Lukmanul Hakim, dkk IMPLEMENTASI METODE SOROGAN DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA KITAB KUNING DI PONDOK PESANTREN ISLAHUDINY KEDIRI LOMBOK BARAT Lukmanul Hakim1. Yudhi Setiawan2. Masnun Tahir3. Abdul Fattah4 1,2,3,4 Universitas Islam Negeri Mataram. NTB mhs@uinmataram. Abstract Studying and reading kitab kuning is not an easy thing because it requires perseverance and the right method in teaching it. The objectives pf this research are to find The implementation of sorogan method in improving the ability to read kitab kuning at Islahuddiniy Islamic Boarding School and supporting an inhibiting factors in the implementation of sorogan method. The researcher used descriptive qualitative research in this research. The research data were obtained through interview, observation and documentation techniques. The researcher use data reduction, data display and conclusion drawing in data analysis techniques. The results of the research show that the implementation of the sorogan method is carried out by students first reading the book that has been determined by the ustadz or teacher, then the ustadz or teacher listens, pays attention, and provides Supporting factors in implementing the sorogan method are the presence of ustadz or teachers who have the qualities or are competent in applying the sorogan method, the existence of books that are available, the existence of a structured schedule, and students who have a basic knowledge of nahwu sharaf. Meanwhile, the inhibiting factors are limited time and the lack of uniformity in students' understanding of the science of nahwu sharaf. Through this sorogan method, an ustadz can provide direction, control the reading and be able to determine the students' ability to master nahwu sharaf as a tool to improve the students in reading kitab kuning. Keywords: Reading Ability. Kitab Kuning. Sorogan Method Abstrak Mempelajari dan membaca kitab kuning bukanlah hal yang mudah karena diperlukan ketekunan dan metode yang tepat dalam pengajarannya. Penelitian ini untuk mengetahui implementasi metode sorogan dalam meningkatkan kemampuan baca kitab kuning di Pondok Pesantren Islahuddiny Kediri Lomnbok Barat dan faktor pendukung serta penghambat dalam pelaksanaannya. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif bersifat deskriptif. Data penelitian diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan Kariman. Vol. 12 No. | 31 Lukmanul Hakim, dkk bahwa pelaksanaan metode sorogan dilakukan dengan cara santri membaca terlebih dahulu kitab yang telah ditentukan oleh ustadz atau tuan guru kemudian ustadz atau tuan guru mendengarkan, memperhatikan, memberikan komentar. Faktor-faktor pendukung dalam pelaksanaan metode sorogan yaitu adanya ustadz atau tuan guru yang memiliki kualitas atau berkompeten dalam menerapkan metode sorogan, adanya kitab yang telah tersedia, adanya jadwal yang terstruktur, dan santri yang memiliki dasar ilmu nahwu sharaf. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat yaitu keterbatasan waktu dan ketidakseragaman pemahaman santri dalam memahami ilmu nahwu sharaf. Melalui, metode sorogan ini dapat memungkinkan seorang ustadz dapat memberikan arahan, mengontrol bacaan serta dapat mengetahui kemampuan santri dalam menguasai nahwu sharaf sebagai alat untuk memperbaiki bacaan santri dalam membaca kitab Kata Kunci: Kemampuan Membaca Santri. Kitab Kuning. Metode Sorogan Pendahuluan Dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia tercatat bahwa pondok pesantren sebagai pendidikan khas asli Indonesia dapat dikategorikan sebagai bentuk lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang selain telah berhasil mengembangkan dan membina kehidupan beragama