Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PROGRAM BINA PRIBADI ISLAM DI SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU AL KAMIL Wahyu Bhekti Prasojo1. Ihsan Isnaeni2. Choirunnissa3 1,2,3 Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah Depok ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas Program Bina Pribadi Islami (BPI) dalam membentuk karakter Islami peserta didik, faktor keberhasilan dan faktor penghambat serta solusi yang akan dilaksanakan kedepannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti antara lain wawancara, observasi dan Wawancara dilakukan kepada pembina yayasan, kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, kesiswaan, bidang SDM, dan 2 orang guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Program Pengembangan Pribadi Islami (BPI) di SDIT Al Kamil dilaksanakan secara terstruktur dan terarah untuk membentuk karakter Islami siswa. Program BPI dilaksanakan seminggu sekali, dilaksanakan pada hari Jumat pukul 12. Santri terbentuk dalam dinamika kelompok akhwat/persaudaraan. Kurikulum yang digunakanberdasarkan standar Mutu SIT. Faktor pendukung pelaksanaan Program BPIdalam pembentukan karakter Islami di SDIT Al Kamil antara lain, pertama kurikulum, kedua dukungan JSIT, kepala sekolah, yayasan, orang tua dan komite, ketiga guru, keempat penanggung jawab BPI, kelima evaluasi. Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan Program BPI dalam pembentukan karakter Islami di SDIT Al Kamil antara lain waktu, adanya kegiatan lain, kurangnya peran orang tua, penyusunan kurikulum yang belum maksimal dan program BPI guru yang belum maksimal. Efektivitas Program BPI dalam membentuk karakter Islami dapat diukur dengan meningkatkan pengetahuan siswa tentang Islam, akhlaksiswa dan kesadaran dalam KataKunci: Implementasi. Program BPI. Karakter Islami. Peserta Didik ABSTRACT This research aims to determine the effectiveness of the Islamic Personal Development Program (BPI) in forming students' Islamic character, success factors and inhibiting factors as well as solutions that will be implemented in the This research uses descriptive qualitative methods. The data collection techniques used by researchers include interviews, observation and documentation. Interviews were conducted with the foundation supervisor, principal, deputy principal for curriculum, student affairs. HR department, and 2 teachers. The results of this research show that the implementation of the Islamic Personal Development Program (BPI) at SDIT Al Kamil is carried out in a structured and directed manner to shape students' Islamic character. The BPI program is held once a week, held on Fridays at 12. Students are formed Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 in the dynamics of akhwat/brotherhood groups. The curriculum used is based on SIT Quality standards. Supporting factors for implementing the BPI Program in forming Islamic character at SDIT Al Kamil include, firstly the curriculum, secondly support from JSIT, school principals, foundations, parents and committees, thirdly teachers, fourthly the person in charge of BPI, fifthly is Meanwhile, the factors inhibiting the implementation of the BPI Program in forming Islamic character at SDIT Al Kamil include time, thepresence of other activities, lack of parental role, curriculum preparation that isnot yet optimal and the teacher BPI program that is not yet optimal. The effectiveness of the BPI Program informing Islamic character can be measured by increasing students' knowledge about Islam, students' morals and awareness in worship. Keywords: Implementation,BPIProgram. IslamicCharacter. Students LATAR BELAKANG Pendidikan karakter akhir-akhir ini telah menjadi isu yang berkembang di dunia, bahkan semakin hangat dibicarakan sebagai solusi atas merosotnya moral dan kualitas pendidikan di Indonesia, sebab sistem pendidikan yang ada selamaini dianggap kurang berhasil, lulusan sekolah atau sarjana yang dihasilkan piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas, namun mental dan moralnya lemah. Pendidikan karakter pertama kali dicetuskan oleh pedagog Jerman F. Foerster, kemudian terminologi tersebut mulai dikenalkan kembali sejak tahun 1990-an. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya, terutama ketika ia menulis buku yang berjudul The Return of Character Education dan kemudian disusul bukunya . Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. Melalui buku-buku itu, ia menyadarkan dunia Barat akan pentingnya pendidikan karakter. Di Indonesia, istilah pendidikan karakter mulai diperkenalkan sekitartahun 2005-an. Hal ini secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015 dimana pendidikan karakter (Charactereducatio. ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi Pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila. Dalam pemberitaan media massa berkaitan dengan kondisi pendidikan kita masih cukup mengenaskan, misalnya masalah tawuran pelajar yang mengakibatkan korban tewas dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir sempat membuat heboh, kasus pemerasa/kekerasan . antar pelajar. Hal ini mengindikasikan dan menegaskan bahwa masih buramnya wajah duniapendidikan kita. Pendidikan yang seharusnya membentuk karakter manusia yang berilmu, berpengetahuan luas, dan berakhlak mulia ini masih jauh dari nilai-nilai yang diharapkan. Sungguh ironis para pemuda yang semestinya menjadi cikal bakal dan menjadi generasi yang dapat Akhmad Syahri, 2019. Pendidikan Karakter Berbasis Sistem Islamic Boarding School ,(Malang:Literasi Nusantar. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 meneruskan pembangunan bangsa dimasa depan malah melakukan tindakan yang jauh dari nilai-nilai bangsa ini. Memang kita tidak bisa menyalahkan salah satu puhak baik itu dari pihak pelajar, sekolah maupun orang tua. Fenomena kenakalan remaja dalam kehidupan kita yang disebabkan oleh faktor lingkungan masyarakat yang rusak akhlaknya, seperti kasus pembunuhan dan pemerkosaan AA. seorang remaja putrid pada 5 September 2024di Kuburan Cina Palembang, keempat orang sudah ditangkap dan ditetapkan tersangka. Keempat tersangka merupakan anak di bawah umur, sama seperti korbannya. Kejadian ini sangat memprihatinkan. Dilihat dari aspek hukum kejahatan ini tidak bias terbendung seiring dengan perkembangan ilmupengetahuan dan teknologi seperti peran media sosial, di mana salah satu tersangka bisa mengakses film biru . Dunia pendidikan mempunyai peran yang amat penting dalam membentuk karakter anak. Sehingga betapa sangat pentingnya menanamkan nilai-nilai moral . di lembaga pendidikansejak dini, sehingga kedepannya generasi muda bangsa ini akan jauh lebih baik dengan membekali manusia dengan karakter yang bertanggung jawab, jujur, peduli sosial, peduli terhadap lingkungan, demokratif, mandiri, kreatif dan lain-lain. Pendidikan karakter bukan sekedar memiliki dimensi integratif, dalamarti, mengukuhkan moral intelektual anak didik sehingga menjadi pribadi yang kukuh dan tahan uji, melainkan juga bersifat kuratif secara personal maupun sosial. Pendidikan karakter bisa menjadi salah satu sarana penyembuh penyakit sosial. Pendidikan karakter menjadi sebuah jalan keluar bagi proses perbaikan dalam masyarakat kita. Situasi sosial yang ada menjadi alasan utama agar pendidikan karakter segera dilaksanakan dalam lembaga pendidikan kita. Brooks and Goble menyatakan bahwa: AuPendidikan karakter yang secara sistematis diterapkan dalampendidikan dasar dan menengah merupakan sebuah daya tawar berharga bagi seluruh komunitas. Para siswa mendapatkan keuntungan dengan memperoleh perilaku dan kebiasaan positif yang mampu meningkatkan rasa percaya dalam diri mereka, membuat hidup mereka lebih bahagia dan lebih produktif. Keteladanan dalam pendidikan merupakan bagian dari sejumlah metode yang efektif dalam mempersipkan dan membentuk anak secara moral, spiritualdan sosial. Hal itu karena, seorang pendidik merupakan contoh ideal dalam pandangan anak yang tingkah laku dan sopan santunnya akan ditiru, disadari atau tidak,bahkan semua keteladanan itu akan melekat pada diri dan perasaannya,baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, hal yang bersifat material, indrawi, maupun spiritual. