan pengetahuan atau pengalaman dalam konteks baru Mengkreasikan dengan bimbingan guru masalah sederhana Mengenal sederhana dalam kehidupan sehari-hari Mengetahui konsep banyak dan sedikit Menunjukkan sikap kreatif dalam menyelesaikan Untuk menunjukkan perbandingan data perkembangan kognitif anak secara objektif, penelitian pada anak usia dini tidak menggunakan skala angka statistik, tetapi menggunakan skala kualitatif baku nerdasarkan STPPA yang dapat dikuantifikasi secara Skala yang digunakan adalah empat tingkatan capaian perkembangan, yaitu: Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. Tabel 3. Skala STTPA Kode Skala STPPA Keterangan Belum Berkembang Anak meskipun dengan Mulai Anak banyak bantuan BSH Berkembang Anak indikator secara BSB Berkembang sangat baik Anak melakukan indikator dengan mandiri, dan dapat membantu teman Perbedaan temuan observasi yang dihasilkan menunjukkan perbedaan tingkat pencapaian perkembangan kognitif anak usia 4Ae5 tahun dan 5Ae6 tahun sebagaimana tercantum dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA), dan bukan disebabkan oleh Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah serta guru kelas TK A dan TK B, sedangkan dokumentasi berupa foto dan rekaman kegiatan pembelajaran dimanfaatkan sebagai data Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber literatur, antara lain buku, jurnal ilmiah, dan modul ajar yang digunakan di sekolah (Subhaktiyasa, 2. Di dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan instrumen berupa pedoman wawancara dan lembar observasi. Pedoman wawancara disusun dengan menyesuaikan karakteristik kelompok dan pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada masingmasing kelas. Wawancara dengan Guru TK A difokuskan pada pengenalan konsep dasar kognitif, seperti warna, bentuk, dan ukuran, sesuai dengan tahap perkembangan anak. Sementara itu, wawancara dengan Guru TK B difokuskan pada pembelajaran berbasis proyek yang mendorong kemampuan berpikir tingkat lebih tinggi, seperti kreativitas dan pemecahan Penyesuaian pedoman wawancara ini bertujuan untuk memperoleh data yang relevan dan sesuai dengan konteks pembelajaran serta perkembangan kognitif anak. Pedoman wawancara yang digunakan terangkum dalam Tabel 4. Tabel 4. Pedoman Wawancara Informan Fokus Pertanyaan Indikator yang Kepala Sekolah Kebijakan barang bekas dan kearifan lokal Madura Dukungan Guru TK Proses dan respons Jenis . erang, kardus, dan ukuran Guru TK B Proses proyek mandiri dan kognitif tingkat tinggi Pemecahan secara mandiri Wali Murid Dampak di rumah Kreativitas anak, terhadap belajar Sedangkan lembar observasi terangkum dalam tabel di bawah ini: Gambar 1. Teknik Pengumpulan Data Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. Tabel 5. Lembar Observasi No. Aspek yang Diamati Bahan bekas yang digunakan dalam Nilai budaya Madura yang ditanamkan . otong royong dan peduli lingkunga. Aspek kognitif anak: Berpikir logis Pemecahan masalah Proses pembelajaran: Tahapan kegiatan Interaksi anak Antusiasme anak Kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada kelas TK A dan TK B diberikan perlakuan yang sama, yaitu sama-sama membuat hasil karya pigura foto dari barang bekas menggunakan bahan yang sama. Akan tetapi, dari persamaan perlakuan tersebut terlihat perbedaan dari proses pengerjaan dan hasil karya. Kegiatan pembelajaran di kelas TK A difokuskan pada pengenalan warna, bentuk, dan ukuran melalui media kerang dan kardus dengan tingkat kesulitan yang lebih sederhana, serta masih membutuhkan guru dalam proses pembuatan pigura foto. Sementara untuk kelas TK B, kegiatan pembelajaran diirancang lebih kompleks dengan melibatkan pemecahan masalah dan kreativitas yang lebih tinggi. Anakanak kelas B diberikan kesempatan sendiri dalam merancang proyek sendiri menggunakan kombinasi berbagai barang bekas. Hasil karya yang diperoleh, anak TK B menghasilkan karya yang lebih rapi dan indah. Perbedaan hasil yang diperoleh merefleksikan perbedaan tingkat pencapaian perkembangan kognitif anak usia 4Ae 5 tahun dan 5Ae6 tahun. Menurut Piaget, perkembangan berpikir anak berlangsung secara bertahap, dan usia 2 hingga 7 tahun termasuk dalam tahap pra-operasional. Pada tahap ini, anak mulai menggunakan simbol, kata, dan gambar untuk memahami lingkungan sekitarnya, meskipun kemampuan berpikir logis belum berkembang secara optimal dan masih Perbedaan usia antara anak kelas TK A . Ae5 tahu. dan TK B . Ae6 tahu. menyebabkan perbedaan tingkat pemahaman dan kompleksitas berpikir simbolik yang tercermin dalam aktivitas belajar dan respons anak selama proses Pengambilan data di kelas TK A dan TK B dilakukan oleh tiga tim peneliti yang terdiri dari tiga orang dengan pembagian tugas seperti sebagai berikut: dua orang melakukan observasi langsung di masing-masing kelas . atu orang di kelas A dan satu orang di kelas B) untuk mencatat aktivitas anak selama kegiatan pembelajaran, sementara satu orang peneliti melakukan wawancara dengan kepala sekolah, guru