di Indonesia. Pondok pesantren juga ikut berperan dalam mereproduksi ulama, memelihara tradisi keIslaman, mentransfer ilmu keIslaman, mentransmisikan Islam ke dalam kehidupan masyarakat, menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia, dan ikut serta berperan aktif dalam upaya mencerdaskan kehidupan Pesantren didefinisikan sebagai suatu tempat pendidikan dan pengajaran yang menekankan ajaran agama Islam dan didukung asrama dengan tempat tinggal santri yang bersifat permanen. Melihat tujuan pesantren secara khusus adalah mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam Santri yang sudah dibekali ilmu dari pondok pesantren diharapkan dapat mengamalkannya supaya bermanfaat bagi diri maupun orang lain. Pondok pesantren merupakan salah satu tempat pembelajaran agama yang tidak terlepas dari pembelajaran kitab kuning. Berbagai metode tertentu telah dihadirkan untuk digunakan dalam pembelajaran kitab kuning sebagai media 1 Muhammad Tholhah Hasan. Islam Dalam Perspektif Sosial. Budaya Dan Nusantara (Jakarta: Galasa Nusantara, 1. , 130Ae34. 2 Mujamil Qomar. Pesantren : Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2. , 2. Kariman. Vol. 12 No. | 32 Lukmanul Hakim, dkk untuk memahami tulisan arab yang tanpa harokat, mulai dari metodeAemetode tradisional sampai model-model pembelajaran baru sebagai pembaharuan dari metode-metode tradisional. Metode-metode tersebut tentunya mempunyai kelebihan dan kekurangan sesuai dengan motif dan tujuannya. Kitab kuning, dikenal sebagai rujukan para santri di pesantren, dengan kitab kuning pesantren mencoba untuk bersikap, memahami dan menjawab dari setiap persoalan yang muncul dan terus berkembang. Persoalan-persoalan tersebut tidak hanya berkisar pada persoalan masa lalu saja tetapi isu-isu terkini pun pembahsanya sudah ada, atau minimal diasumsikan sudah ada. Seperti persoalan pembagian harta ahli waris sejakzaman dahulu hingga saat ini sudah termaktub di dalam al-QurAoan dan Hadist. Bahkan pada saat ini permasalahan tersebut telah dibahas secara khusus. Dalam mempelajari dan membaca kitab kuning bukanlah hal yang mudah sangat diperlukan ketekunan dan ilmu lain seperti ilmu bahasa arab, nahwu, sharaf dan sebagainya. Seseorang dikatakan mampu membaca kitab kuning apabila ia mampu menerapkan ketentuan-ketentuan dalam ilmu nahwu dan sharaf. Ilmu nahwu adalah ilmu yang membahas perubahan akhir kalimat sedangkan ilmu sharaf adalah ilmu yang membahas tentang perubahan bentuk kalimat. Namun tidak semua santri bisa membaca kitab kuning dengan baik. Dan inilah yang menjadi bentuk pengabdian kami kepada masyarakat dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning agar santri tersebut menjadi santri yang siap pakai, maksudnya adalah santri bisa mengajarkan ilmu keagamaannya kepada masyarakat dalam keadaan yang siap. Metode pembelajaran kitab kuning dipandang relevan untuk kebutuhan santri karena metode ini lebih menitikberatkan pada keaktifan santri. Penerapan metode tersebut karena mempertimbangkan beberapa kemungkinan dan Yang dimaksud dengan kemungkinan dan kebutuhan tersebut yaitu tujuan pembelajaran dan relevansi metode. Sudah diketahui bersama bahwa tujuan pembelajaran kitab-kitab klasik atau yang lebih dikenal dengan sebutan kitab kuning di pesantren, yaitu membentuk pemahaman dan pemikiran bukan sekedar menghafal dan meniru gurunya untuk kemudian disampaikan kembali di masyarakat . Orientasi ini sangat mungkin dicapai bila didukung oleh suatu metode yang dapat mengkonstruksi pemahaman dan pemikiran santri melalui perangkat pendukung yang mereka miliki 4 3 Ridho Hidayah and Hasyim AsyAoari. AuPeningkatan Kemampuan Membaca Kitab Kuning Dengan Metode Sorogan Pada Santri Pondok Pesantren Walisongo,Ay Ar-Rusyd: Jurnal Pendidikan Agama Islam 1, no. : 62, https://doi. org/10. 