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor https://w. com/sumbagsel/hukum-dan-kriminal/d-7526252/4-anak-di-bawah-umurtersangka-pembunuhan-di-palembang-ini-kata-pengamat Slamet Yahya. Pendidikan Karakter (Berbasis Ideolog. , (Yogyakarta: Lontar Mediatama: 2. Sukatin&M. Shoffa. SaifillahAl-Faruq,PendidikanKarakter,(Yogyakarta:Deepublish:2. Bambang Samsul Arifin. Rusdiana. Manajemen Pendidikan Karakter, (Bandung: CV Pustakawan Setia : 2. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 20 Tahun 2018 Pasal 1 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal yaitu Penguatan Pendidikan Karakter yang selanjutnya di singkat PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan olahraga dengan pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan mengarah pada pembentukan budaya sekolah/madrasah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan sehari-hari, serta simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah/madrasah, dan masyarakat sekitarnya. Budaya sekolah/madrasah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah/madrasah tersebut di mata masyarakat luas. Dalam perspektif Islam, pendidikan karakter secara teoritik sebenarnya telah ada sejak Islam diturunkan di dunia. seiring dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki atau menyempurnakan akhlak . Ajaran Islam sendiri mengandung sistematika ajaran yang tidak hanya menekankan pada aspek keimanan, ibadah dan muAamalah, tetapi juga akhlak. Pengamalan ajaran Islam secara utuh . merupakan model karakter seorang muslim, bahkan dipersonifikasikan dengan model karakter Nabi Muhammad SAW, yang memiliki sifat Shidiq. Tabligh. Amanah. Fathonah (STAF). Muslim yang baik adalah orang yang memiliki akidah yang lurus dan kuat yang mendorongnya untuk melaksanakan syariah yang hanya ditujukan kepada Allah sehingga tergambar akhlak . mulia dalam dirinya. Atas dasar hubungan ini pula seorang yang melakukan suatu perbuatan baik, tetapi tidak dilandasi oleh akidah, ia disebut orang kafir. Seorang yang mengaku beriman tetapi tidak mau melaksanakan syariah, ia disebut orang fasik . asiq/pendos. Sementara itu, orang yang mengaku beriman dan melaksanakan syariah, tetapi tidak dilandasi akidah yang lurus disebut orang munafik. Demikianlah, ketiga kerangka dasar Islam ini memiliki hubungan yang begitu erat dan tidak dapat dipisahkan. Al Quran selalu menyebutkan ketiganya dalam waktu yang bersamaan, seperti dalam ayat-ayat berikut. Aa NA AA ENaOIa aI eI Ca e aE aN eI aOEaOa aI aEIa NI Ea aN eIA a AA aE aA A aIEaO E NA a A EaOa e ea aEAaIN aN eI AaO e a eA a AacEEa ENaOIa aIIaO aI eIEa eI aOA a AaOA a aA aE aI e eaEA ANA a AO Ea aN eI aOEaOaa aEaIN aN eI Ia eI a e a eaOAa aN eI eIIU Oa eaaOIaIaO aE Oa e aEaOIa aOA aA eOU aO aI eI aEA aa a ea aEaEa AaOEaaEA e AaOIa aN aI EaOA a a AA aANa aI eEAa aCaOIA Artinya: AuAllah telah menjanjikan kepada orang-orang diantara kamu yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwaDiasungguh,akanmenjadikanmereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka Permendikbud 20-2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Mulyasa. Manajemen Pendidikan Karakter,(Jakarta: Bumi Aksara 2. AlBukhari. Muhammad bin Ismail Abu Abdullah Al JaAfiy. Shahih Bukhari. Daar AlThuqo al Najah, 1442H. Juz IV, hlm. Mulyasa,OpCit,hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridhoi. Dan Dia benar-benar mengubah . mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosaAy. (An Nur . : . AO ae aI eIIaOIA a A AaEa aN eI a UeA a AA aE aA A aIEaO E NA a Aau NaE ENaOIa aIIaO aOA Artinya: AuKecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, makamereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (Qs. At Tin : . AAeA a AA aE aA AA eO aE NA A aIEaO E NA a Aua NaE ENaOIa aIIaO aOA a AC aO aaOA a A aO aaOA a AA eO a eE aA Artinya: AuKecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Qs. Al Asr . : . Dalam ayat-ayat tersebut, ketiga kerangka dasar Islam disebut secara bersamaan, tetapi dalam dua istilah saja, yaitu iman dan kebajikan . mal sale. Iman menunjukkan konsep akidah, sedangkan amal saleh menunjukkan adanya konsep syariah dan akhlak. Masih banyak ayat Al Quran yang menegaskan hal tersebut, seperti Qs. Al Baqarah ayat 227 dan Qs. An Nahl ayat 97. Oleh karena itu, untuk mewujudkan karakter mulia dalam diri seorang muslim, yang pertama harus dilakukan adalah membangun akidah yang kuat lalu melaksanakan seluruh ketentuan syariah yang ada dalam Al Quran dan hadits . elakukan amal-amal Dengan dua cara inilah karakter mulia akan terbentuk dengan baik dan Program Bina Prbadi Islami (BPI) merupakan kegiatan Kokurikuler. KoKurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler dalam rangka pengembangan karakter dan kompetensi Peserta Didik. Kokurikuler merupakan salah satu dari tiga program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang diatur dalam Peraturan Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbu. Nomor 23 Tahun 2017. Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 mengatur tentang kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang harus diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka menjadi kurikulum nasional. Sebagai usahanya untuk menumbuhkan kepribadian dan karakter religius pada siswa. SDIT Al Kamil menawarkan program yang bernama Bina Pribadi Islami (BPI). Program Bina Pribadi Islami ini telah menjadi bagian penting dari Kurikulum kegiatan belajar mengajar yaitu menggunakan kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT). Dalam Kurikulum JSIT, nilai-nilai islami harus Marzuki,PendidikanKarakterIslam,(Jakarta:AMZAH:2. ,hlm16. Permendikbud23-2017HariSekolah. Permendikbudristek-no-12-tahun-2024 Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 dimasukkan ke dalam setiap mata pelajaran. Dengan demikian kepribadian dan pendidikan karakter religius di SDIT Al Kamil didasarkan pada nilai-nilai islami. Melalui Program Bina Pribadi Islami. Program ini adalah kegiatan mentoring atau pembinaan siswa secara berkelompok dibina oleh ustadz dan ustadzah atau guru yang ditunjuk sebagai penanggung jawab program BPI. Kegiatan mentoring BPI memiliki jadwal pada jam sekolah, setiap