Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 PERAN PEMBELAJARAN PUISI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA KELAS Vi SMP NEGERI 8 BINJAI Tiara A. BanjarnahorA. Nadhifa SyalaishaA. Safinatul Hasanah Harahap3 AUniversitas Negeri Medan. Medan AUniversitas Negeri Medan. Medan 3Universitas Negeri Medan. Medan email: tiarabanjarnahor83@gmail. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji peran pembelajaran puisi dalam pembentukan karakter siswa kelas Vi SMP Negeri 8 Binjai. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan siswa dan satu guru Bahasa Indonesia, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa 62,5% siswa menikmati pembelajaran puisi, 75,0% melaporkan peningkatan empati, dan 87,5% mengalami peningkatan keberanian mengungkapkan perasaan. Namun, hanya 25,0% siswa yang secara eksplisit mengidentifikasi nilai-nilai karakter seperti kejujuran dan saling Guru menilai puisi bertema kepahlawanan dan keluarga efektif meningkatkan keterlibatan siswa ketika dipadukan dengan media visual, pembacaan puisi oleh siswa, dan praktik menulis berbasis pengalaman pribadi. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi kegiatan apresiasi, kreasi, dan refleksi puisi perlu dioptimalkan untuk memperkuat internalisasi nilai moral. Rekomendasi penelitian mencakup penerapan diskusi reflektif dan tugas penulisan kritis untuk membantu siswa menangkap nilai-nilai karakter secara eksplisit dalam pembelajaran puisi. Kata kunci : Pembelajaran Puisi. Pembentukan Karakter. Empati. Keberanian. Pendidikan Sastra. PENDAHULUAN Pendahuluan Pendidikan karakter menjadi salah satu aspek membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat. Dalam konteks pendidikan di Indonesia, pembentukan karakter siswa khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) memiliki urgensi yang tinggi Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 perkembangan kepribadian dan nilai-nilai moral (Ramdayana, dkk. , 2023: Penelitian menunjukkan bahwa siswa SMP berada pada fase pencarian identitas yang rentan terhadap pengaruh negatif, sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang mampu menanamkan nilainilai positif secara efektif (Rohman, 2019: . Pembelajaran sastra, khususnya puisi, memiliki potensi strategis sebagai media pembentukan karakter siswa. Puisi sebagai karya sastra tidak hanya menyajikan keindahan estetik, tetapi juga mengandung nilainilai moral dan spiritual yang dapat menginspirasi pembacanya untuk mengembangkan karakter positif (Juprihatin, 2014: . Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pembelajaran puisi dapat berperan signifikan dalam menanamkan nilai-nilai karakter seperti empati, kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial (Firman dan Aminah, 2017: . Penelitian Juprihatin . 4: . membuktikan adanya pengaruh positif dan signifikan antara pembelajaran puisi dengan karakter siswa dengan nilai korelasi 0,812 dan kadar pengaruh sebesar 65,9%. Namun demikian, implementasi pembelajaran puisi sebagai media pembentukan karakter masih menghadapi berbagai tantangan. Hasil observasi awal menunjukkan bahwa pembelajaran puisi di tingkat SMP pemahaman struktur dan unsur-unsur puisi, tanpa mengoptimalkan potensi puisi sebagai sarana penanaman nilai-nilai karakter (Fahmi, 2022: Padahal, puisi memiliki kekuatan untuk menggugah perasaan dan pikiran pembacanya serta mampu menyampaikan pesan moral secara halus namun mendalam (Wijaya, 2024: . Penelitian Aminah . menegaskan bahwa pembelajaran sastra dapat menjadi sarana pengalaman-pengalaman baru yang seolah-olah dialami sendiri oleh Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Kesenjangan antara potensi pembelajaran puisi sebagai media pembentukan karakter dengan implementasinya di lapangan memerlukan kajian mendalam. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang tepat dapat meningkatkan efektivitas penanaman nilai karakter melalui puisi (Simbolon, 2025: . Penelitian Fahmi . 2: . menunjukkan bahwa pembelajaran puisi dapat membentuk karakter mandiri dan percaya diri siswa melalui proses pembiasaan dalam praktik baca puisi dan berani mengemukakan pendapat. Sementara itu, penelitian Sumarsilah . 7: . menekankan pentingnya mengenali karakteristik dan gaya yang digunakan penyair dalam mengekspresikan nilai-nilai moral untuk dapat menginterpretasi nilai-nilai tersebut secara tepat. Dalam konteks SMP Negeri 8 Binjai, pembelajaran puisi telah menjadi bagian dari kurikulum Bahasa Indonesia, namun belum ada kajian mendalam mengenai sejauh mana pembelajaran tersebut berperan dalam pembentukan karakter siswa. Berdasarkan observasi awal, siswa kelas Vi SMP Negeri 8 Binjai menunjukkan beragam respons terhadap pembelajaran puisi, mulai dari antusiasme hingga ketidaktertarikan. Kondisi ini mengindikasikan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif pembentukan karakter. Penelitian mengenai peran pembelajaran puisi dalam pembentukan karakter siswa SMP dengan fokus pada aspek empati, keberanian mengungkapkan perasaan, kesabaran, dan penerapan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari. Kontribusi penelitian ini bagi perkembangan ilmu pengetahuan pembelajaran puisi sebagai media pendidikan karakter pada siswa kelas Vi, pembelajaran sastra yang lebih berorientasi pada pembentukan karakter. TUJUAN PENELITIAN Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pembelajaran puisi dalam pembentukan karakter siswa kelas Vi SMP Negeri 8 Binjai. Secara khusus, penelitian ini akan mengkaji bagaimana pembelajaran puisi dapat mempengaruhi pengembangan nilai-nilai karakter positif seperti empati, keberanian dalam mengungkapkan perasaan, kesabaran, kejujuran, dan sikap saling menghargai pada siswa. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung efektivitas pembelajaran puisi sebagai media pembentukan karakter serta pembelajaran sastra yang berorientasi pada pendidikan karakter di tingkat sekolah menengah pertama. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang dilaksanakan di SMP Negeri 8 Binjai pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Subjek penelitian terdiri dari delapan siswa kelas Vi yang dipilih secara purposive sampling berdasarkan kriteria telah mengikuti pembelajaran puisi minimal satu semester, serta satu guru Bahasa Indonesia kelas Vi yang berpengalaman mengajar puisi minimal tiga tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan pedoman wawancara yang telah divalidasi, dengan sepuluh pertanyaan untuk siswa yang mencakup aspek perasaan, pemahaman nilai karakter, empati, keberanian, kesabaran, motivasi berbuat baik, dan sikap menghargai, serta lima pertanyaan untuk guru yang fokus pada jenis puisi yang diajarkan, observasi perilaku siswa, dan strategi pembelajaran. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik melalui tahapan transkripsi, coding, kategorisasi tema, interpretasi makna, dan triangulasi data antara perspektif siswa dan guru untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang peran pembelajaran puisi dalam pembentukan karakter siswa. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN Hasil Penelitian Dalam analisis respons siswa terhadap pembelajaran puisi, ditemukan bahwa 62,5% siswa . menyatakan merasa senang atau sangat menyenangkan saat mengikuti pembelajaran puisi, sementara 37,5% siswa . merasa biasa saja atau netral. Respons positif ini umumnya disertai keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan menulis dan membacakan puisi, sedangkan respons netral diakibatkan oleh kurangnya ketertarikan awal terhadap puisi. Terkait pemahaman nilai-nilai karakter dari puisi, hanya 25,0% siswa . yang melaporkan secara eksplisit memperoleh pelajaran nilai moralAiseperti saling menghormati dan kejujuranAidari puisi yang mereka baca atau tulis. Sisanya, 75,0% siswa belum merasakan atau belum mampu mengidentifikasi nilai karakter secara langsung dari materi Sebagian besar siswa, yakni 75,0% . , melaporkan empati setelah mengikuti pembelajaran Siswa menyatakan bahwa puisi membantu mereka memahami perasaan orang lain melalui ungkapan emosional yang terkandung dalam teks puisi. Sebaliknya, 25,0% siswa merasa tidak mengalami perubahan signifikan dalam empati, disebabkan oleh kurangnya pemahaman mendalam terhadap isi puisi. Aspek keberanian dalam mengungkapkan perasaan menunjukkan peningkatan tertinggi, dengan 87,5% siswa . menyatakan bahwa praktik menulis dan membaca puisi memperkuat kepercayaan diri mereka untuk mengekspresikan emosi. Hanya satu siswa . ,5%) yang merasa tidak mengalami peningkatan keberanian, karena siswa tersebut belum familiar dengan kegiatan puisi. Tabel di bawah merangkum temuan utama hasil wawancara. TABEL 1. Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 HASIL WAWANCARA SISWA KELAS Vi SMP NEGERI 8 BINJAI Aspek yang Diukur Respons positif terhadap puisi Respons netral terhadap puis Pemahaman nilai karakter Peningkatan empati Peningkatan keberanian Jumlah Siswa Persentase (%) Metode pembelajaran yang dinilai paling efektif oleh siswa meliputi aktivitas membaca puisi dengan intonasi ekspresif, latihan menulis puisi mengeksplorasi makna nilai moral. Temuan ini selanjutnya akan dibandingkan dengan perspektif guru. Hasil wawancara dengan guru Bahasa Indonesia mengonfirmasi dan melengkapi temuan siswa. Guru menyatakan bahwa jenis puisi yang diajarkan, terutama puisi tentang kepahlawanan dan puisi bertema orang tua, dipilih karena kedekatannya dengan pengalaman sehari-hari siswa, sehingga lebih mudah dipahami dan dihayati. Guru juga mencatat bahwa setelah pembelajaran puisi orang tua, siswa menunjukkan perilaku positif seperti saling membantu, menghargai guru, dan lebih semangat belajar karena menyadari pengorbanan orang tua mereka. Indikasi kepekaan sosial lain yang diamati adalah siswa menemani dan menghibur teman yang bersedih. Menurut guru, strategi pembelajaran puisi paling efektif meliputi penggunaan video atau gambar latar sebagai stimulus konteks, penayangan pembacaan puisi sastrawan terkenal beserta teksnya, serta praktik menulis puisi berdasarkan pengalaman nyata dengan bimbingan guru untuk mencari majas agar isi puisi lebih indah. Kombinasi metode visual dan partisipatif ini dinilai sangat membantu meningkatkan mengekspresikan perasaan. Pembahasan Penelitian Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 Pembelajaran puisi sebagai media pendidikan karakter terbukti efektif dalam meningkatkan empati siswa. Sebanyak 75,0% siswa melaporkan kemampuan memahami perasaan orang lain meningkat setelah mengikuti kegiatan apresiasi dan penciptaan puisi. Temuan ini konsisten dengan teori literasi emosional yang dikemukakan Juprihatin . 4: . , di mana puisi memfasilitasi pengenalan emosi melalui simbol dan metafora yang mencerminkan pengalaman manusia. Proses interpretasi bait-bait puisi mendorong siswa berempati dengan sudut pandang penyair, sehingga terbentuk ikatan emosional yang memperdalam kesadaran sosial mereka. Selanjutnya. Simbolon . 5: . menambahkan bahwa diskusi kelompok pasca-pembacaan puisi memungkinkan siswa mengartikulasikan perasaan teman sekelas, memperkuat ikatan komunitas belajar dan menanamkan sikap saling Di sisi lain, peningkatan keberanian mengungkapkan perasaan 87,5% kepercayaan diri verbal siswa. Hal ini sejalan dengan temuan Fahmi . 