61094/arrusyd. 4 Zulhima. AuDinamika Perkembangan Pondok Pesantren Di Indonesia,Ay DARUL IL8 MI, 2013, 90. Kariman. Vol. 12 No. | 33 Lukmanul Hakim, dkk Metode dipahami sebagai cara-cara yang ditempuh untuk menyampaikan ajaran yang diberikan. Dalam konteks kitab kuning di pesantren, ajaran itu adalah apa yang termaktub dalamkitab kuning. Melalui metode tertentu, suatu pemahaman atas teks-teks pelajaran yang dicapai. Selama beberapa kurun waktu tertentu, pondok pesantren telah melakukan beberapa terobosan terkait dengan metode pembelajaran kitab kuning seperti metode Hafalan. Muzakkarah. Musyawarah. Halaqoh ,Sorogan. Wetonan dan Bandongan. Seperti halnya di pondok pesantren Al-Ishlahuddiny yang mempelajari kitab kuning dan tidak menitikberatkan pada kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan terfokus dengan peningkatan kemampuan kitab kitab kuning yang bersumber dari kitab kitab klasik seperti kitab Matan Jurmiyah dan Amilatutu Tashrif sebagai ilmu alat kemudian kitab safinatunnajah, fathul qorib, fathul muin dari kelompok Ilmu Fikih. Metode yang digunakan oleh para asatidz dalam proses pembelajaran kitab kuning adalah metode sorogan yang diterapkan di pondok Metode sorogan ialah metode pengajaran langsung antara pendidik dengan santri dengan cara bergiliran membacakan kitab kuning dihadapan pendidik tersebut. Pendidik membacakan dan menerjemahkan kata demi kata kemudian mensyarah . maksud artinya. Santri membaca ulang, memahami dan menerangkan kembali makna dari kata dalam kitab yang telah Idealnya, santri di pondok pesantren memiliki keterampilan yang memadai dalam membaca kitab kuning karena membaca merupakan bagian dari kemahiran dasar yang wajib dimiliki oleh seorang santri. Melalui keterampilan membaca, santri diharapkan mampu memahami isi kitab kuning dan sebagainya. Namun, keterampilan membaca kitab kuning bukan hal yang mudah untuk dikuasai. Hal ini dibuktikan dengan masih ada santri yang kesulitan untuk membaca kitab kuning . undul tanpa haroka. Oleh karena itu, berbagai metode dilakukan untuk meningkatkan keterampilan tersebut, antara lain metode sorogan sebagaimana yang diterapkan di pondok pesantren Al-Islahuddiny Kediri Lombok Barat. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk memaparkan tentang AuImplementasi Metode Sorogan dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Kitab Kuning di Pondok Pesantren Al Islahuddiny Lombok BaratAy. 5 Abuddin Nata and Azyumardi Azra. Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia (Jakarta: Grasindo, 2. , 108. Kariman. Vol. 12 No. | 34 Lukmanul Hakim, dkk Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif, artinya data yang ditangkap dan dikumpulkan dalam penelitian kualitatif ini tidak berupa angka-angka, melainkan data yang berasal dari angka-angka tersebut seperti dari hasil observasi, wawancara, catatan dan dokumentasi. Metode kualitatif adalah teknik penelitian yang memberikan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 6 Dalam pendekatan ini, akan membahas individu atau lingkungan secara keseluruhan. Oleh karena itu, dalam hal ini tidak boleh mengisolasi individu atau organisasi dalam variabel atau hipotesis, tetapi harus dianggap sebagai bagian dari keseluruhan, agar tidak Menurut Suharsimi Arikunto, bahwa sumber data/informasi adalah siapa pun informasi itu berasal7 Sebelum penelitian dilakukan, peneliti harus mengetahui terlebih dahulu tempat yang hendak diteliti. Oleh karena itu, tempat penelitian adalah Pesantren Al-Ishlahuddiny Kediri Lombok Barat. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi tentang Implementasi metode sorogan dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning serta faktor pendukung dan penghambat dalam menggunakan metode sorogan. Adapun sumber data dalam penelitian ini dikelompokkan menjadi 3 komponen yaitu TGH. Muchlis selaku pimpinan pondok pesantren, dewan guru/asatidz dan santri pondok pesantren Islahudiny Kediri Lombok Barat. Adapun tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan 3 tahapan yaitu, . observasi terkait proses pembelajaran kitab kuning dengan metode sorogan, . wawancara mendalam kepada pihak-pihak terkait, dan . melakukan dokumentasi sebagai sumber data dari catatan peristiwa atau laporan Kemudian semua data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan tekhnik yang dibawa oleh Miles dan Huberman yaitu reduksi data, display data dan Hasil dan Pembahasan Menurut Ruddell dalam Morrow . mendefinisikan membaca sebagai salah satu dari penggunaan berbahasa untuk menguraikan tulisan atau simbol dan Selain itu dijelaskan juga oleh Tampu bolon bahwa membaca 6 Sugiyono. Metode Penelitian Kombinasi (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , 114. 7 Suharsimi Arikunto. Metode Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2. , 173. 8 Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif Dan RnD (Bandung: Alfabeta, 2. , 174. Rakimahwati. Yetty Rifda, and Ismet Syahrul. AuPELATIHAN: PEMBUATAN BONEKA JARI BERGAMBAR DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA ANAK USIA DINI DI KECAMATAN Kariman. Vol. 12 No. | 35 Lukmanul Hakim, dkk merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dan tulisan. Menurut Bond dalam Abdurrahman membaca merupakan pengenalan simbolsimbol bahasa tulis yang merupakan stimulus yang membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca untuk membangun suatu pengertian melaluipengalaman yang telah dimiliki 10 Berkaitan dengan pelajaran bahasa Arab. Membaca merupakan salah satu keterampilan dalam bahasa Arab yang dikenal dengan Mahara Alqiraah. Yang dalam implementasinya Mahara Al-qiraah mendorong peserta didik untuk dapat mengasah kemampuan membaca teks-teks berbahasa arab dan juga mampu menerjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Hakikat membaca menurut Ahmad Izzan yang dikutip oleh Rosyidi dalam buku AuMemahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa ArabAy Membaca adalah melihat dan memahami isi dari apa yang tertulis dengan melisankan didalam hati dan mengeja atau melafalkan apa yang tertulis 11 Selain itu membaca mencakup dua kemahiran sekaligus, yaitu: mengenal simbol-simbol tertulis yang ada didalamnya dan memahami isinya. Ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki dan otomatis kemampuan tersebut menjadi tujuan dalam membaca bahasa Arab pada umumnya dan membaca kitab kuning pada khususnya. Adapun kemampuan tersebut sebagai berikut 12: Kemampuan membedakan huruf dan kemampuan mengetahui hubungan antara lambang dan bunyi. Kemampuan mengenal kata dalam kalimat dan tidak dalam kalimat. Memahami kata sesuai dengan konteksnya. Memahami kata sesuai dengan arti asli dari kata tersebut. Mengetahui hubungan logis dan penggunaan kata penghubung dalam suatu Menyimpulkan isi dari bacaan tersebut dengan cepat. Indikator peserta didik dapat membaca kitab kuning dengan baik, menurut Khairul Umam yang dikutip oleh Sofi Hasanah antara lain 13: V KOTO KAMPUNG DALAM KABUPATEN,Ay Jurnal Pendidikan : Early Childhood 2, no. : 3. 10 Epi Supriyani. AuPengaruh Media Pembelajaran Terhadap Keterampilan Membaca Peta Huruf Siswa Taman Tk Nurul Azizi Medan,Ay Research and Development Journal of Education 7, no. : 51, https://doi. org/10. 30998/rdje. 11 Wahab Rosyidi and MamluAoatul NiAomah. Memahami Konsep Dasar Pembelajaran Bahasa Arab (Malang: UIN Maliki Press, 2. , 95. 