Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 ARTIKEL RISET Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2: Scoping Review Sitti Ramlah Anwar. Armin Lasaib . Rismanudin . Ilmu Gizi. Institut Sains dan Kependidikan Kie Malkuku Utara Administrasi Kesehatan. Institut Sains dan Kependidikan Kie Malkuku Utara Pendidikan Profesi Ners. Universitas Famika sittiramlahanwar@gmail. ABSTRAK Diabetes melitus tipe 2 merupakan masalah kesehatan global yang terus meningkat dan memberikan beban signifikan bagi sistem kesehatan, baik di negara maju maupun berkembang. Peningkatan prevalensi penyakit ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko yang bersifat kompleks dan saling berinteraksi, sehingga diperlukan pemetaan yang komprehensif melalui pendekatan tinjauan ruang lingkup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memetakan faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya diabetes melitus tipe 2 berdasarkan bukti ilmiah terbaru. Metode yang digunakan adalah scoping review dengan mengacu pada kerangka kerja Arksey & OAoMalley yang meliputi tahapan identifikasi pertanyaan penelitian, pencarian literatur, seleksi studi, ekstraksi data, serta pemetaan dan sintesis temuan. Pencarian literatur dilakukan pada database PubMed. Scopus, dan ScienceDirect dengan menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan diabetes melitus tipe 2 dan faktor risiko, dengan pembatasan publikasi lima tahun terakhir. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa determinan utama diabetes melitus tipe 2 dapat dikelompokkan ke dalam faktor genetik dan riwayat keluarga, faktor gaya hidup seperti obesitas, rendahnya aktivitas fisik, dan pola makan tidak sehat, faktor lingkungan, faktor sosial ekonomi, serta faktor psikososial. Selain itu, mekanisme biologis seperti inflamasi kronis, resistensi insulin, dan perubahan mikrobiota usus juga berperan dalam patogenesis penyakit. Temuan ini menegaskan bahwa diabetes melitus tipe 2 dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor biologis, perilaku, dan lingkungan, sehingga upaya pencegahan dan pengendalian perlu dilakukan melalui pendekatan multidimensional dan terintegrasi. Kata kunci : Diabetes melitus tipe 2, faktor risiko, gaya hidup, genetik, scoping review ABSTRACT Type 2 diabetes mellitus is a growing global health problem and places a significant burden on health systems, both in developed and developing countries. The increase in the prevalence of this disease is influenced by various risk factors that are complex and interinteracting, so comprehensive mapping is needed through a scope review approach. This study aims to identify and map the factors that influence the occurrence of type 2 diabetes mellitus based on the latest scientific evidence. The method used is scoping review with reference to the Arksey & O'Malley framework which includes the stages of identifying research questions, searching for literature, selecting studies, extracting data, and mapping and synthesis of findings. Literature searches were conducted on PubMed. Scopus, and ScienceDirect databases using keywords related to type 2 diabetes mellitus and risk factors, with publication restrictions in the last five years. The mapping results showed that the main determinants of type 2 diabetes mellitus can be grouped into genetic factors and family history, lifestyle factors such as obesity, low physical activity, and unhealthy diet, environmental factors, socioeconomic factors, and psychosocial factors. In addition, biological mechanisms such as Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 chronic inflammation, insulin resistance, and changes in the gut microbiota also play a role in the pathogenesis of the disease. These findings confirm that type 2 diabetes mellitus is influenced by complex interactions between biological, behavioral, and