CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 ISSN : 2614-8900 E-ISSN : 2622-6545 Program Pascasarjana Universitas Papua, https://pasca. Pemetaan sebaran dan kondisi tutupan terumbu karang di Desa Gili Gede Indah. Lombok Nusa Tenggara Barat . tudi kasus: Gili Gede. Gili Layar. Gili Asaha. Lalu Auliya Akraboe Littaqwa1*). Gagassage Nanaluih De Side. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik. Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat. Jalan Pendidikan No. 6 Kota Mataram. Indonesia *Email: lalu. auliya@gmail. Disubmit: 12 November 2021, direvisi: 10 Januari 2022, diterima: 25 Januari 2022 Doi: https://doi. org/10. 30862/casowary. ABSTRACT: Coral reefs are one of the potential marine resources in Indonesia, especially on the island of Lombok which needs to be taken into account. So that the mapping of the distribution and extent of coral reefs is needed in developing the potential of marine and coastal resources. One of the small islands that have potential is on the west side of the island of Lombok, namely in Gili Gede Indah Village. Gili Asahan, and Gili Layar. The ecological and economic functions of the coral reef ecosystem will run well if the condition of the coral reef is in a healthy condition. The method used to calculate the distribution is using Sentinel 2A satellite imagery with a spectral resolution of 30 m2 with a supervised method of image data processing using Google Earth Engine (GEE). situ observational physics parameter data. coral reefs were carried out at a depth of 3. 8 Ae 6 meters. The results of observations and analysis of coral reef cover area on Gili Gede 84 km2. Gili Layar 9. 72 km2 and Gili Asahan 11. 91 km2. Confusion matrix interpretation results are Gili Gede 82%. Gili Layar 70. 3%, and Gili Asahan 88. While the percentage of live coral reefs in the three dyke is 9. 2 - 26. This percentage shows the criteria and conditions of low to moderate coral reefs. Although the condition of the physicochemical parameters in the three dyke was classified as good, namely DO 8. 4 Ae 7 mg/l, salinity 31 Ae 32 A, temperature 29. 2 0C, sea water clarity to 100%. Coral damage due to fishing and tourism activities. Keywords: remote sensing, coral reef ecosystem, gili gede indah PENDAHULUAN Ekosistem memiliki banyak peranan selain mempunyai fungsi ekologis, ekosistem terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari ancaman abrasi juga sebagai penyedia senyawa-senyawa penting untuk bahan makanan. Terumbu karang merupakan salah satu potensi sumber daya laut di Indonesia khususnya di Pulau Lombok yang patut Sehingga pemetaan sebaran dan luasan terumbu karang pengembangan potensi sumber daya laut dan pesisir. Mengingat terumbu karang memprihatinkan dan harusnya menjadi This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 sorotan kita untuk saat ini dan Wilayah Lombok memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat besar. Lombok menjadi salah satu pengembangan budidaya di Indonesia bagian tengah. Pulau Lombok memiliki banyak pulau-pulau kecil. Pulau Lombok memiliki panjang garis pantai cukup luas yaitu sekitar 423 km2. Salah satu pulau-pulau kecil yang memiliki potensi yaitu di sisi barat pulau Lombok yaitu di Desa Gili Gede Indah yaitu Gili Gede. Gili Asahan, dan Gili Layar. Fungsi ekologi dan ekonomi dari ekosisitem terumbu karang akan berlangsung baik apabila kondisi terumbu karang tersebut dalam kondisi sehat, hasil pemantauannya di Gili Gede pada tahun 2010, mengatakan kondisi terumbu karang di Gili Gede pada tahun tersebut dalam kondisi