12 Abdul Hamid. Mengukur Kemampuan Bahasa Arab Untuk Studi Islam (Malang: UIN Maliki Press, 2. , 63. 13 Khairul Umam. AuUrgensi Metodologi Pembelajaran Kitab Kuning. Studi Atas Metode Al-Fytih Dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca Kitab Kuning Di Madrasah Aliyah 1 Annuqayah,Ay Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Keislaman . Kariman. Vol. 12 No. | 36 Lukmanul Hakim, dkk Ketepatan dalam membaca ketepatan membaca dilihat dari ketepatan penempatan kaidah-kaidah/aturan bahasa arab dan cara bacanya. Kaidah tersebut antara lain, berupa Nahwu dan Sharaf nya. Pemahaman mendalami isi bacaan aktivitas membaca tidak berhenti pada pembacaan teks saja. Akan tetapi, dituntut untuk memahami isi berupa ide pokok/gagasan dan pokok pikiran yang dikehendaki penulis. Dapat mengungkapkan isi bacaan Setelah dapat memahami isi kitab tersebut, maka peserta didik dituntut untuk dapat mengungkapkan isi dari kitab tersebut dengan bahasa mereka sendiri. Pelaksanaan Metode Sorogan Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Kitab Kuning Di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny Kediri Lombok Barat Praktek pelaksanaan metode sorogan dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny dengan cara santri membacakan dan menerjemahkan kitab yang telah ditentukan sesuai dengan tingkatan masing-masing dihadapan ustadz atau tuan guru. Sedangkan ustadz atau tuan guru mendengarkan, memperhatikan, membimbing serta memberikan komentar perbaikan. Sehingga dengan menggunakan metode ini memungkinkan seorang ustadz atau tuan guru dapat mengetahui sejauh mana kemampuan santri dalam menguasai nahwu sharaf sebagai alat untuk mengontrol santri dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning. Metode ini diterapkan kepada seluruh santri di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny. Dalam pelaksanaannya dalam proses pembelajaran, para santri dipersilahkan membaca kitab secara mandiri terlebih dahulu sebelum ustadz atau tuan guru memulai mengajar. Setelah itu bergiliran untuk maju ke hadapan ustadz atau tuan guru kemudian di persilahkan kembali membaca kitab yang sudah dibaca untuk dievaluasi oleh ustadz atau tuan guru. Sesuai dari hasil observasi peneliti di lapangan bahwa metode sorogan di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny dilaksanakan setiap hari kecuali hari Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Metode Sorogan di Pondok Pesantren AlIslahuddiny Kediri Lombok Barat https://w. id/index. php/alulum/article/view/734. Kariman. Vol. 12 No. | 37 Lukmanul Hakim, dkk HARI KELAS WAKTU KITAB Sabtu Wustho Nahwu Ahad Wustho Fikih Fathul MuAoin Senin Wustho Tauhid Selasa Wustho Rabu Wustho Al-QurAoan Tijanuddarori Taklimul Mutaklim Tajwid Kamis Wustho RUMPUN KITAB Mutammimah Hadits Bulugul Marom Tasawwuf NAMA USTADZ Ustadz Kofrawi Balyan TGH. Agus Salim TGH. Nizom TGH. Ishlahuddin Ustadz H. Safwan TGH. Hariri Adapun metode yang kerap digunakan dalam pembelajaran kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny adalah metode sorogan. Dengan menerapkan metode sorogan dapat memberikan pemahaman yang maksimal kepada santri, karena dengan metode ini memungkinkan seorang ustadz atau tuan guru dapat membimbing secara bergiliran kepada santri sehingga dapat mengetahui sejauh mana kemampuan santri dalam menguasai materi. Proses pelaksanaan metode sorogan dalam membaca kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny yaitu para santri dipersilahkan untuk membaca kitab secara mandiri terlebih dahulu kemudian secara bergiliran berhadapan secara langsung kepada kiyai atau ustadz pengampu untuk disimak kemudian diberikan bimbingan