JURNAL SATYA WIDYA - VOL. 41 NO. 2 (DESEMBER, 2. Available online at: https://ejournal. edu/satyawidya EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN DIFERENSIASI PADA PENERAPAN NILAI-NILAI PANCASILA DI KELAS VI SEKOLAH DASAR Atika Dewi1. Rosyidah2. Isnah Hidayati3. Santoso4. Wawan Shokib Rondli5 Universitas Muria Kudus. Indonesia. E-mail: 202303052@std. Universitas Muria Kudus. Indonesia. E-mail: 202303087@std. Universitas Muria Kudus. Indonesia. E-mail: 202303069@std. Universitas Muria Kudus. Indonesia. E-mail: santoso. pgsd@umk. Universitas Muria Kudus. Indonesia. E-mail: wawan. shokib@umk. INFORMASI ARTIKEL A B S T R A C T Submitted Review Accepted Published This study aims to describe the implementation of differentiated learning in the practice of Pancasila values in elementary school students. A descriptive qualitative research method was used, with data collection techniques including classroom observations, teacher interviews, and documentation of students' learning outcomes at three different elementary schools. The results showed that teachers consistently applied differentiated learning by adjusting the content, process, product, and learning environment according to the students' needs. This approach successfully enhanced students' active involvement, learning motivation, and character development in alignment with the values of Pancasila. Differentiated learning has characteristics that align with supporting learning theories, such as Piaget's cognitive development theory. Vygotsky's Zone of Proximal Development (ZPD) theory. Kohlberg's theory of moral development, and Bruner's constructivist theory, which indicate that differentiated learning can be applied in the development of cognitive, affective, psychomotor, and character aspects that reflect Pancasila values through Civics Education (PPK. However, there are some challenges, such as the implementation of initial assessments, limited time, and learning resources that need This study provides implications for the development of effective and enjoyable Civics Education strategies at the elementary school level. : 2025-06-03 : 2025-06-17 : 2025-08-04 : 2025-12-30 KEYWORDS Differentiated Instruction. Pancasila Values. Civic Education. Elementary School Pembelajaran Diferensiasi. Nilai-nilai Pancasila. PPKn. Sekolah Dasar KORESPONDENSI Phone: 6285740075554 E-mail: 202303052@std. Pene Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan pembelajaran diferensiasi dalam materi pengamalan nilai-nilai Pancasila pada siswa Sekolah Dasar, dengan focus pada masalah kurangnya keterlibatan aktif dan variasi pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dalam pembelajaran PPKn. Metode 146 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 146 Ae 159 penelitian kualitatif deskriptif digunakan dengan teknik pengumpulan data melalui observasi pembelajaran, wawancara guru, dan dokumentasi hasil belajar siswa di tiga SD yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru secara konsisten menerapkan pembelajaran diferensiasi dengan menyesuaikan materi, proses, produk, dan lingkungan belajar sesuai kebutuhan peserta didik. Pembelajaran ini berhasil meningkatkan keterlibatan aktif siswa, motivasi belajar, serta pengembangan karakter yang sesuai nilai-nilai Pancasila. Pembelajaran diferensiasi memiliki karakteristik yang selaras dengan teori-teori yang mendukung pembelajaran seperti teori kognitif dari Piaget, teori ZPD dari Vygotsky, teori perkembangan moral dari Kohlberg, dan teori konstruktivisme dari Bruner yang menunjukkan bahwa pembelajaran diferensiasi dapat diterapkan dalam pengembangan kognitif, afektif, psikomotorik, dan karakter yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila melalui pembelajaran PPKn. Meski demikian, terdapat beberapa tantangan seperti pelaksanaan asesmen awal pembelajaran, keterbatasan waktu dan sarana pembelajaran yang perlu diperhatikan. Penelitian ini memberikan implikasi bagi pengembangan strategi pembelajaran PPKn yang efektif dan menyenangkan di tingkat Sekolah Dasar. PENDAHULUAN Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau lebih umum disebut PPKn mata pelajaran yang memberikan kesempatan bagi peserta didik dalam membentuk karakter serta membangun kesadaran kewarganegaraan sejak usia dini. PPKn tidak hanya mengajarkan aspek ketatanegaraan, tetapi juga sebagai sarana dalam mengintegrasikan Pendidikan Pancasila dalam proses pendidikan. Oleh karena itu. Pendidikan Pancasila sebagai dasar ideologis bangsa diwujudkan secara konkret melalui materi, pendekatan, dan tujuan pembelajaran PPKn. Pada jenjang sekolah dasar, mata pelajaran ini telah dikenalkan sejak di kelas satu dengan tujuan memberikan pengetahuan mengenai hak dan kewajiban warga negara sekaligus dalam mengembangkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar dalam karakternya. PPKn merupakan mata pelajaran yang