kelas, dan orang tua. Pengambilan data dilakukan secara bersamaan untuk kedua kelas guna menjaga konsistensi waktu pengamatan. Sebelum pelaksanaan pengambilan data, dilakukan penyamaan persepsi antar pengumpul data untuk memastikan konsistensi dan objektivitas hasil observasi Keabsahan menggunakan tiga kriteria, yaitu: valid, reliabel, dan objektif. Penelitian ini menggunakan uji keabsahan data yang dikembangkan oleh (Sugiyono, 2. berupa triangulasi. Triangulasi merupakan pengecekan data dengan cara menelusuri data dari berbagai sumber melalui berbagai cara dan waktu. Adapun triangulasi penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber adalah pengujian keabsahan data dengan cara mengecek data yang diperloleh melalui sumber. Sedangkan triangulasi teknik adalah pengujian keabsahan data dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, misalnya data yang diperoleh melalui observasi kemudian disinkronkan dengan wawancara (Subhaktiyasa, 2. Adapaun tahapan-tahapan penelitian ini yaitu: Gambar 2. Flowcart Penelitian Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Sekolah TK Aisyiyah Busthanul Athfal (ABA) Vi Kamal merupakan lembaga pendidikan anak usia dini berstatus swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Aisyiyah. Lembaga ini berbentuk Taman Kanak-Kanak dan didirikan pada tahun 2008 dengan Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) 20566443. TK ABA Vi Kamal beralamat di Jalan Bedak Barat. Masjid Al-Arqom. Desa Banyuajuh. Kecamatan Kamal. Kabupaten Bangkalan. Sebagai lembaga pendidikan formal. TK ABA Vi Kamal berkomitmen dalam memberikan layanan pendidikan anak usia dini yang berorientasi pada pengembangan potensi anak secara holistik melalui kegiatan pembelajaran yang sesuai perkembangan anak. Komitmen ini diwujudkan melalui pemanfaatan lingkungan sekitar dan sumber daya lokal sebagai bagian dari media pembelajaran, termasuk penggunaan barang bekas dan unsur budaya Madura, yang sejalan dengan upaya meningkatkan kemampuan kognitif anak. Visi Misi Lembaga Visi : Mewujudkan pribadi unggul yang sehat, cerdas, kreatif dn berakhlaq mulia Misi : Menciptakan profil pelajar yang berakhlak mulia dan rajin beribadah. Meningkatkan mutu lulusan yang sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Ipte. Mewujudkan proses pembelajaran yang aktif kreatif inovatif dan menyenangkan. Meningkatkan mutu pendidikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan generasi bermoral, kreatif, maju dan mandiri. Membina kemandirian peserta didik kewirausahaan, dan pengembangan diri yang terencana dan berkesinambungan Menciptakan lingkungan sekolah sebagai tempat perkembangan intelektual, sosial, pengembangan budaya lokal dalam kebhinekaan global. Visi dan misi tersebut mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis barang bekas dan kearifan lokal Madura, karena mendorong kreativitas, kemandirian, serta pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sarana belajar yang bermakna bagi perkembangan kognitif anak. ABA Vi Kamal melaksanakan kegiatan pembelajaran kreatif berupa pembuatan pigura foto dari bahan bekas berkearifan lokal Madura. Kegiatan ini memanfaatkan bahan-bahan bekas yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, yaitu kardus bekas sebagai dasar atau rangka pigura, kertas bekas untuk hiasan dan pelapis, tali bekas kapal sebagai penggantung pigura, serta serbuk pasir kapal dan kulit kerang sebagai hiasan alami yang mencerminkan kearifan lokal pesisir Madura. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa barang bekas dapat diolah kembali menjadi karya yang bermanfaat dan bernilai seni. Kegiatan pembuatan pigura ini tidak hanya mendukung pembelajaran kreatif dan ramah lingkungan di sekolah, tetapi juga meningkatkan perkembangan kognitif anak serta mengenalkan kearifan lokal daerah Madura kepada peserta Berdasarkan hasil observasi terhadap 26 siswa . siswa TK A dan 15 siswa TK B) selama kegiatan pembelajaran menggunakan media barang bekas berbasis kearifan lokal Madura, ditemukan bahwa kemampuan kognitif anak mengalami perkembangan yang positif. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan kognitif anak terlihat melalui dua aspek utama, kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah sederhana. Kemampuan Berpikir Logis Pengamatan terhadap perkembangan kognitif anak TK A yang berjumlah 11 anak dilakukan selama proses pembelajaran menggunakan media barang bekas berbasis kearifan lokal Madura, khususnya kerang laut sebagai salah satu bahan yang digunakan. Aspek berpikir logis yang diamati meliputi mengklasifikasikan benda berdasarkan kriteria tertentu dan mengurutkan benda berdasarkan ukuran. Kedua indikator ini Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. merupakan bagian penting dari perkembangan kognitif anak usia 4-5 tahun yang tertuang dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA). Hasil pengamatan menunjukkan tingkat pencapaian perkembangan anak yang bervariasi, mulai dari