hari Jumat sesudah siswa sholatJumAat yang dilaksanakan di dalam kelas atau bisa di luar kelas. KAJIAN LITERATUR Pengertian Implementasi Secara bahasa istilah implementasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pelaksanaan atau penerapan. Sedangkan mengimplementasikan dapat berarti melaksanakan atau menerapkan. Salah satu cara dalam mewujudkan berjalannya suatu sitem, baik sitem kesehatan, sitem IT, sistem perbankan dan terutama sistem pendidikan, akan sangat erat hubungannya dengan kata implementasi. Ide atau gagasan perundang-undangan tanpa implementasi tidak akan bisa dapat digunakakan atau diaplikasikan dengan baik. Menurut Widodo, implementasi berarti menyediakan sarana untuk melaksanakan suatu kebijakan dan dapat menimbulkan dampak/akibat terhadap Seseorang, institusi, ataupun organisasi, harus mengimplementasikan gagasan untuk mencapai tujuan. Menurut Agustino, implementasi merupakan suatu kajian mengenai studi kebijakan yang mengarah pada proses pelaksanaan suatu implementasi menurut Lester dan Stewart dalam Purwanto & sulistyastuti adalah sebuah tahapan yang dilakukan setelah aturan hokum ditetapkan melalui proses politik. Untuk itu, kata implementasi sendiri merupakan serapan dari bahasaInggris yang bermakna melaksanakan. Sementara implementasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan bahwa implementasi adalah pelaksanaan atau Implementasi suatu proses penerapan ide, konsep, dan kebijakandalam suatu tindakan praktis yang dapat berdampak baik dari segi pengetahuan, nilai, maupun sikap. Pada prinsipnya implementasi merupakan adanya pelaksanaan atau aksi dari rencana yang telah direncanakan dengan baik. Jadi dapat disimpulkan bahwa implementasi adalah kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan yang dilaksanakan akan dilihat sejauhnya peranannya dalam mencapai tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dalam konteks implementasi metode pembelajaran adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. Pengertian Pendidikan Karakter Pendidikan pada hakikatnya memiliki dua tujuan, yaitu membantu manusia RitaSulastini. AiSumarni. Fuad Rinaldi Marpuah. Miftahussanam. Firman. Manajemen Kurikulum Berbasis Penilaian Berdasarkan Kurikulum Merdeka Berbagi, (Indramayu. JawaBarat: Penerbit Adab:2. ,hlm10 Dwi Harmita. HeryNoerAly. Implementasi Pengembangan Dan Tujuan Kurikulum. Jurnal Multilingual,Vol. 3,No. 1Januari. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 untuk menjadi cerdas dan pintar: Menjadikan manusia agar menjadiorang yang baik dan bijak, tampaknya jauh lebih sulit, kualitas moral dalam kehidupan manusia Indonesia saat ini sangat berpengaruh terutama dikalangan siswa, mengenal pendidikan karakter. Maka. Sekolah dituntut berperan dan tanggung jawab untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai kepada para siswa, membangun karakter mereka dengan nilai-nilai karakter yang baik. Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan pada nilai-nilai tertentu seperti rasa hormat, tanggung jawab, jujur, peduli, dan adil. Nilai-nilai tersebut membantu siswa untuk memahami, memperhatikan, dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter merupakan segala upaya yang dilakukan olehpendidik untuk mengajarkan kebiasaan cara berfikir dan berperilaku yang membantu anak untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara dan membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, karakter yang dapat diistilahkan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan kata berkarakter diterjemahkan sebagai mempunyai tabiat, mempunyai kepribadian, sikap pribadi yang stabil hasil proses konsolidasi secara progresif dan dinamis, integritasi pernyataan dan tindakan. Menurut Mulyasa, bahwa pendidikan karakter adalah upaya membantu perkembangan jiwa anak-anak, baik batin maupun lahir, dari sifat kodratnya menuju ke arah peradaban yang manusiawi dan lebih baik. Karakter diartikan sebagai nilai-nilai yang unik . ahu nilai kebaikan, mau berbuat kebaikan, dannyata berkehidupan bai. yang terpatri dalam diri dan tak terbantahkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Karakter secara koheran memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan olah karsa, serta olah raga seseorang yang merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Pendidikan karakter menurut Thomas Lickona adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorangmelalui pendidikan budi pekerti, yanghasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan sebagainya. Aristoteles berpendapat bahwa karakter itu erat kaitannya dengan kebiasaan yang kerap dimanifestasikan dalam tingkah laku. Berdasarkan pendapat beberapa para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk menanamkan karakter kepada peserta didik sehingga peserta didik mempunyai sikap peduli, jujur, tanggung jawab, rajin dan menghargai sesama. Guru dapat memberikan contoh sehingga menjadi teladan untuk peserta didik, bagaimana guru menyampaikan Tatik Sutarti,Pendidikan Karakter Untuk Anak Usia Dini, (Yogyakarta:CV. Aksara MediaPratama: 2. , hlm. Sofyan Tsauri. Pendidikan Karakter Peluang Dalam Membangun Karakter Bangsa, (Jember: IAIN Jember Press: 2. , hlm. HeriGunawan,PendidikanKarakterKonsepdanImplementasi,(Bandung:Alfabeta:2. , hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 materi, cara berbicara dan bagaimana guru menunjukkan rasa toleransi. Ruang Lingkup dan Komponen-Komponen Pendidikan Karakter Pendidikan karakter meliputi 2 aspek yang dimiliki manusia, yaitu aspek ke dalam dan aspek keluar. Aspek ke dalam atau potensi meliputi aspek kognitif . lah piki. , aspek afektif . lah bati. dan aspek psikomotor . lah rag. Aspek luar adalah proses pendidikan dan lingkungan, seperti budaya sekolah dan kegiatan Masing-masing aspek memiliki ruang yang berisi nilai-nilai pendidikan Menurut Kemendiknas ruang lingkup pendidikan karakter digambarkan sebagai berikut: Olah batin meliputi sikap-sikap. beriman dan bertaqwa, jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa patriotik. Olah rasa/olah karsa meliputi sikap-sikap. ramah, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, mengutamakan kepentingan umum, bangga menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis, kerja keras dan beretos kerja. Olah pikir meliputi sikap-sikap. cerdas, kreatif, inovatif, ingin tahu, berpikir terbuka, produktif, berorientasi iptek. Olahraga meliputi sikap-sikap. bersih dan sehat, disiplin dan sportif, tangguh, andal, kooperatif, ceria dan gigih. Selain ruang lingkup pendidikan karakter sebagaimana diuraikan di atas, terdapat komponen-komponen utama pendidikan karakter antara lain: Moral Knowing yang meliputi, kesadaran moral, pengambilan keputusan dan pengendalian diri. Moral feeling yang meliputi hati nurani, harga diri, empaty, mencintai kebaikan, control diri dan kerendahan hati. Moral action yang meliputi, kompetensi dan kemauan serta habit. TujuanPendidikan karakter Pendidkan karakter memiliki tujuan-tujuan yang penting untukmembentuk individu yang berintegritas, bertanggung jawab, dan berperilaku baik. Berikut adalah beberapa tujuan utama dari pendidikan karakter:21 Pembentukan kepribadian yang baik Tujuan utama pendidikan