environmental factors, so prevention and control efforts need to be carried out through a multidimensional and integrated approach. Kata kunci : Type 2 diabetes, risk factors, lifestyle, genetics, scoping review. PENDAHULUAN Diabetes melitus tipe 2 (DMT. merupakan penyakit metabolisme yang disebabkan karena resistensi insulin dan disfungsi sel beta pankreas (Murtiningsih et al. , 2. DMT2 merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di dunia, dengan prevalensi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. International Diabetes Federation (IDF) melaporkan bahwa jumlah penyandang diabetes mencapai lebih dari 537 juta orang pada tahun 2021 dan diperkirakan akan meningkat menjadi 643 juta pada tahun 2030 dan 783 juta orang di tahun 2045 (Muzhaffarah et al. , 2024. Rahmawati et al. , 2. Kenaikan signifikan ini terjadi semakin cepat di negara berkembang akibat perubahan pola hidup, urbanisasi, dan transisi epidemiologi menuju penyakit tidak menular. DMT2 menyumbang lebih dari 90% seluruh kasus diabetes, sehingga menjadi salah satu fokus dalam upaya pengendalian penyakit kronis secara global (Astutisari et , 2022. Murtiningsih et al. , 2. Indonesia menempati peringkat kelima dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia. Data Riskesdas tahun 2018 melaporkan bahwa prevalensi diabetes melitus yang telah terdiagnosis dokter mencapai 1,5% pada seluruh kelompok umur dan 2,0% pada penduduk berusia Ou15 tahun. Angka tersebut mengalami peningkatan pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, menjadi 1,7% untuk semua umur dan 2,2% pada kelompok usia Ou15 tahun. Selain itu. Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) pada tahun 2021 menempatkan diabetes sebagai salah satu dari sepuluh penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia, dengan hipertensi tercatat sebagai faktor risiko yang paling berpengaruh (Resti & Cahyati, 2022. Rista Riviani et al. , 2. Peningkatan ini dapat berdampak pada beban pembiayaan nasional serta pada produktivitas masyarakat, kualitas hidup individu, dan risiko komplikasi jangka panjang seperti penyakit kardiovaskular, gagal ginjal, serta neuropati. Di beberapa daerah, perubahan gaya hidup, peningkatan konsumsi makanan olahan, dan berkurangnya aktivitas fisik menjadi faktor pendorong utama. Kondisi sosial ekonomi dan akses terhadap layanan kesehatan yang tidak merata turut memperlebar kesenjangan risiko, terutama di wilayah urban dan semi-urban yang sedang mengalami percepatan pembangunan (Astutisari et al. , 2022. Murtiningsih et al. , 2. DMT2 dipahami sebagai kondisi multifaktorial yang melibatkan interaksi antara faktor genetik, lingkungan, gaya hidup, dan kondisi psikososial (Himanshu et al. , 2. Literatur menunjukkan bahwa obesitas sentral, pola makan tinggi gula dan lemak jenuh, serta aktivitas fisik yang rendah merupakan Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 determinan paling kuat yang berkontribusi pada resistensi insulin dan disfungsi sel (Papaetis et al. , 2015. Wali et al. , 2. Paparan polutan udara, stres kronis, dan faktor sosial ekonomi rendah juga memiliki kontribusi signifikan dalam membentuk risiko metabolik. Analisis menunjukkan bahwa ketidaksetaraan sosial dan kondisi lingkungan memiliki dampak yang sama besarnya dengan faktor gaya hidup, sehingga upaya pencegahan harus bersifat multisektoral (Curtis et al. , 2025. Hill-Briggs et al. , 2021. Rajagopalan et , 2. Oleh karena itu pemahaman faktor risiko DMT2 memerlukan pendekatan biomedis serta memperhatikan kondisi sosial dan lingkungan tempat individu hidup. Berbagai penelitian sebelumnya telah mencoba menjelaskan determinan risiko DMT2, namun mayoritas terfokus pada satu faktor tertentu, seperti obesitas atau pola makan, sehingga belum memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut saling berinteraksi. Selain itu, sebagian besar studi menggunakan pendekatan kuantitatif konvensional sehingga cakupan analisis menjadi terbatas. Studi literatur naratif juga telah dilakukan, tetapi sebagian besar tidak menyajikan pemetaan sistematis terhadap sumber bukti, sehingga potensi bias sintesis masih tinggi. Pada titik inilah scoping review dilakukan sebagai pendekatan untuk memetakan berbagai kategori faktor risiko, mengidentifikasi kesenjangan penelitian, dan memberikan landasan teoretis bagi pengembangan kebijakan dan intervensi kesehatan masyarakat. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya memetakan faktor risiko DMT2 secara komprehensif dengan pendekatan scoping review yang berfokus pada faktor biologis, perilaku, lingkungan, sosial ekonomi, dan psikososial, dan mengidentifikasi pola-pola temuan yang muncul dari berbagai studi, populasi dan setting penelitian. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih holistik mengenai determinan DMT2 dan menjadi dasar pengembangan program pencegahan yang lebih efektif dan responsif terhadap kondisi lokal. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, memetakan, dan merangkum faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya diabetes melitus tipe 2 berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia melalui pendekatan scoping review. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan scoping review untuk memetakan secara komprehensif berbagai faktor yang memengaruhi terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT. Metode ini mengacu pada kerangka Arksey & OAoMalley yang telah banyak digunakan dalam kajian kesehatan masyarakat karena mampu menggambarkan cakupan bukti ilmiah secara luas, termasuk area penelitian yang masih menunjukkan inkonsistensi atau keterbatasan bukti (Westphaln et al. , 2. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada kebutuhan untuk mengidentifikasi spektrum faktor biologis, perilaku, maupun lingkungan yang berkontribusi terhadap DMT2, tanpa tujuan menguji efektivitas intervensi atau melakukan sintesis kuantitatif sebagaimana pada systematic review atau meta-analisis. Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 Kerangka Arksey & OAoMalley terdiri atas lima tahapan utama. Tahap pertama adalah perumusan pertanyaan penelitian, yang dalam studi ini diarahkan untuk mengidentifikasi dan memetakan faktor risiko DMT2 dari perspektif multidimensional. Tahap kedua adalah identifikasi studi relevan, yang dilakukan melalui proses penelusuran literatur secara sistematis menggunakan kombinasi kata kunci terstandar dan Boolean operator. Tahap ketiga adalah seleksi studi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah Tahap keempat adalah ekstraksi data, yang dilakukan secara terstruktur untuk memperoleh karakteristik studi dan variabel temuan. Tahap terakhir adalah pemetaan dan pelaporan hasil, meliputi penyusunan kategori tematik serta interpretasi pola-pola faktor risiko. Penelusuran literatur dilakukan menggunakan PRISMA. PRISMA flowchart disajikan pada Gambar Penelusuran dilakukan pada basis data ilmiah utama, meliputi PubMed. Scopus. ScienceDirect. MDPI, dan google scholar yang dipilih karena cakupannya yang luas terhadap bidang kedokteran, kesehatan masyarakat, serta ilmu biomedis. Kata kunci yang digunakan mencakup istilah utama seperti Autype 2 diabetesAy. Aurisk factorsAy. AulifestyleAy. Augenetic factorsAy, dan Auenvironmental exposureAy, serta dikombinasikan dengan istilah terkait lain menggunakan operator AND dan OR untuk meningkatkan sensitivitas pencarian. Proses pencarian dibatasi pada publikasi lima tahun terakhir, menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris, dan mencakup artikel penelitian asli maupun review yang secara eksplisit membahas faktor risiko DMT2. Artikel yang tidak menyediakan data terkait faktor risiko, tidak relevan dengan topik, atau berupa editorial, komentar, serta laporan singkat dikeluarkan dari analisis. Proses seleksi dilakukan melalui dua tahap: penyaringan judulAeabstrak dan telaah teks penuh. Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas, proses seleksi melibatkan dua penilai independen. Setiap ketidaksesuaian penilaian diselesaikan melalui diskusi atau melibatkan penilai ketiga bila diperlukan. Artikel yang memenuhi kriteria kemudian masuk ke proses ekstraksi data menggunakan formulir standar. Informasi yang dikumpulkan meliputi tahun publikasi, lokasi studi, desain penelitian, karakteristik populasi, jenis faktor risiko yang dianalisis, serta temuan utama terkait kontribusi faktor tersebut terhadap risiko DMT2. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif dan dipetakan ke dalam beberapa kategori utama sesuai dengan temuan artikel. Pendekatan ini memungkinkan interpretasi mengenai bagaimana berbagai berbagai determinan berkontribusi terhadap kejadian DMT2 serta mengidentifikasi area penelitian yang masih membutuhkan eksplorasi lebih lanjut. Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak :only 2807 - 5617 PRISMA 2020 flow diagram for new systematic reviews which included searches of databases and registers Identification Identification of studies via databases Records identified from: MDPI. Scopus. PubMed. Web of Science. Google Scholar, etc . = 1. Records removed before screening of Low H-Index, duplicates, title and abstract relevance . = . Reports excluded : Not related to type 2 diabetes: n = 320. Discussed T2DM but not risk factors . ocus on treatment, glycemic control, complication profile. : n = 280. Not original research . ditorials, commentaries, letters, conference abstract. : n=190 Animal studies / in vitro / no human data: n = 110 Screening Records screened . = 1. Reports excluded: Published before 2020 . utside the 5-year inclusion windo. : n = 35 Did not address risk factors for T2DM . , focused on disease management or complication. : n = 42 Population or outcomes not relevant . cardiovascular risk in patients with established diabete. : n = 28 Not available as full papers . onference abstracts only, short communication. : n = 14 Included Final assessment for review . = . Studies included in review . = . Gambar 1. PRISMA Flowchart HASIL Sebanyak 31 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis untuk memetakan berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2 (Tabel . Hasil pemetaan menunjukkan bahwa faktor risiko DMT2 merupakan multi aspek yang saling berinteraksi. Secara keseluruhan, temuan dari berbagai studi dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori utama, yaitu faktor genetik, gaya hidup, lingkungan, sosial ekonomi, dan psikososial. Tabel 1. Ringkasan Studi yang Diinklusikan dalam Scoping Review Penulis Desain Populasi/Konteks Tahun Jenis Artikel Baliou et al. Review Obesitas DMT2 Kategori Temuan Utama Terkait Risiko Faktor DMT2 Gaya hidup Obesitas memicu inflamasi dan stres & biologis oksidatif yang berkontribusi pada Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 insulin, dan peningkatan risiko DMT2. Bennet Review Populasi migran Sosial Migran dari negara berpendapatan Agyemang, rendahAemenengah memiliki risiko DMT2 lebih tinggi akibat perubahan gaya hidup pola hidup, stres migrasi, dan ketimpangan akses layanan. Besti Ardika et Penelitian asli Remaja Genetik & Remaja dengan riwayat keluarga , 2024 DMT2 DMT2 sekresi dan sensitivitas insulin. DMT2 kemudian hari. Carrillo- Scoping Alvarez et al. Populasi umum Sosial Ketidaksetaraan sehat dan lingkungan pangan yang gaya hidup buruk berkaitan dengan pola makan tidak sehat yang meningkatkan risiko DMT2. Chandrasekaran Review Obesitas & DMT2 & Weiskirchen. Gaya hidup Obesitas, & biologis berkembangnya DMT2. Curtis Kohort Penduduk dewasa Lingkungan Ketersediaan fisik & gaya