2: . mengenai metode nature learning, di mana penggunaan stimulus visual dan praktik menulis puisi meningkatkan keberanian siswa Kegiatan menulis puisi berdasarkan pengalaman sehari-hari memosisikan siswa sebagai pencipta narasi emosional, sehingga mereka merasa memiliki kontrol atas ekspresi diri. Strategi pembelajaran ini diperkuat oleh hasil wawancara guru, yang menekankan pentingnya memberikan ruang praktik rutin agar siswa terbiasa menyalurkan emosi secara tertulis. Meskipun demikian, pemahaman eksplisit terhadap nilai-nilai karakter seperti kejujuran dan kerja sama masih tergolong rendah . ,0%). Temuan ini merefleksikan tantangan yang diidentifikasi Firman dan Aminah . 7: . , yakni kurangnya penekanan pada refleksi nilai moral dalam pembelajaran sastra. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 mengintegrasikan elemen reflektif, misalnya jurnal refleksi individu dan Aminah . menyarankan penggunaan pedoman pertanyaan terbuka seperti Aunilai apa yang dapat kita pelajari dari puisi ini?Ay untuk membantu siswa mengidentifikasi dan menginternalisasi prinsip moral. Lebih jauh, penelitian ini mengungkap bahwa media visual seperti video pembacaan puisi dan gambar latar yang membantu siswa mengaitkan teks puisi dengan konteks nyata, sehingga memudahkan transfer nilai moral ke kehidupan sehari-hari. Anasya. Warni, dan Purba . 3: . membuktikan bahwa multimedia interaktif meningkatkan keterlibatan siswa dan memperkuat penghayatan makna puisi. Dengan memanfaatkan teknologi, guru dapat menampilkan cuplikan situasi kehidupan nyata yang relevan dengan tema puisi, lalu mendorong siswa menulis puisi responsif yang mengandung nilai-nilai karakter. Secara teoritis, pembahasan ini memperkuat kerangka konstruktivis yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran Sumarsilah . 7: . menegaskan bahwa pengalaman belajar yang bersifat kontekstual dan partisipatif memfasilitasi pembentukan karakter melalui refleksi personal dan kolaborasi sosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi kegiatan apresiasi, kreasi, dan refleksi puisi mampu menghasilkan perubahan perilaku positif terutama dalam aspek empati, keberanian, dan penghargaan terhadap orang lain yang esensial bagi perkembangan karakter remaja. Oleh karena itu, guru dan praktisi pendidikan di SMP perlu mengembangkan modul pembelajaran puisi yang menyeimbangkan analisis estetika dan eksplorasi nilai moral secara sistematis. KESIMPULAN Pembelajaran puisi terbukti berkontribusi signifikan terhadap perkembangan karakter siswa kelas Vi SMP Negeri 8 Binjai, terutama dalam aspek empati dan keberanian mengungkapkan perasaan. Sebagian Jurnal Artikulasi Volume 7 Nomor 2. Oktober 2025 p Ae ISSN : 2620-4886 e Ae ISSN : 2302-6545 besar siswa . ,0%) melaporkan peningkatan kemampuan memahami perasaan orang lain melalui proses apresiasi puisi, sedangkan 87,5% siswa menunjukkan peningkatan kepercayaan diri untuk mengekspresikan emosi mereka secara tertulis. Meskipun demikian, hanya 25,0% siswa yang mengidentifikasi nilainilai karakter seperti kejujuran dan kerja sama secara eksplisit, menitikberatkan pada refleksi nilai moral dalam setiap kegiatan sastra. Penggunaan media visual, diskusi kelompok pasca-pembacaan, serta penugasan menulis puisi berbasis pengalaman pribadi terbukti efektif untuk memperkuat pemahaman karakter. Oleh karena itu, integrasi metode apresiasi, kreasi, dan refleksi puisi secara sistematis perlu dioptimalkan dalam kurikulum Bahasa Indonesia sebagai sarana utama pembentukan karakter emosional dan moral siswa SMP. DAFTAR PUSTAKA