karakter adalah membantu individu mengembangkan kepribadian yang baik. Ii meliputi pembentukan nilai- nilai moral, etika, dan sikap positif yang membentuk dasar prilaku individu. Pengembangan Nilai dan Etika Nur Agus Salim. Akbar Avicenna. Suesilowati, dkk. Dasar-dasar Pendidikan Karakter, (Samarinda: yayasan Kita Menulis: 2. , hlm. AkhtimWahyuni,PendidikanKarakter,(Sidoarjo:UMSIDAPress:2. ,hlm. Ibid,hlm. Mardiyanto. Muh. Inayah A. Adi Asmara, dkk. ,Pendidikan Karakter Mendidik Karakterdalam Dunia Modern, (Deli Serdang. PT. Mifandi mandiri Digital: 2. , hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 Pendidikan karakter bertujuan untuk mengajarkan dan memperkuat nilainilai moral dan etika pada individu. ini meliputi nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, kerjasama, rasa empati, keadilan, disiplin, dan lain-lain. Peningkatan Sikap dan Perilaku Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan sikap dan perilaku individu dalam kehidupan sehari-hari. Ini mencakup perilaku yang baik, seperti menghormati, sopan, peduli, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Membangun komunitas yang positif Pendidikan karakter bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif di sekolah dan masyarakat. Ini melibatkan membangun komunitas yang saling mendukung, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai yang baik. Membentuk KeterampilanSosial Tujuan pendidikan karakter adalah mengembangkan keterampilan sosial yang penting dalam berinteraksi dengan orang lain. Ini meliputi kemampuan berkomunikasi yang efektif, bekerja sama, memecahkan konflik secara konstruktif, dan menghargai perspektif orang lain. Mengembangkan Kesadaran Diri Pendidikan karakter bertujuan untuk membantu individu mengembangkan kesadaran diri tentang nilai-nilai, kekuatan,dan kelemahan mereka sendiri. Ini memungkinkan mereke untuk membuat pilihan yang baik dan bertanggung jawab atas tindakan mereka. Memotivasi Kemandirian dan Pencapaian Pendidikan karakter bertujuan untuk memotivasi individu untuk menjadi mandiri, mengambil tanggung jawab atas kehidupan mereka, danmencapai tujuan pribadi yang baik. Mendorong Partisipasi dalam Pelayanan Masyarakat Pendidikan Karakter bertujuan untuk mendorong individu untuk terlibat dalam pelayanan masyarakat dan berkontribusi positif dalam komunitas mereka. Menghadapi Tantangan Moral dan Etika Pendidikan karakter bertujuan untuk membekali individu dengan pemahaman dan keterampilan untuk menghadapi tantangan moral danetika dalam kehidupan sehari-hari. Ini membantu mereka membuat keputusan yang baik dan bertanggung Tujuan-tujuan ini membantu menciptakan individu yang berkualitas, berperilaku yang baik, dan mampu berkontribusi positif dalam masyarakat. Pendidikan karakter memainkan peran penting dalam membentuk generasi masa depan yang memiliki nilai-nilai yang kuat dan bertanggung jawab. Metodologi Pendidikan Karakter Dalam konteks pendidikan, termasuk pendidikan karakter, diperlukan metode-metode pendidikan yang mempu menanamkan nilai-nilai karakter pada Hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya mengetahui tentang moral Ibid,hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 , tetapi juga merasakan, melaksanakan, dan menginternalisasikan moral ke dalam tindakan sehari-hari, yang menjadi tujuan utama dari pendidikan karakter. Oleh karenaitu, parapendidik perlu mempertimbangkan metode-metode pendidikan yang sesuai untuk menginternalisasikan pendidikan karakter kepada semua peserta Berikut ini adalah metode yang digunakan dalam pendidikan karakter: Metode hiwar atau percakapan Merupakan sebuah teknik pendidikan yang melibatkan percakapan antara dua pihak atau lebih mengenai satu topik tertentu. Percakapan ini sengaja diarahkan menuju suatu tujuan yang diinginkan. Dalam konteks pendidikan, metodehiwar memiliki dampak yang signifikan terhadap jiwa pendengar atau pembaca dengan seksama mengikuti percakapan tersebut. Metodeqishahataucerita Metode ini melibatkan penggunaan kisah-kisah yang memuat keteladanan dan edukasi. Kisah-kisah ini memiliki daya tarik yang kuat karena mengundang pembaca atau pendengar untuk merenungkan maknanya dan bisa menyentuh hati Kisah-kisah tersebut memungkinkan pembaca atau pendengar untuk menghayati dan merasakan isi kisah tersebut. Metode amtsal atau perumpamaan Metode ini sering digunakan oleh Allah dalam Al Quran untuk memberikan pengaaran kepada manusia. Melalui perumpamaan. Allah menyampaikan pesanpesan moral dan spiritual kepada umat manusia. Metode ini juga efektif digunakan dalam pendidikan karakter untuk mengajarkan nilai-nilai moral kepada peserta Metode amtsal ini biasanya diaplikasikan melalui ceramah, kisah, atau membacakan teks yang berisi perumpamaan. Metode Uswah Metode uswah atau keteladanan adalah sebuah teknik pendidikan yang melibatkan teladan atau contoh yang baik dari seorang guru dalam berbagai Keteladanan yang ditunjukkan oleh guru akan menjadi cermin bagi perilaku siswanya, dan sebalinya. Pendidikan Karakter Islami Secara umum karakter dalam perspektif Islam dibagi menjadi dua, yaitu karakter mulia . l-akhlaq al-mahmuda. dan karakter tercela . l-akhlaq almadxmuma. Jika dilihat dari ruang lingkupnya, karakter Islam dibagi menjadi dua bagian, yaitu karakter terhadap Khaliq (Allah Swt. ) dan karakter terhadap makhluq atau selain AllahSwt. Karakter terhadap makhuk bias dirinci lagi menjadi beberapa macam, seperti karakter terhadap sesama manusia, karakter terhadap makhluk hidup selain manusia . eperti tumbuhan dan binatan. , serta karakter terhadap benda mati . ingkungan ala. Islam menjadikan aqidah sebagai pondasi bagi syariah dan akhlak. Karena itu, karakter yang mula-mula dibangun setiap Muslim adalah karakter terhadap Allah Swt. Ini bisa dilakukan, misalnya dengan cara menjada kemauan dengan meluruskan ubudiyah dengan dasar tauhid (QS. Al Ikhlas . QS. Az Dzariyat UswatunKhasanah,PendidikankarakterDalamPerspektifIslam,(NafalPublishing:2. , hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 : . , menaati perintah Allah atau bertaqwa (QS. Ali Imran . : . , ikhlas dalam semua amal (QS. Al Bayyinah . : . , cinta kepada Allah (QS. AlBaqarah . : . , takut kepada Allah (QS. Fathir . : . , berdoa dan penuh harapan . ajaA) kepada Allah Swt. (Az Zumar . : . , berdzikir (QS. Ar Rad . : . , bertawakkal setelah memiliki kemauan dan ketetapan hati (QS. Ali Imran . : 159. QS. Hud . : . , bersyukur (QS. Al Baqarah . : 152 dan QS. Ibrahim . : . , bertobat serta istigfar bila berbuat kesalahan (QS. An Nur . dan QS. Tahrim . : . Rido atas semua ketetapan Allah (QS. Al Bayyinah. , dan berbaik sangka pada setiap ketentuan Allah (QS. Ali Imran . : . Selanjutnya setiap Muslim juga dituntut untuk menjauhkan diri dari karakter tercela terhadap Allah SWT, misalnya syirik (QS. Al Maidah . : 72-73. QS. Bayyinah . : . kufur(QS. AnNisa. dan tidak melakukan hal- hal yang bertentangan dengan karakter-karakter mulia terhadap Allah. Al Quran banyak mengaitkan akhlak terhadap Allah dengan akhlak kepada Rasulullah. Jadi seorang Muslim yang berkarakter mulia kepada sesame manusia harus memulainya dengan berkarakter mulia kepada Allah dan rasulullah. Sebelum seorang muslim mencintai sesamanya, bahkan terhadap dirinya, ia harus terlebih dahulu mencintai Allah dan Rasulullah. Kualitas cinta kepada sesama tidak boleh melebihi kualitas cinta kepada Allah dan Rasulullah (QS. At Taubah . : . Karakter yang lain terhadap Rasulullah adalah taat kepadanya dan mengikuti sunnahnya (QS. An Nisa . : . , serta mengucapkan shalawat dan salam kepadanya (QS. Al Ahzab . Islam melarang mendustakan Rasulullah dan mengabaikan sunnah-sunnahnya. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah sebuah penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh dengan prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Penelitian kualitatif bisa dikerjakan seperti hitungan sensus, tetapi analisisnya tetap harus kualitatif dan non-matematis. Penelitian kualitatif didapat dengan menggunakan beragam sarana yang terdiri dari pengamatan, wawancara, dan dokumen. Penelitian kualitatif misalnya diselenggarakan untuk mempelajari mengenai kehidupan, riwayat, pergerakan sosial, perilaku, peran organisasi, hubungan timbal balik. Sumber data didapatkan dari wawancara dengan yaitu kepala sekolah, bidang kurikilum Nasional, bidang kurikulum SIT, bidang kesiswaan, bidang SDM, orang tua murid, siswa dan staff yang ada di SDIT Al Kamil. Juga observasi lingkungan sekolah dan mengkaji dokumen-dokumen arsip sekolah. PEMBAHASAN Deskripsi tentang Implementasi program Bina Pribadi Islami di SDIT Al Kamil Program BPI merupakan bagian dari Standar Mutu Kekhasan Sekolah Islam ArifuddinUksan. PendidikanKarakterIslamiBangunPeradabanUmat, (Sukabumi:CV Jejak, anggota IKAPI: 2. , hlm. Dr. Kholis Amrullah. Pd. Dr. Fridiyanto. Pd. Dr. Muhamad Taridi. Pd. Metode Penelitian Kualitatif, (Malang: CV. Literasi Nusantara Abadi: 2. , hlm. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 Terpadu (SIT) di bawah Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia (JSIT). Program ini dirancang untuk membentuk syakhsiyah Islamiyah . ribadi Islam. pada peserta didik, yang mencakup pengembangan jiwa sosial, kepemimpinan, kerja sama, komunikasi, keterampilan memimpin dan dipimpin, serta kepatuhan terhadap Tujuan ini selaras dengan visi SDIT Al Kamil, yaitu mencetak AuGenerasi Qurani yang Cerdas. Kreatif, mandiri dan Ramah LingkunganAy serta AuFuture Quranic LeadersAy. Dalam perencanaan pendidikan karakter. BPI menjadi landasan strategis untuk membentuk karakter Islami yang holistik, yang tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga sosial, emosional, dan intelektual. Program Bina Pribadi Islami (BPI) di SDIT Al Kamil dilaksanakan secara terstruktur dan terarah untuk membentuk karakter islami siswa. Program BPI dilaksanakan setiap satu pekan sekali, dilaksanakan pada hari JumAat pada pukul peserta didik dibentuk dalam dinamika-dinamika kelompok akhwat/ikhwan. Kurikulum yang digunakan berdasarkan standar Mutu SIT dan dalam pelaksanaannya biasanya guru membuka kegiatan BPI dengan mengucapkan salam, kemudian guru menanyakan kabar peserta didik, dilanjut dengan murojaah, setelah itu biasanya guru menanyakan terkait ibadah siswa, bagaimana dengan sholat lima waktunya apakah sudah dilaksanakan dengan baik atau belum, setelah itu guru memberikan masukan atau motivasi agar pesertadidik bisa menjalankan ibadah lebih baik lagi. Kemudian dilanjutkan guru memberikan materi tentang keagamaan meliputi ibadah, akhlak, adab, fiqih, kisah para nabi dan rasul, kisah para sahabat dan di sesuaikan dengan keadaan saat ini terjadi di rumah maupun di sekolah baik dengan metode percakapan/diskusi, kisah ataupun metode ceramah. Tujuan dan Sasaran Program Berdasarkan wawancara dengan narasumber program BPI di SDIT Al Kamil bertujuan untuk menciptakan pribadi islami yang meliputi aqidah yang kuat dan murni yang diharapkan peserta didik dapat mencintai Allah dan rasul-Nya sehingga bisa melaksanakan segala hal-hal yang terkait dengan syariat dengan senang hati dan kemudian untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang muttaqin,di dukung oleh keimanan yang kuat, juga amalan-amalan yang sesuai dengan syariat kemudian juga memiliki badan, raga yang kuat, juga wawasan yang baik, tujuan besarnya adalah untuk melahirkan generasi Qurani atau melahirkan pemimpin dari orangorang yang bertakwa yaitu imamul muttaqinAy. Selanjutnya tentunya sesuai dengan visi yaitu menjadikan peserta didik itu menjadi generasi Qurani, kreatif, mandiri dan ramah lingkungan kemudian diharapkan peserta didik mampu menjadi imamul muttaqin yang artinya menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa, kemudian tujuannya untuk menjadikan anak-anak bercita-cita menjadi seorang pemimpin yang baik. Sasaran program BPI adalah siswa SDIT Al Kamil yang memiliki potensi dan kemampuan untuk menjadi generasi yang berkarakter islami yang meliputi peningkatan pengetahuan dan pemahaman agama, membentuk karakter islami, meningkatkan kesadaran dan pengamalan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, program BPI dapat membantu peserta didik menjadi individu yang berkarakter islami, beriman, dan beramal sholeh, serta dapat menjadi contoh bagi temantemannya. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 Metode dan strategi Implementasi Terdapat beberapa metode yang digunakan terkait implementasi program BPI dalam membentuk karakter islami peserta didik di SDIT Al Kamil. Tentunya metode ini sudah diaplikasikan ke dalam serangkaian program-program di SDIT Al Kamil yang di rancang sedemikian rupa guna mencapai tujuan yang diharapkan. Metode Percakapan/Diskusi Berdasarkan wawancara dengan narasumber, metode percakapan atau diskusi menjadi salah satu metode pembentukan karakter di SDIT Al Kamil. Dalam program BPI, guru mengajak pesertadidik untuk berdisikusi, memberikan umpan balik, belajar berpikir kritis dan mencari solusi terhadap apa yang ditanyakan selama diskusi berlangsung. Hal ini sejalan dengan pengertian metode percakapan/diskusi yang berarti suatu metode pembelajaran atau pembentukan karakter yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa, atau antara siswa dengan siswa lainnya, melalui percakapan atau diskusi yang terstruktur dan terarah. Dalam metode ini, siswa diajak untuk berpikir kritis, menganalisis, dan memecahkan masalah melalui diskusi dan percakapan yang konstruktif. Metode percakapan atau diskusi dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang nilai-nilaidanprinsip-prinsipislami,mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan, meningkatkan kepercayaan diri dankemampuan berbicara di depan umum. Dalam Program Bina Pribadi Islami (BPI), metode percakapan ataudiskusi dapat digunakan untuk membahas topik-topik yang relevan dengan pembentukan karakter islami, seperti akhlak islami, nilai-nilai Islam, dan lain- lain. Metode Qishah/Kisah Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, metode pembentukan karakter yang selanjutnya adalah metode qishah atau kisah. Dengan menceritakan kisah tentang Nabi Muhammad Saw, para Nabi dan Rasul, para sahabat akan membuat peserta didik termotivasi untuk mencontoh setiap akhlak baik dan menambah keimanan mereka. Hal ini sejalan dengan pengertian metode qishah atau kisah yang berarti suatu metode pembelajaran atau pembentukan karakter yang menggunakan cerita atau kisah