Jurnal Manajemen. Bisnis & Akuntansi Vol. No. Oktober 2025. Hal 78-86 e-ISSN : 3089-3313 https://jurnal. com/index. php/wlb/index ANALISIS PEMAHAMAN AKUNTANSI TERHADAP PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN (Studi pada Orang Asli Papua (OAP) Pelaku UMKM di Kabupaten Merauk. Mohamad Ilham1 . Maria . Epin2. Irene Ipijei3. Jakoba Okmot Winem4. Agnes Casparina Ice Kenweng5 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Musamus, m_ilham@unmus. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Musamus, wainip@unmus. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Musamus, ireneipijei92@gmail. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Musamus. Jakoba11@gmail. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Musamus, agnesCi@gmail. Riwayat Artikel: Received: 2/10/2025 Revised: 16/10/2025 Accepted: 30/10/2025 Publlished: 30/10/2025 Corresponding Author: Nama: Mohamda Ilham Email: m_ilham@unmus. A 2025 The Authors. This open access article is distributed under a (CC-BY Licens. Abstract: This study aims to analyze the understanding of accounting and financial statement preparation practices by indigenous Papuans (OAP) who are MSME entrepreneurs in Merauke Regency, as well as to identify the main obstacles in implementing SAK EMKM. This study uses a descriptive qualitative method with a case study approach. Primary data were collected through in-depth interviews with five . informants who were OAP MSME entrepreneurs selected Data analysis was conducted through data reduction, data presentation, and conclusion drawing (Miles and Huberman mode. The results of the study indicate that the understanding of accounting and financial statement preparation practices by MSME actors is still low due to low accounting literacy and knowledge of SAK EMKM, where only one of the five informants had knowledge of these standards. The application of accounting in the field is still very basic, limited to simple recording of cash inflows and outflows . ash flo. , and does not yet comply with SAK EMKM requirements. The main obstacles faced include: limited accounting knowledge . ue to minimal socialization and low educational background in financ. , as well as limited resources . ime, energy, and technical skill. because MSME players prioritize daily operational activities. Keywords: Accounting Understanding. Financial Statements Penelitian menganalisis pemahaman akuntansi dan praktik penyusunan laporan keuangan oleh Orang Asli Papua (OAP) pelaku UMKM di Kabupaten Merauke, serta mengidentifikasi kendala utama dalam mengimplementasikan SAK EMKM. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data mendalam dengan lima . informan OAP pelaku Abstrak: Vol. No. Oktober 2025 UMKM yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan . odel Miles dan Huberma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi dan praktik penyusunan laporan keuangan oleh pelaku UMKM masih tergolong rendah yang disebabkan oleh tingkat literasi akuntansi dan pengetahuan mengenai SAK EMKM masih rendah, di mana hanya satu dari lima informan yang memiliki pengetahuan tentang standar tersebut. Penerapan akuntansi di lapangan masih sangat dasar, yaitu hanya sebatas pencatatan sederhana rekapitulasi kas masuk dan kas keluar . rus ka. , dan belum sesuai dengan persyaratan SAK EMKM. Kendala utama yang dihadapi meliputi: keterbatasan pengetahuan akuntansi . kibat minimnya sosialisasi dan rendahnya latar belakang di bidang keuanga. , serta keterbatasan sumber daya . aktu, tenaga, dan keterampilan tekni. karena pelaku UMKM memprioritaskan kegiatan operasional harian. Kata kunci : Pemahaman Akuntansi. Laporan Keunagan PENDAHULUAN Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor ekonomi yang berperan penting dalam mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi Keberagaman jenis usaha, produk, dan layanan yang disertai dengan penawaran harga kompetitif mendorong pelaku UMKM untuk terus berinovasi guna mempertahankan keberlangsungan usahanya. Di Kabupaten Merauke, hingga Juli 2024 tercatat sebanyak 6. 