DMT2, sedangkan polusi udara DMT2. Dwizamzami et Cross- Karyawan normal Gaya hidup Asupan serat rendah berhubungan , 2021 & overweight . merupakan faktor penting dalam perkembangan DMT2. ErcegoviN et al. Review Populasi risiko metabolik Genetik Polimorfisme glukosa dan lipid. DMT2 Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 Fanelli et al. Review Pasien Psikososial Depresi dan/atau & klinis kontrol glukosa yang buruk dan perjalanan DMT2. Gorini Review Tonacci, 2025 Individu Genetik & Interaksi antara predisposisi genetik risiko/diagnosis gaya hidup dan konsumsi karbohidrat tinggi DMT2 . memperbesar risiko DMT2 melalui Hill-Briggs , 2021 Scientific Populasi dewasa Sosial Determinan kejadian DMT2. Himanshu et al. Review Populasi berisiko Genetik & Menjelaskan mendasar pada DMT2. Khalil Review Obesitas & DMT2 Lingkungan Paparan & biologis berhubungan dengan peningkatan obesitas dan DMT2 melalui stres oksidatif dan inflamasi. Liu, 2023 Review Pasien diabetes Psikososial Stres, depresi, dan faktor sosial & sosial psikologis lain berperan dalam kejadian DMT2. Liviero Review Pavanello, 2025 Populasi terpapar Lingkungan Paparan PM2. 5 memicu aktivasi PM2. & biologis TRPV1, inflamasi, dan gangguan meningkatkan risiko DMT2. Marwaha et al. Review Individu Psikososial Stres kronis mengubah komposisi stres & perubahan & biologis mikrobiota usus dan modulasi imun, yang dapat memicu inflamasi kronis DMT2. Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 Murtiningsih et Review Populasi dewasa Gaya hidup A2021 Pola makan tidak sehat, kurang diidentifikasi sebagai faktor risiko utama DMT2. Parasin et al. Umbrella Populasi umum Lingkungan Paparan PM2. 5 dan NOCC secara meta-analisis kejadian DMT2 di berbagai studi dan negara. Pasambo et al. Cross- Penduduk dengan Sosial Kesenjangan sectional . ata dan tanpa DM . endapatan, pendidikan, pekerjaa. kejadian DM di Indonesia. Peng Kohort Keluarga dengan Genetik & Risiko DMT2 pada anak meningkat orang tua DMT2 signifikan jika salah satu atau kedua DMT2, terutama pada transmisi maternal. Rajagopalan et Review , 2024 Populasi Lingkungan Paparan & biologis DMT2 sebagai bagian spektrum risiko Richards et al. Analisis Data berbagai kawasan Sosial Negara gaya hidup menunjukkan prevalensi diabetes lebih tinggi. Rista Riviani et Analisis Kasus , 2025 faktor lingkungan Lingkungan Kasus DM terkonsentrasi di wilayah & sosial dengan faktor risiko lebih tinggi . epadatan penduduk, akses pangan, dan faktor sosial ekonomi tertent. Safitri Krianto, 2024 Literature Populasi dewasa Gaya hidup Pola makan tinggi kalori, gula, dan . peningkatan risiko DMT2, dan berimplikasi pada strategi promosi Surbakti et al. Penelitian asli Pasien Genetik & Riwayat DMT2 berhubungan dengan lebih banyak Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 DMT2 komponen sindrom metabolik yang merupakan faktor risiko DMT2. Syauqy et al. Cross- Dewasa obesitas sentral Gaya hidup Pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik pada individu dengan insiden DM. Thornton et al. Review Populasi Genetik & Paparan memengaruhi risiko DMT2 melalui mekanisme epigenetik. Wali Review Populasi umum Diet Rasio berkaitan dengan obesitas, resistensi insulin, dan risiko DMT2. Wevers et al. Perspektif Pasien & populasi Biologis. Mengusulkan kerangka sosio-psiko- berisiko DMT2 biologis di mana insulin menjadi psikologis, dan sosial dalam DMT2. Xu et al. , 2020 Two-sample Data genetik & Genetik & Menunjukkan Mendelian gaya hidup . erutama DMT2 melalui analisis MR. Yulia Penelitian asli Usia produktif di Gaya hidup Kenaikan kasus DM pada usia fasilitas kesehatan produktif terkait dengan perilaku sedentari dan pola makan yang tidak Faktor genetik muncul sebagai salah satu determinan penting dalam perkembangan DMT2. Studistudi yang termasuk dalam kategori ini menekankan bahwa riwayat keluarga memiliki hubungan