kategori Mulai Berkembang (MB). Berkembang Sesuai Harapan (BSH), hingga Berkembang Sangat Baik (BSB). Data perkembangan kognitif anak TK A pada aspek berpikir logis dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 6. Kemampuan Berpikir Logis Anak TK A (Usia 4Ae5 Tahu. Indikator BSH BSB Mengklasif n satu . arna/uku Mengurutk an benda dari kecil ke besar sesekali masih memerlukan konfirmasi dari guru. Sebanyak 2 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), di mana mereka mampu mengurutkan kerang secara mandiri dan konsisten, bahkan dapat melakukannya dengan urutan terbalik . ari besar ke keci. tanpa kesulitan. Sementara itu, 2 anak lainnya masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang belum mampu mengurutkan kerang dari kecil ke besar secara konsisten dan masih memerlukan bimbingan intensif dari guru untuk memahami konsep urutan seriasi. Pada indikator mengklasifikasikan benda berdasarkan satu kriteria, sebanyak 9 dari 11 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), menunjukkan bahwa mereka mampu mengelompokkan kerang berdasarkan satu kriteria seperti warna atau ukuran dengan Mereka dapat memisahkan kerang biru dari lainnya atau memisahkan kerang besar dari kerang kecil. Namun, anak-anak ini masih mengelompokkan berdasarkan dua kriteria sekaligus, misalnya kerang kuning berukuran besar atau kerang hijau berukuran kecil. Sebanyak 2 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang memerlukan bantuan guru untuk memahami konsep pengelompokan, seperti membedakan kerang berdasarkan warna atau ukuran secara konsisten. Gambar 3. Kegiatan Kemampuan Berpikir Logis Anak Kelompok A Pada gambar tersebut, terlihat anak-anak kelompok A sedang melakukan kegiatan pembelajaran membuat pigura dari bahan-bahan bekas yang telah disiapkan oleh lembaga. Alat dan bahan yang digunakan antara lain: kardus bekas, kertas bekas, lem, pasir serbuk kapal, tali kapal, dan kerang-kerang yang sudah diwarnawarni. Kegiatan kemampuan kognitif, khususnya berpikir logis. Sedangkan, perkembangan kognitif anak TK B yang berjumlah 15 anak dilakukan selama proses pembelajaran menggunakan media barang bekas berbasis kearifan lokal Madura. Aspek berpikir logis yang diamati meliputi kemampuan mengklasifikasikan benda, mengurutkan benda, dan mengenal pola ABCD. Data perkembangan kognitif anak TK B pada aspek berpikir logis dapat dilihat pada tabel berikut: Pada indikator mengurutkan benda dari kecil ke besar, sebanyak 7 dari 11 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang mampu mengurutkan kerang dari ukuran kecil ke besar dengan cukup baik, meskipun Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. Tabel 7. Kemampuan Berpikir Logis Anak TK B (Usia 5-6 Tahu. Indikator BSH BSB Mengenal Indikator BSH BSB Mengklasifikasi kan benda warna, bentuk, ukuran . Mengurutkan Mengenal pola ABCD-ABCD Pada indikator mengenal perbedaan berdasarkan ukuran, sebanyak 9 dari 15 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang menunjukkan bahwa mereka mampu mengenali dan membedakan benda berdasarkan ukuran, seperti membedakan kerang besar, sedang, dan kecil dengan benar. Sebanyak 6 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), di mana mereka tidak hanya mampu membedakan ukuran benda, tetapi juga dapat menjelaskan perbedaan ukuran tersebut menggunakan kosakata yang tepat seperti paling besar, lebih kecil, atau sama besar, serta mampu membandingkan ukuran beberapa benda sekaligus secara tepat. Seluruh anak telah Mulai Berkembang, menunjukkan pemahaman yang baik terhadap konsep perbedaan ukuran. Pada indikator mengklasifikasikan benda berdasarkan warna, bentu, dan ukuran, sebanyak 9 dari 15 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), menunjukkan bahwa mereka mampu mengelompokkan benda berdasarkan tiga variasi kriteria, yaitu warna, bentuk, dan ukuran. Mereka dapat memisahkan kerang berdasarkan warna yang sama, bentuk yang serupa, atau ukuran yang sesuai ketika Sebanyak 4 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang mampu mengklasifikasikan benda berdasarkan kombinasi dua atau tiga kriteria sekaligus, misalnya mengelompokkan kerang biru berbentuk bulat berukuran besar, atau kerang merah berbentuk oval berukuran kecil. Sementara itu, 2 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang memerlukan bimbingan guru untuk memahami konsep klasifikasi berdasarkan beberapa variasi kriteria dan cenderung hanya mampu mengelompokkan berdasarkan satu kriteria saja. Pada indikator mengurutkan benda berdasarkan mengurutkan benda berdasarkan ukuran, sebanyak 7 dari 15 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang mampu mengurutkan benda dari ukuran kecil ke besar dengan cukup baik, meskipun sesekali masih memerlukan konfirmasi dari guru. Sebanyak 6 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), di mana mereka mampu mengurutkan benda secara mandiri dan konsisten, bahkan dapat melakukannya dengan urutan terbalik . ari besar ke keci. atau mengurutkan