sedang yaitu 25% - 49,9%. Dimana saat ini dengan kemajuan teknologi yang berkembang pesat eksplorasi Kawasan wisata oleh wisatawan sudah sangat tinggi1. Selain itu pula, kondisi hidrooseanografi merupakan faktor penting dalam keberlangsungan hidup ekosistem terumbu karang. antara lain salinitas, suhu permukaan laut, arus gelombang pasang surut, serta faktor meteorologis dan aktivitas manusia di darat seperti pembuangan sampah sembarangan atau pembuangan limbah juga dapat memberi pengaruh terhadap kondisi wilayah perairan laut dan ekosistem terumbu Potensi ekosistem terumbu karang di Indonesia khususnya di Pulau Lombok Cenderung penurunan kondisi. Penginderaan jarak jauh sinar tampak . isible remote sensin. merupakan penginderaan jarak jauh yang menggunakan spektrum sinar gelombang sekitar 400-700 nm. Penginderaan jauh sinar tampak ini sangat penting di bidang kelautan. Penginderaan jauh sinar tampak dari seluruh jenis spekrtum gelombang elektromagnetik yang ada dapat menembus air laut hingga kedalaman Dengan penginderaan jauh sinar tampak, kita dapat mendeteksi atau mengukur bendabenda atau organisme yang berada di bawah permukaan air laut seperti fitoplankton, lamun, terumbu karang dan jenis substrat dasar perairan dangkal. Kesediaan data yang akurat dan informasi mengenai luasan dan kondisi terumbu karang menjadi hal penting dalam upaya mencegah kerusakan ekosistem terumbu karang menjadi semakin berkembang dan menjadi dasar dalam pengelolaan pesisir dan pulaupulau kecil serta wisata berkelanjutan. Oleh karena itu pemanfaatan teknologi penginderaan jarak jauh menggunakan citra satelit dan pemantauan langsung dilapangan untuk mengetaui sebaran, luasan, dan kondisi terumbu karang sangat diperlukan di Gili Gede. Gili Layar dan Gili Asahan yang sudah MATERI DAN METODE Sebaran dan Luasan Ekosistem Terumbu Karang Pemilihan lokasi penelitian didasarkan atas pertimbangan bahwa Desa Gili Indah yaitu Gili Gede. Gili Layar, dan Gili Asahan memiliki potensi terumbu karang dengan keanekaragaman jenis biota yang tinggi. Penelitian hanya difokuskan pada perairan laut dangkal yang terdapat terumbu karang saja. Penelitian dilakukan dengan dua tahapan Pengolahan menggunakan Google Earth Engine (GEE) dan pemantauan kondisi riil Citra satelit yang digunakan CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 adalah Sentinel 2A dengan resolusi spectral 30 m2. Penggunaan metode analisis Supervised . nalisis terbimbin. Pengolahan citra dengan pembentukan citra komposit untuk mendapatkan objek pada perairan agar lebih jelas. Penguatan respon menggunakan metode transformasi Lyzenga. Tahapan pengolahan dengan Algoritma Lyzenga pada masing-masing citra yang telah dikoreksi geometrik dan radiometrik untuk mendapatkan identifikasi objek perairan laut dangkal7. Kondisi Terumbu Karang Pemantauan kondisi riil sekaligus memvalidasi di lapangan terumbu karang menggunakan metode Line Intercept Transect (LIT) dengan membentangkan meteran sepanjang 50 m dikombinasikan dengan Underwater Visual Census (UVC). Pencatatan dilakukan di Gili Gede. Gili Asahan dan Gili Layar pada satu titik pemantauan dengan panjang garis transek 50 meter. Pencatatan ekosistem terumbu karang menggunakan sabak dengan ketentuan lifeform karang berdasarkan kode-kode identifikasi8. Masing-masing kategori bentuk pertumbuhan terumbu karang dihitung dengan rumus sebagai berikut: ycycycycycyycaycu ycEycaycuycycaycuyci ycycuycycayco ycycycaycyc ycoycaycyceyciycuycycn ycaycnycuycyca ycu 100% ycyycaycuycycaycuyci ycycuycycayco ycycycaycuycyceyco Seluruh kategori bentuk