berfokus pada perwujudan nilai kemanusiaan yang berakar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 (Hayati et al. , 2. Prinsip dari PPKn adalah membentuk masyarakat demokratis, sehingga tujuan dari PPKn adalah menciptakan warga negara yang aktif dan bertanggung jawab dalam sistem pemerintahan yang demokratis sebagai warga negara yang baik . ood citizenshi. melalui pembekalan, baik di bidang pengetahuan, karakter maupun keterampilan (Hasanah, 2. Hal ini menunjukkan bahwa mata pelajaran PPKn tidak hanya sebatas pembelajaran ilmu sosial dan penumbuhan karakter semata, tetapi juga merupakan salah satu sarana dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Menurut Permendikdasmen No 12 Tahun 2025 tentang Standar Isi, ruang lingkup mata pelajaran PPKn dikategorikan menjadi dua, yaitu . Pendidikan Pancasila yang membahas mengenai sejarah kelahiran Pancasila, makna sila-sila Pancasila sebagai satu Satya Widya | 147 Efektivitas Pembelajaran Diferensiasi Pada Penerapan Nilai-Nilai Pancasila A kesatuan yang utuh, kedudukan Pancasila, pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hasi, dan simbol-simbol negara dan semboyan negara, serta . Pendidikan Kewarganegaraan yang membahas mengenai norma, aturan, hak, dan kewajiban, identitas diri dan lingkungan sebagai bagian dari wilayah NKRI. Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, dan musyawayah, kerjasama, dan gotong royong dalam menjaga persatuan dan kesatuan. Kedua ruang lingkup ini merupakan wahana dalam mewujudkan perilaku yang mencerminkan nilai luhur dan moral bangsa Indonesia melalui pendidikan. Dalam jenjang sekolah dasar, kedua ruang lingkup disajikan dalam materi PPKn yang dikategorikan menjadi empat elemen, yakni Pancasila. UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cakupan materi dalam PPKn yang kaya akan pengetahuan kewarganegaraan dan karakter luhur menunjukkan pentingnya mata pelajaran ini untuk dapat dipahami secara komprehensif dan menyeluruh oleh peserta didik. Namun, pada kenyataanya mata pelajaran PPKn tidak termasuk mata pelajaran yang digemari oleh peserta didik. PPKn yang sebagian besar mengandung materi yang bersifat konsep dan abstrak, dirasa sulit dipahami oleh peserta didik hanya melalui pembelajaran teoritis. Luas dan padatnya materi ajar PPKn menjadikan pembelajaran hanya difokuskan pada penguasaan teori yang berdampak pada berkurangnya efektivitas dan makna dalam pembentukan karakter dan pencapaian tujuan belajar. Hal ini juga menimbulkan rasa bosan pada peserta didik sehingga berdampak pada hasil belajar dan motivasi mereka dalam mengikuti kegiatan Penelitian di SDN 20 Cakranegara menunjukkan bahwa siswa merasa cepat bosan dan kurang tertarik terhadap pembelajaran PPKn, karena rendahnya minat terhadap pembelajaran PPKn, kondisi jasmani yang kurang sehat saat belajar, penggunaan sumber belajar yang kurang variatif, dan tidak adanya apresiasi guru terhadap siswa (Munawarah et al. , 2. Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa metode mengajar yang kurang menarik, kondisi ruang belajar yang tidak mendukung, dan hubungan yang kurang harmonis antara guru dan siswa menjadi faktor penghambar motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PPKn (Ilahude et al. , 2. Di sisi lain, materi yang mengandung pengembangan karakter seperti pengamalan nilai-nilai Pancasila hendaknya dikuatkan melalui pembelajaran dan pembiasaan sejak dini (Sulasmono. Berdasarkan hasil wawancara terhadap siswa yang dilakukan di tiga sekolah, yaitu SDN Pangkalan. SDN Tanggultlare, dan SDN 1 Panggang menujukkan bahwa peserta didik kurang menyukai mata pelajaran PPKn karena materi dalam mata pelajaran tersebut dianggap sulit untuk dipahami, memuat materi hafalan, dan bahasa dalam buku yang digunakan sebagai sumber belajar sulit dipahami. Temuan serupa ditunjukkan pada hasil penelitian di SDN Wirun. Pati, di mana siswa kelas V mengalami kesulitan dalam memahami materi PPKn dan menunjukkan minat yang rendah dalam pembelajarannya, dan menunjukkan pentingnya peran guru dalam menumbuhkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran PPKn (Amelia et al. , 2. Kondisi ini menggambarkan dibutuhkannya pendekatan pembelajaran yang menarik dan lebih memotivasi peserta didik, berfokus pada pemahaman teori, pengembangan karakter, keterampilan, dan pemahaman mengenai nilai-nilai yang Langkah yang dapat diambil adalah dengan mengimplementasikan strategi pembelajaran aktif, yang memungkinkan keterlibatan peserta didik secara langsung dalam proses belajar, bukan hanya sekedar sebagai penerima informasi. Pembelajaran PPKn yang menyenangkan dan memotivasi tidak hanya akan berdampak pada hasil 148 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 146 Ae 159 belajar, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Hal ini selaras dengan hasil penelitian di SMA 1 Parengan yang menunjukkan bahwa suasana pembelajaran