sebagai sarana untuk menyampaikan pesan, nilai, atau prinsip islami. Metode ini dapat membantu siswa untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai islami melalui cerita yang menarik dan relevan. Dalam metode qishah atau kisah, guru atau pendidik dapat menggunakan cerita-cerita islami, seperti cerita para nabi, sahabat, atau tokoh-tokoh islami lainnya, untuk menyampaikan pesan moral dan nilai-nilai islami. Siswa dapat belajar dari pengalaman dan pengorbanan tokoh-tokoh tersebut, serta dapat memahami bagaimana menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari-hari. Metode qishah atau kisah dapat membantu siswa untuk meningkatkan pemahaman tentang nilai-nilai islami, mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, meningkatkan kesadaran tentang pentingnya akhlak islami, mengembangkan Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 empati dan kasih sayang terhadap orang lain, meningkatkan motivasi untuk menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Program Bina Pribadi Islami (BPI), metode qishah atau kisah dapat digunakan untuk membentuk karakter islami siswa dan membantu mereka memahami nilai- nilai islami dengan lebih baik. Dalam Program Bina Pribadi Islami (BPI), metode qishah atau kisah dapat digunakan untuk membentuk karakter islami siswa dan membantu mereka memahami nilai-nilai islami dengan lebih baik. Metode Uswah / keteladanan Berdasarkan wawancara dengan narasumber ditemukan bahwa metode pembentukan karakter selanjutnya adalah metode uswah, dalam hal ini guru memberikan keteladanan kepada peserta didik agar peserta didik dapat mencontoh hal-hal baik yang sudah dicontohkan oleh gurunya, contohnya jika guru ingin pesertadidiknya rajin shalat makaguruharus memberikan contoh terlebih dahulu. Hal ini sejalah dengan pengertian metode uswah atau keteladanan yang berarti suatu metode pembelajaran atau pembentukan karakter yang menggunakan contoh atau teladan yang baik sebagai sarana untuk membentuk karakter dan perilaku siswa. Metode ini berdasarkan pada prinsip bahwa siswa akan lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai-nilai islami jika mereka melihat contoh yang baik dari guru atau tokoh yang mereka hormati. Dalam metode keteladanan, guru atau pendidik berperan sebagai teladan yang baik bagi siswa, dengan menunjukkan perilaku dan karakter islami yang baik dalam kehidupan sehari- hari. Siswa dapat belajar dari contoh yang baik tersebut dan berusaha untuk meniru perilaku dan karakter yang baik. Dalam metode keteladanan, guru atau pendidik berperan sebagai teladan yang baik bagi siswa, dengan menunjukkan perilaku dan karakter islami yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Siswa dapat belajar dari contoh yang baik tersebut dan berusaha untuk meniru perilaku dan karakter yang baik. Metode keteladanan dapat membantu siswa untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya akhlak islami, mengembangkan karakter islami yang baik, meningkatkan motivasi untuk menerapkan nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan rasa hormat dan kasih sayang terhadap guru dan tokoh yang baik. Dalam Program Bina Pribadi Islami (BPI), metode keteladanan dapat digunakan untuk membentuk karakter islami siswa dan membantu mereka memahami nilai-nilai islami dengan lebih baik melalui contoh yang baik dari guru dan tokoh lainnya. Metode Pembiasaan Berdasarkan wawancara dengan narasumber ditemukan bahwa metode pembentukan karakter selanjutnya adalah metode pembiasaan, dalam hal ini seperti pembiasaan 5S . enyum, salam, sapa, sopan dan santu. , pembiasaan dzikir pagi dan almatsurat yang dilaksanakan setiap pagi, kemudian ada sholat zuhur berjamaah, ada juga program berinfak di setiap hari JumAat. Hal ini sejalan dengan pengertian metode pembiasaan yang berarti suatu metode pembelajaran atau pembentukan karakter yang menggunakan proses pengulangan dan pembiasaan Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 perilaku tertentu untuk membentuk kebiasaan yang baik pada siswa. Dalam metode pembiasaan, siswa dibiasakan untuk melakukan perilaku yang baik dan islami secara berulang-ulang, sehingga perilaku tersebut menjadi kebiasaan yang otomatis. Contohnya, siswa dibiasakan untuk melakukan shalat berjamaah, membaca Al-Quran, atau melakukan kegiatan lainnya. Metode pembiasaan dapat membantu siswa untuk membentuk kebiasaan yang baik dan islami, meningkatkan kesadaran dan komitmen terhadap nilai-nilai islami, mengembangkan karakter islami yang kuat, meningkatkan kemampuan untuk mengatur diri sendiri dan melakukan perilaku yang baik secara otomatis. Dalam Program Bina Pribadi Islami (BPI), metode pembiasaan dapat digunakan untuk membentuk karakter islami siswa dan membantu mereka mengembangkan kebiasaan yang baik dan islami. Relevansi dengan Pendidikan Karakter Pendidikan karakter dalam konteks BPI menekankan pada pembiasaan ibadah yang pertama adalah mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan melalui kebiasaan ibadah yangkonsisten, seperti shalat, membaca Al-QurAan, dan akhlak Ini memperkuat dimensi spiritual peserta didik. Kedua adalah mengintegrasikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dalam pengembangan keterampilan sosial dan kepemimpinan, program BPI melatih peserta didik untuk memiliki jiwa kepemimpinan, kemampuan kolaborasi dalam lingkungan multikultural, serta sikap inklusif. Hal ini relevan dengan kebutuhan pendidikan karakter modern yang menekankan kemampuan beradaptasi di masyarakat yang Dalam pemikiran kritis dan kreatif. BPI mendorong peserta didik untuk bernalar kritis dan memberikan solusi kreatif, yang mendukung pengembangan karakter sebagai calon pemimpin bangsa yang proaktif dan inovatif. Dalam kepatuhan terhadap aturan, dengan menekankan kepatuhan terhadap aturan tertulis dan tidak tertulis. BPI membentuk disiplin dan tanggung jawab, yang merupakan elemen kunci dalam pendidikan karakter. Integrasi dengan Visi dan Misi Sekolah Program BPI selaras dengan visi dan misi SDIT Al Kamil. Visi AuGenerasi Qurani yang Cerdas. Kreatif, dan Ramah LingkunganAy tercermin dalam pendekatan BPI yang mengintegrasikan nilai-nilai Al-QurAan dengan pengembangan intelektual dan kepedulian lingkungan. Sementaraitu, visi AuFuture Quranic LeadersAy diwujudkan melalui pelatihan kepemimpinan yangberlandaskan nilainilai Islam. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Program BPI Dalam Membentuk Karakter Islami di SDIT Al Kamil. Implementasi program BPI di SDIT Al Kamil juga ditunjang dan dipengaruhi oleh factor pendukung dan penghambat implementasi program BPI dalam membentuk karakter Islami peserta didik di SDIT AlKamil sebagai berikut: Faktor Pendukung Berdasarkan wawancara dengan narasumber ditemukan bahwa ada 5 faktor Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 pendukung implementasi program BPI dalam membentuk karakter Islami di SDIT Al Kamil diantaranya adalah pertama adalah kurikulum, ke dua dukungan JSIT, kepala sekolah, yayasan, orang tua dan komite, ke tiga guru, ke empat penanggung jawab BPI, ke lima adalah evaluasi. Untuk faktor pertama adalah kurikulum. Kurikulum memiliki peran yang sangat penting sebagai faktor pendukung sebuah program, karena kurikulum menentukan arah dan tujuan program tersebut. Kurikulum penting dalam sebuah program karena kurikulum menentukan tujuan program dan apa yang ingin dicapai oleh program tersebut, kurikulum mengatur struktur program, termasuk materi yang akan disampaikan, metode pembelajaran, dan evaluasi, kurikulum yang baik dapat meningkatkan efektivitas program dengan memastikan bahwa materi yang disampaikan relevan dan sesuai dengan kebutuhan, membantu mengembangkan kompetensi siswa atau peserta program, termasuk pengetahuan, keterampilan, dan sikap, meningkatkan kualitas program dengan memastikan bahwa program tersebut memenuhi standar yang ditetapkan. Dalam konteks Program Bina Pribadi Islami (BPI), kurikulum memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter islami siswa. Kurikulum yang baik dapat membantu siswa mengembangkan karakter islami yang kuat dan kokoh, serta meningkatkan kesadaran dan komitmen mereka terhadap nilai-nilaiislami. Program BPI di SDIT Al Kamil menggunakan Kurikulum JSIT. Kurikulum JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpad. menjadi faktor utama pendukung keberhasilan Program Bina Pribadi Islami (BPI) dalam membentuk karakter islami Kurikulum JSIT dirancang untuk mengintegrasikan nilai- nilai islami dan pengetahuan umum dalam satu kesatuan yang utuh. Dengan adanya kurikulum JSIT, program BPI dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien dalam membentuk karakter islami siswa. Kurikulum ini mencakup berbagai aspek penting, seperti pembelajaran Al-Quran dan Hadits, akhlak islami, sejarah Islam, dan kegiatan islami lainnya. Kurikulum JSIT juga dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan komitmen siswa terhadap nilai-nilai islami, serta membantu mereka mengembangkan karakter islami yang kuat dan kokoh. Dengan demikian, kurikulum JSIT menjadi fondasi utama dalam mencapai tujuan program BPI, yaitu membentuk siswa yang berkarakter islami dan beriman. Kurikulum JSIT juga memungkinkan sekolah untuk mengembangkan program-program yang relevan dengan kebutuhan siswa dan masyarakat, sehingga program BPI dapat dilaksanakan secara kontekstual dan efektif dalam membentuk karakter islami siswa. Faktor yang ke dua adalah dukungan dari JSIT, kepala sekolah, yayasan, orang tua dan komite. Program Bina Pribadi Islami (BPI) di SDIT Al Kamil mendapatkan dukungan yang kuat dari berbagai pihak, termasuk JSIT (Jaringan Sekolah Islam Terpad. yang memberikan dukungan dalam bentuk kurikulum, untuk membantu SDIT Al Kamil melaksanakan program BPI secara efektif. Kepala Sekolah SDIT Al Kamil berperan penting dalam memimpin dan mengawasi pelaksanaan program BPI, serta memastikan bahwa program tersebut selaras dengan visi dan misi sekolah. Yayasan yang mengelola SDIT Al Kamil memberikan dukungan dalam bentuk sumber daya dan fasilitas untuk membantu Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 pelaksanaan program BPI. Orang tua siswa SDIT Al Kamil berperan penting dalam mendukung pelaksanaan program BPI dengan memantau kemajuan anak- anak mereka dan memberikan dukungan di rumah. Faktor ke tiga adalah guru. Ketika guru/pembina BPIkonsisten maka akan hadir siswa yang konsisten, ketika guru/pembina BPI itu baik dan sabar maka akan hadir kesabaran dan kebaikan-kebaikan yang ditiru oleh siswanya. Guru memiliki peran yang sangat penting sebagai faktor pendukung keberhasilan Program Bina Pribadi Islami (BPI). Pertama, guru berperan sebagai pengajar dan pembimbing yang membantu siswa memahami nilai-nilai islami dan mengembangkan karakter Ke dua, guru dapat menjadi model dan teladan bagi siswa dalam mengembangkan karakter islami, sehingga siswa dapat meniru perilaku dan sikap yang baik. Ke tiga, guru dapat membantu mengembangkan kurikulum BPI yang relevan dengan kebutuhan siswa. Ke empat, guru dapat mengawasi dan mengevaluasi kemajuan siswa dalam program BPI, serta membantu meningkatkan kualitas program tersebut. Ke lima, guru dapat membangun hubungan yang baik dengan siswa, sehingga siswa merasa nyaman dan termotivasi untuk belajar dan mengembangkan karakter islami. Dengan demikian, guru memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan program BPI dan membantu siswa mengembangkan karakter islami yang kuat dan kokoh. Guru yang berkualitas dan berdedikasidapat membuat perbedaan besar dalam membentuk siswa yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Faktor ke empat, adanya penanggung jawab BPI yang bertugas sebagai pengawas, membantu mengingatkan dan menyiapkan materi yang akan di bahas selama BPI berlangsung. Penanggung Jawab Program Bina Pribadi Islami (BPI) memiliki peran yang penting sebagai faktor pendukung keberhasilan program tersebut. Pertama, mengawasi pelaksanaan program secara keseluruhan, memastikan bahwaprogram berjalan sesuai dengan rencana dan tujuan. Ke dua, membantu mengembangkan kurikulum BPI yang relevan dengan kebutuhan siswa. Ke tiga, mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan program BPI, seperti pengembangan materi, dan evaluasi program. Ke empat, mengevaluasi kemajuan program dan membuat rekomendasi untuk perbaikan dan pengembanganprogram. Ke lima mengkomunikasikan dengan stakeholder, seperti guru dan kepala sekolah, untuk memastikan bahwa program BPI berjalan dengan efektif dan efisien. Dengan demikian, penanggung jawab BPI memiliki peran yang pentingdalam mendukung keberhasilan program BPI dan membantu siswa mengembangkan karakter islami yang kuat dan kokoh. Faktor pendukung ke lima adalah adanya evaluasi, evaluasi dilakukan dengan cara diskusi dalam rapat antara pembina BPIdengan guru pengisi BPI, membahas hal-hal apa saja yang menjadi kendala dan bagaimana solusinya. Meminta peserta didik menuliskan refleksi bagaimana perasaan, harapan, hal baik ygdipertahankan, hal-hal yang perlu diperbaiki dalam pelaksanaan kegiatan BPI. Hasil evaluasi tersebut akan ditindak lanjuti oleh pembina BPIdan yayasan dalam menyusun kurikulum dan program BPI ke depannya. Evaluasi merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan Program Bina Pribadi Islami (BPI). Yang pertama. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 evaluasi membantu mengukur kemajuan siswa dalam mengembangkan karakter islami dan mencapai tujuan program BPI. Ke dua, membantu mengidentifikasi kekurangan dan kelemahan dalam pelaksanaan program BPI, sehingga dapat dilakukan perbaikan dan pengembangan. ka tiga, membantu meningkatkan kualitas program BPI dengan memastikan bahwa program tersebut efektifdan efisien dalam mencapai tujuan. Keempat, memberikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dalam pengembangan dan perbaikan program BPI. Dengan demikian, evaluasi merupakan komponen penting dalam keberhasilan program BPI, karena membantu memastikan bahwa program tersebut efektif dan efisien dalam mencapai tujuan dan mengembangkan karakter islami Faktor Penghambat Berdasarkan wawancara dengan narasumber ditemukan bahwa ada 5faktor penghambat implementasi program BPI dalam membentuk karakter Islami di SDIT Al Kamil, di antaranya terkait waktu, adanya aktivitas lain, kurangnya peran orang tua, penyusunan kurikulum yang belum optimal dan program BPI guru yang belum Faktor penghambat yang pertama adalah waktu, saat ini penerapan waktu BPI masih menyesuaikan dengan jam selesainya sholat JumAat, sehingga mulainya kegiatan BPI tidak bersamaan. Ada yang memulai pukul 12. 