lebih dari 5 seriasi tanpa kesulitan. Sementara itu, 2 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang belum mampu mengurutkan benda secara konsisten dan masih memerlukan bimbingan intensif dari guru untuk memahami konsep urutan seriasi, terutama ketika jumlah benda yang diurutkan lebih dari tiga. Pada indikator mengenal pola ABCD-ABCD, sebanyak 9 dari 15 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang mampu menyusun pola ABCD-ABCD dengan sedikit bimbingan dari guru. Mereka dapat menyusun pola empat unsur yang berulang, misalnya kerang biru-merah-kuning-hijau-birumerah-kuning-hijau, dan memahami konsep pengulangan pola tersebut. Sebanyak 4 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang mampu menyusun pola ABCD-ABCD secara mandiri, konsisten dalam mengulangi pola, dan bahkan dapat menciptakan variasi pola yang lebih kompleks atau mengidentifikasi kesalahan dalam pola yang Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. telah dibuat. Sementara itu, 2 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang masih memerlukan contoh konkret dan arahan langsung dari guru untuk memahami konsep pola empat unsur, serta kesulitan dalam mengingat urutan dan mengulangi pola secara Tabel 8. Kemampuan Pemecahan Masalah Anak TK A (Usia 4-5 Tahu. Indikator BSH BSB Mengenal Indikator BSH BSB Mengenal sehari-hari Mengetahui banyak dan Mengkreasi kan sesuatu guru untuk an masalah Gambar 4. Kegiatan Kemampuan Berpikir Logis Kelompok B Sama seperti pembelajaran di kelas A, anakanak kelompok B juga membuat pigura foto dari bahan bekas yang telah disiapkan. Anak-anak sedang menyusun dan menempel bahan bekas lokal seperti kerang bermacam-macam warna dengan beragam ukuran dan serbuk kapal pada media kertas. Aktivitas ini melatih kemampuan berpikir logis anak. Anak-anak juga mampu mendengarkan instruksi guru dengan baik sebelum membuat karya pigura. Kemampuan Pemecahan Masalah Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan kognitif anak usia dini. Kemampuan ini meliputi keterampilan anak dalam mengenal fungsi benda, memahami konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari, berpikir kreatif, serta menerapkan permasalahan yang dihadapi. Aspek pemecahan masalah yang diamati meliputi kemampuan mengenal benda berdasarkan fungsi, mengenal konsep sederhana, mengetahui konsep banyak dan sedikit, dan mengkreasikan sesuatu dengan bimbingan guru untuk menyelesaikan masalah Data perkembangan kognitif anak TK A pada aspek pemecahan masalah dapat dilihat pada tabel berikut: Pada indikator mengenal benda berdasarkan fungsi, sebanyak 7 dari 11 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang menunjukkan bahwa mereka mampu mengenali dan menyebutkan fungsi bendabenda yang digunakan dalam kegiatan, seperti mengetahui bahwa lem digunakan untuk merekatkan, kardus sebagai dasar pigura, kerang sebagai hiasan, dan tali kapal sebagai gantungan Sementara itu, 4 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang memerlukan bimbingan guru untuk memahami fungsi setiap benda, terutama benda-benda yang jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti serbuk pasir kapal dan tali kapal. Belum ada anak yang mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), menunjukkan bahwa pemahaman mendalam tentang fungsi benda masih perlu ditingkatkan melalui pengalaman langsung yang lebih banyak. Pada indikator mengenal konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari, sebanyak 8 dari 11 Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), menunjukkan bahwa mereka mampu memahami konsep sederhana seperti merekatkan, menempel, menyusun, menghias, dan mengurutkan dalam konteks kegiatan membuat pigura. Mereka dapat mengikuti instruksi guru untuk menyelesaikan tahapantahapan pembuatan pigura dengan cukup baik. Sebanyak 3 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang memerlukan penjelasan berulang dan bimbingan langsung untuk memahami konsep-konsep sederhana dalam proses pembuatan, seperti urutan langkah kerja atau cara menempelkan bahan dengan rapi. Belum ada anak yang mencapai kategori BSB, menerapkan konsep sederhana secara mandiri dan kreatif masih perlu dikembangkan lebih Pada indikator mengetahui konsep banyak dan sedikit, sebanyak 5 dari 11 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang mampu membedakan dan menunjukkan konsep banyak dan sedikit ketika diminta, misalnya menempel kerang yang banyak di satu sisi dan sedikit di sisi lain, atau membandingkan jumlah kerang yang mereka gunakan dengan teman sebaya. Sebanyak 3 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang tidak hanya mampu membedakan banyak dan sedikit, tetapi juga dapat menghitung jumlah benda secara sederhana dan membuat perbandingan kuantitatif dengan menggunakan kata-kata seperti lebih banyak, lebih sedikit, atau sama banyak secara tepat. Sementara itu, 3 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang masih kesulitan membedakan konsep banyak dan sedikit