712 unit UMKM, yang menunjukkan potensi ekonomi lokal yang cukup besar. Diharapkan peningkatan jumlah UMKM ini akan terus bertambah diimbangi dengan peningkatan kualitas usaha dan keberhasilan UMKM. Keberhasilan UMKM dapat diartikan sebagai kemampuan pemilik usaha dalam mengelola dan mengembangkan modal yang dimiliki. Salah satu indikator penting keberhasilan tersebut adalah peningkatan modal usaha yang dikelola secara efektif. Menurut (Rizky et al. , 2. seorang pengusaha harus memiliki keinginan berprestasi, rasa tanggung jawab, kemampuan berinovasi, serta keterampilan manajerial agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan. Dalam konteks pengelolaan usaha. Kemampuan manajerial tersebut mencakup berbagai aspek, salah satunya adalah kemampuan dalam mengelola keuangan usaha. Pengelolaan keuangan yang baik akan menghasilkan informasi yang akurat dan dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan finansial yang tepat. Informasi keuangan yang baik menjadi dasar penting dalam upaya pengembangan usaha karena membantu pemilik dalam mengambil keputusan finansial secara tepat. salah satu aspek penting dari kemampuan manajerial adalah pengelolaan keuangan yang baik. Berdasarkan hasil survei awal terhadap 30 responden pelaku UMKM di Kabupaten Merauke, sebanyak 22 pelaku . %) belum memiliki pembukuan yang tertib. Kondisi ini menunjukkan bahwa praktik akuntansi di kalangan pelaku UMKM masih rendah dan belum sepenuhnya mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan Entitas Ilham dkk, : Analisis Pemahaman Akuntansi Mikro. Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). SAK EMKM merupakan standar yang disahkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada tahun 2018 yang bertujuan memudahkan UMKM dalam menyusun laporan keuangan yang sederhana, relevan, dan mudah Laporan keuangan tidak hanya berfungsi sebagai alat informasi internal, tetapi juga merupakan wujud pertanggungjawaban eksternal dalam menjalankan aktivitas bisnis. Meskipun SAK EMKM disusun untuk memudahkan pelaku UMKM dalam menyusun laporan keuangan, berbagai studi menunjukkan bahwa penerapannya di berbagai daerah masih menghadapi sejumlah hambatan. Temuan empiris di lapangan dalam penelitian (Tatik et al. , 2. menyatakan bahwa banyaknya pelaku UMKM di Kota Lhokseumawe yang belum mengetahui SAK EMKM, serta anggapan bahwa penerapan SAK EMKM itu terlalu sulit dan memperlama penyusunan laporan. Kondisi serupa muncul di Kabupaten Gorontalo. Hasil penelitian (Rahim, 2. menunjukkan bahwa penerapan akuntansi pada UMKM belum sesuai dengan penerapan SAK EMKM. Penyebab tidak maksimalnya penerapan SAK EMKM dipengaruhi oleh beberapa faktor (Aray Pantare Alam & Maria Rio Rita, 2. mengemukan bahwa latar belakang pendidikan, sosialisasi SAK EMKM, dan pemahaman SAK EMKM memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penerapan SAK EMKM, lebih lanjut ditegaskan bahwa Latarbelakang pendidikan merupakan variabel yang paling dominan terhadap penerapan SAK EMKMselain itu penelitian (Susanto et al. , 2. yang menunjukkan kualitas sumberdaya manusia dan pemanfaatan teknologi berperan terhadap implementasi SAK EMKN. Berdasarkan fenomena dan hasil penelitian sebelumnya, terlihat adanya kesenjangan antara kebijakan normatif SAK EMKM dan praktik akuntansi di tingkat pelaku UMKM, khususnya di daerah seperti Kabupaten Merauke. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya kajian lebih lanjut untuk menganalisis bagaimana penerapan akuntansi dijalankan oleh pelaku UMKM di wilayah tersebut serta faktor-faktor yang memengaruhi implementasinya. Study Literatur yang digunakan didalam penelitian ini terdiri dari dua bagian yakni pemahaman akuntansi pelaku UMKM dan Laporan Keuangan UMKM. Pemahaman akuntansi pelaku UMKM merupakan proses pencatatan transaksi atau aktivitas ekonomi suatu entitas bisnis dalam periode tertentu dengan tujuan untuk menghasilkan laporan Pemahaman akuntansi dapat diperoleh dari proses Pendidikan formal maupun pendidikan non formal seperti pelatihan dan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun akuntansi memiliki peran yang cukup penting dalam pengelolaan usaha namun tingkat kesadaran dan pemanfaatan informasi di kalangan UMKM masih sangat rendah (Rachmawati & Hidayatullah, 2. Selain itu (Tasya & Yanthi, 2. menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan, ketersediaan fasilitas teknologi, skala usaha, dan pelatihan akuntansi berpengaruh positif terhadap penggunaan sistem informasi akuntansi pada UMKM di Kabupaten Sidoarjo. Hasil penelitian (Rachmawati & Hidayatullah, 2. menunjukkan bahwa pemahaman akuntansi berpengaruh positif terhadap penyusunan laporan keuangan oleh pelaku UMKM yang berarti bahwa semakin tinggi pemahaman akuntansi yang dimiliki oleh pelaku UMKM, akan semakin tinggi pula kemungkinan pelaku UMKM akan melakukan pencatatan akuntansi. Pemahaman akuntansi dapat difeinisikan sebagai kemapuan dalam memahami dengan baik serta menerapkan praktek proses akuntansi dalam menjalankan usaha. Laporan Keuangan UMKM adalah Laporan keuangan merupakan catatan yang berisikan informasi mengenai kondisi keuangan sebuah entitas usaha. Dalam prakteknya pelaku UMKM dapat merujuk pada SAK EMKM disahkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Keterbatasan pemahaman akuntansi pelaku UMKM mendorong adanya standar yang memiliki karakteristik sesuai kebutuhan kebutuhan entitas bisnis . lebih Vol. No. Oktober 2025 mudah dipahami, diharpakan SAK EMKM menyederhanakan proses pelaporan Tujuan utama SAK EMKM adalah . memudahkan UMKM dalam menyusun laporan . SAK EMKM memberikan format laporan keuangan yang lebih ringkas dan mudah dipahami. Meningkatkan literasi keuangan UMKM. meningkatkan kredibilitas dan akses pendanaan. Menyediakan informasi yang relevan dan berguna. SAK EMKM mengatur transaksi umum yang sering terjadi di UMKM, seperti penjualan, pembelian, dan hutang. Adapun laporan keuangan sesuai SAK EMKM adalah sebagai berikut : Laporan Posisi Keuangan (Nerac. : Menyajikan posisi aset, liabilitas, dan ekuitas UMKM pada suatu tanggal tertentu. Laporan Laba Rugi: Menyajikan hasil usaha . aba atau rug. UMKM selama suatu periode tertentu. Catatan atas Laporan Keuangan: Menyajikan informasi tambahan yang relevan untuk memahami laporan keuangan, seperti kebijakan akuntansi yang Hasil penelitian (Kesuma et al. , 2. menyatakan bahwa Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK EP) pada Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan suatu hal yang penting dalam menunjang transparansi dan kredibilitas informasi keuangan. (Kurniawan, 2. dalam penelitiannya menemukan bahwa UMKM dengan pengetahuan akuntansi yang baik cenderung tampil lebih baik secara finansial. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk memahami secara mendalam penerapan akuntansi pada pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro. Kecil, dan Menengah (SAK EMKM) di Kabupaten Merauke. Penelitian ini bersifat studi kasus dengan fokus pada pengalaman dan persepsi pemilik UMKM dalam menerapkan akuntansi dalam kegiatan usahanya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh melalui wawancara. Informan penelitian terdiri dari Lima orang pelaku UMKM yang merupakan Orang Asli Papua (OAP), yang dipilih secara purposive karena dianggap memahami secara langsung praktik akuntansi dalam usaha . Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman . yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemahaman Akuntansi Suatu entitas bisnis didirikan dengan tujuan untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan, meningkatkan profitabilitas, serta menciptakan nilai tambah bagi pemilik dan pemangku kepentingan. Pertumbuhan dan keberlanjutan usaha bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam mengelola keuangan secara efektif dan efisien, karena pengelolaan keuangan baik memungkinkan optimalisasi sumber daya dan pengambilan keputusan yang tepat. Pengelolaan keuangan yang efektif dan efisien dapat dilakukan ketika tersedia informasi keuangan yang akurat dan memadai. Untuk menghasilkan informasi tersebut, terdapat standar yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntans Indonesia (IAI) sebagai pedoman untuk penyusunan laporan keuangan bagi pelaku UMKM yakitu Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil dan Menengah (SAK EMKM). Tujuan SAK EMKM adalah mempermudah pelaku UMKM dalam penyusun laporan keuangan yang akurat dan efisien. Ilham dkk, : Analisis Pemahaman Akuntansi Berikut ini merupakan gambaran informan terhadap pengetahuan mengenai standar Akuntansi / SAK EMKM. Tabel 1. 1 Pengetahuan Terhadap Standar Akuntasi Informan Hasil Wawancara Informan 1 Untuk penyusunan laporan keuangan belum pernah ikut pelatihan, jadi saya belum tau kalau ada aturannya. Informan 2 Untuk penyusunan laporan keuangan saya juga pernah ikut pelatihan cuman belum tau klo ada standar untuk laporan UMKM Informan 3 Klo buat laporan keuangan memang pernah 1 kali ikut, diajarkan mungkin sesuai standar Saya tau, karena pernah ikut pelatihan laporan keuangan, . Waktu kuliah juga diajarkan. Saya tidak tauA Informan 4 Informan 5 Sumber : hasil wawancara . ata diolah tahun 2. Berdasarkan Tabel 1. 1 diatas diketahui bahwa dari 5 informan penelitian, hanya 1 . informan yang memiliki pengetahuan tentang standar akuntansi untuk pelaku usaha UMKM. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat literasi akuntansi di kalangan pelaku UMKM masih tergolong rendah. Kondisi tersebut sejalan dengan hasil penelitian (Welly et al. , 2. yang menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku UMKM belum mengetahui perihal SAK EMKM. Hal tersebut dikarenakan minimnya sosialisasi pihak terkait kepadapara pelaku UMKM. Pemahaman akuntansi menjadi dasar dalam praktek penyusunan laporan keuangan yang baik benar. Pemaham akuntansi dapat diperoleh dari proses pendidikan maupuan pelatihan yang pernah diikuti hal ini sejalan dengan penelitian (Jayanti & Febriyanto, 2. , (Pratiwi & Lestary, 2. dan (Ayuningtyas & Budiantara, 2. Faktor pendukung lainnya menurut (Susanto et al. , 2. adalah kualitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi. Selian itu, menurut (Astuti et al. , 2. menyatakan bahwa skala usaha juga turut memengaruhi keinginan UMKM dalam menerapkan SAK EMKM dalam penyusunan laporan leuangan. Penerapan Akuntansi Pengetahuan akuntansi merupakan pemahaman yang dimiliki seseorang tentang cara menyusun laporan keuangan. Proses penyusunan laporan keuangan diawali dari tahapan memahami transaksi yang seharusnya dicatatat berdasarkan bukti transaksi yang sah. Pemahaman akuntansi yang memadai akan mempermudah pelaku usaha dalam mengimplementasikan penyusunan laporan keuangan secara benar dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Berikut ini data hasil wawancara mengenai penerapan akuntansi dalam hal penyusunan laporan keuangan oleh pelaku UMKM dalam praktik penyusunan laporan keuangan, baik dari tahap pencatatan transaksi hingga penyajian laporan akhir. Vol. No. Oktober 2025 Tabel 2. Perapan Akuntansi dan Penyusunan Laporan Keuangan Pencatatan Transaksi Kendala yang Informan Laporan Keuangan Kas Masuk Kas Keluar Informan 1 Tidak Tidak tidak ada hanya saya tidak paham ingat saja uang yang menyusun laporan keluar dan uang hasail penjualan itu saya pake beli laporan uang masuk dan keluar saja seperti yang pembuatan buku kas cuman saya tidak keuangan, baru di rumah sibuk urus saya tidak punya anak buah, dan saya juga sibuk urus usaha jadi untuk konsisten ini saya Informan 2 Dilakukan Dilakukan Informan 3 Dilakukan Dilakukan laporan uang dari penjualan sama klo beli bahan saya kadang waktunya dan saya masih belajar karena belum terlalu paham buat laporan