baik berupa perbaikan ketika ada salah maupun diberikan pengajaran sesuai dengan kaidah keilmuan dalam membaca kitab kuning Pelaksanaan metode sorogan di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny dilaksanakan setiap hari selain hari jumat dan diampu oleh enam ustadz dan tuan guru dengan waktu dan ruangan yang berbeda sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Pelaksanaan metode sorogan dalam pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny dengan cara santri membaca terlebih dahulu kitab yang telah ditentukan oleh ustadz atau tuan guru. Kemudian ustadz atau tuan guru mendengarkan, memperhatikan, memberikan komentar serta bimbingan yang dibutuhkan oleh santri. Sehingga melalui metode sorogan ini dapat memungkinkan seorang ustadz dapat Kariman. Vol. 12 No. | 38 Lukmanul Hakim, dkk memberikan arahan, mengontrol bacaan serta dapat mengetahui kemampuan santri dalam menguasai nahwu sharaf sebagai alat untuk memperbaiki bacaan santri dalam membaca kitab kuning. Hal yang diatas telah sesuai dengan implementasi metode Sorogan dilaksanakan dengan cara setiap santri menyodorkan kitab kajiannya di hadapan kiyai, asisten kiyai, atau ustadz untuk selanjutnya sang kiyai, asistennya, atau ustadz mengajar santri yang bersangkutan berdasarkan kitab yang disodorkannya itu. Sistem sorogan ini termasuk penerapan sistem pembelajaran dengan pendekatan individual. Seorang santri berhadapan dengan seorang guru, dan terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya. Sistem sorogan ini terbukti sangat efektif sebagai langkah awal bagi seorang murid yang bercita-cita menjadi orang berilmu. Sistem ini memungkinkan seorang guru melakukan pendekatan pendekatan personal, bahkan pendekatan spiritual dengan para santri 14 . Kelebihan dan Kekurangan Metode Sorogan Berikut merupakan kelebihan penggunaan metode sorogan: Kelebihan Kelebihan metode sorogan yang pertama adalah kemajuan santri individu lebih terlihat dengan kemampuannya masing-masing. Yang kedua memudahkan santri dalam mengetahui sampai mana ilmu santri tersebut. Ketiga memudahkan dalam ustadz untuk mengawasi secara maksimal dalam pembelajaran. Dan yang terakhir penekanan yang kuat akan pemahaman tekstual dan literal. Kekurangan Kekurangan dari metode sorogan yang pertama adalah jika santrinya banyak, maka akan mengghabiskan waktu. Yang kedua banyak menuntut kerajinan, ketekunan dan kedisiplinan seorang Yang ketiga sistem yang digunakan adalah sistem yang paling sulit dari seluruh sistem pendidikan Islam. Faktor Pendukung dan Penghambat Wina Sanjaya berpendapat mengenai variabel yang berpengaruh 14 Zamakhsyari Dhofier. Tradisi Pesantren: Studi Pandangan Hidup Kyai Dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia (Jakarta: LP3ES, 2. , 60. 15 Ridwan Nasir. Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal : Pondok Pesantren Di Tengah Arus Perubahan (Yogjakarta: Pustaka Pelajar, 2. , 110. 16 Chaerul Anwar. AuMetode Sorogan Dalam Pembelajaran Membaca Al-QurAoan Di Pondok Pesantren,Ay JMimbar : Urnal Pendidikan & Agama Islam 19, no. : 149, https://journal. id/index. php/mimbar/article/view/218/178. Kariman. Vol. 12 No. | 39 Lukmanul Hakim, dkk terhadap keberhasilan sistem pembelajaran diantaranya adalah ustaz atau guru, faktor siswa, sarana, alat dan media yang tersedia serta faktor Santri merupakan sekelompok orang yang berkeinginan belajar ilmu agama, yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangannya masing masing. Kegigihan dan ketekunan santri dalam mempelajari kitab kuning, akan mempermudah dalam proses pembelajaran dan keberhasilan dalam proses pembelajaran kitab kuning. Adapun ustadz merupakan kompenan yang sangat menentukan. Dengan keberadaan