secara konsisten dan memerlukan contoh konkret serta bimbingan berulang dari guru. Pada indikator mengkreasikan sesuatu dengan bimbingan guru untuk menyelesaikan masalah sederhana, sebanyak 6 dari 11 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang mampu mengikuti bimbingan guru untuk menyelesaikan masalah sederhana dalam proses pembuatan pigura, seperti mengatasi kesulitan menempel kerang, memilih warna yang sesuai, atau menyusun hiasan dengan rapi. Sebanyak 2 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang menunjukkan inisiatif dalam menyelesaikan masalah secara mandiri, mencoba berbagai cara ketika menghadapi kesulitan, dan bahkan memberikan ide kreatif sendiri dalam menghias pigura tanpa bergantung sepenuhnya pada instruksi guru. Sementara itu, 3 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang sangat bergantung pada bimbingan guru dalam setiap langkah dan sederhana secara mandiri, sering kali memerlukan bantuan langsung dari guru untuk mengatasi hambatan dalam proses pembuatan. Sedangkan, perkembangan kognitif anak TK B pada aspek pemecahan masalah yang diamati meliputi kemampuan menunjukkan aktivitas eksploratif, memecahkan masalah sederhana, menerapkan pengetahuan atau pengalaman dalam konteks baru, dan menunjukkan sikap kreatif dalam menyelesaikan masalah. Data perkembangan kognitif anak TK B pada aspek pemecahan masalah dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 9. Kemampuan Pemecahan Masalah Anak TK B (Usia 5-6 Tahu. Indikator BSH BSB Menunjukka n aktivitas yang bersifat Memecahka n masalah sehari-hari Menerapkan konteks baru Menunjukka n sikap an masalah Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. Pada indikator menunjukkan aktivitas yang bersifat eksploratif dan menyelidik, sebanyak 10 dari 15 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang menunjukkan bahwa mereka aktif mengeksplorasi bahanbahan yang tersedia, mencoba berbagai kombinasi warna kerang, bereksperimen dengan cara menempel serbuk pasir kapal, dan menyelidiki bagaimana cara membuat hiasan yang menarik pada pigura mereka. Sebanyak 5 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, mengajukan pertanyaan tentang bahan-bahan yang digunakan, mencoba teknik baru secara mandiri, serta melakukan eksplorasi mendalam seperti membandingkan hasil karya mereka dengan teman atau mencoba membuat pola hiasan yang lebih kompleks. Seluruh anak telah melampaui tahap Mulai Berkembang, menunjukkan bahwa mereka penyelidikan yang baik sesuai dengan usia perkembangan mereka. Pada indikator memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, sebanyak 9 dari 15 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), menunjukkan bahwa mereka mampu mengatasi masalah sederhana yang muncul selama kegiatan, seperti mengatasi lem yang terlalu banyak, menyusun kerang yang jatuh, atau menemukan cara agar tali kapal dapat dipasang dengan kuat sebagai cantolan. Sebanyak 4 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang mampu memecahkan masalah secara mandiri dan kreatif, menemukan solusi, serta membantu teman yang mengalami kesulitan dengan memberikan saran atau contoh cara menyelesaikan masalah. Sementara itu, 2 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang masih memerlukan bimbingan guru secara intensif menemukan solusinya, serta belum mampu menyelesaikan masalah sederhana secara Pada indikator menerapkan penegtahuan atau pengalaman dalam konteks baru, sebanyak 7 dari 15 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang mampu menerapkan pengetahuan yang telah mereka pelajari sebelumnya dalam kegiatan membuat pigura, seperti menggunakan teknik menempel yang pernah dipelajari, mengaplikasikan konsep warna dan pola, atau menerapkan pengalaman menghias dari kegiatan sebelumnya ke dalam karya pigura mereka. Sebanyak 5 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang tidak hanya mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari, tetapi juga dapat memodifikasi dan mengadaptasinya dalam konteks baru, seperti menggabungkan teknik dari beberapa kegiatan sebelumnya untuk menggunakan bahan-bahan dengan cara yang berbeda dari instruksi awal. Sementara itu, 3 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang kesulitan mengaitkan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya dengan kegiatan baru dan cenderung memulai setiap kegiatan dari awal tanpa memanfaatkan pengalaman belajar sebelumnya. Pada indikator menunjukkan sikap kreatif dalam menyelesaikan masalah, sebanyak 9 dari 15 anak berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH), yang mampu menunjukkan kreativitas dalam menghias pigura mereka, mencoba variasi dalam menyusun kerang, membuat pola hiasan yang berbeda dari contoh. Sebanyak 4 anak telah mencapai kategori Berkembang Sangat Baik (BSB), yang menunjukkan kreativitas tinggi dengan menciptakan desain pigura yang sangat unik, menggabungkan berbagai elemen dengan cara yang inovatif, memberikan ide-ide baru yang belum