PPKn yang menyenangkan memberikan kesempatan sebagai pembentukan karakter bagi siswa (Nisa et al. , 2. Penelitian di SD Muhammadiyah Boyolali juga menunjukkan bahwa pengembangan rencana pembelajaran PPKn yang berbasis budaya berpengaruh terhadap pembentukan karakter siswa (Narimo et al. , 2. Terkhusus pada materi mengenai Pancasila dan penerapan nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini membutuhkan pendekatan pembelajaran yang dapat mengeksplorasi pengetahuan peserta didik sekaligus menguatkan karakternya secara komprehensif. Dengan metode yang tepat, peserta didik tidak sekedar memahami konsep-konsep Pancasila, tetapi juga mampu mewujudkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji berbagai metode dan strategi pembelajaran PPKn, seperti penggunaan metode diskusi kelompok sebagai upaya dalam meningkatkan hasil belajar PPKn siswa (Poriati, 2. Penggunaan media visual dalam bentuk power point dapat membantu memberikan gambaran nyata terhadap materi dalam mata pelajaran PPKn yang diajarkan (Tawari, 2. Pemanfaatan multimedia interaktif dalam pembelajaran PPKn juga dapat meningkatkan minat belajar siswa (Anwar et al. Penelitian lain yang senada juga menunjukkan peningkatan hasil belajar dalam mata pelajaran PPKn melalui model pembelajaran berbasis proyek (Erlanda et al. , 2. Hasil penelitian di SMPN 33 Palembang mengenai implementasi pembelajaran diferensiasi dalam PPKn (Jhon & Alfiandra, 2. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya dampak positif dalam pemahaman peserta didik, tetapi sebagian masih berfokus pada aspek kognitif dan kurang menekankan pada pendekatan Salah satu pendekatan yang dinilai efektif tidak hanya dalam aspek kognitif tetapi juga karakter adalah pembelajaran diferensiasi. Pembelajaran diferensiasi dikenalkan oleh Tomlinson . sebagai pendekatan instruksional dimana proses belajar peserta didik dalam rangka menanggapi kebutuhan belajar tiap individu. Dalam pembelajaran diferensiasi, guru merancang pembelajaran dengan menggunakan konten, proses, produk, dan lingkungan belajar sesuai dengan karakter materi dan kebutuhan belajar peserta didik. Pembelajaran diferensiasi memiliki tujuh karakteristik, yaitu bersifat proaktif, lebih bersifat kualitatif daripada kuantitatif, berakar pada asesmen, menyediakan berbagai jenis pendekatan, berpusat pada murid, gabungan dari kelas besar, grup, dan individu, serta organik (Tomlinson, 2001. Proaktif berarti guru berperan penting dalam proses perencanaan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Lebih kualitatif daripada kuantitatif, artinya peserta didik dengan pemahaman tingkat lanjut mendapatkan materi dengan level kompleksitas yang lebih tinggi, bukannya jumlah soal yang lebih banyak. Berakar pada asesmen, berarti guru perlu menerapkan penilaian yang dapat memberikan informasi terkait kebutuhan dan karakter tiap peserta didik sebagai dasar dalam merancang kegiatan Menyediakan berbagai jenis pendekatan, artinya pembelajaran diferensiasi memberikan kesempatan belajar kepada peserta didik melalui beragam konten materi, proses belajar, cara dalam menunjukkan hasil belajar, dan lingkungan belajar yang dimodifikasi sesuai dengan kemampuan awal, minat, dan profil belajar peserta didik. Karakteristik yang berpusat pada peserta didik berarti adanya partisipasi aktif dari peserta didik dalam proses pembelajaran secara menyeluruh. Gabungan kelas besar, grup, dan individu artinya peserta didik berkesempatan untuk mengikuti kegiatan belajar secara Satya Widya | 149 Efektivitas Pembelajaran Diferensiasi Pada Penerapan Nilai-Nilai Pancasila A berkelompok maupun mandiri, dengan pengelompokan yang fleksibel. Organik berarti adanya kolaborasi antara siswa dan guru termasuk dalam proses penetapan tujuan dan guru sebagai fasilitator bertugas memantau dan membuat penyesuaian jika diperlukan. Ketujuh karakteristik ini mencerminkan pembelajaran yang responsif terhadap keragaman peserta didik di kelas (Tomlinson, 2. Berdasarkan uraian karakteristik tersebut, pembelajaran diferensiasi mengakomodasi kebutuhan belajar peserta didik melalui berbagai strategi. Hasil penelitian Jhon & Alfiandra . menunjukkan bahwa pembelajaran diferensiasi dapat meningkatkan keterlibatan secara aktif dalam pembelajaran PPKn dan meningkatnya semangat belajar. Penelitian lain yang dilakukan oleh Aryansyah & Alfiandra . juga menunjukkan bahwa pembelajaran diferensiasi secara efektif meningkatkan minat belajar peserta didik. Sedangkan penelitian dari Sharindradini et al. menunjukkan bahwa guru memiliki peran utama dalam membentuk karakter peserta didik melalui pembelajaran diferensiasi. Meski demikian, belum banyak penelitian yang memfokuskan efektivitas dari pembelajaran diferensiasi terhadap pengembangan karakter nilai-nilai Pancasila yang lebih kontekstual dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Pengembangan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran PPKn sangat penting untuk membentuk sikap dan perilaku peserta didik dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggali efektivitas pembelajaran diferensiasi pada penerapan nilai-nilai Pancasila di sekolah dasar. Penelitian juga akan mengevaluasi bagaimana strategi pembelajaran diferensiasi dapat meningkatkan pemahaman konseptual sekaligus mewujudkan karakter sesuai nilai-nilai Pancasila dalam diri peserta didik. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi guru dan pihak sekolah dalam mengoptimalkan pembelajaran PPKn yang tidak hanya efektif secara akademik, tetapi juga mendukung pembentukan karakter bangsa sejak dini. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memperoleh gambaran mendalam mengenai penerapan pembelajaran diferensiasi dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila serta efektivitasnya terhadap pemahaman dan karakter peserta didik. Peserta didik kelas VI dan guru kelas dari tiga sekolah dasar yang berbeda wilayahnya, yaitu SDN Pangkalan Kabupaten Pati. SDN Tanggultlare dan SDN 1 Panggang Kabupaten Jepara dipilih sebagai subjek dalam penelitian ini. Pemilihan tiga sekolah bertujuan untuk mendapatkan variasi konteks pembelajaran dan memperkuat validasi Teknik pengumpulan data melalui observasi proses pembelajaran PPKn yang menerapkan pembelajaran diferensiasi, wawancara dengan guru kelas dalam mendalami strategi, kendala, dan persepsi guru mengenai efektivitas pembelajaran diferensiasi, dan dokumentasi berupa bahan ajar, lembar kerja peserta didik, dan modul ajar sebagai data Prosedur penelitian dilakukan dalam empat langkah, yaitu persiapan instrumen, observasi, wawancara, dan pengumpulan dokumen terkait pembelajaran. Analisis data selanjutnya digunakan teknik analisis tematik, dengan mengelompokkan data berdasarkan tema utama seperti strategi pembelajaran, motivasi, dan kendala Selain itu,dilakukan triangulasi data untuk memastikan validasi temuan dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. 150 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 146 Ae 159 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembelajaran diferensiasi merupakan strategi pembelajaran yang dilakukan dengan menyesuaikan materi, proses belajar, produk hasil belajar, dan lingkungan sesuai dengan kebutuhan dan karakter peserta didik. Pada penelitian ini, guru secara konsisten menerapkan prinsip-prinsip diferensiasi dalam proses pembelajaran PPKn, dengan fokus materi pengamalan nilai-nilai Pancasila. Diferensiasi konten yang diterapkan oleh guru adalah dengan menyediakan berbagai sumber, sarana, dan media pembelajaran yang disesuaikan dengan gaya belajar maupun minat peserta didik. Konten pembelajaran tidak terbatas hanya dalam kelas, tetapi juga memanfaatkan lingkungan dan masyarakat sebagai sumber belajar kontekstual. Diferensiasi proses yang diterapkan oleh guru terlihat dari berbagai aktivitas Diskusi kelompok, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, inkuiri, dan kegiatan pengamatan memungkinkan setiap peserta didik belajar sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Pengelompokkan peserta didik sesuai dengan kesiapan belajar yang dilakukan guru dalam proses belajar memberikan kesempatan peserta didik untuk belajar bersama rekan dengan pengetahuan dasar yang seimbang sehingga dapat memicu interaksi dan diskusi yang aktif. Guru sebagai fasilitator juga dapat lebih intensif dalam menjalankan perannya, dengan memberikan scaffolding bagi peserta didik pada kelompok yang membutuhkan pendampingan lebih. Pada aspek diferensiasi produk, guru memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menunjukkan hasil belajar melalui berbagai cara dan bentuk yang dapat disesuaikan dengan ide dan kreasi mereka baik berupa poster, karya tulis, kampanye, dan Dalam pembelajaran dengan matei pengamalan nilai-nilai Pancasila pada mata pelajaran PPKn, peserta didik akan ditantang untuk menunjukkan hasil belajar yang lebih konkret dari materi yang bersifat konsep dan abstrak. Memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam berkarya baik secara individu maupun kelompok dapat memotivasi peserta didik dari dalam diri mereka untuk merancang hasil belajar Ditinjau dari antusiasme peserta didik selama proses pembelajaran, menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan dapat menarik partisipasi aktif dan minat peserta didik, seperti memberikan pendapat dalam diskusi kelompok, mengajukan pertanyaan dalam presentasi kelompok, bekerja sama dan saling berinteraksi dalam penyelesaikan tugas dan projek, serta menunjukkan rasa ingin tahu dalam kegiatan Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik merasa lebih diberdayakan dalam proses pembelajaran sesuai dengan kebutuhan belajar mereka. Proses pembelajaran ini juga menunjukkan adanya pengembangan sikap gotong royong, keadilan, dan musyawarah yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku yang ditunjukkan oleh peserta didik. Keterampilan sosial diasah melalui proses belajar dan terjadi senatural mungkin sehingga peserta didik tidak hanya sebatas belajar tetapi juga memahami dan secara langsung menunjukkan perilaku berkarakter dari berbagai aktivitas, baik secara individu maupun dalam kelompok. Hasil observasi ini senada dengan hasil penelitian Aulia et al. yang menyatakan pembelajaran diferensiasi dapat memfasilitasi perkembangan karakter dan potensi peserta didik yang sejalan dengan tujuan pendidikan Indonesia. Pembelajaran diferensiasi mampu meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui gaya belajar masingmasing sehingga perkembangan karakter dan potensinya dapat terfasilitasi dengan lebih Satya Widya | 151 Efektivitas Pembelajaran Diferensiasi Pada Penerapan Nilai-Nilai Pancasila A Hasil ini juga selaras dengan hasil penelitian Gadafi et al. yang menyebutkan bahwa pembelajaran diferensiasi berkontribusi positif terhadap pemahaman peserta didik, serta dapat meningkatkan motivasi belajar, berperan aktif dalam pembelajaran, serta pengembangan karakter. Melalui pembelajaran diferensiasi, guru dapat menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna dengan cara yang lebih fleksibel dalam penyampaian materi dan responsif terhadap perbedaan tiap peserta didik. Hasil wawancara terhadap guru mengungkapkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi membantu guru dalam mengenali karakter dan kebutuhan peserta didik sehingga mendapatkan dasar acuan dalam merancang kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran yang diterapkan dalam materi penerapan nilai-nilai Pancasila memudahkan guru dalam mengembangkan kemampuan kognitif sekaligus karakter peserta didik melalui sebuah alur pembelajaran yang holistik. Terkait motivasi dan minat belajar peserta didik, guru menjelaskan adanya peningkatan selama proses pembelajaran. Kemajuan dalam pemahaman konsep tampak dari peningkatan hasil penilaian formatif selama proses pembelajaran. Pengembangan karakter terkait pengamalan nilai-nilai Pancasila juga dikuatkan melalui aktivitas pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk memunculkan karakter sosial seperti perilaku tolong menolong, kerja sama, rukun, menjaga kebersihan, dan kerja keras. Hasil ini menunjukkan kepaduan dengan hasil penelitian terkait pembelajaran diferensiasi yang menunjukkan bahwa pembelajaran diferensiasi dapat mengembangkan keterampilan sosial dan meningkatkan motivasi serta keterlibatan peserta didik melalui pembelajaran yang bermakna (Almujab, 2. Pembelajaran diferensiasi memungkinkan guru untuk menyusun kerangka rencana belajar dengan penyesuaian materi, metode, dan pendekatan yang meningkatkan kualitas interaksi sosial antar peserta didik dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan kreativitas dan minatnya melalui proses pembelajaran yang menyenangkan. Selanjutnya, penilaian formatif yang dilakukan guru selama proses pembelajaran memberikan refleksi berupa gambaran perilaku belajar peserta didik secara lebih lengkap yang dapat membantu guru dalam memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran (Sani, 2. Penilaian formatif berfungsi sebagai instrumen yang mengukur perkembangan kemampuan peserta didik dan memberikan gambaran mengenai bagaimana cara peserta didik belajar, hambatan apa yang mereka hadapi, aspek apa yang perlu diperbaiki, dan kemampuan awal yang dimiliki peserta didik. Melalui penilaian formatif, guru mendapatkan umpan balik dari proses pembelajaran yang telah dilaksanakan dan dapat dijadikan dasar dalam perbaikan pembelajaran yang akan datang. Dokumentasi hasil kerja peserta didik menunjukkan kreativitas dan pemahaman yang baik terhadap pengamalan nilai-nilai Pancasila, seperti nilai gotong royong, toleransi, dan menghargai pendapat dalam kegiatan sehari-hari. Hasil pembelajaran yang merupakan bentuk diferensiasi produk juga menampakkan kesungguhan dalam proses penyelesaian penugasan. Berbagai bentuk hasil belajar menunjukkan perbedaan cara penyelesaian tugas antar siswa yang mencerminkan pengembangan kreativitas peserta didik dalam mempresentasikan hasil belajar dalam berbagai representasi yang mereka Wujud dari diferensiasi produk ini memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam mengembangkan kreativitas, mengasah keterampilan, membangun karakter, sekaligus mendorong peserta didik untuk menggunakan pengetahuan yang telah ia pelajari melalui kegiatan yang kontekstual. Dengan memberikan kebebasan bagi peserta didik bagaimana cara mengekspresikan dan menginterpretasikan hasil belajarnya, peserta 152 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 146 Ae 159 didik belajar untuk berani berpendapat, berkarya, dan berani mencoba hal-hal baru yang dapat meningkatkan motivasinya dalam belajar tanpa adanya paksaan dari eksternal. Hasil dokumentasi