pertumbuhan terumbu karang dihitung dengan ycEyceycycyceycuycycaycyce ycycycycycyycaycu ycEycaycuycycaycuyci ycycuyc. ycNya Eaycnyccycycy ycu 100% ycyycaycuycycaycuyci ycycuycycayco ycycycaycuycyceyco Tabel 1. Kriteria Penilaian Terumbu Karang Persentase Kriteria Tutupan Penilaian 0 Ae 24,9% Rendah 25 Ae 49,9% Sedang 50 Ae 74,9% Baik 75 Ae 100% Baik Sekali Pengukuran Parameter Lingkungan Perairan Untuk pengukuran parameter fisika-kimia air dilakukan secara insitu pada tiap stasiun dengan masing-masing dilakukan pada setiap stasiun penelitian. Parameter-parameter perairan yang diukur dipaparkan pada Tabel 2. Gambar 1. Cara Pencatatan Data Koloni Karang dengan Metode Transek Garis CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 Tabel 2. Parameter Lingkungan yang diukur No Parameter Satuan Alat Pengukuran Thermometer Refraktometer Flouting Droudge DO Meter Sechi disck In situ In Situ In Situ In Situ In Situ In Situ Suhu Refraktometer Kecepatan arus Oksigen Terlarut Kecerahan Kedalaman HASIL DAN PEMBAHASAN Luasan Terumbu Karang Pengamatan luasan tutupan terumbu karang menggunakan data citra satelit Sentinel-2 MSI: MultiSpectral Instrument. Level-2A. Sentinel-2 adalah misi pencitraan multi spektral yang beresolusi tinggi yang mendukung pemantauan pengamatan jalur air dalam dan wilayah pesisir. Pengolahan dan analisis menggunakan Google Earth Engine (GEE). Setelah itu dilakukan koreksi geometri untuk melihat besarnya kesalahan hasil interpretasi. Tahap terakhir yang dilakukan selanjutnya adalah uji akurasi dengan menggunakan confusion matrix dan nilai koefisien Kappa. Uji akurasi ini dilakukan pada level 2 dan level 3 untuk melihat hasil yang optimum dari masing-masing algoritma machine learning yang digunakan dan melihat sebaran terumbu karang Terumbu ditemukan di perairan dangkal yang Satelit Sentinel 2A memiliki sensor yang dapat mendeteksi karakteristik perairan dangkal dengan memanfaatkan saluran/kanal biru dengan panjang gelombang 0,450 Ae 0,52 AAm dan saluran/kanal hijau dengan panjang gelombang 0,52-0,60 AAm. Namun, untuk mengetahui kondisi dan tingkat kerusakan terumbu karang, pendeteksian dengan citra satelit tidaklah cukup sehingga diperlukan pengamatan secara langsung melalui aktivitas penyelaman. Pada umumnya, kondisi terumbu karang dapat dilihat dengan mengukur presentase tutupan karang hidup . iving coral Sebaran terumbu karang pada pengolahan citra satelit sentinel 2A dapat dilihat dengan warna merah muda. Ada beberapa kelas yang dilakukan selain terumbu karang. Pasir berwarna putih, lamun berwarna kuning, dan vegetasi berwarna hijau. Tabel 3. Luasan Terumbu Karang dan ekosistem lainnya menggunakan Citra Satelit Luas Kategori Pasir Terumbu Karang Lamun Vegetasi Luas Area Gili Gede 67,74 17,84 22,56 234,26 312 Ha Gili Layar 0,98 9,72 0,75 36,43 55 Ha Gili Asahan 5,98 11,91 1,24 89,54 110 Ha CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 Dari hasil interpretasi data citra dengan 4 kelas yaitu pasir, terumbu karang, lamun, dan vegetasi didapat hasil luasan terumbu karang di Gili Gede yaitu 17,84 km2. Gili Layar yaitu 9,72 km2, dan Gili Asahan yaitu 11,91 km2. Hasil pengolahan citra satelit Sentinel Hasil uji akurasi citra satelit sentinel menggunakan perhitungan confussion matrix pada perairan Gili Gede Indah. Pada perairan Gili Gede (Gambar 1A), terlihat nilai confussion matrix sebesar 0,82 atau 82%. Sedangkan pada perairan Gili Layar (Gambar 1B) nilai confussion matrix sebesar 0,703 atau 70,3% dan pada Gili Asahan (Gambar 1C) nilai confussion matrix sebesar 0,88 atau 88%. Nilai interpretasi