kuat dengan risiko DMT2, khususnya pada individu dengan orang tua atau saudara kandung yang mengidap penyakit tersebut. Beberapa penelitian juga mengidentifikasi varian gen tertentu yang berperan dalam regulasi metabolisme glukosa, sensitivitas insulin, dan penyimpanan lemak. Variasi genetik pada jalur insulin signaling serta polimorfisme gen yang berkaitan dengan fungsi sel pankreas dilaporkan meningkatkan kerentanan terhadap hiperglikemia kronis (Ardika et al. , 2024. ErcegoviN et al. , 2025. Gorini & Tonacci, 2025. Peng et al. , 2025. Surbakti et al. , 2024. Thornton et al. , 2. Temuan ini menegaskan bahwa predisposisi biologis dapat bertindak sebagai landasan risiko yang diperkuat oleh faktor eksternal. Kategori berikutnya adalah faktor gaya hidup yang menjadi temuan dalam literatur. Pola makan Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 tinggi gula sederhana, konsumsi lemak jenuh, dan rendah serat merupakan pola umum yang berhubungan dengan peningkatan resistensi insulin dan berat badan berlebih. Obesitas abdominal secara konsisten muncul sebagai faktor risiko paling kuat karena berpengaruh langsung pada disfungsi metabolik dan peradangan sistemik. Rendahnya aktivitas fisik dan kebiasaan sedentary dalam jangka panjang juga berkontribusi terhadap penurunan efektivitas penggunaan glukosa oleh otot, sehingga memperburuk sensitivitas insulin. Beberapa studi menyoroti bahwa perubahan gaya hidup sederhana, seperti peningkatan aktivitas fisik intensitas sedang, mampu menurunkan risiko, sehingga menunjukkan signifikansi tinggi dari faktor ini (Baliou et al. , 2025. Chandrasekaran & Weiskirchen, 2024. Dwizamzami et al. , 2021. Safitri & Krianto, 2024. Syauqy et al. , 2023. Xu et al. , 2. Faktor lingkungan juga memegang peranan, terutama pada perkotaan. Urbanisasi yang pesat terutama di negara berkembang menciptakan kondisi lingkungan yang kurang mendukung aktivitas fisik dan meningkatknya pola makan tidak sehat, sehingga memperkuat peran determinan lingkungan terhadap risiko DMT2 (Khalil et al. , 2023. Li et al. , 2019. Liviero & Pavanello, 2025. Parasin et al. , 2025. Yan et , 2. Paparan polusi udara seperti PM2. 5 dan NOCC dikaitkan dengan peningkatan inflamasi sistemik dan stres oksidatif, dua mekanisme yang dapat memperburuk resistensi insulin. Selain itu, paparan kronis terhadap pestisida tertentu dan bahan kimia endokrin ditemukan memengaruhi homeostasis glukosa. Temuan lain menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi juga berpengaruh signifikan terhadap kerentanan terhadap DMT2 (Bennet & Agyemang, 2025. Carrillo-Alvarez et al. , 2025. Pasambo et al. Richards et al. , 2. Seseorang dengan pendapatan rendah dan tingkat pendidikan terbatas lebih sering mengalami hambatan dalam mengakses makanan sehat, layanan kesehatan yang sifatnya preventif, serta informasi terkait gaya hidup sehat. Kondisi pekerjaan yang menuntut jam kerja panjang, stres tinggi, atau aktivitas fisik minimal juga memberi kontribusi tidak langsung terhadap peningkatan risiko. Akses terbatas terhadap fasilitas olahraga dan lingkungan tempat tinggal yang kurang mendukung aktivitas fisik turut memperburuk situasi. Faktor psikososial menunjukkan kontribusi yang tidak kalah penting. Stres kronis, kecemasan, gangguan tidur, dan depresi sering dikaitkan dengan peningkatan kadar kortisol, gangguan ritme sirkadian, serta perubahan perilaku makan. Mekanisme stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan peningkatan glukoneogenesis dan penurunan sensitivitas insulin. Selain itu, kondisi psikologis yang buruk juga berhubungan dengan rendahnya motivasi untuk menjaga pola hidup sehat, sehingga memperburuk pengendalian berat badan dan keseimbangan metabolik (Fanelli et al. , 2025. Liu, 2023. Marwaha et al. Wevers et al. , 2. Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 PEMBAHASAN Hasil scoping review ini menegaskan bahwa Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT. merupakan kondisi multifaktorial yang muncul dari interaksi kompleks antara faktor genetik, gaya hidup, lingkungan, sosial ekonomi, dan psikososial. Kelima determinan tersebut saling berhubungan dan memperkuat satu sama lain. Faktor genetik merupakan titik awal risiko biologis pada individu yang memiliki riwayat keluarga atau variasi gen tertentu yang mengatur metabolisme glukosa. Penelitian oleh Besti Ardika et al. ErcegoviN et al. Thornton et al. , serta Gorini dan Tonacci . menunjukkan bahwa predisposisi genetik dapat mempengaruhi sensitivitas insulin dan fungsi sel pankreas. Namun, temuan lintas studi menegaskan bahwa predisposisi ini tidak bersifat deterministik. Misalnya. Peng et al. serta Surbakti et al. melaporkan bahwa risiko genetik dapat ditekan melalui perubahan gaya hidup terutama pengendalian berat badan dan peningkatan aktivitas fisik. Hal ini menunjukkan bahwa faktor genetik berperan sebagai fondasi risiko, namun ekspresinya sangat bergantung pada paparan faktor Gaya hidup muncul sebagai determinan yang paling konsisten berhubungan dengan peningkatan risiko DMT2. Studi oleh Syauqy et al. Dwizamzami et al. , dan Safitri & Krianto . menegaskan bahwa pola makan tinggi gula sederhana dan rendah serat berkaitan erat dengan resistensi Selain itu, obesitas abdominal yang dikaji oleh Xu et al. dan Chandrasekaran & Weiskirchen . dapat memperburuk peradangan sistemik dan mengganggu keseimbangan metabolik. Kebiasaan sedentary jangka panjang, sebagaimana dijelaskan Baliou et al. , menurunkan kemampuan sel otot dalam memanfaatkan glukosa sehingga mempercepat terjadinya intoleransi glukosa. Konsistensi temuan ini menunjukkan bahwa perilaku sehari-hari merupakan faktor yang paling dapat dimodifikasi, dan juga paling rentan dipengaruhi oleh determinan lingkungan dan sosial ekonomi. Lingkungan hidup khususnya lingkungan perkotaan memiliki peran yang tidak kalah signifikan. Urbanisasi dikaitkan dengan meningkatnya konsumsi makanan olahan, minimnya ruang aktivitas fisik, serta peningkatan paparan polusi udara. Studi oleh Khalil et al. dan Li et al. menunjukkan bahwa paparan PM2. 5 dan NOCC meningkatkan inflamasi sistemik dan stres oksidatif, dua mekanisme kunci dalam perkembangan resistensi insulin. Temuan yang serupa muncul dalam kajian Liviero & Pavanello . serta Parasin et al. , yang menyebutkan bahwa paparan pestisida dan disrupsi endokrin dapat mengganggu homeostasis glukosa. Sementara itu. Yan et al. menemukan bahwa urbanisasi yang cepat mengubah pola hidup masyarakat menjadi lebih pasif, sehingga menciptakan konteks lingkungan yang memperkuat faktor gaya hidup tidak sehat. Temuan mengenai faktor sosial ekonomi menunjukkan bahwa risiko DMT2 berkaitan erat dengan ketidaksetaraan dalam akses terhadap sumber daya kesehatan. Bennet & Agyemang . serta Richards et al. menunjukkan bahwa pendapatan rendah dan tingkat pendidikan minim berkaitan dengan Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 rendahnya konsumsi makanan sehat dan kurangnya akses terhadap fasilitas olahraga. Carrillo-Alvarez et . menambahkan bahwa kelompok sosial ekonomi rendah juga menghadapi hambatan dalam mengakses layanan kesehatan preventif, sehingga diagnosis dan penanganan dini sering terabaikan. Selain itu. Pasambo et al. menemukan bahwa kondisi pekerjaan yang menuntut jam kerja panjang atau aktivitas fisik minimal meningkatkan kemungkinan adopsi pola makan tidak teratur dan gaya hidup Faktor sosial ekonomi ini dengan jelas saling terkait dengan faktor gaya hidup dan psikososial, sehingga berfungsi sebagai determinan yang dapat mempengaruhi peluang risiko seseorang. Faktor psikososial seperti stres kronis, kecemasan, dan gangguan tidur turut ditemukan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan risiko DMT2. Penelitian