lain dalam penelitian ini adalah hasil penilaian formatif dalam bentuk tes, atau lebih dikenal dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Hasil pengamatan, diskusi kelompok, pencarian informasi, dan presentasi disusun dalam LKPD sebagai hasil belajar tertulis yang dapat digunakan guru dalam mengukur tingkat pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari. Selain berorientasi pada kemampuan kognitif peserta didik, penggunaan LKPD membantu peserta didik mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan berpikir kritis melalui soal-soal yang membutuhkan proses berpikir tingkat tinggi, tidak sekedar jawaban hafalan atau pemahaman semata. Dalam hal ini, tujuan penggunaan LKPD juga sebagai alat dalam menumbuhkan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan peserta didik dalam menghadapi perubahan zaman. Secara keseluruhan, hasil dari temuan ini mendukung teori yang menyatakan bahwa pembelajaran diferensiasi memungkinkan bagi guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik (Tomlinson, 2001. Variasi pada konten materi, aktivitas pembelajaran, interpretasi hasil belajar, dan setting lingkungan belajar yang diterapkan mampu meningkatkan keterlibatan dan pemahaman peserta didik sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan belajarnya. Keaktifan peserta didik selama proses belajar menunjukkan bahwa pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dapat berpengaruh pada motivasi dibandingkan pendekatan konvensional. Selain itu, kreativitas peserta didik dalam menyelesaikan tugas dengan sikap dan keterampilan yang baik menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya meningkatkan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan psikomotorik. Merujuk pada teori perkembangan kognitif dari Piaget (Phillips, 2. , peserta didik pada rentang usia 7-12 tahun atau dalam tahap operasional konkret sudah mampu berpikir logis menggunakan benda nyata dan pengalaman konkret, bekerja sama, dan Dalam konteks pembelajaran PPKn, peserta didik dapat memahami nilai-nilai Pancasila dan pengamalannya secara lebih baik dalam materi yang disajikan dengan contoh konkret dan aktivitas yang melibatkan pengalaman nyata. Pembelajaran diferensiasi sangat sesuai dengan karakteristik kognitif ini karena menyediakan berbagai konten materi konkret dan variasi metode pembelajaran yang dirancang berdasarkan kemampuan dan cara belajar peserta didik. Selain itu, pada tahap ini peserta didik juga dilibatkan dalam aktivitas yang menumbuhkan kemampuan bekerja sama dan berargumentasi yang sehat. Kegiatan tersebut dapat mengembangkan sikap demokratif dan partisipasi aktif, kemampuan sosial, komunikasi, dan penguatan karakter. Melalui pembelajaran yang berdiferensiasi, peserta didik tidak hanya menghafal nilai-nilai Pancasila sebagai konsep semata, tetapi juga dapat mengoperasikan pemahaman mereka secara logis dan aplikatif. Interaksi aktif selama proses pembelajaran memberikan ruang bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat dan gagasan sekaligus menanamkan nilai-nilai dan karakter Pancasila sebagai suatu kesatuan proses belajar. Merujuk pada teori Vygotsky (Wardana et al. , 2. mengenai teori Zone of Proximal Development (ZPD) yang menunjukkan bahwa perkembangan kognitif anak terjadi melalui interaksi sosial dengan orang yang lebih mampu, seperti guru, teman sebaya, maupun orang tua hingga akhirnya dapat melakukan sendiri tanpa bantuan orang Hal menunjukkan pentingnya peran guru dalam membantu pesera didik mencapai pemahaman yang lebih tinggi. Scaffolding merupakan salah satu bentuk dukungan guru Satya Widya | 153 Efektivitas Pembelajaran Diferensiasi Pada Penerapan Nilai-Nilai Pancasila A sebagai fasilitator dalam proses belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing peserta didik. Pembelajaran PPKn yang membutuhkan proses aplikatif dalam membangun pemahaman nilai-nilai Pancasila dapat diselenggarakan melalui pembelajaran diferensiasi yang tidak hanya memfasilitasi proses belajar sesuai dengan tingkatan kemampuan dan pemahaman peserta didik, tetapi juga mengakomodir kebutuhan dukungan atau bantuan dari guru dan pihak-pihak lain yang lebih mampu. Teori lain yang terkait dengan pembelajaran dan penanaman nilai-nilai Pancasila adalah teori perkembangan moral Kohlberg. Teori Kohlberg menyatakan bahwa anak usia kelas VI sekolah dasar pada umumnya berada pada tahap konvensional dalam perkembangan moralnya (Hanafiah, 2. Pada tahap prakonvensional, anak mematuhi aturan karena takut akan hukuman dan mengharapkan imbalan. Sedangkan pada tahap konvensional, anak mulai memahami pentingnya norma sosial dan berusaha memenuhi harapan masyarakat serta menghargai aturan demi menjaga ketertiban dan hubungan Pembelajaran PPKn yang menanamkan nilai-nilai Pancasila sangat sesuai untuk membantu perkembangan peserta didik menuju tahap konvensional dengan menanamkan kesadaran akan kewajiban sosial, keadilan, dan tanggung jawab sebagai warga negara. Pembelajaran diferensiasi dapat mendukung perkembangan moral dengan memberikan pengalaman dan situasi belajar yang kontekstual dan relevan dengan tingkat perkembangan moral peserta didik. Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar menghadapi situasi nyata dalam menggunakan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga proses internalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat terjadi dengan lebih efektif. Melalui diskusi kasus sederhana, peserta belajar dari skenario atau permasalahan sosual yang menuntut mereka berpikir secara kritis, berani berpendapat, mendengarkan pendapat orang lain, dan mencapai pemahaman bersama sebagai hasil diskusi yang disepakari bersama. Selain itu, simulasi atau role-playing juga dapat digunakan sebagai metode yang menggambarkan situasi sosial yang membutuhkan penerapan nilai-nilai Pancasila seperti menghargai perbedaan, tolong menolong, bekerja sama, atau menyelesaikan masalah dengan adil. Melalui pengalaman langsung ini, peserta didik tidak hanya belajar sebatas memahami nilai-nilai moral, tetapi juga merasakan secara emosional bagaimana nilainilai tersebut diterapkan dalam situasi nyata. Refleksi sikap merupakan metode lain yang juga penting dalam membantu peserta didik merenungkan tindakan mereka dan perilaku orang lain. Melalui refleksi, peserta didik dapat belajar untuk lebih menyadari bagaimana tindakan mereka berdampak pada sekitar, dan dapat mengidentifikasi sikap apa yang perlu diperbaiki agar dapat mencerminkan karakter nilai-nilai Pancasila. Kegiatan refleksi dapat dilakukan setelah kegiatan pembelajaran, melalui diskusi klasikal atau tanya jawab yang memungkinkan peserta didik mengevaluasi sikap dan tindakan mereka dan belajar dari pengalaman tersebut. Teori lain yang dapat dikaitkan dengan pembelajaran diferensiasi dalam pemahaman nilai-nilai Pancasila adalah teori belajar konstruktivisme dari Jerome Bruner. Jerome Bruner mengemukakan bahwa pembelajaran terbaik terjadi ketika peserta didik dapat membangun pemahaman mereka sendiri melalui interaksi dengan lingkungan dan mengkonstruksi pemahaman menggunakan pengetahuan yang didapat dan yang telah dimiliki sebelumnya (Kurniawan, 2. Teori ini menekankan mengenai pentingnya pembelajaran discovery, di mana peserta didik secara aktif menemukan informasi dan pengetahuan secara mandiri, yang sejalan dengan konsep pembelajaran diferensiasi. Dalam konteks ini, pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik 154 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 146 Ae 159 memberikan kesempatan untuk melakukan penemuan pribadi dan membangun pengetahuan berdasar pengalaman belajar yang mereka alami. Metode penemuan . dapat diintegrasikan sebagai salah satu aktivitas dalam pembelajaran diferensiasi. Metode ini memiliki beberapa kelebihan bagi peserta didik, di antaranya adalah memberikan pengetahuan yang lebih mudah diingat dan bertahan lama, mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, terjadi transfer ilmu dengan lebih baik dibandingkan hanya memproses pengetahuan yang disajikan guru, meningkatkan motivasi belajar, dan meningkatkan kemampuan penalaran (Juliharti et al. Kaitannya dalam pembelajaran PPKn materi pengamalan nilai-nilai Pancasila, peserta didik dapat membangun pemahamannya dari proses penemuan informasi yang didapat dari berbagai sumber dan media pembelajaran yang disediakan oleh guru. Meski pembelajaran diferensiasi memiliki dampak positif terhadap pembelajaran nilai-nilai Pancasila di sekolah dasar, tetapi dalam pelaksanaanya ada beberapa tantangan yang dihadapi. Sebelum memulai kegiatan pembelajaran, guru perlu memetakan kemampuan awal melalui asesmen awal pembelajaran baik secara kognitif maupun nonkognitif (Ginanto et al. , 2. Hal ini menjadi kunci guru dalam menyusun rencana pembelajaran yang berdasar pada kebutuhan belajar peserta didik. Untuk mengatasi tantangan tersebut, guru perlu merancang program asesmen awal pembelajaran yang lebih bervariasi. Penilaian awal tidak selalu harus menggunakan instrumen tes yang membutuhkan waktu dalam menyusun dan mengoreksi, tetapi dapat juga menggunakan panduan observasi dan pertanyaan pemantik untuk mendapatkan informasi mengenai kemampuan awal peserta didik, serta menggunakan hasil asesmen akhir pada pertemuan sebelumnya (Ginanto et al. , 2. Tantangan kedua yang ditemukan dalam hasil penelitian Fitriah & Widiyono . adalah kesulitan pengelompokan peserta didik sesuai karakteristik pembelajarannya dan terbatasnya alokasi waktu, sarana dan media belajar. Pengelompokkan dalam pembelajaran diferensiasi memang tidak selalu mudah, karena setiap peserta didik memiliki karakteristik unik yang berbeda. Pengelompokkan harus dilakukan secara fleksibel dan adaptif untuk memastikan bahwa semua peserta didik mendapatkan pendekatan yang paling