pernah ditunjukkan oleh guru, serta mampu menjelaskan alasan kreatif di balik pilihan desain mereka. Sementara itu, 2 anak masih berada pada kategori Mulai Berkembang (MB), yang cenderung meniru contoh yang diberikan guru tanpa menambahkan variasi sendiri, belum menunjukkan inisiatif untuk mencoba pendekatan yang berbeda, dan memerlukan dorongan serta stimulus tambahan untuk mengembangkan kreativitas mereka dalam menyelesaikan masalah. Setelah melalui proses pembelajaran yang kreativitas menggunakan media barang bekas berbasis kearifan lokal Madura, anak-anak berhasil menyelesaikan hasil karya berupa pigura foto. Kegiatan pembuatan pigura ini merupakan bentuk aplikasi dari kemampuan kognitif yang telah dikembangkan, khususnya Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. dalam aspek berpikir logis dan pemecahan Anak-anak menggunakan kerang laut, serbuk pasir kapal, dan bahan-bahan lokal lainnya. Proses pembuatan pigura tidak hanya melatih kemampuan kognitif dan kreativitas, tetapi juga mengajarkan anak-anak untuk menghargai benda-benda di sekitar mereka dan memahami nilai kearifan lokal budaya Madura. Setiap kelompok menunjukkan keunikan dalam desain mencerminkan imajinasi dan kerja sama antar anggota kelompok. Hasil karya ini kemudian dipasangkan dengan foto anak-anak yang telah dicetak oleh lembaga sebagai kenang-kenangan yang bermakna. Gambar 7. Hasil Karya TK A Anak-anak kelompok A menunjukkan hasil karya pigura foto yang telah mereka buat bersama dengan kelompok masing-masing disertai foto yang telah dicetak oleh lembaga Gambar 8. Hasil Karya TK B Anak-anak kelompok B menunjukkan hasil karya pigura foto yang telah mereka buat bersama dengan kelompok masing-masing disertai foto yang telah dicetak oleh lembaga. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah sekolah guru kelas TK A dan TK B, diperoleh informasi bahwa diperoleh informasi bahwa pemanfaatan barang bekas berbasis kearifan lokal Madura telah diterapkan di lembaga ini, meskipun belum dilakukan secara rutin dalam setiap semester. Kepala sekolah menyatakan bahwa kegiatan ini masih dilaksanakan sebanyak satu kali dalam satu semester sebagai variasi pembelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang berbeda kepada anak-anak. Guru kelas B menjelaskan bahwa sumber daya lokal yang dimanfaatkan sangat beragam, meliputi botol plastik bekas, kulit telur, biji jagung, kerang dari pantai, serta kain perca batik Madura yang diolah menjadi karya kreatif seperti kura-kura, mobil-mobilan, kolase, dan berbagai bentuk lainnya (GB). Media-media ini dipilih karena mudah diperoleh di lingkungan sekitar sekolah dan rumah siswa, serta memiliki nilai edukatif yang tinggi dalam merangsang kreativitas dan kognitif anak. Guru kelas A juga menyampaikan bahwa anak yang masih memerlukan bimbingan ekstra umumnya memiliki tingkat konsentrasi dan kesiapan belajar yang berbeda, sehingga membutuhkan pendampingan individual dan pengulangan instruksi. Meskipun demikian, kedua guru menilai bahwa media pembelajaran berbasis barang bekas cukup efektif dalam menarik perhatian anak dan membantu pemahaman konsep sederhana, khususnya pada kegiatan belajar sambil bermain yang sejalan dengan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) dalam Kurikulum Merdeka. Guru kelas A dan kelas B sama-sama menekankan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif pada berbagai aspek perkembangan anak, tidak hanya kognitif, tetapi juga bahasa, sosial-emosional, moral, dan nilai Anak-anak belajar bekerja sama dalam kelompok, berbagi bahan, menghargai hasil karya teman, serta mengembangkan rasa syukur atas ciptaan Tuhan yang dapat dimanfaatkan Namun, guru mengakui bahwa terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan kegiatan ini, seperti keterbatasan waktu untuk persiapan bahan, variasi jenis barang bekas yang terkadang sulit diperoleh dalam jumlah yang cukup, serta perlunya koordinasi yang baik dengan orang tua bahan-bahan Hasil wawancara dengan beberapa perwakilan Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. wali murid siswa menunjukkan bahwa wali murid memiliki persepsi positif terhadap kegiatan pemanfaatan barang bekas dalam pembelaran di TK ABA Vi Kamal. Wali murid menyatakan bahwa mereka mendapatkan informasi tentang kegiatan ini dari guru melalui pemberitahuan yang disampaikan sebelum kegiatan dilaksanakan, sehingga mereka memiliki waktu untuk mempersiapkan bahanbahan yang dibutuhkan oleh anak. Menurut wali murid dengan inisial M dan K, kegiatan ini perkembangan kreativitas anak, mengajarkan konsep daur ulang dan pemanfaatan barang bekas, serta menanamkan sikap peduli lingkungan sejak dini. Selain itu, anak menunjukkan peningkatan inisiatif dalam membuat mainan sederhana dari bahan yang tersedia di rumah. Wali murid dengan inisal S juga menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan lebih sering, karena mereka melihat antusiasme anak yang tinggi dan perkembangan kemampuan anak yang semakin Mereka menilai