ustadz yang berpengalaman serta ahli dalam bidangnya, dapat mendukung santri dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning. Kemudian kelengkapan sarana dan prasarana yang tersedia akan membantu ustadz dan santri dalam penyelenggaraan proses pembelajaran kitab kuning. Wina Sanjaya mengatakan bahwa faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran adalah faktor iklim sosial psikologis, maksudnya adalah keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses pembelajaran 18. Maka dari itu sebaiknya wali santri setiap bulan bahkan setiap minggu harus mengetahui bagaimana perkembangan anaknya dalam mengikuti proses pembelajaran di pondok Karena hubungan wali santri dengan orang yang terlibat dalam lingkungan pondok pesantren yang baik akan membantu santri dalam proses Dalam pelaksanaan metode sorogan kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny, terdapat beberapa hal yang menjadi faktor pendukungnya diantaranya : Adanya ustadz atau tuan guru yang memiliki kualitas atau berkompeten dalam menerapkan metode sorogan kitab kuning di Pondok Pesantren AlIslahuddiny. Hal tersebut yang menjadikan adanya ustadz atau tuan guru sangat berperan penting dalam proses pelaksanaan metode sorogan kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny. Adanya kitab. Kitab yang digunakan sudah tersedia di Pondok Pesantren AlIslahuddiny. Adanya jadwal yang terstruktur. Dengan adanya jadwal yang terstruktur, kegiatan metode sorogan dapat dilaksanakan dengan baik. Santri yang 17 Wina Sanjaya. Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Pramedia Group, 2. , 15. 18 Ismail. AuPeningkatan Kompetensi Pedagogik Guru PAI Dalam Pembelajaran,Ay Mudarrisuna 4, no. : 713, https://w. id/2020/05/19/mengkaji-pandemi-covid-19-dari-kacamataantropologi/. Kariman. Vol. 12 No. | 40 Lukmanul Hakim, dkk memiliki dasar ilmu nahwu sharaf karena tanpa ada dasar kedua ilmu itu seorang santri tidak akan mampu membaca kitab kuning dengan baik. Dalam pelaksanaan metode sorogan di Pondok Islahudiny Kediri Lombok Barat, disamping ada faktor pendukung tentunya ada faktor penghambatnya pula. Saat pelaksanaan metode sorogan berlangsung ada beberapa hal yang menjadi faktor penghambatnya diantaranya : Keterbatasan waktu. Seperti adanya susulan jadwal selanjutnya sehingga membuat beberapa santri yang belum dapat giliran akan lalai dengan pembahasan yang sebelumnya belum selesai tetapi akan bertemu dengan materi yang lain di esok harinya. Ketidakseragaman dalam pemahaman santri. Seperti kurangnya ilmu dasar dari para santri disebabkan beberapa santri ada yang masih belum memahami ilmu nahwu sharaf secara maksimal. Simpulan Implementasi metode sorogan di Pondok Pesantren Al-Islahuddiny dilaksanakan dengan cara santri membaca terlebih dahulu kitab yang telah ditentukan oleh ustadz atau tuan guru kemudian ustadz atau tuan guru mendengarkan, memperhatikan, memberikan komentar serta bimbingan yang dibutuhkan oleh santri. Melalui, metode sorogan ini dapat memungkinkan seorang ustadz dapat memberikan arahan, mengontrol bacaan serta dapat mengetahui kemampuan santri dalam menguasai nahwu sharaf sebagai alat untuk memperbaiki bacaan santri dalam membaca kitab kuning. Pelaksanaan metode sorogan di Pondok Pesantren Islahuddiny Kediri Lombok Barat juga terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambat yang berkaitan dengan asatidz yang mengajar, kondisi santri, perhatian orang tua dan sarana prasarana yang tersedia. Maka perlunya terjalin komunikasi interakitf baik antara asatidz dan santri agar pembelajaran kitab kuning tetap berjalan efektif, efisien dan sesuai dengan tujuan yan ditetapkan. Kariman. Vol. 12 No. | 41 Lukmanul Hakim, dkk DAFTAR PUSTAKA