oleh Fanelli et al. dan Marwaha et al. menjelaskan bahwa stres yang berkepanjangan meningkatkan produksi kortisol, yang kemudian memicu glukoneogenesis dan penurunan sensitivitas insulin. Selain itu. Liu . dan Wevers et al. menemukan bahwa kondisi psikologis buruk sering disertai perilaku makan emosional, rendahnya motivasi beraktivitas fisik, dan gangguan ritme sirkadian. Faktor psikososial ini juga dipengaruhi oleh tekanan sosial ekonomi dan kondisi lingkungan. Dengan kata lain, determinan psikososial memperlihatkan hubungan dua arah dengan faktor lainnya, membentuk siklus risiko yang sulit diputus tanpa intervensi yang komprehensif. Secara keseluruhan, sintesis kelima faktor risiko menunjukkan bahwa DMT2 merupakan hasil dari interaksi simultan antara biologis bawaan dan kondisi eksternal yang sifatnya dinamis. Predisposisi genetik hanya menjadi signifikan ketika bertemu dengan gaya hidup tidak sehat, dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, akses sosial ekonomi, serta faktor psikologis. Individu dengan predisposisi genetik tertentu lebih rentan mengalami gangguan metabolik ketika terpapar gaya hidup tidak sehat. Variasi gen yang berperan dalam metabolisme glukosa atau sensitivitas insulin dapat mempercepat terjadinya hiperinsulinemia ketika dipadukan dengan pola makan tinggi gula dan lemak atau aktivitas fisik yang Paparan polusi udara kronis seperti PM2. 5 atau NOCC dikaitkan dengan meningkatnya inflamasi sistemik dan stres oksidatif yang dapat memperburuk resistensi insulin. Pendapatan rendah, misalnya, sering kali membatasi akses terhadap makanan sehat dan layanan kesehatan preventif. Hal ini menyebabkan individu cenderung memilih makanan murah namun tinggi kalori, serta tidak mendapatkan pemantauan kesehatan yang memadai. Hasil pemetaan ini menegaskan perlunya pendekatan pencegahan yang memperbaiki determinan struktural seperti lingkungan fisik dan ketimpangan sosial. Dengan demikian, strategi pengendalian DMT2 harus bersifat multidimensi dan lintas sektor. Intervensi kesehatan masyarakat yang efektif tidak cukup hanya fokus pada edukasi pola makan atau aktivitas fisik tapi juga harus mencakup penguatan layanan kesehatan dasar, peningkatan akses pangan sehat, penciptaan ruang publik yang mendukung aktivitas fisik. Jurnal Berita Kesehatan : Jurnal Kesehatan. Vol. 18 No. 2 (Desember, 2. ISSN : Print : 2356 - 1068 Cetak : 2807 - 5617 serta penyediaan dukungan psikososial. Upaya ini diperlukan untuk memutus interaksi negatif antar faktor dan menciptakan lingkungan sosial yang lebih kondusif bagi pencegahan DMT2 dalam jangka panjang. SIMPULAN Scoping review ini menunjukkan bahwa diabetes melitus tipe 2 disebabkan oleh interaksi kompleks antara faktor biologis, gaya hidup, lingkungan, sosial ekonomi, dan psikososial. Temuan-temuan ini memperkuat kebutuhan pendekatan pencegahan yang komprehensif, mulai dari edukasi perilaku hingga kebijakan lingkungan dan penguatan sistem kesehatan, untuk mengurangi beban DMT2 di masyarakat. Pemahaman komprehensif terhadap faktor-faktor ini dapat membantu pengembangan strategi pencegahan yang lebih efektif dan mencakup berbagai dimensi penanganan. Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil scoping review ini adalah perlunya integrasi program promotif dan preventif berbasis komunitas yang menekankan modifikasi gaya hidup sehat, peningkatan aktivitas fisik, dan pengendalian pola konsumsi. Selain itu, tenaga kesehatan dan pemangku kebijakan diharapkan dapat memperkuat skrining dini pada kelompok berisiko tinggi serta mengembangkan kebijakan lintas sektor yang berfokus pada penciptaan lingkungan yang mendukung kesehatan metabolik. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi hubungan kausal antar faktor risiko serta mengevaluasi efektivitas intervensi multidimensi dalam pencegahan diabetes melitus tipe 2. DAFTAR PUSTAKA