bahwa pembelajaran berbasis barang bekas tidak hanya hemat biaya, tetapi juga memberikan nilai edukatif yang tinggi dan relevan dengan kehidupan sehari-hari Temuan dari observasi dan wawancara tersebut diperkuat dengan membandingkan data dari menunjukkan bahwa guru TK A dan TK B menyusun RPPH yang memuat tujuan, indikator, materi, serta penggunaan media pembelajaran berbasis barang bekas sesuai dengan capaian Media kemampuan anak dalam mengenal bentuk, warna, ukuran, serta berhitung melalui aktivitas bermain dan eksplorasi bahan dari lingkungan Setyowati . keterlibatan anak secara langsung dalam membuat media pembelajaran dari bahan bekas dapat meningkatkan kreativitas dan keterlibatan belajar anak. Keterlibatan aktif ini memiliki hubungan erat dengan perkembangan kognitif, karena pada saat anak merancang, memilih, dan menyusun bahan bekas menjadi suatu bentuk tertentu, anak melakukan proses mengamati, mengelompokkan, mencoba berbagai alternatif, serta mengevaluasi hasil karyanya. Proses tersebut merupakan bagian dari kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah. Oleh karena itu, pemanfaatan media berbasis barang bekas dan kearifan lokal Madura, seperti botol, kardus, kerang, dan pasir pantai, tidak hanya menumbuhkan kreativitas dan kepedulian lingkungan, tetapi juga secara langsung menstimulasi kemampuan kognitif anak usia dini melalui aktivitas berpikir aktif dan Temuan bahwa pemanfaatan barang bekas mampu meningkatkan keterlibatan belajar dan aktivitas berpikir anak diperkuat oleh penelitian Sartika . yang mengkaji penerapan recycle botol bekas di TK Ceria Sinjai Barat. Kegiatan tersebut tidak hanya menumbuhkan minat dan keaktifan anak, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan partisipatif. Faktor pendukung utama keberhasilan program ini adalah ketersediaan bahan di lingkungan sekitar dan dukungan guru yang kreatif, sementara faktor penghambatnya mencakup rendahnya keterlibatan orang tua dan rasa percaya diri anak. Apriyani dan Surahman . menunjukkan bahwa metode bermain bukan sekadar kegiatan rekreatif, tetapi strategi pedagogis utama dalam mengoptimalkan aspek kognitif, sosial, emosional, dan motorik anak. Pembelajaran yang mengintegrasikan konsep Aubelajar sambil bermainAy terbukti lebih efektif dalam menumbuhkan kemandirian, daya pikir kritis, serta keaktifan anak di kelas. Guru memiliki peran penting dalam merancang kegiatan bermain yang bermakna dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak. Sementara itu, penelitian Novianti et al. , . menghadirkan inovasi permainan edukatif Tebona (Tepuk Bola Warn. untuk melatih konsentrasi anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permainan berbasis gerak dan warna ini mampu meningkatkan fokus, koordinasi, serta semangat belajar anak. Inovasi ini membuktikan bahwa pembelajaran berbasis permainan menumbuhkan konsentrasi dan motivasi belajar secara signifikan. Kedua hasil penelitian ini relevan dengan penelitian di TK ABA Vi Kamal Bangkalan yang mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan lokal melalui media barang bekas. Sama seperti permainan Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. edukatif dan metode bermain, pemanfaatan bahan lokal seperti kerang dan tali kapal juga menumbuhkan konsentrasi, kreativitas, dan interaksi sosial anak. Pendekatan ini menggabungkan nilai budaya Madura, prinsip Problem Based Learning, serta pembelajaran aktif yang menumbuhkan daya cipta dan karakter anak secara holistik. Secara keseluruhan, pemanfaatan barang bekas berbasis kearifan lokal Madura nggak cuma tingkatkan kognitif dan kreativitas anak, tapi juga ajarin daur ulang serta imajinasi lewat proses bikin sendiri, meski ada kendala seperti biaya atau bahan langka yang diatasi pakai alternatif lokal dan bantuan orang tua. Strategi ini bikin belajar menyenangkan, bermakna, tanamkan nilai budaya dini, dan kuatkan ikatan sekolah-keluarga, cocok buat kebutuhan anak usia dini di pesisir. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa menggunakan barang bekas bisa membantu meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir anak usia dini. Menurut Kuswati . , barang bekas yang berasal dari sekitar sekolah tidak hanya bisa jadi solusi mengelola sampah, tetapi juga bisa menjadi alat belajar yang baik dalam menstimulasi kreativitas anak melalui aktivitas bermain dan Pendekatan ini menggabungkan pembelajaran kontekstual dengan pendidikan lingkungan, sehingga peran guru sebagai fasilitator sangat penting dalam mengelola media pembelajaran yang sederhana namun Hasil penelitian tersebut didukung oleh Pramudiyanti et al. , . dan Wilda . yang menggunakan pendekatan dan metode Melalui pendampingan berbasis pengembangan komunitas berbasis Asset Based Community Development serta metode Single Subject Research, kedua penelitian tersebut memperkuat bahwa memanfaatkan media dari barang bekas bisa meningkatkan keterampilan motorik halus dan kreativitas anak secara Selain itu, kegiatan belajar