ketiga tersebut di atas 70% yang berarti tingkat kearutannya sangat tinggi. Menurut Semedi, dkk. 2019 Hasil uji akurasi citra satelit sentinel menggunakan perhitungan confussion matrix pada perairan Pulau Sempu memiliki nilai keakuratan mencapai 70,52%. Hasil ground check menunjukkan bahwa nilai keakuratan dari citra satelit sentinel 2 sangat tinggi nilai kebenarannya lebih dari 70 %. CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 Gambar 2. Hasil Overall Accuracy Gili Gede. Gili Layar, dan Gili Asahan Kondisi Tutupan Terumbu Karang Pengukuran tutupan karang hidup pada perairan Gili Gede Indah dilalukan pada pukul 09. 20 hingga pukul Pengukuran di setiap gili dilakukan pada satu titik pengambilan sampel saja karena keterbatasan waktu. Tutupan terumbu karang di perairan Gili Gede dalam kondisi rendah hingga sedang dari hasil pengamatan. Gili Gede Pengambilan sampel tutupan terumbu karang hidup di Gili Gede disebelah barat Gili Gede. Tutupan karang hidup di Gili Gede termasuk dalam kondisi rendah yaitu 23,8% tutupan karang hidup. Pada saat pemantauan Acropora Branching yang banyak ditemukan yaitu 19,6% selain itu yaitu karang jenis non acropora yang luas tutupannya dibawah 2%. Sedangkan tutupan karang mati yaitu 58,2% dengan karang mati yang ditumbuhi dengan algae sebesar 40,8% sisanya 17,4% yaitu patahan karang. Gili Layar Pengambilan sampel tutupan karang hidup di Gili Layar diambil pada utara pulau. Pengambilan sampel dilakukan pada satu titik pengamatan saja. Hasil yang didapat yaitu tutupan karang hidup di perairan Gili Layar sebesar 9,2% atau kondisinya dalam tipe rendah. Jenis Acropora Branching dan Acropora Submasive besaran tutupannya yaitu 4,2% dan 0,4%. Sedangkan jenis karang non-acropora yaitu tipe Coral Massive dan Coral Mushroom sebesar 3% dan 1,6%. Tutupan karang mati di Gili Layar yaitu 34,2% dengan 29,2% karang mati dengan ditumbuhi algae, 2,2% karang mati, dan 2,8% patahan karang. Di Gili Layar, tutupan yang mendominasi yaitu soft coral . arang luna. sebesar 43,2%. Gili Asahan Pengambilan sampel tutupan karang hidup di Gili Asahan diambil pada utara pulau. Pengambilan sampel dilakukan pada satu titik pengamatan saja. Hasil yang didapat yaitu tutupan karang hidup di perairan Gili Layar sebesar 26,2% atau kondisinya dalam tipe sedang. Jenis Acropora Branching. Acropora Tabulate. Acropora Submassive, dan Acropora Digitate ditemukan di Gili Asahan. Besaran tutupannya secara berurut yaitu 0,8%, 2%, 15,4% dan 2%. Sedangkan jenis karang non-acropora yaitu tipe Coral Massive dan Hard Coral sebesar 3,4% dan 2,6%. Tutupan karang mati di Gili Asahan yaitu 45% dengan CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 20,6% karang mati dengan ditumbuhi algae 3,6% karang mati, dan 20,8% patahan karang. Pada perairan Gili Asahan, tutupan karang tipe lifeform jenis yang lain juga banyak ditemukan diantaranya yaitu sponge sebesar 3,8%, soft coral . arang luna. sebesar 4%, dan turf algae sebesar 6,2%. Tabel 4. Persentase tutupan terumbu karang Gili Gede Jenis Lifeform Gili Gede (%) Karang Hidup Acropora ACB ACT ACS ACD Non-Acropora CMR Total Karang Hidup Karang Mati Death Coral Death Coral With Algae DCA Rubble Total Karang Mati Fauna Lain Sponge Soft Coral Other Alga Algae Assamble Turf Algae Abiotik Rock RCK Tabel 5. Persentase tutupan terumbu karang Gili Layar Jenis Lifeform Gili Layar (%) Karang Hidup Acropora Non-Acropora Total Karang Hidup Karang Mati Death Coral Death Coral With Algae Rubble Total Karang Mati ACB ACT ACS ACD CMR DCA CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 