yang Informan 4 Dilakukan Dilakukan laporan penjualan dan laporan kurangnya waktu karen usaha inisaya jalankan sendiri, dan kadang uang yang saya pake buat kebutuha sehari-hari Informan 5 Tidak Tidak Tidak ada laporan saya tidak paham karena masih baru buka usaha ini Sumber : hasil wawancara . ata diolah tahun 2. Berdasarkan Tabel 2 di atas, diketahui bahwa penerapan akuntansi oleh pelaku UMKM masih bersifat sederhana dan merujuk pada pengetahuan yang terbatas dan kebutuhan informasi keuangan. Dari Lima infoman yang diwawancarai, hanya Tiga diantaranya yang membuat laporan keuangan walaupun dapat dikatakan laporan keuangan tersebut masih sangat terbatas dan belum sesuai dengan standar SAK EMKM yang berlaku. Penyusunan laporan keuangan hanya sebatas rekapitulasi kas masuk dan kas keluar tanpa adanya pengklasifikasian transaksi secara sistematis. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (Winda Ilyani Rahim, 2. dan temuan (Dewi et al. yang mengungkapkan bahwa pelaku UMKM hanya membuat laporan keuangan dengan sederhana sesuai dengan pengetahuannya, lebih lanjut dijelakan bahwa faktor Ilham dkk, : Analisis Pemahaman Akuntansi yang mempengaruhi hal tersebut adalah pemahaman akuntansi, latar belakang pendidikan, kompetensi dan kualitaas sumber daya manusia. Pengetahuan akuntansi yang dimiliki diimplementasi dalam pengelola usaha dalam bentuk penyusunan laporan keuangan, namun dengan keterbatasan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan yang singkat belum mampu menjamin UMKM dapat menyusun laporan keuangan sesuai dengan SAK EMKM. Pengetahuan yang terbatas hanya membantu dalam pencatatan catatan keuangan sederhana seperti pencatatan buku kas . enerimaan dan pengeluara. Hasil wawancara ini memberikan gambaran bahwa pemahaman akuntansi yang sangat dasar memberikan efek pada kesadaran awal akan pentingnya penyusunan informasi keuangan . eperti jumlah pengeluaran dan penerimaa. yang tentunya sangat terbatas jika ingin dikelola dalam pengambilan keputusan dalam pengembangan usaha. Namun hasil penelitian ini ternyata memiliki kesamaan atas temuan (Banea, 2. bahwa pelaku UMKM dengan pemahaman akuntansi rendah dalam proses bisnisnya hanya mencatat arus kas masuk kas dan arus kas keluar. Penyusunan laporan keuangan memerlukan sumber daya seperti waktu, tenaga, dan keterampilan teknis. Faktor-faktor tersebut sering kali menjadi kendala utama dalam penerapan akuntansi pada sektor UMKM. Dalam praktiknya, sebagian besar pelaku UMKM lebih memfokuskan waktu pada kegiatan operasional dibanding pada pencatatan dan penyusunan laporan keuangan secara konsisten. Keterbatasan sumber daya ini memperkuat temuan sebelumnya (Handayani, et al. , 2. bahwa rendahnya penerapan pemahaman akuntansi bukan semata disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga oleh keterbatasan sumber daya. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa penerapan akuntansi pada pelaku UMKM masih berada pada tahap yang sangat dasar dan belum sesuai dengan standar SAK EMKM. Mayoritas pelaku UMKM hanya melakukan pencatatan keuangan sederhana dalam bentuk rekapitulasi kas masuk dan kas keluar tanpa adanya proses pengklasifikasian transaksi maupun penyusunan laporan keuangan secara menyeluruh. Kondisi ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan akuntansi, rendahnya tingkat pendidikan formal di bidang keuangan, serta minimnya pelatihan dan sosialisasi dari lembaga terkait. Selain itu, keterbatasan sumber daya seperti waktu, tenaga, dan kemampuan teknis turut menjadi hambatan dalam penerapan akuntansi yang lebih baik. Pelaku UMKM cenderung memprioritaskan kegiatan operasional dibandingkan penyusunan laporan keuangan yang sistematis. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan, pendampingan teknis, serta sosialisasi intensif mengenai penerapan SAK EMKM menjadi hal yang sangat penting untuk mendorong peningkatan kualitas pelaporan keuangan pada sektor UMKM. DAFTAR PUSTAKA