ini juga berdampak baik pada pembentukan nilai sosial seperti kerja sama dan tanggung jawab, sehingga menciptakan suasana belajar yang Selanjutnya. Ariska . mengembangkan penggunaan barang bekas melalui pembelajaran daring dengan teknik decoupage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak tetap bisa berkembang dalam kreativitas dan ekspresi diri di rumah dengan bantuan orang tua. Temuan ini memanfaatkan barang bekas sangat fleksibel dan bisa diterapkan dalam berbagai kondisi pembelajaran, termasuk ketika ada keterbatasan seperti selama masa pandemi. Jika dikaitkan dengan penelitian di TK ABA Vi Kamal Bangkalan. Hasil observasi menunjukkan bahwa anak terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan memanfaatkan barang bekas berbasis kearifan lokal Madura, seperti kerang, pasir pantai, kardus, dan tali mengelompokkan, dan menyusun bahan sesuai instruksi guru. Selain itu, hasil wawancara penggunaan media tersebut memudahkan anak memahami konsep sederhana serta mendorong interaksi dan kerja sama antar anak selama proses pembelajaran. Orang tua juga menyampaikan bahwa anak menunjukkan minat dan inisiatif untuk mengulang aktivitas serupa di rumah. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan barang bekas tidak hanya mendukung perkembangan kognitif dan sosial anak, tetapi juga menanamkan nilai budaya lokal dan kepedulian terhadap lingkungan, kontekstual dan selaras dengan pendekatan Problem-Based Learning dalam Kurikulum Merdeka. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan barang bekas berbasis kearifan lokal Madura efektif dalam menstimulasi perkembangan kognitif anak usia dini kelompok A dan B di TK ABA Vi Kamal Bangkalan. Media pembelajaran yang berasal dari lingkungan sekitar dan budaya lokal mampu menciptakan pengalaman belajar yang konkret, kontekstual, dan bermakna bagi anak. Proses pembelajaran akomodasi, di mana anak menyerap informasi baru melalui pengalaman langsung dengan media barang bekas dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki Received 04 November 2025. Accepted 24 Januari 2026. Published 30 Januari 2026 Kamiliyah. Yuniatari. Yuandana. Vol. 08 No. 02, 2026, pp. mengembangkan kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah secara bertahap sesuai dengan tahapan perkembangannya. Pada kelompok TK A, kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah berada pada tahap awal perkembangan. Anak telah mampu mengklasifikasikan dan mengurutkan objek berdasarkan satu kriteria sederhana serta permasalahan sederhana, meskipun masih memerlukan pendampingan guru untuk tugas yang lebih kompleks. Sedangkan pada kelompok TK B, kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah berkembang lebih Anak mampu melakukan klasifikasi ganda, menyusun urutan dan pola secara sistematis, serta menunjukkan kemandirian menemukan solusi alternatif, meskipun sebagian kecil masih memerlukan bimbingan. Pembelajaran berbasis barang bekas juga kemandirian anak dalam kegiatan belajar, serta menumbuhkan sikap kreatif, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan. Integrasi kearifan lokal Madura dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya memperkuat identitas budaya anak, tetapi juga menjadikan proses belajar selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka melalui pendekatan Problem-Based Learning (PBL). Dukungan orang tua dalam penyediaan bahan dari pembelajaran tetap terlaksana meskipun terdapat keterbatasan sarana dan biaya, sehingga tercipta pengalaman belajar yang kontekstual dan relevan bagi anak. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar guru lebih sering memanfaatkan media pembelajaran berbasis barang bekas dalam kegiatan rutin sehingga anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih konsisten, sekaligus memberikan bimbingan individual kepada anak yang masih memerlukan pendampingan khusus. Sekolah diharapkan dapat memfasilitasi penyediaan bahan serta menjalin kerja sama dengan orang tua dan masyarakat sekitar agar pemanfaatan barang bekas lebih optimal dan terarah sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Orang tua juga diharapkan terus mendukung kegiatan ini dengan menyediakan bahan yang dibutuhkan serta membiasakan anak memanfaatkan barang bekas di rumah sebagai sarana belajar dan Selain itu, bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas kajian pada aspek perkembangan lain seperti bahasa, motorik, maupun moral agama, serta meneliti efektivitas pembelajaran dengan media barang bekas dalam jangka waktu yang lebih panjang dengan sampel yang lebih luas untuk memperoleh generalisasi temuan yang lebih UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada Universitas Trunojoyo Madura atas dukungan pendanaan dan fasilitas penelitian dan kepada kepala sekolah, guru, serta orang tua siswa TK ABA Vi Kamal yang telah memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan penelitian Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan. DAFTAR PUSTAKA