Fauna Lain Alga Abiotik Sponge Soft Coral Other Algae Assamble Turf Algae Rock RCK Tabel 6. Persentase tutupan terumbu karang Gili Asahan Jenis Lifeform Gili Asahan (%) Karang Hidup Acropora ACB ACT ACS ACD CMR Non-Acropora Total Karang Hidup Karang Mati Death Coral Death Coral With Algae Rubble Total Karang Mati Fauna Lain Sponge Soft Coral Other Alga Algae Assamble Turf Algae Abiotik Rock Parameter Fisika Kimia Kehidupan terumbu karang mempunyai keterkaitan dengan keadaan Kualitas perairan Gili Gede Indah memiliki rata-rata kualitas perairan yang baik untuk pertumbuhan DCA RCK Hasil pengukuran Kualitas perairan saat penelitian di ketiga gili ini memilki kondisi yang hampir relatif sama satu dengan lainnya . apat dilihat pada Tabel . Tabel 7. Kualitas air laut di ketiga gili Stasiun 1 Stasiun 2 Parameter (Gili Ged. (Gili Laya. Salinitas . Temperatur . C) Kecerahan (%) Kecepatan Arus . 4,66 4,43 Kedalaman . 3,8 Ae 4,5 4,7 Ae 5,6 Oksigen Terlarut . Stasiun 3 (Gili Asaha. 4,82 4Ae6 CASSOWARY volume 5 . Januari 2022: 48 - 57 Salinitas di ketiga gili tersebut berkisar antara 31 Ae 32 ppt, dimana kondisi tersebut masih dalam kondisi yang optimum untuk kehidupan terumbu karang. Termperatur di ketiga gili tersebut yaitu 29,6 Ae 30,2 0C, sedangkan oksigen terlarut atau oksigen yang ada di perairan yaitu 8,4 Ae 8,7 mg/l. Nilai oksigen terlarut di ketiga lokasi pengamatan cukup tinggi diduga karena banyaknya pertumbuhan lamun di lokasi penelitian. Kondisi ini didukung oleh penelitian Wyzer, dkk. 2018, mengatakan nilai oksigen terlarut berdasarkan hasil analisis laboratorium untuk perairan laut Pulau Mansinam antara 6,12 Ae 9,33 mg/L. Nilai ini memenuhi baku mutu yang ditetapkan sebagai kawasan wisata Tingginya nilai DO diduga pada lokasi penelitian tersebut didapati adanya pertumbuhan lamun yang cukup Kondisi temperatur dan oksigen terlarut dengan kondisi yang dipaparkan merupakan kondisi yang optimum untuk kehidupan dan pertumbuhan karang (Thovyan et al, 2. Dari hasil pemantauan di lapangan kerusakan terumbu karang di Desa Gili Gede Indah tidak lepas dari kegiatan wisata dan aktivitas nelayan atau Pada saat melakukan penelitian terlihat jelas kerusakan karang diakibatkan oleh aktivitas yang dilakukan para pemancing yang berjalan hingga ke tengah laut karena pada saat siang menuju sore hari kondisi air laut Waktu tersebut dilakukan untuk melakukan pemancingan hingga ke tengah laut yang berdampak ke karang akibat terinjaknya oleh pemancing. Terlihat dari pemantauan pada saat penelitian persentase patahan karang cukup tinggi yaitu 2,8 - 20,8% sebaran di ketiga gili tersebut. Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat setempat untuk melakukan pemancingan tanpa adanya pengerusakan karang dengan melihat pijakan agar tidak terjadi kerusakan karang akibat injakan dari Selain itu bisa dengan spot-spot pemancingan yang diizinkan. Hal tersebut bisa mengurangi dampak kerusakan yang meluas akibat tidak terkoordinirnya para pemancing yang ada di ketiga gili tersebut. KESIMPULAN Validasi citra satelit sentinel 2A menunjukkan bahwa hasil interpretasi citra memiliki akurasi yang cukup tinggi yaitu 70,52%, 82%, dan 88%. Kondisi tutupan terumbu karang di ketiga gili tersebut memiliki kategori rendah Ae sedang, yaitu 9,2 - 26,2 %. Sedangkan kondisi kualitas air yang ada di ketiga gili tersebut memiliki kondisi yang optimum untuk kehidupan dan pertumbuhan Kerusakan karang diakibatkan oleh aktivitas wisata dan masyarakat yang dianggap merusak yang perlu dikelola dan dikaji untuk mengurangi kerusakan tersebut. DAFTAR PUSTAKA