sesuai dengan cara mereka belajar. Pengelompokan dalam pembelajaran diferensiasi dilaksanakan secara fleksibel (Tomlinson, 2001. , artinya dalam topik atau mata pelajaran yang berbeda peserta didik dapat dikelompokkan pada kelompok yang berbeda. Hal ini didasarkan bahwa setiap peserta didik memiliki karakter dan keunggulan masing-masing. Sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa pengelompokkan dalam satu mata pelajaran dengan yang lain memiliki keanggotan yang Terkait keterbatasan alokasi waktu dan fasilitas belajar, guru perlu pengorganisasian pembelajaran dengan lebih kreatif agar semua peserta didik dapat terakomodir secara merata. Dalam banyak kasus, pengelompokkan fleksibel membutuhkan lebih banyak persiapan dan implementasi, dan membutuhkan sumber daya yang lebih banyak untuk mendukung proses belajar yang beragam. Sehingga perlu optimalisasi pemanfaatan sumber belajar non-teknologi yang dapat diakses semua peserta Selain itu, penggunaan ruang dan prasarana belajar dapat diefektifkan dengan mengatur posisi belajar dan memanfaatkan lingkungan luar sebagai ruang belajar alternatif dalam proses belajar yang membutuhkan ruang gerak lebih luas. Hal yang tidak kalah penting adalah kolaborasi antara guru dan orang tua dan pihak lain yang dapat membantu mengatasi tantangan fasilitas. Pengadaan fasilitas belajar dari rumah dapat membantu peserta didik dalam belajar. Satya Widya | 155 Efektivitas Pembelajaran Diferensiasi Pada Penerapan Nilai-Nilai Pancasila A Tantangan selanjutnya adalah ketidaknyamanan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran, karena peserta didik merasa lebih nyaman dalam pembelajaran konvensional (Hazyimara et al. , 2. Kenyamanan dalam pembelajaran konvensional seringkali berasal dari prediktabilitas dan kesederhanaan dalam prosesnya. Peserta didik dengan mudah mengikuti proses pembelajaran karena hanya perlu menyimak penjelasan guru, menghafal materi, atau menggunakan media pembelajaran yang tidak menuntut adanya aktivitas aktif. Sementara pembelajaran diferensiasi menuntut peserta didik untuk lebih aktif dan berbasis kebutuhan individu, sehingga membutuhkan upaya yang lebih aktif, kreatif, dan menuntut keterlibatan dalam penyelesaian tugas. Dalam mengatasi tantangan ini, guru perlu melakukan pendekatan secara bertahap, memberikan motivasi, membangun lingkungan belajar yang mendukung, memberikan pendampingan intensif, serta melibatkan peserta didik dalam perencanaan pembelajaran untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik dalam beradaptasi pada proses pembelajaran yang lebih bermakna. Guru dapat memulai dengan memberikan penjelasan bahwa pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa didasarkan untuk membantu peserta didik dapat belajar sesuai dengan karakter, gaya belajar, minat, dan kebutuhan Dengan memberikan pemahaman yang jelas tentang tujuan pembelajaran yang lebih fleksibel, peserta didik akan lebih mudah beradaptasi dan lebih termotivasi. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi yang diterapkan guru pada tiga sekolah dasar mampu menyesuaikan materi, proses, produk, dan lingkungan belajar dengan karakteristik dan kebutuhan belajar peserta didik secara efektif. Melalui pendekatan ini, guru berhasil memberikan pengalaman belajar yang relevan dan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan belajar masing-masing peserta didik. Pembelajaran diferensiasi yang dilakukan mampu meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik dalam berbagai aktivitas belajar, seperti diskusi kelompok, proyek, dan pengamatan yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan motivasi dan pemahaman terhadap materi pembelajaran. Selain aspek kognitif, pembelajaran diferensiasi dalam materi pengamalan sila-sila Pancasila pada mata pelajaran PPKn juga mendukung pengembangan aspek karakter yang mencerminkan sila-sila Pancasila dalam perilakunya sebagai upaya mewujudkan warga negara yang berkarakter sejak dini. Secara keseluruhan, pembelajaran diferensiasi merupakan strategi efektif yang tidak hanya meningkatkan pemahaman dan motivasi belajar peserta didik, tetapi juga menumbuhkan sikap dan karakter sesuai nilai-nilai Pancasila secara holistik di sekolah dasar. Meskipun penelitian ini memberikan gambaran positif mengenai efektivitas pembelajaran diferensiasi dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila di sekolah dasar, akan tetapi terdapat pula beberapa keterbatasan dalam pelaksanaan maupun hasilnya. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan subjek penelitian yang lebih beragam termasuk melibatkan peserta didik untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas, serta menggunakan instrumen kuantitatif untuk mengukur perubahan secara statistik sehingga hasilnya bersifat deskriptif dan kualitatif. 156 | Satya Widya Jurnal Satya Widya Ae Vol. 41 No. 2 (Desember, 2. 146 Ae 159 DAFTAR PUSTAKA