45 dan ada juga yang baru memulai pukul 13. 00, sedangkan waktu yang disediakan untuk kegiatan BPI sampai dengan pukul 13. Sehingga kegiatan BPI menjadi kurang optimal. Dengan demikian, waktu dapat menjadi faktor penghambat implementasi program BPI di SDIT Al Kamil jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan perencanaan yang baik dan pengelolaan waktu yang efektif untuk memastikan keberhasilan program BPI. Faktor yang ke dua adalah adanya aktivitas Ketika ada aktivitas lain yang harus menggunakan jam BPI, maka kegiatan BPI ditiadakan. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat keberhasilan program BPI di SDIT Al Kamil. Solusi yang di dapat dari narasumber adalah tidak hanya ketika kegiatan BPI kita mengingatkan tentang adab dan akhlak tapi harus mengingatkan di setiap aktivitas yang peserta didik laksanakan, misalnya ketika guru sedang berbicara sementara peserta didik masih ngobrol, bercanda, itu adalah tugas guru mengingatkan kepesertadidik, maaf gitu ya bicaranya bergantian, biasanya adab terhadap guru bagaimana? atau misalnya ketika anak lupa mengucapkan salam ketika masuk ke dalam kelas, kita ingatkan juga, maaf coba diulangi lagi silahkan ucapkan salam jika masuk kelas, dan misalnya jika ada anak yang berbicara kurang baik kita ingatkan juga, coba bicara yang baik dan ingatkan juga untuk mengucapkan istigfar. Jadi memang harus sinergi atau kerja sama antar warga sekolah. Faktor ke tiga adalah kurangnya peran orang tua, dukungan yang kurang optimal terutama dari pihak orang tua disebabkan belum semua orang tuamemiliki pemahaman mengenai pentingnya kegiatan BPI siswa . arena sebagian besar orang tua belum mengikuti BPI). Solusinya adalah membuat program BPI untuk orang tua murid agar memiliki kesamaan visi dan misi dalam membimbing karakter peserta didik. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 Faktor ke empat adalah penyusunan kurikulum yang kurang optimal. Penyusunan kurikulum yang kurang optimal dapat menyebabkan keterlambatan dalam mencapai tujuan program. Solusinya dengan melakukan analisis kebutuhan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh peserta didik. Melakukan evaluasi dan revisi kurikulum secara teratur untuk memastikan bahwa kurikulum tersebut efektif dan relevan. Faktor kelima adalah program BP Iguru yang belum optimal. Dari gurunya sendiri banyak yang belum paham pentingnya mengikuti BPI itu, sehingga ketika guru tersebut belum melaksanakan, belum paham, nah guru itu akan mengalami kesulitan untuk melakukan pembinaan kepada anak didiknya itu. Itu kendala yang pertama, apalagi misalnya banyak guru-guru baru yang memang belum merasa pentingnya BPI dan mereka juga belum paham sama tujuan dari sekolah Al Kamil atau visi misi dari sekolah itu sendiri sehingga tidak kuat untuk melakukan pembentukan pribadi Islami baik untuk dirinya maupun untuk anak didiknya. Solusinya, kita harus menertibkan dan memotivasi guru-guru untuk mengikuti kegiatan dan mungkin memberikan pemahaman lagi kepada guru-guru betapa pentingnya guru itu sebagai Agent of Change yang memiliki visi besar, tentunya para guru akan berusaha memperbaiki dirinya menjadi lebih baik, kita dan para guru paham apa saja yang harus dikerjakan, apa saja yang dilakukan untuk proses pendidikan pada peserta didik yaitu utama buat tadi pembinaan pribadi muslim. Perubahan Perilaku Siswa Berdasarkan wawancara dengan narasumber, perubahan perilaku siswa setelah mengikuti program BPI yaitu tertib dalam beribadah, dapat dilihat dari ibadah wajib yang sudah dilaksanakan dengan baik, ibadah sunah yang mulai dibiasakan, kemudian terbinanya akhlak dan adab Islami sehingga menurunnya tingkat bullying di sekolah, kemudian siswa dapat mengelola emosinya, bisa bersabar, berkata yang baik dan sopan. Adab kepada guru, dan semangat untuk menuntut ilmu di sekolah. Selain itu, peserta didik menjadi lebih bersemangat dalam belajar dan menghafal Al Quran serta ibadah harian siswa serta bertambahnya wawasan keislaman siswa. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat peneliti berikan kesimpulan sebagai berikut: Implementasi Program BPI dalam membentuk karakter Islami peserta didik di SDIT Al Kamil Implementasi Program Bina Pribadi Islami (BPI) di SDIT Al Kamil dilaksanakan secara terstruktur dan terarah untuk membentuk karakter islami siswa. Program BPI dilaksanakan setiap satu pekan sekali, dilaksanakan pada hari JumAoat pada pukul 12. Peserta didik dibentuk dalam dinamika-dinamika kelompok akhwat/ikhwan. Kurikulum yang digunakan berdasarkan standar Mutu SIT dan dalam pelaksanaannya biasanya guru membuka kegiatan BPI dengan mengucapkan salam, kemudian guru menanyakan kabar peserta didik, dilanjut dengan murojaah, setelah itu biasanya guru menanyakan terkait ibadah siswa. Jurnal Pena Islam : Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 Copyright: A2025. Wahyu Bhekti Prasojo. Ihsan Isnaeni. Choirunnissa Jurnal Pena Islam : Jurnal Penelitian Ilmu Tarbiyah. Syariah, dan Kajian Umum Keislaman. Vol. 5 No. 2 : Juli Ae Desember 2025 E-ISSN : 2829-5374. ISSN : 2777-0125 Hal. 56 - 76 bagaimana dengan sholat lima waktunya apakah sudah dilaksanakan dengan baik atau belum, setelah itu guru memberikan masukan atau motivasi agar pesertadidik bisa menjalankan ibadah lebih baik lagi. Kemudian dilanjutkan guru memberikan materi tentang keagamaan meliputi ibadah, akhlak, adab, fiqih, kisah para nabi dan rasul, kisah para sahabat dan di sesuaikan dengan keadaan saat ini terjadi di rumah maupun di sekolah baik dengan metode percakapan/diskusi, kisah ataupun metode Adapun program pendukung lainnya adalah 5S . enyum, salam, sapa, sopan dan santu. , dzikir almatsurat dan dhuha, sholat berjamaah, doa dan dzikir setelah sholat, dan berinfak setiap hari JumAoat. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Program BPI dalam Membentuk Karakter Islami di SDIT Al Kamil Faktor pendukung implementasi Program BPI dalam membentuk karakter Islami di SDIT Al Kamil diantaranya, pertama adalah kurikulum, ke duadukungan JSIT, kepala sekolah, yayasan, orang tua dan komite, ke tiga guru, ke empat penanggung jawab BPI, ke lima adalah evaluasi. Sedangkan faktor penghambat implementasi Program BPI dalam membentuk karakter Islami di SDIT Al Kamil diantaranya terkait waktu, adanya aktivitas lain, kurangnya peran orang tua, penyusunan kurikulum yang belum optimal dan program BPI guru yang belum optimal. EfektifitasProgram BPIdalamMembentuk Karakter Islami Efektivitas Program BPI dalam membentuk karakter Islami dapat diukurdari meningkatnya pengetahuan peserta didik tentang islam, akhlak peserta didik dan kesadaran dalam beribadah. Saran Bagi SDIT Al Kamil perlunya dilakukan perencanaan dan penyusunan kurikulum yang lebih optimal untuk meningkatkan keberhasilan Program BPI Bagi guru-guru SDIT Al Kamil, khususnya guru pembina BPI agar memaksimalkan waktu yang telah ditentukan untuk program BPI dan mengikuti program BPI guru setiap pekannya. Bagi peserta didik diharapkan bisa lebih semangat dan antusias dalam mengikuti Program BPI. DAFTAR PUSTAKA