Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan (AJPP) Website: http://jurnal. com/index. php/ajpp Email: jurnal. ajpp@ardenjaya. Pengaruh Grit terhadap Resiliensi Akademik Siswa SMA Jakarta INFO PENULIS Fredrick Yappy Setiadi Universitas Tarumanagara fredrickyapi@gmail. INFO ARTIKEL ISSN: 2963-8933 Vol. No. Oktober 2025 http://jurnal. com/index. php/ajpp Yenita Universitas Tarumanagara yenitalie11@gmail. Monika Universitas Tarumanagara monika@fpsi. A 2025 Arden Jaya Publisher All rights reserved Saran Penilisan Referensi: Setiadi. Yenita. , & Monika. Pengaruh Grit terhadap Resiliensi Akademik Siswa SMA Jakarta. Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan, 4 . ,153-159. Abstrak Ketahanan siswa dalam menghadapi tekanan akademik atau disebut dengan resiliensi akademik, menjadi faktor penting yang perlu dimiliki khususnya oleh para siswa pada jenjang SMA. Fokus dari penelitin ini adalah melihat pengaruh grit terhadap resiliensi akademik pada siswa SMA di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, dengan melibatkan 105 siswa dari berbagai SMA di wilayah Jakarta sebagai responden. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Grit Scale dari Duckworth . dan Academic Resilience Scale dari Cassidy . Penelitian ini, dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Penelitian ini dianalisis menggunakan regrasi linear sederhana. Hasil yang diperolah menunjukkan bahwa grit berpengaruh secara signifikan terhadap resiliensi akademik dengan nilai signifikansi < 0001 dan F = 14. Nilai RA sebesar 0. 120 menindikasikan bahwa grit memiliki kontribusi sebesar 12% terhadap variasi resilienasi akademik, sedangkan 88% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini. Artinya, siswa dengan yang memiliki tingkat grit lebih tinggi cenderung juga memiliki kemampuan bertahan dan bangkit dalam tekanan akademik yang lebih baik. Temuan ini menguatkan pentingnya penanaman karakter gigih dan konsisten dalam pendidikan agar siswa mampu bertahan secara emosional dan kognitif dalam proses belajar. Kata Kunci: grit, resiliensi akademik, siswa SMA AJPP/4. Abstract Students ability to withstand academic pressure, also known as academic resilience, is an important factor, particularly for those at students at the high school level. The focus of this research is to investigate the impact of grit on academic resilience among high school students in Jakarta. This study employed a quantitative approach with a survey method, involving 105 students from various high schools in Jakarta as respondents. The research instruments used were the Grit Scale (Duckworth, 2. and the Academic Resilience Scale (Cassidy, 2. The data were analyzed using a simple linear regression. The results showed that grit has a significant influence on academic resilience, with a significance value of p<0. 0001 and F=14. The RA value of 0. 120 indicates that grit contributes 12% to the variation in academic resilience, while the remaining 88% is influences by other factor outside the scope of this study. This indicates that students with higher levels of grit tend to have a better ability to persevere and bounce back from academic pressure. These findings underscore the importance of cultivating tenacious and consistent character traits in education so that students can emotionally and cognitively endure the learning process. Key Words: grit, academic resilience, high school students Pendahuluan Salah satu masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan Indonesia adalah rendahnya daya juang yang dimiliki oleh siswa-siswi di Indonesia. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ramadanti & Sofah . daya juang atau resiliensi diri yang rendah memiliki pengaruh pada prestasi akademik yang rendah. Pada hasil survei PISA pada tahun 2022 yang menjadi tolak ukur pendidikan sebuah negara. Indonesia berada di peringkat ke-66 dari 81 negara yang ikut dalam PISA (Aziz, 2. Hal ini menandakan bahwa kualitas dari pendidikan di Indonesia masih memerlukan perhatian dan perbaikan. salah satu cara yang efektif dalam memperbaiki pendidikan adalah dengan menanamkan resiliensi akademik pada murid (Rahmawati & Armiati. Resiliensi akademik dapat didefinisikan sebagai kemampuan dasar individu, kelompok, atau komunitas untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi dampak negatif dari suatu kesulitan (Grotberg, 1. Hal ini selaras dengan definisi dari Morales . yang mendefinisikan akademik resiliensi sebagai fenomena di mana seseorang mampu meraih keberhasilan akademis meskipun menghadapi hambatan yang umumnya menyebabkan kegagalan pada sebagian besar Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cui et al. pada tahun 2022, resiliensi akademik pada siswa yang kurang mampu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor ini dapat berasal dari dalam diri individu maupun luar individu. Faktor dari dalam diri individu ini merupakan aspirasi pendidikan dan motivasi. Sedangkan, faktor yang berasal dari luar diri adalah dukungan keuangan, dukungan emosional, serta praktik dan dukungan sosial dari orang tua. Berbicara mengenai resiliensi akademik, resiliensi akademik memiliki hubungan yang signifikan dengan grit (Budiono et al. , 2. Grit pertama kali diperkenalkan melalui penelitian yang dilakukan Duckworth et al. , . grit didefinisikan sebagai suatu bentuk kegigihan dan semangat untuk tujuan dalam jangka panjang. Kegigihan ini memerlukan individu untuk bekerja keras terhadap tantangan, menjaga upaya dan minat selama bertahun-tahun meskipun menghadapi kegagalan, kesulitan, dan tidak ada kemajuan selama progress berlangsung. Dengan kata lain, grit merupakan kombinasi dan memiliki gabungan dari 2 dimensi yaitu: erseverance of effor. dan konsistensi terhadap tujuan jangka panjang . onsistency of interes. Pernyataan ini didukung oleh Duckworth, yang menyatakan bahwa individu dengan tingkat grit yang tinggi cenderung tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan, dan justru terus berusaha sampai mencapai atau mendapatkan apa yang diinginkannya (TED, 2. Karakteristik ini sejalan dengan resiliensi akademik, dimana siswa dituntut untuk tetap bertahan secara mental dan emosional di bawah tekanan akademik. Studi menemukan bahwa siswa yang memiliki tingkat grit yang tinggi maka akan menunjukkan performa akademik yang lebih baik karena mampu untuk bertahan dalam proses belajar yang penuh tantangan (Duckworth et al. , 2. Pada penelitian yang dilakukan Chen et al. mengenai grit dan resiliensi akademik menemukan bahwa semakin tinggi skor grit seorang murid, maka semakin kecil penurunan nilai AJPP/4. matematika dan sainsnya selama masa pandemi. Grit adalah prediktor independen untuk keberhasilan akademik dan performa klinis pada mahasiswa akhir terapi fisik (Calo et al. , 2. Resiliensi dan perseverance of effort . alah satu dimensi dari gri. adalah prediktor yang signifikan terhadap prestasi siswa (Yaure et al. , 2. Ketiga penelitian di atas memiliki kesamaan yaitu diteliti di luar Indonesia. Sedangkan untuk penelitian di dalam negeri, tingkat grit siswa SMA di Indonesia ada pada kategori sedang (Wahidah & Herdian, 2. Terdapat hubungan yang signifikan antara grit dan academic resilience pada murid-murid kelas X SMK Negeri 2 Jember (Budiono et al. , 2. Selain itu, terdapat penelitian lain yang menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara grit dan resiliensi akademik pada mahasiswa di penerima beasiswa Pegunungan Bintang (Tirsa & Huwae, 2. Dari penelitian-penelitian yang sudah disebutkan di atas, tampak bahwa penelitian yang terkait dengan resiliensi akademik dan grit lebih banyak dilakukan di luar negeri dan masih minim dilakukan di Indonesia. Banyak penelitian yang sudah dilakukan juga mayoritas dilakukan di tingkat perkuliahan, sedangkan untuk siswa SMA terutama di Jakarta penelitiannya masih belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, peneliti menganggap penelitian ini penting untuk Penelitian ini dilakukan oleh apakah ada pengaruh yang signifikan antara grit dan resiliensi akademik pada siswa SMA khususnya di Jakarta. Metodologi Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini bermanfaat untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara grit dan resiliensi akademik pada siswa SMA di Jakarta. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel utama, yaitu grit sebagai variabel bebas . ndependent variabl. dan academic resilience scale sebagai variabel terikat . ependent variabl. Grit didefinisikan sebagai suatu bentuk kegigihan dan semangat untuk tujuan dalam jangka panjang (Duckworth et al. , 2. Pada grit ini memiliki dua dimensi yaitu ketekunan . erseverance of effor. dan konsistensi terhadap tujuan jangka panjang . onsistency of interes. Sementara itu, resiliensi akademik diukur melalui ketekunan . , reflecting and adaptive help-seeking, negative affect and emotional response. Dalam penelitian ini, sampel diambil dengan menggunakan purposive sampling, dengan kriteria . masih menjalankan pendidikan di jenjang SMA. umur berkisar dari umur 14-18 tahun, dan . kesediaan menjadi responden. Instrumen pengumpulan data atau alat ukur yang diperkenalkan Cassidy . dan Duckworth . , yaitu Academic Resilience Scale yang terdiri dari 30 butir soal dan Grit Scale yang terdiri dari 8 butir soal. Pada penelitian ini juga, menggunakan skala likert 5 dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju untuk mendeskripsikan diri responden. Pengumpulan data akan dilakukan secara daring dengan menggunakan Google Form. Hal ini bertujuan untuk mempermudah Form kepada responden. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan regresi linear sederhana. Sebelum melakukan analisis ini dilakukan, akan dilakukan uji asumsi terlebih dahulu untuk memastikan apakah data yang didapatkan telah memenuhi syarat untuk analisis. Analisis ini mendapatkan bantuan dari software SPSS atau JAMOVI. Uji validitas dan reliabilitas akan dilakukan pada sampel uji coba, dengan hasil Cronbach di atas 0,60. Hasil dan Pembahasan Hasil Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penelitian ini melibatkan sebanyak 105 partisipan siswa-siswi dari berbagai siswa SMA di daerah Jakarta. Rata-rata partisipan yang terlibat dalam penelitian ini berada pada rentang usia dari 15 Ae 19 tahun. Selain itu, berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa mayoritas partisipan berusia 17 tahun dengan frekuensi 54 partisipan yang mencakup total 51,4% dari semua partisipan. AJPP/4. Tabel 1. Kategori Partisipan Berdasarkan Usia Usia Jumlah Total Persentase 1,9% 33,3% 51,4% 12,4% 1,0% Selain berdasarkan usia, penelitian ini juga melibatkan jenis kelamin. Dalam penelitian ini, partisipan dalam penelitian ini lebih banyak di dominasi oleh jenis kelamin laki-laki dengan jumlah 54 partisipan . ,4%), sedangkan partisipan perempuan berjumlah 51 partisipan . ,6%). Tabel 2. Kategori Partisipan Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jumlah Laki-laki Perempuan Total Persentase 51,4% 48,6% Penelitian ini melibatkan banyak siswa-siswi dari berbagai jenjang di SMA. Sebagian besar dari partisipan partisipan ini berasal dari siswa SMA kelas 11 dengan jumlah 69 partisipan dengan persentase 65,7%, lalu diikuti dengan siswa kelas 12 dengan persentase 18,1%, dan siswa kelas 10 dengan jumlah 17 partisipan dengan besat presentasse 16,2%. Tabel 3. Kategori Partisipan Berdasarkan Kelas Kelas Jumlah Persentase 16,2% 65,7% 18,1% Total Dalam penelitian ini, melibatkan berbagai sekolah yang berada di Jakarta. Sekolah yang paling banyak terlibat dalam penelitian ini ada Jakarta Barat, sebanyak 89 partisipan dengan besar persentase 84,8%. Lalu, diikuti dengan Jakarta Utara dengan jumlah 8 partisipan sebesar 7,6%. Sedangkan. Jakarta Pusat sebanyak 4 partisiapan dengan persentasi 3,8%. Jakarta Selatan sebanyak 3 partisipan dengan persentase 2,9%, dan Jakarta Timur sebanyak 1 partisipan dengan persentase 1,0%. Tabel 4. Kategori Partisipan Berdasarkan Lokasi Sekolah Lokasi Sekolah Jumlah Jakarta Utara Jakarta Barat Jakarta Timur Jakarta Selatan Jakarta Pusat Total Persentase 7,6% 84,8% 1,0% 2,9% 3,8% Tabel 5. Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Most Extreme Differences Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. c AJPP/4. Monte Carlo sig. e Sig 99% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound Uji normalitas untuk memastikan apakah data terdistribusi normal atau tidak, dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Tabel 5 di atas menunjukkan bahwa nilai 20 > 0. 05, yang berarti data yang telah norma terdistribusi secara normal dan memenuhi syarat uji regresi. Tabel 6. Grit Scale CronbachAos Alpha N of Items Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 6, diketahui bahwa uji reliabilitas yang dilakukan terhadap alat ukur grit menghasilkan nilai CronbachAos Alpha atau = 0. Nilai ini melebihi ambang batas minimum relibilitas sebesar 0. 60 sebagaimana disarankan oleh beberapa pakar psikometri untuk instrumen yang masih dalam tahap eksplorasi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa instrumen Grit Scale memiliki tingkat reliabilitas yang dapat diterima, yang menunjukkan bahwa butir-butir pertanyaan dalam skala ini cukup konsisten dalam mengukur konsep grit pada responden. Tabel 7. Academic Resilience Scale CronbachAos Alpha N of Items Sementara itu. Tabel 7 menunjukkan hasil uji reliabilitas terhadap alat ukut Academic Resilience Scale, di mana diperoleh skor CronbachAos Alpha 0. Nilai ini tergolong tinggi karena melampaui ambang batas reliabilitas minimum sebesar 0. 60, yang secara umum dianggap sebagai indikator reliabilitas yang baik hingga sangat baik hingga sangat baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa instrumen ini memiliki konsistensi internal yang kuat dalam mengukur tingkat resiliensi akademik pada siswa SMA, sehingga dapat dikatakan alat ukur ini layak untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara grit terhadap resiliensi akademik pada siswa SMA di Jakarta, maka dalam penelitian ini perlu dilakukan uji regresi. Rincian dari uji regresi tersebut dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Uji Regresi Model Regression Residual Total Sum of Squares Mean Square F Sig. 2/584 066 <. Berdasarkan hasil analisis yang terdapat pada Tabel 8, diketahui bahwa nilai penelitian ini memiliki signifikansi (Sig. ) yang dihasilkan dari uji regresi antara variabel grit dan resiliensi akademik adalah <0. Nilai ini jauh berada di bawah ambang batas signifikansi statistik yang digunakan, yaitu 0. 95, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara grit dan resiliensi akademik pada siswa SMA di Jakaerta. Lebih lanjut, nilai F hitung sebesar 14. 066 menunjukkan bahwa modal regresi yang digunakan dalam penelitian ini cukup baik dalam menjelaskan seberapa besar perbedaan dalam tingkat resiliensi akademik dapat dijelaskan oleh perbedaan skor grit siswa. Artinya, model regresi tersebut signifikan secara keseluruhan dan layak digunakan dalam menjelaskan hubungan antara kedua variabel. Dengan demikian, hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat grit yang dimiliki oleh siswa SMA di Jakarta, maka akan semakin tinggi pula tingkat resiliensi akademik yang mereka miliki. Tabel 9. Koefisiensi Determinasi Model R Adjusted Square Square Predictors: (Constan. Grit AJPP/4. Std Error Nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0. 120 menunjukkan bahwa grit memberikan kontribusi sebesar 12% terhadap resiliensi akademik. Artinya, sebanyak 12% variasi dalam tingkat resiliensi akademik dapat dijelaskan oleh tingkat grit siswa. Sisanya, yaitu sebesar 88%, dipengaruhi oleh variabel-variabel lain. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan dan positif dari grit terhadap resiliensi akademik pada siswa SMA di Jakarta. Hasil uji regresi menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0. <0. , yang menandakan bahwa terdapat pengaruh resiliensi Artinya, semakin tinggi tingkat grit yang dimiliki oleh siswa, maka akan semakin tinggi pula tingkat resiliensi akademik yang mereka tunjukkan. Hasil ini menunjukkan bahwa grit merupakan salah satu faktor penting dalam membangun ketangguhan siswa dalam menghadapi tekanan akademik. Pernyataan tersebut sesuai dengan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tirsa dan Huwae . , yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang positif antara grit terhadap resiliensi akademik pada penerima beasiswa Pegunungan Bintang. Selain itu, pernyataan ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Budiono et al. yang mengatakan bahwa grit dan resiliensi akademik memiliki hubungan yang signifikan. Di sisi lain, nilai RA sebesar 0. 120 menunjukkan bahwa grit memengaruhi resiliensi akademik sebesar 12%, sedangkan 88% lainnya dipengaruhi oleh faktor lainnya. Meski nilai RA tergolong rendah, pengaruh tersebut nyata secara statistik, namun bukan satu-satunya yang mempengaruhi resiliensi akademik. Duckworth . menjelaskan bahwa grit memungkinkan seseorang untuk gigih bekerja keras dalam menghadapi tantangan, serta mempertahankan minat dan upaya selama bertahuntahun, meskipun terjadi kegagalan atau kesulitan, dan tanpa adanya kemajuan. Hal ini memiliki kaitan erat dengan resiliensi akademik, dimana siswa mampu bertahan dalam tekanan akademis yang tinggi. Siswa yang memiliki resiliensi akademik mampu mengubah lingkungan yang menantang menjadi pemicu motivasi. Mereka melakukannya dengan tetap berpegang pada ekspektasi dan aspirasi yang tinggi, berorientasi pada tujuan, serta mengembangkan keterampilan memecahkan masalah dan kompetensi sosial (Cassidy, 2. Meskipun dalam penelitian ini memberikan hasil yang signifikan antara grit terhadap akademik resiliensi, terdapat beberapa keterbatasan. Penelitian ini hanya melibatkan siswa SMA di wilayah Jakarta, sehingga penambahan sampel dapat dilakukan oleh peneliti selanjutnya untuk memperluas cakupan sampel ke wilayah yang lebih beragam secara geografis maupun kultural. Mengingat nilai RA yang masih tergolong rendah, disarankan untuk mempertimbangkan variabelvariabel lain dalam model penelitian selanjutnya. Selain itu, penelitian dengan menggunakan metode penelitian longitudinal juga disarankan bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti grit dan resiliensi akadmik. Dengan menggunakan metode longitudinal, diharapkan mampu untuk meneliti proses pengaruh antara grit dan resiliensi akademik dari waktu ke waktu. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara grit terhadap resiliensi akademik pada siswa SMA di Jakarta. Hal ini menunjukkan bawa semakin tinggi tingkat grit yang dimiliki seorang siswa, maka semakin besar kemampuannya untuk bertahan, bangkit, dan beradaptasi dalam menghadapi tekanan, tantangan, serta kesulitan akademik yang dihadapi. Sebaliknya, siswa dengan tingkat grit yang rendah cenderung memiliki resiliensi akademik yang rendah, sehingga lebih rentan terhadap tekanan belajar. Hasil uji regresi menunjukkan nilai signifikasi sebesar p = 0. 001 < 0. 05, yang berarti grit menyumbang 12% terhadap variasi resiliensi akademik. Sementara itu, 88% sisanya dipengaruhi oleh berbagai faktor lain di luar penelitian. Temuan ini, menegaskan bahwa grit menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi tingkat resiliensi akademik pada siswa SMA di Jakarta. AJPP/4. Temuan ini menegaskan bahwa grit merupakan salah satu faktor kunci yang perlu untuk dikembangkan pada siswa SMA. Oleh karena itu, pihak sekolah dan pendidik disarankan untuk dapat mengintegrasikan pembinaan grit ke dalam kegiatan pembelajaran maupun program pengembangan karakter, agar siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental dan emosional dalam menghadapi dinamika atau perubahan dalam dunia Referensi